[HORROR]shadowlessMoon.docx

alleyG
Shadowless_Moon
Supernatural
5
278 kali
0 kali

not admin's choice

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

     “Aku adalah bayangan… seorang pendamping kegelapan, seorang yang tanpa di berikan nama… aku seorang pemusnah, dan cara untuk membinasakan mereka adalah dengan darah kalian. Sebagai pewaris kegelapan aku datang ketika bulan tidak memiliki bayangan, dan itu adalah kemungkinan datangnya kematian kalian.”

 

     Pada suatu malam ketika bulan purnama sedang tinggi, sebuah mobil truk sedang melintasi jalan gelap, dan berkabut. Lampu-lampu yang bersinar pada mobil truk memberikan kesan suram pada jalan aspal yang hanya dikelilingi hutan tersebut. Seperti sepasang mata yang jahat, mengintaimu dari jauh lalu mata itu semakin mendekat dan mendekat. Namun kontras dari yang terlihat, dibalik mobil truk tersebut adalah seorang pengemudi pria yang memiliki wajah yang hangat. Pria bertubuh besar dengan memakai topi khas pengemudi truk. Pengemudi itu terlihat sedikit agak lelah, tapi ia berusaha sebisa pengalamannya sebagai seorang pengemudi truk untuk bisa tetap terjaga.

     Dikarenakan di dalam mobil truk-nya dia tidak sedang sendirian, dia memiliki seorang penumpang—seorang remaja laki-laki yang sedang tidur di bangku samping. Remaja laki-laki itu ia temukan sedang berjalan sendirian di tepi aspal yang gelap di malam yang sangat suram ini. Atas rasa iba si pengemudi truk memberikan tumpangan pada anak remaja tersebut. Beberapa menit kemudian mobil truk itupun sampai pada tujuan yang diminta, dan remaja laki-laki itu juga sudah bangun dari tidurnya.

    “Ini dia tempatnya,Nak…” kata si pengemudi truk.”Kita sudah sampai, di sekolah asrama laki-laki St. Lucas.”

    “Terima kasih.” kata si anak remaja dengan nada datar. Si anak remaja lalu keluar dari mobil dengan tas bawaannya yang sejak tadi ia peluk erat-erat. Pria pengemudi truk mengangguk, mengamati anak remaja itu berjalan mendekati gerbang sekolah. Dia penasaran dengan tas yang di bawa anak remaja itu, tapi kemudian ia menganggapnya lalu, dan melanjutkan perjalanannya.

     Di depan gerbang sekolah si anak remaja berdiri dengan tegap memandangi sekolah tersebut. Gerbang sekolah itu tampak antik, tapi besinya masih terlihat mengkilat diterpa sinar bulan, diatas gerbang terdapat tulisan yang terbuat dari besi bertuliskan; ST. LUCAS INTERNATIONAL SCHOOL…si anak remaja lalu membuka gerbang—gerbang tersebut tidak terkunci. Dia melangkah memasuki jalan setapak depan sekolah dengan sangat sedikit suara terdengar dari langkah sepatunya. Remaja itu berpakaian serba hitam sehingga malam yang gelap benar-benar menutupi keberadaannya, hanya ketika sinar bulan menyentuh tubuhnya dia terlihat. Tas yang di bawanya ia sampirkan di pundak kirinya. Tas itu terlihat unik, berbentuk silinder yang panjang.

     Suasana yang kelihatan suram di sekitar sekolah itu tidak menghentikan—bahkan sesaat, langkahnya menuju pintu depan sekolah. Pintu depan sekolah itu tampak sama antiknya dengan gerbang depan, walaupun begitu ke semuanya tampak terawat dengan baik dari gagang pintu hingga struktur kayu dasar pintu besar dan tebal tersebut. Di depan pintu si anak remaja berhenti, kemudian kepalanya menengadah, dan melihat sebuah kamera pengawas mengamatinya. Lalu dia menekan tombol interkom yang ada di samping kanan pintu. Remaja itu tidak berbicara apa-apa, ia hanya menekan tombol itu,lalu tidak lama dilepaskannya begitu saja—dia tahu akan ada orang yang akan datang menjemputnya.

     Tidak lama kemudian pintu depan sekolah terbuka. Seorang biarawati menyambutnya dengan sikap yang terlihat agak buru-buru. “Kau sudah datang,” kata si biarawati.”Cepat-cepat, jangan sampai ada yang tahu keberadaanmu!” Biarawati itu berjalan dengan langkah cepat—namun anak remaja itu sama sekali tidak menggubris perintah si biarawati, dia melangkah dengan normal—karena betapapun cepat langkah si biarawati, anak remaja itu selalu tetap berada di belakangnya.Biarawati itu menunjukkan kamar untuk si anak remaja tinggal, dan setelah berjalan berliku-liku mereka sampai di sebuah lorong pendek yang berujung pada sebuah pintu kecil dengan tiga anak tangga.

     “Ini kamarmu…” si biarawati membuka pintu kamar, dan mempersilahkan si anak remaja masuk. “Masuklah,” lanjut biarawati.”Kau akan disini… aku akan mengunci pintu kamarnya, dan bila waktunya tiba kau tahu kapan harus keluar.” Si biarawati langsung mengunci pintu kamar sesaat setelah si anak remaja masuk, dan dengan tergesa-gesa ia melesat pergi.

    Di dalam kamar yang kecil itu si anak remaja melepaskan tasnya, lalu membuka ikatan tali yang melilit pada tas tersebut. Tas yang berbentuk silinder itu ternyata bukanlah tas sama sekali—melainkan sebuah pembungkus yang berisikan sebilah pedang. Pedang tersebut berbentuk agak melengkung—sebilah katana yang tampak tajam dan mematikan. Tas pembungkus ia hempaskan ke lantai sambil mengayunkan pedangnya ke bawah. Lalu dari bawah sepatu si anak remaja itu muncul semacam kabut yang sangat tebal hingga membuat bayangannya lenyap dan menutupi cahaya rembulan yang datang dari jendela yang ada di hadapannya…

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

    Pagi menjelang di sekolah asrama St.Lucas. Keramaian suara murid-murid merebak di sekeliling sekolah. St.Lucas adalah sekolah asrama laki-laki, dan layaknya sekolah yang dipenuhi remaja laki-laki, sekolah itu di penuhi dengan aroma testosteron dimana-mana. Kelas sebentar lagi dimulai, para murid sudah ada di tempat duduk mereka masing-masing. Belum datangnya guru membuat mereka melakukan kekisruhan mereka sendiri—sebagian ada yang saling lempar-lemparan kertas,ada yang sedang mengobrol, mengupil, atau menyibukkan diri dengan berbagai teknologi ponsel.

    Lalu ada satu remaja yang sedang tidur dengan pulas di bangkunya, namanya Alex Cometh. Seorang pelajar yang cerdas, namun dia murid yang paling sering tidur di kelas. Di samping kirinya ada Indra Banerjee, dia adalah teman baiknya Alex. “Hei, Alex bangun… Alex—si setan botak datang!” tegur Indra. Seorang pria berusia sekitar 50 tahunan datang memasuki kelas. Dengan postur tinggi dan tegap, ia menempatkan diri di depan papan tulis—menatap keras para murid hingga membuat suasana kelas yang tadinya ramai langsung berubah sunyi dalam sekejap. Pria ini adalah Prof. Guttenberg—dikenal juga sebagai si setan botak oleh para murid St. Lucas karena sifatnya yang galak—yang jika marah, wajahnya akan terlihat seperti setan!

