Sat14May2011
Tahun Pertama - Bagian 1 - Apel dan Coklat
461 kali
0 kali
not admin's choice
[b][/b][b]Bagian 1 (Apel dan Coklat)[/b]
SMAKTO ! Kependekan dari ‘Sekolah Menengah Atas Kristen Tomang.’ Tahun ini,
gue akan masuk sebagai murid kelas X di sekolah ini. Denger-denger sih,
sekolah ini… lain daripada sekolah biasa. Ini mungkin karena di sekolah
ini ada satu mata pelajaran yang tidak ditemukan di tempat lain, yaitu
Kepemimpinan. Dan tambah, sekolah ini juga terkenal karena disiplinnya,
selain daripada prestasi gemilang di olahraga basket. Jadi tambah
penasaran deh !
Tapi sebelum mengalami masa SMA yang menyenangkan, ada satu rintangan besar yang harus dilewati dulu….
“SIAAAP GERAK ! HORMAT…GRAK ! AYO ! ANAK-ANAK BARU ! SEMANGAT ! PANDANGAN KE
DEPAN ! HORMAT YANG BENER !” teriak seorang kakak OSIS di lapangan, di
bawah teriknya matahari jam 12 siang yang menyiksa. Oh, panasnya hari
itu takkan terlupakan oleh kami.
Ya, masa orientasi sekolah. Tadinya gue mengharapkan MOS yang berbeda, mengingat reputasi
sekolah ini… tapi ternyata sama saja… Papan nama yang harus selalu
dipakai setiap waktu, celana panjang yang digulung dan dijepit dengan
jepitan baju (biar nggak melorot) dan topi yang dibuat dari bola plastik
yang digunting dua… Ini sih perploncoan seperti biasanya… Ditambah
kakak-kakak OSIS yang pasang tampang galak dan teriak kenceng… lucu sih,
kalo ada kakak OSIS yang sebenarnya nggak bisa teriak, tapi
dipaksa-paksain. Jadi seperti ayam dicekek bunyinya… hehehe.
“Oh, mau minta tanda tangan gue ? Lu harus turutin 3 permintaan gue dulu.”
jawab seorang cici OSIS ketiak dimintai tanda tangan di tengah lorong.
“Oke, kak…” jawabku.
“Nama lu siapa ?”
“Rinardi Setya.”
Ia menatapku sebentar, sebelum kemudian tersenyum jahil, dan berteriak, “Kurang kenceng !”
“RINARDI SETYA, KAK !”
“SEKARANG, JAWAB PERTANYAAN GUE ! GUE CANTIK NGGAK ?”
“Cantik-cantik aja deh…” jawabku dengan muka datar.
Ia
sedikit merasa terganggu. Kelihatannya ini pertama kalinya ada yang
berani menjawab begitu. “…PERTANYAAN KEDUA, LU MIRIP ARTIS SIAPA ?”
“BUDI ANDUK !”
Alisnya
terangkat sebelah. Kelihatannya ini jawaban terkonyol yang pernah ia
dapat. “TERAKHIR, TERIAK 3 KALI ‘GUA SUKA SAMA CI SELVI !”
Lah, Selvi itu siapa ? Ya sudahlah… “ GUA SUKA SAMA CI SELVI ! GUA SUKA SAMA CI SELVI ! GUA SUKA SAMA CI SELVI !!”
“Hahaha, thanks deh sudah bikin gue ketawa. Nih, gue tanda tanganin buku loe.” dan iapun pergi.
Ia menulis nama, kelas, dan jabatannya di OSIS juga, selain tanda tangan.
Namanya Selvi. Emaaak !!! Pertama kalinya cintaku ditolak !!! Sama orang
yang namanya ci Selvi !!! Hahaha… Tambah lagi ada tugas standar… yaitu
ngumpulin tanda tangan anggota-anggota OSIS dan staf-staf sekolah… dan
sekalian kita pun dijahili, seperti sepenggal contoh tadi.
Diskusi para murid baru di kelas…
“Eh, OSIS kita itu t*ik-t*ik semua ya ? Masak tadi ada yang nyuruh gue push-up 30 kali dulu !”
“Capek… Gue tadi kena lari keliling lapangan 3 kali…”
“Lah, betul tuh… gue juga tadi disuruh nari dulu…”
“Gue
juga baru mengakui cinta… Eh, ngomong-ngomong, nama loe pada siapa ya
?” tanyaku pada mereka. Aku terlalu malas untuk membaca papan nama
mereka satu-satu.
