Meeting Marmerida
not admin's choice
Hahaha! Setelah beberapa hari tidak mendapatkan ide buat cerita, akhirnya gw mendapatkan ide kembali!! Percaya gak percaya! gw mendapatkan nama Marmerida dari Marimar! Dan gw mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada marimar! Sekarang gw mulai ngelantur gak jelas! Mari kita lanjutkan saja ke cerita 12!!
Perjalanan hari pertama... Dan seorang gadis kecil seperti aku harus mengikuti perjalanan sangat jauh bersama dengan nabi Erastmus. Ku akui, aku sudah cukup berpengalaman untuk berjalan jauh sendiri dan meninggalkan teman-temanku di belakang. Tetapi baru pertama kali aku berjalan jauh bersama-sama dengan nabi Erastmus, apalagi aku berjalan bersama orang yang baru kukenal beberapa saat saja. Aku mulai heran, dia seorang nabi tetapi kenapa aku belum melihat pengikut-pengikutnya? Apa jangan-jangan dia tidak mempunyai pengikut. Hah... apa boleh buat? Pikiran-pikiran yang tak terduga tersebut selalu datang mengingat bahwa kami hampir tidak mengobrol sama sekali di dalam perjalanan kami. Bukannya aku tidak mau berbicara dengannya, tetapi wajahnya yang serius itu membuatku terpaksa untuk diam dan membiarkan banyak pikiran yang tak terduga masuk ke dalam benakku.
"Sebentar lagi kita akan berjumpa dengan pengikut-pengikut dewa yang lainnya.", katanya tiba-tiba.
Wow! Bagaimana dia tahu bahwa aku sedang memikirkan hal itu. Coba kutebak dewa di dalam dirinya kah yang memberitahunya? "Hey, apa dewa itu berbicara kepadamu mengenai sesuatu?"
"Saat ini sih tidak...". Lalu dia berbalik bertanya kepadaku, "Kenapa Walto? Apakah ada dewa yang berbicara kepadamu?"
Kalau dia bermaksud akulah dewa tersebut, memang iya~ "Ah! Tidak, aku hanya ingin bertanya saja!".Berarti yang tadi itu hanya kebetulan saja... Kebetulan saja...
Setelah berjalan beberapa lama menyusuri hutan-hutan, sampailah kita di depan sebuah gua yang gelap yang aku tidak yakin apa isinya. Dan dari samping tempat tujuan kita terdapat enam orang yang memiliki jubah yang sama dengan nabi Erastmus yang aku yakini sebagai pengikut-pengikut nabi Erastmus datang menghampiri kami.
"Maaf, kami sedikit terlambat! Karena para monster kadal tersebut mengganggu kami terus menerus!", sahut salah satu pengikut tersebut.
"Hey, siapa mahluk serigala bertubuh seperti manusia ini?", katanya sembari menunjukku.
"Oh, perkenalkan! Dia adalah Waltocoria Severnaya yang nantinya akan kita latih menjadi seorang nabi.". Lalu dia berpaling kepadaku, "Walto, dia adalah Banifasea Yaswarikh, dia adalah salah satu mahluk kura-kura jantan berbadan manusia."
"Senang bertemu denganmu, Walto! Panggil saja aku Nifa.", jawabnya. "Senang bertemu denganmu juga, Nifa!", sahutku.
"Hey, jangan lupakan kami yang ada disini!", teriak pengikut lainnya. Lalu mahluk berwajah kuda itu pun mendatangiku, "Namaku adalah Herodus Plasimer, panggil saja aku Rodus.".
Seorang dwarf pun datang menemuiku, "Kalau aku adalah Tohakku Zabelium, panggil aku Hakku".
Kemudian mahluk berwajah elang dan harimau pun datang, "Kenalkan aku Uqiela Provella! Panggil saja aku Kiel! Dan mahluk harimau disebelahku ini namanya, Iresa Oferco!"
"Senang berjumpa dengan kalian semua!", sahutku.
Tak lama kemudian, seorang kakek tua datang mendekatiku, "Salam kenal, Walto-chan! Perkenalkan namaku adalah Bikou Minahara. Ayah anda sudah banyak berjasa padaku. Jadi, saya loyal pada keluarga anda walaupun saya membenci Levathrone."
"Woaa! Anda mengenal ayah saya?", tanyaku penasaran.
"Yah, tetapi nanti saja kakek ceritakan!" "Baiklah!"
"Baiklah tidak usah mengulur-ulurkan waktu lagi, Erastmus! Segera pintu gerbang tersebut!", sahut salah satu pengikut lainnya.
