Run Away but Come Back Some Day
Cerita ke tujuh gue... Yaay!! Wow pas gue baca halaman ke enam, buseeet bet... Sori ya klo terlalu bnyak, tdinya si... pgin gue pisah... cman masalahnya trlalu tanggung jadi gue taro dlam 1 crita panjang... Trus stelalh gue liat crita orng lain ada satu hal yang gak gue cantumin! Nama tokoh... sengaja si... soalnya banyak tokohnya! Oke d... Slamat menikmati...
_____________________________________
Di pagi yang gelap seperti biasanya aku terbangun. Aku selalu heran dengan waktu. Kenapa begitu cepat kau berjalan di saat aku ingin kau menungguku? Kau tahu, waktu? Kau sudah meninggalkanku di Istana Levathrone yang mengerikan ini selama lima bulan. Dan karena aku sudah berjanji dengan kakekku agar aku mau dilatih menjadi sorceress pembunuh yang handal, kakekku tidak lagi pernah menyuruhku untuk mengikuti turnamen atau menghukumku dan Ginka karena melanggar peraturannya saat itu. Karena hal itu, selama lima bulan terakhir ini, aku selalu latihan bersama kakekku untuk belajar sihir.
Semakin lama aku berlatih bersamanya, semakin kuat aku dari hari ke hari. Dan tanpa aku sadari kemampuanku sudah hampir melampaui tangan kanan Levathrone Rufus Anthorm, yang dikenal sebagai sorcerrer yang paling ditakuti oleh seluruh pengikut-pengikutnya. Dan sekarang di akhir bulan kelima aku akhirnya bisa melampaui Rufus, hanya saja aku tetap tidak bisa melampaui kemampuan Levathrone. Lalu aku menadari sesuatu. Levathrone sangat kuat dalam sorcerer dan tak mungkin bisa dikalahkan dengan jurus sorcerer yang sama. Aku memutuskan untuk keluar dari sorcerer.
"Nek, aku mau pergi dari sini!" kataku penuh keseriusan.
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak di luar saja dari dulu? Kenapa kamu malah ke sini? Walto, keluar dari sini tidak segampang membalikkan tangan! Kalau akhirnya kamu juga keluar dari sini, kan jadi ribet urusannya?"
"Awalnya aku tidak tahu, nek! Aku pikir aku suatu saat bisa mengalahkannya jika aku berlatih keras sorcerer, tapi aku salah! Kakek adalah sorcerer terbaik, dan aku tak mungkin bisa mengalahkan seseorang yang menjadi guruku. Dia pasti tahu persis siapa aku dan apa kelemahanku."
"Jadi maksudmu?"
"Aku memang ingin pergi dari sini, tapi bukan untuk kabur. Aku ingin pergi dari sini, karena aku ingin mempelajari ilmu sihir lain selain sorcerer. Lagipula, aku tidak suka di sini, nek."
"Jadi kamu tidak suka dengan nenek?"
"Bukan begitu, nek! Kalau aku dulu di Lazuardian, aku mempelajari bahwa persahabatan sangatlah penting! Di sini yang aku lihat hanya bagaimana cara aku menang. Mereka tidak mengenal apa itu rasa sakit, kelemahan, dan belas kasihan. Tidak peduli apabila lawanmu itu adalah sahabatmu sendiri. Itukan sangat bertentangan dengan prinsipku, nek!"
"Uhhmm... prinsip apa?"
"Temanku, Mike, pernah memberitahuku bahwa jika kita hidup di dunia luar, janganlah pernah bergantung pada orang lain! Tapi saat teman kita jatuh dan saat teman kita terluka, kembalilah dan selamatkanlah temanmu! Karena tanpa mereka, kita tidak akan mungkin bisa hidup di dunia ini!"
"Wow, dia adalah teman yang sangat bijak! Aku tidak pernah tahu kalau dia bisa berkata seperti itu!"
"Itulah, Mike! Cinta pertamaku..." saat aku berkata seperti itu, mukaku menjadi merah.
"Ahh... aku mengerti sekarang... Tidak heran kau menyukainya! Dia pasti orang yang lembutkan?"
Aku hanya bisa mengangguk dan terdiam. Dan tanpa kusadari mukaku sudah semakin merah.
"Baiklah! Nenek akan membantumu! Tapi pertama-tama! Nenek ingin menjelaskan sesuatu kepadamu! Di dunia ini ada tiga jenis penyihir. Pertama adalah jenis Wizard. Wizard adalah golongan penyihir yang berasal dari keturunan penyihir asli. Perbedaannya dengan Sorcerer adalah mantra mereka sangat panjang sehingga mereka perlu membawa buku mantra di tangan mereka. Dan dari segi penyerangan Wizard berbeda dengan Sorcerer. Jika Sorcerer menyerang secara langsung, Wizard menyerang secara perlahan-lahan."
