Padang Hijau Atap Merah

Pratama Wirya
Fantasy
3
264 kali
0 kali

not admin's choice

Cerita ini akan kukirim ke Fantasy Fiesta 2011. Setting cerita ini di dunia Vandaria.

===============

[b]PADANG HIJAU ATAP MERAH[/b]

 

 

Seorang pemuda berlari di atas sebuah padang hijau luas. Kaki-kakinya menggesek dan menghempaskan rumput-rumput; helai-helai rambut coklat pendeknya menari-nari tersisir angin. Sesekali, si pemuda berhenti untuk membetulkan sepatunya, dan membebaskan dirinya sejenak dari beban tas di punggungnya. Setelahnya, ia mulai bergerak lagi; pertama-tama berjalan, lalu perlahan-lahan semakin cepat hingga menjadi berlari.

 

Si pemuda berhenti berlari, lalu mengusap peluhnya dan mengumpulkan napas. Ia memandang ke suatu arah sambil tersenyum lebar. Kemudian ia berlari lagi dengan sisa-sisa tenaganya menuju arah itu, di mana terdapat sebuah rumah batu.

 

“Permisi!” ucap si pemuda berambut coklat sambil mengetuk pintu rumah itu. Ia menengadah, melihat ke atap rumah itu yang kemerahan. Kemudian ia mengetuk lagi, lebih keras dan lebih bersemangat. Ia menunggu beberapa detik, dan kemudian mengetuk dan mengucapkan “Permisi!” lagi. Untuk terakhir kalinya, si pemuda mengetuk; kali ini ia mengucapkan “Ada orang di rumah?” dengan lantang. Ia berhenti bernafas sejenak setelah mendengar suara langkah-langkah kaki dari dalam rumah. Sebuah tangan pucat dan keriput membuka pintu dengan cepat, disusul oleh munculnya sebuah wajah pria.

 

“Siapa? Mau apa kau?!” tanya si pemilik wajah.

 

Si pemuda terdiam dan tidak langsung menjawab; ia memandangi wajah pucat, keriput, dan bengis itu dengan tegang. Kemudian ia meneguk ludah dan menyahut, “Nama saya Gael. Gael Grifon, dari Desa Elan yang tidak jauh dari sini.”

 

“Katakan apa urusanmu di sini!” bentak si pria.

 

Si pemuda bernama Gael sekali lagi terdiam. Dengan takjub, ia memandang wajah keriput di depannya, yang derajat pucat kulitnya mencapai taraf tidak manusiawi. Masih dengan takjub, ia menggeser pandangannya ke dua bola mata berbeda warna di wajah itu: yang kanan berwarna merah, dan yang kiri berwarna ungu.

 

“Hei, katakan sesuatu!” bentak lagi si pemilik wajah pucat-keriput-bengis.

 

Gael tersentak dari ketakjubannya, lalu segera menyahut, “Maaf, maaf! Saya ke sini untuk... belajar ilmu sihir! Saya ingin menjadi penyihir!”

 

Si pria keriput memicingkan matanya. “Apa urusannya dengan aku?” tanyanya.

 

“Yaa... saya dengar, Tuan seorang penyihir,” jawab Gael.

 

“Saya penyihir yang bekerja sendiri. Sejak dulu begitu,” kata si pria.

 

“Sa... saya ingin menjadi murid Tuan,” ucap Gael cepat.

 

Keheningan muncul untuk beberapa saat; Gael memandang si pria dengan tegang, dan si pria memandangnya dengan ekspresi marah bercampur jijik. Lalu si pria berujar, “Saya mau kamu pulang ke desamu.”

 

Gael ingin menyahut, tetapi pintu di depannya ditutup dengan cepat dan kasar. Gael mengetuk-ngetuk pintu itu dengan gugup dan panik, dan memanggil-manggil si pemilik rumah. Hingga beberapa lama setelahnya, usahanya tidak membuahkan hasil. Kemudian ia mendatangi sisi-sisi lain dari rumah beratap kemerahan itu. Ia menemukan sebuah pintu lagi, yang langsung diketuknya; pun tiada hasil.

 

Gael duduk bersila di atas tanah berumput di depan pintu. Ia memandang pintu itu dengan tatapan gemas bercampur kesal. Ia kemudian memutuskan untuk beristirahat di dekat pintu itu. “Pokoknya aku harus bisa menjadi penyihir,” ucapnya.

