The Protector: Envoy (Chapter 1: Seorang Anak)

3
139 kali
0 kali

not admin's choice

1024x768 Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

 

1

Seorang Anak

 

            Pagi hari yang cerah di sebuah hutan yang tenang di sebelah tenggara istana Erifho. Sangat tenang karena hampir tak ada suara sama sekali kecuali yang berasal dari penduduk yang ada di desa sebelah barat hutan itu.

            Di dalam hutan itu terdapat pepohonan yang menghasilkan buah-buah yang segar. Penduduk desa yang tinggal di dekat hutan itu sering masuk ke dalamnya dan memetik buah-buah itu untuk dimakan maupun untuk dijadikan cadangan makanan. Mereka tak perlu takut bertemu hewan buas jika masuk ke dalam hutan itu. Lebih tepatnya, mereka tidak akan pernah bertemu hewan buas lagi karena hampir semua hewan sudah musnah ratusan tahun yang lalu. Yang tersisa hanyalah beberapa spesies burung dan ikan-ikan.

            Hewan-hewan itu musnah karena terkontaminasi energi Ghranz, yaitu sebuah energi misterius dari sebuah meteor, yang menyebar di seluruh penjuru tujuh kerajaan. Yang selamat hanyalah hewan-hewan yang terbang tinggi dan yang ada di dalam air karena mereka tak tergapai oleh energi Ghranz. Selebihnya, energi Ghranz itu menyatu dengan manusia sehingga manusia yang bisa mengendalikan energi Ghranz akan memiliki kekuatan yang berlipat ganda dari sebelumnya. Energi Ghranz sendiri berasal dari dalam Ghranz, yaitu benda yang seperti kabut atau asap yang melayang-layang di udara.

            Tidak semua orang bisa mengendalikan energi Ghranz. Mereka yang beruntung bisa mengendalikannya ada yang menggunakannya untuk kebaikan, dan juga untuk kejahatan.

            Dan saat ini, di dalam hutan itu tampak seorang anak yang berumur kira-kira 15 tahun sedang berjalan-jalan. Tubuh anak itu agak pendek dari anak seumurannya, rambut hitamnya sedikit panjang dengan poni pendek menutupi alisnya. Ia memakai masker yang menutupi hidung dan mulutnya, bajunya berwarna abu-abu berlengan pendek. Celana panjang yang dipakainya juga berwarna abu-abu lengkap dengan sepatunya yang juga berwarna abu-abu. Di pundaknya terdapat dua pedang yang dipasang searah ke kanan atas, bukan menyilang seperti biasa.

            Dari penampilanya, anak ini bukan anak biasa. Dia mungkin adalah salah satu dari pasukan timur yang banyak dibicarakan orang-orang. Pasukan timur adalah pasukan tersembunyi yang mempelajari energi Ghranz berfokus pada kecepatan dan kelincahan. Pasukan ini sulit ditemukan karena tersembunyi di dalam hutan raksasa di sebelah timur laut istana Erifho.

            Anak itu berhenti berjalan dan sedang berdiri menatap sebuah pohon yang tinggi besar. Pandangannya lalu tertuju pada buah-buah yang ada di pohon itu. Ia memegang gagang pedangnya yang pertama lalu menariknya.

            “TAPP!!” anak itu melompat tinggi ke dekat pohon itu dan...

            “KENKAZE..” gumamnya pelan seraya mengayunkan pedangnya yang mirip katana itu perlahan seakan-akan menebas angin.

            “HYUSHH!!” tiba-tiba dari sekitar pedang dan tubuh anak itu berhembus angin yang langsung memotong tangkai buah itu beserta beberapa daunnya. Beberapa buah dan daun pun berguguran ke tanah.

            “YURUIHAE..” gumamnya lagi. Dan tubuhnya melayang lalu

 mendarat ke tanah secara perlahan.

            Setelah mendarat, anak itu menyarungkan kembali pedangnya dan mengumpulkan beberapa buah yang gugur dan membawanya pergi keluar hutan itu.

            Ia menyusuri setiap jalan setapak yang ada untuk menuruni hutan yang memang berada di perbukitan. Sesekali ia memandang sekelilingnya dan berhenti berjalan untuk beristirahat. Jauh di ujung sana ia dapat melihat istana Erifho berdiri kokoh. Di dalam sana adalah tempat tinggal Gravian, raja kerajaan Revlesta, beserta putrinya, Vienna.

