Masih Ada

JustVincent
Slice Of Life
5
395 kali
0 kali

not admin's choice

Maap kalo ada salah. Soalnya ini First time upload. Mohon dimaklumi. Masih Ada Aku berjalan melewati kelas demi kelas. Saat itu tidak ada siapa-siapa di sekolah karena hari sudah sore. Untuk mengusir rasa sepi, aku mengeluarkan iPod dan menyetel lagu Canon in D yang diremix oleh duo gitaris ternama. Memang lagu yang berirama semi-cepat memang cocok dengan suasana hatiku dan mengingatkan hari itu. Aku akan selalu mengingat hari itu. -time shift, Kemarin - Pagi ini aku masuk sekolah seperti biasa. Tidak ada kegiatan apapun di sekolah. Seperti biasa, aku membawa gitar, yang menemaniku dari rasa “dilupakan” oleh teman-temanku. Mengapa? Karena aku memang agak berbeda. Aku agak “susah” berkomunikasi dengan mereka karena sejak kecil, pita suaraku tidak berfungsi dengan baik. Singkat cerita, aku tunawicara. Teman-teman di kelas sering memanggilku dengan “The boy with a sketchbook” karena aku membawa sebuah sketchbook untuk berkomunikasi. Walaupun aku sering dijauhi teman-temanku, aku tetap sabar dan menerima hal ini. Hal ini juga kualami jika aku bertemu guru-guruku. Tidak sedikit guru yang menganggapku “Freak”. Walaupun begitu, aku masih tetap sabar. Hari ini sebenarnya ada tugas presentasi Ilmu Sosial, tetapi dengan keterbatasanku, guruku “berbaik hati” dengan memberiku nilai 7, padahal aku sudah mengemas materi dengan susah payah yang akan kupresentasikan melalui komputer. Tetapi aku tetap sabar mesti aku merasa jerih payahku tidak dianggap. Lalu pada saat beberapa orang mulai mempresentasikan materinya, seorang perempuan yang duduk di sebelah mejaku terlihat agak cemas. Karena penasaran aku merobek kertas dari sketchbook milikku, dan menulis “Ada apa?”. Akupun menyodorkan kertas itu padanya. Dia menulis dengan agak malu-malu. “Bahan materiku tertinggal di rumah, kemarin malam aku harus pergi menggantikan kakakku untuk menjaga adikku”,”pakai punyaku saja.” Aku membalas percakapan itu. Pada saat dia menerima kertas itu, dia melihatku dengan agak penasaran, lalu aku menunjukkan flashdisk kecil yang tergantung di kalung leherku. Matanya langsung berbinar dan dia mengangguk. Aku melepaskan kalungku dan memberikan padanya. “yah, setidaknya materiku bisa dipresentasikan,” aku berkata dalam hati. Ternyata setelah dipresentasikan, nilai yang diperoleh dia lumayan tinggi : 9,4. Walaupun aku diberi nilai 7, aku masih bisa berbangga karena materiku memang bagus, sekaligus aku membantu temanku. Dia mengembalikan flashdisk-ku dan mengucapkan terima kasih. Aku mengangguk dan menuliskan pada sketchbook-ku “Mulutku bisa diam melihat kecemasan orang lain, tapi hatiku tidak.” Dia hanya mengangguk saja, tetapi sekilas kulihat matanya berkaca-kaca. Setelah pelajaran ilmu sosial, tidak ada kegiatan belajar alias istirahat. Teman-teman yang lain menuju ke arah kantin, sementara aku tetap dikelas. Aku mengeluarkan gitarku dan mulai memainkan beberapa musik instrumental. Apakah mungkin aku memainkan musik pop tanpa nyanyian? Mungkin bisa, mungkin tidak. Beberapa saat aku asyik memainkan gitarku, tiba-tiba aku mendengar suara biola dari arah pintu kelas. Ternyata gadis yang tadi “kubantu”. Aku hanya tersenyum melihat dia memainkan saudara kecil dari gitar. Dia memainkan lagu klasik “Canon in D” aransemen Pachelbel. Lalu aku memainkan lagu yang sama, hanya diaransemen oleh duo gitar ternama. Setelah beberapa lama memainkan lagu tersebut, tanganku agak pegal dan sepertinya dia juga agak lupa bagian terakhir Canon in D. Kami duduk dan diam saja. “Siapa namamu? Walaupun sudah lebih dari 4 bulan, aku belum tahu namamu.” suara lembut itu memecah keheningan di kelas. Lalu aku agak heran, dan menunjuk diriku. “Ya iyalah, siapa lagi yang ada di kelas ini selain kita?” Betul juga perkataannya. Lalu aku mengambil sketchbook-ku dan