Scarlet Snow 1 - Pandora Box

0
202 kali
0 kali

not admin's choice

[b][u]Scarlet Snow part 1[/u][/b] [b]Pandora Box[/b] [b] "Ibuu ! Ceritakan kami tentang masa lalu ibu dong !!!" seru seorang anak pada ibunya yang duduk di kursi goyang.[/b] [b]"Eh ? Masa lalu...ku ?" sang ibu berhenti merajut sejenak dan meletakannya di pangkuan.[/b] [b]Untuk beberapa saat, ruang keluarga itu heing, hanya ada bunyi perapian yang bergemeretak dan bayangannya yang menari-nari di dinding lapis walnut ruangan itu.  Biarpun sudah menjadi ibu, tampangnya seperti gadis berumur 16 tahun.[/b][b] Selendang coklat muda yang dipakainya menutupi sebagian celemek yang melapisi bagian depan baju terusannya.[/b] [b]"Iya ! Bagaimana ceritanya sampai ibu bisa bertemu dengan ayah ?" seru anak lain sambil melompat ke pangkuan ibunya. Begitu sadar dari lamunan, semua anak-anaknya sudah duduk di lantai mengerumuninya. Sang ibu memegang dagunya sambil bergumam, "...hmm...agak panjang ceritanya...mulai dari mana ya ?"[/b] [b]"Dari pertama saja, bu !"[/b] [b]"Benar ?" jawab sang ibu dengan nada agak menantang yang sengaja dibuat kekanak-kanakan. "Jangan mengeluh kalau terlalu panjang yaa..."[/b] [u]Kota Shanzong, kekaisaran Qing. 3 tahun sebelum tragedy Shanzong[/u] Dalam sebuah rumah yang sederhana, Xue melompat ke atas ranjangnya, dan sang kakak, Feng menggelar selimut untuk adiknya. Udaranya sedikit dingin karena mereka tinggal di pegunungan, dan ditemani pendar lilin yang redup, sang kakak melantunkan ninabobo yang lembut. [b]"Dulu ibu namanya Xue ?" seru anak yang duduk di pangkuannya.[/b][b] "Bukan, nak. Tunggu dan dengarkan dulu." sang ibu tersenyum hangat.[/b][b] Anak tersebut mengangguk pelan. "Oh, oke."[/b] "Nah, tidurlah sekarang... Masak sudah besar masih harus diantar tidur ?" kata Feng pada adiknya yang berbaring di ranjang. "Hehehe...kan aku masih umur 10..." jawab Xue sambil tersenyum polos. "Lagipula kakak sendiri baru umur 11 ! Masih kecil juga kan ?! Hmph !" "Cepat tidur, besok kau harus bantu ayah cangkul ladang kan ?" kata sang kakak sambil berbalik badan dan berjalan keluar. "Tunggu, kak !" Xue menggengam ujung baju kakaknya. "Xue takut... Lilinnya masih terlalu gelap..." "Pejamkan mata, sebentar juga tidur !" jawab sang kakak dengan sedikit tidak sabar. "Xue takuut... Temani sebentar, ya kak ?" ".....Okelah, kakak temani di pintu." dan sang kakak pun menarik kursi dan duduk di pintu. Xue tersenyum puas. "....................kakak ?" "Ada apa ?" respon sang kakak dengan kepala yang kliengan karena ngantuk. ".......kenapa sih kita harus hidup pas-pasan seperti ini ?" "Yah mana ada yang mau peduli dengan nasib rakyat jelata seperti kita ini ? Sang kaisar dan menteri-menteri terlalu sibuk berperang memperluas wilayah... Jangan pernah mengharapkan pertolongan yang takkan pernah datang... Kita cuma bisa berpegang pada diri sendiri." jawab sang kakak. "..............jadi kita harus bisa berdiri tanpa bantuan ?" "Kira-kira begitulah... ke toilet dulu." sang kakak berdiri. "Tunggu, kak !" Xue memegang