“Oh, gue Stevan, dari SMPK 9.” Stevan mengenakan
kacamata, dan rambut keriting. Ingin rasanya kugigit rambutnya itu…
Jadi ingat arum manis.
“Gue Tommy, dari SMPK 1.” Tommy berbadan
gemuk, dengan mata yang sangat sipit. Tadinya kukira dia lagi memejamkan
mata, ternyata nggak !
“Gue Arno, dari Semarang.” Arno juga
memakai kacamata, dengan badan jangkung dan rambut jabrik. Kelihatannya
dia pintar. Kelihatannya… belum tentu loh… hahaha.
“Waah ! Loe jauh-jauh datang dari Semarang ke Jakarta ini cuma buat sekolah di sini ?!” timpalku.
“Nggak
usah lebay, kali… iya, daripada gue masuk SMA nggak jelas di Semarang,
mending gue pergi jauh ke Jakarta buat masuk di sekolah yang bagus.”
jawab Arno sambil memicingkan matanya.
“Tadinya gue kira MOS di
sekolah ini nggak pake plonco-ploncoan… lah, jadinya ? Kita tetep pake
topi bola, celana digulung dan dijepit, dan papan nama. Setiap jalan
kaki pulang, gue dikira orang gila tau nggak ! Dan paling parahnya,
karena ada papan nama, mereka tahu nama gue…” keluh Tommy.
“Lah, kenapa papan namanya nggak disimpan dalam tas aja ?” celetuk Stevan.
Tommy tertunduk malu atas kebodohannya sendiri. “Ehhh... Iya juga ya…”
Pada hari terakhir, kami harus mengumpulkan diari yang kita buat semasa MOS.
Karena kelakuan kakak-kakak dan cici-cici OSIS yang galak, maka bukan
kejutan lagi kalau banyak yang menulis hal-hal yang menusuk hati.
[b]-
Kakak-kakak OSISnya nyebelin. Apalagi ci Wini. Udah pendek, gendut,
tembem, jelek, suaranya melengking kayak kuda kelindes pula ! Wini the
Po-oh ![/b]
[b]- Ini sih bukan MOS namanya, tapi masa OSIS bisa ngejahilin murid baru sesuka hati.[/b]
[b]- Wao, apa itu gonggongan yang gua denger dari kejauhan ? Oh, ternyata kakak OSIS gue ![/b]
Sesi terakhir MOS, kami dikumpulkan di aula untuk briefing penutup. Kami
diharuskan membawa sebutir apel dan sebatang coklat untuk hari terakhir
ini, entah kenapa. Ketua OSIS, Mikhael Faram, naik ke panggung dengan
muka marah.
“KALIAN TULIS APA AJA DI DIARI, HAH ?! KAMU !
KE SINI ! WINI THE PO-OH, YA ?! KAMU PIKIR INI LUCU ? KAMU JUGA ! MAJU
KE DEPAN ! GONGGONGAN ? MEMANGNYA KITA ANJING APA ?!”
Teriakannya menggema, meskipun tidak memakai mic. Kami semua duduk terdiam. Wakil
ketua OSIS, Vinny Chen, maju ke depan membawa mic, dan menggantikan
Mikhael berbicara. Dengan suara yang lembut dan jelas, ia memberiku
pelajaran yang menjadi salah satu pegangan hidupku kelak.
“Oke, gue Vinny, wakil ketua OSIS, dan anggota OSIS yang paling nggak bisa
marah, beda sama temen-temen gue yang jago acting galak.” Semua tertawa.
Ia hanya tersenyum membalas tawa kami, lalu melanjutkan berbicara.
“Kalian
sebenarnya sadar nggak ? Kenapa celana kalian digulung ? Karena ini
pertama kalinya kalian ke sekolah dengan celana panjang, kita takut
kalian kepanasan, jadi kita atur supaya digulung.”
Ia diam sebentar, memastikan semua murid mencerna kata-katanya tadi baik-baik
“Terus, kalian tahu nggak, kenapa kalian diharuskan pakai papan nama selalu ?
Supaya kalian bisa mengenal satu sama lain. Kan kalian semua dari banyak
sekolah, bahkan mungkin daerah, yang berbeda-beda. Perlu kenalan, kan ?
