Tue17May2011
See you tomorrow!
560 kali
1 kali
not admin's choice
Okaay! Back to the story! Jadi sudah sekian lama gw gak bikin lanjutin ceritanya nie, jdi lupa awalnya kea gmana. Biasalah terlalu banyak ide yang dipikirin, tapi cuman sedikit yang bisa diinget. So, kalo ceritanya rada gak nyambung gw mohon maaf ya!? Gomene... gomene,,, gomene...
Dan sekali lagi ini udah cerita ke-11
"Nabi Erastmust? Apa maksudnya ini? Aku? Harus ikut dengan kakek?" tanyaku yang kebingungan setengah mati. Miathra pun yang berada disebelahku tidak yakin terhadap apa yang sedang terjadi. "Iya! Kau, Walto! Kau akan ikut denganku menuju perjalanan yang sangat jauh!" kata nabi Erastmus tersenyum "Kenapa aku harus ikut dengan kakek? Aku sama sekali gak ngerti!" tanyaku yang sekarang sudah berada dalam keadaan panik. "Itu artinya dewa yang tertinggi sudah memilihmu, Walto!" teriak Miathra. "Memilihku!? Untuk apa?" tanyaku semakin penasaran. "Dewa telah memilihmu untuk menjadi nabi berikutnya. Kau akan melalui perjalanan jauh bersamaku untuk melatihmu menjadi nabi yang handal." jawab nabi Erastmus secara tegas. "Tapi bukankah aku seharusnya tidak dapat menjadi seorang nabi?" tanyaku heran. "Memang seharusnya tidak bisa!" sahut Miathra. "Kecuali... Kecuali kau adalah..." lanjut Miathra dengan diam. "Kecuali kau adalah keturunan dewa." lanjut kakek Stedd. "Kierie pernah cerita padaku bahwasannya yang membuat Levathrone memiliki energi yang sangat kuat karena dia adalah keturunan dewa. Tapi aku tidak begitu yakin dewa apa dia..." kata kakek Stedd padaku. "Dewa Anubis bukan? Dewa kematian yang berkepala anjing berbadan manusia. Dia dipercaya bisa mengangkat jiwa-jiwa orang yang sudah mati dan membawa mereka ke alam akhirat. Dan bukan hanya itu saja, Dia dipercaya merupakan pelindung kematian dan salah satu dewa yang terkuat dan sangat ditakuti. Betul tidak, Walto?" "........." aku terdiam. "Iya... nabi Erastmus betul. Darimana kau tahu akan hal itu?" "Dewalah yang memberitahuku. Dia memberitahuku bahwa kau adalah keturunan anubis yang hilang." sahut nabi Erastmus. "Lalu? Apa saja yang akan aku dapat di dalam perjalananku nanti untuk bisa menjadi, nabi?" "Baiklah, Walto! Aku akan menjelaskan padamu apa yang akan kau pelajari di dalam perjalananmu!" kemudian nabi Erastmus menaikan jari telunjuknya. "Pertama, kau diberikan kekuatan untuk bisa mendengarkan suara-suara dewa padamu! Supaya kau bisa menjalani perintah dewa dengan baik!" lalu beliau menaikan jari kedua, "Kedua, kau akan diberikan bisa melihat masa depan seseorang atau melihat apa yang akan terjadi!" lalu dia mengangkat jari ketiganya, "Yang ketiga kau akan diberikan kuasa yang tidak bisa dimiliki oleh penyihir mana pun! Kau akan sanggup memanggil hujan badai di atas gurun, memanggil wabah di atas kota terkutuk, mengutuk orang yang berani mengutuk dewa-dewa, mengaktifkan gunung yang sudah mati, dan masih banyak lagi keajaiban yang dapat kau lakukan! Yang terakhir, kau akan diberikan kemampuan untuk membawa kebahagiaan di seluruh dunia. " lanjut nabi Erastmus. "Baiklah aku-" "Akan tetapi, Walto!" tambah nabi Erastmus padaku. "Perjalanan yang akan kau hadapi nanti sangatlah berbahaya! Tidak sedikit nyawa yang sudah melayang saat melakukan perjalanan jauh seperti ini. Apa kau mau menerima resiko ini?" "eerrhhmm..... aku.... mengerti...." kemudian, aku melanjutkan perkataanku, "Aku akan mengambil resiko itu... aku akan ikut denganmu" "APAA!!?? Walto, kau gila ya!? Kau bisa mati nanti!" teriak Miathra. "Mati?" Lalu