    Prof.Guttenberg memandangi satu persatu ke dua puluh murid yang ada di kelasnya, dan ia langsung menatap tajam satu anak murid yang selalu membuatnya kesal. Mengetahui itu Indra menendang dengan keras betis Alex untuk usaha terakhir membangunkan temannya. “Aww..!” teriak Alex. “Sakit tahu…Apa-apaan kau ini—“

     “Mimpimu indah Alex..?” sindir Prof. Guttenberg. Alex kaget, dan hanya bisa menyeringai malu-malu. Seperti bisa ditebak apa yang akan terjadi—Alex diseret keluar dari kelas untuk menerima hukuman. Alex tampak terbiasa dengan hal ini. Dia berdiri di lorong dengan wajah santai, dan terlihat sama sekali tidak peduli pada masa depannya nanti. Alex hanya menggaruk kepalanya. Dia memiliki rambut lebat dan berantakan berwarna coklat gelap. Pakaian seragamnya pun terlihat tidak rapi—dengan membiarkan dasinya dalam keadaan kendur. Alex lalu memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar lorong sekolah. St.Lucas memiliki lorong-lorong yang berliku, dan luas sekolah yang sebesar luas lapangan bola—itu belum termasuk halamannya.

     Dari sudut kiri lorong Alex berpapasan dengan Prof.Agatha—seorang biarawati yang mengajarkan Teologi.

     “Alex.. apa kau diusir dari kelas lagi?” kata Prof.Agatha. “Kapan kau mau sadar Alex.. sudah saatnya kau bersikap serius dengan hidupmu—ini demi masa depanmu sendiri.” Prof.Agatha menghela napas dengan penuh simpatik. Alex tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menundukkan kepalanya tanpa ada perasaan bersalah. Saat mengangkat kepalanya, ia memperhatikan ada seorang remaja yang belum pernah ia lihat sebelumnya sedang berdiri mengekor Prof.Agatha. Prof.Agatha menyadari, dan dia pun memperkenalkan si remaja itu pada Alex.

     “Oh, maafkan Ibu… Ini adalah murid baru yang baru datang tadi pagi.Namanya Yogi Mochtar—dia berasal dari Jakarta, Indonesia—Yogi, Alex…Alex, Yogi.”

     “Hai…” sapa Alex dengan santai. Anak baru itu hanya mengangguk—wajahnya terlihat agak memerah.

     “Baiklah, ayo kita ke kelas untuk menemui Prof.Guttenberg, dan teman-temanmu yang lain—kau jangan sampai terlalu dekat dengan temanmu yang satu ini… dia pengaruh yang kurang baik!” sindir Prof.Agatha sambil melangkah pergi. Alex mengamati ketika keduanya berjalan meninggalkannya. “Ya, selamat datang di sekolah yang membosankan ini…” kata Alex dengan suara pelan. Dia pun lalu melanjutkan jalan-jalannya mengitari lorong.

     Pelajaran sesi pertama usai, waktunya makan siang. Kebanyakan murid berada di kantin yang ada di lantai bawah. St.Lucas memiliki lima lantai, dan kantin menjadi tempat bergaul paling ramai selain lapangan olahraga sekolah. Namun ada enam orang murid yang memilih menghabiskan waktu di taman sebelah timur sekolah. Mereka adalah Indra Banerjee, Kenji Takamura, Gabriel Blitz, Leonne Valliere, Erick van Hamberg,dan Yogi Mochtar.

     “Alex bangunlah…” ujar Indra pada Alex yang tampak sedang tidur-tiduran di bawah pohon ebony. Bersantai di bawah pohon adalah kesukaannya Alex. Remaja pemalas itu bangkit. “Ada apa?” jawab Alex.

     “Yogi, perkenalkan ini adalah kapten kami—dan akan menjadi kaptenmu.”

     “Kau membuatku terkesan norak sekali, Indra—“ kata Alex.

     “Kami sudah bertemu…Halo…” sapa Yogi dengan sikapnya yang culun. Yogi tampaknya adalah remaja yang sangat mengikuti peraturan. Dia memakai seragamnya begitu rapi dari kancing hingga dasi terpasang dengan sempurna. Dia juga bahkan memangkas cepak rambut hitamnya.

     “Kau tampak tegang sekali Yogi,” kata Alex. ”Santai saja—dan jangan dengar pada apa yang Prof.Agatha bilang. Aku tidak sepenuhnya pengaruh buruk.” Alex memberikan senyuman sahabat pada anak baru itu.

     Suatu malam salah seorang siswa pergi ke toilet untuk buang air kecil, saat siswa-siswa yang lain sedang tidur. Suasana sekolah terasa sunyi. Dia hanya mendengar suara percikan air seninya sendiri—tapi entah darimana ada

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

suara yang lain. Suara itu terdengar seperti gesekan benda tajam yang sedang merobek dinding. Siswa itu mencoba mendengarkan baik-baik suara itu, karena suara itu terdengar semakin keras. Selesai buang air ia mencari tahu darimana suara aneh itu berasal. Dia melangkah menyusuri lorong gelap sekolah, dan sampai pada bagian depan pintu masuk perpustakaan—siswa itu membukanya,dan wajahnya langsung memucat ketika ia melihat sesosok bayangan laki-laki sedang mengukir sesuatu menggunakan semacam pedang di lantai marmer di tengah ruangan. Siswa itu semakin merinding saat melihat di bawah kaki sosok itu ada tumpukan tubuh tak bernyawa tergeletak berlumuran darah. Melihat itu lututnya langsung lemas, dan ia pun jatuh terduduk. Malangnya, sosok itu segera mengetahui keberadaannya, dan dengan gerakan begitu cepat sosok itu melesat menghampiri siswa tersebut—siswa itu berteriak, tapi sedetik kemudian kepalanya telah di lubangi benda tajam,dan membelahnya menjadi dua.

     Alex terbangun dari tidurnya, ia merasa mendengar sesuatu.Dia keluar dari kamarnya untuk memastikan, dia menengok ke kanan dan ke kiri pada lorong gelap yang hanya di terangi sedikit cahaya dari bulan yang masuk dari jendela-jendela lorong.Alex mengambil jalan ke kanan, langkahnya tenang saat memasuki tikungan kanan—tapi di tengah jalan ia menginjak sesuatu yang lengket dan basah. Alex berlutut memeriksa apa yang telah dia injak. Karena gelap dia hanya bisa mencium cairan lengket apa itu setelah ia merabanya sedikit dengan jari.

     “Ini darah..!” kata Alex kaget. Wajah tenangnya berubah menjadi ekspresi yang penuh waspada. Jantungnya berdegup kencang—namun Alex bukan tipe orang yang lari ketakutan tanpa menyelidiki terlebih dahulu. Jadi dia melanjutkan langkahnya, walaupun dengan langkah yang sangat tegang Alex terus melangkah hingga sampai pada pintu masuk perpustakaan…Alex membuka pintu… di sana, di depannya di bawah sinar bulan Alex melihat setumpukan mayat teman-temannya tergeletak bersimbah darah diatas ukiran berbentuk lingkaran dengan simbol-simbol rumit.

     Kengerian tampak jelas dari wajah Alex, tapi ia tidak jatuh tersungkur, ia mundur kebelakang—menyadari apa yang dia lihat adalah sesuatu yang sangat serius—bukan salah satu lelucon yang biasa ia buat di hari Halloween. Alex berlari kembali ke kamarnya, ia coba menyalakan lampu—tapi saklarnya tidak berfungsi. Listriknya mati! Alex langsung menuju ke meja yang ada di sebelah tempat tidurnya, dengan sigap ia membuka laci untuk mengambil senter, dan dengan sigap ia pun segera membangunkan teman sekamarnya Indra. “Indra bangun!” Alex menggoyang-goyangkan badan Indra untuk cepat menghentikan mimpi temannya. Dia menyoroti wajah Indra dengan senter, ada bekas air liur mengering di pipinya. Kalau di waktu biasa itu akan menjadi pemandangan yang lucu—tapi tidak sekarang. Alex menampar wajah Indra. “Bangun Indra..!” dengan suara kencang tepat di telinga Indra.

     “Alex..?” Indra terbangun secara terkejut dengan gendang telinga yang sakit. “Kenapa kau ini—jam berapa sekarang?”

     “Dengar, kita harus keluar dari sini… ada kemungkinan seorang pembunuh gila berkeliaran di sekolah ini!”

