Im Paradise von Löwenzahn
PROLOG-
Sore hari di Jakarta berjalan dengan biasa. Pak Bill seorang tukang pos, menjalani sore harinya mengunjungi rumah terakhirnya untuk dikirimi pos. Posnya yang terakhir terasa ringan dan dengan penuh cinta di bawa olehnya mengingat itu adalah yang terakhir. Lalu ia pun sampai di rumah tujuan terakhirnya.
Ting tong
“POS~!” sahut Pak Bill sembari memencet bel rumah tersebut.
Rumah terakhir tersebut ialah rumah keluarga Satoya yang berlokasi di Jakarta Barat perumahan GreenHill blok M2 nomor tiga. Dan keluarga ini menurutnya tidak biasa.
“IYA~! Tunggu sebentar~!” sahut suara seorang wanita “Kakak~! Bisa tolong ambil pos nya? Ibu lagi sibuk masak”
“Hah~??” balas suara seorang anak cowok kira-kira berusia 17 tahun sedang menonton TV dengan santai.
“Aku saja” sahut suara yang lebih muda yaitu adiknya sembari berdiri dari tempat sebelumnya ia duduk disamping kakak cowoknya.
“Oh, thanks” balas sang kakak.
KREK
Suara pintu depan rumah keluarga Satoya terbuka.
“Ya?” itu kata-kata pertama sang adik saat menyapa Pak Bill.
“Anda lagi? Bukannya ada empat?” maksud Pak Bill ialah 3 saudaranya yang lain.
Keluarga ini terdiri dari 6 orang. Ayah mereka yang bekerja diluar kota, Ibu mereka yang sudah pasti sedang memasak makan malam dan keempat bersaudara Satoya yang 3 anak masih bersekolah dan 1 anak yang masih balita.
Pak Bill selalu heran kenapa yang selalu mengambil Pos ialah anak ke 2 dari 4 bersaudara yang sudah pasti sedang lenggang di sore hari seperti ini. Ia tahu bahwa anak ke empat masih balita.., tapi Pak Bill tidak pernah melihatnya, dan ia berharap salah satu anggota keluarga ini membawanya keluar sembari mengambil pos.
Pak Bill sangat penasaran dengan keempat anak keluarga Satoya karena mereka jarang keluar rumah dan Pak Bill hanya bisa mengunjungi rumah ini pada sore hari dikarenakan pekerjaannya.
Selain anak kedua keluarga ini, Ia belum pernah sekalipun menemui ataupun melihat ketiga anak yang lain karena keluarga ini baru pindah ke rumah ini setahun yang lalu. Dan bagaimana ia tidak penasaran, Keluarga Satoya ialah campuran jepang dan Prancis. Seingatnya kepala keluarganya berdarah kental Prancis dengan wajah pucat berambut merah dan bermata biru, sedangkan sang nyonya keturunan jepang berkulit seputih susu berambut hitam dengan mata berwarna hitam tipikal wanita asia timur.
Ia hanya pernah sekali melihat kepala keluarga Satoya yang pada saat itu sedang libur dan juga hanya sekali bertemu dan mengobrol dengan nyonya keluarga ini yaitu pada saat nyonya itu membersihkan rumah saat pindah ke rumah ini setahun yang lalu.
Dan seperti yang terlihat anak yang berada di depannya saat ini, kulitnya seputih salju yang didapat dari ibunya dan rambutnya yang merah kecoklatan dari ayahnya sangat mencolok.
Matahari sore yang berwarna orange semakin memperindah sosok anak remaja yang baru berusia 16 tahun ini, membuatnya terlihat bercahaya seperti malaikat. Pemandangan ini membuat Pak Bill tanpa sadar tersenyum lebar antara kagum dan lucu. Karena penampakan warna alam yang memukau dari anak ini sangat tidak sesuai dengan penampilannya yang ‘ajaib’.
“Ahaha”
“?”
Bagi Pak Bill menjadi tukang pos atau antar surat akan lebih menyenangkan jika bertemu dengan berbagai hal dan orang yang menarik. Dan saat ini yang paling menarik baginya ialah keluarga Satoya. Suatu saat ia berharap dapat bertemu dengan seluruh anggota keluarga ini.
“Hahahaha besok pasti Bapak datang lagi! Hahahaha”
Memang tidak sopan tertawa seperti ini, tetapi keluarga Satoya memang menghibur pikir Pak Bill.
“Anda tidak sopan”
“Wahahahaha”
LINIE 1
Inori Satoya, ia adalah gadis biasa yang tinggal dirumah biasa, berlokasi di kota biasa, berada di perumahan biasa-
TING TONG
“POS~!”
Dan keluarga yang juga biasa.
TAK
Suara pensil inori terjatuh dengan lemah diatas mejanya.
“Haa~h” napas inori berhembus dengan berat sembari memandangi buku keuangan diatas meja belajarnya.
““IYA~! Tunggu sebentar~!” terdengar suara ibu inori menjawab panggilan tukang pos.
Hari-hari biasa juga Inori lalui dengan biasa. Hanya saja… Saat ini sedang kesulitan keuangan…sangat…
“OH! Tagihan telepon!”
DUK
Kepala inori jatuh diatas meja belajarnya, tepat di atas buku keuangannya. Ia mengutuk dirinya sendiri sambil bergumam kata-kata listrik, air, gas, bensin dan telepon. Tetapi dari semua pengeluaran yang ada ia menyadari terdapat pengeluaran yang sangat besar berkali lipat dan selama ini tidak pernah ia sadari.
Sumber segalanya dari jatuhnya keuangan keluarga ini.
BRAAK
Pintu ruang makan dibuka inori dengan kasar karena ia terburu-buru ke sana. Dan kata-kata pertamanya..
“ Kita menjadi begitu kesulitan keuangan sebagian besar ialah karena perut!”
“HAH?” kata kedua kakak inori serempak- sedang duduk santai di sofa menonton TV menatap inori tanpa perasaan bersalah.
“eh?” jawab ibu inori di dapur yang kegiatan memasaknya jadi terhenti dan wajahnya menjadi pucat.
“GEMUK!” tunjuk inori pada saudara tertuanya Haru.
“SUPER GEMUK!” tunjuknya lagi pada saudara keduanya Natsu.
“OBESITAAS!” tunjuknya ketiga kali dengan murka pada ibunya yang langsung tersungkur sakit hati didapur.
”Anakku sadis..” sahut ibunya dalam hati.
“Bahkan aku juga…” kata Inori sambil melihat perutnya yang melebar keluar dari tempatnya yang seharusnya.