aku menatap Miathra lekat-lekat dengan tatapan beku. "Dari awal aku datang kesini, aku sudah tidak peduli akan mati hidup! Bahkan saat disaat di tempat Levathrone pun, aku sudah memperdulikan nyawaku lagi! Hanya satu hal yang ku inginkan dalam hidupku, yaitu aku hanya ingin menyingkap kebenaran dalam hidupku! Di mulai dari bencana sialan itu, kemudian kakek Levathrone bengis, nenek yang perhatian, sahabat yang terlalu terobsesi dengan nomer satu, dan masih banyak hal lain yang ingin ku ketahui!" Kemudian muncul tetes air mata dari pipi Miathra. "Walto..." kemudian dia memelukku. "hiks...hiks... hiks...Ku mohon setidaknya kau pikirkan lagi keputusanmu. Apa kau tidak peduli pada kami semua??" "Mia... maaf, bukan begitu... aku hanya... Ku mohon, Mia! Kita sudah selalu bersahabat selama dua tahun, dan aku ingin tetap menjaga persahabatan itu sampai akhir. Oleh karena itu, Mia! Tolong izinkan aku pergi untuk sementara, aku pastikan aku akan kembali lagi kesini suatu saat nanti ya?" "Sniff... Snif... Janji ya, Walto?" tanya Miathra penuh curiga. "iya... iya..." "Baik! Sebelum itu, kau bersiap-siaplah dahulu sebelum kita melakukan perjalanan yang jauh!" sahut nabi Erastmus. "Baik!" jawabku dengan lantang Sesaat kemudian, aku teringat kembali dengan Museo yang sekarang sudah pintar berbicara. Lalu, aku mengajak Miathra untuk pergi ke tempatnya Museo. "Hai, Museo! Gimana kabarmu?" tanyaku pada ogre ini. "Hey, Walto! Aku baik-baik aja! Wah, makasih banyak ya buat yang waktu itu!" "Iya, sama-sama..." Kalau aku perhatikan Museo, dia sekarang sudah menjadi ogre yang terurus. Tidak seperti sebelumnya, dia sekarang terlihat lebih berwibawa. Wow, aku tidak menyangka dia bisa berubah secepat ini. "Ada apa ini? Tumben kau datang ke sini?", tanya Museo dengan girang. "Museo... hari ini, Walto akan pergi meninggalkan tempat ini menuju perjalanan yang jauh dalam waktu yang lama." jawab Miathra dengan muka sedih. "Apa? Walto? Kenapa begitu cepat..." desah Museo. "Tidak apa-apa kok, Seo! Aku pasti kembali lagi kesini! Aku janji!", sahutku. "Benarkah?" kata Museo heran. "Iya, benar!" "Pastikan dirimu baik-baik saja ya?" kata Museo sambil memohon. "Iya, aku janji!" "Okelah kalo begitu, Mari kita bikin janji jari kelingking!", kata Miathra mengacungkan jari kelingkingnya kepadaku. "Ayo, Museo juga ikutan!" "Oh, iya!", sahut Museo. "Baik, Walto! Sekarang ikuti kata-kataku! Saya Waltocoria Severnaya berjanji untuk kembali dalam keadaan selamat!" "Saya Waltocoria Severnaya berjanji untuk kembali dalam keadaan selamat!" "Jikalau aku melanggar janji, kuburanku harus diacak-acak teman-temanku!" "Jikalau aku melanggar janji, kuburanku harus diacak-acak teman-te-- Iddiiiiihh! Amit-amit!!!" kataku sambil mengelus-elus dada. "HOAAHAHAHAHAAAA!!" Malam harinya aku menyiapkan barang-barang yang aku perlukan untuk besok termasuk dengan tongkat sihir yang diberikan kepadaku. Dan keesokan harinya, aku mengucapkan kata-kata terakhirku pada teman-temanku. Saat temanku tahu, teman-teman sangat sedih. Tetapi walaupun mereka menentang keputusanku, tetap saja mereka sebenarnya mendukung. "Kawan, itulah yang sebenarnya ingin aku katakan! Dan aku ucapkan selama tinggal..." Lalu, aku terdiam. "Bukan! Itu bukan kata-kata yang benar! Yang benar adalah Sampai jumpa lagi!!!" "Sampai jumpa lagi, Walto! Hati-hati di jalan" sahut-sahut temanku. Memang benar.... Sebenarnya selama kita hidup, tidak ada kata 'selamat tinggal', yang ada hanyalah 'sampai jumpa di kemudian hari..."
