TUTS

mosmarth
0
196 kali
0 kali

not admin's choice

Jari-jemari Alya menyentuh tuts-tus papan ketik di komputer jinjingnya. Terkadang tiga jarinya, dua kanan dan satu kiri bergerak cepat, menyusun kata demi kata merangkai kalimat demi kalimat yang meluncur begitu saja dari otaknya. Tak sampai beberapa ketukan, tangannya terdiam kaku… menatap layar, melihat susunan huruf yang nampak, tak habis berpikir bahwa di dalam teknologi digital, kata-kata itu hanya susunan angka 1 dan 0 dalam kumpulan permutasi yang hanya dibatasi oleh wewenang perusahaan listrik yang sewaktu-waktu bisa membunuh aliran listrik ke komputer jinjingnya. Alya terdiam. Jemarinya hanya lancar saat mengetik kalimat-kalimat pembuka, kalimat-kalimat naratif yang tidak menjelaskan isi ceritanya. Sudah terlalu lama sejak ia membuat cerita terakhirnya. Biasanya ia akan memutuskan berhenti, menyimpan file naskah yang tak jadi itu dengan nama sekenanya yang besok subuh sudah ia lupakan. Tersimpan rapi, begitu rapinya hingga tersembunyi dalam ratusan folder yang ada di komputernya, tersembunyi dari ingatan. Alya merubah posisi duduknya, menaikkan kedua kakinya lalu melipatnya, cukup lama hingga ia menyadari kursi tidak dibuat untuk menampung kaki dan pantat sekaligus. Lalu ia tumpukan kedua telapak tangannya di sandaran tangan kursi itu, mengangkat kakinya, lalu berjongkok. Dan kata-kata kembali muncul di layar komputernya. Dalam hatinya Alya berpikir dan memotivasi dirinya sendiri, “aku harus menyelesaikannya kali ini! Tak peduli satu halaman atau dua puluh halaman, aku harus menyelesaikannya!” Tapi Hermes sepertinya sedang tidak ingin berkunjung ke kamarnya. Ia punya banyak pesan untuk disampaikan, tapi tak satu pun pesan itu bisa berpindah dari kepala menuju syaraf-syaraf tangannya. Jemarinya menari lagi. Lagi-lagi hanya kata-kata naratif tak bermakna. “Aku tidak bisa membuat kisah yan isinya melulu narasi! Sebagus apapun naratornya yang membacakan, Morgan Freeman sekalipun, tidak akan bisa membuat cerita ini berkisah tentang perasaanku!” Alya kembali berbincang dengan kepalanya. “Apa yang harus kutulis?” “Bersabarlah sebentar, kau tak tahu betapa sulitnya memilah-milah informasi di dalam sini” “Itu urusanmu, seperti kau pernah peduli saja saat kulitku terisi silet, atau saat diriku berpegal-pegal ria setelah harus mengajak pensil-pensil berdansa!” “ya ya ya… aku tahu, tapi kita punya tugas masing-masing, saat ini yang perlu kau tahu hanyalah bahwa tugasmu untuk menggerakkan dirimu di atas tuts-tuts papan ketik itu.” “Kau tahu kan ia sangat ingin menyampaikan pesan itu?” “Ya ya ya… aku tahu pasti, bahkan aku tahu segalanya tentang dirinya, tapi kan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak jika aku harus memilih-milih dari ratusan skenario yang ia rasakan.” “Tidakkah kau bisa menentukan saja, kau punya banyak pilihan! Sungguh beruntungnya dirimu…” “Tidak bisa, pilihan ini tidak ada yang lebih baik, jika ia berpikir sesuatu lalu memutuskan hal itu tidak baik karena pertimbangan lain, itu semua benar, karena sudah tugasku membenarkan itu semua, supaya ia tidak gila” “Tapi kau tahu kan, apa yang ia mau?” “Ya tahu lah…” “Terus…? Gampang kan?” “Enak saja, kau pikir gampang? Ini seperti melihat lampu merah dan hijau menyala bersamaan… kalau mau mudah, kau pasti akan memilih jalan terus, sama seperti orang-orang dibelakangmu yang tak henti-hentinya menekan klakson.” “Jadi? Aku ini bodoh, aku ini mekanis, jangan salahkan aku kalau tak berhenti bertanya…” “yayaya…” “tapi aku bukannya tak berguna” “iyaaaaa…” “terus gimanaaaaaa? Mau nunggu pak polisi datang?” “Ya semacam itulah, setidaknya kan harus lihat kiri kanan depan, jangan-jangan di sisi lain lampunya hijau. Jangan-jangan di sisi lain lampunya juga rusak, kalau memang mau maju, pelan-pelan, hati-hati…” “Lah, itu sih kuning berarti lampunya!” “WAT EVAH!!!” “Salah lagiiii….” “Ah tak tahulah aku…” Alya masih terdiam, diteguknya langsung segelas es kelapa muda yang baru saja diberikan oleh teman sekamarnya. Ia meminumnya langsung, sampai tersisa hanya daging-daging kelapa muda. Dan otaknya membeku. Berhenti berpikir sejenak. Membiarkan hatinya mengambil alih sementara waktu kendali atas jemari tangannya. Dan ia mulai mengetik lagi. Satu baris, dua baris, tiga baris, satu kalimat, dua kalimat, satu paragraf, dua paragraf, terus mengalir tanpa peduli kisah mana yang akhirnya ia pilih, tanpa peduli siapa yang akhirnya keluar, dan siapa yang akhirnya punya kesempatan untuk berbicara dengan orang lain lewat barisan kata-kata ini. Pikirannya punya begitu banyak alternatif