A Tale About Young Boy From Clementia

nerevars
Prologue
Fantasy
2.75
385 kali
1 kali

not admin's choice

[b]PROLOGUE[/b]                     Gelap dan dingin. Itu yang pertama kali Arven rasakan ketika dia membuka matanya. Dia merasa seperti di suatu ruangan dengan lantai marmer licin yang dingin dan udara yang lembab. Arven menegakkan badannya tanpa menggerakan kaki yang terlentang dari posisi tidur yang tidak nyaman, hanya untuk merasakan vertigo yang menyita perhatiannya untuk sementara dari kebingungannya dari pertanyaan “Dimanakah aku berada?”. Saat dia gerakan tangannya untuk meraba-raba di sekitar dirinya, tangan kanannya menyentuh batu besar yang tinggi dan terbentuk secara heksagonal,  disebelahnya terdapat sebuah cendawan besar yang terbuat dari batu kokoh di topang oleh batu lain yang berukuran kecil berbentuk segi empat.             Ketika dia masih memegang kepalanya yang pusing dan kebingungan, suara langkah terdengar masuk, suara langkah turun dari tangga dengan tenang dan pasti dan seketika itu pula, cendawan besar yang disebelahnya menyalakan api biru yang menyinari ruangan dimana dia berada saat ini. Saat itulah dia berdiri lalu bersembunyi di balik pilar dan melihat sekeliling bahwa dia ditempat yang belum dikenalinya.             Ruangan ini besar dan luas. Cahaya api biru dari cendawan besar itu membantunya melihat sekitarnya dengan lebih jelas, dia melihat sekeliling dan menyadari bahwa dia berada di ruangan besar, ditopang dengan empat pilar dan empat cendawan di tiap sudut ruangan. Pada dindingnya yang terbuat dari marmer berwarna hitam, tampak samar-samar baginya, terlihat sebuah tulisan-tulisan kuno yang menyala berwarna merah memantulkan warna biru dari cahaya api. Di tengah-tengah ruangan, lantainya turun tiga anak tangga dan terdapat batu bulat besar seperti kristal berwarna hitam yang terletak pada suatu bidang setinggi pinggang yang ujungnya masuk kedalam agar kristal tersebut tetap kokoh di tempatnya.             Suara langkah itu semakin jelas. Lalu muncul seseorang dari suatu lorong tangga di sisi kanannya dengan tinggi yang tidak jauh berbeda dengannya dan memakai jubah yang bertudung berwarna merah gelap yang setiap ujung kain terdapat garis hitam dengan tampak samar-samar terbaca tulisan Nun Lucerna yang mengelilingi ujung dari setiap jubah itu. Pada bagian punggungnya terdapat gambar mata yang sekelilingnya terdapat garis-garis berbentuk dua segi empat yang tidak saling tindih. Pada bagian wajahnya hampir tak terlihat, yang terlihat hanya mulut dengan bibir tebal berwarna merah pucat dan sebagian hidung yang berkulit putih pucat.             Orang yang misterius itu menghampiri kristal tersebut lalu menyentuhnya dan terdengar dengan samar-samar orang itu seperti merapal mantra namun mulai meracau dengan bahasa yang tidak jelas dan tidak dia kenali sebelumnya. Suara itu berat, seperti suara laki-laki yang pernah dia kenal, namun entah kenapa dia tak bisa mengingatnya. Setelah beberapa saat kemudian, dihadapan sosok misterius itu, muncul gumpalan asap sebesar ukuran manusia yang awalnya tipis, lalu mulai menebal dan menebal.             “Aku telah menantimu.”             Arven sangat terkejut. Tiba-tiba terdengar suara yang rendah sedikit berbisik menggema di seluruh ruangan, entah darimana asalnya. Ketika dia tersadar dari keterkejutannya, asap tebal itu membentuk sesosok manusia tua dengan rambut putih pendek, dengan muka pucat pasi dan kurus memakai jubah yang sama dengan yang dihadapannya namun dengan tudung yang dibuka dan postur tubuh yang lebih besar dan lebih tinggi dengan kedua tangannya dimasukan pada lengan jubahnya.             Masih dalam keadaan bersembunyi di belakang salah satu pilar, Arven terus memperhatikan mereka berdua.             “Hari ini adalah hari yang kau janjikan, serahkan Calculus itu padaku!”  perintah orang tua itu kepada sosok misterius tersebut.             “Ma-maaf tuanku. A-Aku sudah berusaha semampuku, seluruh familia sudah ku jelajahi namun belum kutemukan barang yang engkau mau” ucapnya dengan nada ketakutan yang teramat sangat.             “BODOH!” teriak orang tua tersebut hingga menggema ke seluruh ruangan.             “Sudah kuberikan kau waktu selama ini, apa saja yang telah kau lakukan dasar pemalas!” dia ayunkan tangan kanannya yang selama ini diam ke depan dadanya ke arah sosok misterius itu lalu merapal kata-kata dengan berbisik.             “ARRRGGGHHH‼!” jerit sosok misterius itu membuat Arven tersentak hingga membuat bulu kuduknya bergidik.             Sosok misterius itu langsung jatuh ke tanah. Menggeliat. Seperti cacing yang diberi sinar matahari musim panas. Tudung yang selama ini menutupi wajahnya tersikap hingga wajahnya sekarang dapat terlihat jelas.             “Tunggu dulu.” ucap Arven dalam hati.             Arven tidak percaya apa yang dilihatnya. Sosok misterius itu adalah seseorang yang dia kenal di familia.             “HENTIKAN!” teriaknya refleks tidak kalah kerasnya dengan jeritan yang terdengar di ruangan itu.             Orang tua itu tiba-tiba menghentikan mantranya lalu menoleh ke arah Arven. Sedangkan,  sosok yang dia kenal itu tergeletak dilantai terdiam antara pingsan atau mati.             Arven sadar kini nyawanya menjadi terancam, sehingga dia kembali ke balik pilar dan memunggunginya.             “Hei, kau yang sembunyi di balik pilar!” orang itu berkata. “Jika kau ingin orang ini tetap hidup, maka tunjukkan dirimu!”             Perintah orang itu membuat Arven tidak mempunyai pilihan lain. Dia keluar dari balik pilar lalu mendekati orang itu.             “Apa yang kau mau? Biarkan kami hidup!” teriak Arven kepada orang itu.             “Apa yang aku mau?” tanya orang tua tersebut. “Yang aku mau hanyalah sesuatu yang ada di tangan kirimu.”             “Apa yang ada di tangan kiriku?” tanya Arven keheranan.             Lalu dia melihat tangan kirinya yang selama ini luput dari perhatiannya.             “APA INI?” sontak kaget Arven saat melihat sesuatu yang dia kenakan di tangan kirinya.             Terpasang suatu logam berbentuk seperti gelang namun menutupi lengannya dari siku hingga pergelangan tangannya yang biasa disebut Armilla. Di atasnya terdapat batu calculus atau kristal yang menjadi isi dari Armilla yang dia belum pernah lihat sebelumnya.             “Hmm. Aneh kau berkata seperti itu. Orang yang bisa masuk kesini hanyalah orang yang mempunyai ilmu sihir tinggi. Terutama kau mengenakan Armilla yang luar biasa itu. Armilla seperti itu bisa mengubah dunia ini menjadi lebih damai dan tak ada lagi peperangan. Pantas saja orang yang tidak berguna ini tidak bisa menemukannya, ternyata dia datang sendiri kepadaku” Dia meneruskan “Jadi serahkanlah itu kepadaku, maka nyawamu dan orang ini akan aku ampuni.”             “Tidak, aku tidak bisa.”             “Apa yang kau katakan?”             “Aku tidak bisa menyerahkannya begitu saja. Aku merasa bertanggung jawab dan tidak bisa menyerahkannya kepadamu. Setelah kau menyiksa orang itu, aku merasa kau tidak pantas mengenakannya.”             “Baiklah, kau tidak memberikanku pilihan lain.”             Orang itu lalu mengangkat tangan kanannya ke depan wajahnya seperti mengangkat gelas anggur sambil membaca mantra. Lalu tiba-tiba api dari cendawan tersebut berubah dari biru yang tenang menjadi merah membara.             “Akan kutanya kau sekali lagi” dia berkata. “Serahkan Armilla itu atau KAU akan mati!”             “Tidak, tidak akan kubiarkan kau mengambilnya dariku!”             Dengan seketika orang tua tersebut mengayunkan tangannya ke arah Arven.             Disaat bersamaan, api dari cendawan-cendawan tersebut berubah menjadi naga api dengan rahang besar dan gigi-gigi yang tajam siap menerkamnya dari empat penjuru ruangan.             Saat detik-detik terakhir naga api itu menerkamnya, terpancar sinar yang sangat terang.             Yang dilakukan Arven hanya berdiri dan berpikir:             “Aku akan mati.”