Seperti yang terlihat.
Anak pertama Haru bertubuh tinggi sekitar 180 cm dan masih bertumbuh. Walaupun ia sedang duduk, kelihatan bahwa ia anak yang besar. Hanya satu hal saja yang bisa dibilang cacat darinya, sebenarnya ia tidak jelek tetapi badannya benar-benar besar!. Kelebihan berat badan standar ialah sebutan yang cocok untuknya. Terlihat ia hanya olah raga saat disekolah saja dan itupun setengah-setengah.
Anak kedua Satoya yaitu Natsu pun tak kalah cacat dari sang kakak, Bahkan Pak Bill menyebutnya ajaib. Badannya tinggi sekitar 170 tetapi super gemuk dengan perutnya yang paling mencolok mencondong kedepan seperti ibu-ibu hamil dan pipinya yang tembam hampir membuatnya tak berwujud. Dapat diambil kesimpulan ia tidak pernah olah raga sama sekali. Dan cemilan snack yang dipegangnya adalah makanan sehari-hari yang tak pernah ia lepas.
Yang Paling bermasalah ialah sang ibu. Tak terpikirkan bahwa ialah yang paling gemuk dari pada anak-anaknya padahal sepertinya umur ibu rumah tangga ini tidak sampai 50 tahun. Tubuhnya mungil dengan tinggi 159 tetapi super duper gemuk dan bisa dikatakan super obesitas.
Sedangkan Inori putri ketiga yang tingginya tidak sampai 170 dan berkaki panjang impian semua wanita memiliki tubuh yang paling dihindari semua wanita. Ia gemuk. Walaupun begitu kecantikannya tidak hilang.
“Hei Inori, kau jangan lupa pada Hiro!” sahut Haru dengan kesal.
“Kya kya” terdengar suara Hiro adik bungsu mereka dari balik sofa.
Sambil menatap Hiro yang masih belum tahu apa-apa dengan wajah super pucat, “LUAR BIASA!”kata mereka berempat dalam hati bersamaan.
Hiro 2 tahun. Putra keempat. Teramat gemuk. Super duper hyper gemuk! Sangat tidak normal untuk anak kecil seusianya.
“Hoe?” jawabnya polos
Inori yang memandang adiknya dengan ekspresi horror bergumam “Kok aku selama ini gak sadar ya…?”
“maaf…T^T” jawab ibu.
Setengah sadar Inori berkata lagi, “ Ka..kalau Hiro sih tidak apa-apa karna dia masih kecil…masa pertumbuhan!”
Ia pun berjalan mendekati Hiro bermaksud menggendongnya sambil ditatap penasaran ke 3 anggota keluarganya.
HUP
“Uhk~~~!….berat..” kata Inori sembari berusaha sekuat tenaga bermaksud menggendong adiknya. Sayangnya sang adik tak semilipun terangkat dari tempat ia duduk.
“hoe~?”
Kedua kakak inori langsung lemas dan pucat ,dan ibu inori menangis histeris meneriakkan kata-kata maaf.
“hu~~! Maafkan ibu~~!!”
Hidup keluarga Satoya sehari-hari yang bisa dikatakan asal saja dijalankan dan sudah biasa dimata mereka, rupanya membuat dampak yang besar pada tubuh setiap anggota keluarga Satoya. Dan sangat aneh hal itu baru disadari hari ini, bahkan hanya oleh satu orang. Keluarga yang masuk dalam kategori cuek.
Apapun caranya, mulai hari ini hidup mereka harus berubah dan itu menjadi tugas besar untuk Inori.
...
“ Jadi!” kata Inori capek- sehabis mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan papan besar dibelakangnya.
“Mulai sekarang di rumah ini berlaku hanya dua kali sehari makan!” katanya sambil menujuk pada papan belajarnya yang sudah diisi dengan gambar dan tulisan mengenai pola makan.
“Tidak ada yang namanya lima kali makan dalam sehari! Tidak ada snack!”
Untuk Hiro tetap 3 kali sehari dengan porsi lebih kecil
“NO FAT! NO FOOD! Semua setuju?! Tidak boros dan uang mengalir lancar!”
“i..iya” jawab Haru sambil berkeringat dingin.
“ya-” jawab Natsu datar.
“iya…~” jawab ibu lemas karena ia lagi menangis sembari menelepon suaminya. “ Halo ayah?”
“Eh? Untuk ayah juga berlaku?” jawab ayah yang lagi bekerja. Padahal beliau kurus..
“ Semua anggota keluarga ini harus menaati peraturan baru ini. Kecuali Hiro karna dia masih kecil” Perintah Inori.
“Hindari mengemil! No ngemil!”
Wajah dua saudaranya langsung pucat. Sang ibu masih menangis.
“ Terutama Natsu!” tunjuk Inori pada Natsu. “Hentikan ngemil sambil tiduran! Lihat perutmu itu! Seperti ibu-ibu hamil!-”
“-Dan ibu!” sekarang inori melihat kearah ibunya. ” Jangan masak banyak-banyak dan boros! Hentikan hobi ngemil kuenya!”
“Hiro harus lebih banyak bergerak! Ajak dia jalan-jalan!”
“iya..ibu mengerti..”
Bayangkan mereka menjadi begini krisis keuangan karena boros membeli makanan dan boros menghabiskannya! Semua ini harus berubah!
“Dan kak Haru!” kali ini giliran Haru sang kakak tertua yang kena makian Inori.
“Glek”
“Berhenti klub kulinernya! Walaupun kakak gak terlalu gemuk..”
Pada saat itu juga kepala Haru dan dadanya seakan di pukul sesuatu. Hidup damainya di klub kuliner seakan runtuh di pikirannya. Dan itu dikarenakan adiknya Inori yang tiba-tiba menyuruhnya untuk menghancurkan masa remajanya yang bahagia.
“Demi kepentingan bersama! Jadi gak ada yang saling iri! Menderita bersama!” lanjut Inori berapi-api.
“A..aku gak bisa!" jawab Haru buru-buru tersadar dari syokny."Klub kuliner itu…!” katanya terhenti.
“Itu?”
Anggota keluarganya yang lain memandanganya penasaran.
“Apa?” pancing Inori.
“Ooh, ada cewek yang kak Haru suka ya di situ??” sambung Inori menggoda kakaknya, sekedar bercanda.
“BUKAN! Tidak begitu! Siapa yang begitu!” terlihat sekali kalau Haru panik.
“eh? Kakak naksir orang? Tak bisa dipercaya..” kata Natsu yang tentu saja bermaksud jelek.
