Thu23Jun2011
Science Club Vs Math Club
346 kali
0 kali
not admin's choice
Dengan rasa gembira aku datang ketempat prifat Pak
Muji, sesampainya disana aku langsung disambut ramai oleh semua siswa prifat
Pak Muji. Sebagai siswa baru disitu, tak mudah untuk bisa akrab banyak
kejailan-kejailan yang dilakukan siswa-siswa yang lebih senior disitu. [b]Yogi[/b], siswa yang diceritakan Pak Muji
yang dia akan ikut Olympiade itu juga untuk perwakilan sekolahnya, anaknya yang
menyebalkan membuatku tidak betah ditempak bimbingan Pak Muji.
Hari-hari terus berlalu, hingga hari dimana aku dan
Imam dalam Olympiade MIPA. Disaat penantian lomba dimulai, Imam duduk
disebelahku dan berkata,” Aku takut dalam menghadapi Olympiade pertamaku ini.
Dan aku takut Tyas akan merebut posisiku sebagai juara satu dikelas.” Lalu aku
hanya memberi saran agar tetap rajin belajar saja namun perkataan itu dalam
bahasa yang ketus.
Bel Lomba dimulai aku dan Imam masuk ke kelas lomba
masing-masing sesuai Bidang pelajarannya.
Aku pusing memikirkan jawaban yang harus aku tulis dikertas jawabanku.
Dalam kebingunganku aku memjawab sebisaku. Dan akhirnya lomba itu usai. Aku
keluar kelas Lomba dengan rasa was-was. Saat aku coba untuk menenangkan diri
tiba-tiba ada seseorang memanggilku sibodoh, sibodoh adalah panggilanku dari
Yogi, saat aku melihat disekeliling ternyata memang ada Yogi yang meneriakiku,
aku pun datang menghampirinyadan berteriak aku tak suka dipanggil demikian.
Keesokkan harinya, disekolah aku bercerita kepada
clubku dan sahabat-sahabatku tentang kecemasan si ketua club sains yang takut
posisinya diambil anggota satu clubnya yang berkhianat, dan juga persoalan Yogi
si anak laki-laki yang menyebalkan.
Club sains yang mendengar ceritaku, lantas marah dan
datang menghampiri Imam untuk menanyakan akan hal dia curhat kepadaku. Imam pun
berbalik menfitnahku dan club sains itu datang ke clubku tanpa adanya aku, club
sains bercerita mengenai hal diriku yang tidak benar. Saat aku kembali ke
tempat clubku, semua anggotaku marah padaku dan menjauhiku.
Dengan rasa bingung aku bercerita tentang apa yang
terjadi, aku pun mengulang cerita yang sesungguhnya, clubku pun percaya Dayu
yang kesal atas tindakan club sains yang mau mengahancurkan club matematika
berteriak sambil mencari club sains berada. Salah satu anggota club sains pun
terlibat pertengkaran antara Dayu, teman-teman club matematika pun datang ikut
membantu Dayu untuk menyadarkan Sains club yang slalu membuat masalah, namun
sains club mengelak club itu malah balik menasehati club kita.
Aku yang merasa pertengkaran ini tidak berguna,
menyingkir dan mencari tempat yang lebih tenang yaitu tanah kosong didekat
sekolah, ternyata disitu juga ada Imam ketua dari club sains yang saat itu
sedang bertengkar dengan club ku. Imam pun berdiri dan meminta maaf padaku, akhirnya
kita saling meminta maaf karena ternyata Imam memiliki pola fakir yang sama
mengenai anggota masing-masing.
Hari terus berlalu, baru ketua saja yang mau
berdamai. Aku mencoba untuk menasehati club ku untuk berdamai saja. Karena club
matematika dan club sains itu sama. Imam pun juga mencoba untuk menasehati
clubnya. Karena anggota antar club merasa panas untuk berdamai, akhirnya antar
anggota itu pun mengulang pertengkaran
kembali didepan kelas. Ak mencoba melerai, dan aku memiliki ide untuk
mempertemukan anggota club ku dengan club sains untuk membuktikan bahwa club
kita dengan club sains memiliki persamaan yang melekat.
