REOG - Cerpen Fantasy Fiesta 2011

3
670 kali
0 kali

not admin's choice

[img]http://i87.photobucket.com/albums/k139/bjvadis/reog-maderagilbon-finish.jpg[/img] Ayo, datanglah padaku Renggut aku, rengkuh aku Buanglah takutmu Reguklah kekuatan baru Jalani takdir sejatimu Bondan Prasetyo Suara itu lagi, menyeruak di sela-sela lamunanku. Suara merdu gadis remaja, merayu, membuaiku. Terus dan terus ia datang, walau jawabanku selalu “tidak”. Tiba-tiba suara lain mengejutkanku. “Oi, Bon! Makanan lo, nih! Reog!” Aku berbalik, rambut gimbalku ikut melambai. “Mana, mana?” seruku. Mataku terpaku ke arah yang ditunjuk sobatku. Di layar televisi terpampang sebentuk topeng berwajah hijau dengan urat-urat hitam menyeramkan. Teriring suara penyiar berita. “Topeng Reog, pusaka bersejarah dari Ponorogo dicuri dari Museum Nasional pagi ini. Pihak museum menyatakan tak ada penjaga yang terluka...” Tayangan beralih pada seorang wanita berkacamata yang sedang mengamati pecahan lemari kaca tempat topeng itu semula tersimpan. Seorang reporter mewawancarainya. “Agen Ragil, apa ada petunjuk tentang pelakunya?” “Saya belum tahu pasti,” jawab Ragil sambil mengibas rambut pendek hitamnya. “Dilihat dari pecahan kaca ini, si pelaku pasti amat kuat.” “ADUH!” Mendadak kepalaku dijitak. Aku menoleh. “Apaan sih lo, Ton?” Tono, sobatku yang bertampang kumal berseru, “Muke lo tuh, liat yang cakep langsung kesambet!” “Kayak lo nggak aja!” Kujitak balik dia. Sambil mengusap kepalanya yang sakit Tono berceloteh lagi, “Lagian apa hebohnya sih? Topeng di Tari Reog bukan itu tapi Barongan yang segede orang, kan?” “Lo bener. Penemuan Topeng Reog tiga bulan lalu itu emang bikin geger. Dari hasil penelitian gue, topeng itu punya salah satu Warok, namanya Reog.” “Lho, Reog itu ‘kan nama keseniannya?” “Ya iya lah, tapi bisa aja asalnya dari nama orang, toh?” “Tetap aja itu gak ada di legendanya.” “Jelas gak ada, soalnya udah jadi fakta.” Aku nyengir. Tono malah menguap. “Ya udah, gak usah didebatin lagi. Gue ngantuk, mau ngimpi dulu.” Sambil bergaruk-garuk ria ia meninggalkan ruang utama rumah kos di bilangan Depok ini. Kulihat jam dinding – jam sembilan malam, masih terlalu dini untuk berangkat ke alam mimpi. Dasar Tono. Kualihkan perhatian ke netbook-ku. Tak banyak pemberitaan tentang pencurian Topeng Reog di internet. Kurasa orang memang tak peduli. Kucoba mengecek e-mail. Ada pesan baru. Pengirimnya bernama Ragil, judulnya “Topeng”. Tunggu, bukankah dia wanita cantik di televisi tadi? Penasaran, kubaca isi pesannya. To: Bondan Prasetyo Kenalkan, saya Ragil, ingin bertemu soal Topeng Reog. Ini urusan resmi. Temui saya besok jam duabelas siang di alamat di bawah ini. Jangan sampai terlambat. Aku mengerutkan dahi. Suara itupun muncul lagi. Tolong. Kumohon, tolong aku, Bondan. Tolong. ==oOo== Kejamnya matahari Jakarta. Saat bertakhta di puncak langit, dipanggangnya kulitku yang legam ini dengan semena-mena. Kulangkahkan kakiku ke dalam keteduhan café itu. Kutarik napas lega, lalu menoleh kiri-kanan. Nah, itu dia si cantik, duduk sendirian dekat jendela. Astaga, ia lebih menarik daripada di televisi. Blus putih serta jas dan rok mini hitam yang dikenakannya membuatnya tampak penuh kharisma. Ia membuatku terpana, hingga