 

Matahari di atas Gael menuju tempat pembaringannya, dan cahayanya menghilang perlahan-lahan. Gael bangkit berdiri, lalu memutuskan untuk mencari batang-batang kayu untuk api unggun. Ia meninggalkan tasnya di dekat pintu rumah si pria keriput, lalu pergi menuju sekumpulan pohon yang tidak jauh. Beberapa waktu kemudian, Gael kembali sambil membawa beberapa batang ranting pohon. Ia berjongkok, hendak menyalakan api, ketika pintu di sampingnya membuka.

 

Si pria berwajah keriput-pucat-bengis melangkah keluar, mengenakan sebuah pakaian tebal dan mantel keunguan. Ia menoleh dan melihat Gael; ekspresi wajahnya menjadi semakin bengis. “Aku sudah suruh kamu pulang,” ucap si pria ketus.

 

“Maafkan saya, Tuan,” ucap Gael.

 

Si pria mendengus. “Aku harus mencari kayu. Kau tetap diam di situ.”

 

“Kayu, Tuan? Saya punya kayu. Tuan bisa pakai.”

 

Si pria memandang wajah Gael sejenak. “Mengapa aku perlu memakai kayumu?” tanyanya.

 

Gael langsung berdiri, mendekati si pria dan menyodorkan batang-batang rantingnya. Ia berkata, “Pakai saja, Tuan! Kalau Tuan perlu lebih banyak, akan saya carikan!”

 

Si pria keriput menerima pemberian Gael dengan ragu. Ia memandangi wajah Gael lekat-lekat, dengan ekspresi curiga dan bertanya-tanya.

 

“Dan kalau Tuan memerlukan hal-hal lainnya, katakan saja ke saya, akan saya carikan!” ujar Gael dengan wajah berseri-seri.

 

“Kamu pasti bermaksud menjadi muridku,” kata si pria. “Pulanglah ke rumahmu. Aku bisa membantu diriku sendiri.”

 

“Saya hanya ingin membantu Tuan Penyihir!” ucap Gael. “Jika Tuan Penyihir tidak ingin menjadikan saya murid, ya... pokoknya saya ingin membantu! Izinkan saya tinggal bersama Tuan sebagai pembantu!”

 

Si pria keriput mulai merasa gerah dengan kengototan Gael. Ia melangkah memasuki rumahnya sambil membawa ranting-ranting pemberian si pemuda berambut coklat. Ia hendak menutup pintu, tetapi Gael berhasil mendahuluinya dan masuk dengan cepat. Akhirnya ia membiarkan saja Gael berada di dalam rumahnya.

 

“Rumah Tuan bagus,” ucap Gael sambil mengamati bagian dalam rumah dengan mata berbinar-binar. Si pria keriput tidak menghiraukannya. Gael meletakkan tasnya di satu sudut ruangan, lalu berjalan mengekori si pria. Si pria meletakkan ranting-ranting pohon di atas sebuah meja kayu.

 

“Boleh saya tahu nama Tuan?” tanya Gael.

 

Si pria keriput masih tidak menghiraukan. Ia mengambil beberapa ranting, meletakkannya di sebuah perapian. Si pria meletakkan telapak tangannya di atas ranting-ranting itu, lalu berkomat-kamit mengucapkan suatu mantra. Ranting-ranting itu perlahan-lahan memerah, lalu berasap, dan lalu terbakar.

 

Gael mengamati apa yang dilakukan si pria dengan takjub. “Sihir, Tuan! Hebat, Tuan!” ucapnya.

 

“Pergi sana kamu,” ujar si pria ketus.

 

Gael menurut. Ia mencoba menjaga jaraknya dengan si pria berwajah keriput, agar tidak membuatnya kesal. Hari kemudian bergulir hingga menjadi benar-benar gelap. Si pria keriput duduk di dekat perapian, sambil membaca sebuah buku besar. Gael duduk di pojokan, memandang kegiatan pria yang ingin ia jadikan guru itu.

 

“Tuan asalnya dari mana? Tuan bukan asli sekitar sini, kan?” tanya Gael tiba-tiba, memecah keheningan di dalam rumah.

 

Si pria keriput tidak menyahut. Ia mengambil sebuah lembaran kulit hewan dari meja di sampingnya.

 

“Nama Tuan siapa?” tanya Gael lagi.

 

Yang ditanya masih tidak menggubris, walau ekspresi wajahnya tampak mengeras.

 

Gael menutup mulutnya beberapa saat, lalu bertanya sekali lagi, “Tuan sedang membaca apa?”