“Diam kau Natsu!”
Sambil berpikir sebentar Haru kemudian berkata “ Pokoknya pasti kuusahakan untuk mengurangi uang jajan! Begitu beres kan?” Sambil berkata begitu, Haru kelihatan sekali menghindari tatapan mata anggota keluarganya bahkan Hiro yang masih dalam taraf idiot.
“Begitu? Kalau begitu sekarang masalah Natsu dan mama” lanjut inori tidak ingin memperpanjang dan mempersulit masalah kakaknya.
“Natsu! Mulai sekarang kurangi cemilan!”
“ha..”
“Walaupun aku murid SMP dan sekolah kita pisah, tapi kau pasti akan aku awasi! Uang jajan juga akan aku kurangi!”
Sebagai informasi, Natsu kelas 1 SMU dan Inori kelas 3 SMP.
”…” dengan ekspresi datar Natsu tidak berkomentar apapun.
“Dan ibu!” bentak inori beralih menasehati ibunya.
“ Mulai sekarang aku yang buat menu sehari-hari! Akan kubatasi uang belanja! Mulai sekarang aku yang mengurus keuangan kita!
Sambil menatap seluruh anggota keluarganya yang ada diruangan itu, Inori menegaskan “ POKOKNYA SEMUA HARUS HEMAT!”
Masalah ini tentu saja akan sangat berat bagi Inori dan keluarganya kedepan. Dalam 1 bulan terakhir ini uang jajan dan pengeluaran Inori berkurang drastis. Karna itu Inori mulai memeriksa buku keuangan ibunya dan menganalisa apa yang terjadi mulai dari memeriksa biaya listrik, air, gas, uang saku dan sebagainya perbulan. Hasil akhirnya ialah biaya pengeluaran mereka perbulan semakin banyak dan ayah mereka semakin sering bekerja lembur. Ia tidak ingin menyusahkan ayahnya dan juga karena ia menyadari keadaan keluarga mereka yang rata-rata kelebihan berat badan jika dibandingkan dengan ayahnya yang biasa-biasa saja. Sungguh ironis pikirnya.
Masalah berat badan ia sudah menyadarinya dari dulu, maklum saja dia adalah gadis yang normal yang tentu saja setiap hari menatap kaca. Tetapi hal tersebut selalu ia cueki sampai saat suatu hari ketika ia menanyakan gizi Hiro di dokter kenalanya yang bernama dokter Arata. Dokter tersebut mengatakan satu hal yang membuat Inori serasa ingin tenggelam kelaut terdalam. Ia bilang Inori kelebihan berat badan dengan nada biasa ia bicara sehari-hari yang santai tanpa bermaksud menyinggung Inori. Tetapi tetap saja hal itu membuat Inori malu setengah mati mengingat ia dulu tidak segemuk ini. Sebenarnya ia tidak masalah dengan dirinya menjadi gemuk, Inori tidak pernah memikirkan hal-hal seperti ingin jadi cantik ataupun selalu modis. Ia hanya ingin selalu tampil baik di depan orang terdekatnya termasuk dokter Arata. Tetapi dokter Arata mengatakan kata-kata maut.
“Inori, kau makin gemuk ya?,” katanya polos sambil duduk menulis dan Inori duduk tepat didepannya dibatasi oleh meja. ”Terakhir kita ketemu sebelum libur panjang kau masih agak kurusan deh..,”sambil berkata seperti itu dokter Arata menulis list makanan yang baik untuk Hiro. “Waktu liburan kau ngemil terus ya?? Wahaha.”
Kata-kata itu langsung membuat Inori membatu.
Melihat wajah Inori yang pucat lemas, lalu dokter Arata menanyakan tentang pola makan Inori, pola makan keluarga Inori, keuangan Inori dan sebagainya yang dijawab Inori pasrah sembari malu. Mereka mengobrol di samping jendela dengan duduk saling berhadapan. Dokter Arata memang lebih suka duduk disini, bisa lebih bebas katanya. Tanpa perlu menghawatirkan meja, letak jendela ini didesainnya dengan lebih condong kedalam dinding yang menyisakan space untuk menaruh barang di pinggirnya dan dokter Arata memanfaatkan hal itu dengan memperlebar space tersebut. Ia memasang meja kayu yang di tempel kedinding, sejajar pada space tadi selebar kira-kira 30 centimeter. Dengan lebar keseluruhan lebih dari 30cm, dokter Arata memanfaatkanya untuk sekedar mencatat bahkan menaruh minuman dan bersantai seperti di meja biasa. Ia tidak terlalu suka dengan meja kerjanya yang kelewat lebar dan besar.
“Keluargamu harus menerapkan diet ketat demi kesehatan mereka dan kelangsungan kehidupan mereka untuk kedepannya.” Lanjutnya sambil menatap serius mata Inori.
Inori mendengarkankan perkataan dokter Arata terutama kata ‘kelangsungan hidup’ tetapi setengah serius karena ia masih merasa down.
“Bayangkan saja keluargamu masih seperti ini kedepannya. “ kata dokter Arata. “Selain kesulitan keuangan, kalian juga bakal rentan dengan penyakit. Misalkan saja ada salah satu anggota keluarga kalian yang sakit dan kalian kekurangan biaya,” wajah inori langsung memucat serius kali ini. “Gemuk itu bukan berarti sehat lho, sebaliknya gemuk itu rentan akan penyakit.”
Dengan gerakan tiba-tiba yang membuat Inori sedikit kaget. Dokter Arata dengan lembut mengusap rambut Inori yang dekat pipinya. “Aku gak ingin kau dan keluargamu sakit. Mulai sekarang kau harus melakukan sesuatu Inori.” Ucapnya serius.
Itu adalah kata-kata dokter Arata 3 hari lalu pada Inori yang membuat Inori melayang selama beberapa saat sebelum tersadar. Sejak hari itu Inori berpikir untuk setiap hari datang ke klinik dokter Arata untuk konsultasi. Sambil memutuskan begitu, Inori merasa tidak enak kalau ia malah mengganggu pekerjaan dokter Arata. Tetapi keesokan harinya setelah bertanya pada dokter Arata tentang keinginannya untuk rutin berkonsultai, dokter Arata berkata pada Inori bahwa ia bisa datang pada pukul 3 setiap sore hari. Karena pada jam segitu ia istirahat sampai jam setengah 5 sore. Satu janji yang membuat Inori sangat bahagia.
