Wish From Silence Word #2
===================One From Few Things Of You=================== Waktu yg terus mengalir disekitarku, menghanyutkan pada setiap detil gerakan jarum jam yg terus berputar. Melupakanku akan waktu terakhir kali aku pergi ke taman dan bertemu dg seseorang dapat membuatku mengangkat sebelah alisku dan diam karena tulisannya, bukan perkataan yg selalu diucapkan oleh orang-orang bijak. Salju yg terus menutupi gedung-gedung dg putihnya bersamaan saat malam mulai membalurkan gelapnya, hanya dapat membuatku menopang kepalaku dan melihatnya dari jendela, apakah gadis itu masih ada disana, sebuah pertanyaan yg terlintas dalam pikiranku. Setumpuk kertas didepanku, dan sebuah masalah menghadangku saat 'bos' melihatku membuang kertas-kertas itu di mesin penghancur kertas. Setiap pertanyaan yg dilayangkan padaku, hanya terjawab dg cara yg sama saat aku mendapat jawaban dari gadis di pagar kayu. Jari telunjuk yg ada didepan mulut utk setiap pertanyaan. Tidak mungkin jika aku mengatakan bahwa serpihan kertas itu berisi tulisan tanganku, sebagai balasan utk Alida. *** Lampu-lampu jalan yg semakin mempercantik kota ini, dan salju yg semakin ingin menutupi semua yg ada dg pesonanya, tetap tidak menghentikan perjalananku. Setiap orang yg berjalan melewatiku, atau beriringan dgku, berusaha menghalau dinginnya cuaca bersalju dg mempererat lipatan tangan mereka, tanpa terkecuali aku. Kadang, saat pandanganku terarah pada kerlap-kerlip lampu yg terpasang disetiap pohon yg ada di jalan, mengingatkan pada saat-saat yg pernah terjadi padaku, saat membaca sebait kalimat yg dapat mengungkapkan kata-kata, bahkan sebelum pikiranku mulai merangkai serangkaian kata, sebuah kalimat yg telah tertulis dan kubaca bersamaan. Papan nama sebuah toko, dg sebuah niat baik yg mendorongku utk membuka pintu toko tersebut, melihat sebuah benda yg terpajang manis di kaca depan toko. *** Rasa penasaranku mendominasi terhadap hawa dingin yg kurasakan. Beberapa orang yg tetap melewati taman ini, tetap tidak membuat seseorang yg ku ketahui meninggalkan tempatnya. Ya... dia tetap seperti saat pertama bertemu. Dari tempatku berada, tidak perlu waktu lama utk memastikan siapa yg sedang duduk di pagar kayu, tempat dimana aku dapat melihat laut dan merasa dapat menyentuh bayangan matahari terbenam. Alida, kira-kira begitu cara saudarinya memanggil, seperti yg buku miliknya katakan. Tulisan yg memberikanku jawaban, bukan jawaban lisan yg selalu terdengar jika seseorang mendengar sebuah pertanyaan. Aku ikut bersandar pada pagar yg sama, meletakkan tanganku dan menopang kepalaku diatas pagar kayu. Dapat kurasakan dia sedikit melirik ke arahku, melihat siapa yg datang ditengah cuaca bersalju, dan tetap ingin melihat sisa-sisa pesona matahari yg telah terbenam di sisi lain laut. Aku sedikit menengok ke arahnya, dia seperti sedang mencari halaman pada buku itu, buku yg dia gunakan utk berbicara padaku. Alida memberikan buku yg terbuka, dg halaman yg ingin dia tunjukkan padaku. Telunjuknya berada pada salah satu paragraf yg tertulis di lembar halaman yg terbuka. Hari ini cukup dingin, bahkan saya tidak melihat seekor pun burung camar yg bertengger di tempat anda sekarang. Kadang saya mulai ragu utk tetap berada disini. Karena di cuaca dingin seperti ini, hampir tidak ada yg bisa membedakan antara malam dan salju, seperti salju yg menutupi kepala anda. Sebaiknya