     “Oh, Alex aku sedang tidak berselera untuk ikutan membuat kejahilan hari ini—tolonglah…”

     “Aku sedang tidak sedang bercanda Indra—“ Alex menyadari Indra tidak menganggapnya serius, dan Alex memaklumi hal itu, tapi ini sama sekali bukan lelucon. “Indra dengarkan aku!” Alex menampar wajah Indra dengan keras, ia memaksa temannya untuk membuka matanya. “Tatap mataku—tatap mataku… apa aku terlihat sedang main-main?”

     “Kau…serius..?” Indra menatap wajah Alex. Dia melihat wajahnya penuh keringat, dan tubuhnya gemetar.

     “Astaga, kau benar-benar serius!”

     “Cepat bangun, dan keluar dari sini… bawa senter, dan tongkat kriket-mu. Aku akan membawa tongkat kasti-ku…” Alex beralih kembali ke tempat tidurnya untuk mencari tongkat kasti-nya.

     “Memangnya ada apa dengan listriknya?” tanya Indra.

     “Mati! Kemungkinan ada yang memutus sekeringnya…kita bangunkan teman-teman yang lain.”

     Mereka berdua keluar dari kamar, Alex yang melangkah terlebih dahulu. Dia memantau sekeliling dan berjalan perlahan. Indra mengekor di belakangnya, ia masih belum menyerapi apa yang terjadi, dia tidak tahu apa ini sungguhan atau hanya bagian dari kejahilannya Alex. Mereka menuju ke kamar sebelah,kamar Kenji dan Erick berada. Alex membangunkan keduanya setelah melalui proses yang sama seperti saat membangunkan Indra. Sekarang keempat remaja ini menuju ke tiap kamar dan mengumpulkan teman-teman mereka.

     Mereka sampai di kamar Gabriel, dan Leonne. Kenji, dan Erick membangunkan Gabriel, dan menjelaskan apa yang terjadi—walaupun belum sepenuhnya yakin. Tapi Alex tidak menemukan Leonne di tempat tidurnya.

     “Dimana Leonne..?” tanya Alex. Gabriel hanya menggeleng, ia masih dalam keadaan ngantuk dan bingung. Tahu ini bukan hal yang bagus, Alex meminta agar keempat temannya tetap bersatu, dan tidak berpencar. “Kita harus menemukan Leonne..!” kata Alex. Dalam pikirannya ia menduga yang terburuk pada temannya itu.

     “Kita juga harus menemukan Yogi.” kata Indra.

     “Benar, anak baru itu… dimana kamarnya?” tanya Alex.

     “Kamarnya ada di sebelah sana, melewati perpustakaan.” ujar Kenji. Alex mengumpat. Apa boleh buat mau tidak mau dia, dan teman-temannya harus menghadapinya juga. “Baiklah, ayo!” seru Alex. Mereka menyusuri lorong menuju perpustakaan. “Hati-hati langkah kalian.” tambah Alex. Dari sorotan senter keempat remaja menyorot cahaya ke arah lantai, dan mendapati lantai lorong sekolah di banjiri jejak-jejak darah yang terlihat masih segar. Keempatnya saling memandang ke wajah masing-masing, memperlihatkan ekspresi wajah ngeri yang bersamaan. Kini mereka sangat yakin kalau Alex berkata yang sebenarnya.

     Alex memasuki perpustakaan diikuti teman-temannya. Disana kengerian akan lebih menjadi bagi keempatnya setelah melihat tumpukan mayat yang tergeletak di tengah ruang tersebut. Mereka menahan napas, mengumpat, menyumpah, dan hampir terjatuh pingsan. Indra membekap mulutnya sendiri menahan muntah, Kenji berdiri kaku mematung layaknya reaksi shock yang tinggi, Gabriel dan Erick tersungkur di lantai dengan tubuh gemetaran.

     Tanpa ada keraguan, atau perasaan jijik, Alex  menyisir tumpukan mayat, memindahkan, lalu mengamati baik-baik tiap tubuh yang telah mati dengan sorotan senternya. “Tubuh mereka dalam keadaan terpotong-potong…” ulas Alex. “Mereka di bunuh dengan pedang, atau parang yang sangat tajam. Hmm… “ Alex mencoba mengidentifikasi siapa saja mereka, dia menyorotkan senter ke wajah korban. “Mereka anak kelas 1 dan 2,” Alex menghela napas. “Bagus, tidak ada Leonne di sini,” kata Alex lega. Dia berlanjut pada ukiran melingkar yang misterius di lantai. “Simbol macam apa ini… apa semacam bentuk ritual?” Alex mengamati lama simbol-simbol itu, tapi ia kemudian menoleh ke teman-temannya yang tampak sedang ketakutan. “Teman-teman ayo cepat kita cari Yogi, dan Leonne. Aku harap mereka masih hidup.”

     Alex memimpin jalan, dan setelah menyaksikan ini dia tahu keempat sahabatnya kemungkinan akan mengalami trauma berat. Tanda-tandanya sudah terlihat dari Kenji yang sejak tadi berdiri dengan kaku. Alex terpaksa harus menyeretnya keluar dari perpustakaan, dan menenangkannya. “Me… mereka mati… aku…aku…”

     “Sudah Kenji, tenanglah. Kita akan keluar dari sini setelah kita menemukan Leonne, dan Yogi, okey… kalian bertiga apa baik-baik saja?”  tanya Alex dengan simpatik. Mereka semua masih dalam keadaan shock, tapi Alex sangat awas pada situasi sekarang, dan mereka tidak punya waktu untuk terjebak pada rasa takut di malam yang mengerikan ini. Setelah Alex berhasil meyakinkan teman-temannya untuk terus maju, mereka pun sampai di depan pintu kamar Yogi. “Tunggu… “ seru Alex tiba-tiba. “Ada yang datang—matikan senter kalian!” Semua mematikan senter saat terdengar suara langkah kaki seseorang datang dari sudut lorong berjalan mendekat. “Kalian semua sudah mempersiapkan senjata kalian,kan!” bisik Alex. Dengan tegang, dan tangan berkeringat kelima remaja menyiapkan kuda-kuda untuk mempertahankan diri.

     “Ada orang di situ..?” tanya seseorang dari sudut gelap. Kelima remaja serentak menyalakan senter mereka kembali, dan menemukan seorang remaja yang terlihat kesilauan di hadapan mereka. “Leonne..!” seru kelima remaja itu dengan wajah melebar. Mereka segera memeluk anak remaja yang bertubuh tinggi itu dengan perasaan lega, dan senang mengetahui ia dalam keadaan selamat.

     “Apa yang terjadi… kenapa listrknya tiba-tiba mati?” tanya Leonne pada teman-temannya. Mereka saling diam, dan mengalihkan pandangan ke Alex. “Kau darimana saja Leonne..?” tanya balik Alex.

     “Aku baru saja mau pergi ke toilet, tapi lampu tiba-tiba mati, jadi aku ingin kembali ke kamar untuk mengambil senter, dan malah bertemu kalian.”

     “Begitu, ya,” kata Alex sambil memicingkan mata. “Baiklah, kuatkan dirimu Leonne, kau akan tahu sendiri apa yang sedang terjadi nanti. Untuk sekarang kita harus membangunkan Yogi.” Alex membuka pintu, dan masuk ke dalam.

      Terlihat dua tempat tidur. Tempat tidur yang ada di sisi kanan kamar tampak kosong, sedang tempat tidur di sebelahnya tampak ada yang sedang tidur dengan selimut menutupi rapat. Alex membuka perlahan selimut tersebut, dan tanpa ada rasa terkejut pun Alex mendapati tubuh bersimbah darah yang sudah tidak bernyawa di tempat tidur itu.

     “Oh, tidak… Yogi!” kata Indra sambil menaruh tangannya menutupi mulut.

     “Siapa yang tega melakukan ini semua—brengsek!” murka Erick.

