RALE (cerpen lawas alisnaik)

alisnaik
Surreal
3.5
420 kali
0 kali

not admin's choice

[sedikit basa-basi] sebuah cerpen yang sudah lama saya tulis, sekitar tahun 2009 yang lalu. saking lamanya, saya sendiri sudah lupa sama jalan cerita nya. okelah, langsung aja cekidot ==================== alkisah. pada zaman dahulu kala. zaman di mana beha belum ditemukan. pada zaman yang sangat sederhana itu. hiduplah seorang bocah lelaki. umurnya baru 4 tahun. dia tinggal di sebuah desa yang tak begitu spesial. biasa biasa saja. namun begitu asri dan jauh dari modernitas perkembangan zaman. nama bocah itu adalah Rale. wajahnya biasa biasa saja. seperti wajah anak ingusan pada umumnya. hidung dan bibir Rale mirip dengan ibunya. ibunya yang seenaknya saja melahirkan dia ke dunia ini. rambut Rale berstruktur tidak jelas. ada yang keriting. ada yang lurus. mirip ayahnya. matanya cukup rupawan, memancarkan cahaya cerah. mata itu tidak mirip kedua orang tuanya. penampilan fisiknya tidaklah begitu spesial, meski juga tidak ada cacat dan normal normal saja. sangat amat biasa saja. jika dia disuruh berbaris bersama anak anak tetangga yang lain, maka perawakan mereka akan tampak mirip semua, apalagi oleh orang yang tidak berasal dari desa sederhana tersebut. bahkan bau dan bunyi kentut mereka pun serupa. namun di balik itu semua. di dalam kepalanya. terpendam intan berlian permata yang begitu berkilauan seperti air laut di siang hari. di balik tulang tengkorak itu, otak dan pikiran ajaib bersemayam. harta karun terbesar di dunia ini. imajinasi dan keceriaan dari Rale. “itu”lah yang membuatnya berbeda. luar biasa. lain dari anak normal pada umumnya. hanya dengan bermodalkan “itu”, Rale bisa pergi ke mana pun ia mau. bahkan ke tempat yang ia sendiri belum pernah pergi ke sana. Rale terbang. dengan kecepatan secepat angin lembah. Rale terbang, dengan mengendarai “itu”. sebuah pohon kelapa di tepi sawah. bergoyang ditiup angin siang. dari arah barat, menuju timur. sebuah pemandangan yang biasa saja. sering terjadi. hampir setiap hari. tapi dihadapan Rale, itu bukanlah pemandangan yang biasa saja. pohon kelapa itu baginya terlihat menari dalam irama hembusan angin semilir yang sungguh penuh nilai estetika. pohon itu menari. menari dengan tenang. di atas panggung besar berwarna hijau. sawah. sebuah sungai yang tak begitu lebar. aliran airnya tenang. perlahan. airnya jernih. sangat jernih. belum ada orang yang mau mengotorinya. karena bagi mereka, sungai adalah sahabat. sahabat yang baik. namun, pemandangan sungai yang sederhana itu, jatuh ke retina mata Rale dalam persepsinya yang berbeda. air sungai yang mengalir, baginya tampak seperti arus air laut. daratan yang ia pijak, adalah kapal yang mengarungi lautan lepas. Rale menganggap dirinya sendiri sebagai kapten bajak laut yang siap berburu harta karun. sepasang. ada sepasang kupu-kupu berada tak jauh dari hadapan Rale. sayap sayapnya berwarna coklat dan kombinasi putih dan biru. cantik. dua kupu-kupu itu terbang rendah dan saling berputar satu sama lain. nampaknya mereka adalah kupu-kupu jantan dan betina yang sedang dilanda asmara. cinta yang bersemi demi proses reproduksi. tidak. tidaklah begitu. tak ada kata asmara di hadapan Rale. sepasang kupu-kupu itu, baginya tak lebih dari dua ekor alien. alien alien cantik yang sedang sibuk mendiskusikan rencana untuk mengambil alih planet bumi. sungguh. sungguh. cara pandang yang tak lazim dari sorot mata Rale. sorot mata yang penuh cahaya. begitulah, kawan. begitulah. jika sekali saja Rale melangkah menyusuri jalan setapak di desanya. maka akan muncul puluhan cerita ajaib yang berputar putar dalam kepalanya. cerita tentang pohon kelapa, aliran sungai, dan sepasang kupu-kupu, hanyalah sebagian dari imajinasi liar Rale. padahal ia tak pernah sekalipun pergi ke pantai atau laut. tak pernah membaca buku tentang bajak laut. Rale tak pernah pergi meyaksikan pertunjukan panggung seni tari. apalagi menonton film fiksi ilmiah tentang alien, di