Rose Poupee Chapter 4

4
152 kali
0 kali

not admin's choice

Normal 0 false false false EN-US JA X-NONE

Chapter 4: Deuxième, The Second Doll.

“ Ange de la Mort dan Premièrement  “, kata Rena di telepon rumahnya.

Prima yang sedari tadi memakan spaghetti di depannya sedikit memasang telinga saat nama sandi nona-nya dan dirinya disebut.

“ Kukira kamu sudah pindah, Black Cat “, Rena berbicara lagi.

Black Cat. Nama sandi pembunuh nomor 7. Prima melirik ponsel miliknya yang diberikan Rena 5 hari yang lalu. Sedikit pengenalan, Rena memasukkan foto-foto para pembunuh ranking 10 sampai 1. Prima mulai terbiasa dengan pemanggilan nama-nama sandi itu.

“ Sudah 2 minggu. Aku akan membawanya juga nanti “, Rena tersenyum.

2 minggu bukanlah waktu yang lama. Prima sudah membunuh 42 orang dan cukup membuat polisi tambah pusing. Pusing karena pembunuh bayaran bertambah satu lagi.

“ Bombe Humaine juga datang? Tumben. Biasanya dia mengurung diri “, komentar Rena.

Prima membuka folder foto di ponsel clamshell indigo itu. Bombe Humaine, pembunuh bayaran nomor 4. Kenapa Rena mengatakan nama-nama sandi pembunuh bayaran seperti itu?

“ Bats-Rouge? “, Rena mendelik kaget, “ Violon Fantôme, Blanc Sakura, Corbeau Satan, Les Cheveux Bruns, Couteau en Argent, Fille Aveugle... Mereka juga datang? “.

Bats-Rogue si nomor 3, Violon Fantôme si nomor 2, Blanc Sakura si nomor 6, Corbeau Satan si nomor 1, Les Cheveux Bruns si nomor 8, Couteau en Argent si nomor 9 dan Fille Aveugle si nomor 10. Prima makin penasaran dengan isi pembicaraan Rena.

“ Oke. Nanti aku datang. Je vous remercie “, Rena mengakhiri pembicaraan telepon, lalu berjalan menuju meja makan.

“Qui était-ce[1]? “, tanya Prima.

“ Black Cat. Kamu sudah tau fotonya, kan? “, Rena balik bertanya.

“Je sais[2]. Gadis berambut hitam pendek sebahu, yang selalu membunuh target dengan cara menyayatnya. Lalu, kenapa dengan 10 pembunuh bayaran yang akan datang itu? “, Prima bertanya lagi.

“ Beberapa bulan lagi ada pertemuan antar pembunuh bayaran ranking 10 keatas. Membicarakan orang-orang yang sering meminta bantuan “, Rena meneguk hot chocolate-nya.

“ Sepertinya menarik. Aku ingin lebih mengenal para pembunuh ranking 10 keatas “, kata Prima antusias.

DRRRT DRRRT DRRRT

Ponsel Rena bergetar. Kali ini, nama Kotaro yang menghiasi layarnya. Prima membereskan semua perlengkapan makan yang sudah selesai dipakai mereka berdua, lalu mencuci semuanya. 7 menit kemudian, Rose Poupée itu mengeringkan tangannya dan berjalan menuju Rena. Tapi ternyata Rena sudah keburu berlari ke arahnya, langsung mengangkat Prima tinggi-tinggi dan berputar. Wajah pembunuh bayaran nomor 5 itu terlihat sangat senang.

“ Akhirnya dia selesai!! “, teriak Rena senang.

Dia?

“ Apa maksud Nona, Deuxième? “, tanya Prima sambil tersenyum.

“Oui!! “, Rena menurunkan Prima, “ Kotaro bilang dia sudah siap. Kita bisa mengambilnya sekarang “.

2 pasang kaki itu berjalan beriringan dan seirama menuju garasi. Prima membawa ponsel indigo yang diberikan Rena, penasaran dengan boneka baru yang diciptakan ayahnya. Mobil sport hitam itu melaju dengan cepat, tapi tidak cukup cepat dibandingkan dengan drifting pada malam hari. Pagi-pagi bukan waktu yang tepat untuk drifting. Setelah meluncur sekitar 12 menit, mereka sampai juga di rumah Kotaro.

“ Akhirnya datang juga! “, Kotaro langsung membawa Rena dan Prima ke ruang kerjanya.

“ Kok ayah kelihatan senang? “, tanya Prima.

Kotaro tertawa kecil, “ Aku senang kamu memanggilku ‘ayah’, Premièrement. Tapi aku lebih senang melihat pelangganku antusias menyambut boneka barunya “.

