Tue19Jul2011
Scarlet Snow 2 - Devil's Play
152 kali
0 kali
not admin's choice
[b][u]Scarlet Snow part 2[/u][/b]
[b]Devil's Play[/b]
[b]Awan badai sedang bermuram durja di luar jendela, membuat bulan sekarang hanya terlihat sebagai lingkaran cahaya buram yang samar-samar di langit malam.
Lagi, di ruang keluarga itu, hanya ada nyala perapian yang memenuhi ruangan. Semuanya begitu hening kecuali ketukan hujan di jendela,
ketika ada suara beberapa langkah kaki yang berlari ke arah ruangan tersebut.[/b]
[b]"Ibuuu !!!" Seorang anak memeluk ibunya dari belakang. Anak-anak yang lain dengan cepat duduk di lantai depan ibu mereka.[/b]
[b]"HEKK !!!" sang ibu tercekik, hampir jatuh terjungkal beserta kursi goyangnya.[/b]
[b]"Lanjutkan cerita kemariin !" seru seorang anak yang duduk di lantai.[/b]
[b]"Uhuk uhuk ! Cissa ! Sudah kubilang jangan memelukku seperti itu ! Nakal !" sang ibu menaruh anak perempuan bungsunya itu di pangkuan dan mencubit kedua pipinya.[/b]
[b]"Nyuaaa..." (suara Cissa dicubit)[/b]
[b]"Ah, cerita kemarin ? Pas sekali cuacanya, cuacanya waktu itu juga sama !" ujar sang ibu dengan semangat.[/b]
[b]"Ibu... sebelum mulai, jangan lupa lepaskan cubitan Cissa."[/b]
[b]"Nyuaaa..."[/b]
[b]"Hehehe... Maaf, ibu lupa."[/b]
...tapi ketika tongkatnya bersentuhan dengan leher Feng, sebuah cahaya yang sangat terang bersinar.
"A-apa ini ?!" sang gadis terkejut. Begitu pula Feng.
Begitu sadar, mereka sudah berada di suatu kota asing.... Anehnya, tidak ada orang sama sekali.
"O-oy ! Kau ! Jelaskan ! Di mana kita ?!" bentak gadis tersebut pada Feng.
"M-mana kutahu ! D-dan lagi, siapa kau ? menyerangku tiba-tiba ! Apa yang kau maksud dengan 'Fantome' ? Apa yang kau maksud dengan 'nada' ?!
Oy ! Harusnya aku yang bertanya !!!" balas Feng.
Sang gadis melihat sekeliling. Kemudian perhatiannya kembali pada Feng. "...Baiklah... karena kelihatannya situasinya aman, akan kujelaskan satu persatu...
'Fantome' adalah... jiwa orang-orang yang sudah mati, tapi masih mempunyai penyesalan yang besar, sehingga ia
gentayangan."
"Dan tentang 'nada' ?"
"Ini... aku bisa mendengar semacam melodi dari setiap orang...
melodi itu menunjukkan sifat mereka, dan bagaimana mereka telah menjalani hidup.." jelas gadis itu panjang lebar.
"...Kau kira aku akan memercayai semua itu ? Ah, sudah sudah ! Di mana kita sekarang, dan bagaimana kita bisa keluar dari sini ?! Aku tadi buru-buru !"
"........." gadis tersebut memandang Feng sejenak, sebelum ia mendekati Feng dan memegang bahunya.
Lalu ia mulai berbicara, "Katakan, apakah penyesalan terbesarmu ?" Setelah memegang bahu Feng sejenak,
gadis tersebut tersenyum. "Ah, ternyata dia bukan 'Fantome'... Ah ? Ingatan ini ? Menarik..." kata sang gadis dalam hati.
Feng melepaskan tangan gadis itu dari bahunya dengan satu sentakan lengan."Kenapa aku harus menjawabnya ?"
