Fri02Sep2011
Romance of Auroria : The Tower (2)
383 kali
0 kali
not admin's choice
maaf penyampaiannya gak bagus, enjoy
-FIRST POV-
Semua terpana melihat apa yg dilakukan gadis itu, termasuk aku
Bukan karena apa yg ia lakukan, tapi karena identitasnya.
Diakah yang selama ini kucari?
----------------------------------------------------------------------------------------
"ADA PENYUSUP!" Aku tersentak mendengar seruan para pengawal yang menjaga pintu Ballroom. Aku berdiri dari Singgasanaku, memperhatikan tiap detilnya--siapakah penyusup yang dimaksud. Keadaan Ballroom menjadi hectic. Semua panik, entah itu karena teriakan Puteri-puteri dengan make-up tebal atau bangsawan yang ada di dalam ruangan ini. Tanpa sempat menuruni anak tangga di Singgasana, aku dikejutkan oleh seorang gadis berperawakan tegap dengan gaun hijau toska, lengkap dengan pita berwarna senada menghiasi rambutnya. Matanya bulat dan besar, wajahnya dipenuhi rasa percaya diri. Sepintas aku merasa familiar dengan perawakan itu. Kebalikan dari semua orang yang berada dalam kepanikan, gadis itu berlari ke arah orang yang dimaksud dengan penyusup tadi, mengunci pergerakannya, dan membantingnya dengan keras ke lantai Ballroom. Semua hening ketika penyusup tadi berhasil ditaklukan gadis itu. Semua menatap gadis itu dengan pandangan heran dan ngeri. Aku kemudian menghampiri gadis itu.
"Penyusup sudah diamankan, Yang Mulia" Ujar gadis itu dengan tenang dan berwibawa, sambil memberikan hormat layaknya seorang gadis.
Aku mengenali suara itu. Aku mengenali wajah itu. Aku mengenali semua yang ada pada dirinya.
Dan aku sungguh tak menyangka kita bisa berjumpa kembali di Pesta Dansa ini!
"...Renzo?"
Gadis tadi mengangkat wajahnya, balas menatapku
"Ya, Yang Mulia Pangeran"
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Hatiku dilanda gemuruh, jantungku berdetak tidak biasa--memukul-mukul dinding dadaku bak genderang perang, serasa akan meloncat. Ah! inikah yang dinamakan cinta?
Ketika ia yang dinanti muncul dihadapan diri, utuh, tanpa kurang suatu apapun.
Ia berubah, namun tidak berubah. Frase yang aneh namun nyata
Fisiknya telah tumbuh sebagai wanita, pesonanya tidak pudar walau setiap hari mengayun pedang besi yang berat
Mataku tak sanggup beralih dari wujudnya, seolah melepas rindu dengan tatapannya.
Inikah gadis kecil yang sebelas tahun kunanti kedatangannya?
Aku tenggelam dalam diamku. Sejenak tak mampu melontar kata.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Yang Mulia Pangeran, keadaan sudah aman sekarang!" Lapor seorang pengawal, membuatku berenang keluar dari diamku.
"Lanjutkan Pesta Dansa-nya. Aku tidak enak badan, ingin istirahat di ruanganku"
Keputusanku sangat aneh, Ia yang kunanti kini ada di hadapanku, namun aku tak mampu berbuat sesuatu--paling tidak berucap. Aku malah memilih kembali ke kamar. Debaran luar biasa di dadaku membuatku lemas, dan aku tidak ingin mereka semua tahu kalau aku.. nervous, takut salah tingkah, ya mungkin itulah yang terjadi padaku. Payah!
