The Soldier of Light

Puppy Lover
part 1
Adventure
2.8
504 kali
1 kali
Astaga! Apa-apaan ini!? Baru beberapa menit yang lalu aku terjaga di tempat tidurku yang hangat. Lalu mama mengecupku dan mengucapkan ‘selamat malam’ seperti biasa. Tapi apa-apaan ini!? Kenapa Kristania Debora ini yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP harus lari dari suatu monster menjijikan dan mengerikan sambil menjerit-jerit minta tolong di hutan gelap dan sunyi ini? “Gyaaaaaaaa!!!!!!!!” aku masih berlari “Huwawawawawawawaaa!!!!!!” dia belum berhenti. Tapi kenapa aku berlari? Ah, secara insting aku akan berlari kalau dikejar. Tapi menurut insting hewan (tunggu, apa dia bisa disebut hewan?), yang berlari di hadapannya itu adalah mangsanya. Tunggu, tunggu, kalau begitu kalau aku berhenti, apa dia akan berhenti mengejarku? Kalau begitu… “Aduh!!” dia menerkamku? Astaga, dia menerkam tanganku sampai berdarah? Oke, kalau begitu aku memang mangsanya. “Tidaaakkkk!!!!!!!!!” jeritku. Lalu jeritan itu terputus saat aku jatuh dan terguling dari bukit kecil di sebuah padang rumput yang luas dan bermandikan cahaya matahari. Baru kusadari, makhluk itu hanya berlindung di kegelapan dan tidak mau melangkah sedikitpun dari bayangan menuju tempatku yang terang. Spontan, dia berlari. Aku menghembuskan nafas lega. Tapi lalu aku teringat tanganku yang terluka. Lumpuh. Tidak bisa bergerak. Apa ada racunnya? Aku melihat sekeliling. Ada desa! Mungkin aku bisa minta pertolongan pertama di sana. Kuseret lenganku dan sampai di gubuk-gubuk peyot itu. Hm, apa ada penghuninya? Aku jadi ragu. “Akh!” aku berseru kecil. Rasa sakit dari tanganku menyebar ke seluruh tubuh. Kakiku gemetaran dan akhirnya aku jatuh terlungkup. Kesadaranku makin jauh. Tidak.. … aku tidak mau mati… Seorang kakek menghampiriku. Walau aku pingsan, tapi sepertinya aku masih bisa merasakan orang-orang di sekelilingku. “Nak? Nak? Bangun nak!” dia mulai panik dan memanggil beberapa orang lainnya untuk menggendongku masuk ke dalam gubuknya. “Apa dia bisa selamat kek?” tanya salah satunya “Kakek tidak tahu, seperti yang kalian lihat, tangannya terluka. Dan semuanya sekarang tergantung padanya. Bawa dia ke ‘lapangan pilihan’” lalu mereka membawaku pergi ke ‘lapangan pilihan’ itu. Tidak usah membuka matapun aku tahu. Ada banyak benda di sana. Sepertinya ini di dalam hutan, tapi bukan hutan menyeramkan yang tadi. Matahari menyinari tempat itu, aku mendengar suara gemericik air, hembusan angin, panas api, bunyi-bunyian yang dibuat oleh gerak-gerak hewan-hewan liar di sana, serta masih banyak lagi. “Letakkan dia di situ. Kalian pergilah duluan, aku akan bicara dengannya” mereka menaruhku, lalu pergi menjauh. Sekarang hanya tinggal aku dan kakek tidak dikenal itu. “Kau mendengarku nak? Bagaimana keadaanmu? Kau hanya bisa melihat kegelapan, merasakan kesakitan dan seperti di ambang kematian bukan?” kata-katanya benar. Aku tidak bisa melihat apapun, entah mataku tertutup atau terbuka, lalu kesakitan dari tanganku menyebar ke seluruh tubuh. Dan dalam keadaan begini, bisa disimpulkan kalau aku sekarat. “Jangan takut nak, kau bisa selamat..! Tapi caranya harus kau dengarkan secara seksama. Paham? Oke, kakek akan memulainya” jantungku berdebar kencang. Baguslah aku bisa selamat, terima kasih kakek. Kalau aku datang ke sini lagi