"Nabi Erastmust? Apa maksudnya ini? Aku? Harus ikut dengan kakek?" tanyaku yang kebingungan setengah mati. Miathra pun yang berada disebelahku tidak yakin terhadap apa yang sedang terjadi. "Iya! Kau, Walto! Kau akan ikut denganku menuju perjalanan yang sangat jauh!" kata nabi Erastmus tersenyum "Kenapa aku harus ikut dengan kakek? Aku sama sekali gak ngerti!" tanyaku yang sekarang sudah berada dalam keadaan panik. "Itu artinya dewa yang tertinggi sudah memilihmu, Walto!" teriak Miathra. "Memilihku!? Untuk apa?" tanyaku semakin penasaran. "Dewa telah memilihmu untuk menjadi nabi berikutnya. Kau akan melalui perjalanan jauh bersamaku untuk melatihmu menjadi nabi yang handal." jawab nabi Erastmus secara tegas. "Tapi bukankah aku seharusnya tidak dapat menjadi seorang nabi?" tanyaku heran. "Memang seharusnya tidak bisa!" sahut Miathra. "Kecuali... Kecuali kau adalah..." lanjut Miathra dengan diam. "Kecuali kau adalah keturunan dewa." lanjut kakek Stedd. "Kierie pernah cerita padaku bahwasannya yang membuat Levathrone memiliki energi yang sangat kuat karena dia adalah keturunan dewa. Tapi aku tidak begitu yakin dewa apa dia..." kata kakek Stedd padaku. "Dewa Anubis bukan? Dewa kematian yang berkepala anjing berbadan manusia. Dia dipercaya bisa mengangkat jiwa-jiwa orang yang sudah mati dan membawa mereka ke alam akhirat. Dan bukan hanya itu saja, Dia dipercaya merupakan pelindung kematian dan salah satu dewa yang terkuat dan sangat ditakuti. Betul tidak, Walto?" "........." aku terdiam. "Iya... nabi Erastmus betul. Darimana kau tahu akan hal itu?" "Dewalah yang memberitahuku. Dia memberitahuku bahwa kau adalah keturunan anubis yang hilang." sahut nabi Erastmus. "Lalu? Apa saja yang akan aku dapat di dalam perjalananku nanti untuk bisa menjadi, nabi?" "Baiklah, Walto! Aku akan menjelaskan padamu apa yang akan kau pelajari di dalam perjalananmu!" kemudian nabi Erastmus menaikan jari telunjuknya. "Pertama, kau diberikan kekuatan untuk bisa mendengarkan suara-suara dewa padamu! Supaya kau bisa menjalani perintah dewa dengan baik!" lalu beliau menaikan jari kedua, "Kedua, kau akan diberikan bisa melihat masa depan seseorang atau melihat apa yang akan terjadi!" lalu dia mengangkat jari ketiganya, "Yang ketiga kau akan diberikan kuasa yang tidak bisa dimiliki oleh penyihir mana pun! Kau akan sanggup memanggil hujan badai di atas gurun, memanggil wabah di atas kota terkutuk, mengutuk orang yang berani mengutuk dewa-dewa, mengaktifkan gunung yang sudah mati, dan masih banyak lagi keajaiban yang dapat kau lakukan! Yang terakhir, kau akan diberikan kemampuan untuk membawa kebahagiaan di seluruh dunia. " lanjut nabi Erastmus. "Baiklah aku-" "Akan tetapi, Walto!" tambah nabi Erastmus padaku. "Perjalanan yang akan kau hadapi nanti sangatlah berbahaya! Tidak sedikit nyawa yang sudah melayang saat melakukan perjalanan jauh seperti ini. Apa kau mau menerima resiko ini?" "eerrhhmm..... aku.... mengerti...." kemudian, aku melanjutkan perkataanku, "Aku akan mengambil resiko itu... aku akan ikut denganmu" "APAA!!?? Walto, kau gila ya!? Kau bisa mati nanti!" teriak Miathra. "Mati?" Lalu aku menatap Miathra lekat-lekat dengan tatapan beku. "Dari awal aku datang kesini, aku sudah tidak peduli akan mati hidup! Bahkan saat disaat di tempat Levathrone pun, aku sudah memperdulikan nyawaku lagi! Hanya