Time to Fight Begin

3.285715
574 kali
0 kali

Sekarang ini cerita kelima gue... lumayan untuk mengisi waktu luang kosong gue... Gue akui, gue punya banyak sekali imajinasi tapi kadang gue bingung ngungkapinnya dalam kata-kata. Jadi maafkan daku jika terjadi banyak sekali kesalahan dalam penulisan.

________________________________________

 

"Walto! Bangun... Hari sudah mulai siang! Kakekmu sudah memanggilmu dari tadi." seru nenek sambil mengguncang tubuhku dengan lembut.

 

"Ya nek..." jawabku sambil mengusap mataku.

 

"Ayo, cepat kesana! Jika kakekmu marah, kau akan berada dalam bahaya..."

 

"Baik, nek..."

 

Lalu aku cepat-cepat bangun dari tempat tidurku, dan bergegas menemui kakekku. Ketika aku sampai, ternyata kakekku sudah ada di kursi singgahsananya. Kemudian kakekku berdiri dari singgah sananya dan berjalan menghampiriku.

 

"Jangan hanya diam saja di situ! Ayo, ikuti aku!"

 

Awalnya aku mau protes tetapi tidak jadi ku lakukan, karena aku tahu apa yang akan terjadi jika memprotesnya. Akhirnya, aku mengikuti Levathrone melewati tempat yang sangat menakutkan. Ya ampun! Apakah di tempat ini tidak ada yang namanya siang? Tempat ini terasa sangat gelap untuk di bilang siang, lebih tepatnya sore menjelang malam. Bukan hanya itu saja, aku melihat di sekelilingku banyak sekali mayat yang sudah di kubur dan yang masih berceceran di mana-mana.

 

Akhirnya aku sampai di tempat yang dituju pamanku. Tempat ini terasa seperti penjara, tidak ada kebebasan di sini. Terasa penuh dengan kesesakan. Hatiku terasa terpukul melihat kejadian yang terjadi di sana. Orang-orang memohon belas kasihan kepada pengawal Levathrone agar berhenti menyiksa mereka. Orang-orang diborgol dan dicambuki. Wanita-wanita diperkosa. Tubuh mereka dipotong-potong selagi mereka masih hidup.

 

"Leva!!! Kenapa kau membawaku kesini!?", teriakku karena aku sudah tidak tahan dengan pemandangan yang ku lihat.

 

"Itulah yang akan terjadi jika kau berani menentangku. Nah, sekarang bolehkah kita balik ke urusan kita?"

 

"Arrgghh..."

 

"Mulai dari sekarang aku akan melatihmu untuk sorceress terbaik. Jadi mulai sekarang bersiap-siaplah, karena aku tidak akan segan kepadamu!"

 

"Begitu juga denganku!" balasku sambil menatapnya dengan serius.

 

Lalu Levathrone memanggil seorang gadis yang seumuran denganku, "Ginka! Cepat kesini!"

 

"Iya, yang mulia!"

 

"Bawa dia ke tempat pelatihan kita!"

 

"Baik!"

 

Lalu anak itu menggenggam tangaku dengan keras dan membawaku ke tempat yang dimaksud kakekku. Tempat itu masih gelap, tetapi setidaknya masih lebih baik daripada yang tadi. Pohon-pohon gersang, burung gagak yang berkicau, dan para pengikutnya yang selalu siap siaga menunggu perintahnya.

 

"Jadi kau yang namanya Waltocoria Severnaya? Hi, aku Ginkarin Seikosu! Aku berasal dari klan yang sama dengamu. Ini pertama kalinya aku menemui mahluk yang seumuran denganku. Salam kenal! Oh ya, maaf aku menggenggammu dengan keras! Soalnya aku tidak sabar untuk ngobrol denganmu!"

 

Kemudian datanglah seekor tauren dengan palunya yang besar menghampiri kami.

 

"Hei, Ginka! Sedang apa kau disana? Dan...", lalu tauren itu melihatku. "Siapa perempuan di sebelahmu itu?"