Karena itulah Inori bertekat “demi orang itu aku harus menurunkan berat badan! dokter Arata sudah meluangkan waktunya untuk membantuku, aku harus memberikan hasil yang terbaik!”.
Lalu revolusi-pun dimulai.
LINIE II
Bunga-bunga dandelion yang terbentang luas didepan gadis itu sangat memikat. Tapi tak satu langkahpun dia maju.
Seperti sudah berabad-abad ia berjalan di atas rumput yang lembab sebelum ia melihat ribuan bunga dandelion. Selama berjalan ia melihat kerumput-rumput itu. Hanya rumput. Dengan struktur aneh. Seperti rumput tetapi bukan. Sangat lembut tetapi juga tidak. Ia seperti melayang. Seperti terbang. Sebelum bunga-bunga dandelion itu dilihatnya.
Namaku Inori, kelas 3 SMP.
Aku sedang dalam masa krisis di kehidupanku yang damai. Masa remajaku yang normal terancam musnah. Krisis keuangan dan kelebihan berat badan masal dalam keluargaku sangat menyita pikiran dan waktuku!
Sehari-harinya saja aku sudah seperti pengganti ibu!!.
Sambil berpikir begitu Inori melewati hari pertama semester kesatu kelas 3-nya. Ia tersenyum sekilas di depan kaca di kamarnya menyatakan bahwa ia sudah rapi dan siap menjalani harinya yang bakal berat. Lalu ia bergegas menuju tugas terberatnya pada pagi hari.
Hari-hari Inori agak berbeda dari kebanyakan anak gadis seusianya. Entah dimulai sejak kapan ia selalu bangun paling pagi untuk membangunkan semua anggota keluarganya. Dengan langkah seribu ia keluar dari kamarnya lalu menuju pintu pertama yang ia temui di sebelah kanan kamarnya.
BRAAK
-Kriiiiiiiiiiiiiiing
Bunyi alarm keluar dari dalam ruangan gelap yang dibukanya.
“Ayah, Ibu, bangun!” teriak inori penuh makna sambil menyalakan lampu kamar kedua orang tuanya. “ Padahal alarmnya sudah berbunyi dari tadi! Dasar!”
“ah?” gumam ayah Inori setengah tidur tetapi bangun dengan reflex.
“masa’?”gumam ibu Inori asal padahal matanya masih terpejam, tapi ia juga bangun dengan reflex begitu mendengar suara Inori.
Setelah itu Inori langsung dengan cepat menuju kamar Haru yang berada tepat di seberang kanan kamar Ayah dan Ibunya.
BRAAK!
“Kak Haru bangun!”
“ah~”
Lalu kamar Natsu yang tepat berada di samping kamar Haru.
BRAAAK!!
“Natsu bangun!” teriak Inori lebih keras, capek pada kakaknya yang satu ini. “ Berhenti main game sambil tidur! Yang benar saja!”
“..grook~”
Yang satu ini sungguh aneh. Natsu dengan kamarnya yang bisa dibilang rapi untuk ukuran kamar anak cowok memiliki pemandangan paling ajaib dari kamar normal lainnya. Ia terlihat sedang duduk meringkuk di lantai di atas karpet. Wajahnya tepat menatap TVnya tapi dengan mata tertutup dengan tangannya memegang stik PS seperti sedang bermain PS tetapi dalam keadaan tertidur. Suara TVnya yang menayangkan game yang dimainkannya menyala dengan suara pelan menandakan ia main game diam-diam tadi malam dan ketiduran entah jam berapa.
Sambil menggeleng sebal melihat pemandangan sehari-hari yang tidak biasa itu, Inori melanjutkan tugasnya dengan langkah yang cepat tetapi enteng menuju kamar adik bungsunya yang berada paling ujung ruangan.
Kamar Hiro sama seperti kamar balita lainnya. Furnitur serba mini memenuhi rungan dengan tempat tidur Hiro berada ditengah kamarnya yang mungil. Inori langsung menuju jendela dan membukanya. Cahaya pagi langsung masuk dengan cepat tanpa halangan. Lembut hangat mentari pagi memperlihatkan kamar Hiro yang dominan berwarna Biru laut dan putih. Inori senang berada di kamar ini, wangi dan bersahabat. Ia juga tidak kesal seperti ketika membangunkan anggota keluarganya yang lain dalam membangunkan Hiro.
Dengan langkah pelan dan pasti ia lalu menuju tempat tidur Hiro.
“Hiro~ bangun~” bisik Inori lembut dekat telinga Hiro yang langsung terbangun menurut.
“Huaa” uap Hiro masih mengantuk dengan lucu.
Melayani adiknya pagi hari padahal itu adalah tugas ibunya, sering sedikit membuat Inori makin kesal tiap harinya pada ibunya yang ceroboh.
“Padahal harusnya ini tugas ibu” teriaknya dalam hati sambil mengganti popok Hiro.
Ditatap Hiro dengan polos, Inori lalu pasrah.” Sudahlah, toh adikku ini..”katanya tersenyum manis pada Hiro. “Hiro lapar~?”
“ya~~haha”tawa Hiro membalas senyuman Inori.
“MASAK~~!” terdengar suara ibu Inori yang 100% sudah bangun kegirangan dan itu membuat mood Inori buruk kembali.
“kak?” Tanya Hiro bingung, dibalas senyum sinis yang licik oleh Inori.”hoe..”
“KYAAAA!” suara ibu Inori terdengar lebih keras kali ini.“Apa ini???!!!” katanya syok melihat makanan sudah tersedia dengan rapi di meja makan.
“Ho~” kata Haru dan Natsu bersamaan. Baru saja mereka datang dari atas dengan seragam yang sudah rapi, melihat senang makan pagi mereka sudah tersedia. Biasanya mereka harus menunggu ibunya memasak dulu.
TAP TAP
Inori turun dari tangga sambil menggendong Hiro dengan ekspresi puas.
“Rinko! Apa maksudnya ini?!” Tanya ibu Inori histeris.”Hanya roti selai dan teh??!!” itu adalah sarapan yang disiapkan Inori sebelum membangunkan anggota keluarganya.
“Aku pergi dulu~!” kata Haru buru-buru pergi diikuti langkah raksasanya, tak ingin mendengar omelan pagi.
“Pergi dulu~” kata Natsu mengikuti kakaknya. Tentu saja diikuti langkah raksasa yang tak kalah besar dari kakaknya, tetapi ditambah irama perutnya yang bergoyang riang.
“Papa juga~” kata Ayah buru-buru yang juga tak ingin pagi harinya lagi-lagi diisi oleh omelan.