anda memakai topi, meski angin di kota ini akan selalu menerbangkannya. Oh... ya, anda termasuk orang yg beruntung. Karena permintaan anda bisa dikatakan terwujud, karena anda bisa datang kembali ke taman ini. Anda cukup beruntung, ya... anda memang beruntung. Mungkin aku harus mengakuinya, tapi dia sedikit benar tentang hal terakhir. Bisa kembali ke sini, meski cuaca yg tetap melarangku utk keluar dan melihat laut. Kurasa aku memang beruntung. Pandangan Alida yg terus mengarah ke laut, seperti tahu akan reaksiku setelah membaca buku ini. Dia tidak merubah cara memandangnya, sama seperti yg orang-orang gambarkan jika menunggu sesuatu, atau seseorang. Alida melirik padaku yg sejak tadi selesai membaca, anggukan kepalaku membalas senyum yg terarah padaku. Tangannya yg bergerak seolah sedang membalikkan halaman, memberitahuku utk membaca halaman selanjutnya. Mengganti halaman yg berisi peragraf pendek, menyisakan setengah bagian kosong halaman. Tidak sulit utk mengetahui apa tujuan anda jika ada di taman ini, karena rasa penasaran. Ya, perasaan yg sama jika anda mendapat sebuah amplop berisi kartu nama yg tidak anda kenal. Pasti tindakan selanjutnya setelah memasang wajah bingung, adalah menghubungi nomor yg tertera di kartu tersebut. Cuaca dingin ini menghalangi orang-orang dg rasa penasaran tersebut, berdiam di dekat perapian mereka, tanpa tahu bahwa di tengah guyuran salju itu, masih tersisa sebuah harapan yg hanya ada saat salju turun. Saya bertaruh anda akan menahan tawa, jika anda mengerti. Harapan, apa mungkin terlihat di hari bersalju, saat ada pilihan utk menempatkan diri di depan pemanas ruangan. Hal itu mengingatkanku pada tujuan semula sejak pergi dan datang kemari. Aku mengambil sesuatu dari balik mantel yg kupegang, sesuatu yg pipih, tapi cukup tebal utk memegangnya. Benda yg terbungkus kertas kado berpola garis merah yg dipisahkan oleh beberapa garis hijau kecil. Sebuah pita berbentuk bunga yg sering ada pada bungkus hadiah pada umumnya menghiasi di salah satu sisi. hal yg terpikirkan saat berjalan di jalan-jalan kota, menyusuri pohon yg terpasang lampu merah pada setiap dahannya dan berhenti pada sebuah toko, toko yg menjual hal yg menurutku lebih baik kuberikan pada Alida daripada terpajang manis menghiasi etalase toko. Alida yg melihat benda yg kuberikan padanya, tidak menunjukkan rasa terkejut. Mungkin karena dia selalu dua langkah lebih awal dariku, jadi dia sudah tahu tentang sesuatu yg kuberikan padanya. Menulis sesuatu yg akan terjadi, dan hal itu benar-benar terjadi, tidak mungkin dia menunjukkan rasa penarasannya. Perasaan itu dia tulis pada buku yg sedang kugenggam, kupikir tidak ada lagi yg perlu dia tunjukkan padaku selain yg tertera di buku ini. Mungkin dia sudah tahu tentang hadiah yg sedang kuberikan padanya. Dengan melihat Alida, yg menerimanya dg kedua tangannya dan mendekapnya seolah tak ingin hadiah itu ikut merasakan dingin, atau ingin merasakan seberkas niat baik pada hadiah itu, tapi aku merasakan dia menahan sedikit air mata yg mulai menetes pada bungkus hadiah itu. Tanpa merusak pita yg terpasang manis pada hadiah itu, Alida mulai membuka dg hati-hati kertas kado yg membungkus hadiah dariku. Dan, gambar sebuah boneka beruang pada sampul depan buku yg kuberikan padanya, dan beruang itu mengikuti senyuman Alida yg tengah melihat baliknya. Setangkai bunga yg dipegang boneka