Summer Break

Aya Harukawa
Fantasy
5
322 kali
0 kali

not admin's choice

Apa kalian tahu? Saat-saat jatuh cinta adalah masa yang paling menyenangkan. Rasanya sungguh membuat hati senang. Apalagi ketika bertemu dengan orang kita sukai. Dan apakah kalian tahu juga? Masa yang tidak enak dari jatuh cinta adalah ketika ada orang lain yang juga menyukai orang yang kita sukai. Ya, pendeknya rival. Memang hanya lima huruf. Tapi sanggup membuat hati kesal setengah mati. Saat ini aku sedang jatuh dengan seorang cewek yang ada di kelasku. Jika kalian melihatnya dari jauh dia akan tampak seperti laki-laki. Tetapi jika kalian perhatikan lagi, kalian bisa kalau dia adalah seorang cewek. Entah mengapa aku bisa jatuh cinta dengannya. Mungkin sejak dia menolongku dulu. Ia menghajar semua orang yang mengeroyokku. Dia memang sedikit kelebihan tenaga. Jika di jalan kalian melihat sebuah rambu-rambu lalu lintas atau tembok yang sedikit retak, mungkin itu adalah perbuatan Rie. Jika sedang bosan Rie memang suka menggunakan kekuatannya. Sayangnya, walaupun aku mengatakan Rie telah menolongku. Namun, kenyataannya dia bukan menolongku. Dia hanya suka berkelahi. Mengeluarkan kekuatannya. Atau menghilangkan sedikit penat. Apapun alasannya, tetap saja aku jatuh cinta pada gadis itu. “Berhentilah mengikutiku, Rion,” kata Rie kesal. Dia bukan berbicara padaku. Tetapi pada rivalku. Kami sedang liburan musim panas. Dan Rie memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Ke tempat orang tuanya. “Kau juga berhentilah mengikutiku, Aru,” kata Rie. Kalau itu memang ditujukan padaku. Rion tersenyum sinis padaku. Membuatku ingin mencakar wajahnya. Rie menunjukkan wajah sebal. Memberitahukan pada kami bahwa kesalnya sudah hampir mencapai batasnya. Dan kami harus bersiap-siap terkena pukulannya atau melihat sebuah tembok yang akan ditinjunya akibat sebal pada kami. Aku lebih berharap dia meninju tembok saja daripada memukulku. “Sampai kapan kalian akan mengikutiku? Aku ini akan pergi berlibur. Dan setidaknya aku tak ingin melihat wajah kalian saat aku liburan di rumah nanti!” kata Rie sambil menunjuk-nunjuk wajah kami. Rion hanya tersenyum. Tidak terpengaruh dengan perkataan Rie barusan. “Pulanglah! Aku ingin bersantai di liburan musim panasku!” Aku berfikir untuk berpura-pura pulang dan mengikutinya diam-diam. Jadi, aku mengucapkan salam perpisahan dan berbalik menuju rumahku. Rion melakukan hal yang sama denganku. Dia berbalik pulang. Aku tersenyum ketika sampai di perempatan jalan. Dimana Rie tidak dapat melihatku. Dan aku bisa berubah menjadi kucing, lalu mengikutinya. Rencana yang bagus bukan? Aku ini bisa berubah menjadi kucing. Dengan kata lain aku disebut sebagai summoner, penyihir, atau malah siluman. Apapun sebutannya aku tidak peduli. Walau aku lebih suka disebut summoner daripada siluman. Lebih keren, menurutku. Tapi kurasa ini adalah kutukan jika kalian menyebut ini sebagai anugrah. Beberapa orang di seluruh dunia mungkin bisa juga berubah sepertiku. Aku sudah bertemu 3 orang yang sama sepertiku. Kai-san, seorang kasir dan juga tetanggaku, yang bisa berubah menjadi anjing. Aku tidak terlalu suka padanya. Wajarlah, kucing dan anjing memang kurang akrab. Lalu ada Yuuka-chan, anak kelas 5 sd, yang bisa berubah menjadi merpati. Aku pernah menolongnya. Aku dan dia kini menjadi akrab. Selain itu, tidak ada orang yang mengetahui kekuatan kami. Tidak orang tua kami ataupun sahabat kami. Yang terakhir adalah Sato-senpai, kakak kelasku yang terkadang mesum, dia bisa berubah menjadi cicak dan suka nongkrong di toilet perempuan. Jika kalian melihat cicak di toilet, kalian boleh memukulnya jika dia tidak mau pergi. Karena mungkin itu adalah Sato-senpai. Entah kenapa aku langsung tahu kalau mereka memiliki kekuatan yang sama denganku. Mungkin sebagai orang yang sama-sama memiliki kekuatan kami bisa langsung mengetahuinya. Dan aku yakin, masih banyak orang yang sepertiku diluar sana. Kembali pada rencanaku tadi, aku melompat naik ke tembok dan mulai mengikuti Rie. Dia terlihat senang, karena bersenandung riang seperti itu. Lalu dia melihat sebuah rambu-rambu yang bertuliskan STOP dan seperti yang kuperkirakan, dia langsung membengkokkan rambu-rambu itu. Setelah itu meninggalkannya begitu saja dengan raut wajah puas dan senandungnya pun semakin keras. Aku bersyukur itu bukan aku. “Wah-wah.. Rie-chan melakukannya lagi,” kata seseorang yang kusebut rival. “Meong!!” aku begitu kaget melihatnya ada di atas tembok. Rion menatapku. Tentu saja dia tidak tahu kalau itu aku. “Kenapa?” katanya padaku. Mungkin dia sedikit gila, pikirku. Mengajak berbicara seekor kucing, heh? Rion menyangga dagunya. Lalu tangannya yang lain memegang sebuah bunga matahari yang sudah diberi pita. Posisinya cukup aneh jika kulihat. Tembok ini cukup tinggi dan aku berani sumpah kalau Rion tidak memakai tangga untuk menyangga kakinya. Rion menatapku lagi. Ia tersenyum sinis. “Bukan hanya kau yang punya kekuatan, Aru,” kata Rion padaku. “Meong!!” kataku marah. Seluruh buluku berdiri. “Jangan berpura-pura, Bodoh.” Aku melihat Rion terbang melintasi tembok lalu menuju Rie dan aku hanya bisa terpaku. Tidak melakukan apa-apa. “Rie-chan!” panggil Rion. Rie menoleh singkat. “Kau terlalu lama. Kau bisa ketinggalan bis, Bodoh.” “Ah, kau kejam sekali Rie-chan. Agak susah mencari bunga matahari yang kau minta. Oya, lihat aku bahkan sudah memberinya pita.” Rie terlihat agak sedikit malu lalu mengambil bunga itu dari Rion. Aku akui aku agak merasa aneh dengan kejadian ini. Tadi Rie mengusir kami tetapi mengapa dia malah bersama Rion. Ini hal yang aneh. “Bis bodoh itu terlambat.” “Sabarlah sedikit,” ujar Rion sambil terkekeh geli. Mereka bahkan menunggu bis bersama. Membuatku bertanya-tanya ada apa ini? “Rie-chan, koper pink milikmu itu manis sekali.” “Diamlah, kau membuatku malu.” Rion tersenyum senang. Lalu merangkul Rie dan membisikkan sesuatu yang mampu membuat wajah Rie memerah, namun aku masih dapat mendengarnya dengan jelas. Sebuah bis datang dan mereka naik. Rion melambaikan tangannya padaku seakan menunjukkan bahwa sudah saatnya aku berhenti mengejar Rie. Ketika mereka telah pergi, aku kembali berubah menjadi diriku. “Sialan kau, Rion!! Sialan! Kau akan bertunangan dengannya. Sialan kau!” Bisikan Rion tadi terdengar jelas di telingaku. “Kita `kan akan segera tunangan nanti malam.” Kurasa musim panasku ini akan dihabiskan dengan pencarian cintaku yang baru. -Fin?-