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments

  • Jacoby's picture

    , we are dealing with

    1

    , we are dealing with metaphysical bafflegab. The terms yin and yang are metaphysical bafflegab terms. Please desist from putting words into my mouth, and learn to read with discernment. My argument is actually that cocoa is bitter, and peanuts are not, and chocolate is a stimulant,whereas peanuts are not. Bitter and Sour flavours are associate with yang (in Wu Xing theory, or as the semi literate refer to it, “Five Elements” theory). Though I began with the commercial products, in all of their highly processed forms, I quickly retreated from that, because the processed forms do not offer answers as shown by the arguments against my explanation. Their is an extensive range of materials that can be considered “peanut butter” and “chocolate”, though in this situation we are dealing with the most modified of commercial products, as this question would not be asked unless their is an association, and the association usually presented is the commercial one of “peanut butter cups”. However, to ascertain a less biased answer, I actually took it back to base ingredients, since the commercial products are both “sweet”, and therefore neither yin nor yang. Colour had nothing to do with my reasoning. More evidence of the correlations: peanuts are used as bar food, whereas chocolate is not. Drunkeness is a state of unbalanced yang, induced by the input of additional yang energies. Peanuts are there to counter this, bringing one closer to a state of harmony, and therefore yin.The assoication of chocolate with females is actually counterproductive to the claim that it is yin. The natural ideal state is to be in a state of balance. Females have a greater tie to chocolate, but the evidence is that is the case because it is somewhat of a male replacement (it causes the release of similar hormones etc). Much like the peanuts countering the excess forces of yang that is drunkeness, the limitless yin of the female is offset by chocolate by bringing them closer to harmonious balance. Ergo, chocolate must be yang to achieve such a state of balance. One could also argue that what we are dealing with are a type of chocolate (one modified by a filling), rather than a type of peanut butter (which has been modified by another ingredient). This puts the peanut butter in a subordinate position to the chocolate in this situation. Since chocolate is dominant (one eats peanut butter and chocolate together when one is looking to eat chocolate, not when one is looking to eat peanut butter), it must be yang in this situation.

    viagra propecia zyban celebrex acyclovir and vioxx

  • Miracle's picture

    auto insurance uga life

  • Jayce's picture

    life insurance for seniors

  • pseiywlsabs's picture

    cDi35t gbykyppnnqvz

    1

    cDi35t gbykyppnnqvz

  • Nigar's picture

    , we are dealing with

    , we are dealing with myatphesical bafflegab. The terms yin and yang are myatphesical bafflegab terms. Please desist from putting words into my mouth, and learn to read with discernment. My argument is actually that cocoa is bitter, and peanuts are not, and chocolate is a stimulant,whereas peanuts are not. Bitter and Sour flavours are associate with yang (in Wu Xing theory, or as the semi literate refer to it, Five Elements theory). Though I began with the commercial products, in all of their highly processed forms, I quickly retreated from that, because the processed forms do not offer answers as shown by the arguments against my explanation. Their is an extensive range of materials that can be considered peanut butter and chocolate , though in this situation we are dealing with the most modified of commercial products, as this question would not be asked unless their is an association, and the association usually presented is the commercial one of peanut butter cups . However, to ascertain a less biased answer, I actually took it back to base ingredients, since the commercial products are both sweet , and therefore neither yin nor yang. Colour had nothing to do with my reasoning. More evidence of the correlations: peanuts are used as bar food, whereas chocolate is not. Drunkeness is a state of unbalanced yang, induced by the input of additional yang energies. Peanuts are there to counter this, bringing one closer to a state of harmony, and therefore yin.The assoication of chocolate with females is actually counterproductive to the claim that it is yin. The natural ideal state is to be in a state of balance. Females have a greater tie to chocolate, but the evidence is that is the case because it is somewhat of a male replacement (it causes the release of similar hormones etc). Much like the peanuts countering the excess forces of yang that is drunkeness, the limitless yin of the female is offset by chocolate by bringing them closer to harmonious balance. Ergo, chocolate must be yang to achieve such a state of balance. One could also argue that what we are dealing with are a type of chocolate (one modified by a filling), rather than a type of peanut butter (which has been modified by another ingredient). This puts the peanut butter in a subordinate position to the chocolate in this situation. Since chocolate is dominant (one eats peanut butter and chocolate together when one is looking to eat chocolate, not when one is looking to eat peanut butter), it must be yang in this situation.