kulihat sebentuk cincin batu mirah di jari manis kirinya. Apa ia telah menikah? “P... permisi... Mbak Ragil?” tanyaku sesopan mungkin. “Ya. Kamu Bondan?” Ragil mendelik penuh selidik. Aku mengangguk. “Oke, duduklah.” Ia tersenyum, mencairkan suasana. Tanpa sungkan lagi aku duduk di hadapannya. Seorang pelayan menghampiriku. Kulihat menu yang disodorkannya lalu memesan, “Espresso, mas.” Dengan anggun Ragil menghirup Iced Hazelnut Latte-nya. Lalu ia bicara, “Nah, kita langsung ke urusan resmi. Saya Rania Giselda dari Interpol dan Bondan, kamu adalah tersangka utama kasus pencurian Topeng Reog.” Rasanya bagai disambar petir. “Apa? Mbak, kalau saya pencurinya, saya tak mungkin kemari!” Di luar dugaanku, Ragil malah tersenyum. “Saya belum selesai. Justru kedatanganmu membuat saya percaya kamu bukan pelakunya,” ujarnya. Fiuuh, mengejutkanku saja. Ekspresi Ragil kembali serius. “Tapi, untuk meyakinkan Interpol kamu butuh BUKTI. Data dari museum menunjukkan namamu ada di daftar tamu sebagai peneliti Topeng Reog. Bukan hanya sekali, tapi dua belas kali dalam dua bulan.” “Ya, saya kesana untuk bahan artikel di blogku. Apa Mbak Ragil sudah membacanya?” “Tentu, saya sempat baca sekilas. Ngomong-ngomong, apa yang membuatmu sangat tertarik pada Reog?” “Minatku pada Reog terbit tiga bulan lalu saat Topeng Reog ditemukan. Saya bahkan pergi ke Ponorogo menemui orang yang menemukannya.” “Wah, sampai sejauh itu? Apa saja yang diceritakannya padamu?” “Kata petani itu, ia tak sengaja terperosok ke dalam lubang di perbukitan. Ternyata itu sebuah gua. Topeng itu ia temukan pada sebuah prasasti dalam gua itu. Di prasasti itu ada tulisan yang dipahat dalam aksara Jawa Kuno.” “Reog, Penguasa Darah Hitam. Terkutuklah orang yang memindahkan topengku dari tempat ini dan memakainya,” sela Ragil sambil menggeser jarinya di layar PC tablet-nya. “Persis,” ujarku. “Si penemu menganggap tulisan itu gertak sambal saja. Ia membawa pulang topeng itu lalu menyerahkannya pada Museum Nasional.” Ragil mengangguk. “Oke. Apa semua hasil penelitianmu ada di blogmu?” Aku menggeleng. “Tidak semuanya.” “Apa sebabnya?” “Orang menganggap artikelku itu kontroversial dan mengada-ada, jadi saya berhenti menulis tentang Reog. Saya tak mau dapat masalah.” Saat Ragil buka mulut untuk bicara lagi, tiba-tiba seorang pria menyeruak di sampingnya sambil berkata, “Kamu Ragil?” Disela seperti itu, Ragil bangkit. Ia berdiri di balik meja dan menghardik, “Anda siapa?” Pria berpenampilan preman bertubuh kekar itu menyeringai aneh. Ujarnya, “Pesan untuk Ragil. Jangan campuri urusan Warok, atau rasakan akibatnya! Ini peringatan terakhir!” Mulut si preman komat-kamit. Melihatnya, Ragil mencabut pistol dari sarung di pahanya. Wajah pria itu berubah jadi merah darah dengan bercak hitam di sekitar kedua matanya. “HENTIKAN ITU!” Ragil membidikkan pistol semi-otomatisnya. Si preman malah menghantam meja kaca hingga hancur berkeping-keping. Wanita itu menembak. Peluru bersarang di kaki musuh. Anehnya, si preman malah menyeringai. Ia kabur, menerobos kaca jendela café hingga pecah berkeping-keping. Ragil berlari keluar mengejar si preman, namun tak berhasil menyusulnya. Sementara itu para pengunjung café berlarian panik. Orang-orang di luar mulai