"Lalu yang kedua pasti Sorcerer kan, nek?"
"Iya! Sorcerer adalah golongan penyihir yang paling efisien di kalangan para penyihir. Mereka hanya menggunakan mantra yang singkat untuk mengeluarkan sihir mereka. Semakin kuat mantra yang mereka gunakan semakin kuat kekuatan sihir mereka. Hanya saja, para sorcere tidak bisa menggunakan mantra setiap saat. Mereka punya batasan penggunaan mantra-mantra tersebut setiap harinya sesuai dengan energi yang masih tersisa. Makanya setiap sorcerer yang sedang bertarung, harus menggunakan kekuatan mereka dengan baik."
"Berarti semakin kuat sorcerer semakin banyak energi yang mereka punya?"
"Bisa dibilang gitu! Nah, yang ketiga adalah Warlock! Warlock adalah jenis penyihir yang bukan berasal dari keturunan penyihir asli. Berbeda dengan Wizard dan Sorcerer, Warlock tidak menggunakan mantra untuk mengeluarkan mantra untuk mengeluarkan sihir mereka. Warlock hanya seperti berdoa sesuatu dan terkabul permintaan tersebut. Kekuatan sihir mereka tidak berasal dari seberapa kuat mantra mereka. Mereka bisa mengatur berapa kekuatan sihir yang akan mereka gunakan untuk menyerang lawan. Dan apa yang membedakan Sorcerer dengan Warlock adalah mereka tidak mempunyai batasan dalam penggunaan sihir mereka."
"Kenapa bisa mereka bisa menggunakan kekuatan tersebut tanpa ada batasan tersebut?"
"Karena mereka bukan penyihir asli, mereka tidak bisa menggunakan sihir itu dengan kekuatan mereka. Kecuali jika mereka menggunakan kekuatan yang ada di sekitar mereka. Jadi para warlock menggunakan kekuatan sihir dengan menyerap energi yang ada di sekitar mereka."
"Terus kenapa nenek memberitahuku hal-hal ini? Apa kaitannya ini semua dengan kepergianku nanti?"
"Karena kau berkata bahwa kau ingin belajar lebih banyak, kan? Nenek sebelum di tangkap Levathrone, nenek punya banyak teman di kalangan Wizard dan Warlock. Jadi nenek ingin kau memilih yang mana yang ingin kau pelajari, Wizard atau Warlock?"
"Aku... bisa tidak dua-duanya?"
"Bisa... tapi satu-satu belajarnya."
"Uhm... aku pilih Warlock dulu..."
"Baiklah! Tapi tunggu dulu ya... Nenek harus buat surat pernyataan terlebih dahulu supaya kau tidak ada dalam masalah waktu kau tiba di sana."
"Memangnya pernyataan apa?"
"Bahwa kau adalah cucuku yang ku titipkan kepada pemimpin Warlock untuk dilatih." kata nenek sambil mengedipkan matanya.
Setelah nenek selesai dengan surat pernyataanya dan mencap suratnya dengan stempel nenek, nenek datang menghampiriku sambil memberiku surat tersebut.
"Walto, jaga surat ini baik-baik! Jangan sampai hilang, ya?"
Aku tersenyum kepada nenek,"Makasih nek! Oh iya! aku lupa satu hal!"
"Apa itu?"
"Aku ingin membawa Pumpy, supaya Pumpy bisa kujaga terus nek...."
"Boleh, nenek tidak akan memaksamu untuk meninggalkan hewan itu di sini, kok!"
"Terimakasih, nek!", kataku sambill memeluk nenek. "Terus bagaimana caranya keluar dari sini?"
"Kakek jarang tidur dan istirahat untuk mengawasi pengikut-pengikutnya supaya mereka bekerja dengan baik. Dan dikala Levathrone sedang istirahat Rufuslah yang akan menggantikannya."
"Jadi gimana caranya agar tidak ketahuan oleh mereka?"
"Keduanya itu tidak mungkin. Tapi kakek masih mungkin. Levathrone biasa tidur hanya dua jam sehari, tapi tidak tidur jam tertentu saja. Bisa sore, malam, siang. Maka dari itu nenek akan menyuruh salah satu hambaku untuk mengawasi apakah kakek sudah tidur atau belum. Dan di saat mereka bilang kakek sudah tidur, nenek akan membawamu keluar dari sini."