“ Rasa senang yang memiliki fungsi simbiosis mutualisme, eh? “, Rena ikut tertawa.

“Quelque chose comme ça[3] “, Kotaro membuka pintu di depannya.

Di balik pintu itu, tergeletak sebuah koper di atas meja. Prima melongok dari balik tubuh nona-nya, penasaran dengan wujud adik bonekanya. Rena tersenyum melihat reaksi Prima. Didekatinya koper itu, lalu membukanya. Prima menatap tubuh yang terbaring di sana. Manis. Rambutnya berkilat ungu, sementara model rambutnya lurus selurus-lurusnya. Poninya juga lurus dan rata, menutupi matanya. Tapi Prima yakin, mata Rose Poupée di depannya berwarna merah seperti dirinya. Baju Rose Poupée itu juga Lolita, dengan model rok panjang dan lengan yang panjang.

“ Inilah Deuxième “, kata Kotaro, “ Cara membunuhnya agak berbeda dengan Premie-. Ah. Maksudku ‘Prima’ “.

“ Tidak apa-apa. Lanjutkan “, kata Rena sambil tersenyum.

“ Oke. Aku persenjatai dia dengan belati kecil. Tersembunyi di dalam lengan bajunya yang panjang itu. Gerakannya juga cepat. Kepribadiannya... Pendiam. Lebih kuat dari Prima karena kuprogram untuk membunuh dengan mode mutilasi. Vous aimez[4]? “, tanya Kotaro akhirnya.

Bien sûr[5]. Aku sudah bayar semuanya ke rekeningmu. Semoga yang lain sama bagusnya “, kata Rena sambil menyentuh dahi Rose Poupée itu. Prima yakin, Rose Poupée itu membuka matanya. Setelah beberapa detik, Rose Poupée itu duduk di kopernya.

“ Ayah, apa dia nona-ku yang baru? “, tanya Rose Poupée itu.

Kotaro mengangguk. Rose Poupée itu menatap Rena, lalu menatap Prima.

“ Ayo, kita pulang “, ajak Rena.

Mereka bertiga meninggalkan rumah Kotaro dan menuju sebuah café. Bisa dipastika kalau Rena akan menemui pemohon malam sebelumnya. Kyaputen dan beberapa pengawalnya datang, lalu mengobrol sebentar dengan Rena. 9 menit kemudian, 3 orang itu sudah meninggalkan café.

“ Secura “, kata Rena di perjalanan pulang, “ Itu namamu. Deuxième akan menjadi nama sandimu, sama seperti Prima, kakakmu “.

“ Terima kasih, Nona “,Rose Poupée berambut kilatan ungu itu menatap Rena, “ Secura adalah nama yang bagus “.

“ Dan ini “, Prima yang duduk di samping Secura di bangku penumpang menyerahkan sebuah ponsel warna ungu, “ Untuk alat komunikasi dan pengenalan “.

“ Ya, Pre-. Maaf. ‘Prima’. Atau harus kusebut ‘Kak Prima’ ? “, tanya Secura.

“ Prima saja sudah cukup, Secura “, Prima meralat.

Kedua boneka itu segera duduk dalam diam. Setelah 9 menit berpacu di jalanan, mereka bertiga memasuki rumah besar milik Rena. Secura memang pendiam, tapi dia lebih fanatic terhadap pembunuhan daripada Prima. Rose Poupée dengan kilatan rambut warna ungu itu sangat antusias terhadap cerita-cerita berdarah. Secura sangat suka mendengarkan. Kelebihannya ternyata terletak pada telinganya dan kemampuan bermusiknya, dan hal itu sangat berbeda dengan Prima yang kelebihannya adalah ‘membuat berbagai macam minuman’, alias bartending. Prima juga sama perfeksionisnya dengan Rena. Rena sangat menyukai kedua gadis boneka yang dianggapnya adik, keluarga, sekaligus rekan bekerjanya.

“ Prima, kau temani Secura “, perintah Rena setelah seminggu berlalu sejak kedatangan Secura. Gadis boneka itu meringankan beban Rena, sekaligus mempermudah pekerjaan pembunuh bayarannya. Dan sekarang, untuk pertama kalinya, Rena menyuruh kedua Rose Poupée itu bekerja sama. Sudah pasti yang dibunuh kali ini bukan sembarangan orang, apa lagi yang meminta jasa mereka adalah 2 orang yang harusnya dibunuh oleh kedua Rose Poupée itu. Maksudnya, pasangan direktur dan wakil direktur perusahaan baja itu ingin saling membunuh. Entah apa alasannya mereka ingin saling membunuh. Yang pasti, karena misi inilah Rena sudah lebih dulu mengantongi uang berapa ratus juta.