berkerumun, heboh. “LIHAT! Ada perkelahian!” “Mana, mana?” “Dia bawa pistol! AWASS!!” Ragil cepat-cepat menyarungkan pistolnya. Ia berseru, “Tenang, saya polisi! Yang tadi itu Topeng Merah! Rampok!” Kuhampiri Ragil. Tiba-tiba wanita itu berbalik, mengayunkan tangan dengan jurus pencak silat hingga mengenai dadaku. “Aduh! Ini saya, Bondan!” Satu telapak tanganku terulur pada Ragil, satu lagi mengelus dadaku yang sakit. Tanpa basa-basi Ragil menarik lenganku dan lari menjauhi massa. Baru di sudut yang sepi ia bicara, “Yang tadi itu… Warok?” Sambil mengangguk aku menjawab, “Ya, Warok Muda, Pendekar Darah Hitam. Itu jelas dari wajahnya.” Mata Ragil terbelalak. “Astaga! Kita sedang berurusan dengan kekuatan gaib! Pencurian itu jelas bukan demi uang,” serunya. “Oke, sekarang jelas kan saya bukan pelakunya? Permisi…” Aku lantas berbalik untuk pergi. “Eit, tunggu, Bondan! Apa kamu lupa kata-kataku tadi? Kamu butuh BUKTI, dan kejadian tadi itu bukan bukti kuat!” Aku meringis, bahuku lemas. “Jadi saya harus bagaimana, Mbak Ragil?” “Kalau kamu membantuku, mungkin kamu akan mendapatkan barang bukti yang meyakinkan.” Aku gelagapan. “A-apa? Wah, j-jangan deh, mbak. Saya ini mahasiswa biasa. Ketemu preman tadi saja saya diam, apalagi menghadapi sepasukan Warok sakti mandraguna? Hiiiyyyy…!!” “Maaf, tapi ini satu-satunya cara. Tenang saja, saya akan melindungimu dengan ini,” ujar Ragil sambil menepuk bagian paha roknya yang menutupi bicycle pants dan sarung pistolnya. Aku merinding, namun dengan acuh Ragil bicara terus, “Nah, menurutmu apa langkah selanjutnya?” Aku terpekur sejenak, otakku berdetak. Lalu bibirku bicara, “Sebaiknya kita pergi ke tempat topeng itu ditemukan, yaitu di Ponorogo. Saya yakin kita akan mendapat lebih banyak petunjuk di sana.” “Hmm, masuk akal. Apa kamu masih ingat letaknya?” “Yah, kurang-lebih. Mungkin saya akan lebih yakin kalau sudah tiba di sana.” “Baik. Besok jam tujuh pagi kita bertemu di Gambir lalu naik kereta api ke Ponorogo. Nah, saya permisi dulu, kekacauan di café harus dibereskan.” Ragil berbalik pergi. Meninggalkanku terpaku seorang diri dengan wajah pucat pasi. Firasat buruk merasukiku, teriring suara itu lagi. [quote]Ya, Bondan. Cepatlah datang. Cepat tolong aku, pahlawanku. Jangan biarkan dia menghancurkanku.[/quote] ==oOo== [url=http://s87.photobucket.com/albums/k139/bjvadis/?action=view&current=REOGWallpaper1024x768smartblur.jpg][img]http://i87.photobucket.com/albums/k139/bjvadis/REOGWallpaper1024x768smartblur.jpg[/img][/url] REOG Wallpaper for PC 1024 x 768 - Left: Reog, Mid: Ragil, Right: Barong Keesokan harinya, kaki-kakiku menapaki perbukitan di barat daya Kota Ponorogo, Jawa Timur. Meski jalannya sulit dikenali, kucoba terus mengingat-ingat letak lubang gua itu. Napasku memburu, peluh membasahi seluruh tubuh, wajah dan rambut gimbalku. Matahari makin condong ke barat, aku harus menemukannya sebelum gelap. Kualihkan pandangan pada Ragil yang bersepatu bot menyisiri bukit di atasku, gerakannya masih lincah dan bersemangat. “Mbak Ragil, istirahat dulu ya! Saya lelah sekali!” seruku sambil mengelus lututku yang pegal. “Kita tak bisa berhenti sekarang, Bondan! Ayo, cari terus!” Smartphone Ragil berbunyi, dan ia cepat menatap layarnya. Tiba-tiba