"Baik, nek!"
"Dan bawalah alat penunjuk arah ini bersamamu, agar kau bisa sampai ke tempat itu tanpa tersesat. Alat ini bisa membawamu ke tempat yang akan kau tuju. Jadi jangan khawatir tersesat,ya?, kata nenek sambil membawa alat seperti kompas itu di tanganku.
"Iya, nek! Terimakasih!"
Akhirnya aku mau mengikuti rencana nenek. Beberapa jam kemudia nenek mengatakan kakek sudah tidur dengan pulas. Kemudian nenek mulai membawaku dan Pumpy pergi dari istana kakekku secara diam-diam ke gerbang pintu istana. Setelah sampai nenek dengan sigap berhasil melumpuhkan penjaga gerbang itu tanpa ketahuan oleh penjaga lainnya.
"Maaf, Walto! Nenek hanya bisa mengantarmu sampai di sini. Jagalah dirimu baik-baik! Nenek akan merindukanmu dan juga Pumpy." kata nenek menangis sambil mengelus Pumpy.
"Aku juga akan merindukan nenek nanti hiks... hiks... hiks..." jawabku sambil memeluk nenek.
Sesudah itu aku berpisah dengan nenekku. Ketika aku berjalan beberapa langkah dari pintu gerbang tersebut, tiba-tiba seseorang datang menghampiriku.
"Hey, Walto! Mau kemana kau pergi?" teriak seseorang di belakangku.
Saat aku berbalik, akhirnya aku menyadari bahwa dia adalah Rufus bersama pengikut-pengikut Levathrone lainnya, termasuk Ginka dan Centaure. Akhirnya aku memutuskan untuk mempercepat langkah-langkahku.
Kemudian Ginka menghalangiku.
"Kau tidak berniat kabur seperti yang dilakukan oleh ayahmu, kan?", sindir Ginka.
"Ayahku tidak kabur! Ayahku hanya ingin memilih jalannya sendiri!"
"Hah, terserahlah! Tapi jika kau ingin pergi dari sini, kau harus menghadapi kami dulu!"
"Ginka cukup! Tidak usah banyak bicara lagi! Serang!" teriak Rufus kepada yang lainnya.
"Baik!"
"Starkt Ijuss!" lalu cahaya yang terang benderang menyilaukan mereka semua. Dan aku memanfaat kesempatan tersebut sambil lari bersama Pumpy.
Di saat aku berlari tiba-tiba, "Falla!". Saat terkena mantra itu aku terjatuh ke tanah.
"Jurus yang sama tidak akan mempengaruhiku lagi, Walto!"
"Rasera!", saat kukeluar mantraku itu terjadi ledakan hebat di sekitarku.
"Skyddande barriär!", ternyata Rufus sudah mengeluarkan mantra itu sehingga tercipta pembatas pelindung dari seranganku.
"Wah, kau hebat sekali, Walto! Memang kau pantas jadi cucu Levathrone!", teriak Centaure tertarik. "Tapi coba kita lihat apakah kau bisa lari dari kekuatan paluku ini!", saat mengatakan hal itu padaku, Centaure memukulkan palunya ke tanah dan terjadi ledakan yang luar biasa hebat. Dan tidak sampai situ saja. Ledakan itu datang menghampiriku dengan cepat, membuatku dan Pumpy lari sekencang-kencangnya.
"Skynddande barriär!", kukeluar mantraku itu untuk melindungi diriku dengan Pumpy. Lalu kukeluarkan mantraku yang kedua, "Tusen ljus jagare!", sehingga keluar banyak sekali cahaya-cahaya kecil yang datang menyerang mereka dan meledak di depan mereka.
"Invertera glasse!", Ginka mantra itu padaku. Aku tahu Ginka pasti menggunakan mantra itu membalikkan jurus itu padaku, jadinya kugunakan mantra ini pada Ginka. "Folie stavar!" Jadi mantra yang digunakan Ginka menjadi gagal.
"Apa? Tidak mungkin? Kau!?" Kemudian cahaya-cahaya kecil penghancur itu dapat mengenai mereka, sehingga mereka dapat di kalahkan.
"Ginka... Kau pernah bilang kalau kau tidak akan jatuh ke jurus yang sama, kan? Aku pun juga begitu...", jawabku sambil meninggalkan dia. Dan tanpa disangka-sangka tiba aku diserang dengan mantra dari belakang, "förstöra tills döden!". Itu adalah mantra dapat menghancurkan benda dan sedikit orang salamat dari mantra ini.
