Thu17Mar2011
NEW HOPE
New Hope
“Hei...........!, apa yang sedang kau lakukan disitu..”, aku berteriak sekencangnya kearah seorang perempuan yang sepertinya sedang bersiap melompat kelepas pantai
“Jangan mendekat..., kumohon jangan melangkah lagi..”, jawabnya
“Apa yang akan kau lakukan..?”, aku bertanya padanya “Bukan urusanmu pokoknya jangan mendekat atau aku akan......”, ia tidak melanjutkan lagi kata – katanya
“Kau akan apa.., meloncat kelaut.....”, sambungku
“Terjun kedalam laut lepas.....”, aku kembali menambahkan sambil melangkah mendekati tepian dermaga memandang jauh kearah laut lepas, lalu perlahan duduk ditepinya sambil terus tetap menatap kearah laut lepas,
“Laut itu tenang yah.., indah dan damai.., aku juga ingin selalu berada disana.....”, kataku
“Apa maksudmu..?”, kini ia balik bertanya
“Yach..., asik bukan kalau kita bisa menjadi bagian dari ketenangan dan kedamaian itu....., tanpa ada lagi yang mengusik, tanpa ada yang menggangu dan lagi tanpa memikirkan apa – apa.., tak ada lagi kesusahan, sakit dan penderitaan..., benar bukan..?”, aku menjelaskan
“Tapi apakah kau tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini......?”, ia berkata dengan setengah berteriak
“Dan jangan berharap kamu bisa menahanku...!”, ia berkata lagi
“Jadi kau sudah yakin akan masuk kedalamnya....?”, ia tak menjawabnya hanya saja tatapan matanya terus mengarah kearah laut lepas, diiringi tetesan air mata yang perlahan membasahi kedua matanya
“Kalau kau memang sudah berniat begitu baiklah..., kebetulan sekali aku juga ingin sekali kesana, setidaknya aku tidak kesepian dan kamu pun tidak akan pergi sendiri...” lalu aku pun perlahan berdiri dan mendekati pinggiran dermaga
“Apa maksudmu..?”, ia bertanya lagi
“Yach aku pun pernah punya keinginan yang sama sepertimu...”, aku berhenti berkata sebentar dan perlahan bergeser mendekatinya
“Ingin pergi kesana selamanya, meninggalkan semuanya yang paling menyedihkan, ingin bebas, ingin meraih semua kedamaian dan tak ingin lagi melihat dan juga merasakan kesedihan....”, aku sejenak berhenti
“Kenapa kau tidak melakukannya....?”, ia tiba – tiba bertanya
“Kenapa...?, apa kau sendiri tahu kenapa kau ingin bertindak seperti ini....., tapi baiklah akan kujawab.., karena seperti yang kubilang tadi, tak ada yang menemaniku..”, kataku
“Apa....”, ia tampaknya cukup terkejut dengan perkataanku
“Tapi tidak juga sebenarnya..., aku hanya tidak tega.....”, lalu aku kembali diam menunggu reaksi darinya
“Kenapa harus tidak tega...?,” akhirnya ia balik bertanya
“Ya aku tidak tega..., meninggalkan harapan orang yang sangat menyayangiku dan semua harapan orang yang aku sayangi..., terlebih aku tidak sanggup memupus harapanku sendiri, kamu sendiri pun punya harapan bukan...?”, aku balik bertanya
“Aku............., apa lagi yang bisa kuharapkan sekarang..?”, jawabnya datar sambil terisak
“Benarkah...., kalau gitu untuk apa kamu ada disini..?”, balasku
“Kamu pasti ingin mengakhiri semunya bukan dan itu juga dengan harapan, kamu bisa mendapat semua kedamaian itu.....”, aku menambahkan
“Kalaupun benar apa urusanmu...?”, ia bertanya lagi
“Memang bukan urusanku..., malah sebaliknya, ini sebuah kebetulan bukan kita bisa terjun bersama-sama...”, perlahan aku mulai mendekatinya hingga sekitar satu setengah meter dan aku kembali menatap kearah laut lepas
“Sekarang apa kau yakin ingin mewujudkan harapan itu sekarang.....?”, ia tak menjawab
“Kalau kamu tak menjawab berarti iya bukan......, tapi sekarang masalahnya kalau kamu ingin mewujudkan harapan kamu itu, kamu akan kehilangan harapanmu yang lain..., yang mungkin lebih baik dari sekarang dan membuat hatimu lebih bahagia.....”, kataku sambil melihat kearahnya