Biasanya mereka harus bertahan di meja makan menunggu sarapan mereka sambil mendengar argumen Inori dan Ibunya yang tak kunjung habis.
Senyum Inori menyeringai “Itulah alasannya”
“ukh”
Roti dan teh. Itu adalah sarapan yang tidak memakan banyak waktu untuk menghabiskannya, lagipula bisa dibawa jalan dan bisa lebih pagi untuk berangkat sekolah maupun kerja.
“Mulai saat ini menu paginya itu! Ibu harus ingat!”
“Tidak~~!”
Sambil mendengar teriakan ibu mereka dari luar rumah, Haru dan Natsu bergumam masih lapar.
“Masih lapar..”
“iya…”
“haha” tawa ayah mereka.
Kembali kerumah, ocehan Inori pun berlanjut.
“Makan malam nanti jangan berlebihan! Semua sudah kutulis dicatatan diatas meja!” Kata Inori menaruh Hiro di kursi makan dan memakai sepatu sekolahnya buru-buru.” Sekarang tugas ibu ialah membuat susu untuk Hiro dan makanannya sudah kucatat porsinya dicatatan!”
“Tidak rinko! Kau jahat,” protes ibu Inori. “Padahal kau tau ibu hobi memasak!”
“Aku pergi!” jawab Inori tak peduli karena ia tau itulah yang harus ia lakukan. “Dan jangan panggil aku dengan nama nenek!” lalu Inori pergi menuju sekolahnya seperti angin.
“Rinko~~!!” tangis ibu Inori pasrah.
Rumah Inori berada di perumahan GreenHill Jakarta barat dengan konsep penghijauan. Perumahan ini sebenarnya termasuk tipe perumahan elit yang terkenal dengan konsep penghijauan dan keamanannya yang top. Pepohonan selalu terlihat di sepanjang jalannya. Taman tempat anak-anak bermain atau pun untuk sekedar bersantai menikmati alam selalu dapat di ditemui pada setiap blok perumahan ini. Jalan setapak yang memicu untuk berjalan diatasnya atau berjoging siap sedia mengintari seluruh lokasi perumahan.
Untuk informasi lebih lengkap, pintu masuk menuju perumahan ini ialah dari arah barat daya. Ketika memasuki perumahan ini pengunjung dapat langsung menikmati taman yang berada disepanjang jalan menuju kantor pemasaran yang berada tepat di tengah-tengah perumahan. Kantor pemasaran GreenHill ialah rumah kayu yang sangat cantik dikelilingi bunga mawar dengan berbagai warna.
Blok dari perumahan GreenHill ini ada 4 blok sesuai dengan arah mata angin dengan nama blok 1 di bagian utara berlawanan dengan blok 3 di selatan, dan blok 2 pada bagian timur berlawanan dengan blok 4 di bagian barat. Di setiap blok terdapat dua pintu keluar, yang satu menuju pusat GreeHill yaitu kantor pemasaran atau pintu masuk GreenHill, dan satunya yang bisa disebut pintu belakang GreenHill merupakan jalan pintas menuju tol yang mengarah ke kota. Pada setiap blok terdapat pintu belakang ini dan menuju ke tol yang berbeda.
Yang paling unik dari perumahan ini ialah, ketiga blok 1,2,dan 4 merupakan perumahan biasa kecuali blok ke3 yang berada di selatan. Pada bagian selatan perumahan ini dapat ditemui bangunan paling mencolok dan megah yang merupakan ikon GreenHill, yaitu sekolah GreenHill. Disekolah itulah Inori bersekolah. Sekolah GreenHill terdiri dari TK, SD, SMP, dan SMU.
Khusus SMP dan SMU terdapat asrama sekolah yang berada di belakang wilayah sekolah. Asrama ini tidak hanya satu tetapi dengan konsep yang sama, dipisah menurut jenis kelamin. Dalam satu gedung asrama tidak boleh memasukkan murid yang berbeda jenis kelaminnya. Jika asrama perempuan maka yang tinggal di asrama itu semuanya haruslah perempuan begitu pula stafnya dan berlaku peraturan bahwa gedung asrama tidak boleh lebih dari 3 tingkat.
Keluar dari lingkungan sekolah, dibelakang sekolah GreenHill terdapat ruko-ruko dengan fasilitas yang lengkap untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Klinik dokter Arata terletak di salah satu ruko-ruko itu.
Sangat ironis mengetahui tempat tinggal keluarga Inori yang luar biasa indah dengan kenyataan bahwa mereka sekarang mengalami krisis keuangan.
Sekolah Inori dan kakaknya Haru sama, tetapi kakaknya selalu berangkat lebih pagi karena Inori selalu harus mengurus macam-macam dulu seperti menasehati ibunya. Lagipula walaupun sekolahnya sama, SMU Haru berada lebih jauh di belakang sekolah Inori, dan Haru harus berputar melewati sekolah Inori dulu. Begitu juga dengan sekolah Natsu. Bahkan ia lebih parah, sekolahnya paling jauh dari kedua saudaranya. Ia tidak bersekolah di sekolah swasta seperti Inori dan Haru. Ia lebih memilih bersekolah di sekolah negeri yang berada di luar perumahan. Natsu harus jalan keluar perumahan dulu lalu memakai ojek kalau dia malas berjalan kaki, atau dengan memakai bajai kalau hujan karena Natsu tidak memiliki SIM dengan alasan malas mengurusnya. Natsu tak suka memakai angkot.
Natsu tidak memilih sekolah yang sama dengan saudaranya yang lain karena alasan bisa lebih bebas dan standar nilainya tidak terlalu tinggi. Berbeda dengan saudaranya yang lain, Natsu tidak terlalu suka belajar.
Berbeda dengan anak-anaknya, Ayah Inori berangkat dengan mobil ke tempat kerjanya. Ia sebenarnya selalu menawarkan diri untuk mengantar anak-anaknya pergi ke sekolah terlebih dulu, tapi selalu ditolak karena mereka lebih suka berjalan. Mereka mau menurut untuk diantar hanya kalau ketika hujan.
Itulah keseharian Inori dan keluarganya pada pagi hari.