wajah wanita itu memucat. “Ada apa, mbak?” “Berita buruk, Bondan. Si penemu topeng itu ditemukan tewas mengenaskan tadi pagi. Seluruh kulit pada jenazahnya menjadi merah darah dengan urat-urat hitam bertebaran.” “APA? Sial, kita lupa memperingatkannya!” Kulampiaskan kekesalanku dengan menghantamkan tinju ke tanah. “Dari cara kematiannya itu, dia pasti terkena kutukan Topeng Reog. Menyebalkan, menyebalkaaan!!” Emosiku meledak-ledak. Sebaliknya, nada bicara Ragil tetap datar. Katanya, “Sudahlah, Bondan. Daripada mengumbar emosi, cepat temukan gua itu sebelum jatuh korban lagi.” Wajahku ditekuk seribu. “Iya, iya! Hmm, rasanya jalannya sudah benar, tapi kok guanya tak kelihatan?” “Tajamkan penglihatanmu! Cari lebih teliti!” “Duuh, mbak sih sudah terlatih, lha saya? Jangankan pencak silat, jogging saja saya ja... AAAAHHHH!!!” Tiba-tiba aku terperosok dalam sebuah lubang yang tersamarkan rumput. Tubuhku terus meluncur bagai di mainan luncuran. Lalu aku terpelanting, jatuh tengkurap di permukaan tanah datar. “Awwww...” Sambil meringis aku menegadah, melihat gua yang cukup lebar dengan obor-obor menyala di sisi-sisi dindingnya. Tak salah lagi, ini Gua Warok yang kukunjungi waktu itu. Tiba-tiba sesuatu yang amat berat menimpa punggungku. “AUUUGHH!!” Lantas aku terlalu sibuk kesakitan. “Si beban” diam sejenak, lalu terangkat dan berlutut di depanku. Ragil. “Wah, maaf. Saya juga terperosok tadi. Kamu baik-baik saja, kan?” Suaraku lirih, “Rasanya... tadi ada... tulang... yang bergeser...” “Sini!” Dengan cekatan Ragil menarik dan mendudukkanku. Lalu ia memijat tubuhku seperti ahli pijat refleksi. “Bagaimana, sudah lebih baik?” “Ehhh... l-lumayan...” “Cepat bangun!” Dengan kasar Ragil menarikku berdiri. Aku langsung menyadari maksudnya. Empat pria muncul di kejauhan, menghadang di lorong gua. Wajah mereka merah-hitam dan beringas. Kukenali salah seorang dari mereka, preman yang menyerang Ragil di café kemarin. Si preman menghardik, “Sudah diperingatkan, malah bandel. Hukumannya, MATI! SERBU MEREKA!” Para Warok maju bersamaan. Dua Warok malah merayap di tembok dan langit-langit gua seperti cicak. Ragil menembakkan kedua pistol di tangannya. Satu timah panas bersarang di dahi salah satu Warok, menewaskannya seketika. Tiga lainnya lantas mengincar Ragil. Lalu kudengar Ragil berseru, “Bondaan, terobos mereka!” “Tapi, mbak…!” “CEPAT! Biar kutangani sendiri!” Aku menyeruak maju. Kulewati ketiga Warok yang sibuk mengeroyok satu wanita dan terus berlari. Suara-suara letusan pistol, teriakan dan baku-hantam makin sayup-sayup… Kususuri lorong-lorong gua yang bercabang-cabang bagai labirin. Tak henti aku menoleh ke kanan-kiri, jangan-jangan ada Warok lagi yang menyergap. Tak lama kemudian, kakiku melangkah dalam sebuah ruangan yang cukup luas. Mataku lantas terpusat pada sebuah prasasti batu di tengah ruangan. Ada benda yang terpasang tegak-lurus di permukaannya – Topeng Reog. Rupanya pusaka ini telah kembali ke tempat asalnya. Saat kuhampiri prasasti itu, tiba-tiba sesosok pria bertubuh kekar bak binaragawan menghadangku. “Hee, jangan coba-coba menyentuh topeng ini!” hardik pria itu. Kuputuskan melangkah mundur sambil berujar, “Siapa kau?” Pria tampan berambut panjang berombak itu menjawab sopan, “Namaku