beruang itu, berwarna sama seperti salju yg tengah menutupi sebagian sampul depan buku itu. Alida melihat ke arahku, seakan dia ingin mengucapkan terima kasih, atau mengatakan betapa lucunya gambar boneka beruang itu. Tapi tidak, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Alida membuka halaman tengah pada buku pemberianku itu, dan merobek selembar kertas, dan membaginya menjadi dua bagian yg sama besar. Salah satu potongan kertas itu, mulai dia lipat seperti lipatan serbet makan. Sebuah pesawat kertas yg sederhana, dan pulpen yg sejak tadi berada di saku sweater biru miliknya, dan sebuah pesan yg tertulis pada sayap pesawat kertas itu. Pesan itu tidak bisa terbaca jelas, karena ukurannya dan salju yg menghalangi pandanganku. Pesawat itu terbang, Alida menerbangkannya menuju arah yg selalu dia lihat, ke arah terjauh laut yg dapat kulihat dari tempatku berada sekarang. Dan bayangan putih itu menghilang ditengah salju yg mulai reda. Selembar kertas lagi, bagian lain yg tersisa dari satu lembar kertas utuh yg dibagi dua olehnya, dia mulai menulis pesan lagi. Aku melihatnya dari jarak yg cukup jauh utk membaca isi pesan itu, tapi itu sebuah tulisan singkat. Alida melipatnya dua kali lebih kecil dari ukuran semula, dan memberikannya padaku. Terima kasih, karena harapanmu, memberi sedikit harapan padaku. Aku membaca isi pesan yg tertulis. tidak seperti yg tertulis pada buku yg dia berikan padaku sebelumnya. tidak seperti menjawab sebuah pertanyaan yg belum ditanyakan, tapi menjawab sebuah tindakan yg bahkan aku sendiri tidak tahu apa yg telah kulakukan, selain memberi sebuah buku. Aku melihat Alida yg kembali melihat laut, seperti yg selalu dia lakukan. Alida yg melihatku, menunjuk ke arah pojok bawah kertas yg dia berikan padaku. Oh... ya, bisa kembalikan buku milikku sebelumnya, terima kasih. Aku langsung memberikan buku miliknya yg sejak tadi kupegang. Dan dia menerimanya lagi dg sikap yg tidak berubah, dia sudah seperti sebelumnya, mengerti apa yg akan kulakukan. *** Melewati orang yg tetap memegang kerah mantelnya, berusaha menghalau dingin yg semakin ingin mengusirnya dari dunia luar, utk segera pulang dan menikmati hangatnya perapian dan segelas coklat panas. Aku yg merasakan tubuhku menggigil karena dingin yg tidak tertahankan, membuatku ingin segera berlari dan memanggil taksi menuju apartement milikku. Dari jarak yg tidak jauh dariku, ada sesuatu yg terbang melintas di depanku, sesaat sebelum aku masuk ke dalam taksi. Benda putih yg tersamarkan oleh salju yg turun, dan menghilang sesaat aku mulai mengenali benda apa itu. Aku meyakinkan diri, bahwa itu bukanlah sesuatu yg kupikirkan, sebelum aku menunjuk ke arah nama jalan pada supir taksi itu, menuju apartement tak jauh dari taman itu.
____________________________
2 of 3
One From Few Things Of You
***
Waktu yg terus mengalir disekitarku, menghanyutkan pada setiap detil gerakan jarum jam yg terus berputar. Melupakanku akan waktu terakhir kali aku pergi ke taman dan bertemu dg seseorang dapat membuatku mengangkat sebelah alisku dan diam karena tulisannya, bukan perkataan yg selalu diucapkan oleh orang-orang bijak. Salju yg terus menutupi gedung-gedung dg putihnya bersamaan saat malam mulai membalurkan gelapnya, hanya dapat membuatku menopang kepalaku dan melihatnya dari jendela, apakah gadis itu masih ada disana, sebuah pertanyaan yg terlintas dalam pikiranku.
