Ya Ampun! Itu Dia!
not admin's choice
Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE
“Sumpret! Itu orang atau bukan sih? Makannya ngalahin piaraan gue!” maki Roy.
Terry tertawa terpingkal-pingkal hingga ia guling-guling di lantai. Yang lainnya hanya memasang tampang simpati namun tidak berminat untuk memberi bantuan. Paling-paling di kepala mereka hanya terlintas sebuah kalimat “derita lu”. Hanya saja mereka tidak mengatakannya secara terang-terangan. Masih menjaga perasaan kawan mereka yang tengah berduka cita dengan datangnya sepupu Roy.
“Ter! Ketawa ketiwi lagi lu! Gak tau ya, kalo gue menderita lahir batin disini? Udah makannya banyak, suka seenaknya lagi!” geram Roy sambil teriak.
“Udahlah, Roy. Biarin aja dia berkembang,” Aito mencoba untuk menenangkan Roy yang ngamuk.
Roy menepis tangan Aito yang mencoba menenangkannya. Ia belum bisa tenang. Tidak, ia belum boleh tenang. Semenjak setan yang berlabel sepupunya itu datang, hidupnya bagaikan seperti terkena kutukan. Bagaimana bisa ia tenang?
“Kalian juga belum tahu apa yang paling parah kan?” tuding Roy. Semua serempak menggeleng, minus Aito yang ngambek.
“Dia suka kentut sembarangan! Bayangin! Cewek mana yang kayak gitu? Ngupil sembarangan juga! Ya ampun! Sumpret bikin jijik!”
Terry menampakkan wajah mualnya. Dia membayangkan cewek yang dikatakan Roy sebagai sepupunya itu, sungguh bayangan yang tidak enak. Aito masih tidak mengatakan apa-apa. Ia masih mengambek dan berharap salah satu dari mereka akan menyadari bahwa ia sedang ngambek.
Sayang seribu sayang, tidak ada satupun dari mereka yang menyadari bahwa cowok dengan muka paling imut setelah Terry itu mengambek. Maka dengan kesal yang sudah mencapai ubun-ubun ia keluar dan membanting pintu sambil berteriak, “sialan LO semua!”
.
Cowok itu berjalan sendirian di tengah dinginnya malam. Dirinya masih kesal dengan kejadian tadi. Ia tidak suka jika ia ditepis ataupun ditentang. Dan juga cowok ini sedikit agak sensitif. Angin malam berhembus, menembus tulang dan menimbulkan sensasi dingin yang dibencinya. Ia tidak membawa apapun untuk membuat tubuhnya lebih hangat. Aito memeluk tubuhnya sebelum ia menggigil kedinginan. Namun, ia masih terlalu marah untuk kembali ke rumah Terry. Tempat dia dan teman-temannya berkumpul tadi.
“Minggir! Woi, cari mati, ya!”
Sebuah motor datang dengan kecepatan tinggi dan mengklakson serta memaki Aito yang menyebrang terlalu lambat. Aito mundur sesaat lalu kemudian ia mengejar pengendara motor itu. Mumpung jalanan sudah sepi. Sudah hampir tengah malam soalnya.
“Heh, lo yang nyari mati sama gue ya! Turun lo, jangan cuma berani di atas motor aja. Pengecut lo! Chicken!” teriak Aito.
Motor itu berhenti. Dan berbalik ke arah Aito. Aito menelan ludah, sedikit menyesali perbuatannya. Pengendara itu turun dari motor, lalu langsung mencengkram baju lelaki imut itu. Aito langsung mengambil ancang-ancang dan juga mencengkram ujung jaket pria itu lalu membantingnya dengan keras. Kebiasaan buruknya jika ia sedang ketakutan.
Pria itu terbanting dengan keras. Tetapi langsung berdiri dengan cepat dan membalas Aito. Cowok berambut coklat itu terlentang di jalanan dengan denyut yang luar biasa sakit di sekujur tubuhnya. Pengendara motor itu membuka helmnya dan menawarkan bantuan yang otomatis langsung ditolak oleh Aito.
“Heh, Cebol! Kalau ditolong itu ngerti, kek!” maki pengendara itu.
Aito mengernyit tak suka hingga alisnya bertautan. Ia berdiri tanpa bantuan si pengendara.
“Yang cebol disini sekarang SIAPA!” teriak Aito.
Kini terlihat jelas siapa yang lebih pendek.
“Udah pasti LO, kan?!” marah pengendara motor itu tak tahu diri.