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Setelah berbaring dan minum secangkir teh Chamomile kesukaanku, aku merasa lebih baik. Haruskah aku kembali ke Ballroom dan menemani para Puteri dengan make-up tebal dan aroma parfum yang menusuk itu tertawa dan berdansa? Kurasa itu bukan diriku. Mungkin akan lebih baik lagi jika aku naik ke menara Timur, Menara Penjagaan yang tidak lagi dioperasikan. Pemandangan di sana sangat indah, aku bisa melihat seluruh Auroria, melihat salju yang turun dari langit, hening, dan tidak akan ada orang yang akan ada disana. Aku memang menyukai ketenangan, dan lagi sedari kecil dulu aku--dan juga 'teman-teman' kecilku-- suka melihat pemandangan Auroria dari menara tinggi itu. Memutuskan untuk pergi kesana, aku mengambil mantel dan mengendap-endap dari penjagaan para pengawal untuk bisa pergi ke menara itu.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sejak dulu Menara Timur terlihat menyeramkan. Tinggi, sepi, dan sendiri. Rupanya kami punya kesamaan. Aku menaiki satu demi satu anak tangga yang berputar, layaknya menara penjagaan pada umumnya. Beberapa lampu telah dinyalakan, walaupun masih terlihat temaram. Perlahan tapi pasti, aku telah berada di Puncak dari Menara Timur ini. seperti biasa, salju selalu turun menari-nari dari angkasa. Seperti biasa pula, tempat ini selalu hening. Namun ada yang berbeda, ada seseorang disana, dan pompa kehidupan di rongga mediastenum-ku kembali berdetak tak biasa, memburu seperti genderang perang. Dengan penuh keberanian, aku mencoba memulainya, agar tidak berakhir memalukan seperti di Pesta Dansa.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Kau tidak seharusnya ada disini"
"Lantas aku harus berada dimana?" Balas gadis itu sambil terus menatap ke angkasa, memperhatikan salju yang turun dari langit, "di Ballroom tadi sebagai pengawal?"
"kau sendiri yang bilang.."
Gadis menoleh ke arahku, tertawa renyah di balik mantelnya, "Sebelas tahun dan kau menjadi sangat lucu sekarang!"
Ia mengingatku! Mengingat sebelas tahun perpisahan kami! Hatiku girang bukan kepalang, Ia yang dinanti ternyata masih mengenang diri ini. Aku mendekat, duduk di dekatnya, dan ia pun duduk pada akhirnya, bersebelahan denganku.
"Sebelas tahun di Akademi Kavaleri pasti telah menjadikanmu semacam beruang merah"
"Kurasa begitu, sebelas tahun di Istana pasti juga telah menjadikanmu semacam orang tua yang kolot"
Kemudian kami tertawa, sambil menatap satu sama lain. Suasana mencair. Renzo yang kukenal dulu sama sekali tidak berubah, tetap ramah dan tawanya pun renyah. Kami pun bercerita banyak layaknya kawan yang lama tak bersua, sambil sesekali bergurau bersama.
"Apa yang kau pelajari dalam sebelas tahun di Akademi Kavaleri?"
"Banyak, Yang Mulia Pangeran.."
Aku menyela sebelum ia bicara lebih banyak, "Camus saja, panggilan itu terlalu panjang."
"Baiklah, kali ini saja ya, Camus!"
Dan Renzo pun bercerita tentang kehidupannya di Akademi Kavaleri. Aku sibuk mengamati tiap jengkal penampilannya. Ia terlihat tidak begitu cantik memang,namun terlihat begitu sempurna di mataku. Sampai detik ini hanya ia yang mampu membuat jantungku berdebar tidak karuan. Apakah candu yang melenakan ini yang dinamakan cinta? Rasanya begitu gila dan aku kini telah gila. Gila karena dia!
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Salju terus turun, terlihat seperti akan berhenti namun ia tak akan berhenti. Inilah Auroria. Ide gilaku mengalir. Aku menuju balkon Menara yang terus bersalju dan dingin, dan mengulurkan tangan ke Renzo. Aku mengajaknya berdansa di bawah salju!