     “A… apa-apaan ini… teman-teman apa yang sedang terjadi disini… ini bohong,kan!” ujar Leonne gemetar. Gabriel merangkul temannya agar bertahan dari apa yang dia lihat. “Tenanglah, ayo kita keluar dari sini.” ajak Gabriel.

     “Tunggu…” ujar Alex. “Ini bukan Yogi—mungkin teman sekamarnya. Sekali lagi kita harus mencari teman kita yang hilang. Setelah itu kita harus segera keluar dari sini. Oh, iya—Kenji, cepat hubungi polisi dengan ponselmu.”  Kenji mengangguk, dan dengan sigap mengambil ponsel dari kantung celananya. Sementara Kenji menelpon, Alex menyisir kamar dengan lampu senternya, mencari semacam petunjuk di kamar tersebut. Dia menemukan identitas dari teman sekamar Yogi. Namanya Donnie Rodriguez, dari Spanyol. Tapi anehnya Alex tidak menemukan barang-barang pribadi Yogi dimanapun. “Indra…” panggil Alex. “Kau yakin ini kamarnya Yogi.”

     “Ya, dia sendiri yang mengajakku melihat kamarnya.”

     “Hmm… tapi aneh, aku tidak menemukan satupun barang pribadinya. Apa kau tahu sesuatu tentang dia Indra?”

     “Dia,kan anak baru—tentu saja aku tidak tahu banyak tentang dia… astaga, aku mau muntah! Alex ayo kita keluar dari kamar ini, aku sudah tidak tahan lagi!”

     Mereka semua keluar dari kamar sambil menghela napas. Indra menyandarkan tubuhnya di tembok sambil membungkuk untuk meredam rasa mual yang dia rasakan tiap kali mencium bau darah atau kematian. “Jangan-jangan,” kata Indra sambil menyelaraskan napasnya. “Setengah dari murid-murid St. Lucas sudah dibantai habis oleh pembunuh itu..!”

     “Apa itu benar Alex…”tanya Erick. “Karena aku tidak mau mati disini—“

     “Tidak ada yang akan mati!” tegas Alex, mencoba menguatkan semangat teman-temannya. “Dengar, memang kemungkinan itu ada—kalau sekolah kita telah menjadi ajang pembantaian seorang pembunuh gila! Tapi kita saat ini masih hidup, dan aku berjanji kita akan keluar dari sini. Sekarang yang terpenting adalah mencari teman-teman kita yang mungkin masih hidup, dan berharaplah kalau pembunuh gila itu cuma satu orang. Jadi ayo kita cari teman kita Yogi.”

     Mereka mendengarkan Alex yang memang sudah seperti pemimpin bagi teman-temannya. Itu sebabnya walau sebenarnya Alex sama takutnya dengan yang lain, ia tidak membiarkan rasa takut itu terlihat oleh mereka. Dia berusaha tegar sebisa mungkin untuk mereka. Dan sekali lagi ia tunjukkan sifatnya itu pada temannya Kenji, yang  terlihat masih ketakutan.

     “Kenji, apa kau sudah berhasil menelpon polisi?” tanya Alex.

     “Aku tidak mau mati…” gumam Kenji dengan lutut gemetar.

     “Kenji…”

     “Aku tidak mau mati… aku tidak mau mati…aku tidak mau mati…”

     “Kenji sadarlah!” teriak Alex sambil menampar wajah Kenji. Anak remaja yang seorang pecinta teknologi itupun tersadar, dan matanya kembali terfokus oleh tatapan Alex. “Kau akan baik-baik saja, okey…aku berjanji padamu…” kata Alex. “Jadi apa kau sudah menelpon polisi?”

Kenji menggeleng. “Sepertinya ada kelebihan pengaruh magnetis yang menyebabkan gelombang radio mengalami distorsi frekuensi hingga akhirnya menjadi putus dan buyar pada status aktivasinya.”

     “Dan itu artinya..?”

     “Kita tidak punya sinyal.”

     “Hebat, ayo jalan…” ajak Alex sambil menepuk pundak Kenji dengan santai.

     Mereka kembali menyusuri lorong, dan memeriksa tiap kamar, dan kelas. Tiap pintu yang mereka buka kini yang mereka temukan adalah lagi-lagi tubuh tak bernyawa murid-murid St.Lucas yang bersimbah darah. “Ini aneh,” kata Gabriel. “Dimana petugas keamanan sekolah. Apa mereka sudah dibunuh terlebih dahulu?”

     “Aku yakin begitu,” ketus Erick. “Kalau tidak, kita sudah melihatnya sekarang, dan tidak akan ada mayat bergelimpangan di sekolah ini!” Erick mengepalkan telapak tangannya, mengeraskan genggamannya yang sedang memegang tongkat kriket. Remaja ini merupakan pemain kriket terbaik di St.Lucas, tapi ia juga terkenal dengan sifat pemarahnya yang jika berada di kondisi tertekan ia bisa menghajar orang hingga pingsan—dan itu pernah terjadi tiga bulan yang lalu.

     Melewati tikungan terdengar suara langkah kaki dari dalam sebuah kelas. Keenam remaja mendengarnya, dan menyiapkan diri dari kejutan terburuk. Masing-masing menyiagakan tongkat olahraga mereka saat mereka mendekati pintu kelas tersebut. Pintu kelas membuka—ada yang membukanya dari dalam, mereka kaget, dan ketika pintu kelas terbuka penuh serentak Indra, Kenji, Gabriel, Alex, dan Erick berteriak sambil mengayunkan tongkat olahraga mereka ke arah seorang remaja dengan noda darah di baju piyamanya.

     “Stop..!” teriak Alex. “Yogi… apa kau tidak apa-apa?” Alex dan yang lain menurunkan tongkat mereka.

     “Aku melihatnya…” Yogi berbicara dengan suara datar, matanya tampak layu, dan ia kemudian tersungkur ke lantai sambil terus mengucapkan kalimat yang sama berulang-ulang.

     “Yogi… lihat aku,” kata Alex. “Siapa yang kaulihat—apa kau melihat pembunuh itu?”

     “Aku melihatnya… sesosok gelap dengan membawa pedang di tangan kirinya… dia membunuhi semua orang!”

     “Apa kau melihat dengan jelas wajahnya?”

Yogi hanya menggeleng, wajahnya berkeringat dan tampak tegang.

     “Baiklah,” lanjut Alex. “Ayo bangun… Indra, Gabriel, bantu dia berdiri. Sudah saatnya kita keluar dari sini!”

     Sekarang keinginan satu-satunya mereka adalah keluar dari sekolah secepatnya. Bergegas sekuat langkah mereka berjalan menuju pintu depan yang berada di lantai pertama, sedang ke tujuh remaja itu berada di lantai tiga. Menuruni tangga tiga lantai serasa seperti menuruni ratusan anak tangga yang tidak ada ujung akhirnya. Dan ketika mereka akhirnya sampai, Erick langsung lari ke arah pintu mendahului teman-temannya dengan tidak sabar ingin segera keluar. Namun ia segera kecewa setelah tahu… “Pintunya terkunci—bagaimana ini!”

     “Tentu saja pintu itu terkunci,” kata Alex. “Pintu itu seharusnya dalam keadaan terbuka lebar.”

     “Kalau begitu untuk apa kita bersusah payah kemari?” protes Erick.

     “Hanya untuk memastikan. Dengan ini sudah jelas kalau pembunuh itu bukan datang dari luar!”

     “Apa maksudmu Alex—“

     “Maksudku, sejak awal pembunuh itu sudah ada di dalam sekolah ini!”

     “Tunggu Alex,” kata Gabriel. “Pembunuh itu pasti masuk lewat pintu belakang,kan.”

     “Tidak… karena pintu—bahkan jendela memiliki alarm keamanan, dan kamera pengawas. Kalau pembunuhnya datang dari luar, petugas pasti sudah membekuknya. Itu sebabnya si pembunuh memutus listriknya--tapi kita semua tahu kalau sekering listrik berada di ruang basement, jadi pembunuh itu berarti sudah ada di dalam sekolah sejak awal untuk mematikan listriknya—dia bahkan juga memutus listrik cadangannya.”