“Heh, CEBOL. Tahu diri dikit, kek! Sadar dong, tinggi lo berapa. Kasian gue sama emak lo, punya anak kok gak tau diri kayak gini,” cecar Aito.
BUK!
“Diem lo! Ga usah banyak bacot kalo lo ga tau apa-apa tentang emak gue! Kakek lo pasti lebih kasian punya cucu bengal kayak lo!”
`Twicth` Aito dapat merasakan kemarahannya mencapai ubun-ubun.
“Kenapa sekarang lo malah bawa-bawa kakek gue?”
“Lo duluan yang bawa emak gue!” balas pengendara motor itu.
“Apa hubungannya emak lo sama kakek gue? Mereka sahabatan gitu? Yang bener aja lo!” cecar Aito.
“Perkataan lo bikin sapi tetangga gue mau mati, tau gak sih?” kata pengendara motor itu sarkastik.
`Twicth` `Twicth` dua urat kemarahan muncul di kepala Aito. Wajahnya merah padam.
“Apa hubungannya perkataan gue sama sapi tetangga LO, SIALAN LO!”
Aito melancarkan pukulan ke arah perut yang membuat dia kesal. Tapi si cebol itu ternyata lebih cepat dari perkiraannya. Ia dapat menghindar dan langsung membalas serangan lelaki dihadapannya. Hingga Aito terjungkang ke belakang dan terbatuk. Tinju si cebol itu tidak bisa disamakan dengan tinggi badannya. Mungkin harus disamakan dengan ketidaktahuan dirinya yang tinggi. Terlalu ribet? Intinya, tinjuannya sangat kuat.
“Uhuk,” Aito terbatuk.
Dadanya terasa sedikit sesak dan sakit. Si cebol tidak main-main ternyata. Ia kembali berdiri berusaha melupakan sakit di dadanya ketika si cebol kembali meninju perutnya. Dan ia kembali jatuh terduduk sambil –lagilagi- terbatuk. Matanya berkunang-kunang dan sekelilingnya menjadi kabur. Ia dapat melihat si cebol mengarahkan tendangan ke arahnya. Yang ia lakukan hanyalah menghindarkan sedikit kepalanya agar tidak menjadi peyang jika terkena tendangan itu.
DUAK!
“ADOW!” terdengar jeritan kesakitan dari si cebol.
Ternyata saat Aito menghindar, si cebol malah menendang tiang listrik yang ada dibelakangnya. Si cebol melompat-lompat kesakitan dengan satu kaki dan dua tangannya memegangi kaki yang satu lagi. Aito tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, ia bangkit dan langsung memukul punggung si cebol.
BUGH!
“Adododow,” erang Aito.
Ternyata ia pun salah memukul. Matanya masih rabun hingga yang ada ia memukul bayangan. Cowok itu jatuh terjerembab dengan posisi wajah duluan yang kena tanah.
“Pfft,” terdengar suara tawa.
Aito menoleh untuk mengetahui siapan yang menertawainya. Si cebol sedang tertawa sambil memegangi perutnya. Aito duduk sambil menggaruk kepalanya. Bingung antara harus marah dan ikuta-ikutan tertawa. Tapi kemudian diputuskannya untuk bertanya.
“Kenapa ketawa?” tanyanya pongah. Sepongah Spongebob.
(Catatan: cowok imut seperti Aito tidak cocok bermuka pongah).
“Emang kenapa?” balas pengendara motor itu, melanjutkan tertawanya.
Aito merengut lagi.
“Kenapa sih, setiap lo jawab pertanyaan gue selalu bikin kesal. Lo minta dibacok ya?”
Pengendara motor itu berhenti tertawa. Lalu membuka helm miliknya. Iris coklat itu melotot hampir keluar dibuatnya. Mulut cowok itu sedikit terbuka akibat pemandangan tidak terduga itu. Dan dia menunjuk-nunjuk pengendara motor itu dengan wajah horor seakan melihat emaknya sedang bête berat sedang motong ayam.
“Lo..,” berhenti sebentar, “Lo cewek?”
Pengendara motor itu menatap Aito sinis.
“Lo perlu bukti? Tapi nanti lo, gue laporin ke polisi dengan tuduhan pelecehan seksual,” katanya sambil bersiap membuka jaketnya.
Cowok imut itu langsung melepas sepatunya dan melemparkannya kepada cewek dihadapannya.
“Gila lo! Masa lo buka baju disini!”
“Lo bilang perlu bukti,” tanya cewek itu, entah polos atau memang bego.