satu hal yang ku inginkan dalam hidupku, yaitu aku hanya ingin menyingkap kebenaran dalam hidupku! Di mulai dari bencana sialan itu, kemudian kakek Levathrone bengis, nenek yang perhatian, sahabat yang terlalu terobsesi dengan nomer satu, dan masih banyak hal lain yang ingin ku ketahui!" Kemudian muncul tetes air mata dari pipi Miathra. "Walto..." kemudian dia memelukku. "hiks...hiks... hiks...Ku mohon setidaknya kau pikirkan lagi keputusanmu. Apa kau tidak peduli pada kami semua??" "Mia... maaf, bukan begitu... aku hanya... Ku mohon, Mia! Kita sudah selalu bersahabat selama dua tahun, dan aku ingin tetap menjaga persahabatan itu sampai akhir. Oleh karena itu, Mia! Tolong izinkan aku pergi untuk sementara, aku pastikan aku akan kembali lagi kesini suatu saat nanti ya?" "Sniff... Snif... Janji ya, Walto?" tanya Miathra penuh curiga. "iya... iya..." "Baik! Sebelum itu, kau bersiap-siaplah dahulu sebelum kita melakukan perjalanan yang jauh!" sahut nabi Erastmus. "Baik!" jawabku dengan lantang Sesaat kemudian, aku teringat kembali dengan Museo yang sekarang sudah pintar berbicara. Lalu, aku mengajak Miathra untuk pergi ke tempatnya Museo. "Hai, Museo! Gimana kabarmu?" tanyaku pada ogre ini. "Hey, Walto! Aku baik-baik aja! Wah, makasih banyak ya buat yang waktu itu!" "Iya, sama-sama..." Kalau aku perhatikan Museo, dia sekarang sudah menjadi ogre yang terurus. Tidak seperti sebelumnya, dia sekarang terlihat lebih berwibawa. Wow, aku tidak menyangka dia bisa berubah secepat ini. "Ada apa ini? Tumben kau datang ke sini?", tanya Museo dengan girang. "Museo... hari ini, Walto akan pergi meninggalkan tempat ini menuju perjalanan yang jauh dalam waktu yang lama." jawab Miathra dengan muka sedih. "Apa? Walto? Kenapa begitu cepat..." desah Museo. "Tidak apa-apa kok, Seo! Aku pasti kembali lagi kesini! Aku janji!", sahutku. "Benarkah?" kata Museo heran. "Iya, benar!" "Pastikan dirimu baik-baik saja ya?" kata Museo sambil memohon. "Iya, aku janji!" "Okelah kalo begitu, Mari kita bikin janji jari kelingking!", kata Miathra mengacungkan jari kelingkingnya kepadaku. "Ayo, Museo juga ikutan!" "Oh, iya!", sahut Museo. "Baik, Walto! Sekarang ikuti kata-kataku! Saya Waltocoria Severnaya berjanji untuk kembali dalam keadaan selamat!" "Saya Waltocoria Severnaya berjanji untuk kembali dalam keadaan selamat!" "Jikalau aku melanggar janji, kuburanku harus diacak-acak teman-temanku!" "Jikalau aku melanggar janji, kuburanku harus diacak-acak teman-te-- Iddiiiiihh! Amit-amit!!!" kataku sambil mengelus-elus dada. "HOAAHAHAHAHAAAA!!" Malam harinya aku menyiapkan barang-barang yang aku perlukan untuk besok termasuk dengan tongkat sihir yang diberikan kepadaku. Dan keesokan harinya, aku mengucapkan kata-kata terakhirku pada teman-temanku. Saat temanku tahu, teman-teman sangat sedih. Tetapi walaupun mereka menentang keputusanku, tetap saja mereka sebenarnya mendukung. "Kawan, itulah yang sebenarnya ingin aku katakan! Dan aku ucapkan selama tinggal..." Lalu, aku terdiam. "Bukan! Itu bukan kata-kata yang benar! Yang benar adalah Sampai jumpa lagi!!!" "Sampai jumpa lagi, Walto! Hati-hati di jalan" sahut-sahut temanku. Memang benar.... Sebenarnya selama kita hidup, tidak ada kata 'selamat tinggal', yang ada hanyalah 'sampai jumpa di kemudian hari..."







































Post new comment