            Setelah puas melihat-lihat pemandangan dan istana Erifho yang megah, anak itu kembali berjalan keluar. Dalam pikirannya saat ini ia membayangkan bagaimana rasanya suasana hutan ratusan tahun yang lalu. Dari buku-buku yang dibacanya ia tahu bahwa sebelum Ghranz ada, di dunia ini dipenuhi oleh hewan-hewan darat yang luar biasa. Tapi yang dilihatnya sekarang hanyalah sedikit burung di langit yang kadang-kadang turun sebentar ke darat untuk beristirahat. Burung-burung itu tidak bisa terlalu lama di dataran rendah karena tubuh mereka akan menolak Ghranz dan energi Ghranz yang masuk. Jika Ghranz dan energi Ghranz itu terlalu banyak dalam tubuh hewan, hewan itu akan segera mati. Hanya manusialah yang tak terlalu terpengaruh dengan Ghranz.

            Anak itu kemudian memandang langit sambil terus berjalan. Ia menyadari matahari sudah hampir naik ke puncak tertingginya. Artinya sudah hampir siang.

            “Terlalu lama..” gumam anak itu. Ia melangkah ke pinggiran hutan itu menuju ke dekat tebing yang tidak terlalu curam.

            Anak itu melihat ke bawah tebing yang tidak terlalu dalam itu. Di bawah sana ia bisa melihat jalan masuk ke dalam desa. Ia belum pernah melaukan hal ini, tapi kali ini ia berpikiran untuk langsung melompat ke bawah untuk mempersingkat waktu perjalanannya. Anak itu mengatur nafas sambil menutup matanya dan mengambil ancang-ancang untuk melompat.

            Tak beberapa lama kemudian ia membuka matanya. Energi Ghranz sudah terkumpul di seluruh tubuhnya. Ia maju beberapa langkah lalu melompat sambil memegang buah-buah yang diambilnya tadi.

            “YURUIHAE..” gumamnya. Dan tubuhnya langsung melayang perlahan hingga mendarat di bawah tebing.

            Ia kemudian kembali berjalan memutari desa di depannya menuju ke hutan kecil di belakang desa itu. Anak itu memang tinggal di sebuah rumah kayu sederhana di hutan belakang desa itu. Hutan yang terlalu sepi untuk ditinggali manusia.

            Setelah berjalan memutar, ia masuk ke dalam hutan kecil itu. Suasana hutan itu tak jauh berbeda dari hutan besar tempat ia mencari buah-buahan tadi. Setelah berjalan cukup jauh ke dasar hutan itu, ia pun sampai di rumahnya, sebuah rumah kecil sederhana yang terbuat dari kayu yang ada di hutan itu.

            Anak itu pun masuk ke dalam rumahnya dan menaruh buah-buah yang dibawanya ke dalam keranjang di balik pintu depan rumahnya. Ia kemudian melepas kedua pedangnya dari pundaknya dan menyandarkannya di dinding rumahnya lalu berjalan masuk ke kamarnya untuk mengambil pakaian yang sama denganyang dipakainya saat ini.

            Ia kembali berjalan keluar rumahnya melewati pintu belakang. Di belakang rumahnya ada sebuah sungai kecil yang menjadi cabang sungai Crassiver yang mengalir dari hutan raksasa yang bernama Crassifin. Ia memang berencana mandi untuk menghilangkan gerah setelah berjalan-jalan di hutan.

□□□

            Tak terlalu jauh dari tempat anak itu berada, di sebelah barat laut. Tampak kastil Erifho yang megah dan besar. Di luar kastil itu terdapat kota besar bernama Erivillg yang mengelilingi istana yang menjadi ibukota kerjaan Revlesta. Karena kerajaan Revlesta berada di dekat hutan, maka rumah-rumah yang ada di kerajaan Revlesta terbuat dari kayu, termasuk kota Erivillg. Kecuali istananya, yang tentu saja terbuat dari beton kokoh yang didesain untuk tahan terhadap gempuran jika ada perang.

            Di setiap sudut kota dan istana pasti ada beberapa prajurit yang menjaga. Prajurit yang ada di kerajaan Revlesta tidak terlalu banyak. Begitu juga dengan keenam kerajaan lainnya. Kerajaan-kerajaan ini hanya perlu memiliki pengendali Ghranz untuk dijadikan prajurit. Karena kemampuan satu orang pengendali Ghranz setara dengan puluhan prajurit biasa.