desanya tak ada satupun televisi maupun gedung bioskop. lantas, darimana Rale memiliki imajinasi yang bahkan seluruh penduduk desanya saja tak akan sanggup memilikinya ?? Rale mendapatkan pandangan-pandangan unik semacam itu dari mimpi. ya. mimpi mimpi yang selalu menghiasi tidur malamnya. dari alam bawah sadarnya itu, muncullah gambaran tentang lautan lepas yang biru dan luas, kapal layar yang gagah perkasa, penari yang berpadu dalam irama, alien yang muncul dari galaksi antahberantah. serta berbagai gambaran gambaran ajaib yang lainnya. termasuk sebuah gambaran dari mimpi yang belum ia mengerti. gambaran tentang sesuatu yang sangat gelap dan mengerikan. tapi Rale bingung. apa arti sebenarnya dari mimpi itu. karena belum pernah ia imajinasikan terhadap dunia nyata. memang banyak yang berkata, manusia kadang bermimpi tentang masa depan yang akan terjadi. karena itulah, sering manusia mengalami kejadian yang ia rasa sudah pernah mengalaminya. ya, memang sudah dialami sebelumnya pada mimpi. namun sudah tak mengingat mimpi itu. De Ja Vu. dan mimpi gelap nan mengerikan yang dilihat Rale, benar benar menjadi kenyataan di masa depan. tepatnya pada awal musim hujan. suatu hari yang mendung, Rale yang berumur 7 tahun, baru saja pulang dari berenang di sungai. takut jika nanti sungai itu menjadi deras karena hujan lebat yang segera mengguyur. di perjalanan menuju ke rumahnya, Rale menemukan beberapa orang terkapar di jalanan. jumlahnya 4 orang. 3 orang petani dan seorang anak kecil. wajah mereka memucat. nafas mereka tersengal sengal. badan menggigil. dari lubang hidung menetes darah hitam. mata mereka menangis. kentut mereka keluar tak terkendali. bau sekali. mengerikan. kondisi 3 petani dan 1 bocah itu mengerikan. sebuah kondisi yang mengingatkan Rale akan mimpinya yang begitu gelap dan menyeramkan. ternyata inilah arti dari mimpi itu. mimpi yang menjadi nyata. Rale terkejut setengah mati. dia kebingungan dan gemetar ketakutan. ingin sekali untuk menolong orang orang itu, tapi dirinya takut mengalami nasib serupa. di lengan kanan si bocah yang terkapar, dua ekor kupu-kupu sedang bertengger di sana. kupu-kupu. dua ekor. sepasang. jantan dan betina. sepasang kupu-kupu itu sudah dari tadi ada di lengan kanan anak kecil itu. di tengah kepanikan Rale, memori otaknya berputar. memutar waktu ke arah yang berlawanan. mundur ke masa lalu. putaran itu berhenti pada sebuah ingatan. ingatan tentang sepasang serangga terbang. “sepasang kupu-kupu. sayap sayapnya berwarna coklat dan kombinasi putih dan biru. cantik. bagi Rale, mereka tak lebih dari dua ekor alien. alien alien cantik yang sedang sibuk mendiskusikan rencana untuk mengambil alih planet bumi.” kupu-kupu yang begitu cantik itu. ternyata memanglah “alien” yang berusaha untuk mengambil alih planet bumi. pikiran itu terus berputar putar di kepala Rale. dilihatnya sepasang kupu-kupu yang masih hinggap di lengan bocah sekarat. dua ekor kupu-kupu itu kini mulai terbang perlahan. menuju ke arah Rale. menghindar. menjauh. dan lari. ia ketakutan dengan sepasang alien cantik itu. tidak ingin bernasib serupa dengan 4 orang di jalan itu. digigit kupu-kupu dan dialirkan racun jahat ke pembuluh darah. lebih mengerikan dari malaria dan demam berdarah. berlari. berlari. dan berlari. Rale menuju ke rumahnya. terbang dari kupu-kupu itu tidaklah secepat laju lari Rale. dia berhasil menjauh. namun, alien cantik tidak hanya dua ekor itu. sepanjang perjalanan (lari) pulang, ia jumpai beberapa kupu-kupu serupa yang menghampirinya. dari arah kanan. dari arah kiri. dari depan. dari atas. Rale terkepung. kupu-kupu coklat putih biru itu semakin mendekat. tapi tetap saja, laju mereka lambat. Rale berhasil menghindari mereka. makhluk makhluk kecil itu. di sepanjang jalan yang dilaluinya, Rale melihat tubuh beberapa orang bergeletakan. dengan kondisi yang sama seperti 4 orang pertama yang dijumpainya. korban dari kupu-kupu alien. mereka pucat. nafas tersengal. menggigil. darah hitam. air