menuliskan namaku “Hitoshi, salam kenal ya”,”Namaku Reika, salam kenal juga. Permainan gitarmu bagus, kamu sudah mendapat kelompok untuk pelajaran seni musik besok? Kalau belum, denganku saja.” Memang dengan perlakuan teman-temanku di kelas, aku bisa dikatakan antara ada dan tiada, aku mengangguk menyetujui pendapatnya. Singkat cerita, kami bertukaran nomor Handphone karena ingin menentukan musik apa yang ingin dimainkan besok. Hari sudah agak sore. Sekolah sudah selesai. Aku membereskan buku dan gitarku. Aku berjalan dengan cepat ke arah stasiun kereta, untuk pulang ke rumah. Tidak jauh dari depan gerbang sekolah, ada yang memanggilku. “Hitoshi-san! Jalanmu cepat sekali!”. Aku hanya tersenyum, lalu mengeluarkan note kecil yang kugunakan untuk berkomunikasi ringan. ”Secepat itukah?”,”iya. Kamu terbiasa jalan cepat ya?”, “iya, memang aku sering terbiasa jalan cepat karena aku tidak ingin diperhatikan orang”, “Ah, kamu jangan berpikiran seperti itu. Oya, rumahmu dimana, Hitoshi-san?”, “Di daerah Motobu.”, “Berarti kita satu jalan sampai ke stasiun kereta.” Singkat cerita, kami menghabiskan waktu perjalanan dengan bercerita tentang diri masing-masing. Sampai di stasiun, kami menunggu kereta kami masing-masing. Akhirnya kereta Reika datang lebih dulu, kuucapkan selamat tinggal dan dia menaiki kereta. Sebelum pintu kereta menutup, dia memberi isyarat untuk mengirim SMS. Aku hanya tersenyum dan mengangguk. -time shift, Hari ini- Aku bersiap-siap ke sekolah dengan biasa, kecuali sekarang aku membawa selembar Print-Out kertas yang berisi not dari lagu “Ode to Joy”. Kemarin malam Reika memberitahu bahwa lagi yang ingin dimainkannya adalah “Ode to Joy”, sebuah aransemen dari Beethoven yang menurutka cukup bagus dan cukup mudah untuk diubah ke arah musik yang “Easy Listen”. Ketika giliran kami untuk memainkan musik, kami bersiap untuk memainkan lagu aransemen Ludwig van Beethoven tersebut. Ketika sudah masuk ke arah pertengahan, Reika agak oleng dan tiba-tiba pingsan. Dengan segera, aku menggendong dia ke arah Ruang sakit sekolah (UKS). Sekitar satu setengah jam, dia tersadar. “Kamu tidak apa-apa, Reika-san?”, “Iya, sudah agak baik, walaupun kepalaku masih agak sakit dan.....”, “Kenapa?” Aku bertanya dengan nada penasaran. “Sebenarnya, sejak umur 14 tahun, aku divonis mengidap Penyakit Ménière.”, “Penyakit Ménière? Oh, aku tahu, berarti kamu seing mendapat migrain tiba-tiba. Kalau tidak salah, itu akan mempengaruhi pendengaran.”, “Iya, perlahan-lahan, pendengaranku akan hilang, dan....” Aku melihat dia mulai meneteskan air mata.” Dan mungkin aku tidak akan bisa bermain musik lagi.” Dia menjawab dengan tersedu-sedu. Aku menulis lagi.” Tidak semua indah, dan tidak semua buruk, Itu tergantung dari sisi mana yang kamu lihat, Reika-san”, “Dari mana kamu dapat kata-kata indah itu?”, “Dari semua yang telah kulalui. Karena aku tidak bisa bicara sejak kecil, aku mulai belajar apa yang harus kulakukan untuk bisa setidaknya berkomunikasi. Tapi tidak semuanya berjalan dengan baik. Yah, sekarang aku tidak terlalu bisa bergaul dengan yang lain. Walaupun begitu, aku tetap menerimanya.” Kulihat tiba-tiba wajahnya merona merah.” Reika-san? Kamu tidak apa-apa?”, “Tidak apa-apa, sebenarnya....” Kulihat dia menarik napas, “Sebenarnya setelah 2 hari aku mengenalmu, aku mulai merasa...” nada bicaranya agak tersendat-sendat.” Aku suka padamu, Hitoshi-san...” Dia tersenyum sementara aku hanya bisa diam, terkejut.” Hei, kok malah melamun?” dia memecah keterkejutanku, aku hanya garuk-garuk kepala dan mencoba menulis lagi, tetapi didalam hatiku aku berkata “ Ternyata masih ada yang mau berteman denganku, mungkin lebih dari teman....” End This story is purely fictional, Mohon maaf bila ada kesamaan cerita, tokoh, atau tempat. Terimakasih.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments


return to top