"maaf, aku tidak pernah tahu caranya berdansa, Camus"tolaknya halus
"Aku akan mengajarimu, aku hanya tidak ingin kau menua tanpa bisa berdansa, orangtuamu akan malu jika mengetahui hal itu"
"oh, kau baik sekali!" jawabnya dengan nada mengejek, lengkap dengan senyumnya yang khas, yang tak akan hilang dari ingatanku
Dan kami pun berdansa di bawah salju. Sesekali kakiku terinjak, namun Renzo hanya membalasnya dengan senyuman--bermaksud mengejekku, tapi itu lebih dari cukup. Ia yang kunanti kini berada di hadapanku, tersenyum, dan itu sudah lebih dari cukup! Sesekali tatapan kami bertemu dan dengan susah payah kusembunyikan wajahku yang merona malu dari tatapannya. Pipi Renzo pun merona tiap kali pandangan kami bertemu. Mata bulatnya menggambarkan semuanya. Aku terlalu serakah, berharap agar waktu berhenti, agar kami lebih lama menari bersama keping salju yang turun dari langit padahal menahan debaran di dada ini sudah setengah mati. Rasanya aku sudah benar-benar gila--Gila karena dia!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pukul sebelas malam, Renzo pamit padaku. Kemudian ia pergi meninggalkan Menara Timur, meninggalkan aku dengan hati yang masih ria. Sebelum ia pergi, ia lagi-lagi memberikan senyumnya, seolah ada pesan di balik lengkungan manis di bibirnya. Aku hanya bisa menerka-nerka penasaran pesan apa yang ingin ia sampaikan melalui senyum indahnya. Malam semakin larut dan aku pun kembali ke Istana Utama, ke Ballroom untuk memenuhi perintah Raja--hanya sebagai formalitas, karena hatiku telah memilih dia yang telah membuatku gila. Dan satu lagi impianku yang serakah, yang tak pernah puas--Semoga perjumpaan tadi bukanlah mimpi atau khayalan belaka. Semoga debaran tadi adalah nyata. Hatiku tak sabar menanti perjumpaan kita selanjutnya. Ah, cinta!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
TO BE CONTINUED
-FIRST POV-
Semua terpana melihat apa yg dilakukan gadis itu, termasuk aku
Bukan karena apa yg ia lakukan, tapi karena identitasnya.
Diakah yang selama ini kucari?
----------------------------------------------------------------------------------------
"ADA PENYUSUP!" Aku tersentak mendengar seruan para pengawal yang menjaga pintu Ballroom. Aku berdiri dari Singgasanaku, memperhatikan tiap detilnya--siapakah penyusup yang dimaksud. Keadaan Ballroom menjadi hectic. Semua panik, entah itu karena teriakan Puteri-puteri dengan make-up tebal atau bangsawan yang ada di dalam ruangan ini. Tanpa sempat menuruni anak tangga di Singgasana, aku dikejutkan oleh seorang gadis berperawakan tegap dengan gaun hijau toska, lengkap dengan pita berwarna senada menghiasi rambutnya. Matanya bulat dan besar, wajahnya dipenuhi rasa percaya diri. Sepintas aku merasa familiar dengan perawakan itu. Kebalikan dari semua orang yang berada dalam kepanikan, gadis itu berlari ke arah orang yang dimaksud dengan penyusup tadi, mengunci pergerakannya, dan membantingnya dengan keras ke lantai Ballroom. Semua hening ketika penyusup tadi berhasil ditaklukan gadis itu. Semua menatap gadis itu dengan pandangan heran dan ngeri. Aku kemudian menghampiri gadis itu.
"Penyusup sudah diamankan, Yang Mulia" Ujar gadis itu dengan tenang dan berwibawa, sambil memberikan hormat layaknya seorang gadis.
Aku mengenali suara itu. Aku mengenali wajah itu. Aku mengenali semua yang ada pada dirinya.
Dan aku sungguh tak menyangka kita bisa berjumpa kembali di Pesta Dansa ini!
"...Renzo?"
Gadis tadi mengangkat wajahnya, balas menatapku
"Ya, Yang Mulia Pangeran"
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Hatiku dilanda gemuruh, jantungku berdetak tidak biasa--memukul-mukul dinding dadaku bak genderang perang, serasa akan meloncat. Ah! inikah yang dinamakan cinta?
Ketika ia yang dinanti muncul dihadapan diri, utuh, tanpa kurang suatu apapun.