“Aku sudah tak punya siapa – siapa lagi..., apa yang harus aku pertahankan.....”, akhirnya ia berbicara lagi dengan nada yang sama
“Benarkah begitu, tapi entah kenapa aku tidak yakin..”, aku pun kembali diam dan ia masih tetap berada disana
“Tapi andaikan ada seseorang yang mau mengerti keadaanku.......”, katanya perlahan
“Mungkin kau pun akan bertindak demikian bila beraada diposisiku.....”, ia menambahkan
“Ya mungkin juga.., mungkin juga aku akan terjun kesana..., tapi kenyataannya tidak khan....”, jawabku sedangkan ia kembali diam tidak bergeming tak lama kemudian datang sebuah mobil yang cukup mewah dan langsung mendekat kearah kami, lalu
“Vina.....”, teriak seorang ibu yang masih terlihat bugar dan cantik walau sudah cukup berumur dan dari pakaiannya cukup memperlihatkan kelas kehidupannya
“Sudah Ma..., sudah jangan coba menahanku lagi aku sudah cukup menahan semua kesedihan dan sakit hati ini.., aku sudah tak sanggup lagi Ma...., sudah cukup semuanya....”, ia menjawab seruan orang itu yang ternyata adalah orang tuanya
“Vin please jangan sayang......”, iba mamanya dengan suara yang mulai bercampur isak tangis
“Kamu dengar itu...., apa kamu masih tega memupus harapan orang yang sangat menyayangi kamu..., atau apa kamu memang sudah tidak lagi menganggap mereka sebagai orang tuamu, orang – orang yang sangat mencintai dan menyayangi kamu..., kamu tidak sendiri, kamu masih memiliki mereka, setega itukah kamu ingin meninggalkan mereka..”, kataku dan kulihat ia semakin menundukkan kepalanya dan disertai tetesan air matanya
“Sekarang ayolah..., genggam tanganku dan kembalilah pada mereka, mereka yang masih menyayangi kamu, sekarang bukanlah waktunya untuk kamu, kumohon kembalilah..”, sambil aku menyodorkan tangan kananku
“Ayolah....”, aku coba menyakinkannya lagi, perlahan ia mulai berusaha menyakinkan dirinya entah terjun atau sebaliknya.
Dan akhirnya kulihat ia mulai menjulurkan tangannya untuk menggapaiku sambil memutar badannya secara perlahan – lahan, tapi
“Akh......”, tiba – tiba ia terpeleset karena kehilangan keseimbangan dan aku pun melompat berusaha menangkapnya,
‘Dapat..’, kataku dalam hati dan langsung menariknya keluar dari daerah berbahaya, tapi
“Ouch....”, gantian aku yang terpaksa terjatuh
Karena menjadi tumpuan berat untuk menarik tubuhnya, lenganku tebentur dinding pembatas dermaga, sedangkan ia sendiri hanya terjatuh terduduk dan tidak mengalami luka apa – apa, mungkin hanya sedikit kaget,
Mamanya langsung mendekatinya dan memapahnya memasuki mobil lalu seorang lelaki yang umurnya tak jauh dengan Mamanya dan dari penampilannya yang penuh dengan kewibawaan keluar dari mobil menghampiri kearahku
“Kamu ngga apa – apa nak..?”, tanyanya
“Ngga apa – apa Om..”, jawabku
“Bener.., ngga perlu kerumah sakit....?”, yakinnya
“Ngga om.., bener..., makasih”, sahutku lagi
“Lho seharusnya Om yang berterima kasih..., kamu sudah menyelamatkan Vina, saya sendiri ngga tau mau bilang apa dan mau ngasih apa kekamu..”, katanya lagi
“Ah ngga usah repot – repot kayak gitu Om, tadi juga saya kebetulan bisa narik lengan dia, saya cuma berusaha sebisa saya....”, sahutku
“Ya sudah..., lain kali kalau kamu ada waktu kamu kerumah yah....”, sambil ia menyodorkan kartu namanya
“Makasih Om...”, kataku sambil menerima kartu namanya
“Oh ya nama kamu siapa..?”, tanyanya “Ryo...”, jawabku singkat
“Baik Ryo.. saya tinggal dulu yach...”, kata orang itu sambil masuk kedalam mobil dan kemudian pergi meninggalkan dermaga itu.
