For Him I Stand up
Sekarang udah cerita ke enam gue... well walaupun cerita gue gak bagus-bagus amat, gw masih ttep bertahan buat bikin cerita (dah kea perang aja??) Maklum bntar lagi kan 17 agustus... Jadi enjoy cerita gw...
______________________________________
Sudah tidak terasa satu bulan aku berada di tempat Levathrone. Dan secara perlahan-lahan aku sudah mulai mengerti apa yang terjadi di sini. Namun setelah itu tidak ada hal lainnya berubah di tempat ini. Sampai hari ini tiba. Hari yang mulai menunjukan perubahannya. Tidak seperti biasanya, nenekku yang biasanya begitu tenang terhadapku tiba-tiba menjadi sangat kuatir kepadaku. Ginka, Centaure, Chaos, dan yang lainnya terlihat sangat berusaha melatih diri mereka sendiri dalam bertarung. Dan aku juga memperhatikan Levathrone yang sedang bersama Ginka, dan Levathrone seperti sedang membicarakan sesuatu yang sepertinya membuat Ginka terganggu.
Pembicaraan Levathrone dengan Ginka
"Anak itu memang luar biasa!", ucap Levathrone kepada Ginka yang sedang latihan mantra. Mendengar hal itu Ginka menjadi penasaran dan mulai mengungkapkan rasa ingin tahunya.
"Apa maksud Yang Mulia? dan siapa tepatnya Yang Mulia"
"Anak itu Waltocoria Severnaya. Hanya dalam waktu sebulan dia sudah bisa menguasai 40% dari mantra-mantra yang ada di dunia ini. Kau tahu kurasa dia sudah mulai melewati kemampuan dirimu"
"Yang Mulia?" tanya Ginka sambil melihatku yang sedang ada di pinggir lapangan pelatihan.
"Dan ku rasa kau juga harus bersiap-siaplah untuk menjadi yang kedua, karena kali ini aku yakin dia pasti bisa mengalahkanmu."
Mendengar hal itu Ginka benar-benar merasa terganggu dan mulai takut dikalahkan olehku. Dan rasa takut dikalahkan olehku membuatnya berubah membenciku. Persahabatan yang sudah ku jalin selama ini dengannya hancur seketika hanya karena hal itu.
Setelah mengatakan itu Levathrone pun pergi meninggalkannya menuju singgah sananya. Lalu karena aku penasaran akan apa yang terjadi, aku memutuskan untuk mendekatinya.
"Hi, Ginka!", lalu aku melihatnya serius latihan. "Kenapa kau latihan dengan sangat keras?"
"Jangan ganggu aku!" jawab Ginka dengan sangat ketusnya.
"Ginka?"
"Ku bilang Jangan Ganggu Aku Lagi! Aku tidak mau melihat mukamu!"
"Ginka? Apa yang dikatakan Levathrone kepadamu?"
"Itu bukan urusanmu! Pergilah dari sini!"
"Ginka! Apa pun yang dikatakan Levathrone jangan kau percaya, Ginka!"
"Pergi dariku!!!", teriak Ginka sambil mendorong tubuhku ke tanah.
"Baiklah kalau itu mau mu...." kemudian aku beranjak berdiri dan memutuskan untuk pergi ke hutan yang terdapat di bagian barat lapangan tempat pelatihan.
Awalnya aku ke sana hanya ingin menenangkan diriku dari apa yang sedang menerpa diriku, tetapi ada sesuatu yang menarik hatiku. Di dunia yang suram seperti ini ternyata masih ada hewan lucu. Hewan ini seperti anak anjing, dan bola matanya yang bulat dan besar seperti mau menangis itu menambah kesan imut pada hewan ini. Kemudian aku melihat hewan ini sedang merasa kesakitan karena kakinya terepit jebakan pemburu. Lalu aku memperhatikan kaki hewan ini, sangat kecil bahkan jika digunakan untuk menutup matanya saja tidak bisa. Secara perlahan aku mulai mendekati hewan ini.