Setumpuk kertas didepanku, dan sebuah masalah menghadangku saat 'bos' melihatku membuang kertas-kertas itu di mesin penghancur kertas. Setiap pertanyaan yg dilayangkan padaku, hanya terjawab dg cara yg sama saat aku mendapat jawaban dari gadis di pagar kayu. Jari telunjuk yg ada didepan mulut utk setiap pertanyaan. Tidak mungkin jika aku mengatakan bahwa serpihan kertas itu berisi tulisan tanganku, sebagai balasan utk Alida.
***
Lampu-lampu jalan yg semakin mempercantik kota ini, dan salju yg semakin ingin menutupi semua yg ada dg pesonanya, tetap tidak menghentikan perjalananku. Setiap orang yg berjalan melewatiku, atau beriringan dgku, berusaha menghalau dinginnya cuaca bersalju dg mempererat lipatan tangan mereka, tanpa terkecuali aku. Kadang, saat pandanganku terarah pada kerlap-kerlip lampu yg terpasang disetiap pohon yg ada di jalan, mengingatkan pada saat-saat yg pernah terjadi padaku, saat membaca sebait kalimat yg dapat mengungkapkan kata-kata, bahkan sebelum pikiranku mulai merangkai serangkaian kata, sebuah kalimat yg telah tertulis dan kubaca bersamaan. Papan nama sebuah toko, dg sebuah niat baik yg mendorongku utk membuka pintu toko tersebut, melihat sebuah benda yg terpajang manis di kaca depan toko.
***
Rasa penasaranku mendominasi terhadap hawa dingin yg kurasakan. Beberapa orang yg tetap melewati taman ini, tetap tidak membuat seseorang yg ku ketahui meninggalkan tempatnya. Ya... dia tetap seperti saat pertama bertemu. Dari tempatku berada, tidak perlu waktu lama utk memastikan siapa yg sedang duduk di pagar kayu, tempat dimana aku dapat melihat laut dan merasa dapat menyentuh bayangan matahari terbenam.
Alida, kira-kira begitu cara saudarinya memanggil, seperti yg buku miliknya katakan. Tulisan yg memberikanku jawaban, bukan jawaban lisan yg selalu terdengar jika seseorang mendengar sebuah pertanyaan.
Aku ikut bersandar pada pagar yg sama, meletakkan tanganku dan menopang kepalaku diatas pagar kayu. Dapat kurasakan dia sedikit melirik ke arahku, melihat siapa yg datang ditengah cuaca bersalju, dan tetap ingin melihat sisa-sisa pesona matahari yg telah terbenam di sisi lain laut. Aku sedikit menengok ke arahnya, dia seperti sedang mencari halaman pada buku itu, buku yg dia gunakan utk berbicara padaku.
Alida memberikan buku yg terbuka, dg halaman yg ingin dia tunjukkan padaku. Telunjuknya berada pada salah satu paragraf yg tertulis di lembar halaman yg terbuka.
Hari ini cukup dingin, bahkan saya tidak melihat seekor pun burung camar yg bertengger di tempat anda sekarang. Kadang saya mulai ragu utk tetap berada disini. Karena di cuaca dingin seperti ini, hampir tidak ada yg bisa membedakan antara malam dan salju, seperti salju yg menutupi kepala anda. Sebaiknya anda memakai topi, meski angin di kota ini akan selalu menerbangkannya. Oh... ya, anda termasuk orang yg beruntung. Karena permintaan anda bisa dikatakan terwujud, karena anda bisa datang kembali ke taman ini. Anda cukup beruntung, ya... anda memang beruntung.