Untuk sesaat aku bertanya-tanya apa maksudnya gerbang tersebut sebelum Erastmus memejamkan matanya dan mengangkat kedua tangannya. "Oh, dewa agung yang maha kasih! Dewa yang penyayang! Atas nama hamba-hambamu, kami mohon tolong bukakanlah gerbang menuju tempat sucimu! Izinkanlah kami untuk bisa berhadapan denganmu, dewa Marmerida! Dewa Es pelindung hutan ini."
Lalu muncul lah yang awalnya hanya setitik cahaya yang berubah menjadi terang benderang dari mulut gua tersebut. "Ayo, semuanya! Kita masuk melewati gerbang ini!"
Dengan bergegas kami semua masuk melalui mulut gua yang tadi gelap gulita tersebut. setelah memasuki mulut gua tersebut, kami melihat banyak awan melingkupi kami dan tempat ini sangat berbeda dengan tempat sebelumnya. Jika tempat sebelumnya terkesan muram dan remang-remang dihiasi dengan pepohonan tandus yang berisi kelelawar yang siap menyerang kami, ditempat ini hanya ada awan dan terang serta singgah sana yang terbuat dari es bersama dengan mahluk berwujud es yang wajahnya menyerupai serangga tetapi badannya mendekati manusia. Dan yang menambah poin plus bagi tempat ini adalah rasa dinginnya luar biasa dibanding tempat sebelumnya.
"Hormat pada dewa Marmerida!" perintah nabi Erastmus. Dan saat kami mendengar perkataanya, aku dan kelompokku langsung menunduk ke hadapannya.
"Angkat kembali kepala kalian!", sahut dewa Marmerida.
"Jadi ini yang namanya Waltocoria Severnaya? Aku adalah dewa penjaga hutan ini. Kau tahu kenapa kau dibawa ke sini?"
"Uhmm... aku tidak tahu...", jawabku polos.
Sesaat aku merasakan bahwa dewa Marmerida menatapku dengan senyum kasih sayang yang tidak bisa ditandingi oleh ibu manapun.
"Kemarilah, Walto dan semuanya! Akan ku ceritakan semuanya!", tambah dewa Marmerida."Aku mengutusmu ke sini untuk memberitahukanmu bahwa kami selaku dewa-dewa di dunia ini ingin mengetes mentalmu di dalam perjalanan ini.
Waktu kami mengadakan rapat dewa-dewa, sebagian besar dewa-dewa tersebut tidak percaya pada kemampuanmu karena kau berumur 10 tahun. Tapi kau tahu apa?", tanya Marmerida secara halus.
"Apa?", tanyaku penasaran.
"Kakek buyutmu, Anubis, langsung marah kepada dewa-dewa tersebut.", kemudian dewa Marmerida melihat keterkejutanku. "Dia bilang bahwa kemampuanmu tidak bisa diukur ecek-ecek karena umurmu, kakekmu mengatakan bahwa kita para dewa jangan menyalahpahami kemampuanmu karena dia yakin bahwa ada sesuatu di dalam dirimu yang akan bisa mengubah dunia ini."
"Kek... Tidak mungkin...", jawabku tidak percaya.
"Itulah kenyataannya, Walto! Kemudian setelah kakek buyutmu berteriak seperti itu, para dewa-dewa memutuskan mengetes mental apakah kau layak untuk dijadikan nabi. Jadi kemungkinan kau akan diperhadapkan dengan berbagai mahluk buas, lalu tidak ketinggalan Zeus dan dewa lainnya berusaha untuk ikut berpartisipasi dalam membuat masalah dihidupmu nanti, seperti hujan badai, halilintar, orang-orang yang tidak bersahabat, kesialan demi kesialan, dan bencana lainnya yang akan ditimpakan kepadamu." Mendengar hal itu, mau tak mau aku menelan ludah sekencang-kencangnya.
"Apa iya berlebihan seperti itu? Bagaimana caranya aku bisa menandingi banyak dewa begitu??", tanyaku ketakutan.
"Tetapi kau tidak usah khawatir... Sewaktu rapat sidang dewa sudah diputuskan, Anubis langsung menemuiku untuk minta tolong kepadaku untuk menjagamu. Aku sempat heran dia meminta tolong kepadaku untuk menjagaku, kemudian dia berkata bahwa dia masih belum bisa karena dia masih merasa bersalah kepadamu. Dan rasa bersalahnya itulah yang menghalanginya untuk berkomunikasi kepadamu."
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Entahlah... Aku tidak berhak menanyakan kehidupan pribadi orang lain. Lagipula, aku sangat menghargai keberaniannya saat dia (dewa kematian yang ditakuti bahkan oleh dewa-dewa lainnya) harus meminta tolong kepada dewa kecil sepertiku ini.", kata Marmerida merendahkan hati.
