tikus-tikus Jalanan -part 1-
NGGAAK ADIL!!!! Aku berteriak pada diriku sendiri sambil menghempaskan selembar uang seribuan yang basah bercampur lusuh dan beberapa recehan jauh-jauh dari genggaman tanganku, bayangan wajahku terbias dalam sebuah genangan air diatas aspal basah yang terkena hujan sejam lalu dan kini hujan itu telah berhenti, lalu bayangan itu hilang kembali karena tetesan keringat bercampur darah yang jatuh dari kening dan lubang hidungku, aku telah berjanji tidak akan menangis apapun yang terjadi, menangis akan membuatku menjadi lemah, Aku tidak mau menjadi anak laki-laki yang cengeng. Genangan itu bergerak-gerak menghancurkan bayangan wajahku, sama seperti hidupku yang hancur setiap harinya. Aku memandang tajam sosok pria berjaket kulit warna hitam, tubuhnya kekar, tato permanen terlihat menggores di seluruh lengannya, tanganya menggengam beberapa lembar uang duapuluh ribuan serta selembar uang seratus ribu, wajahnya terlihat puas menatapku yang terkapar seperti orang merangkak dengan luka dan pakaian penuh kotoran dari jalan-jalan aspal yang rusak dan bercampur tanah, daerah vital yang terletak di bawah perut serta berada di atas pahaku terasa sakit, sesekali ia tersenyum sambil memandang uang yang digenggamya, lalu ia melangkah pergi, sampai aku hanya bisa dapat melihat punggung pria yang biasa disebut bang mamat itu, ah.. tidak bang bangsat! Nama panggilan seperti itu lebih cocok untuk seorang bajingan seperti ia.
Tepat tigapuluh menit yang lalu aku masing menggengam uang tiga ratus ribu rupiah dalam eratnya cengkraman tanganku yang kasar. Uang itu aku maksudkan untuk membayar utang kakak perempuanku kepada seorang pedagang pakaian di seberang pemukiman kumuh yang dibatasi oleh got besar berbau busuk yang sangat menyengat, got itu tidak layak di sebut sebagai kali atau semacamnya, karena tingkat kotornya air tersebut melebihi najis kotoran saat Aku buang air besar. Kakak ku yang masih menginjak kelas satu SMA terpaksa meminjam uang waktu itu untuk membayar keperluan sekolah ku yang saat ini masih aku sering datangi setiap paginya, Aku masih berada di kelas satu SMP. Yah.... Aku dan kakak ku hanya hidup berdua, kami dibesarkan oleh seorang nenek yang tidak mempunyai hubngan darah sama sekali dengan kami, namun mempunyai hubungan batin dengan kami, yah.. aku akan menceritakan itu nanti, kenapa nenek kami yang telah tiada jasadnya, aku dan kakak ku bisa merasakan kehadiranya ditengah kehidupan kami.
Saat aku sedang berjalan dengan sedikit berdendang, sambil menggenggam amanah dari kakaku, yah uang tiga ratus ribu yang sangat berharga ini, hasil dari jerih payah kami untuk melunasi sedikit demi sedikit hutang-hutang kami, aku berjalan santai sambil melihat sekeliling ku, berhimpit-himpit pemukiman super kumuh dengan berbagai macam bahan bangunan seadanya yang ikut menopang rumah-rumah tersebut, namun tiba-tiba saja bang mamat yang setengah sadar menghandang ku, matanya memerah, mulutnya sangat bau, sepertinya ia sehabis menenggak sebotol minuman keras, jalanya sempoyongan, dalam keadaan seperti ini dia tidak akan segan untuk melukai setiap orang yang mengusiknya, hmmm... mungkin lebih tepat melukai orang yang tidak meladeni usikan dari dirinya. Aku terdiam sejenak melihat reaksinya yang segera memandang kepalan uang yang cukup tebal ditanganku,
”eh..tong... loe mau lewat jalan ini? Hhh....” dia berbicara seperti orang yang baru saja bangun dari tidur,
”iya bang,...” jawab ku singkat dengan nada yang sedikit datar,
”loe tau kan? Setiap yang mau nyebrang kesini mesti bayar uang keamanan dulu ke gue....!!!!!” nada bicaranya semakin meninggi,
”ga tau gue bang” Dengan segera aku menyelipkan gumpalan uangku kedalam celana dalamku, celana yang ku kenakan tidak memiliki kantong, jadi aku suka menyimpan uang receh atau selembaran di celana dalamku sehabis aku mengamen sebagai tambahan uang jajan, aku merasa itu merupakan tempat yang aman.