Mungkin aku harus mengakuinya, tapi dia sedikit benar tentang hal terakhir. Bisa kembali ke sini, meski cuaca yg tetap melarangku utk keluar dan melihat laut. Kurasa aku memang beruntung. Pandangan Alida yg terus mengarah ke laut, seperti tahu akan reaksiku setelah membaca buku ini. Dia tidak merubah cara memandangnya, sama seperti yg orang-orang gambarkan jika menunggu sesuatu, atau seseorang.
Alida melirik padaku yg sejak tadi selesai membaca, anggukan kepalaku membalas senyum yg terarah padaku. Tangannya yg bergerak seolah sedang membalikkan halaman, memberitahuku utk membaca halaman selanjutnya. Mengganti halaman yg berisi peragraf pendek, menyisakan setengah bagian kosong halaman.
Tidak sulit utk mengetahui apa tujuan anda jika ada di taman ini, karena rasa penasaran. Ya, perasaan yg sama jika anda mendapat sebuah amplop berisi kartu nama yg tidak anda kenal. Pasti tindakan selanjutnya setelah memasang wajah bingung, adalah menghubungi nomor yg tertera di kartu tersebut. Cuaca dingin ini menghalangi orang-orang dg rasa penasaran tersebut, berdiam di dekat perapian mereka, tanpa tahu bahwa di tengah guyuran salju itu, masih tersisa sebuah harapan yg hanya ada saat salju turun. Saya bertaruh anda akan menahan tawa, jika anda mengerti.
Harapan, apa mungkin terlihat di hari bersalju, saat ada pilihan utk menempatkan diri di depan pemanas ruangan. Hal itu mengingatkanku pada tujuan semula sejak pergi dan datang kemari. Aku mengambil sesuatu dari balik mantel yg kupegang, sesuatu yg pipih, tapi cukup tebal utk memegangnya. Benda yg terbungkus kertas kado berpola garis merah yg dipisahkan oleh beberapa garis hijau kecil. Sebuah pita berbentuk bunga yg sering ada pada bungkus hadiah pada umumnya menghiasi di salah satu sisi. hal yg terpikirkan saat berjalan di jalan-jalan kota, menyusuri pohon yg terpasang lampu merah pada setiap dahannya dan berhenti pada sebuah toko, toko yg menjual hal yg menurutku lebih baik kuberikan pada Alida daripada terpajang manis menghiasi etalase toko.
Alida yg melihat benda yg kuberikan padanya, tidak menunjukkan rasa terkejut. Mungkin karena dia selalu dua langkah lebih awal dariku, jadi dia sudah tahu tentang sesuatu yg kuberikan padanya. Menulis sesuatu yg akan terjadi, dan hal itu benar-benar terjadi, tidak mungkin dia menunjukkan rasa penarasannya. Perasaan itu dia tulis pada buku yg sedang kugenggam, kupikir tidak ada lagi yg perlu dia tunjukkan padaku selain yg tertera di buku ini. Mungkin dia sudah tahu tentang hadiah yg sedang kuberikan padanya.
Dengan melihat Alida, yg menerimanya dg kedua tangannya dan mendekapnya seolah tak ingin hadiah itu ikut merasakan dingin, atau ingin merasakan seberkas niat baik pada hadiah itu, tapi aku merasakan dia menahan sedikit air mata yg mulai menetes pada bungkus hadiah itu.
Tanpa merusak pita yg terpasang manis pada hadiah itu, Alida mulai membuka dg hati-hati kertas kado yg membungkus hadiah dariku. Dan, gambar sebuah boneka beruang pada sampul depan buku yg kuberikan padanya, dan beruang itu mengikuti senyuman Alida yg tengah melihat baliknya. Setangkai bunga yg dipegang boneka beruang itu, berwarna sama seperti salju yg tengah menutupi sebagian sampul depan buku itu. Alida melihat ke arahku, seakan dia ingin mengucapkan terima kasih, atau mengatakan betapa lucunya gambar boneka beruang itu.
