Tahun Pertama - Bagian 1 - Apel dan Coklat

YKotori
3.8
461 kali
0 kali

not admin's choice

[b][/b][b]Bagian 1 (Apel dan Coklat)[/b]   SMAKTO ! Kependekan dari ‘Sekolah Menengah Atas Kristen Tomang.’ Tahun ini, gue akan masuk sebagai murid kelas X di sekolah ini. Denger-denger sih, sekolah ini… lain daripada sekolah biasa. Ini mungkin karena di sekolah ini ada satu mata pelajaran yang tidak ditemukan di tempat lain, yaitu Kepemimpinan. Dan tambah, sekolah ini juga terkenal karena disiplinnya, selain daripada prestasi gemilang di olahraga basket. Jadi tambah penasaran deh !   Tapi sebelum mengalami masa SMA yang menyenangkan, ada satu rintangan besar yang harus dilewati dulu….   “SIAAAP GERAK ! HORMAT…GRAK ! AYO ! ANAK-ANAK BARU ! SEMANGAT ! PANDANGAN KE DEPAN ! HORMAT YANG BENER !” teriak seorang kakak OSIS di lapangan, di bawah teriknya matahari jam 12 siang yang menyiksa. Oh, panasnya hari itu takkan terlupakan oleh kami.   Ya, masa orientasi sekolah. Tadinya gue mengharapkan MOS yang berbeda, mengingat reputasi sekolah ini… tapi ternyata sama saja… Papan nama yang harus selalu dipakai setiap waktu, celana panjang yang digulung dan dijepit dengan jepitan baju (biar nggak melorot) dan topi yang dibuat dari bola plastik yang digunting dua… Ini sih perploncoan seperti biasanya… Ditambah kakak-kakak OSIS yang pasang tampang galak dan teriak kenceng… lucu sih, kalo ada kakak OSIS yang sebenarnya nggak bisa teriak, tapi dipaksa-paksain. Jadi seperti ayam dicekek bunyinya… hehehe.   “Oh, mau minta tanda tangan gue ? Lu harus turutin 3 permintaan gue dulu.” jawab seorang cici OSIS ketiak dimintai tanda tangan di tengah lorong. “Oke, kak…” jawabku. “Nama lu siapa ?” “Rinardi Setya.” Ia menatapku sebentar, sebelum kemudian tersenyum jahil, dan berteriak, “Kurang kenceng !” “RINARDI SETYA, KAK !” “SEKARANG, JAWAB PERTANYAAN GUE ! GUE CANTIK NGGAK ?” “Cantik-cantik aja deh…” jawabku dengan muka datar. Ia sedikit merasa terganggu. Kelihatannya ini pertama kalinya ada yang berani menjawab begitu. “…PERTANYAAN KEDUA, LU MIRIP ARTIS SIAPA ?” “BUDI ANDUK !” Alisnya terangkat sebelah. Kelihatannya ini jawaban terkonyol yang pernah ia dapat. “TERAKHIR, TERIAK 3 KALI ‘GUA SUKA SAMA CI SELVI !” Lah, Selvi itu siapa ? Ya sudahlah… “ GUA SUKA SAMA CI SELVI ! GUA SUKA SAMA CI SELVI ! GUA SUKA SAMA CI SELVI !!” “Hahaha, thanks deh sudah bikin gue ketawa. Nih, gue tanda tanganin buku loe.” dan iapun pergi.       Ia menulis nama, kelas, dan jabatannya di OSIS juga, selain tanda tangan. Namanya Selvi. Emaaak !!! Pertama kalinya cintaku ditolak !!! Sama orang yang namanya ci Selvi !!! Hahaha… Tambah lagi ada tugas standar… yaitu ngumpulin tanda tangan anggota-anggota OSIS dan staf-staf sekolah… dan sekalian kita pun dijahili, seperti sepenggal contoh tadi.   Diskusi para murid baru di kelas… “Eh, OSIS kita itu t*ik-t*ik semua ya ? Masak tadi ada yang nyuruh gue push-up 30 kali dulu !” “Capek… Gue tadi kena lari keliling lapangan 3 kali…” “Lah, betul tuh… gue juga tadi disuruh nari dulu…” “Gue juga baru mengakui cinta… Eh, ngomong-ngomong, nama loe pada siapa ya ?” tanyaku pada mereka. Aku terlalu malas untuk membaca papan nama mereka satu-satu. “Oh, gue Stevan, dari SMPK 9.” Stevan mengenakan kacamata, dan rambut keriting. Ingin rasanya kugigit rambutnya itu… Jadi ingat arum manis. “Gue Tommy, dari SMPK 1.” Tommy berbadan gemuk, dengan mata yang sangat sipit. Tadinya kukira dia lagi memejamkan mata, ternyata nggak ! “Gue Arno, dari Semarang.” Arno juga memakai kacamata, dengan badan jangkung dan rambut jabrik. Kelihatannya dia pintar. Kelihatannya… belum tentu loh… hahaha. “Waah ! Loe jauh-jauh datang dari Semarang ke Jakarta ini cuma buat sekolah di sini ?!” timpalku. “Nggak usah lebay, kali… iya, daripada gue masuk SMA nggak jelas di Semarang, mending gue pergi jauh ke Jakarta buat masuk di sekolah yang bagus.” jawab Arno sambil memicingkan matanya. “Tadinya gue kira MOS di sekolah ini nggak pake plonco-ploncoan… lah, jadinya ? Kita tetep pake topi bola, celana digulung dan dijepit, dan papan nama. Setiap jalan kaki pulang, gue dikira orang gila tau nggak ! Dan paling parahnya, karena ada papan nama, mereka tahu nama gue…” keluh Tommy. “Lah, kenapa papan namanya nggak disimpan dalam tas aja ?” celetuk Stevan. Tommy tertunduk malu atas kebodohannya sendiri. “Ehhh... Iya juga ya…”   Pada hari terakhir, kami harus mengumpulkan diari yang kita buat semasa MOS. Karena kelakuan kakak-kakak dan cici-cici OSIS yang galak, maka bukan kejutan lagi kalau banyak yang menulis hal-hal yang menusuk hati.   [b]- Kakak-kakak OSISnya nyebelin. Apalagi ci Wini. Udah pendek, gendut, tembem, jelek, suaranya melengking kayak kuda kelindes pula ! Wini the Po-oh ![/b]   [b]- Ini sih bukan MOS namanya, tapi masa OSIS bisa ngejahilin murid baru sesuka hati.[/b]   [b]- Wao, apa itu gonggongan yang gua denger dari kejauhan ? Oh, ternyata kakak OSIS gue ![/b]   Sesi terakhir MOS, kami dikumpulkan di aula untuk briefing penutup. Kami diharuskan membawa sebutir apel dan sebatang coklat untuk hari terakhir ini, entah kenapa. Ketua OSIS, Mikhael Faram, naik ke panggung dengan muka marah.   “KALIAN TULIS APA AJA DI DIARI, HAH ?! KAMU ! KE SINI ! WINI THE PO-OH, YA ?! KAMU PIKIR INI LUCU ? KAMU JUGA ! MAJU KE DEPAN ! GONGGONGAN ? MEMANGNYA KITA ANJING APA ?!”   Teriakannya menggema, meskipun tidak memakai mic. Kami semua duduk terdiam. Wakil ketua OSIS, Vinny Chen, maju ke depan membawa mic, dan menggantikan Mikhael berbicara. Dengan suara yang lembut dan jelas, ia memberiku pelajaran yang menjadi salah satu pegangan hidupku kelak.   “Oke, gue Vinny, wakil ketua OSIS, dan anggota OSIS yang paling nggak bisa marah, beda sama temen-temen gue yang jago acting galak.” Semua tertawa. Ia hanya tersenyum membalas tawa kami, lalu melanjutkan berbicara. “Kalian sebenarnya sadar nggak ? Kenapa celana kalian digulung ? Karena ini pertama kalinya kalian ke sekolah dengan celana panjang, kita takut kalian kepanasan, jadi kita atur supaya digulung.”   Ia diam sebentar, memastikan semua murid mencerna kata-katanya tadi baik-baik   “Terus, kalian tahu nggak, kenapa kalian diharuskan pakai papan nama selalu ? Supaya kalian bisa mengenal satu sama lain. Kan kalian semua dari banyak sekolah, bahkan mungkin daerah, yang berbeda-beda. Perlu kenalan, kan ? Terakhir, kenapa kita para OSIS galak sama kalian ? Ada dua alasan. Pertama, untuk menyiapkan mental kalian biar nggak kaget sama keseharian sekolah ini. Sekolah ini terkenal dengan disiplinnya, dan tentu kalian bakal kaget kalau nggak dipersiapkan dulu. Kedua, biar-“ “Bagian ini gue aja yang ngomong, Vi.” potong Mikhael sambil meminta micnya. Vi terdiam sebentar. “Oke.” senyumnya sambil memberikan mic ke Mikhael. Mikhael menarik nafas dalam-dalam, sebelum mulai. “Terakhir, kenapa kita-kita para OSIS galak sama kalian ? Coba kalian pikir, kalau sekelompok manusia terpaksa bekerja sama untuk menghadapi masalah yang sama, seiring waktu mereka akan semakin kompak, bukan ? Kalian juga sama. Kita rela membuat diri jadi sasaran-sasaran lempar kalian supaya kalian tambah kompak.”   Kami terhenyak. Memang benar jika dipikir. Selama MOS, kita hanya membicarakan satu topik di sekolah : OSIS.   “Yah, gue mewakili seluruh anggota OSIS mau minta maaf juga kalau ada omongan kita yang menyakitkan hati selama 3 hari ini, dan… gue salut sama kalian. Biarpun kalian mengeluh, tapi kalian tetap jalanin MOS ini sampai akhir.” lanjut Mikhael.   Karena ada tekanan, persatuan dan kekompakan kami teruji, dan menjadi makin kuat. Terbukti dari…   “Nah, sekarang, di tangan kalian ada apel sama coklat, kan ?” tanya Mikhael. “Sekarang, kalian kasih coklat itu ke OSIS yang paling kalian suka, dan apel ke OSIS yang paling kalian benci. Anggap apel itu sebagai balas dendam kalian, biar habis ini nggak ada lagi perasaan-perasaan gituan lagi.”   …kekompakan kami memberi coklat ke ci Vinny dan apel ke ko Mikhael. Tiba-tiba ada satu murid yang bertanya.   “Kalau gitu, ko Mikhael, topi bolanya buat apa ?” “Eee…. iseng.” jawabnya grogi. Seisi ruangan tertawa.   Begitulah, pelajaran yang kudapat adalah bahwa kita tak boleh melihat sesuatu dari satu sisi saja, dan juga, bisakah ini dipercaya ? Sejam yang lalu kita baru saja membiacarakan betapa miripnya mereka dengan anjing, dan sekarang kita sudah tertawa bersama. Dari sini aku juga belajar, bahwa sebuah permintaan maaf yang tulus, dapat meluluhkan hati yang terpanas sekalipun… Ko Mikhael dan ci Vinny sendiri juga belajar sesuatu  besoknya. Mereka belajar cara berjualan apel dan coklat agar habis dalam sehari. [b]- Bagian 1 Selesai -[/b]