     “Jadi sejak awal pembunuh itu bersembunyi di dalam sekolah ini, Alex.” kata Indra sambil mendudukkan Yogi di atas bangku panjang yang menyandar di tembok. “Ya… “ jawab Alex. “Atau menyamar menjadi salah satu dari kita, atau menjadi salah satu pengajar, atau petugas keamanan—yang itu menjelaskan bagaimana ia bisa memutus listriknya tanpa di ketahui siapapun.”

Mereka semua saling pandang dengan tatapan tidak percaya. Alex sadar ini bisa memecah kebersamaan mereka, tapi apa boleh buat. “Yang paling penting sekarang,” lanjut Alex. “Kita pergi mencari kunci pintu sekolah, dan menghidupkan kembali listriknya. Aku… aku juga mulai sekarang memutuskan untuk menangkap pembunuh itu!”

     “Apa..!” seru Indra. “Apa kau sudah gila!”

     “Aku harus melakukannya Indra—“

     “Tidak..!”

     “Dengar, begitu kita keluar dari sini lalu apa? Pembunuhnya masih berkeliaran, dan pada akhirnya kita semua akan mati! Apa kita akan membiarkan teman-teman kita tergeletak begitu saja menjadi daging busuk. Aku harus melakukan ini, karena sebenarnya… aku sudah mengetahui identitas pembunuh itu!”

     “Apa,” kata Leonne. “Siapa… siapa pembunuh itu Alex?”

     “Aku akan pergi ke basement—sendirian, kalian semua pergilah ke ruang keamanan untuk mengambil kunci, dan tunggu aku disana. Hidupkan semua kamera pengawas. Jika terjadi apa-apa gunakan pengeras suara sebagai tanda bahaya.”

     “Kau sendiri bilang untuk jangan berpencar,” protes Indra. “Tapi kau mau ke ruang basement sendirian—apa-apaan kau Alex!”

     “Percayalah Indra aku akan baik-baik saja…” Alex memandangi teman-temannya dengan seksama. Wajah mereka tampak kuatir. Wajah dari sahabat-sahabat yang baik. “Okey, aku pergi sekarang.” Alex mundur kebelakang, lalu memutar tubuhnya sambil berlari dengan cahaya senter memandunya. Dia berlari dari tikungan ke tikungan lorong, tampak sangat hafal betul dengan arah jalannya. Itu dikarenakan Alex memiliki ingatan peka yang fotografis. Semenjak datang ke St.Lucas ia selalu menyempatkan diri mengelilingi sekolah, dan dalam sekali lihat ia sudah dapat membuat denah sekolah dengan rinci di dalam kepalanya.

     Hanya dalam beberapa detik melewati lorong yang berliku, Alex sudah sampai di ruang paling bawah sekolah St.Lucas. Tanpa buang waktu dia segera ke panel sekering, dan menarik tuas ke posisi menyala. Terdengar suara tegangan listrik begitu Alex menarik tuas tersebut, dan St.Lucas kembali aktif. Dia kembali bergegas ke teman-temannya yang seharusnya sudah berada di ruang keamanan.Ruang keamanan itu ada di bagian timur lantai satu. Kini setelah sekolah dalam keadaan terang, terlihat dengan jelas sekarang lorong-lorong yang di penuhi bercak-bercak darah. Alex berlari, dan berusaha abaikan pemandangan mengerikan di sekitarnya.

     Tapi sampai pada sebuah pintu, Alex berhenti. Sebuah pintu kantor milik Prof.Agatha, pintunya setengah terbuka. Alex merasa aneh, karena para guru tidak tinggal di asrama, jadi kantor ini semestinya terkunci. Alex memasuki kantor. Dia belum pernah masuk ke kantor Prof.Agatha sebelumnya—biasanya dia selalu mondar-mandir di kantor Prof.Guttenberg untuk menerima hukuman. Begitu melangkah masuk ke dalam, aroma bunga rosemary tercium memenuhi ruangan, mengalahkan bau darah yang ada di hampir tiap ruangan di sekolah saat ini.

     Tidak ada hal yang mencurigakan di kantor Prof.Agatha, hanya berisikan buku dimana-mana, di meja, di rak, di lantai—tapi Alex merasa buku-buku ini hanya sekedar hiasan dekorasi saja untuk memenuhi ruangan. Buku-buku ini seperti sedang menutupi sesuatu, dan saat Alex sedang mengitari ruangan tanpa sengaja ia tersandung tepian permadani bundar yang ada di tengah ruangan. Dari balik permadani itu terlihat semacam ukiran melekat pada lantai. Alex melirik, diapun curiga, dan langsung membuka permadani itu dengan sigap.

     Alex melotot. “Ini ukiran aneh yang sama dengan yang ada di perpustakaan,” katanya. “Kenapa di kantor Prof.Agatha ada ukiran aneh seperti ini? Ukiran ini terlihat sudah lama di bandingkan dengan ukiran yang ada di perpustakaan. Apa yang Prof.Agatha ketahui mengenai ukiran dengan simbol-simbol aneh ini—“

     “Alex..!” Seseorang memanggil dari pengeras suara. “Kau baik-baik saja… datanglah ke ruang keamanan, kau harus melihat ini!”

Alex terkesiap, dan segera bangkit menuruti panggilan. Tapi ia lalu berhenti di depan pintu. “Aku melewati ini tampaknya,” Alex menjurus pada grendel pintu kantor. “Pinggirannnya habis ditebas pedang! Jadi ada orang yang menyelinap masuk, atau menyelinap keluar?” Sambil berpikir ia berlari menuju ruang keamanan.

     “Ada apa..?” tanya Alex setelah sampai pada teman-temannya.

     “Lihat ini…” tunjuk Indra pada salah satu monitor pengawas. “Aku rasa kita telah menemukan siapa pembunuh gila itu.” Tampak dari layar monitor seorang remaja sedang berdiri di depan pintu masuk sekolah berpakaian serba hitam pada tengah malam. “Ini adalah cuplikan rekaman kamera pengawas dua hari yang lalu,” lanjut Indra. “Tapi yang paling mengejutkan adalah ada seseorang yang menyambutnya… dari kelihatannya itu seperti Prof.Agatha!”

Alex menatap layar monitor. “Sebenarnya aku juga menemukan sesuatu yang aneh dari kantor Prof.Agatha…” Alex terdiam tak bisa berkata apa-apa, dia terpaku pada layar monitor, mengamati sosok biarawati yang ada di rekaman itu. Tidak salah lagi itu Prof.Agatha, biarawati yang ada disini hanyalah dia.

     “Baiklah,” ujar Erick. “ Ayo kita segera temukan si brengsek ini dan kita selesaikan secepatnya!” Sambil memukul-mukulkan tongkat kriket ke telapak tangannya. Alex tidak menyambut ajakan berbahaya dari Erick, dia menoleh ke arah dua mayat petugas keamanan yang tampak habis di geser ke sudut. Alex menghampiri tubuh dari kedua petugas keamanan tersebut. Ia memperhatikan salah satu petugas keamanan itu menggenggam sesuatu. Alex memperhatikan dengan teliti apa yang ada di genggaman petugas keamanan itu—sebuah sobekan kain. Alex tertegun, dan diam-diam dia menyisir pandangannya ke arah teman-temannya. “Kenji…” panggil Alex. “Apa kau sudah menelpon polisi dengan menggunakan telepon yang ada disini?”

     “Iya, sudah—“ jawab Kenji. “Awalnya mereka pikir kita sedang mengerjai mereka, tapi Erick menggunakan otoritasnya sebagai anak komisaris, dan meyakinkan mereka supaya datang secepatnya kemari.”

     “Bagus, terima kasih Kenji.”

     “Alex kaubilang kau sudah tahu siapa pembunuh itu,” kata Indra. “Apa yang kau maksud orang ini?” Indra menunjuk ke layar monitor.