Tapi tidak, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Alida membuka halaman tengah pada buku pemberianku itu, dan merobek selembar kertas, dan membaginya menjadi dua bagian yg sama besar. Salah satu potongan kertas itu, mulai dia lipat seperti lipatan serbet makan. Sebuah pesawat kertas yg sederhana, dan pulpen yg sejak tadi berada di saku sweater biru miliknya, dan sebuah pesan yg tertulis pada sayap pesawat kertas itu. Pesan itu tidak bisa terbaca jelas, karena ukurannya dan salju yg menghalangi pandanganku.
Pesawat itu terbang, Alida menerbangkannya menuju arah yg selalu dia lihat, ke arah terjauh laut yg dapat kulihat dari tempatku berada sekarang. Dan bayangan putih itu menghilang ditengah salju yg mulai reda. Selembar kertas lagi, bagian lain yg tersisa dari satu lembar kertas utuh yg dibagi dua olehnya, dia mulai menulis pesan lagi. Aku melihatnya dari jarak yg cukup jauh utk membaca isi pesan itu, tapi itu sebuah tulisan singkat. Alida melipatnya dua kali lebih kecil dari ukuran semula, dan memberikannya padaku.
Terima kasih, karena harapanmu, memberi sedikit harapan padaku.
Aku membaca isi pesan yg tertulis. tidak seperti yg tertulis pada buku yg dia berikan padaku sebelumnya. tidak seperti menjawab sebuah pertanyaan yg belum ditanyakan, tapi menjawab sebuah tindakan yg bahkan aku sendiri tidak tahu apa yg telah kulakukan, selain memberi sebuah buku. Aku melihat Alida yg kembali melihat laut, seperti yg selalu dia lakukan. Alida yg melihatku, menunjuk ke arah pojok bawah kertas yg dia berikan padaku.
Oh... ya, bisa kembalikan buku milikku sebelumnya, terima kasih.
Aku langsung memberikan buku miliknya yg sejak tadi kupegang. Dan dia menerimanya lagi dg sikap yg tidak berubah, dia sudah seperti sebelumnya, mengerti apa yg akan kulakukan.
***
Melewati orang yg tetap memegang kerah mantelnya, berusaha menghalau dingin yg semakin ingin mengusirnya dari dunia luar, utk segera pulang dan menikmati hangatnya perapian dan segelas coklat panas. Aku yg merasakan tubuhku menggigil karena dingin yg tidak tertahankan, membuatku ingin segera berlari dan memanggil taksi menuju apartement milikku.
Dari jarak yg tidak jauh dariku, ada sesuatu yg terbang melintas di depanku, sesaat sebelum aku masuk ke dalam taksi. Benda putih yg tersamarkan oleh salju yg turun, dan menghilang sesaat aku mulai mengenali benda apa itu. Aku meyakinkan diri, bahwa itu bukanlah sesuatu yg kupikirkan, sebelum aku menunjuk ke arah nama jalan pada supir taksi itu, menuju apartement tak jauh dari taman itu.
________________________________
Dari Notes di FB-ku, mohon kritik dan saran + komentar ^^d
(karena masalah ini dan itu, cerita lain sedikit terlambat, maaf >,<)
Comments
-
Actually Kakei san, i think
Submitted by Crow on 29 April, 2011 - 16:36.Actually Kakei san, i think this story needs a thing like "break" split it into 2 or 3 page so people will eager to read it more, actually if it was like this, people won't be eager to read, unless it is really interesting
I am not person worthy of your concern -
masih
Submitted by kiky2hikaru on 19 April, 2011 - 20:48.story kakeki masih setajam masa2 awal join komikoo...
syarat2 story yg baik hampir semuanya dipenuhi
seperti contohnya penggunan underlineKIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
hard to write
Submitted by Crow on 11 January, 2011 - 10:28.it is harder to write something we dont exactly feel it, but you make it, and not bad
I am not person worthy of your concern









































Post new comment