Prelude : Origin of Zahra
not admin's choice

Prelude:
Awalnya hanya sebuah buku tanpa arti
Sebuah goresan dari seorang pemimpi
Tapi mengungkapkan sesuatu yang tadinya tersembunyi
Tentang keberadaan
Yang kini jadi dambaan
Semua orang yang ingin memilikinya.
Zahra
“ ...Dari sekian cahaya yang menjejakkan kakinya di bumi, ada yang bernama Zahra.
Namanya bagaikan permata seperti juga matanya yang dalam seperti Beril yang tertetes dari mata sang ibu dari segala ibu manusia.
Suaranya yang merdu namun
Lebih banyak diam dan berahasia
Tapi, jika kau pernah mendengarnya
Seakan-akan embun menetes dari surga kepadamu
Jika malam menjelang,
Sebelum para tukang tenung menyebarkan jaring-jaringnya
Sebelum kegelapan menutupi dunia dengan sempurna
Yang tercinta, Zahra, akan kembali kelangit melantunkan do’a-do’a
Sebagai bintang yang paling terang diatas sana.
.................
Tetapi ingat, wahai manusia
Jangan sekali-kali engkau menyakitinya
Jika tidak ingin mati sengsara
Karena jika sampai kau menyakitinya,
Seribu burung api hitam dari neraka
Akan datang padamu dan
Memusnahkan segalanya
.................
Beri salamku pada yang tercinta
Jika nanti kita kan bersua
Saat pengadilan terakhir....”
********
Kantor koran lokal, dalam gedung tingkat 5 pukul 21.30.
Tidak ada satupun yang kumengerti isi dalam buku harian usang ini... Buku ini tertanggal hampir 30 tahun yang lalu, benar-benar sudah tua. Aku mendapatkannya oleh seorang narasumber waktu kasus bunuh diri para gadis muda yang marak akhir-akhir ini... semua korbannya meloncat dari gedung tinggi dan anehnya darah yang muncrat dari punggung mereka melebar bagai membentuk sebuah sayap raksasa. Butuh waktu lama untuk membersihkan darah itu, orang-orang menonton dengan antusias walaupun garis polisi sudah dibentangkan. Mayat itu menjadi sasaran empuk para wartawan dan menjadi gambar eksklusif di halaman depan koran, yah, koranku juga tanpa terkecuali, karena liputanku waktu itu.
Meski aku merasa kasihan, tapi ekspresi gadis itu tampak sangat damai, wajahnya benar-benar polos. Apakah mereka itu memang sudah siap untuk bunuh diri? benar-benar aneh! di kota metropolitan yang katanya modern ini para orang tua kolot masih saja berteriak lantang bahwa siapa pun yang bunuh diri akan masuk neraka dan wajahnya akan hitam dan jelek... sebenarnya kekhawatiran mereka ada benarnya sih, takutnya kasus ini menjadi inspirasi anak-anak muda untuk melakukan hal yang sama... Ahhh! dunia ini memang sudah jadi gila!
Aku menutup buku harian usang berkulit tebal itu dan melemparkannya ke meja. Kucoba meregangkan tangan dan kaki setelah seharian ini menulis artikel membosankan tentang moral dan anarkhis yang sedang terjadi akhir-akhir ini, benar-benar memuakkan! negeri ini hanya berisi orang-orang tua bodoh rakus uang dan anak-anak muda berandal saja! Aku letakkan kakiku di atas meja, rasanya nikmat sekali, coba rokokku belum habis, tapi bosku akan segera berkacak pinggang dan melempar majalah ke mukaku kalau aku lakukan itu, pikirku geli.
Aku menatap buku harian itu lagi... ada yang menggangguku, tentang keberadaan wanita benama Zahra itu... benarkah dia hanya imajinasi penulis ataukah benar-benar ada? menurut penafsiranku wanita ini digambarkan sebagai sosok malaikat kalau aku tidak salah... malaikat... darah berbentuk sayap... dan buku harian ini... apakah ini hanya sebuah kebetulan? apakah ini semua ada hubungannya?
Malam semakin larut, jam menunjukkan pukul 23.45 dan kota besar itu belum menunjukkan tanda-tanda akan beristirahat.
Bersambung...
Comments
-
@ITA Makasih! ditunggu aja
Submitted by nemuchan on 19 May, 2011 - 22:23.










































Post new comment