Saat aku mendekati hewan ini, hewan ini seperti pasrah dan rela kalau nanti akan dibunuh. Tapi hewan ini terkejut saat aku melakukan hal yang sebaliknya. Melihat kakinya yang terluka, aku pun memutuskan untuk mengobatinya dengan obat-obatan yang ada di sekitar hutan yang bisa ku pakai. Di organisasi Lazuardian aku sudah mempelajari sebagian obat yang bisa kupakai di berbagai dunia, termasuk dunia ini. Jadi aku mencari tumbuhan yang bisa kugunakan untuk mengobati hewan ini. Dan untuk membalut lukanya aku menggunakan baju dalamku yang sudah kurobek.
"Nah, sekarang pergilah ke tempat yang bebas! Jangan ke tempat seperti ini! Hewan sepertimu sudah seharusnya menemukan kebahagiaanmu sendiri." perintahku pada hewan ini. Aku tidak tahu apa dia mengerti atau tidak tentang apa yang kubicarakan, tapi yang jelas tanpa kusuruh pun sudah seharusnya dia mengerti apa yang harus dilakukan.
Kemudian aku mulai melangkah kembali ke tempat pelatihan untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana. Dan tanpa aku sadari hewan itu mengikutiku dan menatapku dengan wajahnya yang menggemaskan itu.
"Kenapa kau mengikutiku? Kau seharusnya tidak mengikutiku!" teriakku pada hewan itu.
Dia tetap diam dan tidak bergeming sedikit pun terhadap teriakkanku. Hewan itu tetap menatapku.
"Kalau kau terus mengikutiku, kau akan dalam bahaya!"
Tetap tidak menghiraukan omonganku.
"Baiklah, kalau begitu! Ayo, ikut aku sampai ke tempat Levathrone! Tapi kalau ingin pergi, pergilah dan tidak usah segan lagi untuk pergi. Oke?"
Entah kenapa hewan ini sepertinya mengerti terhadap apa yang sedang kubicarakan.
Aku mulai melangkah ke tempat istana Levathrone. Beberapa saat aku memperhatikan hewan ini yang selalu saja mengikuti. Kenapa hewan ini terus mengikutiku? Apa dia tidak punya teman lain untuk diajak main. Lalu aku memutuskan untuk membawa hewan ini kepada nenekku, Kierie.
"Nek! Lihat aku membawa apa nek!" sambutku kepada Kierie sambil mengangkat hewan tersebut dan menunjukkannya ke nenekku. Lalu aku mulai meraba bulu hewan ini, begitu lembut rasanya. Seperti bulu anjing.
"Ah, hewan itu! Hewan yang sudah seharusnya punah. Hewan yang sangat aku sukai. Kenapa hewan itu bisa berada di sini? Dimana kau menemukan hewan ini?"
"Dihutan sebelah tempat pelatihan itu. Dan kenapa nenek bilang 'seharusnya sudah punah?'?
"Karena aneh sekali jika ada hewan yang bisa lolos dari jebakan yang dipasang oleh anak buahnya Levathrone. Bahkan semut saja tidak berani kesini."
"Aku pun juga tidak mengerti, nek. Tunggu! Berarti kalau aku salah langkah di sana aku juga bisa terperangkap jebakan yang sama dong kalau aku tidak hati-hati!?
"Makanya itu kamu beruntung juga bisa berada di sini dengan selamat."
"Huff... Tapi aku masih tidak mengerti kenapa hewan yang bisa berada dimana saja, bisa berada di tempat seperti ini?"
"Kenapa kau tidak cari tahu saja?"
"Bagaimana caranya?"
"Ingat tidak kamu dengan mantra yang pernah diajarkan Levathrone kepadamu dan yang biasanya digunakan untuk melihat masa lalu seseorang? Levathrone paling suka menggunakan mantra ini untuk mencari titik kelemahan musuh-musuhnya dan mengalahkan mereka."