“Hari yang aneh...”, sungutku ‘Pertama aku nggak tahu apa yang ingin aku lakukan ditempat ini, walaupun sepertinya aku berkeinginan sekali kesini semenjak tadi pagi dirumah, kedua bertemu dengan cewe yang mau bunuh diri menceburkan dirinya kelaut, dan sekarang lenganku masih terasa nyeri karena terjatuh sewaktu menolong dia, suatu kebetulan yang aneh...’, dan aku pun melangkah pulang kembali kerumah karena aku memang sudah cukup lelah hari ini.
Sesampainya dirumah aku langsung menjatuhkan diriku diatas tempat tidur, membayangkan semua yang terjadi hari ini,
‘Huh cukup melelahkan....’, sungutku dalam hati
“Ryo.....”, Mama memanggilku dari bawah
“Iya ma....”, sahutku
“Makan malam bareng yuk.....”, ajak mamaku, dengan langkah gontai aku keluar kamar dan turun kebawah
“Ryo kita makan diluar yuk...”, kali ini papa yang mengajakku dan kulihat mama sudah siap dengan tas kecilnya
“Kemana pa..?”, tanyaku
“Itu semua terserah kamu..., kita khan sudah jarang makan malam bersama diluar.”, jawab Papa
“Papa aja yang pilih yah..., Ryo lagi ngga punya ide apa – apa nich..”, sahutku
“Oke kalo gitu biar Mama aja yang milih....”, sahut Mamaku
“Oke setuju....”, Papa ku menyetujui
“Kamu sendiri gimana Ryo...”, Papa balik bertanya kepadaku dan aku hanya mengangguk lemah,
“Oke........, kalau sudah sepakat semua sekarang kita berangkat”, kami pun serentak keluar dari rumah dan memasuki mobil dan langsung berangkat ketempat yang telah dipilih Mama untuk makan malam hari ini.
Selepas makan malam kepalaku masih sedikit pening memikirkan kejadian hari ini.
’Aaaaah............siapa peduli........’, kataku dalam hati sambil melempar Shuriken yang sejak tadi aku mainkan dalam tanganku dan tepat menancap ditengah target Dart game yang tergantung didinding kamarku, lalu aku pun mematikan lampu dan mulai mencoba tidur dan semoga saja esok pagi aku sudah dapat lupakan semua kejadian hari ini.
“Hi..........!Yo...., wah...., ngga nyangka kita bisa sekelas lagi...”, Tiba – tiba dari belakang samping temanku Andri menepukku....,
“Iya terus kenapa...?”, tanggapku agak jutek
“Duh koq lu jadi kayak gini sich......., belajar jutsu (jurus) aneh apa lagi lu bisa kayak gini Yo....”, dia balik bertanya
“Ngga....., gue belum belajar jurus baru..... cuma kemaren gue abis makan orang satu....., tapi perut gue masih laper pengen nambah, lu mau jadi korban berikutnya...”, jawabku sekenanya
“Jangan donk Yo... gue khan blom merried...., tapi gue bersyukur banget bisa sekelas lagi sama lu....”, jawabnya
“Iya biar lu bisa trus nyontek sama gue khan....”, balasku dan dia cuma nyengir kuda.
“Ya sama temen jangan pelit – pelit donk Yo.., ”, kali ini aku tak menanggapinya hanya sekarang aku sedang mencari tempat yang cocok dikelas yang akan aku tempati selama satu tahun terakhirku di sekolah ini.