Hari yang ditentukan aku dan Imam untuk mempertemukan
antar anggota club pun datang, aku memberitahukan kepada teman-teman club math untuk
datang ketempat prifat Pak Muji. Siang pun datang, aku lantas bergegas ketempat
Pak Muji disana teman-teman sudah datang dan sedang mengerjakan sebuah soal
sains, dan anggota sains sedang berkumpul dan bekerja sama mengerjakan soal
matematika. Ini adalah kerjasama aku Imam dan Pak Muji untuk mendamaikan
mereka.
Satu jam berlalu, namun soal yang diberikan belum
juga selesai. Intan yang merasa mulai sangat bingung mulai berbicara dengan
Tyas untuk membantunya mengerjakan soal sains yang Intan tak bisa mengerti. Hal
itu tertular ke semua anggota, dan setelah semua soal terselesaikan Pak Muji
membolehkan semua siswa pulang. Saat didepan pagar rumah Pak Muji, anggota
clubku akhirnya berdamai dengan anggota club sains. Dan mereka sadar bahwa
matematika dan sains sama-sama susah dan harus banyak menulis dan mencatat,
terkadang matematika juga membantu pelajaran sains seperti kimia dan fisika,
dan terkadang pula sains dapat membantu matematika dalam mengerjakan rumus
volume dan kadar.
Keesokkan harinya, teman-teman sekelas bingung kenapa
hari itu sangatlah nyaman dengan melihat anggota-anggota yang selalu membuat
rusuh itu saling berbagi cerita layaknya seorang sahabat, temanku pun datang
menghampiriku dan bertanya aku berkata apa kepada anggotaku, namun aku jawab
itu semua hanya sebuah keajaiban yang datang dari diri mereka sendiri.
Lalu, seatu pagi disekolah. Wali kelasku memberitahu
kepada siswa yang merasa jago mengarang dan berpidato untuk mendaftar ke
Yasmin, karena memang Yasmin yang menjadi ketua kelas dikelasku. Karena aku
masih merasa dendam dengan genk nya aku langsung mendaftar saja kewali kelasku.
Saat pemilihan 2 anak pengarang dan 2 anak berpidato, para guru mengumpulkan
peserta calon lomba di perpustakaan ternyata disana banyak siswa pula yang mencalonkan
diri namun mayoritas semua siswi.
3 hari berlalu, namun para guru belum menentukan
siapa yang harus dicalonkan untuk lomba tersebut ditingkat gugus. Seorang guru
kelas 6, [b]Bu Tatik[/b] namanya. Bu Tatik lebih
memilihku untuk dicalonkan, Bu Tatik terus melatihku hingga seminggu pun
berlalu. Aku di lomba pidato dipasangkan oleh teman lain kelas ku namanya [b]Gema Rovica[/b], yang sebelumnya dipilih
Yasmin namun Yasmin tak mau jadi digantikan oleh Gema. Dan dilomba mengarang
ada Intan dan Tyas.
Pada hari yang ditentukan, kami sudah siap untuk
dicalonkan. Namun Pak Kepala sekolah mengatakan bahwa perombaan itu diundur
untuk besok. Karena keunduran lomba, hari itu dipakai kita kami untuk latihan
disekolah tetangga sekolah kami. Mungkin kedengarannya menyulitkan ya, maksudku
sekolahku mendirikan sebuah sekolah lagi namun sekolah itu bertaraf
Internasional karena sekolah yang baru didirikan itu masih kosong jadi di
lantai 2 kami gunakan untuk berkonsentrasi latihan.
Keeoskan harinya, perlombaan yang sangat mendebarkan.
Namun sesampainya disana ternyata hanya ada 4 peserta, walau demikian jantungku
tetap berdetak kencang. Gema yang merasa takut dan malu mendadak sakit waktu
itu, jadi Gema diberikan nomor peserta yang terakhir tampil saja.
Setelah giliranku, aku merasa sangat takut apabila
aku tidak menang apalagi pidatoku akan disaksikan 2 kepala sekolah yang berbeda
termasuk kepala sekolahku. Aku mempercayai kemampuanku, lalu aku menarik nafas
panjang dan menatap tajam para dewan juri, begitu singkat rasanya aku berpidato
mengenai Ibu [b]Raden Ajeng Kartini[/b].