            Di dalam istana Ghranz itu tampak orang-orang penting sedang sibuk mengurusi urusannya masing-masing yang berhubungan dengan tugas kerajaan. Ada yang sibuk menghitung jumlah setiap desa dan kota untuk mengetahui jumlah bantuan makanan yang akan dikirim jika suatu saat terjadi bencana alam atau kerusuhan yang disebabkan oleh kelompok tertentu.

            Sementara itu, di halaman istana Erifho yang sangat luas. Tampak seorang laki-laki berumur sekitar 23 tahun sedang berjalan-jalan di halaman depan istana yang luas sambil mengamati sekelilingnya. Laki-laki itu sepertinya adalah orang penting kerajaan. Rambutnya berwarna pirang dan dipotong pendek. Ia memakai baju zirah berwarna perak hingga kakinya. Di kedua tangannya terdapat sarung tangan yagn terbuat dari kain sutra dan pada punggung sarung tangannya ada baja pelindung yang kerasnya menyamai baju zirah yang dipakainya. Di pinggang kirinya terdapat sebuah pedang panjang yang di ujung gagangnya terdapat ukiran lambang kerjaan Revlesta yang sama seperti yang ada di bendera kerajaan itu. Wajah laki-laki itu sangat tegas,  dan badannya pun tinggi tegap.

            Laki-laki itu kemudian berjalan mendekati tukang kebun kerajaan yang sedang menyiram bunga-bunga kesayangan putri Vienna.

            “Hei..” ucapnya perlahan pada tukang kebun itu. Tukang kebun itu berbalik mendengar ada seseorang yang menyapanya. Saat ia melihat laki-laki itu yang menyapanya, ia menundukkan kepala dan sedikit membungkuk untuk memberi hormat.

            “Ada apa, jenderal?” tanya tukang kebun itu sambil mengangkat wajahnya kembali.

            “Apa kau melihat yang mulia raja Gravian?” tanya laki-laki itu yang ternyata adalah jenderal tinggi kerajaan Revlesta.

            “Yang mulia sedang berjalan menemani tuan putri berkeliling taman bunga di sebelah istana..” jawab tukang kebun itu menunjuk ke sebelah kiri istana.

            “Baiklah. Terima kasih..” ucap jenderal itu. Tukang kebun itu mengangguk.

            Jenderal itu berjalan memutar istana yang besar itu menuju ke sebelah kiri istana. Sesampainya di situ, ia melihat raja Gravian dan putri Vienna sedang berdiri mengamati taman bunga. Jenderal itu mendekati mereka berdua.

            “SETT..” jenderal itu membungkuk, bersujud memberi hormat kepada mereka berdua.

            “Maaf mengganggu, yang mulia..” ucap jenderal itu. Raja Gravian dan putri Vienna pun menoleh. Raja Gravian tampak tersenyum melihat jenderal itu.

            “Ya, kau boleh berdiri, jenderal Jif..” ucap raja Gravian mempersilahkan jenderal yang bernama Jif itu untuk berdiri. “Ada apa?” tanya raja Gravian kemudian.

            Jif pun berdiri.

            “Ini tentang pasukan Reveru. Mereka sudah mengusai bagian barat laut dekat perbatasan di sebelah atas sungai Crassiver..” ucap Jif memberi laporan tentang pergerakan sebuah pasukan pemberontak bernama Reveru.

            Raja Gravian tampak menghela nafas mendengar laporan itu.

            “Apakah jembatan Cridge utara sudah mereka kuasai?”

            “Belum. Seluruh pasukan utara dan beberapa pengendali Ghranz memperkuat penjagaan di situ..” jawab Jif.

            “.....” raja Gravian diam berpikir. Ia tahu, hal ini tidak akan berlangsung lama. Para pemberontak itu mungkin dalam beberapa minggu akan berhasil menguasai daerah utara kerajaan jika mereka telah menaklukkan penjagaan di jembatan. Dan mungkin juga, mereka akan melakukan penyerangan ke istana Erifho ini.

            “Apa perintah anda, yang mulia?” Jif pun bertanya.

            “Kita harus meminta bantuan kerajaan sekutu..” jawab raja Gravian.

            “Kerajaan... Avhlekania?” tebak Jif tak yakin.

            “Ya, hanya itu satu-satunya cara..” ucap raja Gravian seraya mengangguk. Jif berpikir sesaat.

            “Kerajaan Avhlekania kehilangan pangeran mereka lima tahun yang lalu. Apakah saat ini kerajaan itu sudah stabil dan bisa membantu kerajaan kita?” tanya Jif.

            “Kita harus mencoba dulu..”