 

Plak! Si pria keriput menutup buku besarnya dengan kesal. Ia memandang wajah Gael lekat-lekat sambil menggeram. “Aku berasal dari suatu tempat di Tanah Utama Vandaria ini. Dan namaku Aedon,” ujarnya.

 

Gael bangkit berdiri, lalu bertanya lagi dengan lebih ceria, “Dari daerah mana di Tanah Utama Vandaria, Tuan? Apakah dari suatu tempat di Negeri Nirvana ini?”

 

“Cari hal lain untuk ditanyakan,” jawab Aedon ketus.

 

Gael mendekati Aedon, membuat pria pucat-keriput itu semakin merasa sebal. “Tuan Aedon sedang membaca buku sihir?” tanya Gael.

 

“Ini buku sihir,” sahut Aedon. “Dan mantra-mantra di buku ini akan kuterapkan pada dirimu kalau kau terus menggangguku.”

 

Gael meringis, lalu menjauhkan jaraknya dari Aedon. Aedon menghembuskan napas panjang. Ia berkata, “Besok akan kuajari kau ilmu sihir. Sekarang kau diam dan tenang. Dan tidur!”

 

Gael tersenyum girang dan mengangguk-angguk. Ia menghampiri tas punggungnya, dan mengeluarkan dua lembar kain tebal. Ia menggunakan selembar kain untuk alas tidur, dan selembar lainnya untuk selimut. Gael kemudian tidur bergelung tidak jauh dari perapian. Aedon memandangi si pemuda dan menggeleng-geleng.

 

Esoknya, Gael menghabiskan harinya dengan membantu Aedon. Sang guru membiarkan saja Gael mengurusi keperluan rumah tangganya. Gael bekerja dengan semangat, sambil terus berharap sang guru memberikan pelajaran sihir pertamanya. Hingga berhari-hari kemudian, Aedon belum menepati janjinya untuk mengajari Gael. Gael terus saja bekerja tanpa mengeluh walau demikian.

 

Lima hari setelah kedatangannya di rumah Aedon, Gael menggerakkan sapu untuk membersihkan lantai. Aedon duduk di depan meja sambil membaca sebuah buku. Si penyihir keriput menoleh pada Gael dan menatap wajahnya; Gael menatap balik dengan tatapan penuh harap.

 

“Taruh sapu itu. Ke sini kamu,” ucap Aedon sambil menutup bukunya.

 

Gael segera menuruti perintah gurunya dengan sangat girang. Aedon memandang lekat-lekat wajah Gael, lalu menyodorkan sebuah buku padanya. “Kamu baca ini,” ucapnya.

 

Gael menerima buku itu dengan senang, dan lalu membuka-buka halaman-halamannya. “Bagaimana cara membacanya?” tanyanya kemudian dengan bingung.

 

“Baca mantra-mantranya dengan baik,” jawab Aedon acuh tak acuh.

 

Gael pergi ke satu sudut ruangan, mencoba mencerna bahasa buku itu yang sangat asing baginya. Aedon meliriknya; wajah Gael berekspresi serius. Aedon kemudian menjadi sebal, dan berkata, “Sini aku ajari kamu!”

 

Gael menerima pelajaran membaca mantra-mantra sihir dari Aedon, selama beberapa jam. Gael menjadi sangat senang karena bisa memahami isi buku sihirnya. Hingga malam hari, ia terus membaca-baca bukunya sambil mondar-mandir di dalam rumah Aedon. Aedon merasa sangat sebal melihat semangat dan keceriaan Gael.

 

Esoknya, Aedon berkata pada Gael, “Sekarang, aku akan berikan tugas selanjutnya. Kamu sudah bisa membaca buku-buku sihirku. Jika kamu ingin benar-benar bisa menyihir, maka kamu memerlukan kekuatan sihir. Pengetahuan sihir itu penting, dan begitu pula kekuatan sihir.”

 

“Bagaimana saya bisa mendapat kekuatan itu?” tanya Gael.

 

Aedon tersenyum, lalu melanjutkan, “Aku seorang [i]frameless[/i], sehingga aku memiliki energi magis alami di dalam diriku. Kamu seorang manusia; kamu perlu memanfaatkan kekuatan sihir dari luar dirimu. Buatlah alat bantu untuk menyihir. Buatlah sebatang tongkat sihir.”

 

“Bagaimana caranya?” tanya Gael.

 

“Tentunya kamu memerlukan sebatang tongkat,” jawab Aedon. “Lalu kamu harus memasukkan kekuatan sihir ke dalam tongkat itu. Jadi, carilah kekuatan sihir. Kamu bisa mencarinya dari berbagai sumber di dunia ini. Salah satu yang populer adalah....”