 

"Oh, ini! Kenalkan ini adalah Waltocoria Severnaya. Cucunya Yang Mulia!"

 

"Ooooh! Jadi kamu yang namanya Waltocoria Severnaya. Namaku Centaure Graventum. Salam kenal!"

 

"Sa... salam kenal!"

 

"Hmm... ngomong-ngomong... apa yang sedang kau lakukan di sini, Walto?"

 

"Aku-"

 

"Tadi Yang Mulia memanggilku untuk membawanya ke sini. Katanya Yang Mulia pingin ngajarin dia ilmu sihir. Yang Mulia ingin membuat Walto jadi sorceress terbaik." potong Ginka saat aku mulai berbicara.

 

"Begitu...", kemudian Centaure tersenyum jenaka kepadaku, "Hanya sekedar informasi, Ginka ini adalah sorceress terbaik di tingkatnya. Jadi kalau kau ingin menjadi nomor satu, kalahkan dulu dia."

 

"Iiihh!! Ngaco! Jangan didenger, Walto! Dia cuman pingin menggodamu saja... Oh, ya! Ayo, kita keliling-keliling di sekitar sini! Di sini walaupun kelihatan suram, tapi masih ada pemandangan bagus yang masih bisa dilihat ko..."

 

Lalu Ginka mengajakku berkeliling tempat itu. Tempat yang awal ku pandang suram, entah kenapa tiba-tiba menjadi sangat menakjubkan. Pohon yang kulihat begitu gersang dan dipenuhi oleh burung-burung gagak menjadi pohon yang begitu tenang tentram. Desiran angin yang tadinya terasa begitu dingin menjadi terasa sejuk di hatiku. Kenapa perasaanku berubah ketika aku bersama orang yang nyaman ya?

 

"Gimana tidak terlalu buruk, kan?" tanya Ginka.

 

"I.. iya..."

 

"Baguslah!"

 

Lalu kami mendengar bel lonceng berbunyi dari tempat singgahsana Levathrone.

 

"Apa-apaan suara itu?"

 

"Itu tandanya pengajaran oleh Yang Mulia segera dimulai. Ayo, kita cepat!"

 

Entah kenapa sewaktu aku mendengar hal itu, jantungku seperti berhenti berdetak. Akhirnya, aku sampai ke tempat pengajaran Levathrone. Dan Levathrone sudah menatapku daritadi, seakan-akan mengatakan bahwa aku harus mempersiapkan diriku untuk menghadapi dirinya.

 

"Pertama, Ginka, Walto, Chaos, dan murid sorcerer lainnya akan dilatih oleh Levathrone. Dan yang lainnya akan dilatih oleh gurunya masing-masing." kata si pembaca berita yang dikirim oleh Levathrone.

 

"Yosh! Jadi kita tinggal pergi ke tempat Levathrone, ne?" seru Ginka kepadaku.

 

"O... ooke..."

 

Setelah sampai ke tempat pelatihan sorcerer, Levathrone mengajarkan beberapa mantra-mantra simpel untuk kegiatan sehari-hari.

 

"Sekarang kita coba untuk memusatkan pikiran kita terhadap barang yang ingin kita pindah, dan keluarkan mantra ini... Flytta!"

 

Semua anak yang setingkatku pun mencoba mengeluarkan mantra itu, tetapi akulah yang terlebih dahulu bisa mengeluarkan mantra ini dengan baik. Semua terkaget-kaget akan betapa cepat aku menangkap pelajaran yang diberikan oleh Levathrone. Sementara untuk Ginka yang sorceress terbaik saja membutuhkan waktu lebih dari setengah jam untuk bisa menguasai mantra itu. Melihat hal ini, Levathrone semakin tertarik untuk melatihku.

 

Kemudian waktu istirahat pun dimulai...


"Wah... seperti yang ku harapkan dari cucu seorang Levathrone! Kau tidak akan pernah mengecewakanku, Walto!" kata Centaure dengan hebohnya.

 

"Iya... kau tadi hebat sekali... Kau bisa mempelajari ilmu sihir dengan cepat..." sahut Ginka

 

"Hehehe... terimakasih..."