  • Rjapu's picture

    Waaah, pajak .Kadang yang

    4

    Waaah, pajak .Kadang yang ngeselin gini bli, kita kmseabrud mau taat bayar pajak, kita sudah buat laporan tiap bulan atau tahun,tapi kita dimainin sama mereka dalam pelaporan, saat pelaporan semua berkas diterima aja (berarti tidak ada kesalahan khan?) Tapi, setelah beberapa tahun berjalan , ya ampun ada aja yang kurang ., pasal ini kek, pasal itu kek, atau ada perubahan format laporan yang tidak disosialisasikan, dan lain-lain ..Ujung2nya kita harus didenda, tiap tahun sekian ribu, sampai bertahun-tahun, berapa jadinya?..

  • nerevars's picture

    @ITA, di otak sih ada, tapi

    @ITA, di otak sih ada, tapi gak ketulis2, lebih sering gambar, n lagi pengen ada proyek long term buat lagu hehehe

  • ITA's picture

    cerita actionnya kena.... ada

    4

    cerita actionnya kena....
    ada next story-nya nggak?

  • nerevars's picture

    @gianeka yeah, i was

    @gianeka
    yeah, i was referring from that novel too and eldest, which from i read there are many description and narration and less dialogue except when there is a story telling part. well, i suppose to follow them but doesn't even get close huh?

  • Crow's picture

    In my Opinion actually, make

    2

    In my Opinion actually, make it moderate, i mean the dialogue and the narration, or maybe a lot of narration and less dialogue, usually (from what i knew) i think dialogue is less used in fantasy novels, reference: Wizard of Earthsea.

    I am not person worthy of your concern
  • nerevars's picture

    haha iya, pake word,

    @kiky2hikaru
    haha iya, pake word, sebenernya ini draft yang udah belumut dikompi hehe

    kau akan mati? kayak disinetron yah? emang sih rada gimana gitu, tapi bingung juga mau ganti kalimat apa, kira2 punya sugesti?

  • nerevars's picture

    huaaa arigatou gozaimasu,

    @damantine
    huaaa arigatou gozaimasu,

    setidaknya sudi mampir n komen, toh draft ini masih perlu banyak diedit lagi hehehe

  • kiky2hikaru's picture

    seperti

    2

    ohh...jadi pake word dlu ya???

    untuk kata2 yg gak enak..kaya kata2 KAU akan mati....
    agak gimana gtu..-_-
    klo menurut gw

    KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI.....
  • Damantine's picture

    hmmmm.. oe jujur paling ga

    5

    hmmmm.. oe jujur paling ga bisa baca story / novel =____= maapkan daku sebagai permintaan maaf oe dukung semangatt aja untuk terus berkarya yah Laughing out loud GANBATTE ~

    Let's Try Our Best and don't forget to Praying ~~
  • nerevars's picture

    yah sebenernya ini dari word,

    yah sebenernya ini dari word, mungkin masalah format aja kali yah, mestinya gak segitu jauhnya.

    wew kata2 yang gak enak dibaca? yang bagian mana? apa terlalu baku bahasanya?

  • kiky2hikaru's picture

    hmmm

    2

    hmmm....rapi ya,,,,apalagi dibagian depannya dikasih enter cukup jauh ..walaupun agak kejauhan gak bagus juga...
    wew..ada kata2 yg gak enak dibaca..-_-

    KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI.....
  • nerevars's picture

    Yeah, i have think about it

    Yeah, i had think about it for a while, though my inspiration was from classic fantasy novel so does it feel weird?

    and i will try to add more dialog for next chapter then, right?

  • Crow's picture

    okay i read em all.. and the

    2

    okay i read em all.. and the first impression, maybe there is too much description, and i think it is not bad, but too much descriptions when the story was not walking on means disaster ..that's what i think, and it looks like you knew about the SPOK rule pretty well and the words composition seems nice, sorry but i am not an expert in story, i can feel but i don't know what's wrong..that's all

    2 stars for trying

    I am not person worthy of your concern

return to top