 

“Adalah...?” ucap Gael tidak sabar.

 

“Adalah naga,” kata Aedon. “Kau cari seekor naga. Kekuatan magis yang besar terkandung di dalam diri seekor naga. Cocok untuk keperluan membuat tongkat sihir.”

 

Gael terhenyak dan melotot. “Seekor naga? Bagaimana saya bisa? Sepertinya sulit sekali,” ujarnya.

 

“Berurusan dengan seekor naga tergolong sukar,” sahut Aedon sambil menyeringai. “Harus kau lakukan kalau kau memang sangat ingin menjadi penyihir. Ayo, secepatnya kamu pergi. Keluar dari sini, dan temukan seekor naga!”

 

Aedon mendorong Gael keluar dari rumahnya. Gael mencoba bertanya lebih jauh mengenai masalah naga dan kekuatan sihir, tetapi gurunya terlanjur menguncinya di luar. “Oh, ya sudahlah. Pertama-tama aku harus menemukan seekor naga dulu,” gumam Gael.

 

Gael berkacak pinggang dan melihat-lihat ke langit yang cerah. Ia kemudian teringat mengenai keberadaan seekor naga, yang dikenal para penduduk desanya secara turun-temurun. Ia bergegas menuju tempat tinggal sang naga, yang terletak di sebuah bukit. Beberapa jam berjalan, Gael dapat melihat bentuk dari bukit itu.

 

Dengan tegang, Gael mendekati bukit di depannya dengan perlahan-lahan. Di sebuah gua di bukit itu, ia menemukan seekor naga besar sedang berbaring. Naga bertubuh kehijauan itu menoleh, menyadari kehadiran Gael.

 

“Tuan Naga... selamat pagi...,” sapa Gael sambil tersenyum-senyum konyol.

 

Si naga kehijauan memandang Gael dengan tatapan heran. “Siapa kamu?” tanya si naga, dengan suara yang mendirikan bulu kuduk si pemuda.

 

Gael meneguk ludah, lalu menjawab, “Sa... saya Gael Grifon, dari Desa Elan.”

 

Sang naga memandangi Gael sesaat, lalu melengos. Gael merasa tegang, dan juga sedikit bingung karena sang naga tidak mengacuhkannya. Ia mencoba melakukan beberapa langkah lagi mendekati sang naga. Sang naga mengeluarkan suara geraman rendah, seolah-olah Gael membuatnya merasa tidak nyaman.

 

“Tuan Naga...?” panggil Gael lagi.

 

“Apa maumu, Manusia?” tanya si naga tanpa menoleh.

 

“Anu... apakah Tuan Naga punya kekuatan magis?”

 

“Apa pedulimu?”

 

Gael meneguk ludah; ia merasakan sekujur tubuhnya gemetar. “Siapa nama Tuan Naga?” tanyanya lagi.

 

Si naga tertawa kecil. “Setelah menanyakan kekuatanku, kau menanyakan namaku. Kau punya prioritas yang lucu dalam mencari tahu, Manusia,” ujar sang naga. Ia menoleh pada Gael, dan memandangnya dengan dingin dan menusuk.

 

Gael membelalak menatap sang naga. Mulutnya membuka dan menutup beberapa kali tanpa mengucapkan kata apapun, seolah sedang mengigau. Kemudian ia bertanya, “Apa Tuan... hendak memakanku, sekarang?”

 

“Tidak. Aku tidak makan daging,” jawab sang naga.

 

“Oh? Aneh sekali, Tuan Naga. Aneh. Sejak kapan, Tuan Naga?”

 

“Sejak kau bertanya.”

 

Gael berhenti berkata-kata, dan kembali memandang sang naga sambil membuka-tutup mulutnya. Sang naga merasa bahwa Gael berbeda dengan manusia-manusia yang pernah ditemuinya. Ia memutuskan untuk secepatnya menuntaskan percakapan dengan Gael, sebelum si pemuda melontarkan pertanyaan-pertanyaan aneh lagi. “Apa urusanmu dengan kekuatan magisku? Jelaskan,” ucapnya.

 

“Saya... ingin membuat tongkat sihir,” jelas Gael.

 

“Dan apa hubungannya dengan kekuatan magisku? Seandainya aku memang memilikinya.”

 

“Guru saya... mengatakan bahwa kekuatan magis naga... bisa untuk membuat tongkat sihir....”