"Tidigare. Aku masih ingat itu. Dia pernah menggunakan mantra itu kepadaku untuk membuatku diam."
"Nah, sekarang kenapa kau tidak gunakan anjing itu? Mantra 'tidigare' sebenarnya bisa menjadi senjata yang hebat dan juga bisa menjadi penolong yang hebat jika kau gunakan dengan benar."
"Baiklah! TIDIGARE!"
Lalu aku melihat hewan ini sedang berlari-lari bersama dengan kelompoknya. Mereka seperti dikejar-kejar oleh mesin pembunuh. Aku kenal mereka! Simbol yang ada di baju bagian dada sebelah kiri mereka! Mereka adalah anak buah Levathrone! Mereka membuat kekacauan dimana-mana dan merusak tempat tinggal hewan ini. Melihat hal ini aku tak kuasa menahan emosiku. Kenapa mereka begitu tega? Banyak darah berceceran dan hewan ini melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri.
Lalu mereka yang masih selamat lari ke tempat yang seharusnya mereka hindari. Dan jebakan-jebakan yang mereka lewati tidak dapat mereka lewati. Semua mati terkena jebakan-jebakan sadis itu. Dan yang paling menyedihkan adalah disaat pembunuhan itu terjadi hewan ini harus menyaksikan kematian teman-temannya dengan sadis ini sendiri dan hidup sendiri di tengah-tengah hutan sampai dia ikut terjebak dan aku selamatkan dia.
Melihat hal ini aku tak kuasa air mata lagi.
"Walto?"
"SUDAH CUKUP! Kenapa harus ada lagi orang yang mengalami hal yang sama denganku! Cukup aku saja yang melihat kematian kejam di depan mataku sendiri. Jangan biarkan hewan ini mengalami hal yang sama denganku! Hiks... hiks... hiks..."
"Walto? Kenapa?", tanya nenekku yang semakin penasaran.
"Nek! Terimakasih nek, kau telah mengingatkan aku untuk menggunakan mantra ini! Hiks... hiks... hiks... Aku berjanji akan menjaga anjing ini!"
"Well, sepertinya aku tidak perlu menanyakan apa yang terjadi?" kata nenek yang sudah mengerti. "Tapi sebaiknya kau harus memberi nama hewan ini?"
"Pumpy!"
"Apa?"
"Pumpy! Aku memberikan nama anjing ini 'Pumpy'!"
"Oke... nama yang lucu untuk menjadi nama hewan ini!" sahut nenekku sambil mengelus Pumpy.
Kemudian aku teringat tentang perubahan yang sedang terjadi pada orang-orang di dunia ini.
"Nek! Boleh aku tanya sesuatu?"
"Iya...."
"Kenapa nenek tadi khawatir sekali padaku? Kenapa Ginka dan yang lainnya begitu berlatih dengan keras untuk bisa bertarung dengan baik?"
"Kurasa... Kakek belum cerita sama sekali padamu tentang ini. Hari ini adalah hari penentuan antara hidup dan matimu dan teman-temanmu yang lainnya. Jika kau kalah, kau akan mati. Tetapi jika kau menang temanmu akan mati."
"Kenapa begitu?"
"Karena nanti kau dan teman-temanmu nanti akan dipanggil dalam turnamen pertarungan yang diadakan sebulan sekali. Kalau kau tidak membunuh temanmu, kau dan temanmu akan mati!"
"Apa?" tanyaku kaget bercampur dengan rasa tegang di tubuhku.
"Maaf, Walto! Nenek harusnya memperingatkanmu dari awal. Hiks... hiks... hiks....", kata nenekku sudah menangis tersedu-sedu.
"Tidak apa-apa, nek! Aku mungkin akan berusaa bertahan! Tapi untuk membunuh temanku adalah sesuatu yang tak bisa kulakukan. Jadi jaga Pumpy selama aku bertarung ya?", kataku kepada nenek sambil tersenyum tabah.
