Rose Poupee Chapter 15

0
98 kali
0 kali

not admin's choice

Normal 0 false false false EN-US JA X-NONE

Chapter 15: First Day At School.

“ Terima kasih “, Satan meninggalkan meja makan dan mengambil coat-nya.

Untuk pertama kalinya, atas perintah Organisations Enfer, Rena bersekolah kembali di Akademi Mochizuki bersama Satan. Yang pasti Rena agak grogi bersekolah kembali karena sudah 3 tahun tidak bersekolah.

“ Rena, pakai coat-mu. Ramalan cuaca hari ini bilang hari ini anginnya kencang “, Satan melihat Rena memakai sepatunya.

Gadis itu menurut, lalu mengambil tas backpack yang berisi buku tulis, buku cetak, dan beberapa alat elektronik lainnya. Menurut Quaria, seragam sekolah itu cukup bagus. Rok hitam, kemeja putih, dasi hitam, dan jas hitam. Cocok dengan kepribadian Rena yang cenderung ke ‘darken one’ saat di luar rumah.

“ Oke, kami berangkat!! “, seru Satan pada Rose Poupee, lalu menarik tangan Rena keluar.

Mereka berjalan bersama menuju sekolah yang berada tidak jauh dari rumah Rena. 2 gadis itu sengaja bangun lebih pagi dan berangkat lebih pagi untuk menemui Kei. Yeah, di akademi itulah Kei bekerja. Dan lagi, dia juga baru naik pangkat jadi kepala sekolah. Keren?

“ Kenapa kita nggak naik mobil? “, tanya Rena kecapekan.

“ He? Ayolah! Masa kamu nggak kuat berjalan sedekat ini? “, protes Satan.

“ Kalau jaraknya 10-15 meter, aku bisa tolerir. Tapi masa kita sudah berjalan 97 m baru sampe? Kan capek! “, Rena balik protes.

“ Dengar ya. Kita masih SMP kelas 3. Setahuku, yang diperbolehkan membawa mobil adalah orang berusia 20 tahun ke atas. Apa nggak aneh kalau kita sendiri yang bawa mobil? “, jelas Satan.

“ Tapi, tetap saja... “, Rena bersandar di gerbang sekolah.

“ Sudah, nggak usah protes. Kita harus menemui Kei-san “, kata Satan, lalu menarik tangan Rena yang sudah lemas.

2 gadis itu berjalan bersama menuju ruang kepala sekolah. Ternyata Akademi Mochizuki terdiri dari 4 tingkatan; TK, SD, SMP dan SMA. Itu karena di Mochizuki penduduknya sedikit, tapi luas daerahnya luas. Anehnya, tiap tahun jumlah pertambahan penduduknya rata-rata selalu sama. Walaupun sudah banyak yang dibunuh oleh pembunuh bayaran seperti Rena.

“ Sumiasen “, kata Rena sambil mengetok pintu berpapan nama ‘Ruang Kepala Sekolah’.

“ Masuk “, suara di dalam ruangan menyahut.

Rena memutar kenop pintu, lalu mata silvernya segera menemukan Kei yang sedang duduk dan nyaris tertimbun tumpukan-tumpukan kertas.

“ Kei-san? Kau tidak apa-apa? “, Rena menyingkirkan beberapa ketas di sekeliling meja Kei.

“ Oh? Ternyata kalian. Sudah kutunggu, lho “, Kei menguap.

“ Terus? “, Rena merapikan kertas-kertas itu.

“ Mana ‘anak itu’? “, tanya Kei sambil merapikan bajunya.

“ AHEM! “, Satan berdehem.

“ Dia orangnya? “, tanya Kei lagi.

“ Yeah. Silahkan mempekenalkan diri, Satan “, kata Rena, lalu mendekati Satan.

“ Perkenalkan, namaku Nia Renata. Yoroshiku! “, Satan membungkuk.

“ Renata-san? “, Kei mengulang.

Satan mengangguk.

“ Kalau begitu, tunggu di sini sampai bel masuk berbunyi. Aku keluar sebentar “, Kei bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar.

BLAM

Pintu itu tertutup. Rena dan Satan duduk di sofa ruang kepala sekolah, lalu menyibukkan diri. Satan mendengarkan music, sementara Rena menulis blog. Benar-benar bangsawan. Kemudian Rena melihat Satan yang asik menggumamkan lagu dari mulutnya. Datang lebih awal itu memang sangat membosankan. Mereka berdua menghabiskan waktu 17 menit di sana.

TOK TOK TOK

3 kali ketukan terdengar di pintu. Rena dan Satan tidak menjawab karena sibuk dengan kegiatan masing-masing. Telinga pembunuh mereka mendengar nada kecemasan dan kekhawatiran di luar sana.