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments

  • YKotori's picture

    XD

    Makasih bnyk bwt para kakak2 kelas dan guru2 yg organize MOS ini.. sekolah ini bener live up to the name. XD

    Nantikan bagian 2....dalam 3 minggu (UAS, TUGAS, DAN ULANGAAANS !!! QwQ)

  • mikemieke's picture

    wah..ak dl mos masuk

    4

    wah..ak dl mos masuk kuliah..enak2 aj..wkakakaka..
    mana bagian akhir ny panggil artis lagi..wakakkaka..mantab..

  • imma_ture's picture

    jadi inget MOS 10 bulan yg

    4

    jadi inget MOS 10 bulan yg lalu.. hehehehe pada akhirnya kita pasti dapat menemukan sisi positif dari sesuatu yg pada awalnya kita pandang secara negatif. so, be positive thinking! Laughing out loud

  • administrator's picture

    ceritanya oke juga.. tapi ada

    4

    ceritanya oke juga.. tapi ada yang aneh cara nulisnya, kenapa kata pertama di tiap paragraf dibedain barisnya dari paragrafnya?

    we come in peace
  • Crow's picture

    nice, sorry i forgot to make

    2

    nice, sorry i forgot to make the tutorial for posting in story, make sure to post something better okay..
    and one more thing, when people desperate, they will cooperate, and by struggling under submission you learn to respect the elder, that's it. have fun

    I am not person worthy of your concern

return to top