     “Tentu saja,” seru Erick. “Siapa lagi kalau bukan orang itu—“

     “Bukan,” sahut Alex. “Bukan orang itu… kalaupun iya, itu berarti kita mempunyai dua tersangka.”

     “Dua tersangka, apa maksudmu?” kata Gabriel.

     “Pembunuh itu ada diantara kita… dia salah satu dari kita…”

     “Apa..!” Serentak mereka semua berseru terkejut dengan kesimpulan Alex, dan Erick yang tampak paling tidak bisa menerima kesimpulan tersebut. “Apa kau gila Alex! Bagaimana mungkin kau menuduh salah satu dari kita sebagai pembunuhnya. Dengar, kita sudah mendapatkan siapa pembunuh itu, dan tinggal menemukannya. Dia pasti bersembunyi disekitar sini, kita temukan pembunuh itu, kita hajar, lalu kita serahkan dia ke polisi! Ayo teman-teman kita ada ber-enam, kita pasti bisa mengalahkan pembunuh itu. Siapa yang mau ikut denganku?”

     Dengan semangat seperti singa, dan wajah yang tampak geram Erick melangkah keluar dari ruang keamanan. Semua memandang Erick, lalu menatap Alex, menimbang-nimbang pada siapa mereka harus menngikuti. Kemudian satu-persatu mereka keluar—memutuskan untuk mengikuti Erick. Yang masih tertinggal adalah Kenji, dia masih menimbang-nimbang apa harus mengejar bahaya dengan mengikuti Erick, atau tetap disini, dan menunggu mati. Alex yang sejak tadi masih berdiri, memutuskan untuk keluar dari ruang keamanan, dan mengikuti teman-temannya. Dari belakang Alex berjalan dengan langkah dingin, dia menatap tajam teman-temannya, tapi bukan semua temannya, hanya satu orang yang dia tatap dengan bengis. Lalu dengan tiba-tiba Alex berlari ke arah temannya itu, dan mengayunkan tongkat kasti tepat ke belakang kepalanya.

     Sayangnya tongkat kasti itu tidak mendapati targetnya. Sebuah tangan yang cepat, dan cekatan menangkap dengan tangkas tongkat kasti tersebut. Tapi Alex sudah memperkirakan gerakan tangan itu—sebab sejak awal dia tidak ada niat untuk mengincar kepalanya. “Aku tidak tahu kalau kau bertangan kidal…Leonne.” kata Alex. Leonne yang tampak kaget berbalik badan sambil menghempas tongkat kasti yang ia tangkap. “Ada apa denganmu Alex? Kenapa kau ingin memukulku?”

     “Aku juga tidak tahu kalau refleks tanganmu setajam tadi… sejak kapan kau punya mata dibelakang kepalamu?”

     “Cukup sudah Alex,” ujar Erick. “Kau sudah keterlaluan!”

     “Dengarkan aku!” tegas Alex. “Dialah pembunuh gila yang sedang kita cari—“

     “Aku..? Kau sudah benar-benar gila Alex! Kau yang tadi berusaha menyerangku—bagaimana kalau ternyata kaulah pembunuh itu!” ujar Leonne balik menuduh.

     “Ketika kau menghilang, lalu kau menemukan kami. Aku sudah mencurigaimu sejak awal. Kau bilang sedang menuju ke toilet, tapi lampu tiba-tiba mati, lalu kau bertemu dengan kami—itu sangat aneh. Karena jarak dari kamarmu ke toilet itu dekat, dan listrik pada saat itu sudah dalam keadaan mati. Lalu aku memperhatikanmu saat itu.

Bisa kau jelaskan noda darah yang ada di lengan kirimu?”

Leonne memeriksa lengan kirinya. “Ini… ini noda darah dari baju piyama Yogi—ya, Yogi di penuhi bercak darah, bagaimana kau menjelaskan itu Alex? Bisa jadi dialah pembunuhnya!”

     “Seingatku yang membantu berdiri Yogi adalah Indra, dan Gabriel. Jadi kalau ada orang yang akan terkena noda darah dari piyamanya Yogi adalah mereka berdua. Oh, iya ada satu hal lagi! Kenapa ujung celanamu bisa ada yang sobek Leonne?”

Leonne memeriksa ujung celananya, dan terlihat sobekan kecil di ujung celana di bagian kaki kanannya. “Aku… aku tidak tahu—“

     “Kau tidak tahu? Baiklah biar aku yang jelaskan… saat kau membunuh dua petugas keamanan itu, salah satu dari mereka tampaknya berhasil menarik ujung celanamu hingga sobek. Mereka pasti membuat perlawanan yang sengit,kan! Bekas sobekan celana itu masih di genggam dengan sangat kuat oleh petugas keamanan itu. Bukti ini tidak bisa kau sangkal Leonne, jadi akuilah kejahatanmu, dan katakan siapakah kau sebenarnya pada kami.”

     “Bagaimana mungkin aku bisa membunuh seseorang padahal aku tidak memegang senjata apapun, Alex.” Leonne menundukkan kepalanya, menutupi ekspresi wajahnya dengan rambut poninya yang pirang.

     “Itu benar, aku juga penasaran bagaimana cara kau menyusupkan senjata ke dalam sekolah ini? Karena setahuku benda tajam di sekolah ini sangat minim sekali—bahkan dapur kafetaria menggunakan pisau otomatis dalam memasak. Tapi aku yakin kau menyembunyikan senjata itu di suatu tempat. Hanya tinggal menunggu polisi datang, dan mencarinya.”

     Tiba-tiba Leonne tertawa terkekeh-kekeh. Suara tawanya menggema secara mengerikan di sekitar lorong. Erick, Indra, Gabriel, dan Yogi terdiam membisu menyaksikan hal ini. “Leonne…” panggil Gabriel dengan lirih pada teman sekamarnya.”Katakan pada Alex kalau ini tidak benar… katakanlah…”

     “Kau ini benar-benar perusak kesenangan orang Alex,” ujar Leonne. “Padahal kita baru akan sampai pada bagian yang seru. Tapi, ya sudahlah…Nefrit, kau boleh memakan mereka sekarang!” Leonne menunjuk pada satu orang yang berada dibelakangnya. Sepasang mata merah menyala bersinar dari salah seorang remaja diantara mereka.

     Dengan gerakan cepat tiba-tiba remaja itu langsung menerkam orang yang paling dekat berada dengannya. Korban malang itu adalah Indra. Tanpa sempat mengelak—bahkan berteriak, leher Indra menjadi sasaran dari gigi-gigi tajam yang menggigit daging lehernya dengan sangat dalam, dan iapun mati seketika. Erick, dan Gabriel tersentak mundur, terkejut luar biasa melihat Yogi yang dalam sekejap berubah menjadi monster mengerikan pemakan manusia tepat di depan mata mereka.

     “Oh,iya mau lihat dimana aku menyimpan senjataku, Alex?” Leonne menyeringai, matanya pun berubah merah menyala, lalu dari ujung lengan baju kirinya mengucur darah berwarna merah pekat keluar dengan deras. Begitu darah tersebut berhenti mengucur, sebilah parang yang berbentuk unik muncul, dan terlihat menyatu dengan tangan kirinya. “Ini dia…” kata Leonne. “Sebenarnya ini bukan senjata, tapi memang seperti inilah wujud dari tangan kiriku. Keren,kan.”

     “Iblis macam apa kau ini sebenarnya…?” Alex sekarang benar-benar gemetaran. Tubuhnya terasa kaku, ekspresi wajahnya menampakkan rasa takut yang luar biasa terpampang jelas. Sementara ia juga menyaksikan Yogi membunuhi, lalu memakan ketiga temannya dengan beringas.”Apa selama ini kau menjadi teman kami, hanya untuk membunuh kami setelahnya—“

     “Tidak, teman kalian Leonne sudah mati! Aku cuma menggunakan tubuhnya saja. Oh,iya aku belum memperkenalkan diri—namaku Silphit, dari Ar-Badr, suku dari generasi ke-459 penjaga tanah ini!”