Sekarang, Prima dan Secura berjalan bersama menuju ruang makan malam romantic kedua pemohon itu. Secura tampak memperlihatkan ekspresi senang, walaupun matanya tak tampak. Prima mempersiapkan 2 bilah pisau lempar tengkoraknya, diikuti dengan Secura yang mengambil belati di lengan bajunya. Timer ponsel keduanya menunjukkan waktu 23:59, dan...

Lancer le Jeu[6].

“ AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA...!!! “, teriak kedua manusia itu bersamaan saat merasakan sesuatu menembus kulit punggung mereka.

Secura sangat menyukai ekspresi keheranan yang ditimbulkan kedua manusia itu. Tentu saja mereka heran, kenapa malah mereka yang dilukai?

“ S-sia-siapa...? “, kata direktur bernama Futago Nonamae.

“ Ternyata dia tidak kenal kita... “, bisik Prima.

“ Apa... Maksud kalian...? “, wakil direktur bernama Oroka Takai ikut bertanya.

Secura menghela napas, lalu tiba-tiba melompat bersama Prima dan saling membelakangi di atas meja makan kedua manusia itu.

“ K-kalian... “, kedua manusia itu tiba-tiba berkeringat dingin.

“Expression d'une bonne[7]... “, kata Secura sambil terkikik. Prima menyiapkan 3 pisau lempar tengkoraknya, lalu mengangguk setuju dengan perkataan Secura. Dari kedua punggung orang-orang itu, keluar darah yang sangat deras. Darah Futago disebabkan karena pisau lempar tengkorak Prima, sedangkan darah Oroka dari sayatan besar yang ditimbulkan belati Secura.

Beberapa teriakan terdengar, ada juga drama kecil di sana. Mereka saling membunuh karena sesuatu yang disebut ‘cinta’. Tentu saja, Prima yang tidak mengerti akan hal itu dan Secura yang tidak peduli dengan hal itu makin semangat membunuh target masing-masing. Prima bertugas membunuh Futago, sementara Secura membunuh Oroka.

“ 24:30 “, bisik Prima sambil melihat ponselnya, “ Kita tepat waktu “.

“ 00:00 kita sudah harus tiba di rumah “, Secura melemparkan kelopak bunga mawar ungu ke mayat Oroka.

“ 30 menit perjalanan. Untungnya kita boneka, kita tidak akan pernah merasa lelah “, Prima ikut membuang kelopak mawar indigo ke mayat Futago.

Secura hanya diam, lalu mengelap belatinya dengan saputangan di meja makan yang berantakan itu. Prima memunguti pisau-pisau lemparnya, lalu menatanya kembali di lengan bajunya. Mereka berdua tidak takut ketahuan, bukannya mereka tidak punya sidik jari? Rambut mereka juga kan sintetis, tak akan ada yang menemukan mereka.

Prima dan Secura menatap kembali kedua mayat itu. Sadis. Futago penuh dengan luka tusuk, kedua bola matanya hancur. Mayatnya tergeletak di samping pintu. Sementara Oroka yang lebih sadis lagi. Walaupun sebenarnya terlihat tak terluka, tapi sebenarnya semua persendiannya, kecuali sendi tulang punggung, sudah terpotong. Secura memang kuat, berbeda dengan Prima yang mengandalkan akuransi dan kecepatan melempar. Memotong daging bertulang akan terasa berat untuk seorang gadis, tapi gadis boneka?



[1] Siapa itu tadi?

[2] Aku tau.

[3] Semacam itulah.

[4] Kau suka?

[5] Tentu saja.

[6] Permainan Dimulai.

[7] Ekspresi yang bagus...

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments

  • RinaChan's picture

    ah enggak apa2 kok tidak

    ah enggak apa2 kok
    tidak sia2 baca cerita kamu ceritanya bagus walaupun panjang2 aku suka ceritanya Smile
    besok aku lanjutin bacanya Smile

  • Rena Akine's picture

    @RinaChan: maap kalo

    @RinaChan: maap kalo kepanjangan... cerita ini sampe chapter 40 plus 2 ceita tambahan... mungkin emang lebih bagus dikirim ke penerbit sebagai novel...
    maap kalo kamu sampe capek bacanya m(_ _)m
    tapi makasih (>u<)

    aku akan terus menunggu sampai kapan pun!
  • RinaChan's picture

    Rena Akine ini cerita sampe

    4

    Rena Akine
    ini cerita sampe CHAPTER berapa sih? Stare
    aku dari kemarin cape bacanya
    tapi sayang kalo nggak di baca karena ceritanya seru Smile
    masih banyak yak Ren?


return to top