Science Club Vs Math Club

nheily rozhaline
Part 4
Masculine
3
346 kali
0 kali

not admin's choice

Dengan rasa gembira aku datang ketempat prifat Pak Muji, sesampainya disana aku langsung disambut ramai oleh semua siswa prifat Pak Muji. Sebagai siswa baru disitu, tak mudah untuk bisa akrab banyak kejailan-kejailan yang dilakukan siswa-siswa yang lebih senior disitu. [b]Yogi[/b], siswa yang diceritakan Pak Muji yang dia akan ikut Olympiade itu juga untuk perwakilan sekolahnya, anaknya yang menyebalkan membuatku tidak betah ditempak bimbingan Pak Muji. Hari-hari terus berlalu, hingga hari dimana aku dan Imam dalam Olympiade MIPA. Disaat penantian lomba dimulai, Imam duduk disebelahku dan berkata,” Aku takut dalam menghadapi Olympiade pertamaku ini. Dan aku takut Tyas akan merebut posisiku sebagai juara satu dikelas.” Lalu aku hanya memberi saran agar tetap rajin belajar saja namun perkataan itu dalam bahasa yang ketus. Bel Lomba dimulai aku dan Imam masuk ke kelas lomba masing-masing sesuai Bidang pelajarannya.  Aku pusing memikirkan jawaban yang harus aku tulis dikertas jawabanku. Dalam kebingunganku aku memjawab sebisaku. Dan akhirnya lomba itu usai. Aku keluar kelas Lomba dengan rasa was-was. Saat aku coba untuk menenangkan diri tiba-tiba ada seseorang memanggilku sibodoh, sibodoh adalah panggilanku dari Yogi, saat aku melihat disekeliling ternyata memang ada Yogi yang meneriakiku, aku pun datang menghampirinyadan berteriak aku tak suka dipanggil demikian. Keesokkan harinya, disekolah aku bercerita kepada clubku dan sahabat-sahabatku tentang kecemasan si ketua club sains yang takut posisinya diambil anggota satu clubnya yang berkhianat, dan juga persoalan Yogi si anak laki-laki yang menyebalkan. Club sains yang mendengar ceritaku, lantas marah dan datang menghampiri Imam untuk menanyakan akan hal dia curhat kepadaku. Imam pun berbalik menfitnahku dan club sains itu datang ke clubku tanpa adanya aku, club sains bercerita mengenai hal diriku yang tidak benar. Saat aku kembali ke tempat clubku, semua anggotaku marah padaku dan menjauhiku. Dengan rasa bingung aku bercerita tentang apa yang terjadi, aku pun mengulang cerita yang sesungguhnya, clubku pun percaya Dayu yang kesal atas tindakan club sains yang mau mengahancurkan club matematika berteriak sambil mencari club sains berada. Salah satu anggota club sains pun terlibat pertengkaran antara Dayu, teman-teman club matematika pun datang ikut membantu Dayu untuk menyadarkan Sains club yang slalu membuat masalah, namun sains club mengelak club itu malah balik menasehati club kita. Aku yang merasa pertengkaran ini tidak berguna, menyingkir dan mencari tempat yang lebih tenang yaitu tanah kosong didekat sekolah, ternyata disitu juga ada Imam ketua dari club sains yang saat itu sedang bertengkar dengan club ku. Imam pun berdiri dan meminta maaf padaku, akhirnya kita saling meminta maaf karena ternyata Imam memiliki pola fakir yang sama mengenai anggota masing-masing. Hari terus berlalu, baru ketua saja yang mau berdamai. Aku mencoba untuk menasehati club ku untuk berdamai saja. Karena club matematika dan club sains itu sama. Imam pun juga mencoba untuk menasehati clubnya. Karena anggota antar club merasa panas untuk berdamai, akhirnya antar anggota  itu pun mengulang pertengkaran kembali didepan kelas. Ak mencoba melerai, dan aku memiliki ide untuk mempertemukan anggota club ku dengan club sains untuk membuktikan bahwa club kita dengan club sains memiliki persamaan