I Made Johnny Wardhana. Siapa namamu?” “Aku Bondan. Mengapa aku tak boleh menyentuhnya?” “Karena topeng itu terkutuk.” “Bagaimana bisa kalau hanya menyentuhnya saja?” “Sekali menyentuh, kau akan ingin memilikinya. Sekali kaumiliki, kau akan ingin memakainya.” “Lantas apa yang akan kaulakukan dengan topeng itu?” “Menguburkannya di gua ini.” “Haah? Untuk apa?” “Agar tak ada orang lain yang menemukan topeng ini, menyalahgunakannya dan terkena kutukan Topeng Reog.” “... Seperti si penemu topeng itu.” “Sadarkah kau sekarang? Kutukan Topeng Reog bukan isapan jempol, Bondan! Topeng ini punya kekuatan gaib dahsyat, pembawa bencana! Aku telah mencoba menghancurkannya dengan segenap tenaga, tapi gagal!” “Ah, masa?” Dahiku mengernyit tak percaya. Johnny melanjutkan, “Kucoba pula meleburnya di kawah Gunung Merapi, tapi topeng itu malah melompat ke luar kawah, utuh tak bercacat! Jadi, terpaksa kuputuskan mematuhi pesan di prasasti dengan membawanya kemari, menguburnya dengan meruntuhkan gua ini, tak ada jalan lain!” Aku terdiam. Kalau kata-kata Johnny itu benar, seharusnya aku membantunya. Melihat gelagatku, Johnny bicara lagi, “Nah, tolong jangan halangi maksudku ini, demi kebaikan umat manusia.” Kurasa Johnny memang benar. Aku ingin bebas dari suara yang menggangguku itu selamanya, bukan? Mungkin pengorbanan bukti kehormatan budaya inilah cara terbaik. “Dia bohong, Bondan. Jangan terpengaruh olehnya.” Suara Ragil menyahut lantang. Aku dan Johnny menoleh ke arah wanita itu. Tubuhnya luka-luka, tapi ia tetap berdiri tegak mengacungkan kedua pistolnya. “Hmph, ada lagi orang yang suka ikut campur! Siapa kau?!” seru Johnny sambil menunjuk langsung ke wajah Ragil. Wanita itu membetulkan letak kacamatanya lalu berkata, “Rania Giselda alias Ragil, Interpol.” “Puih! Apa urusan Interpol dengan satu topeng itu? Kau pasti palsu!” “Aku bukan polisi palsu. Aku mengajukan diri untuk mengusut kasus ini karena sebagai pejuang keadilan aku peduli dengan warisan budaya bangsa. Seharusnya pengusaha sukses dan terkenal sepertimu sudah mengerti, Johnny Wardhana. Semulia apapun tujuanmu, caramu sudah salah. Kau bekerjasama dengan Warok yang brutal mencuri topeng itu. Karena itu semua, kau kutahan.” Di depan todongan pistol, Johnny malah menggertakkan gigi. Ragil menambahkan, “Para Warok di depan sana sudah kulumpuhkan. Kalau kau melawan, nasibmu akan seperti mereka.” “Hmph. Maaf saja, Nona Ragil, tapi kebenaran tak selalu bersisian dengan keadilan. Jadi, sebagai pejuang kebenaran, aku harus melawanmu.” Sebentuk aura berwarna emas terpancar deras dari tubuh Johnny. Sepasang pistol Ragil memuntahkan empat peluru. Dengan mudah Johnny menghindari keempatnya. Ia bahkan menyeruak maju secepat kilat dan menghantamkan tinju dahsyat di tubuh Ragil. Walhasil wanita itu terlontar, membentur dinding gua dan roboh tak sadarkan diri. Melihat keperkasaan Johnny itu, aku jadi gemetar dan bergerak mundur, hingga tak sadar bersandar di prasasti topeng itu. Suara wanita itu berbisik, Ayo, kenakan topengnya. Johnny berbalik untuk menghalauku. Terlambat, tanganku terlanjur melepas topeng itu dari prasastinya. Terpaksa si pria besar berseru, “Sadarlah, Bondan! Percayalah padaku! Kembalikan topeng itu pada tempatnya!” Dia