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments

  • Aya Harukawa's picture

    oke deh. nanti kalo nulis

    oke deh. nanti kalo nulis cerita lagi bakal dienter.

    serach my light
  • shyenniy_mhuunichaa's picture

    jahaha --" pikir udah ada .

    5

    jahaha --" pikir udah ada . siap ! shy menunggu . tapi kalau buat yg part'2 kalau ada percakapan begitu pakai enter yah (y) masalahnya suka bingung shy baca gak ada enternya --" mungkin itu aja Laughing out loud selamat mencari ! go go ! (/^o^)/

    Let’s try something new !
  • shyenniy_mhuunichaa's picture

    jahaha --" pikir udah ada .

    5

    jahaha --" pikir udah ada . siap ! shy menunggu . tapi kalau buat yg part'2 kalau ada percakapan begitu pakai enter yah (y) masalahnya suka bingung shy baca gak ada enternya --" mungkin itu aja Laughing out loud selamat mencari ! go go ! (/^o^)/

    Let’s try something new !
  • Aya Harukawa's picture

    masih mencari-cari

    masih mencari-cari sambungannya. maksudnya belum dapat ide untuk buat sambungannya. Laughing out loud
    makasih shy-chan.

    serach my light
  • shyenniy_mhuunichaa's picture

    ini bersambung atau gak ?

    5

    ini bersambung atau gak ?

    Let’s try something new !

return to top