Romance of Auroria : The Ballroom (1)

yumemiteru
0
475 kali
0 kali

not admin's choice

Pertama-tama saya minta maaf karena kisah karangan saya ini sangat amatir, dan banyak kekurangan disana-sini. Oleh karena itu ada baiknya jika diberi komentar, terutama yang membangun. Terima kasih Smile Untuk yang sempat membaca kisah abal saya ini, saya ucapkan banyak terima kasih Smile ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Pada suatu zaman, terdapat sebuah negeri yang sepanjang tahun ditutupi salju --Auroria--. Auroria dipimpin oleh seorang Raja yang bijak dan dicintai rakyatnya. Sang Raja memiliki seorang putra, pewaris tahta satu-satunya di Auroria--Pangeran Camus--. Sang Putra mahkota memiliki perawakan sangat berbeda dengan Raja dan Ratu, Pangeran Camus berambut merah dan berbola mata merah, suatu perawakan yang hanya ada satu-satunya di Auroria. Tumbuh diistimewakan karena berbeda dari yang lain membuat Camus kecil rendah diri. Menurutnya menjadi berbeda itu salah. Menurutnya terlahir dengan fisik yang berbeda adalah salah. Menurutnya semua orang bukan menghormatinya, tapi takut padanya. Perlakuan sang Ratu yang overprotektif membuat Camus kecil makin rendah diri, makin merasanya dirinya berbeda dengan manusia normal. Hanya sang Raja--ayahanda-- yang membuat Camus berbesar hati. "Apalah artinya penampilan fisik, toh kita akan tua nanti. Rendah dirilah jika tidak bisa berguna untuk rakyat!" begitu kata sang Raja. Tembok istana yang tiap hari mengelilinginya serasa memenjarakan Camus kecil didalamnya. Camus kecil bertanya-tanya, seperti apa keadaan diluar sana?bagaimanakah kehidupan rakyat sehari-hari?seperti apa bentuk hewan-hewan liar yang ada di buku? Camus masih seorang anak kecil, rasa penasarannya terhadap dunia masih sangat tinggi. Setiap hari Camus kecil hanya bisa melihat anak-anak seumurannya bermain di halaman istana, dengan tawa yang riang dan lepas. Lamunannya pecah ketika seorang gadis kecil berpita merah tiba-tiba memandang kaca jendela kamarnya yang terletak sangat tinggi, kemudian tersenyum ke arahnya,seolah mengajaknya bermain bersama. Camus semakin ingin bebas. ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Pada suatu hari, Camus kecil bertemu dengan putri seorang Jenderal yang berjasa di Auroria. Renzo namanya, dengan mata bulat yang besar, pita merah dan wajah ceria --gadis kecil yang menatapnya dari balik jendela belum lama ini. Renzo kecil memberi hormat pada Camus kecil, bak sedang memberi hormat pada raja, lengkap dengan senyum lebarnya. Camus merasa melihat luasnya dunia ketika melihat bola mata Renzo yang membulat, dan tawa renyahnya. Camus merasa semakin ingin keluar dari balik tembok istana. Keramahan Renzo membuat Camus semakin penasaran dengan dunia di luar sana. Akhirnya Camus kecil kabur secara diam-diam dari balik istana. Pada pelariannya, Camus bertemu Renzo yang sedang bermain dengan riangnya di sebuah lapangan di dekat Istana. Renzo yang ramah, mengajak serta Camus untuk bermain bersama. Camus kecil merasa sangat gembira, dan berlaku seperti anak pada umurnya. Bermain dan tertawa bersama. Kebiasaan itu berlangsung terus menerus. Camus mengendap-endap keluar dari Istana untuk bermain bersama anak-anak sebayanya. Namun pada saat Camus berusia dua belas tahun, ia harus kehilangan seorang teman bermain. Renzo--yang juga berusia dua belas tahun-- pergi memperdalam ilmunya di Akademi Kavaleri. Sejak saat itu Camus terus menanti Renzo untuk bermain bersama. Camus tak sadar, dirinya sangat mengagumi Renzo. Waktu terus bergulir. Renzo yang dinanti tak kunjung kembali. Namun perasaan Camus tidak berubah, ia tetap mengagumi--atau mungkin menyukai-- Renzo. Tidak terasa sekarang Camus telah menginjak usia dua puluh tiga tahun, dan tetap menanti Renzo, teman kecilnya, yang belum juga kembali. Camus berandai-andai, bagaimana keadaan gadis pujaannya itu sekarang ini, apakah kini dia dipenuhi parut akibat luka tebas? apa tubuhnya tumbuh besar dan makin kekar layaknya pria? Bagaimana pun penampilan fisiknya, Camus yakin tak akan ada yang berubah pada diri Renzo--juga pada perasannya terhadapa gadis itu. ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ Hari ini akan diadakan Pesta Dansa di Ballroom Istana. Raja mengadakan Pesta Dansa ini dalam rangka mencarikan jodoh untuk Camus, yang sudah berusia dua puluh tiga tahun--paling tidak agar Camus mempunyai calon yang kuat. Seluruh Puteri dari Kerajaan-kerajaan besar turut datang menghadiri acara bergengsi ini. Semua bertujuan sama--mendapatkan hati Pangeran Camus dan menjadi menantu bagi Raja Auroria, dengan demikian mereka akan mendapat andil dan kekuasaan besar di dunia. Camus hanya menaati perintah sang Raja, tanpa ada maksud apa-apa, karena ia yakin yang ia cari tidak mungkin ia dapatkan melalui pesta dansa. ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ -FIRST POV- "Mengapa leluhur di Kerajaan ini menggunakan Pesta Dansa sebagai ajang pencarian jodoh? Ini hal yang sangat konyol!" "Maaf Tuan Muda, sekarang sudah saatnya Tuan Muda turun ke Ballroom untuk menghadiri Pesta Dansa, ini perintah dari Yang Mulia Raja, Tuan" "Cih, merepotkan saja!" dengusku. Aku mengayun langkah dengan gontai meninggalkan kamarku, menuruni anak tangga kebesaran di ruang utama. Aku masih kesal, menurutku pesta dansa ini hanya acara bodoh yang hanya menghamburkan anggaran Kerajaan. Pintu besar menuju Ballroom telah dibuka oleh kedua pengawal, aku pun masuk ke Ballroom. Ruangan ini hanya dipenuhi bedak dan aroma parfum! aku benci wanita dengan make-up tebal dan bertutur kata manis demi mendapatkan hatiku--uhm, predikat sebagai menantu Raja Auroria! Aku menduduki kursi kebesaran--singgasana Pangeran. Kemudian satu persatu para Puteri datang menghampiri, memperkenalkan diri, dan menanti dengan sabar siapa dari mereka yang akan kuajak berdansa. Percuma. Aku tak ingin berdansa! "ADA PENYUSUP!" Aku tersentak mendengar seruan para pengawal yang menjaga Pintu Ballroom. Aku berdiri dari Singgasanaku, memperhatikan tiap detilnya--siapakah penyusup yang dimaksud. Keadaan Ballroom menjadi hectic. Semua panik, entah itu karena teriakan Puteri-puteri dengan make-up tebal atau bangsawan yang ada di dalam ruangan ini. Tanpa sempat menuruni anak tangga di Singgasana, aku dikejutkan oleh seorang gadis berperawakan tegap dengan gaun hijau toska, lengkap dengan pita berwarna senada menghiasi rambutnya. Matanya bulat dan besar, wajahnya dipenuhi rasa percaya diri. Sepintas aku merasa familiar dengan perawakan itu. Kebalikan dari semua orang yang berada dalam kepanikan, gadis itu berlari ke arah orang yang dimaksud dengan penyusup tadi, mengunci pergerakannya, dan membantingnya dengan keras ke lantai Ballroom. Semua hening ketika penyusup tadi berhasil ditaklukan gadis itu. Semua menatap gadis itu dengan pandangan heran dan ngeri. Aku kemudian menghampiri gadis itu. "Penyusup sudah diamankan, Yang Mulia" Ujar gadis itu dengan tenang dan berwibawa, sambil memberikan hormat layaknya seorang gadis. Aku mengenali suara itu. Aku mengenali wajah itu. Aku mengenali semua yang ada pada dirinya. Dan aku sungguh tak menyangka kita bisa berjumpa kembali di Pesta Dansa ini! "...Renzo?" ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ ~TO BE CONTINUED~

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

return to top