"Yah, sebenarnya tidak perlu... aku sudah mengetahuinya..." Ia melepaskan tangannya dari bahu Feng. "Penyesalan terbesarmu adalah menusuk adikmu sendiri, kan ?"
"!!! D-dari mana kau tahu ?!"
"Yah, itu mungkin bisa dijawab nanti... Ini pasti adalah kota Shanzong, 3 tahun yang lalu. Hari dan tempat di mana penyesalan terbesarmu terjadi."
"Pokoknya bagaimana cara kita keluar dari sini secepatnya ?!"
Gadis tersebut tersenyum. "Dalam kasusmu, dengan menghentikan dirimu menusuk adikmu sendiri hari ini.
Dan kurasa kau tahu betul, tempatnya ada di mana..."
Feng langsung bergegas ke ujung lain kota tersebut, diikuti sang gadis.
Ternyata kota itu kosong karena para penduduk telah mengungsi ke gunung, tempat di mana ia mengarah sekarang.
Seiring melintasi kota, mayat-mayat yang bergelimpangan di pinggir jalan makin banyak.
Saat sampai ke ujung lain kota yang terletak di kaki gunung,
di sana ia telah dinanti oleh pemandangan yang akan membekas di ingatannya untuk bertahun-tahun...
[b]"Jangan beri tahu ayah kalau ibu menceritakan bagian ini, ya."[/b]
[b]"Kenapa, bu ?"[/b]
"M-Mundur ! GYAA-" *crat*
"Tiga ratus tiga puluh..."
"T-TIDA- AAAAAH-" *crat*
"Tiga ratus tiga puluh satu... Fufufu..."
[b]"Berdarah-darah." jawab ibunya singkat.[/b]
'Xue' yang masih berumur 10 tahun, adiknya, sedang tertawa puas membantai penduduk kota yang sempat kabur dari pembantaian di kota.
Tapi 'Xue' yang ini membawa tombak es yang telah tercelup dalam darah...
"Urgh-" Feng hampir muntah, tapi ia menahannya dengan tangan.
"XUEE !!! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN ??!!" teriak 'Feng' yang masih berumur 11 tahun. Ia berdiri dekat Feng.
"......Indah, bukan ?" jawab 'Xue'.
"Apa ?!"
"...Indah bukan ? Darah..." senyum 'Xue'.
Semua yang ada di sana tampak tidak memperdulikan Feng dan sang gadis.
Seolah-olah ini adalah sebuah film, dan gadis tersebut dan Feng adalah penontonnya.
[b]"Dunia adalah sebuah panggung, dengan semua laki-laki dan perempuan sebagai pemainnya.
Setiap orang ada saatnya tampil naik, ada saatnya undur turun, dan terkadang,
sebuah peran tampil dalam waktu lama dan menjadi inti penggerak cerita.
Sayangnya, ada saat-saat pada setiap peran di mana skenario itu penuh dengan duri dan siksa... seakan-akan ditulis oleh seorang iblis.[/b]
"Inikah penyesalanmu ?" tanya sang gadis dengan tangannya menutupi mulut, agak mual dengan semua itu.
"..........." Feng tidak dapat berkata apa-apa.
'Feng' mengeluarkan sebilah pisau. Dengan berlinangan air mata, ia maju sambil menghindari serangan-serangan 'Xue'.
"Hmmm... boleh juga kau... kalau tidak salah, kau kakakku, kan ? Hebat juga, seorang pemburu biasa bisa menghindari seranganku..." senyum 'Xue'.
"Aku telah berjanji akan selalu melindungimu dari apapun... tapi maaf !" Ia menghindari satu serangan lagi, dan lalu maju,
untuk menusuk perut 'Xue'.
Tetapi Feng berlari dan memegang tangan 'Feng' yang menggenggam pisau. Ia hampir menghentikan tusukan itu...
sampai sang gadis memegang tangan Feng dan menghentikannya. Pisau itu pun menembus perut 'Xue', seperti yang seharusnya terjadi.