            “Kalau memang itu keinginan yang mulia, baiklah. Lalu, siapa yang akan diutus untuk meminta bantuan ini? Kerajaan Avhlekania adalah yang kerajaan yang terjauh dari kerajaan kita. Perjalanan ini sangat berbahaya..” ucap Jif berkomentar.

            “Aku akan mengutus empat orang yang cocok..” ucap raja Gravian yakin.

            “Maaf, siapa saja itu?”

            “Anak-anak muda berbakat. Ecky, Ned, dan Ren..”

            “Apa?? Mereka terlalu muda, yang mulia!” Jif protes mendengarnya. Tapi raja Gravian hanya tersenyum.

            “Itu sudah keputusanku, jenderal Jif..” ucap raja Gravian. “Kau akan kuutus untuk memperkuat penjagaan di jembatan Cridge utara..”

            Jif mengangguk mengerti dan tidak berani berkomentar lagi. Ia sedikit ragu dengan orang-orang yang akan diutus raja Gravian untuk tugas ini. Mereka masih terlalu muda dan baru memiliki sedikit pengalaman. Tiba-tiba ia baru tersadar akan sesuatu.

            “Empat? Lalu yang keempat itu siapa?” tanya Jif kemudian menanyakan orang keempat yang belum disebutkan raja Gravian.

            “Salah satu anggota pasukan timur..” jawab raja Gravian. “Dia ada di hutan kecil dekat desa yang ada di tenggara istana ini..”

            “Apa dia mau bekerjasama?” tanya Jif. Sekali lagi, raja Gravian hanya tersenyum.

            “Itu urusan nanti. Aku ingin sebelum kau pergi ke jembatan Cridge, kau mengutus beberapa prajurit dan pengendali Ghranz untuk memintanya datang menemuiku..”

            “Baiklah, yang mulia..” Jif membungkuk lalu berbalik dan berjalan pergi untuk melaksanakan perintah raja Gravian. Tampak raja Gravian dan putri Vienna memperhatikannya melangkah pergi masuk ke dalam kastil.

            “Kerajaan Avhlekania? Kalau tidak salah, di sana ada pasukan khusus yang terkenal itu, kan?” gumam putri Vienna seraya tersenyum. “Kalau meminta bantuan mereka, semua pasti akan baik-baik saja..”

□□□

            Sudah lewat tengah hari. Anak itu tampak terdiam dan menutup mata saat sedang duduk di kursi kayu di halaman rumahnya. Ia sedang menikmati udara segar yang dihasilkan oleh hutan kecil tempatnya tinggal. Baru beberapa saat, ia diusik oleh sebuah sensasi energi Ghranz yang ada di sekelilingnya. Ia membuka matanya perlahan.

            “Satu? Tidak, ada delapan orang. Termasuk prajurit biasa..” gumam anak itu seraya berdiri dari kursinya.

            Ia melangkah menjauh sedikit dari rumahnya seraya mengamati ke pepohonan yang cukup lebat di sekelilingnya.

            “Siapa kalian? Kenapa mengawasiku?” ucap anak itu.

            “TAPP!! SRETTT!” pepohonan itu bergoyang dan dari dalamnya keluar beberapa bayangan manusia yang langsung mendarat di depan anak itu.

            Delapan orang pun telah berdiri berjejer di hadapan anak itu. Mereka semua memakai pakaian kain biasa, dan kepala mereka ditutupi tudung dari kain. Di punggung mereka masing-masing terdapat sebuah pedang panjang. Di antara mereka ada satu orang yang pakaiannya sedikit berbeda, ia maju selangkah.

            “Namaku Nir. Yang mulia raja Gravian memanggilmu untuk datang menemuinya di istana Erifho..” ucap orang yang bernama Nir itu.

            Tampaknya usia Nir masih sangat muda. Sekitar 16 tahun. Wajahnya agak sedikit kekanak-kanakan untuk orang seusianya. Tapi, untuk saat ini, ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius dalam menghadapi anak di hadapannya sekarang ini. Ia tahu bahwa pasukan timur memiliki kemampuan yang hebat.

            “Aneh, orang sepenting raja Gravian memanggilku untuk menemuinya..” ucap anak itu. “Apa karena akhir-akhir ini aku tidak membayar pajak?” Nir mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan anak itu.

            “Aku tidak tahu. Yang aku tahu, kau harus datang..”

            “Kalau aku menolak?” anak itu berusaha sedikit memprovokasi.

            “Kau tidak memiliki pilihan..”

            “Selalu ada pilihan..”

            Nir tampak sedikit kesal mendengar ucapan anak itu. Ia berpikir sesaat.