cerita, karena setiap kali ia memilih satu jalan, pikirannya akan menambahkan satu jalan lain, belum termasuk pilihan untuk kembali ke titik awal saat ia mulai berjalan. Ia maju, berjalan bertemu persimpangan, pilih satu, jalan lagi, persimpangan lagi. Kadang persimpangannya semudah kiri dan kanan, semudah jalan rata atau menanjak, semudah gang sempit atau jalan macet perkotaan. Tapi kadang persimpangan itu begitu sepi, tidak meninggalkan satu petunjuk pun, yang lebih parah, kadang persimpangannya begitu ramai. Penuh dengan petunjuk-petunjuk yang berseliweran, penuh dengan bilangan faktorial yang tak habis-habis. Otaknya berhenti membeku. Dan jemarinya berhenti menari. Lagi. Alya mengambil parutan kelapa muda dengan tangannya, kemudian memakannya. Ia angkat lagi gelasnya, ia minum lagi airnya, lalu memakan lagi parutan kelapa muda yang ternyata tidak terlalu muda, mengunyahnya hingga memenuhi lubang giginya, menambah satu lagi pekerjaan untuk otaknya. Mengisntruksikan lidahnya untuk menjelajahi sudut-sudut lubang di giginya berusaha mengeluarkan si penganggu yang tidak seharusnya ada disitu…”Ah, yang seharusnya tidak ada itu lubang sialan di gigi kampret ini…” keluhnya Alya. “Ternyata kau bisa bodoh juga… hahahaha” “Ah itu bisa-bisanya dia saja, seenaknya menenggak minuman sedingin itu langsung sekali teguk…” “Jadi, setelah kau tidak sepintar tadi, sudah tahu apa yang harus kulakukan?” “Aku tahu, jauhkan dirimu dari gagang gelas sialan itu…” “Tidak ada gunanya… gelasnya sudah…” “…kosong! Aku tahu, itu retoris” “Ah, retoris itu untuk pertanyaan… tidak ada istilah perintah retoris… hahaha.. rupanya kau jadi bodoh sungguhan.” “Kata siapa?” “Ya iyalah, memangnya kau mau memerintahkan seseorang untuk berbuat sesuatu, tapi orang itu lalu tidak berbuat apa-apa?” “Ya, habis sepertinya ia begitu…” “Maksudmu?” “Ya begitu, sudah tahu ia harus menyampaikannya, atau setidaknya ia tahu kalau ia tidak menyampaikannya maka ia akan terus menerus seperti sekarang, guling-gulingan gak jelas, senyam-senyum sendiri, sebentar-sebentar nge-cek handphone…” “Yah, wajar bukan, manusia, pasti banyak pertimbangan” “Ini sih berlebihan namanya… ya udah, kalau begitu nggak perlu bilang…” “Ya tapi maunya kan bilang…” “… … …” “Kenapa diam saja? Kehabisan kata-kata?” “Capek!” Masih belum bercerita. Alya membaca lagi baris demi baris kalimat yang ada di depannya. Bagus memang, pikirnya, tapi tidak seperti yang ia inginkan. Ia tidak ingin bercerita tentang sebuah pondok di sebuah bukit di kaki gunung, dengan sungai kecil yang airnya mengalir jernih, dengan suara kicau burung menyanyikan lagu musim semi , merayakan salju-salju yang mulai mencair, menyambut kelopak bunga yang mulai bermekaran. Ia tidak ingin menuliskan barisan huruf tentang harumnya hutan pinus yang ada di belakang pondok itu, tentang anak tangga di depan rumah yang terbuat dari kayu oak tua yang mulai berderit saat ada langkah kaki melintasinya. Ia tidak ingin bercerita tentang pelangi yang selalu ada di air terjun kecil yang berjarak sepelemparan batu dari pondok itu, yang busurnya hanya membentuk seperempat lingkaran dengan warna-warni indah yang tidak hanya menyejukkan mata, tapi benar-benar menyejukkan dirimu, karena untuk melihatnya kau harus berdiri di sebuah batu licin yang ada tepat di sebelah air terjun itu, dan percikan air akan menyentuh rambut-rambut halus di tanganmu. Alya tidak ingin bercerita semua itu. Ia ingin menceritakan riangnya tawa anak-anak saat mengunjungi kakeknya yang tinggal sendirian di pondok itu. Ia ingin menceritakan binar-binar di mata kedua cucu itu saat mendengar sang kakek bercerita soal beruang merah besar yang menjadi pelindung di hutan itu, yang melintas rutin tepat sebelum sinar fajar menyentuh kaca jendela terluar dari pondok kayu sang kakek. Alya ingin menceritakan rasa haru sang kakek saat menyadari bahwa ia sendiri tapi tidak kesepian. Alya tersenyum, melepaskan tangannya dari atas papan ketik komputer jinjingnya. Memandang langit-langit kamarnya, yang tidak terhias apapun, karena ia tidak pernah berani untuk berdiri di atas kursi dan berjinjit untuk memasang bintang-bintang yang berpendar dalam gelap sebagai hiasan di saat lampu dimatikan menjelang dirinya terlelap… Alya hanya memandangi langit-langit. Menyandarkan punggungnya. Menarik nafas panjang dan berkata dalam hatinya, “Aku harus menulisnya, dan harus selesai, karena aku sedang jatuh cinta, karena aku butuh ia mengetahuinya…” Tanjung Barat, 02 Januari 2010, 3.16 pm Rizqi R. Mosmarth

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

return to top