”ooh... jadi loe ga tau tong?? Tapi sekarang loe taukan?” ia melihat gelagatku ketika memasukan lembaran uang ke dalam cd ku,
”apaan tuh yang loe umpetin??” tanya bang mamat curiga,
”Mau tau aja loe bang!” dengan segera aku mengambil ancang-ancang, lalu melesat mendorong bang mamat lalu berlari meninggalkanya,
”ANAK SETAN!!!!” bang mamat terjatuh, namun segera bangkit kembali dengan cepat, dia seperti orang mabuk, dengan stamina orang tidak mabuk!, lalu ia mengejarku, jangan tanya... meski sedang mabuk tetapi kecepatan kakinya seperti seekor kuda binal yang penuh hasrat! Mungkin karena ia terbiasa untuk lari ketika kabur saat ketahuan mencopet.
”Orang Gila!!” Aku segera mengambil langkah seribu, Sendal jepit lusuh ku ikut berdecit ketika menginjak jalan-jalan aspal bercampur tanah yang sudah rusak, hujan gerimis yang sebentar lagi reda ikut membasahi jalan-jalan sial ini, hampir aku terjatuh dan terpeleset, sendal jepitku putus seketika! Sendal jepit tua ini sudah menemui ajalnya, Aku segera melepaskan sebelah sendalku yang rusak, satunya lagi aku lepaskan, lalu aku mengambil batu yang terlihat sedang terkapar tidak diperhatikan, aku menghadap belakang lalu kulempar batu itu bersama sendal jepit bututku!
<DUAKHHH...!!!!>
”ANJING! ANAK BANGSAT!!” batu itu tepat mengenai bahu kanan bang mamat, namun itu hanya memicu emosinya saja, bukan memperlambat, malah membuat ia semakin menggila mengejarku. Kesalahan besar!.
Sekuat tenaga aku mencoba berlari, aku sedikit menoleh melihat bang mamat yang sedang mabuk sekaligus mengejarku dengan memegang sebilah pisau yang ia keluarkan dari selipan sepatunya, menakutkan dengan rasa takut bagai digantung dengan kepala terbalik di atas tugu monas, bengis seperti singa betina yang sedang kelaparan dan kehilangan hasrat bercinta, semua hal sepertinya sudah menjadi gila di otaku, menyesal aku meladeni orang sableng seperti bang mamat! Dan parahnya sekarang ia sedang mendekat ke arahku, semakin dekat hingga ujung pisau lipat yang ia sibakan dapat merobek sedikit bagian kaos lusuhku dari belakang.
”BOCAHHH SETAAAAANNN!!!!!!!” bang mamat berteriak! Warga yang berada didalam rumah kumuh hanya bisa melihatku berlarian di tengah gerimisnya hujan, mereka ketakutan melihat bang mamat, tidak ada seorangpun termasuk para pemuda yang sedang bermalas-malasan tidur sambil menikmati sebatang rokok yang ia pungut dari jalanan, mereka hanya melihatku sambil pura pura tidak peduli, dari tatapan mata mereka sepertnya berkata ”semoga selamat bocah” aku tidak butuh tatapan seperti itu, yang ku butuhkan hanya bantuan untuk menghindar dari sang kerbau liar yang memegang pisau ini.
<BRUUGHHH!!!!!>>
kaki ku dijegal olehnya, kini bang mamat berada di atas tubuhku menikamku dengan dengkulnya yang besar dan berat bagai untaian beton-beton dosa dari neraka, berat sekali sampai aku mengerang kesakitan!!
”AAAAARRRRRGGGHHHHhhhhHH...!!! aku berteriak sambil mencoba meronta, yah hanya mencoba, tubuhku yang kecil dan sedikit kurus ini tidak dapat melawan sedikitpun,
”Tai LOE!!!” Aku kesal, dan mungkin hanya diriku yang tidak takut dengan bang mamat yang terkenal ganas dan tidak pandang bulu, bahkan dulu ia pernah menceburkan seorang kakek tua kedalam sumur, dan sekarang, aku hanya seorang anak kecil yang sok kuat dan juga tidak berdaya, entah dengan begini aku disebut sebagai pemberani atau anak kecil tolol yang tidak tau apa yang dihadapinya.
<ccuiih...!> Aku meludah tepat didepan muka bang mamat, sempat-sempatnya aku melawan, tetapi kata kakak ku, ”lawan dan terus berjuanglah selagi kau bisa, jangan menyerah!” dan yang aku bisa gerakan bagian tubuhku hanyalah kepalaku, tidak ada salahnya aku meludahi kotoran serta sampah masyarakat seperti bang mamat,
”SIALAN!!! Bocah brengsek!!” bang mamat berkata dengan gelora amarah didalamnya,
<Buagh..Buagh..Buaghh...>
Tiga pukulan keras melayang dan menabrak pipiku, hidungku seprtinya sedikit bengkok, lalu mataku seketika menjadi gelap sesaat dan terang sesaat, aku sudah bonyok! Lalu bang mamat merogoh isi celana dalamku, ia menemukan uang yang tadinya akan aku pakai untuk membayar hutang dan beberapa lembar lagi hasil mengamenku tadi pagi, amanah dari kakak ku sudah hilang, aku gagal menjaganya!, namun bukan hanya itu yang ditemukan bang mamat, alat vitalku!, ia memegang alat vitalku, wajahnya sedikit tersenyum, air liur menetes sedikit dari mulutnya yang bau alkohol itu, ia meludahi alat vitalku, aku mencoba melawan tapi kaki dan tangan ku sudah di kunci olehnya, aku benar-benar kehabisan tenaga untuk melawan.