Setelah menemukan tempat yang cocok aku langsung meletakkan tasku diatas meja dan memeriksa tempatku yang baru
“Jadi lu duduk disini Yo......., gue disebelah lu aja yach...”, Andri bertanya padaku
“Terserah lu dech... asal jangan lu duduk dibawah aja..., ntar gue dikira bawa peliharaan kesekolah...”, jawabku
“Wah.., akhirnya dah balik kembali Ryo temen gue yang dulu..”, katanya setengah berteriak
“Ya..., udah – udah ngga enak diliatin anak – anak kelas satu...., khan gue juga yang malu...”, aku menyudahinya karena memang hari itu juga hari pertama masuk dan apel Senin pagi yang pertama pula.
Apel pagi pun berjalan seperti biasanya ngga ada satupun yang spesial hari ini hingga saat aku berjalan kembali kekelas
“Eh....!, Dri cewe yang itu anak baru yach...?”, aku bertanya pada Andri sambil menujuk kearah seorang cewe yang cukup manis sedang berjalan menuju kelas kami
“Yang mana Yo...?”, Andri balik bertanya
“Itu yang itu.....”, aku memperjelasnya
“Oh......itu si Vina kenapa Yo...?”, Katanya sambil balik bertanya
“Darimana lu tau namanya....?”, tanyaku sedikit heran
“Duh Yo – yo..., makanya lu jangan kebanyakan bertapa, masa Vina aja lu bisa ngga kenal....”, katanya
“Suer gue ngga tau..”, jawabku polos
“Dia itu khan dari kelas satu ada disini.....”, jelasnya
“Trus....?”, tanyaku masih penasaran
“Ya sekarang dia sekelas sama kita, puas lu, sekarang mo nanya apa lagi”, tambahnya lagi
“Ngga gue cuma mo tau aja.....”, jawabku datar
“Eh tapi tumben deh lu nanya soal cewe....?, ada peristiwa besar apa yang gue lewatin sampe lu nanya soal cewe....”, tanyanya dengan nada heran
“Je emangnya gue ngga boleh nanya cewe...”, jawabku sedikit kesel
“Ya ngga gue cuma kaget aja..., ya udah masuk yuck....”, ajaknya, lalu kami pun memasuki ruang kelas dan ternyata dia duduk pas didepanku.
Ketika aku akan melewatinya aku bertanya dalam hati ‘Kira – kira dia masih inget ngga yach peristiwa kemarin siang...’, tapi sejak aku masuk kedalam kelas hingga aku hampir melewatinya ia hanya menunduk menatap kearah meja dengan tatapan mata yang seakan kosong..,
‘Entah apa memang ia masih ingat peristiwa yang kemarin....’, aku memastikan dalam hati. Tapi jujur saja aku masih belum mengerti keadaannya yang sebenarnya... ‘Mungkin nanti aku bisa tahu lebih banyak dari dia, secara langsung bila perlu....’, kataku dalam hati
“Eh Yo........, ngeliatin siapa sich lu dari tadi...?”, tiba – tiba sikutan Andri mengagetkanku
“Eh ngga......”, jawabku singkat
“Lu ngeliatin Vina yach.....”, tanyanya lagi
“Ah mo tau aja lu.....”, belaku
“Dah ngaku aja...., lu tu udah ketangkep basah, dari pada muncul berita yang engga – ngga mending jujur aja...”, sidiknya lagi
“Kalo iya kenapa sich....., ngga boleh....?”, aku balik bertanya
“Ngga papa juga sich...., lagian wajar kok k’lo lo sampe merhatiin dia, dia emang manis n k’lo lu bisa dapetin dia...., gue rela lahir batin Yo.....”, katanya lagi
“Maksud lu apa Dri...?”, gantian aku yang engga ngerti arah pembicaraannya