aku pasti akan membalas budimu! Batinku. “Dengar ya. Kau bisa merasakan apa saja yang ada di sini bukan? Nah, satu-satunya cara untuk selamat melawan kegelapan, adalah dengan menjadi terang. Makhluk itu perusak alam, dan kita ini prajurit alam. Pilihlah salah satu benda alam yang ada di sini. Masing-masing orang punya kesamaan. Ada yang menjadi prajurit angin atau prajurit tanah. Tidak ada satupun orang yang berkekuatan sama, dan kita lihat apa yang kau punya. Akan kutemui kau besok pagi, dan aku berharap tidak menemukanmu sebagai mayat. Berjuanglah, karena selama kau memilih dan dipilih, kegelapan dalam dirimu akan terus berusaha mengambil alih jiwamu” Suara langkahnya semakin menjauh. Sekarang aku sendirian. Di dalam sebuah hutan tidak dikenal, malah mungkin kalau sudah gelap makhluk itu akan menyerangku! Aah!! Oke, berhentilah berpikir ‘prajurit alam’, sekarang carilah bagian alam mana yang akan menyelamatkanmu..! Air? Tidak, dulu aku nyaris mati tenggelam. Api? Aah, dulu mainanku terbakar sampai habis. Aku paling benci api walau itu keren. Tanah? Apa pula itu, membuat istana pasir saja aku tidak becus! Angin? Mengerikan, dulu sekolahku dilanda angin puyuh. Untungnya kerusakannya kecil dan tidak ada korban. Tumbuhan? Ah, menanam bunga melati saja layu. Hewan? Ah! Boleh juga nih, aku akrab dengan hewan sejak kecil. Bahkan aku bisa berkomunikasi dengan mereka walau tidak seutuhnya mengerti apa mau mereka. Hm, tapi.. rasanya walau aku sudah memutuskan pilihanku, kenapa aku belum juga sadar? Apa kegelapan sudah menguasaiku seutuhnya? Tidak, tidak boleh! Aku tidak sudi mati dengan cara konyol begini! Hmm.. lalu kenapa aku belum sadar juga yaa? Coba ingat-ingat lagi kata-kata kakek. “..satu-satunya cara untuk selamat melawan kegelapan, adalah dengan menjadi terang..” “..memilih dan dipilih..” Jangan bilang kalau… kalau aku sudah memilih tapi tidak dipilih, jadi sama saja bohong!? Yang benar sajaa!! Uuh, ‘melawan kegelapan’ dalam diriku ya? Berarti aku harus menjadi ‘terang’. Terang.. aku memang membenci kegelapan, aku menantikan tiap hari setiap matahari menyinari wajahku dan membangunkanku. Cahaya.. Cahaya.. Tidak buruk.. Hei! Aku melihatnya! Setitik cahaya! Ya! Di kejauhan! Memang jauh, tapi aku bisa menjangkaunya! Aku bisa..! Aku, lolos dari kegelapan.. “Pagi yang indah” bisikku sambil membuka mata. Lukaku tertutup seutuhnya. Tubuhku bersinar. Kekuatanku cahaya. Ya, cahaya menyelamatkanku dari kegelapan. Seekor burung hinggap di kepalaku dan kelinci-kelinci berebut minta kupangku. Rusa-rusa dan hewan-hewan yang lain mulai berdatangan. Aku bahagia sekali. Rasanya mimpi aku bisa berbagi kebahagiaan dengan hewan-hewan yang lucu dan baik ini. Setelah bermain-main sebentar dengan mereka, seorang kakek berjanggut dan berambut putih datang dari balik pepohonan. Dia tersenyum setelah melihatku dan menghampiriku. Dia membawa tongkat dengan ujung yang melengkung di bagian pegangan. Seperti tongkat nenek sihir, tapi wajahnya amat sangat lembut dan ramah. “Aku tidak menemukanmu dalam bentuk mayat, syukurlah nak” aku langsung mengenali suara itu “Kakek! Kakek yang menyelamatkanku? Terima kasih! Terima kasih! Aku akan membalas budi kakek! Aku janji!” seruku girang sambil memeluk kakek tua renta itu. “Hohoo, cucu kakek bertambah! Tidak usah repot-repot, karena