“KTP aja kan bisa!” geram Aito.
Cewek itu nyengir, “gak bawa. Hehe.”
Angin terasa semakin dingin sesaat setelah gadis tak tahu malu itu berkata demikian. Aito merasa semakin menggingil dan memeluk kembali dirinya.
PLUK!
Sumpret demi apapun, Aito merasa wajahnya dilempari oleh sebuah benda. Pasti cewek itu. Amarahnya hampir meledak lagi. Dan siap untuk membanting lagi ketika cewek itu mulai menghidupkan motornya.
“Woi!” cecar Aito lagi.
“Dah, gue buru-buru nih. Nih, koyok harus sampai ke tempat tante gue sebentar lagi. Gue masih mau tinggal disitu soalnya. Hehe,” cewek itu nyengir setelah ngomong banyak hal yang gak penting banget menurut Aito.
“Tapi!”
“Kita pasti ketemu lagi, kok,” ujar cewek itu sambil mengedipkan matanya. Dan memasang helm, ia mulai mengegas motornya.
“Nama lo!” Aito merasa harus berteriak untuk berbicara dengan cewek itu ditengah berisiknya deru motor besar tersebut.
“O,iya. Kalau kita ketemu lagi, lo harus balikin jaket gue dalam keadaan wangi. Daaah!”
Ia membeku ketika menyadari bahwa tinggal ia sendiri dijalanan. Bukan karena takut. Melainkan perkataan cewek barbar itu menyadarkannya sesuatu. Tentang jaket.
Harusnya dia yang memberikan jaket itu pada cewek.
Harusnya dia yang pakai motor besar.
Harusnya dia tidak membanting seorang cewek.
Harusnya dia yang bersikap keren!
ARGH! Aito memukul kepalanya. Mana ada cowok yang dikasi jaket oleh cewek. Yang benar saja! Mana cewek itu baru kenal lagi. Bahkan dia tidak tahu namanya! Yang benar saja! Cowok macam apa dia?
Aito frustasi. Sebagai seorang lelaki dia merasa gagal. Apa dia harus bertransformasi jadi bencong? Yieks, itu merusak harga dirinya.
“Woi, Aito! Maen kabur aja, Lo!” seseorang memukul pundaknya. Aito berjengit sedikit.
“Kenapa lo?” tanya Terry.
“Gue.. gue..,” kata Aito dengan mata berkaca-kaca, Terry bengong. “Gagal sebagai seorang laki-laki! Huweee.”
Terry lagi-lagi bengong kayak bencong kesambet pocong. Habis mimpi apa dia, tiba-tiba dipeluk cowok? Mimpi ular jadi gajah? Atau susu jadi teh? Atau malah vampire mulai suka minum jus? Apapun mimpinya tetap teh botol S*ssro. Ah, salah. Apapun mimpinya dia tetap tidak rela dipeluk cowok. Dia kan normal. Mending dipeluk Jupe dibanding noh, bocah ingusan. Meski mukanya rada imut.
Tapi imutan gue sih, pikir Terry narsis.
“Eh, ngapain lo meluk gue!” akhirnya sadar juga dia.
“Habis, masa gue.. Hiks,” ujar Aito (sok) sesegukan. Gak ada air mata sih. Cuma akting nangis aja karena kecewa dengan sikapnya yang gagal sebagai laki-laki.
“Tauk deh,” kata Terry dingin dan memukul leher bagian belakang Aito.
Aito jatuh tak sadarkan diri. Terry tersenyum setan.
“Hehe, kalau gini kan lebih gampang buat dibawa pulang,” kata Terry sambil menjinjing temannya yang imut. Masih imutan gue sih, pikir Terry lagi.
“Nyusahin aja lo! Orang di rumah pada panik karena lo ilang mendadak. Ck, dasar ngerepotin!” kata Terry masih mengeluh.
.
Dengan gerakan slow motion, Aito membuka matanya dan langsung disambut oleh wajah horor Roy. Eh, tapi wajah Roy emang selalu horor sih.
Wajar.
Tapi yang lain juga berwajah demikian. Wajah mereka horor. Termasuk Terry.
Ini baru tidak wajar.
Sebodoh apapun Aito dia pasti tahu kalau ada yang tidak beres dengan mereka. Atau malah dengan dirinya sendiri jika mereka berwajah serempak seperti itu.
“Ada apa?” tanyanya.
“Dari mana lo dapat jaket kucel ini?” tanya Frans.
Aito mencoba mencerna perkataan Frans dan berusaha mengingat darimana dia mendapat jaket itu. Kejadian tadi malam langsung tergambar di otaknya.