"Maaf, Xue... Kakak pernah berjanji akan melindungimu, tapi malah aku sendiri yang melukaimu.. ma...af..." 'Feng' menangis tersedu-sedu, tapi tetap menusuk lebih dalam, dengan mata tertutup.
"agh-"
[b]"Pengecut membunuh dirinya sendiri berkali-kali sebelum liang kubur, sementara pemberani hanya mencicipi sabit kematian sekali."[/b]
Tiba-tiba 'Xue' tersenyum lebar. "Yang tadi itu sama sekali tidak terasa... hehehe..." *JLEBB* Tombak esnya menembus perut 'Feng'.
"....kenapa, Xue ? ........kenapa ?"
Xue tidak menjawab apa-apa, hanya tersenyum dan mengeluarkan taringnya. Dan selanjutnya yang terjadi...
Feng hanya bisa terperangah melihat 'kematiannya' sendiri yang tragis di tangan 'Xue'...
"[b]Jika saja Feng tidak mengingkari janjinya untuk melindungi Xue, termasuk tidak melukainya juga, maka
ia tak akan dibiarkan hidup saat itu. Dan, dunia yang kita kenal saat ini takkan pernah sama tanpanya."[/b]
"Jangan, Feng... Bila kau benar-benar menghentikannya, jiwamu akan hilang seperti asap, sama seperti semua 'Fantome' yang telah kubunuh...
Mereka tidak dapat menerima penyesalan mereka dan berusaha menghentikannya... meskipun semua ini hanyalah ilusi.
Aku berbohong tadi." gadis itu tersenyum, meski masih kelihatan agak mual.
"..........................................." Feng masih belum bisa merespon, karena masih shock.
[b]"Tapi bu, bukankah janji harus ditepati, tak peduli apapun yang terjadi ?"[/b]
[b]"Janji dibuat supaya manusia menjadi lebih baik, dan bila janji itu malah bersifat merusak,
maka tidak mengingkarinya justru salah, sayang." sang ibu tersenyum kecil.[/b]
Sekali lagi, cahaya yang sangat terang menyelimuti mereka, dan ketika membuka mata, mereka telah kembali di lorong asrama Amber Academy.
".......Oke..." Feng berusaha menenangkan diri. "Siapa kau, dan kenapa kau membohongiku tadi ?"
"Namamu Feng Sparrowhawk, kan ? Tadinya kukira kau benar-benar 'Fantome', tapi ternyata bukan... jadi akhirnya aku hanya mengetesmu saja."
"Tes apa ?!"
Gadis memojokkan Feng di tembok, dan berbisik ke telinga Feng. "Kalau aku tadi berbohong lagi, dan semua itu bukan ilusi, dan kau bisa saja menghentikan tusukan itu, apa yang akan kau lakukan sekarang ?"
[b]"Jadi, sebenarnya tadi itu cuma ilusi atau benar-benar masa lalu Feng ?"[/b]
Feng memegang kerah baju gadis tersebut dengan marah dan mengangkatnya. "Kalau begitu kenapa kau menghentikanku tadi ?"
"Kalau begitu, bila kau tidak menusuknya, apa yang akan terjadi pada 3 tahun terakhir kau di Amber Academy ini ?
Akan ada di manakah kau ? Masih hidupkah kau ? Tidak adakah kebahagiaan yang kau dapat selama 3 tahun ini ?" tanya sang gadis.
Mendengarnya, Feng teringat akan agaimana ia bisa sampai ke Amber Academy ini.
"Ini... di mana ?" tanya Feng yang terbaring lemah di sebuah ranjang [i]Infirmary[/i].
"Oh, kau sudah bangun ? Azu-nee ! Azu-nee ! Ia sudah sadar !" kata seorang anak kecil, sekitar 10 tahunan.
Seorang wanita dengan gaun Victorian datang. "Kau sudah sadar ? Sudah seminggu kau koma...