“Gue dulu sempet naksir dia...., tapi dia dah punya pacar..... jadi ngga kesampean dech...., tapi sekarang gue denger dia jomblo lagi......, k’lo lu mungkin bisa menarik hati dia, seperti yang gue bilang tadi gue rela, tapi k’lo orang lain belom tentu gue mo terima, so selamat berjuang sobatku...., I’ll support u....”, katanya lagi
“Ok dech thanks atas supportnya..”, aku menambahkan “Good luck...”, ia mengakhiri pembicaraan, tapi yang menjadi pikiranku sekarang
‘Apa yang terjadi sama pacarnya yang dulu, sampe akhirnya mereka putus, apa ya kira – kira masalahnya...’, aku bertanya dalam hati
‘Ah..., nanti saja kupikirkan...’, dan aku kembali memperhatikan pelajaran. Sepulang sekolah aku ingin sekali menghampirinya dan menanyakan keadaannya setelah kejadian didermaga kemarin siang, tapi ternyata aku belum bisa karena banyak anak – anak baru yang ingin bertanya lebih lanjut tentang klub yang sekarang ini aku pimpin, yach mereka memang tampak sangat antusias untuk bisa masuk klub kami, setelah semuanya selesai
“Eh Dri k’lo gue main kerumahnya Vina kira – kira ok ngga yach...?”, aku bertanya
“Ye... kok ngomongnya ke gue, emang gue bokapnya, lu k’lo emang niat, dateng aja ngapain nanya ke gue....”, jawabnya
“Gue cuma mo minta sedikit saran lu aja...”, balasku
“Iya gue maklum sama lu yang emang baru kali ini mo ngedeketin cewe lagi..”, jawabnya
“Trus asiknya gimana donk Dri....?” tanyaku lagi
“Ya udah lu dateng aja sendiri...., tapi saran gue lu jangan macem – macem dech.....?”, katanya
“Macem – macem gimana Dri...?”, tanyaku masih belum nyambung
“Ya gaya lu jangan terlalu macem – macem dech..., kayaknya sich dia ngga begitu suka sama cowo model gitu..., ya lu tau dech..., eh iya lu sendiri tau alamatnya..?”, dia balik bertanya
“Tau...”, aku jawab polos
“Hah....! tau dari mana lu.....?!”, tanyanya tidak percaya
“Ada denk mo tau aja lu....”, jawabku “Ya udah gue pulang yach....”, kataku lagi
“Ok..., sukses yach..”, katanya sambil melambaikan tangan kearahku. Dan kami pun pulang kerumah masing – masing.
Waktu sudah menunjukkan jam 18.45, ’Duuuh, jadi ngga yach.....’, tanyaku dalam hati, yah sedari siang aku bingung jadi ngga kerumah Vina, padahal untuk kerumah dia tidak terlalu sulit karena kebetulan aku sedikit hapal daerah itu dan letaknya tidak begitu jauh.
“Ya sudahlah kalau memang sudah harus terjadi lagi paling tidak aku bisa memperbaikinya...”, lalu aku dengan yakin bejalan keluar kamar dan langsung menuju bawah
“Ma..Pa Ryo pergi dulu yach....”, pamitku pada kedua orang tuaku yang sedang asik bersenda gurau diruang tengah sambil nonton televisi
“Mau kemana kamu Yo...?”, Papaku bertanya
“Kerumah temen Pa....”, jawabku singkat
“Tumben kerumah temen koq rapih banget Yo....”, sindir Mama
“Mama mulai dech....”, balasku
“Ya...., udah tapi pulangnya jangan teralalu malam yach...”,
“Beres Pa.....”, jawabku, dan aku langsung keluar, menaiki motorku langsung menuju kerumah Vina. Memang tidak sulit menemukan rumahnya, setelah menekan bel dan masuk kedalam rumahnya Papanya langsung menyambutku didepan pintu rumahnya