Ia berubah, namun tidak berubah. Frase yang aneh namun nyata
Fisiknya telah tumbuh sebagai wanita, pesonanya tidak pudar walau setiap hari mengayun pedang besi yang berat
Mataku tak sanggup beralih dari wujudnya, seolah melepas rindu dengan tatapannya.
Inikah gadis kecil yang sebelas tahun kunanti kedatangannya?
Aku tenggelam dalam diamku. Sejenak tak mampu melontar kata.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Yang Mulia Pangeran, keadaan sudah aman sekarang!" Lapor seorang pengawal, membuatku berenang keluar dari diamku.
"Lanjutkan Pesta Dansa-nya. Aku tidak enak badan, ingin istirahat di ruanganku"
Keputusanku sangat aneh, Ia yang kunanti kini ada di hadapanku, namun aku tak mampu berbuat sesuatu--paling tidak berucap. Aku malah memilih kembali ke kamar. Debaran luar biasa di dadaku membuatku lemas, dan aku tidak ingin mereka semua tahu kalau aku.. nervous, takut salah tingkah, ya mungkin itulah yang terjadi padaku. Payah!
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Setelah berbaring dan minum secangkir teh Chamomile kesukaanku, aku merasa lebih baik. Haruskah aku kembali ke Ballroom dan menemani para Puteri dengan make-up tebal dan aroma parfum yang menusuk itu tertawa dan berdansa? Kurasa itu bukan diriku. Mungkin akan lebih baik lagi jika aku naik ke menara Timur, Menara Penjagaan yang tidak lagi dioperasikan. Pemandangan di sana sangat indah, aku bisa melihat seluruh Auroria, melihat salju yang turun dari langit, hening, dan tidak akan ada orang yang akan ada disana. Aku memang menyukai ketenangan, dan lagi sedari kecil dulu aku--dan juga 'teman-teman' kecilku-- suka melihat pemandangan Auroria dari menara tinggi itu. Memutuskan untuk pergi kesana, aku mengambil mantel dan mengendap-endap dari penjagaan para pengawal untuk bisa pergi ke menara itu.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sejak dulu Menara Timur terlihat menyeramkan. Tinggi, sepi, dan sendiri. Rupanya kami punya kesamaan. Aku menaiki satu demi satu anak tangga yang berputar, layaknya menara penjagaan pada umumnya. Beberapa lampu telah dinyalakan, walaupun masih terlihat temaram. Perlahan tapi pasti, aku telah berada di Puncak dari Menara Timur ini. seperti biasa, salju selalu turun menari-nari dari angkasa. Seperti biasa pula, tempat ini selalu hening. Namun ada yang berbeda, ada seseorang disana, dan pompa kehidupan di rongga mediastenum-ku kembali berdetak tak biasa, memburu seperti genderang perang. Dengan penuh keberanian, aku mencoba memulainya, agar tidak berakhir memalukan seperti di Pesta Dansa.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Kau tidak seharusnya ada disini"
"Lantas aku harus berada dimana?" Balas gadis itu sambil terus menatap ke angkasa, memperhatikan salju yang turun dari langit, "di Ballroom tadi sebagai pengawal?"
"kau sendiri yang bilang.."
Gadis menoleh ke arahku, tertawa renyah di balik mantelnya, "Sebelas tahun dan kau menjadi sangat lucu sekarang!"
Ia mengingatku! Mengingat sebelas tahun perpisahan kami! Hatiku girang bukan kepalang, Ia yang dinanti ternyata masih mengenang diri ini. Aku mendekat, duduk di dekatnya, dan ia pun duduk pada akhirnya, bersebelahan denganku.
"Sebelas tahun di Akademi Kavaleri pasti telah menjadikanmu semacam beruang merah"
"Kurasa begitu, sebelas tahun di Istana pasti juga telah menjadikanmu semacam orang tua yang kolot"
Kemudian kami tertawa, sambil menatap satu sama lain. Suasana mencair. Renzo yang kukenal dulu sama sekali tidak berubah, tetap ramah dan tawanya pun renyah. Kami pun bercerita banyak layaknya kawan yang lama tak bersua, sambil sesekali bergurau bersama.