Jalan kesekolah Inori tidaklah terlalu jauh. Ia hanya perlu berbelok beberapa kali, melewati taman lalu terlihatlah sekolahnya yang super besar . Sebelum sampai, Inori terlebih dahulu harus menyebrangi jembatan penyebrangan berdesain nouveau yang terbuat dari kayu untuk pejalan kaki, Karena dibawah jembatan ini terdapat sungai buatan yang besar dengan air yang jernih. Dari jembatan ini ia dapat melihat dengan jelas gerbang sekolahnya. Dan jika ia melihat ke kanan ia juga langsung dapat melihat gedung SD GreenHill dan gedung administrasi sekolah GreenHill walaupun tidak keseluruhan karena tertutup pagar, bahkan gedung administrasi hanya terlihat setengah atapnya saja karena tertutup oleh gedung SD GH. Jika Inori berjalan sedikit kekanan jalan, ia langsung bisa melihat tampak samping dari TK GreenHill yang berwarna-warni.
Setelah berjalan kekiri sebentar dari jembatan tadi, baru tibalah Inori di gerbang depan SMPnya. Terlihat banyak murid yang juga sama seperti Inori, datang kesiangan tetapi bukan terlambat. Mereka terburu-buru biasanya karena piket atau untuk melihat daftar kelas mereka yang berubah setiap tahun kenaikan kelas sesuai peringkat yang mereka dapat.
Nilai diatas 8 dan 9 berada di kelas A, nilai 8 dan 7 dikelas B, nilai 6 dan 5 dikelas C, dan nilai dibawah 5 berada di kelas D. Bukan berarti bodoh tetapi jika semua nilai matapelajaran mereka dijumlah dan mendapat nilai dengan rata-rata 6 itu adalah wajar. Yang berada di kelas D ialah biasanya anak yang hanya pandai di satu atau 2 mata pelajaran, contohnya hanya pandai di olah raga dan bahasa dan berbagai alasan lainnya yang membuatnya berada di kelas itu. Dari setiap kelas A-D dibagi lagi dengan urutan kelas 1-4.
Sekolah Inori yang besar mempunyai jumlah murid yang banyak pula. Satu kelas muridnya max 20 anak. Inori berada di kelas 2-B2, dengan satu kekurangan yaitu pada olah raga.
TAP TAP TAP
Sudah setengah jalan Inori menuju gedung sekolahnya, dari gerbang masuk ke dalam gedung jalannya lumayang jauh. Panas matahari sangat terik hari ini, untung saja dari gerbang sekolah Inori menuju gedung diberi koridor terbuka dengan atap untuk menahan matahari dan hujan yang mengenai murid yang berjalan disitu menuju gedung sekolah.
Setelah sampai gedung sekolahnya lalu menaiki 4 tangga pembuka yang tersusun rapi, Inori cepat-cepat menuju koridor tempat loker Inori sudah menunggu selama sebulan ia libur. Buru-buru Inori menaruh buku pelajarannya, mengambil alat tulisnya yang ia tinggal selama liburan di situ, menaruh payung yang dibawanya kalau-kalau hujan, dan setelah itu ia mengganti sepatu luarnya dengan sepatu berwarna putih yang khusus dibelinya untuk didalam sekolah.
Membeli 3 sepatu wajib di sekolah ini, karena kepala sekolah SMP dan SMU yang menetapkan peraturan itu mengikuti peraturan sekolah yang berlaku di jepang. Menurut kepala sekolah itu, mempunyai loker khusus dan loker sepatu adalah hal yang positif. Membuat murid mandiri, rapi, dan jadi takut untuk telat sekolah karena harus mengganti sepatu dulu. Hal tersebut tidak berlebihan karena rata-rata anak di komplek ini keadaan ekonominya menengah ke atas. Tetapi Inori sangat membenci peraturan itu karena sangat menyusahkan!. Memang jika dilihat benar-benar sekolah ini terutama SMP Inori adalah prototype dari sekolah-sekolah yang ada di jepang.
Berbeda dengan SMU yang lebih ke style barat. SMU Haru tak ada peraturan konyol mengganti sepatu!.
Memang merepotkan jika harus mengganti sepatu, tetapi itu menguntungkan pihak yang bertanggung jawab atas kebersihan sekolah atau OB. Ya, disekolah ini ada OB, jadi para murid tidak perlu piket seperti menyapu, mengepel, dan sebagainya.
Piket yang dilakukan oleh murid di sini ialah piket yang diwajibkan kelas pada setiap murid untuk dilakukan setiap hari secara bergiliran. Contohnya ialah piket membersihkan papan tulis (OB hanya membersihkannya menyeluruh pada hari sabtu), mengganti tanggal di papan tulis, menyiram tanaman yang ada di kelas, dan sebagainya. Piket yang lain bisa juga piket dari dan untuk anggota klub, seperti pagi-pagi harus datang untuk mempersiapkan ruang klub.
Salah satu aktivitas yang paling menarik dari sekolah ini selain gedung yang besar dan standar nilai yang tinggi, ialah klub yang ada di sekolah ini karena sangat banyak dan beragam. Orang luar sebenarnya bisa masuk dalam klub-klub ini tergantung peraturan dari tiap klub. Inori sebenarnya bangga pada sekolahnya yang seperti ini dan ia sangat bersyukur masuk kesekolah ini. Mengesampingkan peraturan mengganti sepatu…
Setelah selesai memakai sepatu dan yakin apa yang ia perlukan hari ini masuk dalam tas-nya, ia langsung berlari menaiki tangga menuju lantai 3 tempat kelasnya berada. Lantai di bagi menurut kelas. Lantai satu untuk kelas 1, lantai dua untuk kelas 2, dan Lantai tiga untuk kelas 3.
Saat menuju lantai ke 3 sambil setengah berlari, secara tak sadar Inori menabrak seseorang.
DUK
“wah!” Inori hampir terhempas ke bawah anak tangga dibelakangnya.
“hup”
Seorang cowok telah ditabrak Inori, dan sebelum ia jatuh cowok itu menopangnya dengan tangan. Cowok berkulit putih berambut pirang. Cowo bule.
“Oh, maaf” kata Inori sambil melepaskan diri dari pelukan tangan cowok bule itu.
“…” cowok itu terlihat bengong tanpa ekspresi.
“maaf ya,” kata Inori lagi. Bingung karena cowok itu tidak merespon apapun, lalu Inori langsung pergi begitu saja naik tangga kelantai 3 menuju kelasnya meninggalkan cowok bule itu dilantai 2. Suatu kejadian sepele yang bakal menghantui Inori seterusnya.
LINIE III
“Mungkin dia tidak mengerti bahasa Indonesia” kata teman Inori saat Inori menceritakan kejadian ia menabrak anak bule yang baru pertama dilihatnya pagi ini pada temanya di kelas. Hari pertama kelas 3 Inori diawali dengan pelajaran bebas karena gurunya berhalangan. Inori merasa beruntung.