Tapi ternyata Pumpy menyelamatkanku dari mantra penghancur, "Pumpy... kau... kenapa melakukan hal ini? Hiks... hiks... hiks...."
"Hahaha... Akulah yang menyerangmu, Walto!", sahut Rufus kepadaku
"Kau!!!" jawabku marah.
"Itulah membuatmu lemah, Walto! Kau punya rasa cinta kasih! Seharusnya kau tidak punya belas kasihan terhadap mahluk lain!" kata Rufus yang masih membujur kaku di tanah.
Lalu aku terdiam, "Maaf... Aku tidak sepertimu yang tidak punya belas kasihan! Sov till månen!". Aku mengeluarkan mantra yang membuat Rufus pingsan.
Kemudian aku menggendong Pumpy, dan membawanya ke tempat yang aman. Lalu membangun alas tidur yang nyaman untuk Pumpy dan meletakkannya di sana.
"Pumpy... Maaf aku gagal menjagamu hiks... hiks... hiks... Tapi aku tidak akan melupakanmu untuk selamanya, Pumpy!", tangisku untuk merelakan kepergian Pumpy dari sisiku.
Lalu pergi meninggalkannya secara perlahan-lahan, dan melihat Pumpy sekilas untuk melihat apakah Pumpy tenang berada di situ. Lalu aku pergi ke tempat para Warlock dengan mengandalkan penunjuk arah yang diberikan nenekku.
Aku pergi bukan untuk kabur. Aku pergi untuk kembali ke tempat ini dan memperbaiki tempat Anubis yang seharusnya sakral ini, walaupun aku sudah tidak pantas menjadi penerusnya lagi.
Sementara itu...
"Hey, Mike! Kau yakin Ruka di tempat seperti ini?"
"Menurutku si harusnya begitu, karena dia tidak kita berada di mana dan satu-satunya tempat yang mungkin di datangi seharusnya tempat ini. Tempat asalnya ayahnya si Ruka. Yang pernah dia ceritain ama kita!"
"Terus gimana kita tahu dia dimana sekarang?", lalu Ornlu memandang sekilas ke arah sekitarnya. "Eh, Mike! Lihat deh... tuh anjing yang ada di atas alas tidur itu!"
Lalu Mike dan Ornlu mendatangi tempat hewan tersebut.
"Ini sih bukan anjing, Ornlu! Tapi memang mirip anak anjing."
"Cuman aneh ya? Kepalanya besar, kaki kecil! Dah kayak king kong aja!"
"Itu... badannya yang besar bukan kepalanya, Ornlu!", kata Mike tersenyum maksa.
"Eh, tapi lihat dia gerak-gerak!", teriak Ornlu tiba-tiba melihat pergerakan hewan ini yang tiba-tiba. Lalu hewan itu mulai terbangun dari alas tidurnya, tapi agak sedikit ling-lung karena bekas serangan yang diberikan Rufus.
"Wah, dia masih hidup! Ayo, kita bawa dia ke tempat Lazuardian untuk diobati!", kata Mike yang mengharuskan.
"Kau yakin dia tidak berbahaya?" tanya Ornlu khawatir.
"Aku tidak tahu dia berbahaya atau tidak. Tapi yakin kali ini dia bukan hewan berbahaya."
"Lalu setelah membawa hewan ini ke Lazuardian. Apa yang seharusnya kita lakukan?"
"Kalau bisa kita harus melakukan hal yang sama dengan Ruka. Kembali ke tempat dimana kita berasal untuk mengetahui seperti apa keadaan tempat kita berasal. Karena kita bukan berasal dari manusia asli bukan? Hal ini sangat penting untuk bisa menentukan apa yang perlu kita perbaiki dari tempat tersebut. Dan nantinya bisa berguna untuk masa depan kita sebagai manusia, agar tidak mengulangi hal yang sama dengan kesalahan yang orang-orang di tempat kita lakukan."
"Ah, ribet amat ngomongnya! Tapi gue juga penasaran si... sama tempat asal gue kayak gimana! Tapi nanti loe rindu ama gue!"
"Ih, homo loe! Ya udah! Ayo, kita pergi!"
Comments
-
udah sip
Submitted by WisangGeni on 6 January, 2011 - 21:52.top markotop kata orang, tp tetep ada kekeliruan dikit, dikiiiiiiiiiiiiit banget, cuman ada kata yg lupa lom tercantum.
if the devil is real, so God must be real too -devil's-







































Post new comment