"Walto!! Nenek tidak akan melupakanmu, cucuku! Hiks... hiks... hiks...", seru nenekku sambil datang memelukku.
Aku tidak ingin melepaskan pelukan hangat nenekku, tapi aku harus. "Maaf, nek! Tapi aku harus pergi sekarang ke sana!'
"Semoga kau baik-baik saja ya! Doaku akan selalu menyertaimu!"
"Iya, nek..."
Lalu aku berjalan meninggalkan nenek dan aku melihat Levathrone yang sudah menungguku di luar istananya.
"Kemana saja kau daritadi? Ayo, ikut denganku!", teriak Levathrone kepadaku sambil menggenggam tanganku dengan keras. "Skjutas!"
Saat dia mengucapkan mantra itu, aku langsung berada di tempat turnamennya. Tempat turnamen tersebut terlihat seperti koloseum yang pernah diceritaka Ornlu kepadaku. Berkat Ornlu aku sudah mengenal beberapa hal di dunia luar. Bedanya penontonnya bukan lagi manusia, tapi monster-monster yang haus darah.
"Nah, habis pertarungan ini adalah pertarunganmu bersama Ginka! Ingatlah satu hal yang pernah kuajarkan padamu! Gunakanlah mantramu dengan sebaik-baiknya, karena setiap sorcerer mempunyai batas tertentu dimana dia hanya bisa menggunakan mantra-mantra tersebut sesuai dengan energi yang mereka punya. Karena itulah, kali ini aku tidak mau melatihmu!"
"Iya, kek....", sahutku tanpa mau melihat mukanya.
Dan setelah ini adalah pertarungan antara Waltocoria Severnaya dengan Ginkarin Seikosu.
Kemudian aku dan dia turun ke lapangan turnamen itu. Dan dia menatapku dengan rasa bencinya.
"Ginka! Maaf aku harus mengalahkanmu!", kataku dengan penuh penyesalan.
"Bullshit! Aku tidak butuh belas kasihanmu! Kau harus mati di tanganku! Straffspark!"
Badanku terasa sakit semua dan akhirnya aku terjatuh ke tanah, aku tidak dapat menangkal jurus itu kecuali... "Antidot till stava!" yang artinya adalah penangkal segala mantra. Lalu aku sambil berbaring dan memulihkan diriku sendiri akhirnya aku mengeluarkan mantra penyeranganku. "Var en stel!", itu adalah mantra yang kugunakan untuk membuat lawanku tidak bisa bergerak.
Tapi sebelum menerima mantraku, dia sudah berhasil mengelak mantraku dengan "Invertera glaset!". Saat dia menggunakan mantra tersebut, mantraku yang semula kugunakan untuk menyerangnya berbalik kepadaku sehingga tubuhku menjadi kaku.
"Huh!? Kupikir sehebat apa dirimu sampai Yang Mulia Levathrone begitu membanggakanmu. Ternyata begini saja? Kalau sudah begini untuk apa kau hidup?"
"Apa?"
"Sudahlah! Akui saja! Kau kesini karena tidak tahu mau pergi kemana, kan? Teman-temanmu sudah meninggalkanmu! Untuk apa kau hidup?"
"Memang benar, aku sudah ditinggalkan. Tapi biarpun begitu aku masih tetap ingin bertahan!", Lalu aku memikirkan Pumpy. "Starkt ljus!", saat kuucapkan mantra itu cahaya terang berhasil menyilaukan Ginka dan juga seluruh penonton yang berada di situ. Di tengah-tengah ke galauan yang sedang terjadi aku menyempatkan diri untuk menggunakan mantra 'antidote till stava' kepada diriku sendiri.
Dan saat cahaya sudah hampir hilang, aku akhirnya menyerang Ginka yang sedang dengan mantraku. "Var Lame!", saat aku mengucapkan mantra itu, Ginka menjadi lumpuh dan tidak bisa berbicara lagi. Tapi walaupun dia lumpuh total dia masih bisa melihat apa yang sedang kulakukan.