kau sudah menjadi prajurit alam maka kau sekarang terikat dengan kami! Ikutlah denganku!” “Roger” jawabku sambil gaya hormat. “Syuuh, syuuh” bisikku sambil mengusir hewan-hewan itu. Berat memang untuk berpisah. “Mereka menyukaimu” “Aku tahu kek, tapi aku tidak bisa membawa mereka khan?” “Keputusan yang tepat! Kecuali kalau mereka adalah kekuatanmu. Apa aku benar?” aku tertawa kecil “Kakek salah, kekuatanku cahaya! Apa aku berkekuatan ganda? Apa ada kek?” “Ganda? Tidak, tidak, belum ada satupun dari semuanya bisa mengendalikan lebih dari satu benda alam. Tapi kau bisa jadi yang pertama” “Salah lagi! Aku dari kecil memang sudah akrab dengan hewan. Tidak heran aku sering berkomunikasi dengan mereka” “Aah, tapi cahaya juga langka lho. Kau yang pertama menjadi prajurit cahaya. Kali ini kakek pasti benar!” lalu kami tertawa sambil terus berjalan “Jadi, siapa namamu?” “Kristania Debora, panggil aku sesuka kakek” “Aku lupa memberii tahumu sesuatu!” kata si kakek sambil menatapku “Di sini, tidak ada yang saling memanggil nama. Mereka saling memanggil sebutan berdasarkan kekuatan mereka. Jadii..” “Karena kekuatanku cahaya aku tidak akan dipanggil nama panggilanku? Seru juga” “Baik, nama keduamu adalah…” ujar kakek sambil menimang-nimang nama yang bagus. “Soldier of Light. Atau prajurit cahaya.. Mau?” Soldier of Light. Tidak jelek, keren juga! Akan kusinari siapapun yang ada disekelilingku. Akan kuterangi semua kegelapan yang sudah diperbuat oleh makhluk itu. Makhluk dari kegelapan.. “..satu-satunya cara untuk selamat melawan kegelapan, adalah dengan menjadi terang..” Ya.. Yang bisa mengalahkan makhluk itu memang hanya aku. Tapi aku tidak akan melupakan kalian, teman-temanku! Sebab tanpa kalian yang menjadi back up-ku, aku takkan bisa berperang dan saling membunuh dengan makhluk itu. “Lebih cepat lagi!!” seru kakek “Aku tahu kek!” kupusatkan tenaga di telapak tanganku dan kulontarkan ke arahnya. Tidak kena! “Sedikit lagi, tapi masih belum!” dan kulontarkan semuanya ke kakek itu dan setelah sore hari latihan selesai karena aku berhasil menghantam kakek itu. “Maaf kek, apa berlebihan?” seruku sambil menghampiri kakek dan membantunya bangun “Tidak, tidak, malah bagus begitu. Kalau bertemu musuh, gunakan seluruh tenagamu. Tapi jangan sembarangan, karena kalau cahaya di tubuhmu habis kau akan lumpuh sampai cahayamu terisi ulang! Pokoknya kau hanya bisa membunuh musuhmu dengan hasrat membunuh. Ini medan perang. Jangan lupakan itu” “Baik!” Sudah seminggu sejak aku mendapat kekuatan ini. Kumite (pertarungan dengan tangan kosong) -ku bagus, pengendalian cahaya juga sudah lumayan. Kemampuanku berkembang pesat. Hanya dalam seminggu aku bisa mencapai tahap ini, aku memang tidak salah mengambil cahaya. Selain tidak membebani, juga mudah ditemukan di mana saja! Lalu, makhluk itu datang. Setelah kuperhatikan, dia itu aneh. Dia punya kekuatan kegelapan, punya tanduk seperti banteng, mata yang tajam seperti elang, cakar yang lebih tajam dari cakar harimau, tulang rusuknya kelihatan jelas, sepertinya dia kurus, taringnya banyak dan lebih mematikan dari hiu atau buaya, dan moncong serta bentuk hidungnya seperti babi hutan. Makhluk buruk rupa.. Hiih.. Serangan dimulai saat semua orang masih terlelap kecuali orang yang mendapat giliran jaga. Saat aku masih belum