yang melekat. Hari yang ditentukan aku dan Imam untuk mempertemukan antar anggota club pun datang, aku memberitahukan kepada teman-teman club math untuk datang ketempat prifat Pak Muji. Siang pun datang, aku lantas bergegas ketempat Pak Muji disana teman-teman sudah datang dan sedang mengerjakan sebuah soal sains, dan anggota sains sedang berkumpul dan bekerja sama mengerjakan soal matematika. Ini adalah kerjasama aku Imam dan Pak Muji untuk mendamaikan mereka. Satu jam berlalu, namun soal yang diberikan belum juga selesai. Intan yang merasa mulai sangat bingung mulai berbicara dengan Tyas untuk membantunya mengerjakan soal sains yang Intan tak bisa mengerti. Hal itu tertular ke semua anggota, dan setelah semua soal terselesaikan Pak Muji membolehkan semua siswa pulang. Saat didepan pagar rumah Pak Muji, anggota clubku akhirnya berdamai dengan anggota club sains. Dan mereka sadar bahwa matematika dan sains sama-sama susah dan harus banyak menulis dan mencatat, terkadang matematika juga membantu pelajaran sains seperti kimia dan fisika, dan terkadang pula sains dapat membantu matematika dalam mengerjakan rumus volume dan kadar. Keesokkan harinya, teman-teman sekelas bingung kenapa hari itu sangatlah nyaman dengan melihat anggota-anggota yang selalu membuat rusuh itu saling berbagi cerita layaknya seorang sahabat, temanku pun datang menghampiriku dan bertanya aku berkata apa kepada anggotaku, namun aku jawab itu semua hanya sebuah keajaiban yang datang dari diri mereka sendiri. Lalu, seatu pagi disekolah. Wali kelasku memberitahu kepada siswa yang merasa jago mengarang dan berpidato untuk mendaftar ke Yasmin, karena memang Yasmin yang menjadi ketua kelas dikelasku. Karena aku masih merasa dendam dengan genk nya aku langsung mendaftar saja kewali kelasku. Saat pemilihan 2 anak pengarang dan 2 anak berpidato, para guru mengumpulkan peserta calon lomba di perpustakaan ternyata disana banyak siswa pula yang mencalonkan diri namun mayoritas semua siswi. 3 hari berlalu, namun para guru belum menentukan siapa yang harus dicalonkan untuk lomba tersebut ditingkat gugus. Seorang guru kelas 6, [b]Bu Tatik[/b] namanya. Bu Tatik lebih memilihku untuk dicalonkan, Bu Tatik terus melatihku hingga seminggu pun berlalu. Aku di lomba pidato dipasangkan oleh teman lain kelas ku namanya [b]Gema Rovica[/b], yang sebelumnya dipilih Yasmin namun Yasmin tak mau jadi digantikan oleh Gema. Dan dilomba mengarang ada Intan dan Tyas. Pada hari yang ditentukan, kami sudah siap untuk dicalonkan. Namun Pak Kepala sekolah mengatakan bahwa perombaan itu diundur untuk besok. Karena keunduran lomba, hari itu dipakai kita kami untuk latihan disekolah tetangga sekolah kami. Mungkin kedengarannya menyulitkan ya, maksudku sekolahku mendirikan sebuah sekolah lagi namun sekolah itu bertaraf Internasional karena sekolah yang baru didirikan itu masih kosong jadi di lantai 2 kami gunakan untuk berkonsentrasi latihan. Keeoskan harinya, perlombaan yang sangat mendebarkan. Namun sesampainya disana ternyata hanya ada 4 peserta, walau demikian jantungku tetap berdetak kencang. Gema yang merasa takut dan malu mendadak sakit waktu itu, jadi Gema diberikan nomor peserta yang terakhir tampil saja. Setelah giliranku, aku merasa sangat takut apabila aku tidak menang apalagi pidatoku akan disaksikan 2 kepala sekolah yang berbeda termasuk kepala sekolahku. Aku mempercayai kemampuanku, lalu aku menarik nafas panjang dan menatap tajam para dewan juri, begitu singkat rasanya