 

Sang naga memicingkan matanya. “Siapa gurumu? Dan dia menyuruhmu melakukan apa untuk mendapatkan kekuatanku?”

 

“Guru saya... seorang [i]frameless[/i]. Dia tidak menjelaskan... secara mendetail,” sahut Gael.

 

Sang naga terdiam selama beberapa saat. Ia kemudian bangkit berdiri di atas empat kakinya. “Akan kubantu kau. Tapi berjanjilah untuk pergi dari sini setelahnya,” ujar sang naga.

 

Gael mengangguk-angguk cepat, masih gemetaran dan membelalak tegang. Sang naga berjalan untuk mengambil sebatang dahan pohon. Ia kemudian memasuki guanya, dan tidak muncul hingga beberapa saat kemudian. Sang naga keluar dari gua dan menyerahkan dahan itu pada Gael.

 

“Kayu ini sudah berkekuatan magis. Anggaplah ini tongkat sihirmu,” ucap sang naga.

 

“Terima kasih, Tuan Naga,” ucap Gael sambil menerima tongkat dari dahan pohon itu.

 

“Sekarang, enyah!” bentak sang naga.

 

Gael mengangguk-angguk penuh rasa terima kasih, lalu membalik badan dan segera meninggalkan gua sang naga. Ia ingin secepatnya tiba di rumah Aedon untuk menunjukkan tongkatnya. Si penyihir pucat-keriput terheran-heran melihat Gael berhasil menjalankan tugasnya. Ia merampas tongkat dahan pohon itu dari tangan Gael, lalu mencobanya sendiri. Ia membelalak takjub melihat tongkat itu sungguh-sungguh berkekuatan magis.

 

“Bagus sekali, Gael Grifon. Kau sungguh-sungguh mampu memenuhi kewajibanmu sebagai calon penyihir. Bagus sekali. Apa yang kau lakukan sehingga....” Aedon berhenti berkata setelah mengendus bau aneh dari tongkat di tangannya. Ia menjauhkan hidungnya dari tongkat itu karena baunya membuatnya jijik. Ujarnya kemudian, “Ini... aku tahu apa yang dilakukan naga itu pada tongkat ini. Cerdik. Bagaimana kau menemukannya?”

 

“Kebetulan, ada seekor naga yang tinggal di daerah ini, dan dikenal di desa saya,” jawab Gael.

 

“Kebetulan yang sangat bagus, Nak. Sangat beruntung. Di mana si naga berdiam?”

 

Gael hendak menjawab, tetapi ia terdiam setelah melihat kilatan aneh di mata gurunya. Si penyihir menunggu jawaban muridnya dengan senyuman lebar. Kemudian Gael memutuskan untuk mengungkapkan tempat tinggal sang naga. Aedon menepuk-nepuk bahu Gael setelahnya. “Kau coba-coba sendiri mantra-mantra yang sudah kau baca,” perintahnya sambil mengembalikan tongkat milik Gael.

 

Gael mengangguk pelan. Ia berjalan menuju rak buku-buku sihir gurunya, lalu mulai membaca-baca. Ia menghabiskan waktunya untuk berlatih merapal mantra sihir. Ketika hari menjadi gelap, ia berhenti dan tertidur kelelahan.

 

Esok paginya, ia terbangun mendadak seolah-olah dikejutkan sesuatu. Ia mengamati sekelilingnya; kondisi di dalam rumah Aedon sunyi dan tenang. Setelah kesadarannya kembali secara penuh, Gael mencoba berlatih sihir lagi menggunakan tongkatnya. Ia kebingungan karena mantra-mantra yang dirapalnya tidak bekerja sama sekali.

 

“Kenapa ini? Tongkat ini tidak berfungsi lagi?” gumam Gael sambil mengamati tongkat sihirnya. Ia bermaksud menanyakannya pada Aedon, tetapi gurunya itu tak ditemukannya. Gael mencari-cari di sekitar rumah Aedon; batang hidung si penyihir masih tidak terlihat.

 

“Guru pergi ke mana...?” ucap Gael cemas. Ia menjadi sadar bahwa sang guru tidak berada di rumah sejak kemarin; ia tidak langsung menyadarinya karena asyik berlatih. Gael kemudian memutuskan untuk mencari Aedon di sepanjang padang luas di sekitar rumahnya. Hingga beberapa lama kemudian, Gael tidak berhasil menemukan si penyihir.

