Tetangga Kami Ibu Rus

malya
Slice Of Life
3
490 kali
0 kali

not admin's choice

“Pagi, Ibu…,” sapaku pada wanita tua yang suka mengurus tanaman itu. Tetanggaku yang bernama Ibu Rus, sesepuh RT dan wanita paling bawel kalau sudah berurusan dengan kebersihan lingkungan. “Pagi, Gadis…,” balasnya. Namaku bukan Gadis, dan aku juga bukan lagi seorang “gadis”, tetap saja ia setia memanggil dengan sebutan rekaannya. Ia berjalan perlahan mendekatiku dan mengelus punggungku. Setelah menutup pagar, kuraih dan kucium punggung tangannya. “Kerja?” tanyanya. “Iya, ngajar. Biasa… masuk pagi,” balasku sambil menuntunnya kembali ke rumahnya. Rumah Ibu Rus kecil dibandingkan rumah-rumah tetangganya. Perabotannya ditata apik dan halamanya dipenuhi tanaman dalam pot. Sejuk. Membuat yang bertamu betah dan enggan pulang. Begitu juga aku, jadi enggan berangkat kerja. “Ibu sehat?” sambil menuntunnya duduk di kursi tamunya. Sebenarnya beliau masih cukup sehat, tapi hati ini saja yang tak tega. “Alhamdulillah, sehat. Nanti saja ibu mau senam di lapangan bareng ibu-ibu komplek. Poco-poco…,” jawabnya sambil tersenyum nakal. Umur 70 tahun masih sanggup berjalan kaki dan belanja ke pasar yang berjarak 1 kilometer. Tetangga yang jauh lebih muda saja malasnya bukan main dan lebih suka naik motor. Lincah nenek yang satu ini. “Udah, Ibu ditinggal saja, kamu telat nanti. Masuk setengah tujuh kan? Baru setengah enam saja sudah berangkat. Rajin kamu, Dis.” “Nggak papa, Ibu. Berangkat pagi supaya sempat beberes dulu. Di sana juga paling baca-baca. Telat dikit nggak bakal terlambat, kok.” Beliau mengelus pungungku lagi. “Aki sehat?” aku bertanya tentang suaminya, Uwak Rusdi. “Sehat,” jawabnya. “Aki sudah tua. Matanya sudah labur, nggak bisa liat jauh. Jalan juga mesti dibimbing. Kalau masih bisa makan banyak itu mah masih sehat namanya,” tambahnya. Ibu Rus memegang tanganku, “Doakan saja Uwak sehat. Biar sampai umurnya 75 tahun ini. Biar bisa ketemu cucu. Sebulan lagi anak Ibu yang kedua pulang dari Jerman. Sudah kangen.” “Amiiin,” jawabku. “Tapi ibu juga mesti sehat, makan yang banyak. Tidurnya juga banyak. Jangan capek-capek…” “Ah, Ibu mah sudah kebanyakan tidur. Jadi orang tua itu mesti banyak isengan. Biar nggak cepat lupa,” masih bisa ngeyel, rupanya, sahutku dalam hati. “Sudah, berangkat sana. Susah kan bisnya pagi buta begini?” usirnya dengan halus. “Iyah. Ya sudah Ibu. Saya kerja dulu.” Aku pamit tidak lupa mencium tangannya. Sudah kebiasaan. Sejak menikah dan jauh dari orang tua, beliau sudah seperti keluarga bagiku. Sewaktu aku hamil pertama saja, rentetan nasihat selalu mengalir dari mulutnya. Yang repot memanggil bantuan sewaktu ada hajatan saja Ibu Rus. Entah bagaimana nasib pasangan muda ini kalau beliau tak ada. “Assalamu’alaikum…,” pamitku. “Wa’alaikumsalam…,” sahutnya sambil melambaikan tangannya. Sebulan berlalu sejak pagi itu. Di depan rumah Bu Rus terpasang tenda. Tawa terdengar dari dalam rumahnya. Anaknya yang bekerja di Jerman sudah pulang. Mengundang saudara dan kerabat. Syukuran karena bisa melewati masa kerja tanpa kurang satu apapun di luar negeri. Kudengar tawa Ibu Rus dan Uwak Rusdi. Sudah lewat umur uwak Rusdi 75 tahun. Sudah bertemu ia dengan anak-cucunya yang dirindukan. Semua anaknya sudah sukses, semua membawa cucu-cucu yang manis. Sudah tak ada lagi yang mesti dikhawatirkan pasangan lanjut itu. Kehidupan mereka memang tidak mulus. Dulu tetangga sering bergosip kalau keduanya sering bertengkar. Pernah suatu ketika dikabarkan anaknya kabur dari