mata. dan kentut. apa boleh buat. Rale mengacuhkan mereka. dengan perasaan sedikit bersalah. pikirannya terpusat kepada rumahnya. berharap ibunya yang ada di sana, tidak terserang virus dari kupu-kupu. terlambat. begitu sampai di rumahnya, Rale mendapati ibunya juga terkapar dengan kondisi mengenaskan. korban para alien cantik. sudah tak ada lagi kupu-kupu di rumah Rale. tampaknya telah pergi. kepanikan semakin menjerat Rale. panik. ia coba mengajak bicara ibunya, namun sama sekali tak dijawab. nafas yang tersengal sengal menghambat keiinginan bicara ibunya. tak ada orang lain di rumah. ayah sedang bekerja menarik dokar di kota sebelah. kakak perempuan Rale sudah dinikahi orang dan sekarang tinggal di ibu kota. para tetangga juga berada dalam kondisi yang sama dengan ibunya. Rale sendirian. yang lain sekarat. di tengah kegalauan kondisi situasi yang semakin tak menentu dan semakin mencekam. tiba tiba saja. lagi lagi. memori pikiran Rale kembali berputar. teringat akan tarian pohon kelapa dan aliran air sungai. bagian dari imajinasi Rale yang pernah muncul. tarian pohon kelapa. aliran air sungai. pohon kelapa. air sungai. kelapa. air. kelapa. air. air kelapa. entah bagaimana bisa frase kata ini muncul dalam benak Rale. tapi kata-kata “air kelapa” begitu terang benderang. seperti nabi yang diutus Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia yang sesat. air kepala, adalah jawaban. adalah obat. penangkal penyakit dari kupu-kupu. beruntung di belakang rumah Rale tumbuh beberapa pohon kelapa. dengan tubuhnya yang masih kanak-kanak, ia panjat pohon kelapa itu dengan susah payah. untung saja ia sudah pernah belajar dari ayahnya cara memanjat pohon, memetik buah kelapa, dan memecahkan kulitnya. dari 4 biji buah kelapa. airnya terkumpul penuh dalam sebuah kendi besar. diminumkannya seteguk kepada ibunya. belum ada efek berarti. perempuan yang melahirkan Rale itu masih dalam kondisi yang sama. gawat. perlahan. pelan namun pasti. nafas sang ibu mulai teratur, tidak tersengal sengal lagi. “terima kasih, Ral. kamu hebat”, itulah kata kata pertama dari ibunya setelah mulai agak baikan. wajahnya sudah tak pucat. darah hitam berhenti keluar dari lubang hidung. mata tak lagi menangis. badan berhenti menggigil. kentut tidak keluar seenaknya lagi. ibu Rale mulai sembuh. “air kelapa yang kau minumkan ini sungguh manjur, nak. ayah pasti bangga punya anak sepertimu” “baguslah. ibu istirahat dulu di sini ya. aku mau meminumkan air kelapa ini kepada para tetangga dan mereka yang terkapar di jalan” “biar ibu bantu kau. tubuh ini sudah kembali sehat. sini, tuangkan sebagian air itu ke botol ini” “apa ibu yakin sudah tidak apa apa?” “sudahlah. keselamatan para tetangga lebih utama. kau pergi ke arah barat. ibu ke timur” “baiklah. meminumkan air kelapanya seteguk saja sudah cukup. oh ya bu, berhati-hatilah dengan kupu-kupu coklat putih biru. meski gerakan mereka lambat. tapi jangan sampai tergigit lagi” Rale dan ibunya memulihkan para tetangga. selanjutnya para tetangga yang beranjak sembuh, memecah kelapa dan mengambil airnya, memberikan pada tetangga yang masih sekarat. begitu. begitu. begitu seterusnya. seluruh korban berhasil selamat. sebuah happy ending tentunya. para kupu-kupu cantik penebar penyakit, tidak dimusnahkan. mereka yang beterbangan di desa, disiram oleh air kelapa. setelah di-uji-coba, serangga bersayap lebar tersebut tidak lagi menyebabkan penyakit mengerikan. Rale seketika menjadi pahlawan di desanya. orang orang membicarakan jasanya. rumahnya sering dikunjungi untuk mengucapkan terima kasih. Rale pun juga meminta maaf kepada orang orang yang ia biarkan terkapar di jalanan. termasuk 3 petani dan seorang bocah yang pertama ia jumpai. mimpi dan imajinasi dari Rale. menjadi harta karun paling berharga. karena berkat itu, dan juga usaha Rale, orang lain mendapatkan manfaatnya. sungguh brilian.
AttachmentSize
anak-kecil.jpg10.14 KB

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments


return to top