Didit beserta keluarga baru saja pindah ke Rivert City itu adalah kota
yang sangat damai yang berada dekat Gunung Fuji, awalnya didit sangat
canggung dalam memulai sekolahnya. Dan juga Didit selalu mengeluh kepada
orang tuanya agar pindah ke Indonesia lagi. Tidak heran bahasa Inggris
Didit masi agak patah-patah karena dia baru 3 hari pindah ke kota itu,
dan gaya bicaranya-pun berbeda dengan gaya bicara orang inggris
biasanya. Hal ini pun yang membuat Didit sulit sekali mendapatkan teman
di sekolahnya yang baru, tiap di ajak kenalan dia menanggapinya dengan
wajah yang sangat bingung dikarenakan bahasanya yang susah dimengerti
itu. Beberapa haripun berlalu dan Didit pun sedikit-sedikit dan Diditpun
akhirnya mendapatkan seorang kenalan bernama Renton. Lalu Budi dan
Renton pun selalu bermain bersama setiap harinya.
Renton pun tidak risih akan bahasa Didit yang masih “belepotan” itu dan
seringkali Renton membetulkan apa yang di ucapkan Didit. Hari demi
haripun mereka jalani bersama dengan senang dan gembira sampai pada
suatu saat. Didit pun di ajak kerumah Renton. “jangan malu datanglah
kerumahku” Renton berkata denagn senyuman kecil “oke lah kapan nih aku
kerumahmu ton?” Didit pun membalas “gimana kalo jam 5. Ok dit? “
akhirnya mereka pu sepakat akan ke umah Renon pada jam 5 sehabis
kegiatan ekstrakulikurer masing – masing. Pada saat di perjalanan Didit
pun sangat tidak sabaran untuk melihat rumah Renton seperti apa.
Sesampainya dirumah Renton terkejut karenarumah Renton sangatlah besar
seperti di istana saja. “wih, besar sekali rumahmu ton.” “ ya gak juga
kok ini mah rumahnya masih tergolong kecil dari pada rumah teman-teman
di sekolah” balas Renton dengan tertawa kecil. Mendengar itupun Didit
sanagt malu Karena dia hanya tinggal di sebuah apartemen kecil di
pinggiran kota. Lalu saat masuk pun Renton mengenalkan didit pada ibunya
“mom, ini teman baru saya yang aku ceritakan kemarin namanya Didit.”
Kata renton “oooh.. ini teman mu yang baru pindah dari Indonesia itu
ya?? Perkenalkan saya mommy Renton” sapa Ibu Renton dengan hangat. “ iya
tante nama saya didit salam kenal tante.” Balas Didit dengan ramah
sambil agak malu. Lalu Renton pun mengajak Didit ke halaman belakangnya.
Dan betapa terkejutnya Didit karena halaman belakang rumah Renton
sangatlah luas seperti lapangan bola saja. Di halamannya itu banyak
sekali mobil berjejer. Lalu merekapun ber-main. Tak lama kemudian sebuah
perpecahan pun muncul. “dit, gimana baguskan rumahku??” Tanya Renton.
“BAGUS , bagus banget ton kagum aku akan kekayaanmu” balas Didit yang
agak sedikit gugup. “ya udah deh aku mau pulang dulu ya! Dadah” sambung
Didit sambil berlalri keluar” “loh ada apa….?” Balas Renton lalu
Diditpun tidak sempat menjawabnya dan langsung berlalari keluar rumah
didit dengan sedikit tangisan.
Beberapa haringpun berselang tetapi pertemanan mereka bukannya tambah
deat tetepi semakin berjauhan seperti orang yang tidak kenal saja. Didit
pun di sekolah hanya menyendiri saja setiap ada yang mengajaknya
bermain dia hanya diam saja lalu pergi mencari tempat yang sepi
sendirian saja karena dia sangat canggung di karenakan dia hanya orang
miskin. Seperti budaya di Indonesia orang yang miskin biasanya tidak di
temani teman – temannya ynag kaya padahal tidak seperti itu budaya yang
ada di Rivert City.
Renton pun sangat bersedih di karenakan teman terbaiknya itu tiba – tiba
menyendiri dan tidak mau bermain dengan dia lagi, lalu beberapa hari
kemudian Didit tidak masuk sekolah dan juga tidak ada keterangan kenapa
dia tidak masuk. “Aduuh.. kemana sih si Didit itu kok gak masuk terus
ya??” tanya Renton dalam hati. Kejadian itupun terus baerlangsung dalam
ber- hari– hari . ketika itu juga Renton pun mengambil inisiatif untuk
mencari rumah Didit. Denagn bertanya denagn wali kelas . lalu saat
didatangi rumahnya Renton pun terkejut karena rumahnya Didit sangatlah
kecil bahkan besarnya seperti kamar tidur renton. Lalu iapun bertanya
pada ibunya Didit. Kemana Didit menghilang lalu ibunya tidak tahu menahu
kenapa dia pergi bahkan sudah 2 hari dia pergi dari rumah. Mendengar
itupun Renton terkaget-kaget. Lalu segera pergi untuk mencari Didit. Dia
pun sampai kewalahan mencari Didit dimana sampai Hujan turun deras di
kota itu. Dan walau Hujan pun dia tetap saja mencari Didit tidak peduli
dirinya akan sakit karena hujan atau tidak. “ DIDIT…..DIDIT!!!! DIMANA
KAMU???” hanya kata itu saja yang keluar dari mulu Renton saat mencari
Didit… lalu pada saat dia sampai di Tengah kota .. dia kecapan dan duduk
di halaman kota sambil menangis. “Didit.. dimana kamu?? Hikss… aku
sangat menyesal telah memamerkan kakayaanku kepada mu maaf kan aku Dit.”
Lalu terdenagr suara kecil di sebelah Renton “benarkah itu ton? Kamu
akan menganggapku sebagai teman walau aku miskin” ternyata itu suara
Didit. “IYA.. Iya aku akan menganggapmu sebagai teman terbaikku kenapa
kau tiba-tiba menjauh dari ku Dit? “ “kukira kamu tidak mau berteman
denganku jika kamu tahu aku ini orang miskin” sejenak merekapun terdiam
tanpa kata untuk beberapa menit lalu Rentonpun berkata “Pertemanan itu
tidak mengenal Usia, Harta, Ras, dan lain-lain tetapi pertemanan itu
sangatlah didasari oleh rasa saling mengerti iya kan? “ lalu mereka pun
bermaafan dan berbaikkan lalu merekapun dapat bersekolah dan bermain
dengan riang bersama teman-temannya yang baru juga
Post new comment