terjaga, lonceng darurat dibunyikan. “Makhluk itu datang! Dia dataaang!!! Semua prajurit siap siaga! Semua penduduk wanita, anak-anak dan lansia harap pergi ke tempat perlindungan!! Sekali lagi, dia dataangg!!!” TENG TENG TENG TENG TENG!!! Kegaduhan langsung tercipta. Semuanya berlari ke sana kemari. Para prajurit siap siaga dan aku di barisan depan. ‘Dia’ berlari dengan meninggalkan jejak kegelapan pada tempat yang dia injak. Nah, sampai kapankah semuanya akan bertahan? Dia melolong, dia mencabik, dia mencakar, dia memukul, dia menendang, dia menyeruduk, dia mengamuk, dia menghancurkan dan dia membunuh! Pertarungan seimbang di awalnya, tapi lalu dia menggenggam sesuatu di lehernya dan kekuatannya bertambah pesat sehingga setengah dari kami tewas seketika. Apa itu? Kalung? Bukan. Aku harus mendekat untuk memastikannya. Aku mulai berlari “Soldier of Light! Jangan!” seru beberapa dari mereka. Maaf semuanya, tapi aku harus.. “Hup!” memastikan titik kelemahannya! BUAGH!! Aku memukul kepalanya. Sebenarnya tujuan awalku bukan itu tapi untuk melihat apa yang dia kalungkan. Aku salto ke belakang (memangnya ini sirkus!?) dan mendarat dengan sempurna selama gerakannya tertahan karena kesakitan. Kuperhatikan dengan seksama.. Kalung? Bukan.. Apa itu? Topeng! Dia mengalungi sebuah topeng! “Soldier of Light! Awaas!!” ah! Aku belum sempat untuk bertahan.. DASH “Wuaaa!!!” aku terlempar jauh ke belakang lalu ditangkap oleh temanku Stone Army si prajurit batu dan Flora si prajurit tumbuhan sebelum menghantam tanah. “Bodoh! Ngapain kamu maju sedekat itu!? Jaga jarak dikit kenapa!?” seru Stone tepat di dekat telingaku “Stone, kalau khawatir bilang saja, jangan membentak Soldier of Light..!” bantah Flora pada Stone “Kalian berdua, diamlah. Hanya akan kukatakan sekali, dan sebarkan pada semuanya!” dan aku menceritakan semua yang kutahu tentang topeng itu, yang memberi kekuatan saat dia terdesak. Kesimpulannya mudah. Lepas topeng itu dari tubuh makhluk itu! Dengan singkat, informasi itu telah menyebar. Dan sekarang semua prajurit mencoba untuk menarik topeng itu. Tapi resikonya terlalu besar! Sehingga kuputuskan, aku yang akan maju! Aku meniup peluit tanda berkumpul dan semua prajurit mundur. “Semuanya, karena aku yang lebih tahu dari kalian, jadi tolong biarkan aku maju sendiri. Jadilah back up-ku saja. Aku serahkan pada kalian!” dan aku melesat “Tungguu!!!” teriak yang lainnya, tapi langsung terhenti melihat isyarat kakek “Jangan membantahnya, cepat jadi back up-nya!” seru kakek itu menyadarkan para prajurit yang masih bergantung pada pemimpinnya. “GROOAAA!!!!!” dia meluncuran sebuah bayangan, itu ditahan oleh tumbuhan dari Flora, lalu serangan berikutnya ditahan oleh api dari Flame Soldier, dan berikutnya oleh ini, dan itu. Terima kasih teman-teman. Akan kuakhiri semuanya! Kuluncurkan seluruh kekuatanku yang dengan dahsyat bertubrukan dengan kegelapannya. Aku tidak mau kalah! “Hiaaaaaaa!!!!!!” dan akhirnya hasil dari semuanya hanyalah cahaya yang silau bahkan mampu membutakan mata. Di saat itulah, kumanfaatkan untuk merebut topengnya. Satu meter.. .. setengah meter.. .. 30 cm.. .. 10 cm.. .. 5 cm.. .. 3 cm.. .. 