Lalu Levathrone turun dari tempat duduknya menuju lapangan pertarunganku dengannya. "Bunuh dia! Mahluk lemah sepertinya tidak pantas untuk hidup!"
Lalu aku mengangkat tongkat sihirku ke arah Ginka dan, "Antidot till stava!"
"Apa? Apa yang kau lakukan?" kata Levathrone dan juga penonton yang lainnya yang juga berpikiran sama dengannya.
"Kek! Aku tidak peduli akan apa yang akan kau lakukan padaku. Tapi, kek... Jangan sakiti dia, kek! Dia adalah teman pertamaku di sini. Dan untukmu, Ginka!"
Lalu dia tersungkur mendengar namanya dipanggil secara tegas olehku.
"Aku tidak akan mau mati darimu, aku akan terus bertahan demi Pumpy! Dan maaf saja aku tidak akan mau kalah darimu...", kataku sambil mendekati Ginka. "Karena aku ingin mengalahkan satu orang yang sering kau sebut Yang Mulia itu." kataku sambil berusaha tersenyum. "Dan terimakasih karena kau telah menjadi temanku di sini."
Lalu aku mendekati Levathrone dengan berani. "Kek, aku siap untuk dihukum ataupun dibunuh, kek!"
"Kau bercanda! Kau hebat! Kau lebih hebat dari ayahmu! Dengan kemampuanmu yang pesat seperti ini, mana bisa membunuhmu! Aku sudah memutuskan untuk terus melatihmu dan menjadikanmu mesin pembunuh yang handal! Dan oleh karena itu, aku tidak akan mengukum dan membunuhmu dan Ginka!" lalu Levathrone beranjak pergi ke istananya.
Kemudian aku melihat lagi Ginka. Awalnya aku ingin mendekatinya, tapi matanya yang gusar itu mengatakan bahwa dia tidak akan melupakan kejadian ini dan suatu saat dia akan membalasnya dengan lebih kejam lagi dari apa yang telah kulakukan. Lalu aku berpaling darinya dan menuju ke tempat nenekku.
Sesampainya ke kamar nenekku, aku langsung menuju tempat tidur. Tidak lupa Pumpy langsung datang ke kasur dan tidur di sampingku. Lalu aku memikirkan sesuatu yang benar-benar tidak pernah kupikirkan sampai sekarang. Aku ingin keluar dari sini bersama dengan Pumpy.
Comments
-
hehe... dah lupa... dah lama
Submitted by prophet of warlock on 11 December, 2011 - 19:07.hehe... dah lupa... dah lama bget soalnya XDD makasi ya komennya
Courtesy Waltocoria Severnaya ~ I will not lose my destiny over the wizard of fate -
dari mana la kamu dapat
Submitted by ridho.jenaka on 16 November, 2011 - 16:27.dari mana la kamu dapat inspirasi ceritanya, salut..salut..

-
sorcerer...
Submitted by Crow on 29 April, 2011 - 14:36.well actaully it is really interesting just like what Hikaru san saidI am not person worthy of your concern -
NICE
Submitted by kiky2hikaru on 19 April, 2011 - 20:34.nice story.....
rada panjang tapi menarik untuk dibaca...^^KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
NICE
Submitted by kiky2hikaru on 19 April, 2011 - 20:34.nice story.....
rada panjang tapi menarik untuk dibaca...^^KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
sorcerer...
Submitted by Crow on 17 January, 2011 - 01:00.so the hero is falling in love huh,,,one sided love
I am not person worthy of your concern -
no kritik
Submitted by WisangGeni on 6 January, 2011 - 14:11.buat yang satu ini no kritikan lah
Bravo Sist
if the devil is real, so God must be real too -devil's-









































Post new comment