ujung baju kakaknya lagi. "Takuut..." Sang kakak tersenyum pasrah. Ia kemudian mengambil sebuah boneka beruang dari lantai, dan meletakkannya di kursi tempat ia tadi duduk. "Nah, ini jadi pengganti dulu ya ?" "......nggak bisa, kak Feng... Itu boneka..." " Sebentar saja kok... kakak janji, akan selalu melindungi Xue." sang kakak pun tertawa dan pergi, meninggalkan adiknya yang sudah tersenyum lagi. "Janji ya kak ? Senyum dong ! Kalo nggak senyum berarti nggak rela nih !" "Janji ! Kakak bakal selalu melindungi Xue dengan rela dan sepenuh hati !" senyum sang kakak sambil mengacungkan jempol dari balik tembok. “Senyumnya mana ?!” “Iyaa ! Itu juga !” Dan tak lama setelahnya, senyuman terjanji itu hilang ke dalam kotak pandora… Kota Shanzong musnah tak lama setelahnya, dan mereka dibawa oleh seseorang yang baik hati ke kerajaan Azurite, negeri tetangga. [b]"Kerajaan Azurite, berarti tempat kita berada sekarang, kan ?" sela anak di pangkuannya.[/b] [b]"Ya, betul, sayangku." senyum sang ibu sambil menyentuh lembut hidung sang anak.[/b] * * *[u] Kerajaan Azurite, Amber Academy, 3 tahun kemudian[/u] "Oioi, hari ini kan Ibu Maria nggak masuk... siapa yang akan mengajar Chemistry yah ?" tanya seorang murid. "Mana kutahu... Dengar-dengar sih, Ibu Azurite." jawab murid lain. "Ibu Azurite ? Sang kepala akademi ? Yang galak itu ?" "Dengar-dengar sih, dia.... si Ibu Azurite itu... Oy oy, Feng, dari tadi kau diam terus... Jatuh cinta ? Hahaha" kata murid tersebut ke seorang pemuda yang kira-kira berumur 14 tahun. "Hmm.... kali..." jawab Feng dengan malas. "Bah,dia mah sejak pertama masuk selalu gitu... sekali-sekali tersenyumlah !" "Sesukaku, dong..." Feng memalingkan mukanya. Tiba-tiba pintu kelas terbuka dengan sebuah ledakan. Dari balik asap, muncul seorang wanita dengan gaun jaman Victorian. "SIAPA TADI YANG MEMANGGIL IBU DENGAN NAMA AZURITE ?!!" teriaknya. seluruh murid gemetar. "NAMAKU AZURI TERRAROSA, MENGERTI ?!!!" ".............................................."Semua murid terdiam ketakutan. "MENGERTI ?!!" "I-iya, bu !" jawab semua murid kompak. "Jadi... karena Ibu Maria sakit hari ini... ia telah memberikan tugas untuk kalian. Tugasnya... emm...." Ibu Azuri memandangi secarik kertas yang ada di tangannya. Tiba-tiba ia merobeknya. "Lupakan... Ibu sedang malas... Feng Sparrowhawk, ikut Ibu ke kantor !" "Baik, Bu." Feng mengambil tasnya dan menyusul Ibu Azuri yang telah duluan. "Aaa.... apa seseorang seperti itu pantas disebut kepala akademi ?" komentar seorang murid dengan pelan. "SIAPA YANG BICARA TADI ITU ?!" teriak Azurite dari luar kelas. "Shh ! Diam ! Diam !" tegur temannya yang lain. [b]Amber Academy, sekolah militer yang paling terkenal di kerajaan Azurite. Amber Academy dibangun oleh sang ratu untuk mendidik para bibit-bibit muda yang akan menjadi tonggak pertahanan kerajaan. Berlokasi di pinggir Londonshire, ibukota kerajaan, akademi ini terlihat seperti sebuah kastil tua yang sangat besar. Murid-muridnya adalah yang tertangguh dari  semua sekolah militer lain di kerajaan Azurite, karena itu anggota akademi ini sangat dihormati oleh masyarakat.