            “Tugas kami hanyalah menjemputmu. Tapi, tidak ada perintah untuk membawamu secara lemah lembut..” ucap Nir tersenyum kaku. Ia kemudian mengontrol energi Ghranz-nya untuk memperkuat kakinya.

            Anak itu bersiaga. Ia dapat merasakan ada sensasi energi Ghranz yang bergejolak pada Nir. Tiba-tiba...

            “SETT..”

            “...!?” anak itu sedikit terkejut. Nir tampak hilang dari pandangannya. Hanya ada tujuh orang di depannya yang masih berdiri.

            Tiba-tiba ia merasakan ada energi Ghranz di belakangnya. Mudah ditebak, ia langsung tahu bahwa itu adalah Nir yang melesat cepat ke belakang untuk menangkapnya. Tanpa menoleh ia langsung mengarahkan pukulan siku tangan kanannya ke belakang. Nir yang berencana mencengkeram leher anak itu langsung menangkis dan menahan pukulan sikunya.

            “TEPP!!” Nir terdorong ke belakang sedikit akibat menahan serangan. Anak itu langsung melesat ke depan seraya mengepalkan kedua tangannya.

            “SRET!! TEP! BAGH! BUGH!” hanya sekejap mata saja ketujuh orang prajurit biasa itupun langsung pingsan karena terkena pukulan anak itu pada bagian dada dan leher mereka. Nir yang melihat kejadian itu hanya tersenyum.

            “Pasukan timur memang hebat. Padahal usia anak ini kelihatannya masih muda..” komentar Nir dalam hati. Ia mencabut pedangnya.

            “DRAP TAP TAP!!” Nir berlari cepat ke arah anak itu seraya memegang pedangnya di tangan kanannya bergaya seolah-olah akan menebas kepala anak itu. Anak itu langsung melompat ke tinggi ke depan melangkahi tubuh Nir.

            “TAP!” anak itu mendarat di tanah dan langsung mencabut pedang pertama di pundaknya.

            “Kau berniat membawaku atau ingin membunuhku?” tanya anak itu datar seraya berjongkok dan mengontrol energi Ghranz-nya.

            “Membawamu..” jawab Nir polos. Ia kembali berusaha menyerang anak itu.

            Nir mengayunkan pedangnya. Melihat tindakan Nir, anak itu berdiri dan mengayunkan pedangnya juga.

            “TRING!! TRANG TRING!!” terdengar suara pedang yang saling beradu. Kedua orang itu saling menyerang satu sama lain. Kecepatan mereka sama-sama unggul dalam menggunakan pedang. Tapi, tampaknya Nir tidak serius melawan anak itu.

            “TAP!” Nir melesat mundur dari jangkauan serangan anak itu.

            Anak itu tak berusaha menyerangnya saat melihat Nir menjauh menghindarinya. Ia lebih memilih berdiri tenang dan mengatur nafasnya serta mengontrol energi Ghranz-nya.

            Nir pun mengatur nafasnya sesaat.

            “Jadi, kau tetap tidak mau menemui yang mulia, ya?”

            “Bukan begitu. Aku hanya berusaha tidak terlibat dengan kerajaan ini..” terang anak itu. “Lagipula, pedang keduaku tidak tertarik..”

            Nir tidak mengerti dengan apa yang diucapkan anak itu. Terlebih lagi tentang pedang kedua yang dimaksudnya. Nir memang melihat anak itu memiliki dua pedang kembar. Tapi, yang dipakainya sekarang adalah pedang yang pertama, atau pedang yang ditaruh di pundak paling atas.

            “Terserah kau saja..” ucap Nir ketus. “Kami juga tidak akan mau memaksa orang yang benar-benar tidak mau..” lanjut Nir seraya menyarungkan pedangnya dan berbalik. Anak itu juga menyarungkan pedangnya.

            Nir berjalan mendekati ketujuh prajurit yang pingsan itu lalu berjongkok dan memeriksa keadaan mereka.

            “Kau membuat mereka pingsan selama ini..” ucap Nir saat menyadari ketujuh prajurit itu masih pingsan. “Setelah mereka sadar, aku akan pergi..”

            Anak itu hanya diam berdiri mendengar ucapan Nir. Ia sedikit penasaran dengan alasan raja Gravian menyuruhnya datang menemuinya. Tapi ia mengurungkan niatnya bertanya lebih jauh kepada Nir...

□□□

©2009 by Hikaru Xifos, The Protector Series

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments


return to top