“Aku juga berpikir begitu, lagi pula baru kali ini aku lihat ada bule di sekolah kita, walaupun banyak juga anak blasteran yang lain..” kata Inori.
Sekolah Inori lumayan banyak murid yang dari berbagai Negara, karena nama sekolah ini lumayan harum di luar negeri. Jadi banyak sekali murid dari luar atau lebih banyak yang blasteran seperti Inori masuk ke sekolah Ini tanpa harus merasa berbeda karena warna rambut, mata, atau kulit. Sebenarnya kebanyakan anak Asia yang masuk sekolah ini seperti dari Jepang, Cina, atau Malaysia. Dan hanya sedikit yang dari Negara di barat, kebanyakan yang dari sana berparas kulit hitam dan sangat jarang yang berkulit putih seperti yang ditemui Inori pagi ini.
“Aku cuma pernah dengar saja kalau ada siswa baru dari inggris yang masuk SMP kita” jelas teman Inori yang tadi ia ceritakan tentang anak bule itu.Namanya Marla teman sebangku Inori, seorang cewek manis berambut ikal.”Bahkan aku belum pernah melihatnya sekalipun, kudengar-dengar murid kelas satu tapi yang kau lihat berada di lantai 2?”
kata ‘kudengar’ itu menandakan kalau Marla nguping gossip yang didengarnya tadi pagi entah dari mana” Lalu, lalu gosipnya sangat tampan! Wah~ bisa jadi calonnya mr.populer nih..” lanjutnya kegirangan sambil membayangkan murid baru dari Inggris itu. Inori tertawa geli melihat Marla yang kegirangan, bukan karena ‘siswa baru tampan dari nggris’ tapi ‘Mr.Populer’ yang bakal heboh dan bakal menjadi hiburan terbaru Marla. Marla sangat suka hal-hal yang unik dan menghebohkan. Sesaat Inori teringat sesuatu untuk dikatakan pada Marla.
“Oh iya Marla, aku mau cerita sesuatu..”potong Inori, lalu ia menceritakan masalah keluarganya tapi tanpa menyebut nama dokter Arata. Untuk yang satu ini Inori tidak ingin temannya tahu. Dan point yang paling penting di ceritakannya ialah tentang berat badan dan diet.
“Aku mau minta tolong beri aku masukan soal apapun! Beri aku pencerahan Marla!” mohon Inori sambil mengatupkan tangannya pada Marla.
“..Soal keuangan aku kurang mengerti ya…hemat hemat saja..”jawab Marla simpel. “Tapi kalau soal ingin langsing terutama kecantikan aku bisa! Ya ka~n?” Tanya Marla selanjutnya pada cowok-cowok yang sedari tadi melirik-lirik padanya.
“Iya..” kekeh mereka sudah biasa.
“haha” Inori tertawa terhibur.
“Kau harus rajin olah raga dan mengatur pola makanmu dengan baik, misalnya fitness..”kata Marla.
“perlu uang, aku lagi kesulitan keuangan..”jawab Inori lesu.
“Wah, kalau begitu jogging!” anjur Marla lagi.
“kuusahakan” kata Inori sambil berkeringat dingin mengingat sangat sulit mencari waktu untuk kegiatan yang memakan waktu banyak itu.
“Sekarang tentang makanan,” lanjut Marla. Inori buru-buru membuka catatanya siap untuk mencatat. “Banyak-banyaklah memakan sayur dan buah-buahan, jangan makan daging”
“he’eh..”sibuk ia mencatatnya.
“Lalu…,”
Sepanjang 1 jam mereka berdua membicarakan tentang diet dan makanan. Lalu akhirnya terpotong dengan hadirnya guru pengganti. Sekarang Inori kelas tiga SMP semester pertama. Ia baru saja habis libur panjang dari kenaikan kelas dua.
Guru itu masuk dan menjelaskan tentang tryout dan hal-hal yang berhubungan dengan kesulitan UAN untuk naik ke SMU. Kelas 3 yang dijalani Inori makin bertambah sulit saja karena ia berada diambang kelulusan SMP. Selain berhemat, diet, dan mengurus keluarganya, ia juga harus memikirkan UAN. Inori bahkan sempat berubah pikiran untuk ditunda dulu revolusinya untuk berhemat dan diet, tetapi tetap saja hal itu tidak bisa karena keluarganya benar-benar berada diambang kehancuran. Baru-baru ini saja saluran teleponnya diputus karena belum membayar. Inori kasihan pada Ayahnya yang bekerja keras tetapi ia dan anggota keluarganya yang lain hanya bisa memboros. Kali ini ia harus membayar semua kebaikan Ayahnya dengan memperbaiki semua habitan buruk keluarganya. Dan Inori juga berharap lulus UAN dengan nilai yang bagus.
“Kalian tenang saja, kalian kan pintar-pintar. Pasti lulus!” kata guru matematika Inori yang super santai.
Inoria tak menyangka dengan mulainya semester dua ini juga dimulainyalah kehidupannya yang baru dan berat.
DING DING DING
Bel tanda istirahat bernada sol berbunyi menandakan pukul 10.00 saatnya istirahat. Secara serempak anak-anak dikelas berdiri dan bersiap-siap untuk istirahat dengan jajan ke kantin ataupun main di halaman sekolah atau keperpustakaan sambil membicarakan tentang tryout yang katanya sulit dan UAN. Begitu juga Inori yang langsung berdiri, tapi tanpa ia sadari pikirannya langsung menuju kantin bukanya pada UAN.
“Inori” sapa teman cewek Inori yang lain di pintu masuk kelas Inori. Sapaannya membuyarkan khayalan Inori tentang kantin, tetapi bukan berarti ia ingat dengan UAN.
Cowok-cowok yang tadi masih melirik-lirik Marla sekarang beralih padanya. Cewek yang satu ini sangat spesial, ia sangat tinggi cantik dengan kulitnya yang putih walaupun tidak seputih Inori dan rambutnya yang berwarna hitam terurai sampai siku. Ia memakai kontak lens berwarna biru laut dan berbibir merah dengan gigi terawat yang sangat putih.
“Kira!” panggil Inori bersahabat, lalu berlari kecil menghampiri teman kecilnya. Kira adalah tetangga Inori saat Inori kelas 4 SD pertama kali pindah ke GreenHill. Kira keturunan Indonesia asli tetapi terlihat ia agak berparas barat. Berbeda dengan Marla yang imut berdarah China. Kira cantik yang anggun dengan kaki yang panjang dan hidung yang mancung.