aku berpidato mengenai Ibu [b]Raden Ajeng Kartini[/b]. Gema yang mendapat giliran langsung berpidato dengan melupakan pembukaan, banyak kesalah yang aku koreksi dari pembacaan pidato Gema. Setelah Gema usai berpidato, aku menanyakan kenapa banyak sekali yang terlupakan untuk dibaca Gema, namun Gema merasa tidak ada harapan lagi. Beberapa menit kemudian, diluar ruang juri aku menunggu dan terpanggil semua peserta untuk masuk kembali ketempat juri. Diumumkanlah juara 1,2 dan 3. Namun hanya juara 1 saja yang boleh melanjutkan ke tingkat Kecamatan. Detik-detik yang sangat mengkhawatirkan, para juri memanggilku sebagai juara 1. Aku lansung menghampiri para juri dan berterima kasih, namun kasihan Gema yang mendapat juara terakhir. Dengan senang aku menghampiri Bu Tatik, dan Bu Tatik sangat bergembira mendengar ceritaku. dan diruang lain masih dilokasi perlombaan aku melihat Intan dan Tyas si anggota sains yang sudah berdamai sedang bersaing ketat dengan para peserta yang berjumlah 6. Setelah istirahat beberapa menit, pengumuman juara dalam lomba mengarang dimulai, semua peserta mengarang dikumpulkan dan diumumkan bahwa Intan yang berhak maju ke tingkat Kecamatan bersama aku dan [b]Anisa Meutia[/b], soerang junior di math club namun Anisa berlomba diperlombaan tarik suara yang bersamaan dengan lomba mengarang dan pidato. Sekolah kami cukup berbangga dengan ketiga peserta yang lulus untuk ke tingkat Kecamatan adalah siswa dari sekolahku. Disaat mau kembali kesekolah, aku bertemu dengan Yogi yang ternyata siswa sekolah yang menjadi tempat aku berlomba. Ia lalu memanggilku sibodoh kembali, Intan, Gema dan Tyas menanyakan siapa orang yang memanggilku sibodoh itu. Lalu aku menceritakan semuanya tentang bertemunya aku dengan Yogi, semua langsung tertawa setelah mendengar ceritaku. Karena makin kesal aku menarik mereka untuk cepat-cepat kembali kesekolah. Sesampainya sisekolah, aku melihat sekolah sudah dalam keadaan sepi, memang pada saat itu sudah waktunya jam pulang sekolah, namun saat aku sudah berada didalam sekolah aku melihat Anggi yang sedang duduk sendiri, aku berlari menghampirinya dan bertanya kenapa dia belum pulang, ternyata dia sedang menunggu jemputan. Saat aku menunggu bersama-sama dia tiba-tiba datang [b]Bu Nur[/b] wali kelasku datang memanggilku, Intan dan Anggi untuk latihan berpuisi. Namun Gema dan Tyas tak bisa melihat kita latihan karena mereka harus segera pulang. Setelah perlombaan puisi tersebut usai, hari-hari aku lewatin seperti biasanya saja. Setahun kemudian………   Duduk di kelas 6. Waktu itu semua anak yang lulus disuruh mengikuti tes un tuk masuk ke kelas yang sesuai. Tiga hari berlalu. Belum ada pengumuman. Ku nanti, hingga akhirnya ku terpilih masuk kelas yang paling sempurna, bersama teman-teman semua. Hari ku lewati dengan suasana yang baru. Waktu itu bel belum berbunyi, kelas masih sepi. Ku lihat pak sya’ban duduk di kursi guru namun terlihat sangat tergesa-gesa. Niatku mengajaknya bercanda, baru saat ku berkata, “pak guru sok sibuk deh!” tiba-tiba pak sya’ban menatapku tajam, dan mengatakan ku tidak sopan. Dan bla bla bla. Semenjak itu aku bertekad nilai matematika ku harus bagus. Aku harus bisa menunjukkan siapa aku.   Setahun berjalan. Dan akhirnya aku lulus dari SD Muh 2 dengan nem terbaik no 5 di sekolah. Dan Imam mendapat nem terbaik di sekolah. Imam si ahli Sains.. J   Aku sudah buktikan pada semua guru kalau aku bisa..

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

return to top