“Ribet jelasinnya. Yang jelas tadi malam gue ketemu cewek terus dia ngasi gue jaket karena gue tadi malam kedinginan.”
Wajah Roy dan kawannya semakin horor. Ah, untuk Roy sih, dia cuma perlu menaikkan alis dan voila! Wajahnya pun semakin horor dan menakutkan.
“Ini. Punya. Sepupu. Gue!” kata Roy sambil berusaha menekan kata demi kata.
“Hah!” Aito terlonjak dari tempat tidurnya. Bahkan ketika cewek itu tidak ada saja dia mampu membuat seorang Aito terkejut setengah tewas. Sungguh cewek yang menakjubkan.
Aito berani sumpah, kalau dia bisa ketemu cewek itu sekali lagi. Dia pengen meluk. Sekali aja. Entah kenapa dia pengen. Cuma pengen. Ingat saudara-saudara! Cuma pengen! Karena sedari tadi dia mimpi terus-menerus dengan cewek itu. Jantungnya berdebar cepat jika dia memikirkan cewek itu. Apalagi begitu tahu bahwa cewek itu sepupu Roy. Tidak peduli betapa hancurnya kelakuan cewek itu, dia tetap akan memeluk begitu mereka bertemu sekali lagi. Mungkin ini yang namanya love at first meet. Aito terkekeh sebentar ketika memikirkan semua itu.
Roy menaikkan alisnya membuat wajahnya semakin mengerikan. Tapi tampak lucu bagi Aito. Yah, mungkin efek kasmaran begitu hebatnya. Hingga mampu membuat wajah Roy menajdi selucu badut.
“Lo jangan ketawa, bego!” bisik Frans seram. Merasakan aura hitam dari Roy.
Aito langsung terdiam. Roy maju lagi untuk membisikkan sesuatu. Aito meringis kegelian. Tapi terdiam saat melihat tinju Roy terkepal.
“Ini karena lo bawa jaket ini! Markas kita dalam masalah besar! Dia pasti udah nyelidiki kalian semua. Dan kebetulan atau enggak tadi malam dia ketemu Aito.”
“Hah?” Aito bengong. “Maksudnya?”
Wajah Roy memerah. Persis kayak monster rebus. “Dia taruh pemancar di jaket itu supaya tahu lokasi lo dan otomatis lokasi gue! Secara, gue pasti ngumpul bareng kalian!”
“Buat apa dia tahu lokasi lo?”
“Buat bawa gue pulang lah, bego!” teriak Roy.
Aito baru sadar kalau Roy adalah tuan muda yang suka seenaknya pergi dari rumah. Apalagi waktu perjodohan, dia suka seenak jidatnya pergi meninggalkan pesta. Dan merusak acara utamanya. Kena batunya sekarang dia.
“Kok bisa?” tanya Aito belum mengeti.
Roy mengambil napas untuk menenangkan dirinya. “Karena, sepupu gue itu merangkap sebagai bodyguard selama dia liburan.”
Terjadi kesunyian di ruangan itu. Roy duduk dengan kesal. Tapi tidak berminat untuk melarikan diri. Well, sepertinya dia sedang tidak bersemangat untuk bermain kucing-kucingan lagi. Mendadak bel rumah berbunyi. Dan Roy berkata dengan malas, “itu pasti dia.”
Disusul dengan teriakan Terry yang melongo ke jendela, “ya ampun! Itu memang dia!”
“Gue pulang dulu deh,” kata Roy malas sambil berdiri di ambang pintu. “Tapi kayaknya kita harus cari markas yang lain deh, Ter.”
Terry mengangguk dan Aito tiba-tiba bangkit lalu lebih dulu melesat meninggalkan ketiga kawannya yang bengong di kamar itu. Bel rumah Terry berbunyi semakin keras begitu juga dengan derap langkah Aito.
“Kenapa tuh anak?” tanya Frans bingung.
Roy hanya mengangkat bahu.
“Kebelet kali,” sahut Terry.
Sedetik kemudian terdengar suara bantingan disusul teriakan kesakitan dari Aito. Ketiganya langsung berlari ke arah suara tersebut. Dan kembali cengo berat dengan apa yang baru saja mereka saksikan.
Aito pingsan dengan senyuman di wajahnya sedangkan sepupu Roy tampak kesal bukan main.
-fin-







































Post new comment