“Maaf om Vinanya ada...?”, aku langsung kepokok permasalahan
“Anu kamu siapa yach...?”, Papanya bertanya
“Saya Ryo om yang...”,
“Oh....., kamu yang didermaga itu yach....”, belom lagi aku melanjutkan penjelasanku ia akhirnya sudah bisa mengingatku
“Vinanya ada diteras belakang.., ayo masuk....., atau kamu mau langsung ketemu Vina...?”, dan aku hanya bisa mengangguk kecil
“Ya sudah....., kamu ndak perlu saya antar khan...?”,
“Makasih om....”, balasku dan aku langsung menuju tempat yang telah ditunjukkannya
“Hai.....”, aku langsung menyapanya ketika sudah berada disampingnya yang sedang terduduk sendiri dibangku
“Hai....”, ia menjawab lemah dan hanya menoleh kearahku sebentar
“Aku kesini cuma mau minta maaf....”, aku mencoba memecah keheningan
“Maaf untuk hal apa....?”, ia balik bertanya dengan nada yang sama
“Waktu kemarin didermaga itu....., aku tidak bermaksud melukai kamu....”, jelasku
“Aku sudah melupakan hari itu....”, jawabnya masih dengan nada datar
“Tapi benar kamu tidak terluka sedikit pun.....?,” aku ingin lebih memastikan lagi dan ia hanya menggeleng pelan
“Syukurlah kalau begitu..., boleh aku duduk disini.....?”, lagi – lagi ia hanya mengangguk kecil
“Kamu biasa duduk disini seperti ini..?”, aku mencoba sedikit mencairkan suasana tapi tetap ia hanya mengangguk kecil dan hanya menatap hampa
“Apa kamu tidak mempunyai teman..?, pacar barangkali...?”, aku bertanya lagi, sesaat suasana kembali hening lalu aku menoleh kearah wajahnya
“Mmm..maaf kalau aku telah menyinggungmu..., aku nggak bermaksud begitu sungguh..”, aku melihat beberapa tetes air mata membasahi wajahnya yang cantik itu dan sekarang aku hampir tak tahu harus berbuat apa lagi
“Bukan......, itu bukan salahmu..., aku ngga apa – apa, aku yang salah...., kamu ngga perlu jadi seperti itu....”, akhirnya ia bicara dalam sedikit isaknya
“Tapi biar bagaimana pun juga...”,
“Sudahlah...., lupakan saja.., aku tidak apa – apa...”, tiba – tiba ia memotong ucapanku
“Baiklah kalau begitu..., aku pulang dulu yach...., sudah malam dan maaf bila aku telah mengganggu malammu... aku pulang dulu....”, aku mencoba untuk pamit padanya, tapi ia kembali hanya memandang kedepan
“Sudah dulu yach.....”, sambil aku membalikkan badanku
“Terima kasih kamu sudah mau datang...”, katanya sebelum seluruh badanku membelakanginya dan aku melihat sedikit senyuman dibibirnya dan aku membalasnya, lalu aku menuju ruang utama, pamit dengan kedua orang tuanya dan kembali kerumah. Setibanya dirumah Papa dan Mama sempat bertanya kepadaku beberapa hal tentang apa yang aku lakukan malam ini dan aku menjawabnya seperlunya saja, aku pun langsung menuju kamar, aku masih belum megerti apa yang terjadi pada Vina, juga senyuman terakhirnya itu, sebelum aku meninggalkannya, apa itu benar – benar senyuman atau hanya untuk menutupi kesedihannya agar aku tidak terlalu merasa bersalah,
‘Ah sudahlah khan masih ada hari esok untuk memperbaiki semuanya, dan aku akan mencoba melakukan yang terbaik...’, aku mencoba menghibur diriku sendiri.