"Apa yang kau pelajari dalam sebelas tahun di Akademi Kavaleri?"
"Banyak, Yang Mulia Pangeran.."
Aku menyela sebelum ia bicara lebih banyak, "Camus saja, panggilan itu terlalu panjang."
"Baiklah, kali ini saja ya, Camus!"
Dan Renzo pun bercerita tentang kehidupannya di Akademi Kavaleri. Aku sibuk mengamati tiap jengkal penampilannya. Ia terlihat tidak begitu cantik memang,namun terlihat begitu sempurna di mataku. Sampai detik ini hanya ia yang mampu membuat jantungku berdebar tidak karuan. Apakah candu yang melenakan ini yang dinamakan cinta? Rasanya begitu gila dan aku kini telah gila. Gila karena dia!
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Salju terus turun, terlihat seperti akan berhenti namun ia tak akan berhenti. Inilah Auroria. Ide gilaku mengalir. Aku menuju balkon Menara yang terus bersalju dan dingin, dan mengulurkan tangan ke Renzo. Aku mengajaknya berdansa di bawah salju!
"maaf, aku tidak pernah tahu caranya berdansa, Camus"tolaknya halus
"Aku akan mengajarimu, aku hanya tidak ingin kau menua tanpa bisa berdansa, orangtuamu akan malu jika mengetahui hal itu"
"oh, kau baik sekali!" jawabnya dengan nada mengejek, lengkap dengan senyumnya yang khas, yang tak akan hilang dari ingatanku
Dan kami pun berdansa di bawah salju. Sesekali kakiku terinjak, namun Renzo hanya membalasnya dengan senyuman--bermaksud mengejekku, tapi itu lebih dari cukup. Ia yang kunanti kini berada di hadapanku, tersenyum, dan itu sudah lebih dari cukup! Sesekali tatapan kami bertemu dan dengan susah payah kusembunyikan wajahku yang merona malu dari tatapannya. Pipi Renzo pun merona tiap kali pandangan kami bertemu. Mata bulatnya menggambarkan semuanya. Aku terlalu serakah, berharap agar waktu berhenti, agar kami lebih lama menari bersama keping salju yang turun dari langit padahal menahan debaran di dada ini sudah setengah mati. Rasanya aku sudah benar-benar gila--Gila karena dia!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pukul sebelas malam, Renzo pamit padaku. Kemudian ia pergi meninggalkan Menara Timur, meninggalkan aku dengan hati yang masih ria. Sebelum ia pergi, ia lagi-lagi memberikan senyumnya, seolah ada pesan di balik lengkungan manis di bibirnya. Aku hanya bisa menerka-nerka penasaran pesan apa yang ingin ia sampaikan melalui senyum indahnya. Malam semakin larut dan aku pun kembali ke Istana Utama, ke Ballroom untuk memenuhi perintah Raja--hanya sebagai formalitas, karena hatiku telah memilih dia yang telah membuatku gila. Dan satu lagi impianku yang serakah, yang tak pernah puas--Semoga perjumpaan tadi bukanlah mimpi atau khayalan belaka. Semoga debaran tadi adalah nyata. Hatiku tak sabar menanti perjumpaan kita selanjutnya. Ah, cinta!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
TO BE CONTINUED Comments
-
makasih kk saran ditampung,
Submitted by yumemiteru on 15 September, 2011 - 16:25.makasih kk
saran ditampung, hiatus dulu ya ceritanya 
-
ceritanya bagus,,,,,desain
Submitted by kiky2hikaru on 13 September, 2011 - 09:33.ceritanya bagus,,,,,desain hurufnya juga rapi.....cuma bagian untuk istilah nama2nya mending digaris miring,,n untuk kavalerie menurutku lebihhh bermakna kata Cavalerie :peace yahh
rate 4
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI.....








































Post new comment