bohong, Bondan. Dia hanya ingin melenyapkanku, itu saja. Aku menggeleng. “Kau bohong! A-aku akan memakainya!” “SADARLAH!” Suara Johnny tak lagi kudengar. Kenakan. Tanganku bergerak dan menempelkan topeng di wajah. Tiba-tiba, aku merasa seakan sulur-sulur akar menjalar di seluruh tubuh dan leherku kecuali rambutku. Kuku-kuku hitam memanjang dari kesepuluh jari tanganku. Sosokku jadi seperti manusia pohon berbatang hijau. Tanpa sadar bibirku bicara, “Akulah Reog. Reog adalah aku. Aku pejuang kehormatan dan kau tak pantas jadi lawanku.” “Itukah menurutmu? Baik, biar wujud tarungku yang melayanimu,” ujar Johnny. Tangannya membuka kancing kemeja batiknya, memperlihatkan sebentuk kalung berliontin kepala singa emas di depan dadanya. Liontin itu berpendar cerah dan membesar, membentuk zirah emas. Tak hanya itu, bulu-bulu singa putih muncul bagai mantel yang menutupi seluruh pakaiannya. Sebentuk topeng emas menutupi wajahnya, dan rambut panjangnya berubah pirang, mengembang bagai surai singa. Terperangah, aku berujar, “Singa putih, liontin itu, jangan-jangan kau…” “Aku adalah pewaris Barong, dan tugasku adalah menghentikanmu, Reog,” ujar siluman singa dari legenda Bali itu sambil menunjuk tepat ke wajahku. “Oh ya? Memangnya kau mampu?” ejek Reog dalam diriku. “Kita lihat saja!” Barong menyerbu maju. Aku juga tak mau kalah dan maju pula. Aneh, lariku kini jauh lebih cepat dan gerakanku lebih lincah dari ninja. Kukerahkan tenaga kanuraganku. Cakar saktiku berkelebat, disambut tinju Barong yang menerpa bagai gunung runtuh. Reog menggerakkan tubuhku layaknya ahli akrobat, melompat, menukik, menyerang dari sudut-sudut tak terduga. Cakar-cakar darah hitam berhasil menorehkan luka di tubuh Barong. Namun siluman itu tak tampak melemah. Tiga tinjunya malah menghantamku hingga tubuhku terpelanting dan jatuh terduduk. Melihat kesempatan, Barong melesatkan tinju lagi. Namun ia hanya menghantam udara kosong karena aku sudah melompat tinggi di atasnya. Cakar pamungkasku terjun bagai angin puyuh hitam, mendera punggung lawan dengan kekuatan berlipat ganda. Kali ini Baronglah yang terpuruk. “Sudah kubilang tadi, kau tak pantas! Saatnya kau mati,” ujar Reog dalam diriku, mengumpulkan daya kanuragan hingga mencapai kekuatan penuh. “Kau salah besar!” sang lawan berseru lantang. Di luar dugaan Barong bangkit, kembali berdiri kokoh. Dua tinjunya memalu tanah, menimbulkan gempa yang membuat pijakanku goyah. Tak hanya itu, serentetan tinju Barong memberondong tubuhku bagai hantaman ribuan godam. Saat deraan reda, aku tumbang, terkapar tak berdaya di tanah. Mataku menatap Barong yang masih berdiri. “Habis kau, Reog. Hanya nerakalah tempat yang pantas bagimu,” sergahnya. Barong mengulurkan tangan untuk melepas Topeng Reog. Tiba-tiba sebuah peluru api gaib menghunjam bahu kanannya. Barong meraung kesakitan, lalu menoleh ke arah datangnya tembakan. Ragil berdiri di sana dengan pistol teracung, masih berasap. Sambil menyeringai ia berujar, “Salah. Kaulah yang tamat, Barong. Tapi sebelum itu aku akan sangat menikmati menyiksamu.” Peluru api kedua menembus lengan kiri Barong. Menyadari tubuhnya makin melemah dan mustahil menang, Barong berseru, “Sial! Itu bukan peluru biasa! Awas, akan kubalas kau lain kali!” Ia