[/b] [b]"Tempat ayah mengajar sekarang ?"[/b] [b]"Ya, dalam bidang teknik militer."[/b] Ibu Azurite menuangkan segelas teh dan meniupnya dengan lembut. Sambil menikmati tehnya, ia memulai percakapan. "Jadi, Feng, bagaimana kabar Xue ?" "Baik..." "........Apa kau tak pernah tersenyum, Feng ? Ekspresimu itu dingin sekali, kau tahu ? Biskuit ?" tanya Azurite sambil menyodorkan sepiring biskuit. Seorang gadis kecil berumur 10 tahun masuk dan membanting pintu. "Azu-nee ! Aku mau aku mau !!!" "Diam dan mati, Chemy." Azurite melemparkan kipasnya ke kepala gadis itu. Ia tergeletak bergelimangan darah. "Heh. Aku pernah berjanji akan melindunginya dari apapun, kapanpun selama aku masih bisa tersenyum untuknya... Tapi kenyataannya, aku gagal..." jawab Feng sambil mengambil sekeping biskuit. "Kau memang keras kepala, Feng... Yah, pastikan kalau kau mengawasinya dengan baik sampai kita tahu jelas apa penyebabnya menjadi begitu. Ingat, kalian berdua.... agak berbeda dari manusia." "...Kami cuma anak petani biasa dari Qing." senyum Feng. Ibu Azurite bergidik. "Saat tersenyum pun, kau lebih terkesan menyeramkan daripada ramah... Dan lagipula mana ada anak gadis biasa yang bisa membantai habis sebuah kota ? Berdasarkan itukah kau anggap Xue normal ? Hmph." Azurite meminum tehnya. "Yah, begitulah-" senyum Feng. *BANG* Tiba-tiba peluru berdesing dari luar jendela menembus biskuit di tangan Feng. "Eh ?" Chemy tersadar. "Ibu Azuri ! Chemy ! Sembunyi di belakang tembok !" Azurite bersembunyi di tembok sebelah kiri jendela bersama Chemy, dan Feng di sebelah kanan. "Kenapa kau yang ditarget ? kau kan hanya murid biasa ! Akulah kepala akademi ! Target aku !!!" rajuk Azurite. "BUKAN ITU MASALAHNYAA !!!" teriak Feng. Chemy mengeluarkan 2 pistol dari lengan bajunya. "Kelihatannya sniper itu memang berniat menarget Azu-nee, tapi pelurunya berbelok karena angin... Ingat Coriolis Effect, Feng-niisan ?" "Uh... Cori... apa ?" "Itu bukti kau tidak pernah memperhatikan pelajaranku." gerutu Chemy. Feng-niisan ! Kau tidak bawa senjata kan ?" Chemy melempar satu pistol. *TRAK* Pistol itu lewat di dekat Feng dan jatuh ke lantai. "KENAPA TIDAK DITANGKAAP ?!" teriak Chemy. Azurite sudah facepalm. "Eh ? Kau tidak menyuruhku menangkapnya." jawab Feng datar. "...Ya sudahlah." Feng memungutnya. "Oke, kita keluar dari cover pada hitungan ketiga. Siap, Feng-niisan ?" "Meh." Mereka terdiam sebentar, mempersiapkan diri. Pistol terangkat dekat muka, badan menempel pad bingkai jendela, siap keluar sewaktu-waktu. Tiba-tiba tercium bau sesuatu yang amis. "Bau apa ini ?" tanya Feng. "Bau ketegangan." jawab Chemy serius. "Uhm, maaf, aku buang gas." sela Azuri. "Yah sudahlah. Aku akan mulai berhitung. Ibu Azuri, tetap di sana dan jaga dirimu. Siap, Chemy ?" Chemy membalasnya dengan anggukan pelan. "TIGAA !!!" teriak mereka bersamaan. "OY ! KAPAN BERHITUNGNYA ?!!!" komentar Azurite. Desingan peluru sniper menyambut mereka berdua. Tapi, 100 butir peluru sniper meleset