Tue14Jun2011
TUTS
196 kali
0 kali
not admin's choice
Jari-jemari Alya menyentuh tuts-tus papan ketik di komputer
jinjingnya. Terkadang tiga jarinya, dua kanan dan satu kiri bergerak
cepat, menyusun kata demi kata merangkai kalimat demi kalimat yang
meluncur begitu saja dari otaknya. Tak sampai beberapa ketukan,
tangannya terdiam kaku… menatap layar, melihat susunan huruf yang
nampak, tak habis berpikir bahwa di dalam teknologi digital, kata-kata
itu hanya susunan angka 1 dan 0 dalam kumpulan permutasi yang hanya
dibatasi oleh wewenang perusahaan listrik yang sewaktu-waktu bisa
membunuh aliran listrik ke komputer jinjingnya.
Alya terdiam. Jemarinya hanya lancar saat mengetik kalimat-kalimat
pembuka, kalimat-kalimat naratif yang tidak menjelaskan isi ceritanya.
Sudah terlalu lama sejak ia membuat cerita terakhirnya. Biasanya ia akan
memutuskan berhenti, menyimpan file naskah yang tak jadi itu dengan
nama sekenanya yang besok subuh sudah ia lupakan. Tersimpan rapi, begitu
rapinya hingga tersembunyi dalam ratusan folder yang ada di
komputernya, tersembunyi dari ingatan.
Alya merubah posisi duduknya, menaikkan kedua kakinya lalu
melipatnya, cukup lama hingga ia menyadari kursi tidak dibuat untuk
menampung kaki dan pantat sekaligus. Lalu ia tumpukan kedua telapak
tangannya di sandaran tangan kursi itu, mengangkat kakinya, lalu
berjongkok. Dan kata-kata kembali muncul di layar komputernya. Dalam
hatinya Alya berpikir dan memotivasi dirinya sendiri, “aku harus
menyelesaikannya kali ini! Tak peduli satu halaman atau dua puluh
halaman, aku harus menyelesaikannya!” Tapi Hermes sepertinya sedang
tidak ingin berkunjung ke kamarnya. Ia punya banyak pesan untuk
disampaikan, tapi tak satu pun pesan itu bisa berpindah dari kepala
menuju syaraf-syaraf tangannya.
Jemarinya menari lagi. Lagi-lagi hanya kata-kata naratif tak
bermakna. “Aku tidak bisa membuat kisah yan isinya melulu narasi!
Sebagus apapun naratornya yang membacakan, Morgan Freeman sekalipun,
tidak akan bisa membuat cerita ini berkisah tentang perasaanku!” Alya
kembali berbincang dengan kepalanya.
“Apa yang harus kutulis?”
“Bersabarlah sebentar, kau tak tahu betapa sulitnya memilah-milah informasi di dalam sini”
“Itu urusanmu, seperti kau pernah peduli saja saat kulitku terisi
silet, atau saat diriku berpegal-pegal ria setelah harus mengajak
pensil-pensil berdansa!”
“ya ya ya… aku tahu, tapi kita punya tugas masing-masing, saat ini
yang perlu kau tahu hanyalah bahwa tugasmu untuk menggerakkan dirimu di
atas tuts-tuts papan ketik itu.”
“Kau tahu kan ia sangat ingin menyampaikan pesan itu?”
“Ya ya ya… aku tahu pasti, bahkan aku tahu segalanya tentang dirinya,
tapi kan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak jika aku harus
memilih-milih dari ratusan skenario yang ia rasakan.”
“Tidakkah kau bisa menentukan saja, kau punya banyak pilihan! Sungguh beruntungnya dirimu…”
“Tidak bisa, pilihan ini tidak ada yang lebih baik, jika ia berpikir
sesuatu lalu memutuskan hal itu tidak baik karena pertimbangan lain, itu
semua benar, karena sudah tugasku membenarkan itu semua, supaya ia
tidak gila”
“Tapi kau tahu kan, apa yang ia mau?”
“Ya tahu lah…”
“Terus…? Gampang kan?”
“Enak saja, kau pikir gampang? Ini seperti melihat lampu merah dan
hijau menyala bersamaan… kalau mau mudah, kau pasti akan memilih jalan
terus, sama seperti orang-orang dibelakangmu yang tak henti-hentinya
menekan klakson.”
“Jadi? Aku ini bodoh, aku ini mekanis, jangan salahkan aku kalau tak berhenti bertanya…”
“yayaya…”
“tapi aku bukannya tak berguna”
“iyaaaaa…”
“terus gimanaaaaaa? Mau nunggu pak polisi datang?”
“Ya semacam itulah, setidaknya kan harus lihat kiri kanan depan,
jangan-jangan di sisi lain lampunya hijau. Jangan-jangan di sisi lain
lampunya juga rusak, kalau memang mau maju, pelan-pelan, hati-hati…”
“Lah, itu sih kuning berarti lampunya!”
“WAT EVAH!!!”
“Salah lagiiii….”
“Ah tak tahulah aku…”
Alya masih terdiam, diteguknya langsung segelas es kelapa muda yang
baru saja diberikan oleh teman sekamarnya. Ia meminumnya langsung,
sampai tersisa hanya daging-daging kelapa muda. Dan otaknya membeku.
Berhenti berpikir sejenak. Membiarkan hatinya mengambil alih sementara
waktu kendali atas jemari tangannya.
Dan ia mulai mengetik lagi. Satu baris, dua baris, tiga baris, satu
kalimat, dua kalimat, satu paragraf, dua paragraf, terus mengalir tanpa
peduli kisah mana yang akhirnya ia pilih, tanpa peduli siapa yang
akhirnya keluar, dan siapa yang akhirnya punya kesempatan untuk
berbicara dengan orang lain lewat barisan kata-kata ini. Pikirannya
punya begitu banyak alternatif cerita, karena setiap kali ia memilih
satu jalan, pikirannya akan menambahkan satu jalan lain, belum termasuk
pilihan untuk kembali ke titik awal saat ia mulai berjalan.