melarikan diri, berhasil mengelak peluru api ketiga dan keempat. Ragil tak mengejar. Jarinya sibuk memicu pelatuk pistolnya, peluru api tak melesat lagi. Tak sengaja kutatap cincinnya yang berpendar bagai kobaran api lalu tiba-tiba padam. Sesaat kemudian, Rania Giselda berlutut di depanku sambil tersenyum. Ujarnya, “Akulah pewaris Rangda, pemilik Cincin Api Gaib. Karena kau sudah bangkit, Reog, bagaimana kalau mulai sekarang kita bekerjasama?” Rangda, penyihir terkuat dalam legenda Bali? Tunggu, apa maksudnya dengan “kerjasama”? Aku ini pemuda berjiwa bebas, seorang mahasiswa, bukan pendekar! Tidak lagi, Bondan. Sekarang kau adalah aku, dan Rangda ini sekutu kita. Tidak! Keluar kau dari tubuhku! ENYAH! Terimalah kenyataan. Inilah berkatmu. Kutukanmu. Inilah takdir sejatimu. Ingin aku berontak, namun tubuhku lunglai, pandanganku melamur dan segalanya jadi gelap. ==oOo== Beberapa hari kemudian... Di layar televisi kulihat Topeng Reog yang kembali tersimpan dalam kotak kaca. Lalu muncul Ragil dan seorang pria kepala museum yang menjabat tangannya. Ugh, senyum-senyum palsu itu... membuatku mual. Kualihkan perhatianku ke kejauhan sambil bertengger di puncak gedung, beratapkan langit malam dan bulan purnama. Kini akulah dia, sang terkutuk, pengkhianat kaumnya. Mengenakan topeng yang persis seperti replikanya di Museum Nasional ini. Kutatap tubuh kurusku yang terbungkus akar serba hijau ini, memicu pertarungan dalam benakku. Antara keinginan jiwaku untuk bebas dari penjajah dan kepasrahan untuk menjalani “takdir sejatiku” ini – entah sampai kapan. Tak seorangpun bisa menduga apa tindakan dia sebentar lagi. Akupun tidak. Saat ini, hanya satu hal yang aku tahu pasti. Seorang pendekar super telah terlahir kembali. Reog. Karya: Andry Chang (vadis) Entri untuk Lomba Cerpen FANTASY FIESTA 2011 Penyelenggara: [url=http://kastilfantasi.com/]- Kastil Fantasi (http://www.kastilfantasi.com)[/url] [url=http://www.adhika-pustaka.com/]- Adhika Pustaka (http://www.adhika-pustaka.com)[/url] [b][/b]

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments

  • vadis's picture

    revised, more like.

    thankx for reading again, anyway.

    hm, saya lihat dulu hasilnya di lomba cerpen nanti, setelahnya baru dijadikan komik, film script, game atau semacamnya. makasih banyak ya admin.

  • administrator's picture

    wogh keren, anti-hero gini..

    4

    wogh keren, anti-hero gini.. keren banget kayanya kalo dibikin komik nih Smile goodluck lombanya!

    we come in peace
  • Crow's picture

    ah..i thought it was repost,

    2

    ah..i thought it was repost, i feel like reading this one a long time ago...

    I am not person worthy of your concern
  • kiky2hikaru's picture

    i

    3

    i pretty agree
    but.it's still great since you put your art's here

    KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI.....
  • Crow's picture

    nice story actually, but i

    2

    nice story actually, but i feel like i cannot enjoy the flow, maybe you should learn about story telling or something, i don't know tough, i am not an author, but i can feel like i am not comfortable enough with the way you tell the story.

    I am not person worthy of your concern

return to top