 

"Yuk! Kita makan bareng, Walto!" teriak Ginka.

 

"Ah, baiklah! Aku-"

 

"Tunggu dulu! Walto akan bersamaku selama dia berada di sini!" teriak Levathrone tiba-tiba sambil menghampiri kami.

 

"Apa, kek? Sekarang kan waktunya istirahat! Lagian aku lagi mau makan bareng-"

 

"Gak papa, Walto! Aku sama Centaure biar makan bareng..." sahut Ginka dengan ceria. Dia benar-benar tidak tahu apa-apa! Setelah mengatakan hal itu, mereka pergi meninggalkan aku.

 

"Sudah jelaskan! Sekarang kamu ikut denganku..." perintah Levathrone.

 

"TIDAK!!!" teriakku.

 

"Tvingad!" Levathrone mengeluarkan mantranya. Sewaktu Levathrone mengeluarkan mantranya, tubuhku seperti di tarik dengan keras. Sewaktu aku mau memberontak, tubuhku terasa sakit.

Dan mau tidak mau, aku harus mengikutinya sampai ke lembah gunung. Tempat itu sangat gelap dan juga berkabut. Kalau kita tidak hati-hati, kita bisa jatuh ke jurang karena lembah tersebut sangat curam dan jarang dilewati orang. Dan melihat sekelilingku, benar-benar tidak ada kehidupan. Benar-benar kosong.

 

"Nah, sekarang kita sudah sampai!"

 

"Kenapa kakek membawaku ke sini?"

 

"Aku membawamu ke sini, karena aku ingin melatihmu lebih lagi. Apalagi melihat kemampuanmu yang sangat cepat dalam menangkap pelajaranku, kau memang pantas jadi cucuku."

 

"Jadi apa yang ingin kau latih dariku? Kali ini aku ingin mendengarkan ajaranmu!" sahutku dengan berani dan menatap matanya dengan tajam.

 

"Itulah yang ku inginkan darimu. Kau tidak seperti ayahmu yang kabur dari tempat ini beberapa tahun yang lalu."

 

"Ayahku tidak kabur! Ayahku hanya ingin memulai hidup baru! Bukan hidup yang penuh kekejaman!"

 

"Straffspark!" seru Levathrone. Saat dia mengucapkan mantra itu, tubuhku menjadi sakit semua.

 

"Siapa yang menyuruhmu berbicara, hah? Baiklah, ayo kita mulai latihannya!"

 

Dan setelah itu aku pun mulai mengikuti pelajarannya. Dari pagi sampai malam, aku terus dilatih ilmu sihir olehnya. Kembali ke kamar, dilatih bersama-sama dengan Ginka dan yang lainnya, dan juga dilatih secara khusus oleh Levathrone. Tapi berkat latihan yang diberikan oleh Levathrone, aku menjadi lebih kuat. Awalnya aku masih mau mengikuti Levathrone sampai hari itu tiba. Hari dimana aku harus bertahan melawan segala keadaan yang mungkin meremukkan hatiku.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments

  • Crow's picture

    sorcerer...

    very cool thing to have here

    I am not person worthy of your concern
  • mastriono's picture

    aneh tapi nyata, sip kok

    aneh tapi nyata, sip kok

  • WisangGeni's picture

    aneh

    ada satu keanehan Sist..... walto kan diajak ama kakeknya..... tp ada satu kali kesalahan, dirimu menulis PAMAN bukannya KAKEK

    tepatnya...: akhirnya aku sampai di tempat yang dituju "PAMANKU", seharusnya kan KAKEKKU?????

    Btw tetap Smangad

    if the devil is real, so God must be real too -devil's-
  • kiky2hikaru's picture

    sip sip sip

    sip sip sip....keren juga1!

    terinspirasi darimana sih?

    KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI.....
  • sichi00's picture

    Hmmm

    Terinspirasi dari Harry Potter kah? heheheh keliatannya magic menguasai . .

    naiz & Lanjutkan usahamu Smile


return to top