"Saat itu aku berjanji padanya untuk selalu menjagamu di saat ada marabahaya datang menghampirimu. Karena aku menyukai sifatnya yang penyayang dan berani itu, aku bersedia membantunya.", tambah dewa Marmerida tulus. Entah kenapa... aku langsung berlari mendekatinya dan memeluknya. Aku sudah tidak peduli lagi akan betapa dinginnya tubuhnya. Yang kurasakan hanyalah kehangatan hatinya.
"WALTO?? JANGAN BERULAH SEPERTI ITU!!!", teriak Kiel. "Kau tidak sopan!!" teriaknya lagi.
"Tenang, Kiel! Dia maha penyayang, dewa seperti itu akan senang diperlakukan seperti itu...", sahut Erastmus.
"Tidak apa-apa... Mulai sekarang, Walto... Aku dan kau akan berkomunikas melalui pikiran dan hatimu mengenai apa yang harus kau lakukan untuk menghadapi setiap goncangan yang akan kau terima di dalam perjalananmu. Dan jika ada yang berani menyakitimu-." lalu dewa Marmerida berpaling kepada Bikou, "bersediakah kau menjaganya, Bikou-chan?"
"Dengan senang hati, tuan!" jawab kakek Bikou sambil merunduk.
"Baguslah kalau begitu! Sekarang ini waktunya bagi kalian untuk melanjutkan perjalanan kalian. Jangan biarkan dewa-dewa tersebut mengalahkan Walto.". Lalu dewa Marmerida menambahkan kepadaku, "Karena jika kau kalah, jiwamu tidak akan sampai ke surga. Jiwamu akan dihilangkan dari dunia ini begitu saja. Maka dari itu, berhati-hatilah!"
Dan lagi-lagi aku menelan ludah, "Baiklah, dewa!". Singkat cerita, kami semua akhirnya keluar dari tempat suci kediaman dewa Marmerida. Kemudian aku bertanya kepada Bikou mengenai apa hubungannya dengan ayahku.
"Ayahmu setelah pergi dari tempat tinggalnya, ayahmu langsung membawa perubahan dimana-mana. Saat aku bertemu dengan dia, aku sempat menaruh benci padanya karena perbuatan kakekmu. Akan tetapi, ketika salah satu anggota kami terluka dia langsung bergegas menolong kami dan menyembuhkan luka-luka kami. Dan untukku, dia berhasil menyembuhkan adikku dan menyelamatkannya dari kematian. Bagiku nyawa adikku lebih penting dari nyawaku sendiri. Oleh karena itu, aku bersumpah aku akan melayani Averster beserta dengan keluarganya dan keturunannya, termasuk kau.". Kemudian dia menambahkan, "Dan aku bahagia bahwa kau mewarisi sifat ayahmu yang baik itu." sambil tersenyum.
"Terimakasih! kakek Bikou!". Lalu aku bertanya lagi, "Tapi Aku penasaran kalau dewa Marmerida memang ingin menjagaku, kenapa tidak langsung yang menjagaku?"
"Karena dilarang... Seorang dewa dilarang ikut campur secara langsung dalam membantu umat yang dicobai oleh dewa-dewa lainnya. Dewa-dewa yang ingin membantu hanya boleh membimbing mereka atau membantunya secara tidak langsung."
"Oooh! Begitu..." "Kalau tidak, kau akan kena kutukan!"
"Kutukan?"
"Iya! Kutukan! Kalau kau ketawan dibantu secara langsung oleh dewa-dewa pembantu seperti tadi, maka dewa pengujimu diperbolehkan untuk memberikan kutukan kepadamu sesuka hati!"
Oke, sudah berapa air terjun liur kutelan hari ini ya? "Jadi intinya aku harus berjuang, begitu kah?"
"Betul sekali, Walto...", jawab kakek Bikou.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan kami melalui gunung-gunung yang tinggi, sampai akhirnya nabi Erastmus memutuskan untuk mengistirahatkan kami semua di tengah-tengah hutan belantara. Sambil menyalakan api unggun, nabi Erastmus berpesan bahwa kita harus tidur cepat hari ini karena hari esok akan banyak tantangan yang kami hadapi. Dengan segera, pengikut lainnya berusaha tidur dengan cepat. Hanya saja, aku tak bisa tidur karena ada banyak hal yang masih ingin kupikirkan.
Comments
-

NCNS9s mcwqkicmeuhk
Submitted by paqbgyv (not verified) on 12 December, 2011 - 17:27.NCNS9s mcwqkicmeuhk
-

Very valid, pithy, suciccnt,
Submitted by Rosalinda (not verified) on 12 December, 2011 - 12:37.Very valid, pithy, suciccnt, and on point. WD.






































Post new comment