Terakhir, kenapa kita para OSIS galak sama kalian ? Ada dua alasan.
Pertama, untuk menyiapkan mental kalian biar nggak kaget sama keseharian
sekolah ini. Sekolah ini terkenal dengan disiplinnya, dan tentu kalian
bakal kaget kalau nggak dipersiapkan dulu. Kedua, biar-“
“Bagian ini gue aja yang ngomong, Vi.” potong Mikhael sambil meminta micnya.
Vi terdiam sebentar. “Oke.” senyumnya sambil memberikan mic ke Mikhael.
Mikhael menarik nafas dalam-dalam, sebelum mulai. “Terakhir, kenapa kita-kita
para OSIS galak sama kalian ? Coba kalian pikir, kalau sekelompok
manusia terpaksa bekerja sama untuk menghadapi masalah yang sama,
seiring waktu mereka akan semakin kompak, bukan ? Kalian juga sama. Kita
rela membuat diri jadi sasaran-sasaran lempar kalian supaya kalian
tambah kompak.”
Kami terhenyak. Memang benar jika dipikir. Selama MOS, kita hanya membicarakan satu topik di sekolah : OSIS.
“Yah, gue mewakili seluruh anggota OSIS mau minta maaf juga kalau ada omongan
kita yang menyakitkan hati selama 3 hari ini, dan… gue salut sama
kalian. Biarpun kalian mengeluh, tapi kalian tetap jalanin MOS ini
sampai akhir.” lanjut Mikhael.
Karena ada tekanan, persatuan dan kekompakan kami teruji, dan menjadi makin kuat. Terbukti dari…
“Nah, sekarang, di tangan kalian ada apel sama coklat, kan ?” tanya Mikhael.
“Sekarang, kalian kasih coklat itu ke OSIS yang paling kalian suka, dan
apel ke OSIS yang paling kalian benci. Anggap apel itu sebagai balas
dendam kalian, biar habis ini nggak ada lagi perasaan-perasaan gituan
lagi.”
…kekompakan kami memberi coklat ke ci Vinny dan apel ke ko Mikhael. Tiba-tiba ada satu murid yang bertanya.
“Kalau gitu, ko Mikhael, topi bolanya buat apa ?”
“Eee…. iseng.” jawabnya grogi. Seisi ruangan tertawa.
Begitulah, pelajaran yang kudapat adalah bahwa kita tak boleh melihat sesuatu dari
satu sisi saja, dan juga, bisakah ini dipercaya ? Sejam yang lalu kita
baru saja membiacarakan betapa miripnya mereka dengan anjing, dan
sekarang kita sudah tertawa bersama. Dari sini aku juga belajar, bahwa
sebuah permintaan maaf yang tulus, dapat meluluhkan hati yang terpanas
sekalipun… Ko Mikhael dan ci Vinny sendiri juga belajar sesuatu besoknya.
Mereka belajar cara berjualan apel dan coklat agar habis dalam sehari.
[b]- Bagian 1 Selesai -[/b]
Comments
-
wah..ak dl mos masuk
Submitted by mikemieke on 17 May, 2011 - 12:38.wah..ak dl mos masuk kuliah..enak2 aj..wkakakaka..
mana bagian akhir ny panggil artis lagi..wakakkaka..mantab.. -
jadi inget MOS 10 bulan yg
Submitted by imma_ture on 16 May, 2011 - 17:57.jadi inget MOS 10 bulan yg lalu.. hehehehe pada akhirnya kita pasti dapat menemukan sisi positif dari sesuatu yg pada awalnya kita pandang secara negatif. so, be positive thinking!

-
ceritanya oke juga.. tapi ada
Submitted by administrator on 14 May, 2011 - 17:29.ceritanya oke juga.. tapi ada yang aneh cara nulisnya, kenapa kata pertama di tiap paragraf dibedain barisnya dari paragrafnya?
we come in peace -
nice, sorry i forgot to make
Submitted by Crow on 14 May, 2011 - 00:22.nice, sorry i forgot to make the tutorial for posting in story, make sure to post something better okay..
and one more thing, when people desperate, they will cooperate, and by struggling under submission you learn to respect the elder, that's it. have funI am not person worthy of your concern









































Post new comment