tak sebanding dengan 5 peluru pistol tepat sasaran... Dengan cepat mereka membereskan sniper-sniper itu. "Serangan kelima dalam dua bulan terakhir... Lama-lama aku tak bisa munum teh dengan tenang... Ah, satu lagi. Kalau berjalan malam-malam, hati-hati terhadap [i]Watchers[/i]. Mereka memang cuma murid akademi yang berpatroli di lorong-lorong setiap malam, tapi kalau sampai bertemu, kau akan langsung dikira monster nyasar." kata Azurite. "Dan combat skill murid-murid akademi ini adalah yang terbaik di antara yang terbaik. Hati-hatilah." "Dikira monster nyasar 'gimana ? Aku memang bukan manusia, tapi aku terlihat sepenuhnya sebagai manusia..." "Oh, memang tak ada [i]Watchers[/i] yang akan menyadari kelainanmu... kecuali gadis yang satu itu." kata Azurite dalam hati sambil tertawa kecil. [u]Malam harinya, koridor asrama  [/u] "Duuh... semoga belum terlambat... Jangan sampai Xue-" "Hei ! Kau di sana !" seseorang berteriak dari belakang Feng. "Eh ?" Feng menoleh. "Wah wah wah... biasanya [i]Fantome[/i] yang nyasar ke akademi berbentuk seperti monster... Jarang-jarang ada yang berbentuk manusia..." senyum seorang gadis yang seumuran dengan Feng. Gadis itu memegang tongkat sihir di tangannya. Tapi anehnya di ujung tongkat itu tergantung seuntai kertas yang dipilin-pilin. "Aaa.... Maaf ? Apa yang kau bicara-" Tapi berpura-pura tidak ada gunanya, gadis itu maju untuk menyerang. "Jangan pura-pura. 'Nada' jiwamu mirip 'nada' Fantome."  gadis itu menusuk leher Feng dalam sekejap. Tapi tiba-tiba Feng muncul lagi di belakang gadis itu. "Ups, maaf sekali... Yang kau tusuk itu cuma bayanganku..." Feng bersiap memukul kepala gadis itu, tapi gadis itu menendang ke belakang. Feng terlempar ke tembok. "Dan aku sudah tahu itu cuma bayangan... 'Nada'-nya lebih lemah daripada yang aslinya." senyum sang gadis. "Tenanglah, ini akan berlangsung dengan sangat cepat." sang gadis memegang leher Feng, dan menusuknya. [b]…tapi ketika tongkatnya bersentuhan dengan leher Feng, sebuah cahaya yang sangat terang bersinar.[/b] "A-apa ini ?!" sang gadis terkejut. Begitu pula Feng. [b]"Dan apa yang ada di dalam cahaya itu, adalah kotak pandora yang tidak seharusnya dibuka..."[/b][b] "Maksudnya, bu ?"[/b] [b]"Feng dan Xue telah menemukan hidup baru yang tenang di Amber Academy, tapi ternyata Tuhan berkata lain. Cahaya itu adalah awal dari sebuah kekacauan yang akan menghasilkan kehidupan baru untuk kedua kakak-beradik itu."[/b] [b]"Dan bagaimana kehidupan baru itu ?"[/b] [b]"Lihat ibu. Menurutmu ? Bagaimana ?" [/b] [b]"Dalam cerita ini, ibu tokoh yang mana ?"[/b] [b]"...ibu takkan menjawabnya sekarang. Dengarkan ceritanya sampai habis, dan kau akan tahu jawabannya." [/b] [b]"Kalau begitu, lanjutkan ceritanya, bu !"[/b] [b]"Waktunya tiduur~[/b][b]♫[/b][b]"[/b] [b]"CURAAAANG !!!" teriak semua anaknya bersamaan.[/b] [b]- End of Part 1 - Kunjungi page saya di : [/b]http://www.facebook.com/pages/Scarlet-Snow-The-Song-of-Pissenlit/178849808842917?v=wall

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

return to top