rumah karena alasan yang tak jelas. Berhutang sana sini demi biaya operasi Uwak. Dihutangi orang tapi tak dibayar. Pernah memiliki mobil tapi sebulan kemudian sudah hilang digadaikan. Pahit dan manis sudah pernah mereka alami. Kupandang punggung suamiku yang sedang bermain-main dengan anak-anak. Sambil mendengar tawa dari rumah Ibu Rus, aku bersyukur mendapatkan suami seperti dirinya. Baginya tanggung jawab mengurus rumah itu tanggung jawab bersama. Sayangnya ia tak pandai berbenah jadi sering kusuruh duduk saja dan mengajak anak bermain. Ia sudah pasti tak sempurna seperti kebanyakan lelaki di dunia ini. Pekerjaannya juga bukan yang bergaji luar biasa. Hidup kami biasa saja. Barang-barang mahal kami memang jarang punya. Tapi syukur tak satupun dari kami dan anak-anak yang pernah sakit serius Kutepuk bahu Nugi, suamiku. Kusodorkan padanya sepiring pisang goreng kesukaannya. Wajahnya bersinar sambil meraih penganan manis itu. Indah putri kami yang berusia 3 tahun melihat dan ikut-ikut meraih pisang goreng yang masih panas. “Panas, Indah,” kata suamiku. Ia mengambil sehelai tissue dan membelah pisang gorengnya. Ditiupnya satu bagian agar Indah bisa memakannya. Kakaknya Bagus, Ikut-ikut meniup bagian itu. “Kok tumben, masak pisang goreng?” Tanya suamiku sambil menyuapi Indah dan Bagus bergantian. “Oleh-oleh dari anaknya Ibu Rus,” jawabku. “Dapat tuh, setandan pisang kepok, baru matang dari pohon, katanya” Nugi melirik dapur. “Asik juga punya kebun,” komentarnya. “Kalau ada hasil bisa bagi-bagi tetangga. Senangnya sama-sama, deh.” Ah, itu dia yang membuatku kepincut dengan pria yang satu ini. Sambil diiringi canda ria dari rumah tetangga, kami mengadakan syukuran kecil-kecilan. Syukur telah diberi hidup, diberi nikmat, mumpung kami masih ingat bersyukur. Tenda di depan rumah Ibu Rus sudah dilepas. Baru beberapa malam berlalu sejak acara syukuran yang dinanti Uwak Rusdi. Banyak orang sibuk di depan rumahnya. Suara isak tangis terdengar. Aku juga ikut terisak. Sambil menggelar karpet dan tikar aku ikut sibuk menyambut jenazah yang akan diantarkan dari Rumah Sakit. Tetangga yang lain menyiapkan dipan dan seprai untuk lambaran jenazah yang akan dibaringkan di ruang tamu. Suamiku sibuk menyiapkan mobil jenazah untuk mengantar ke pemakaman. Semntara bapak-bapak omplek sibuk menyiapkan tenda kembali. Kali ini untuk menaungi orang yang berduka. “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun, telah berpulang Ibu Rusmiati Atikah bin Hairul Djamal pada usia 70 tahun. Jenazah akan dikebumikan pada…” di sela suara isak tangis, terdengar suara marbot masjid mengumumkan berita duka. Tetangga dan kerabat berdatangan menanti sesosok jenazah yang tak diduga kepergian hidupnya.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments

  • ridho.jenaka's picture

    bagus nih ceritanya,..tetap

    bagus nih ceritanya,..tetap smangat, ditunggu cerita berikutnya Wink

  • Crow's picture

    i see.. people fade

    3

    i see..
    people fade away...
    death comes from somewhere far,sometimes close, to make us learn about something to value life. to live the life itself..
    in our long and tiring journey, sometimes we fall and cry..
    nothing will change if we do nothing, and nothing will be revealed if we keep crying...
    Malya san, you are a great women, you could write manga, and make a nice story, your husband must be a lucky one..
    to be able to meet someone a wonderful as you..

    I am not person worthy of your concern

return to top