“Pagi Ma.. Pa.....!”, sapaku sambil sedikit berlari menuruni tangga, dan ketika ssudah tepat berada didepan meja makan aku langsung menarik bangku dan duduk
“Kenapa kok malah pada diem nich..., apa ada yang aneh...?”, tanyaku pada kedua orang tuaku
“Ngga...., cuma ya syukurlah anak Papa sudah kembali seperti biasanya.....”, sahut Papaku
“Yach jadi ngga ada lagi yang perlu dikhawatirkan...”, tambah Mamaku
“Mama.., Papa ngomongin apa sich...”, aku balik bertanya
“Ah sudahlah.... kita lanjutkan saja sarapannya...”, Papaku menengahi dan kami pun melanjutkan ritual sarapan pagi harian ini
“Ma.., Pa... Ryo duluan yach...”, aku pamit ketika sarapanku dan jus jeruk yang berada dihadapanku sudah tak tersisa lagi
“Buru – buru sekali kamu Yo....., ngga makan buahnya dulu...?”, tawar Mamaku
“Nanti siang aja Ma...”, sahutku sambil mencium tangannya lalu aku beralih ke Papa dan melakukan hal yang sama
“Hati – hati yach...”, pesan Papaku ketika aku mulai membalikkan badanku
“Beres Pa....!”, sahutku dan aku pun langsung keluar dan menaiki motor kesayanganku, tiba disekolah, disana keadaan sudah cukup ramai dan aku langsung menuju kelasku, keadaaan disana juga tak jauh berbeda dan disana hanya ada beberapa teman sekelasku yang baru, aku lalu menaruh tasku dan duduk dibangkunya, tapi ketika kulihat ditempat Vina
‘Ha.....! ternyata dia sudah datang.’, aku berteriak dalam hati tapi kira – kira berada dimana dia sekarang, aku lalu keluar dan mencoba menemukannya dengan melihat kesekelilingku, belum lagi sempat mencari lebih lama tiba – tiba Andri sudah berada didepanku
“Eh tumben lu pagi – pagi dah nyampe.., ada perlu apa lu dateng pagi – pagi gini...?”, Andri langsung menyerangku
“Iseng aja...”, sahutku singkat
“Kenapa ngga boleh..”, tambahku lagi
“Ngga aneh aja..”, sahutnya lalu Vina tiba – tiba melewati kami
“Eh hai.., met pagi..”, aku mencoba menyapanya
“Pagi...”, ia membalasnya dengan suara pelan sambil berlalu dari hadapan kami dengan wajah setengah menunduk
“Oh jadi ini alasannya..”, kata Andri “Jelas dech..., sukurlah temanku ini sudah menemukan kembali cintanya yang hilang..”, Andri menambahkan
“Apa lu bilang barusan...”, kataku
“Lho ngga papa khan Yo...”, sahutnya
“Tapi khan lu ngga perlu ngomong sekenceng itu.., kalo kenyataan gue gagal gimana..”, dan belum lagi aku melanjutkan perkataanku bel masuk sudah berbunyi dan kami pun langsung menuju bangku masing – masing
“Tenang dech Yo, gue dukung lu lahir batin”, katanya sambil menuju bangku kami
“What ever lah..”, sahutku dan kami pun duduk dan memulai pelajaran hari itu, entah kenapa hari ini aku bisa mengikuti pelajaran dengan semangat seperti waktu pertama kali masuk kesekolah ini hingga akhirnya bel pulang berbunyi dan aku langsung menghampiri Vina yang sudah berdiri didepan pintu gerbang sekolah
“Vin kita pulang bareng yuk...”, ajakku
“Ngga usah nanti aku merepotkan kamu.. ”, jawabnya
“Ngga kok..., ngga papa.., aku ngga merasa sedikit pun direpotkan”, yakinku
“Please jangan terlalu memperhatikanku yach...”, sahutnya lagi
“Lho memangnya kenapa..., apa aku salah...”, jawabku
“Tidak aku cuma ngga mau....”, tapi ia tidak melanjutkan perkataannya
“Tapi kenapa..?”, aku mencoba bertanya tapi ia langsung berlari meninggalkanku sambil menundukkan kepalanya
“Vina awas...!”, seorang penjaga sekolah berteriak kearahnya dan ia terkejut sambil menoleh, ternyata ada sebuah mobil carry yang berjalan cukup cepat menuju kearahnya,
setelah menarik napas tanpa pikir panjang aku langsung melompat dan mendorongnya, aku berhasil mendorongnya kesebrang tapi kemudian aku mendengarnya berteriak lalu sebuah benda besar menghatamku dan semuanya berlangsung begitu cepat tiba – tiba aku merasakan tubuhku seringan kapas, lalu aku melihat didepanku