Namaku Azuri Terrarossa, yang membawamu ke sini. Tenanglah, adikmu ada di ranjang sebelah. Ia sedang tertidur lelap."
"Ini... di.. mana ?"
"Kau ada di Amber Academy, Kerajaan Azurite. Aku menemukanmu di kota Shanzong,
dan karena tidak ada tempat lain, ya kubawa saja kau ke sini." jawab Ibu Azurite.
"...hei, hei, tidakkah kau pikir bekas luka tombak di perutnya agak aneh, Azu-nee ?"
"Hmm... Yah....."
Ia tiba-tiba sadar dari [i]flashback[/i]-nya, dan menjawab, "Itu sama sekali bukan urusanmu." Lalu Feng melepaskan gadis itu.
"............Aku berbohong lagi. Semua itu memang hanya ilusi. Aku hanya ingin mengetesmu. Hahaha-"
[b]"Hanya ilusi, Finley. Gadis itu hanya ingin mengetes seberapa bencinya Feng pada kehidupannya
sekarang, dan dengan sedikit usaha dan keberuntungan, mengubah pandangan Feng."[/b]
*PLAKK* Feng menampar gadis itu.
"JANGAN BERCANDA ! KAU MEMPERLIHATKANKU SEMUA ITU DAN SETELAHNYA KAU MENGATAKAN INI HANYA SEBUAH TES ?
JAWABAN MACAM APA ITU ?!! Lagipula, kata 'bahagia' sudah hilang dari kamusku sejak tragedi Shanzong."
"Eh......" sang gadis tak tahu apa yang harus dikatakan. Tangannya memegang pipinya yang masih merah. "Artinya kamusmu kurang lengkap, Feng." lanjut sang gadis.
Feng menamparnya lagi.
"Hmph." kemudian ia berbalik badan dan berlari menyusuri koridor lagi.
"Yah... mungkin aku agak kelewatan tadi..." kata sang gadis pelan sambil memandang Feng yang semakin menjauh.
Tiba-tiba Feng berhenti, dan berkata, "...Maaf, tadi aku... menamparmu..." dan lanjut berlari lagi.
Sang gadis tersenyum kecil.
Setelah berlari sesaat, Feng membuka sebuah pintu di sebelah kanannya. Itu adalah kamar Xue. "Xue ? Kau-"
Belum selesai kata-katanya, sebuah tombak es telah tertancap di perutnya.
"Ah... sial... aku terlambat." rintih Feng.
Sementara itu, Ibu Azurite di kantornya...
"Hmm... Kelihatannya semua berjalan seperti rencana..." senyum Azurite sambil menyeruput tehnya.
"Kuharap Xue tidak menusuknya di bagian yang vital... Huhuhu..."
[b]"Rencana Azurite ?"[/b]
[b]"Azuri, Finley." sang ibu tertawa geli karena anaknya juga salah mengucapkan.[/b]
[b]"Sebenarnya Azuri teman atau lawan sih ?"[/b]
[b]"Rencana tidak selalu mengacu pada hal yang buruk, mengerti ?"[/b]
[b]"Berarti, Azuri teman ?"[/b]
[b]"Tapi aku juga tidak mengatakan rencananya adalah hal yang baik, kan ?"[/b]
[b]"Kalau begitu, baik atau buruk ?"[/b]
[b]"Waktunya tiduur~[/b][b]♫[/b][b]"
"IBUUU !!!" teriak semua anaknya serempak.[/b]
[b]- End of Part 2 -
Kunjungi page saya di
:[/b] http://www.facebook.com/pages/Scarlet-Snow-The-Song-of-Pissenlit/1788498...
:[/b] http://www.facebook.com/pages/Scarlet-Snow-The-Song-of-Pissenlit/1788498... 






































Post new comment