     “Kenapa kalian membunuhi kami—apa kesalahan kami?”

     “Sekolah kalian berdiri diatas tanahku, wilayahku, dan kuburan nenek moyangku! Itu sebabnya Alex… kau harus mati!” Silphit melangkah mendekati Alex dengan perlahan. Seolah sedang menikmati momen detik-detik kematian Alex. Ujung parangnya menggoresi lantai marmer dengan suara yang memekakan telinga. Namun tiba-tiba suara ledakan keras menggelegar diantara mereka. Dinding di sebelah kanan Silphit hancur lebur, dan serpihannya menyebar membentuk kepulan asap pekat yang menutupi pandangan mata. Alex terlempar kebelakang saat ledakan terjadi. Silphit sempat tertegun, namun ia tetap kokoh berdiri di tempatnya.

     Suasana menjadi sunyi, hanya terdengar suara dari Nefrit yang masih sibuk memakani mangsanya, tampaknya ledakan tadi sama sekali tidak mengganggunya. Silphit mencoba memahami apa yang terjadi—tapi sebelum ia sempat melakukannya seorang remaja berpakaian serba hitam menerjangnya tiba-tiba dari balik asap, menyerangnya dengan sebilah katana tepat ke arah leher Silphit. Tapi Silphit memiliki reflek yang cepat, serangan mendadak itu ia tangkis dengan parangnya. Si remaja, dan Silphit saling beradu pandang antara mata merah menyala dengan mata si remaja yang berlainan warna. Mata itu berwarna hijau di bagian kanan, dan biru di bagian kiri.

     Meskipun Silphit berhasil menangkis serangan si remaja, tapi ia tidak dapat menahan hempasan kuat yang dilancarkan si remaja padanya. Hasilnya, Silphit terlempar kebelakang hingga menabrak Nefrit, dan keduanya pun terseret jauh kebelakang. Namun Silphit tidak begitu saja jatuh dari hempasan tersebut. Dia bersalto menggunakan tubuh Nefrit sebagai pijakan, lalu menapak mantap ke lantai. “Mata itu,” kata Silphit.  “Aku kenal mata itu—kau si tanpa nama itu,kan! Siapa yang memanggilmu..?” Silphit tidak mendengar ada tanggapan. Kepulan asap kini sudah mulai menghilang. Sebuah lubang besar menganga dengan lebar dari tembok bekas ledakan tadi. Tapi Silphit tidak peduli soal itu. Tampaknya si tanpa nama sudah membawa kabur Alex. “Seenaknya kabur setelah menyerangku… Nefrit, kejar mereka!”

     “Baik, Tuan..!” sahut Nefrit dengan patuh. Kemudian secepat lari seekor kijang, Nefrit melesat ke arah tembok berlubang.

     Diatas menara sekolah St.Lucas, Alex bersama si remaja tanpa nama. Alex berusaha menenangkan dirinya dari semua yang terjadi. Dia memandang si remaja tanpa nama dengan penuh tanda tanya; siapa, apa maunya, dan kenapa? Si remaja sedang mengawasi sekelilingnya, lalu dia bicara.”Kau ingin menanyakanku sesuatu, tanyakan!”

     “Siapa kalian?”

     “Aku tidak memiliki nama, biasanya aku disebut si tanpa nama. Aku disini atas permintaan Agatha untuk membinasakan kedua iblis tadi. Mereka Silphit, dan Nefirt. Si majikan, dan peliharaannya yang sangat berbahaya! Kau beruntung aku datang tepat waktu, tapi mereka akan segera datang sebentar lagi—jadi, biar aku memberitahumu sekarang. Katana ini adalah satu-satunya senjata yang dapat membunuh mereka, tapi katana ini membutuhkan darah segar untuk menghidupkan kekuatannya…”

     “Maksudmu..?” ZLEB! Tanpa peringatan sebilah katana sudah menembus rusuk Alex, dan pada saat itu juga Alex telah roboh dibawah kaki si tanpa nama.

     “Maafkan aku,” kata si tanpa nama. Dia memandang Alex dengan tatapannya yang melankolis namun dingin. Si tanpa nama kemudian merogoh kantung celananya. Mengeluarkan semacam mustika seukuran kerikil berwarna ungu, lalu menyelipkan mustika itu kedalam luka bekas tusukan katana-nya. “Ini akan mempercepat penyembuhan lukamu.”

     “Kutemukan!” Nefrit muncul dengan melompat di udara, membelakangi bulan purnama dia membidik targetnya dengan pandangannya. Si tanpa nama menoleh, dan tiba-tiba ia menghilang, lalu muncul kembali tepat di hadapan Nefrit. Nefrit terkejut, mulutnya menganga, dan sebelum sempat bertindak si tanpa nama sudah menebasnya dengan katana, membelahnya menjadi dua. Si tanpa nama lalu merenggut kepala Nefrit, menggengam lehernya, dan membiarkan sisa tubuhnya jatuh ke tanah.

     Sementara itu Silphit sedang berlari mengejar si tanpa nama dengan mengikuti jejak yang diberikan Nefrit. Tapi kemudian ia menghentikan langkahnya, dia merasakan sesuatu—semacam tanda bahaya, dan pada saat itu juga langit-langit lorong tiba-tiba runtuh tepat dihadapan Silphit. Diatas reruntuhan langit-langit itu telah berdiri si tanpa nama. Dia melangkah, dan kepala Nefrit yang dipegangnya ia lemparkan ke bawah kaki Silphit.

     “Peliharaanmu..!” katanya datar. Melihat hal ini Silphit tampak murka, tapi ia menunjukkan seringai yang lebar pada si tanpa nama. Silphit mengaum, lalu secepat kilat ia menerjang si tanpa nama. Dia menghantamkan parangnya—si tanpa nama menangkis, dan dimulailah pertarungan pedang yang sengit. Silphit menghantamkan parangnya dengan bertubi-tubi, berpikir kalau parangnya lebih kuat dari katana si tanpa nama. Namun katana milik si tanpa nama tidak bergeming, malahan si tanpa nama membalas menghantamkan katana-nya secara bertubi-tubi ke  parang Silphit. 

     Pada akhirnya Silphit memutuskan untuk melompat mundur.Ketika dia mundur—dia lenyap, lalu muncul kembali dibelakang si tanpa nama, dan tanpa membuang kesempatan dia langsung memenggal leher  si tanpa nama. Leher si tanpa nama putus, darahnya memuncrat ke tembok. Silphit tertawa berpikir ia telah menang, namun yang ia penggal ternyata hanyalah tubuh yang berubah menjadi pasir. Silphit mengumpat.

     Sedetik kemudian si tanpa nama membuat serangan kejutan dengan menjebol tembok sebelah kanan Silphit, lalu menendang perutnya dengan sangat keras hingga ia terpental menabrak tembok yang di sisi kirinya, dan terus menabrak tembok hingga akhirnya berhenti di tembok yang kedelapan. “Kau ini dulunya mandor ya? Sejak tadi menyerang dari tembok terus!” Silphit bangkit dengan agak berat. Serangan tadi melukainya, tapi tidak seberapa. Saat dia berdiri penuh—si tanpa nama sudah menerjangnya lagi, dan kembali mendorongnya menjebol tembok hingga akhirnya mereka berdua tembus keluar.

     Keduanya melayang di udara, dan beradu pedang dengan tingkat kecepatan tinggi. Saking cepatnya, tiap gesekan pedang yang terjadi menyebabkan percikan seperti kembang api, dan mengeluarkan suara yang menggelegar. Silphit lalu membuat manuver dengan menghindari ayunan katana dari si tanpa nama yang datang berikutnya. Ia memutar, lalu menarik baju bagian punggung si tanpa nama, dan melemparnya kuat ke arah bangunan sekolah. Tapi sesaat si tanpa nama masih berada di udara, Silphit menyemburkan bola api besar dari dalam mulutnya.