Ia maju, berjalan bertemu persimpangan, pilih satu, jalan lagi,
persimpangan lagi. Kadang persimpangannya semudah kiri dan kanan,
semudah jalan rata atau menanjak, semudah gang sempit atau jalan macet
perkotaan. Tapi kadang persimpangan itu begitu sepi, tidak meninggalkan
satu petunjuk pun, yang lebih parah, kadang persimpangannya begitu
ramai. Penuh dengan petunjuk-petunjuk yang berseliweran, penuh dengan
bilangan faktorial yang tak habis-habis.
Otaknya berhenti membeku. Dan jemarinya berhenti menari. Lagi. Alya
mengambil parutan kelapa muda dengan tangannya, kemudian memakannya. Ia
angkat lagi gelasnya, ia minum lagi airnya, lalu memakan lagi parutan
kelapa muda yang ternyata tidak terlalu muda, mengunyahnya hingga
memenuhi lubang giginya, menambah satu lagi pekerjaan untuk otaknya.
Mengisntruksikan lidahnya untuk menjelajahi sudut-sudut lubang di
giginya berusaha mengeluarkan si penganggu yang tidak seharusnya ada
disitu…”Ah, yang seharusnya tidak ada itu lubang sialan di gigi kampret
ini…” keluhnya Alya.
“Ternyata kau bisa bodoh juga… hahahaha”
“Ah itu bisa-bisanya dia saja, seenaknya menenggak minuman sedingin itu langsung sekali teguk…”
“Jadi, setelah kau tidak sepintar tadi, sudah tahu apa yang harus kulakukan?”
“Aku tahu, jauhkan dirimu dari gagang gelas sialan itu…”
“Tidak ada gunanya… gelasnya sudah…”
“…kosong! Aku tahu, itu retoris”
“Ah, retoris itu untuk pertanyaan… tidak ada istilah perintah retoris… hahaha.. rupanya kau jadi bodoh sungguhan.”
“Kata siapa?”
“Ya iyalah, memangnya kau mau memerintahkan seseorang untuk berbuat sesuatu, tapi orang itu lalu tidak berbuat apa-apa?”
“Ya, habis sepertinya ia begitu…”
“Maksudmu?”
“Ya begitu, sudah tahu ia harus menyampaikannya, atau setidaknya ia
tahu kalau ia tidak menyampaikannya maka ia akan terus menerus seperti
sekarang, guling-gulingan gak jelas, senyam-senyum sendiri,
sebentar-sebentar nge-cek handphone…”
“Yah, wajar bukan, manusia, pasti banyak pertimbangan”
“Ini sih berlebihan namanya… ya udah, kalau begitu nggak perlu bilang…”
“Ya tapi maunya kan bilang…”
“… … …”
“Kenapa diam saja? Kehabisan kata-kata?”
“Capek!”
Masih belum bercerita. Alya membaca lagi baris demi baris kalimat
yang ada di depannya. Bagus memang, pikirnya, tapi tidak seperti yang ia
inginkan. Ia tidak ingin bercerita tentang sebuah pondok di sebuah
bukit di kaki gunung, dengan sungai kecil yang airnya mengalir jernih,
dengan suara kicau burung menyanyikan lagu musim semi , merayakan
salju-salju yang mulai mencair, menyambut kelopak bunga yang mulai
bermekaran.
Ia tidak ingin menuliskan barisan huruf tentang harumnya hutan pinus
yang ada di belakang pondok itu, tentang anak tangga di depan rumah yang
terbuat dari kayu oak tua yang mulai berderit saat ada langkah kaki
melintasinya. Ia tidak ingin bercerita tentang pelangi yang selalu ada
di air terjun kecil yang berjarak sepelemparan batu dari pondok itu,
yang busurnya hanya membentuk seperempat lingkaran dengan warna-warni
indah yang tidak hanya menyejukkan mata, tapi benar-benar menyejukkan
dirimu, karena untuk melihatnya kau harus berdiri di sebuah batu licin
yang ada tepat di sebelah air terjun itu, dan percikan air akan
menyentuh rambut-rambut halus di tanganmu.
Alya tidak ingin bercerita semua itu. Ia ingin menceritakan riangnya
tawa anak-anak saat mengunjungi kakeknya yang tinggal sendirian di
pondok itu. Ia ingin menceritakan binar-binar di mata kedua cucu itu
saat mendengar sang kakek bercerita soal beruang merah besar yang
menjadi pelindung di hutan itu, yang melintas rutin tepat sebelum sinar
fajar menyentuh kaca jendela terluar dari pondok kayu sang kakek. Alya
ingin menceritakan rasa haru sang kakek saat menyadari bahwa ia sendiri
tapi tidak kesepian.
Alya tersenyum, melepaskan tangannya dari atas papan ketik komputer
jinjingnya. Memandang langit-langit kamarnya, yang tidak terhias apapun,
karena ia tidak pernah berani untuk berdiri di atas kursi dan berjinjit
untuk memasang bintang-bintang yang berpendar dalam gelap sebagai
hiasan di saat lampu dimatikan menjelang dirinya terlelap…
Alya hanya memandangi langit-langit. Menyandarkan punggungnya.
Menarik nafas panjang dan berkata dalam hatinya, “Aku harus menulisnya,
dan harus selesai, karena aku sedang jatuh cinta, karena aku butuh ia
mengetahuinya…”
Tanjung Barat, 02 Januari 2010, 3.16 pm
Rizqi R. Mosmarth







































Post new comment