“Nindy kenapa kamu ada disini..?”, aku bertanya pada sosok didepanku
“Huh dasar masih saja bodoh seperti kemarin..”, sahutnya
“Seharusnya aku yang bertanya begitu..., tapi well kali ini kamu berhasil Ryo...., kamu berhasil menyelamatkan orang yang kamu sayangi..”, tambahnya
“Jadi ini.....”, sahutku
“Ya benar Ryo..., tapi sekarang bukan waktumu..., kembalilah temani dia dan sayangi dia seperti dulu kamu menyayangiku ....”, katanya lagi
“Baiklah..., tapi Ndy makasih yach, makasih untuk semuanya”, kataku sambil mengangguk lalu seberkas sinar memancar dan menarik tubuh ringanku, lalu aku merasakan tangan halus menggenggam tanganku ‘Siapa kira – kira ya..’, tanyaku dalam hati lalu perlahan aku membuka mataku
“Ryo...”, katanya lemah dan lalu memelukku..”,
“Vina...”, kataku pelan
“Kenapa kamu sampai melakukan ini...”, tanyanya setelah melepaskan pelukkannya
“Karena aku ngga bisa ngebohongin diriku sendiri kalau aku sayang kamu sejak pertama kali bertemu kamu didermaga..., lalu kamu sendiri kenapa berada disini..?”, aku balik bertanya
“Karena aku ngga mau lagi kehilangan orang yang aku sayangi...”, jawabnya sambil terisak, aku cukup terkejut dengan perkataannya
“Aku ngga mau lagi...”, katanya lagi
“Vin...”, kataku dan ia memandang kearahku menunggu perkataanku selanjutnya
“Kamu mau menerima aku menjadi pacar kamu....?”, pintaku
“Ya....., tetapi dengan satu syarat..., please jangan pernah melakukan hal itu lagi..”, jawabnya
“Aku ngga bisa janjikan hal itu...”, balasku dan dari raut mukanya tampak sedikit kekecewaan
“Tapi aku janji aku akan kembali dengan selamat...., karena aku ngga mau menghapus harapan orang yang aku sayangi”, tambahku dan perlahan raut mukanya mulai berubah
“Makasih Yo....., makasih..”, katanya
“Tapi kamu juga harus janji padaku....”, kataku dan ia kembali menunggu perkataanku selanjutnya
“Kamu mau khan berjanji untuk tidak memupus harapan kamu sendiri dan juga harapan orang lain yang ada disekitarmu...”, dan ia hanya mengangguk dan aku lega sekali mengetahuhinya
“Dan satu lagi.... jangan pernah bersedih atau menangis, karena aku paling ngga tahan melihat cewe cantik seperti kamu menangis..”,
“Aku janji Ryo.., aku janji...”, katanya sambil tersenyum kearahku, ia lalu merebahkan kepalanya didadaku dan aku pun bisa merasakan hangat kasih sayangnya, aku sendiri hampir tidak percaya aku bisa jadian ditempat sepeti ini diruang ICU dalam keadaan seperti ini
‘Terima kasih Tuhan...., tanpa kehendak dan pertolongan darimu ini semua ngga akan pernah terjadi...” doaku dalam hati. Secercah harapan baru kembali tumbuh diantara kami berdua dan aku berjanji akan mempertahankannya dengan nyawaku sekalipun
Comments
-

I relaly needed to find this
Submitted by Gwenelda (not verified) on 21 July, 2011 - 00:24.I relaly needed to find this info, thank God!
-
klo ada
Submitted by kiky2hikaru on 30 March, 2011 - 20:18.klo ada kemauan..pasti bisa tercapai koq klo mw berusaha...^^
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
coba berlatih aja dulu
Submitted by kiky2hikaru on 19 March, 2011 - 17:43.coba berlatih aja dulu...
bisa koq kamu kirimin gambar ke aku di fb...razy_qu@yahoo.comntar ku bantu
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
wew
Submitted by kiky2hikaru on 17 March, 2011 - 13:35.wew...agak kebanyakan nih ....
klo bisa dibuat graphic novel aja...KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
panjang juga rada lama
Submitted by administrator on 17 March, 2011 - 09:06.panjang juga
rada lama bacanya. bagus!we come in peace -
new hope...
Submitted by oshita on 17 March, 2011 - 00:02.silahkan komentnya......
tnggu seri slanjutnya









































Post new comment