1 cm.. Aku takkan bisa melakukan semua ini tanpa kalian teman-temanku. Seluruh orang di desa ini adalah temanku. Keluargaku! Aku takkan membiarkan mereka dilukai olehmu lebih lanjut makhluk buruk rupa! Semuanya akan selesai saat ini juga! Tertangkap! Aku berhasil memegangnya! Tariklah! Tariklaaah! TAS.. Putus! Bagus! “GROOOOOOO….” Makhluk itu melolong dan jatuh sambil menghantam tanah dengan bunyi yang keras “OOOOO….!!!” Dan lama-kelamaan makhluk itu berubah menjadi tulang belulang belaka. Topeng yang mengerikan. Memberiikan nyawa dan kekuatan kegelapan pada makhluk yang tidak bisa apa-apa. Fuuh.. daripada itu.. “Aku berhasil!” kataku sambil menunjukkan topeng itu pada mereka yang berwajah haru bercampur tidak percaya dan bercampur lega. Lalu kesadaranku hilang. “Soldier of Light! Soldier of Light!” “Kek, mau kita buang di mana? Harus yang asing, sepi, tidak terjangkau, dan harus hancur! Apa ada gunung berapi di sini?” kataku “Hmm.. Tidak ada, tapi sudah kakek putuskan. Kita jatuhkan saja di Jurang Pengasingan. Semua benda tidak berguna dibuang kesitu..! Bagaimana?” “Mau! Mau! Mau! Aku setuju sekali!” aku memeluk kakek dengan perasaan bahagia. Akhirnya semua ini telah berakhir. Kabut kegelapan yang menyelimuti desa ini telah lenyap. Keesokan harinya, kami dan seluruh warga desa pergi ke Jurang Pengasingan. Kami satu persatu merusak topeng itu dengan tertawa atau mengejek. Ada juga yang mencoret-coretnya. Lalu setelah kami pastikan topeng itu rusak sepenuhnya, aku melapisinya dengan cahayaku agar kekuatan kegelapan yang tersisa tidak bisa keluar. Lalu kami melemparnya. Sunyi sebentar, lalu terdengar suara KRAK yang berarti yopeng itu pecah. Kami langsung bersorak dan dengan segera pergi dari jurang itu. Kami tidak mau di jurang angker dan mengerikan itu lebih lama. Kami berpesta. Sangat gembira dan ramai. Semua orang senang, semua orang menyalamiku, semuanya bersuka cita. Beberapa hari setelah aku terlena dengan kedamaian ini, aku tersadar. Aku harus pulang. Aku tidak bisa terus di dunia ini. Aku harus kembali ke duniaku. Jadi keesokan harinya aku berpisah dengan mereka. “Kau datang dari mana?” tanya salah seorang warga “Aku datang dari dunia yang berbeda. Tapi aku janji akan datang lagi suatu saat. Aku datang ke hutan ini lewat pohon besar ini, saat aku melintasinya, aku akan kembali ke duniaku” jawabku “Kau yakin tidak mau tinggal lebih lama?” tanya yang lain “Aku sudah cukup lama di sini, sudah saatnya kembali” suasana hening sejenak, lalu terdengar suara tangisan anak kecil. “Semuanya, kita tidak bisa mengekangnya, ada keluarga yang mengkhawatirkannya di sana. Lagipula hampir semua prajurit di sini berasal dari dunia lain, tapi mereka belum berkeluarga, sudah dewasa, atau yatim piatu. Kau masih punya keluarga. Pergilah, tapi sebelumnya kakek ingin memberikan sesuatu padamu” ujar kakek sambil merogoh ke dalam kantong. “Apa itu?” tanyaku sambil menunjuk sebuah cahaya yang digenggam kakek. “Ulurkan tanganmu. Keduanya ya” jawabnya. Aku menurut. Kuulurkan kedua tanganku dan sekarang cahaya itu ada di tanganku. Perlahan-lahan masuk ke tubuhku. “Sekarang jawab pertanyaanku” kataku sambil menatap kakek. “Itu seperti alarm darurat. Saat kami memerlukanmu dan memanggil namamu, benda ini yang akan memberitahumu. Sekarang kami bisa tenang seandainya kau pergi” “Aku akan datang lagi kek. Aku janji..!” aku memeluk kakek seerat-eratnya. Setelah itu aku berjalan masuk ke dalam pohon itu. Sebelum menghilang