Rose Pouppe Chapter 2

4
106 kali
0 kali

not admin's choice

Normal 0 false false false EN-US JA X-NONE

Chapter 2: Premièrement, The First Doll.

“ Namaku Premièrement, Nona “, boneka itu memperkenalkan dirinya.

Boneka perempuan yang manis, berambut silver panjang sampai ke pinggang. Dengan tinggi yang mirip anak berumur tujuh tahun, sangat cocok memakai baju Lolita indigo beserta bandana berenda. Matanya berwarna merah, sangat berbeda dengan mata Rena yang berwarna abu-abu.

Ya, itulah Rose Poupée buatan Kotaro.

Rena langsung mengeluarkannya begitu sampai di mobil. Tentu saja, supaya tidak mengundang kecurigaan saat tertangkap polisi. Rena menyetir dengan pelan kali ini. Menurut radarnya, ada polisi yang datang setelah dia membunuh. Mungkin istri Genshi yang memanggil mereka.

Rena berpikir sejenak. Premièrement  adalah nama yang panjang. Mungkin ada baiknya itu dijadikan nama sandi boneka itu. Rena akhirnya memikirkan nama yang pendek, mudah diingat dan normal.

“ Aku akan memanggilmu Prima. Objections[1]? “, tanya Rena. Setidaknya itu diambil dari bahasa Latin yang artinya sama dengan Premièrement. Diubah dari Primus menjadi Prima.

“ Non, madame[2] “, jawab boneka itu sopan.

“ Hmm... Bagaimana caramu membunuh? “, Rena bertanya lagi.

“ Ng... Ini? “, Prima mengangsurkan pisau lempar bergagang tengkorak, “ Aku melemparkan ini pada korban sampai dia mati. Pastinya berbeda dengan cara Nona, bukan? “.

“ Non[3]... “, Rena terkikik, “ Kamu mengandalkan kecepatan benda yang kamu lempar. Bedanya, aku pakai pistol, sedangkan kamu pakai pisau. Setidaknya pisaumu berbeda dengan pisauku, untuk cirri khas pembunuh “.

Prima lebih banyak diam. Boneka itu sangat menikmati perjalanannya menuju rumah barunya. Rena sendiri sangat senang karena memperoleh boneka yang terjamin kualitasnya. Baginya tidak masalah beberapa milyar mengalir dari kantongnya, toh itu belum seberapa. Dia punya triliunan hasil membunuh. Rena yang tidak memiliki keluarga sudah pasti senang karena boneka ini hadir seperti adik. Gadis berambut hitam itu juga memikirkan nama-nama kesembilan boneka lainnya. Secundus, Tertium, Quartus, Quintus, Sextus, Septimo, Octavus, Nonum, dan Decimus. Mengingat nama-nama boneka lainnya juga pasti akan memakai nomor dalam bahasa Perancis untuk nama sandinya, padahal ini kan Jepang.

“ C'est à[4] “, Rena membuka kunci pintu mobil, “ Ini rumah barumu “.

Prima membuka pintu di sampingnya, lalu turun dan menunggu Rena membuka pintu rumah. Sama seperti rumah Kotaro, rumah ini berada di kawasan terpencil. Rumah yang besarnya melebihi rumah Kotaro. Sangat mewah dan klasik, cocok dengan baju Lolita Prima.

“ Kamu tidur di mana? “, tanya Rena.

“ Aku tidur di koperku. Apa Nona punya tugas perdana untukku? Aku ingin Nona melihat caraku membunuh “, Prima langsung bertanya.

“ Oke, tapi kita tunggu besok. Aku sudah cukup lelah dengan misi malam ini. Dari matahari terbenam sampai pergantian hari aku sudah bekerja 6 kali “, Rena merebahkan dirinya di sofa ruang tamu.

Prima ikut duduk di sofa kecil, memandangi sekelilingnya. Semua barang di rumah ini terkesan klasik. Sebenarnya ada berapa ruangan di rumah sebesar ini? Rumah ini juga memiliki lantai 2. Belum lagi loteng.

“ Nona mau kopi? “, Prima menawarkan.

“ Aku mau chococinno saja... “, Rena bangun dari sofa, lalu melepas jaket hitamnya yang telah kotor ternoda darah. Setelah itu, Rena berjalan menuju dapur yang berada tepat di samping perpustakaan. Perpustakaan yang besar. Di depan dapur ada sebuah ruangan yang katanya Rena adalah ruang penyimpanan senjata-senjatanya.

Setelah 11 menit membuat chococinno plus susu cokelat, Rena merasa badannya segar kembali. Prima ternyata pintar membuat minuman-minuman seperti itu.

“ Nona tinggal di sini sendirian? “, tanya Prima sambil meneguk susu cokelatnya.

Rena menghirup chococinno di tangannya, “ Begitulah. Pagi hari aku menemui pemohon sebelumnya, terus ke bank. Siang hari aku mendapatkan banyak e-mail permohonan, sore hari aku memikirkan cara pembunuhan. Malam hari sampai pergantian hari, aku bekerja “.

“ Sepertinya berat... “, Prima berkomentar.

“ Légèrement[5] “, Rena meletakkan mug hitamnya, “ Rumah ini besar. Aku Cuma membersihkan ruangan yang penting untukku saja. Dapur, kamar tidur, perpustakaan, ruang senjata, kamar mandi... Aku tidak terlalu memusingkan ruangan-ruangan lain seperti ruang makan, ruang tamu atau ruang keluarga. Kolam renang dalam ruangan saja sudah aku kuras supaya tidak terlalu merepotkan “.

“ Tapi sekarang sudah agak berkurang, kan? “, Prima ikut meletakkan mug indigonya, “ Kau sekarang nona-ku. Aku yang akan membantumu. Setidaknya, sampai saudara-saudaraku kau ambil “.

“ Je vous remercie[6] “, Rena menghirup chococinno itu lagi sampai habis.

“ Ng... “, Prima ragu-ragu melanjutkan kalimatnya.

“ Aku tidur dulu. Kamu? “, Rena mengambil mug indigo Prima dan mencucinya. Prima jadi sedikit tidak enak hati melihatnya.

“ Kamu letakkan saja kopermu di kamarku. Aku belum menyiapkan kamar khusus untukmu dan saudara-saudaramu “, Rena mengeringkan tangannya.

“ Ng... Nona... “, Prima akhirnya bersuara, “ Apa Nona besok mau pergi? “.

“ Tenang, aku Cuma pergi mengambil bayaran. Aku ingin cepat melihatmu bertugas “, Rena mengacak rambut Prima gemas, “ Besok aku akan kembali jam 12 lebih 59 detik “.

“ Oui, madame[7] “, Prima mengikuti langkah Rena.



[1] Keberatan?

[2] Tidak, Nona.

[3] Tidak...

[4] Sudah sampai.

[5] Sedikit.

[6] Terima kasih.

[7] Ya, Nona.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments


return to top