     Si tanpa nama terdorong kuat oleh semburan api Silphit. Api itu tidak membakarnya, karena di tahan oleh katana, namun terlempar hingga menghantam atap sekolah sampai atap itu hancur. Si tanpa nama terguling ke dalam ruangan lantai lima, dan mencoba berhenti dengan menghentakkan kakinya sekuat mungkin ke lantai. Dalam posisi berjongkok si tanpa nama menatap keluar, dan tampaknya Silphit tidak menyemburkan bola apinya hanya sekali. Bola api berikutnya sudah datang tepat di depan mata si tanpa nama, dan berikutnya, dan berikutnya.

     Mau tidak mau si tanpa nama harus melarikan diri dari serangan bola api tersebut. Bola api itu menyebabkan ledakan dimana-mana, dan membakar semua yang diterjangnya. Silphit terus menyemburkan bola apinya sampai benar-benar yakin si tanpa nama mati terbakar. Pada semburan yang terakhir dia mengeluarkan bola api yang paling besar—tapi ketika bola api itu meluncur, semburan pasir menerjang bola api itu dari arah berlawanan, dan berhasil membuat bola api itu terbuyarkan. Dari sana pula si tanpa nama melesat dengan mengejutkan ke arah Silphit, dia menyiapkan katana-nya untuk serangan terkuatnya.

     Melihat itu Silphit tampak kesal luar biasa, diapun menyambut serangan si tanpa nama, dia meluncur cepat ke arah si tanpa nama sambil berteriak, “MATI KAU..!” Mereka pun beradu dalam kecepatan tinggi. Sosok keduanya berhantaman di tengah wajah bulan purnama yang bersinar. Benturan keduanya menciptakan percikan api, lalu mereka saling bertukar posisi, dan mendarat diatas halaman sekolah. Keduanya masih berdiri kokoh tanpa ada tanda-tanda salah satu dari mereka ada yang terluka. Tapi kemudian dari rusuk kanan si tanpa nama darah menyembur, dan mengeluarkan percikan api dari lukanya. Si tanpa nama segera menutup luka itu dengan tangannya.

     Silphit tertawa. Dia membalikkan badan menghadap si tanpa nama. “Kau bukan tandingan bagi makhluk tingkat tinggi sepertiku! Butuh miliaran tahun bagi kutu busuk seperti dirimu untuk bisa mengalahkanku…” Tiba-tiba Silphit merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. “Apa ini..? Aku merasa…” Tubuh Silphit perlahan menguap. “Apa yang telah kau perbuat! Mantra apa yang kau pakai pada senjatamu itu?”

     “Tidak ada mantra,” jawab si tanpa nama. “Hanya saja senjata ini dibuat dari kepingan yang berasal dari cawan suci, dan telah diberkati oleh kelompok magi. Dan asal kau tahu saja, sebagian besar siswa dari sekolah St.Lucas ini adalah keturunan dari para penjaga cawan suci.

     “Tidak… tubuhku…” Silphit meraung kesakitan. Tubuhnya terus menguap, dan menguap hingga akhirnya tubuh itu meleleh, dan tak lama kemudian tubuh tersebut menghilang hanya menyisakan pakaian, dan bercak basah diatas rumput sekolah.

     Sesaat kemudian, beberapa polisi, dan pemadam kebakaran datang memenuhi panggilan. Si tanpa nama tidak mau berurusan dengan mereka. Dia mencari-cari jalan keluar, lalu ia mengarah ke kanan menuju pagar tembok sekolah, dia lompati pagar yang setinggi 15 kaki tersebut, dan langsung menghilang di tengah gelap malam. Setelah si tanpa nama pergi. Para polisi, dan pemadam kebakaran segera mendobrak gerbang, dan melakukan tugas mereka. Di dalam sekolah mereka menemukan Kenji—masih hidup, dia ditemukan sedang meringkuk di sudut ruang keamanan. Mereka juga berhasil menemukan Alex. Dia dalam keadaan pingsan dengan luka tusukan yang setengah sembuh. Mereka pun kemudian dibawa ke rumah sakit, dan suatu hari akan mengisahkan pengalaman mereka.

     Di sebuah ruangan gelap, seorang wanita muda sedang berdiri di dekat jendela, memakai gaun merah, sambil menggenggam segelas anggur. “Kau sudah melaksanakan tugasmu dengan sangat baik.” Wanita itu berbicara pada seorang yang sedang berdiri di tengah sebuah lingkaran yang bersinar dengan simbol-simbol rumit.

     “Terima kasih, Agatha,” kata si tanpa nama. “Boleh aku pulang sekarang?”

     “Apa kau sedang lelah?”

     “Tidak, tapi bisa kau lihat sendiri aku sedang terluka sekarang, dan aku sudah kehabisan mustika.”

     “Sini, biar aku sembuhkan…” Agatha menaruh tangannya ke dekat luka si tanpa nama, dan luka itu mulai bersinar keunguan, lalu perlahan luka itupun sembuh. “Kau baik sekali sudah memberikan mustika itu pada Alex.” Lanjut Agatha. “Apa ada alasan khusus kenapa kau melakukannya?”

     “Entahlah, mungkin aku merasa dia mempunyai potensi sebagai calon magi.”

     “Iya, sejak bertemu dengannya, dan mengenal karakternya, aku juga merasa dia memilki potensi. Apa menurutmu kita sebaiknya pergi menemui dia?”

     “Keputusan ada di tanganmu Agatha.”

     “Hmm…” Agatha menyesap anggurnya sambil memandang keluar jendela, menyaksikan matahari terbit di ufuk timur, membuka warna di cakrawala fajar.

     Di sebuah rumah sakit, Alex tiba-tiba bangkit dari tempat tidur, napasnya terengah-engah, dan wajahnya berkeringat. Setelah apa yang dialaminya tampaknya ia baru saja mengalami mimpi buruk. Begitu dia mulai tenang, dia melihat sekeliling—menganalisa tempat ia berada sekarang. Kemudian dia merasa ada yang aneh pada tangan kirinya, dia mengangkatnya, dan melihat tangannya telah berubah menjadi parang sama seperti yang dipunyai Silphit—spontan Alex berteriak! Tapi kemudian ia terbangun dari tidurnya, dan langsung memeriksa tangan kirinya. Ternyata cuma mimpi.

     Karena merasa haus Alex keluar dari kamar pasien untuk mencari air minum. Dia keluar sambil membawa-bawa kantung infus—yang menurutnya sangat tidak perlu, karena ia merasa baik-baik saja. Alex sampai di meja respsionis, dan tidak menemukan siapa-siapa di balik meja. Alex merasa aneh—tapi dia terlalu haus untuk peduli. Dia menemukan dispenser, dan mengambil air dari sana. Setelah melepas dahaga Alex memutuskan untuk berkeliling sejenak. Dia naik ke lift, dan turun ke lantai 1. Kamarnya sendiri berada di lantai 9, dan biasanya lantai 1 rumah sakit sedikit lebih ramai karena dekat dengan UGD, dan dia suka melihat para dokter mondar-mandir dengan kesibukannya. Sampai di lantai satu, pintu lift terbuka, dan Alex segera kecewa karena tidak ada satu orang pun di sini. Dia melangkah menyusuri lobby, Ia menginjak sesuatu—sesuatu yang merah dan lengket. Itu adalah darah, dan lagi-lagi suasana suram mengelilingi Alex. Sampai pada sebuah tikungan ia melihat lorong rumah sakit itu dalam keadaan hancur. Lantai dipenuhi mayat-mayat bergelimpangan, dan dibanjiri darah. Di ujung lorong seorang remaja berdiri dihadapannya menyeringai. “Hai Alex…” ucap si remaja dengan tangan kirinya yang berbentuk parang.

     “TIDAAAK!” teriak Alex.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments

  • alleyG's picture

    Halo--halo.. gw punya story

    5

    Halo--halo.. gw punya story nich... ceritanya tentang anak2 SMU yang secara misterius dibantai satu per satu.. silahkan baca dan kasih ratingnya yaa Wink


return to top