Pagi itu amat cerah sekali, hamparan luas sawah di depan rumah reyot kita
memperindah pagi itu. Aku dan keempat temanku, Jaya, Naufal, Nicho, dan Budi telah bangun dan
mempersiapkan segalanya untuk kembali melawan penjajah Indonesia, Belanda
jahanam itu. Desa kami, para pejuang Indonesia dibakar habis dan seluruh
teman-teman kami dibantai oleh mereka. Hanya kami berlima sajalah yang masih
bertahan hidup dan melarikan diri
ke tengah hutan ini untuk berlindung. Sungguh keparat mereka semua itu.
Tidak berapa lama kami telah selesai menyiapkan segalanya. Barang-barang
yang kami masukkan ke tas kami hanyalah bom dan sebotol minuman.
Masing-masing dari kami membawa sebuah senapan otomatis, sedangkan Jaya juga
membawa pistol yang diselipkan di pinggangnya, dialah pemimpin serangan ini.
Pada penyerangan kali ini kami akan membalas dendam atas kehancuran desa
kami dan juga atas pembantaian teman-teman kami. Rencananya kami akan menyerang
pos belanda yang berada di Surabaya. Pos itu akan kami bom. Selain itu kami
juga akan mencuri persenjataan di sebelah pos Belanda itu, gudang senjata. Pada penyerangan kali ini
kami membagi kelompok kami menjadi 2 kelompok. aku dengan Jaya, sedangkan Budi,
Nicho, dan Naufal
bertiga.
Aku dan Jaya akan memasang bom di pos Belanda. Sedangkan Nicho, Naufal, dan Budi telah bersiap di
Gudang senjata. Saat bom yang aku dan Jaya pasang meledak pastinya suara itu
akan terdengar hingga gudang senjata. Jika mengetahui ada ledakan, penjaga Gudang senjata
pasti akan pergi ke pos untuk mencari tahu apa yang terjadi. Saat itulah Budi, Nicho, dan Naufal bergerak
masuk ke dalam Gudang senjata dan mengambil senjata sebisa mungkin yang dapat mereka bawa. Sedangkan
aku dan Jaya telah berlari meninggalkan pos dan menyusul Nicho, Budi, dan Naufal.
Dengan bersenjatakan senapan otomatis dan berlindungkan baju usang yang
melekat pada badan, kami berangkat. Langkah kelima pahlawan itu begitu pasti
tidak ada yang membuat mereka gentar. Kepercayaan diri mereka melebihi
kepercayaan diri seribu pasukan belanda yang bersenjata lengkap. Di dalam diri
mereka hanya ada sebuah tujuan yang akan mereka wujudkan bersama, yakni
mengusir penjajah dari Indonesia.
Di tengah perjalanan menuju pos Belanda, kami bertemu dengan pasukan Belanda
yang sedang berpatroli di hutan-hutan. Tidak salah lagi yang mereka cari
pastilah kami, sisa pejuang dari desa pejuang Indonesia. Telah banyak di tiap
sudut kota terpapang foto kami dan bertuliskan : DICARI HIDUP ATAU MATI. BAGI
YANG MENEMUKAN AKAN DIBERI IMBALAN OLEH PEMERINTAH BELANDA. Dan sekarang mereka
sendirilah yang telah menemukan kami.
Akhirnya perangpun berkecamuk antara kami melawan sekelompok pasukan Belanda. Persenjatan
mereka lebih lengkap daripada kami. Namun semangat kami tidak pernah pudar. Kami letakkan tas kami dan melakukan serangan jarak dekat. “ Ayo kita
Serang…!!!" " MERDEKA ATAU MATI...!!!"
Dengan gesit Nicho
menyambarkan pisaunya memenggal kepala prajurit satu-persatu. Nicho memang
orang yang gesit dan serangannya selalu tepat di leher tidak pernah meleset
sedikitpun. Lemparan-lemparan pisau yang dilakukannya selalu mengenai bagian
vital, sehingga harapan musuh untuk hidup sungguh menipis.
Naufal dengan gesitnya
berlari menuju seorang prajurit, diapun merunduk dan mengambil pedang prajurit
itu, dengan lincah dia menusukkan pedang itu hingga menembus perut si prajurit.
Cara Naufal memainkan pedang sudah dapat dikatakan ahli, dengan sekali sabetan dua
prajurit terkapar mati ditangannya. Dengan gerakan yang begitu santai dia tetap
menyerang prajurit-prajurit yang lain.
Aku menggunakan jurus-jurus silat yang
diajarkan oleh Almarhum, kakekku. Tinjuan dan tendanganku bagaikan petir yang menyambar-nyambar ke
segala arah, tanpa kusadari banyak pasukan belanda yang telah kugempur. Namun
tetap saja namanya juga pemula, aku masih belum bisa mengontrol tenaga dalam
dengan benar, sehingga banyak prajurit yang telah kugempur dan jatuh ke tanah,
kembali lagi berdiri dan melakukan balasan. Tidak jarang pula aku mendapatkan
serangan dari pedang prajurit belanda.
Sedangkan Jaya tidak langsung
menyerang, dia memotong sebatang bambu yang berada di sekitarnya. Setelah itu
bagian ujungnya yang bolong dia masuki pisaunya dan diikat dengan tali rafia.
Akhirnya dia telah membuat tombak bambu yang bermata tombakkan pisaunya. Dengan
begini dia mampu menghindari kemungkinan terkena sabetan dari pedang para
prajurit belanda.
Benarkan kepercayaan diri
dan ketangguhan kami melebihi mereka!. Mereka semua terkapar mati bersimbah
darah ditangan kami semua. Jaya mengambil pistol yang terselip di pinggangnya.
Dengan waktu tidak sampai satu detik dia menembak ke arahku. Saat itu yang ada
di benakku hanyalah kebingungan, Apa benar Jaya akan membunuhku….???, Mengapa
dia melakukan itu….???, Apa dia memiliki dendam kesumat denganku….???
Post new comment