 

“Mungkin aku perlu mencari di tempat sang naga,” ucap Gael. Ia bergegas pergi ke gua sang naga sambil membawa tongkatnya. Di sana, ia menemukan sang naga kehijauan yang sedang berbaring seperti sebelumnya; hanya saja, kali ini sang naga tampak lebih santai.

 

Sang naga menoleh pada Gael. “Halo, Gael Grifon,” sapa sang naga dengan ramah.

 

Gael bertanya dengan ragu, “Tuan Naga melihat guru saya?”

 

“Si [i]frameless[/i] penyihir? Tidak, aku tidak melihatnya,” jawab sang naga. “Memangnya ada apa? Dia menghilang?”

 

Gael mengangguk pelan. Sang naga mengamati kegelisahan yang terpancar jelas dari si pemuda. “Apa yang hendak kau lakukan, seandainya gurumu itu benar-benar menghilang?” tanyanya kemudian.

 

“Saya... jika guru saya menghilang....” Gael mencoba memberi jawaban yang jelas, tetapi ia merasa tidak sanggup. Ia tiba-tiba merasakan suatu kengerian; ia merasa sangat tidak rela jika ditinggalkan oleh Aedon. Ia merasa sangat ingin menjadi penyihir, dan sekarang perasaan itu menimbulkan tekanan hebat di hatinya.

 

Si naga tertawa kecil, lalu berkata, “Kalau kau memang ingin menjadi seorang penyihir, maka belajarlah terus, dan jangan terpaku pada gurumu. Sini, biar aku bantu kamu. Kemarikan tongkat itu.”

 

Gael menyerahkan tongkatnya sambil berujar, “Tongkat ini tidak bisa digunakan untuk menyihir lagi.”

 

“Aku tahu,” sang naga mengangguk. “Kemarin itu aku hanya memberikan kekuatan untuk sementara. Sekarang biar aku perbaiki tongkat ini.”

 

Sang naga melubangi ujung tongkat milik Gael. Ia kemudian mengambil suatu benda dari dalam guanya, dan memasukkannya ke dalam lubang di tongkat. Ia memungut segenggam tanah dan helai-helai rumput, lalu menempelkannya di tongkat untuk menutupi lubangnya. Sang naga kemudian menyemburkan napas apinya, untuk membakar dan mengeraskan lapisan penutup lubang itu.

 

“Nah, sekarang kekuatan tongkat ini telah permanen,” ucap sang naga sambil mengembalikan tongkat milik Gael. Gael mencoba merapal mantra sihir sambil memegang tongkat itu, dan berhasil.

 

“Kekuatannya tidak akan hilang lagi? Terima kasih banyak, Tuan Naga!” ucap Gael dengan girang.

 

“Kau teruslah belajar ilmu sihir, tidak usah menunggu-nunggu gurumu. Kau memiliki buku-bukunya, kan? Dan sekarang kau punya tongkat yang bisa diandalkan,” kata sang naga.

 

“Terima kasih! Saya akan belajar dengan giat!” ucap Gael. Ia kemudian meninggalkan gua sang naga dan kembali ke rumah beratap merah milik Aedon; tidak lagi ia merasa sedih dengan menghilangnya sang guru. Sang naga memandangi kepergian Gael dengan tatapan penuh makna.   

 

Setelah Gael tidak tampak lagi, sang naga berkata di dalam hatinya, “Pemuda itu begitu gigih dan bersemangat untuk menjadi penyihir. Sekarang dia memiliki segala yang diperlukan untuk mewujudkan impiannya itu. Bermula sebagai pemuda desa yang tidak tahu apa-apa, kemudian menjadi murid dari seorang... [i]frameless [/i]yang culas. Mencoba membunuh seekor naga yang tidak mengancam, demi mengekstrak kekuatan magisnya? Keparat. Memang bedebah seperti itu harus dimakan dan dikunyah, tidak bisa lain.”

 

Sang naga melirik ke dalam guanya, ke sebuah mantel keunguan yang tergeletak; tulang-belulang berserakan di sekitar mantel lusuh dan tercabik-cabik itu. Sang naga menggumam lagi di dalam hatinya, “Entah apa yang dirasakan pemuda itu, kalau ia mengetahui aku menanam jantung gurunya, di ujung tongkatnya. Hmm, semoga ia tidak akan pernah mengetahuinya. Pada pokoknya, sekarang ia sudah bisa menjadi sosok yang diidam-idamkannya. Memang, kegigihan manusia adalah sihir yang sesungguhnya, yang mampu menggerakkan tangan-tangan takdir dan mengabulkan keinginan apapun.”

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments


return to top