seutuhnya, aku mengucapkan salam perpisahan “Sampai jumpa semuanya! Aku akan datang lagi! Jangan lupakan aku!” “Kami takkan melupakanmu! Namamu akan terukir selamanya sebagai penyelamat kami di sejarah desa ini!” Dan.. aku kembali terjaga. Tanggal berapa ini? Apa masih sama seperti saat aku pergi? “Tania! Kau akan terlambat kalau tidak bangun sekarang juga! Ini hari Senin, kau akan upacara!” seru mama sambil membuka pintu kamar tidurku. Yak! Ini masih di hari yang sama! Aku bersorak dan turun dari tempat tidur sambil bersenandung. Takkan kulupakan petualangan ini untuk selamanya. Dan aku ingin bertemu mereka lagi dalam waktu dekat. Aku sudah berjanji untuk datang! Tapi kuharap.. bukan karena.. masalah darurat. Entah kenapa.. aku punya firasat buruk.. “The Soldier of Light.. menyelamatkan desa.. apa ini sudah cukup kek?” tanya salah Stone si prajurit batu. Dia mengukir kisahku di sebuah batu. “Cukup, dengan ini seluruh keturunan kita akan mengenangnya. Ah, ceritakan juga tentang pembuangan topeng terkutuk itu” “Baik! Topeng itu.. dibuang di.. Jurang Pengasingan..” “Bagus, sudah selesai sekarang” “Makhluk itu ternyata hanya boneka yang digerakkan topeng jelek itu ya!” seru Flame si prajurit api “Iya! Topeng terkutuk itu tidak bisa berkutik saat dihancurkan oleh kita!” jawab temannya. Lalu mereka tertawa. Tapi coba lihat. Jauh di dasar jurang. Topeng itu tidak pecah. Hanya mengalami keretakan kecil. Semua kerusakan yang dibuat warga sepertinya tidak berguna. Topeng itu masih aktif. Sepertinya kegelapan dan kejahatan melekat erat dan amat kental di topeng itu. “Awas.. kau.. Soldier of.. Light..” rintih topeng itu. “Rasakan.. pembalasanku.. suatu saat nanti..” “Kalian pikir membuangku ke sini akan menghancurkanku? Kalian salah..” “Justru kalian memberiku ruang dan waktu untuk menyerap tenaga baru yang lebih besar dan lebih banyak. Justru dari sini.. aku bisa mengendalikan lebih banyak ‘boneka’.. tunggu saja pembalasanku..” Apakah yang akan terjadi? Apakah perang dan pertumpahan darah akan terjadi lagi? Tidak ada seorangpun yang tahu.. kecuali waktu.. =BERSAMBUNG=

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments

  • ridho.jenaka's picture

    mmm....lumayan

    mmm....lumayan Wink

  • kiky2hikaru's picture

    agak

    memang sedikit menarik ceritanya..

    namun,agak membosankan di beberapa kata

    KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI.....
  • Crow's picture

    nice

    add some space..i mean break them into some oaragraph ..

    it is killing me to read all that stuff at this pace..

    nice story..maybe it is better if we call you..

    the warior of light

    I am not person worthy of your concern
  • kakeki's picture

    bagus, tapi bisa diperjelas

    bagus, tapi bisa diperjelas antar paragrafnya, biar gampang dibaca Laughing out loud

    I read Comic, not make it. Except stories.
  • kang dedes's picture

    bagus tapi...

    bagus ceritanya, lutcu...

    tapi mbok ya di buat jadi beberapa paragraf....

    trus antara pembicaraan tokoh ama narasinya dibedain gitu...

    biar g bingung yang baca....

  • haris reborn's picture

    lucu

    good enaugh,but it's funny

  • zazanami's picture

    bagus ceritanya....ditunggu

    bagus ceritanya....ditunggu lanjutannya.....


return to top