Perlahan ia menggerakan alat vitalku keatas dan kebawah, yang kurasakan bukan lah sebuah rasa nikmat, tetapi rasa sakit! Juga rasa sakit dibatinku!, alat vitalku menerima rangsangan apa adanya, bang mamat sepertinya menyukai permainan ini, ia tidak melapas sedikitpun genggaman tanganya dari alat vitalku, ia seperti monyet yang ingin bercinta dengan seekor mayat babi, tak peduli siapa yang ada dihadapanya dan siapa yang sedang dihadapinya, tanganya terus mengolah ’itu’ ku, sampai akhirnya... <______>
Lalu ia berjalan meninggalkan seorang bocah yang terkapar lemah, sambil berkata
”loe udah ga punya urusan lagi sama gue, bocah ANJING!! Lalu ia melemparkan beberapa lembar uang seribuan yang kiumal dan receh yang tadinya ingin diambilnya juga,
”gue ga tega sama jerih payah loe ngamen dijalan-jalan” kemudian bang mamat meninggalkan ku dengan kepuasan materi dan batin, aku telah merasakan penganiyayaan, pemerasan, dan pencabulan, aku merasakan semuanya dalam satu waktu!
<hh..hh..>
Aku Cuma bisa bergerak dari keadaan tidur menjadi posisi merangkak, hidungku berdarah meneteskan cairan merah pekat. Celana ku basah, dan aku tidak bisa membedakan air hujan atau cairan pekat keluar dari ’itu’ ku yang membasahi celana ini, kakiku gemetar mulutku menggigil, tangan ku serasa lemas ingin segera aku kembali pulang dan menceritakan ini sama kakak, meski itu akan membuatnya sedih. Aku melihat bang mamat meninggalkan ku sambil berjalan sempoyongan lalu tertawa.
”Loe Bakal nyesel!!! AAAAAAARRRGHHHHH!!!!!” pekik ku memecah sunyinya jalan rusak dan lamunan seorang kakek tua yang sedang mengais sampah di dalam timbunan air kotor berwarna hitam yang mengalir.
Comments
-
lanjutan
Submitted by ddum_RyuZentju on 15 January, 2011 - 09:39.ditunggu ya lanjutannya,
makin ga sabar,
dari part 1 sampe part 4 keseluruhan ceritanya udah ok
-
thanksss yang udah baca, hehhe
Submitted by boam on 14 January, 2011 - 18:18.hhe...
kira kra sampai berapa chapter? ah... panjang ko...
saya sendiri belum tahu akan selesai kapan, selama masih ada yang membaca, cerita ini akan terus berlanjut, mohon komen nya yah... bagi yg bener-bener baca, sepedas apapun itu, saya sangat membutuhkannya
"As a talented person with huge aspirations, it’s easy to get over-confident. you’re showcased online, and you think you’re a prodigy No, you’re not. There are thousands of brilliantly talented young illustrators out there and you’re just one of them Be -
chapter
Submitted by kiky2hikaru on 14 January, 2011 - 16:25.kira-kira mw dibuat berapa chapter???
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
chapter
Submitted by kiky2hikaru on 14 January, 2011 - 16:24.kira-kira mw dibuat berapa chapter???
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
kinda...awkward
Submitted by Crow on 14 January, 2011 - 13:17.but not that bad
I am not person worthy of your concern -
ok
Submitted by ddum_RyuZentju on 14 January, 2011 - 09:24.akan kubaca sampai ceritanya tamat,
selamat berkarya ya boam!!!
-
untuk sementara
Submitted by boam on 14 January, 2011 - 09:18.ini adalah cerita tentang bagaimana semua hal sudah di politikkan,
termasuk kepercayaan -baca : agama-
cerita ini akan sedikit cukup panjang, jadi vaca pelan-pelan aja yah... hehehe
enjoy folks...
saya sudah upload sampai part 4
"As a talented person with huge aspirations, it’s easy to get over-confident. you’re showcased online, and you think you’re a prodigy No, you’re not. There are thousands of brilliantly talented young illustrators out there and you’re just one of them Be











































Post new comment