“ Kei-sensei!!! “, pintu dibuka dengan kasar. Muncul sosok laki-laki seumuran mereka yang memiliki rambut berwarna honey blond yang lumayan keren. Anak itu tiba-tiba saja bengong melihat sosok Rena dan Satan. 2 gadis itu melihat semuanya dari mata azure anak itu.

“ Eh... “, anak itu terlihat bingung, “ Kalian siapa, ya? “.

“ Perkenalkan! Aku Nia Renata, murid pindahan dari Indonesia! Anak itu namanya Rena Shimizu. Yoroshiku! Namamu siapa? “, Satan memperkenalkan diri.

“ Renata-san, ya? “, ulang anak itu, “ Namaku Ren Kagami. Yoroshiku “.

“ Ada apa kamu memanggil Kei-san? “, tanya Rena sambil tetap terpaku pada laptopnya.

“ Ah, iya! “, Ren teringat, “ Ada pekelahian antara geng kelas 2 dan kelas 3! Apa kalian tau di mana Kei-sensei? “.

Rena langsung menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam backpack. Gadis itu melingkarkan jaket abu-abunya di pinggang, lalu berjalan keluar sambil memasang earphone yang tersambung dengan Ipod.

“ Kau yakin mau ke sana? “, tanya Satan.

“ Kei-san tidak bilang apa-apa soal ini. Terserah aku “, Rena merogoh saku roknya dan mengeluarkan permen karet mint, “ Lagi pula, aku punya benda ‘itu’ “.

“ Haaah... Yah, sudahlah. Cepat kembali ya “, Satan kembali duduk di sofa.

“ Dan kau, Kagami-san. Tunjukkan tempatnya “, perintah Rena sambil memakan permen karetnya.

“ Eh? “.

“ Tidak usah protes. Lakukan saja! “, Rena menarik tangan Ren.

Ren menunjukkan tempat perkelahian. Di luar dugaan Rena, ternyata di sana sudah ada beberapa property sekolah yang rusak. Untungnya, ini di lapangan belakang sekolah, jadinya tidak terlalu mencolok di depan.

Geng kelas 2 dan 3 laki-laki semua. Mereka saling menyerang dengan menggunakan bagian-bagian property sekolah yang bisa mereka ambil, seperti kayu dari bangku taman atau ranting pohon. Ren berhenti di jarak 10 meter dari medan perkelahian, sementara Rena terus berjalan maju, menuju tempat sampah yang mulai hancur. Beberapa kali benda-benda yang dijadikan senjata perkelahian melayang ke arahnya, tapi langsung dihindari dengan mudah. Lajunya lambat sih, tidak seperti laju peluru yang cepat.

Lalu, ada juga tubuh manusia yang tiba-tiba melayang ke arahnya. Rena menghindar mundur, tapi dia menabrak sesuatu. Ups, ‘seseorang’.

“ Kamu!! “, laki-laki itu terlihat marah, tapi Rena tetap tenang.

“ Semuanya!! Anak itu menabrak ketua!! “, kata seseorang.

“ Dia mematahkan tulang Arubino!! “, seru seorang lagi sambil menunjuk tubuh yang tadi terlempar ke arah Rena.

“ Ha? “, Rena meletuskan balon permen karetnya, “ Aku tidak melakukannya “.

Tapi, Rena sudah dikeroyok duluan. Entah kenapa 2 geng yang tadi berselisih itu bersatu mengeroyok Rena. Alasannya juga tidak logis dan tidak bisa dinalar. Dasar orang-orang aneh.

“ Shimizu-san!!! “, teriak Ren.

Rena menghindari serangan beruntun dari orang-orang itu dengan mudah. Di rumah dia kan sudah sering latihan menghindari peluru secara random, masa menghindari tubuh manusia aja tidak bisa?

Makin lama, serangan orang-orang itu makin menggila. Bahkan ada yang pakai pemukul baseball dan cutter. Rena melihat benda tajam yang dibawa beberapa orang itu, lalu merogoh saku roknya lagi. Kali ini, dia mengeluarkan sarung tangan hitam berkancing. Tentu saja, dia memakainya sambil menghindar.

KLIK!

Sarung tangan itu terpasang sempurna. Kaki putih Rena langsung berhenti bergerak, padahal orang-orang mulai menyerangnya lagi. Ren berlari menuju ke arah gadis itu, lalu terjadi keanehan. Rena melangkah maju dengan tenang menuju ke arah Ren. Jemarinya yang terbungkus sarung tangan yang kini bekerja. Menyentuh setiap orang yang menyerangnya, lalu orang itu langsung pingsan. Aneh? Tidak bagi pembunuh bayaran seperti dia.

“ Sudah selesai “, Rena melepas sarung tangannya, “ Yuk, balik ke ruang kepala sekolah “.

Rena melewati Ren yang sedang terpaku melihat background yang dibuat Rena. Semua anggota geng itu ambruk, sepertinya pingsan. Kemudian, Ren menatap punggung Rena yang mulai menjauh. Anak baru yang misterius.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

return to top