Gema yang mendapat giliran langsung berpidato dengan melupakan pembukaan,
banyak kesalah yang aku koreksi dari pembacaan pidato Gema. Setelah Gema usai
berpidato, aku menanyakan kenapa banyak sekali yang terlupakan untuk dibaca
Gema, namun Gema merasa tidak ada harapan lagi.
Beberapa menit kemudian, diluar ruang juri aku
menunggu dan terpanggil semua peserta untuk masuk kembali ketempat juri.
Diumumkanlah juara 1,2 dan 3. Namun hanya juara 1 saja yang boleh melanjutkan
ke tingkat Kecamatan. Detik-detik yang sangat mengkhawatirkan, para juri
memanggilku sebagai juara 1. Aku lansung menghampiri para juri dan berterima
kasih, namun kasihan Gema yang mendapat juara terakhir. Dengan senang aku
menghampiri Bu Tatik, dan Bu Tatik sangat bergembira mendengar ceritaku. dan
diruang lain masih dilokasi perlombaan aku melihat Intan dan Tyas si anggota
sains yang sudah berdamai sedang bersaing ketat dengan para peserta yang
berjumlah 6.
Setelah istirahat beberapa menit, pengumuman juara dalam
lomba mengarang dimulai, semua peserta mengarang dikumpulkan dan diumumkan
bahwa Intan yang berhak maju ke tingkat Kecamatan bersama aku dan [b]Anisa Meutia[/b], soerang junior di math
club namun Anisa berlomba diperlombaan tarik suara yang bersamaan dengan lomba
mengarang dan pidato. Sekolah kami cukup berbangga dengan ketiga peserta yang
lulus untuk ke tingkat Kecamatan adalah siswa dari sekolahku.
Disaat mau kembali kesekolah, aku bertemu dengan Yogi
yang ternyata siswa sekolah yang menjadi tempat aku berlomba. Ia lalu
memanggilku sibodoh kembali, Intan, Gema dan Tyas menanyakan siapa orang yang
memanggilku sibodoh itu. Lalu aku menceritakan semuanya tentang bertemunya aku
dengan Yogi, semua langsung tertawa setelah mendengar ceritaku. Karena makin
kesal aku menarik mereka untuk cepat-cepat kembali kesekolah.
Sesampainya sisekolah, aku melihat sekolah sudah
dalam keadaan sepi, memang pada saat itu sudah waktunya jam pulang sekolah,
namun saat aku sudah berada didalam sekolah aku melihat Anggi yang sedang duduk
sendiri, aku berlari menghampirinya dan bertanya kenapa dia belum pulang,
ternyata dia sedang menunggu jemputan. Saat aku menunggu bersama-sama dia
tiba-tiba datang [b]Bu Nur[/b] wali kelasku
datang memanggilku, Intan dan Anggi untuk latihan berpuisi. Namun Gema dan Tyas
tak bisa melihat kita latihan karena mereka harus segera pulang.
Setelah perlombaan puisi tersebut usai, hari-hari aku
lewatin seperti biasanya saja.
Setahun kemudian………
Duduk di kelas 6. Waktu itu semua anak yang lulus
disuruh mengikuti tes un tuk masuk ke kelas yang sesuai.
Tiga hari berlalu. Belum ada pengumuman. Ku nanti,
hingga akhirnya ku terpilih masuk kelas yang paling sempurna, bersama
teman-teman semua.
Hari ku lewati dengan suasana yang baru. Waktu itu
bel belum berbunyi, kelas masih sepi. Ku lihat pak sya’ban duduk di kursi guru
namun terlihat sangat tergesa-gesa. Niatku mengajaknya bercanda, baru saat ku
berkata, “pak guru sok sibuk deh!” tiba-tiba pak sya’ban menatapku tajam, dan
mengatakan ku tidak sopan. Dan bla bla bla.
Semenjak itu aku bertekad nilai matematika ku harus
bagus. Aku harus bisa menunjukkan siapa aku.
Setahun berjalan. Dan akhirnya aku lulus dari SD Muh
2 dengan nem terbaik no 5 di sekolah. Dan Imam mendapat nem terbaik di sekolah.
Imam si ahli Sains.. J
Aku sudah buktikan pada semua guru kalau aku bisa..







































Post new comment