“Hai Kira, kau tetap menawan~” goda Marla yang menyusul mendatangi mereka berdua.
“Inori, ayo kita kekantin”kata Kira cuek pada Marla.
“Kira jahat, Marla dicuekin”kata Marla
“hm, jangan sok imut deh”
“Kyaa, Kira cool~!”
“haha” Inori tertawa dan membuat Kira malu.”Oh iya, aku mulai hari ini tidak ke kantin” kata Inori tersadar dari hasutan untuk mengisi perut.
“Kenapa?” Tanya Kira. Lalu dijelaskan oleh Inori untuk yang kedua kalinya dan juga tanpa menyebut atau menyinggung sesuatu tentang sang dokter.
“Oh, tapi tidak baik lo kalau tidak makan” koreksi Kira. “Paling tidak makanlah sedikit”
“Kupikir juga begitu..nanti kau sakit” sambung Marla.
“Be, begitu ya” kata Inori. “Kalau begitu ya apa boleh buat..ahaha aku makan sedikit deh”
Kedua teman Inori langsung berkesimpulan kalau Inori cewek yang simpel. Mereka berdua sebenarnya juga lumayan berpikiran simpel dan cuek. Karena tak mempermasalahkan soal curhat Inori tentang keuangan. Lalu tiba-tiba seperti insting hewan liar, Kira bertanya sesuatu pada Inori “Tunggu Inori, ngomong-ngomong sejak kapan kau kepikiran masalah keuangan, kegemukan masal, dan diet? setahuku kau sangat cuek soal begituan..” Tanya Kira dengan serius. Ia tahu dari gelagat Inori ada yang disembunyikannya.
“Eh, itu..”kata Inori berkeringat dingin bingung mau menjelaskan bagaimana, ia tidak bisa berbohong pada Kira dan ia tidak ingin menjelaskan kalau ia tergerak oleh nasehat dokter Arata. Tapi untungnya hal itu terputus oleh sesuatu yang datang.
“MADEMOISELLE~!!” tiba-tiba terdengar suara jauh dari depan Inori dkk berdiri. Rupanya itu adalah suara dari cowok bule yang tadi pagi ditabrak Inori. Cowok itu terlihat sedang dikerumuni cewek-cewek, tetapi ia buru-buru melepaskan diri dari mereka dan berlari kearah Inori.
“Siapa itu?” Tanya Kira dingin. Ia agak kesal pada orang asing yang memotong pembicaraannya dengan Inori.
“Cowok bule!”kata Marla.
“Eh? Maksudnya aku? Mademoiselle itu..”tunjuk Inori pada dirinya sendiri karna cowok itu makin dekat kearahnya dan pandangannya tepat tertuju pada Inori yang di pandang bingung oleh orang-orang sekeliling. Hampir dekat, cowok itu langsung memeluk Inori!
“MADEMOISELLE! Akhirnya bertemu!” kata cowok bule itu.
“Eh?! Apa?” Inori bingung dan salah tingkah. Dengan mata bagaikan hewan buas Kira memandang adegan itu setelah ia sadar dari syoknya yang memakan waktu 0,4 detik.
“Wah” kata Marla hanya berdiri diam melihat temannya dipeluk cowok asing yang benar-benar asing.
“Hei, apa-apaan kau!” kata Kira pada cowok itu.”Lepaskan Inori!” tapi cowok itu seperti tidak mendengar ucapan kira, dengan cuek dia terus memeluk Inori semakin erat dan hampir membuat Inori sesak napas. Sungguh cowok yang tidak sopan!
“Hmm, lembut~ benar-benar empuk~” kata cowok itu. Sambil terus memeluk Inori ia lalu melakukan hal yang tak terduga. Ia mengusapkan pipinya ke pipi Inori!
“Empuk~! Kau empuk dan kulitmu lembut sekali.. dan wangi~~!” katanya pada Inori dengan mata berbinar-binar “kok bisa ya~?” saat ia bertanya seperti itu, ia merenggangkan pelukannya, Kira yang sadar dari syok ronde keduanya lalu langsung mengambil kesempatan. Seperti Beruang lapar ia menarik lengan dan leher Inori dari cowok super tak sopan itu.
“Yah” kata cowok itu sayang melepas Inori.
“Jangan macam-macam ya! Tidak sopan sekali! yang kau sentuh dengan tangan kotormu itu temanku tahu!” kata Kira marah yang membuat kagum Inori.
“Deanish!” cewek-cewek yang tadi mengerumuni cowok bule bernama Deanish datang menyeretnya dan membawanya pergi menjauhi Inori dkk, atau lebih tepatnya menjauhi Kira dengan kecepatan yang mengagumkan. Deanish hanya bisa bingung.
“Tunggu~ aku masih ada perlu sama cewe itu~!”
“Jangan! Dia berbahaya!” kata salah satu cewe.
“ Iya! Lebih baik kau sama kita saja!” kata cewe yang lain. Lalu merekapun hilang dari pandangan.
Inori dan Kira yang masih sama-sama syok dan bingung hanya bisa berdiri dengan diam terpaku, tidak tau harus bilang apa.
“Seperti badai ya..dan ini lantai tiga”kata Marla.
“Dan itu cewek-cewek kelas tiga C” kata Kira.
“…” Inori yang masih syok tak bisa berkata apa-apa.
“Sebenarnya si bule itu kelas berapa sih?” Tanya Marla yang dijawab oleh keheningan dari kedua temannya.
Setelah itu mereka berjalan kembali menuju kantin sambil membicarakan cowok bule bernama Deanish tadi, sekaligus menceritakan pada Kira kejadian tadi pagi Inori pertama kali bertemu cowok bule itu. Kira yang dengan penuh rasa benci sibuk mencacimaki cowok itu, lupa akan tujuannya sebelumnya.
“Aku yakin dia kelas 3” kata Kira mengambil keputusan dari melihat teman-teman cewek bule itu yang anak kelas 3. “Bule kurang ajar, awas saja kalau bertemu lagi denganku” katanya lagi sambil mengepalkan tangannya.
“Tapi tadi makasih ya Kira” Inori berterimakasih dengan tulus pada Kira sambil tersenyum manis membuat pipi Kira yang putih menjadi kemerahan.
“Uhm, itu kan wajar”kata Kira jalan mendahului mereka, menyembunyikan wajahnya yang merah.
“Tapi kau beruntung lo di peluk bule setampan itu” kata Marla.
“Apa enaknya! Itu pelecehan!” sembur Kira kembali kesal.
“Dia pasti tau kau kelas tiga karena tadi pagi melihat kau naik ke lantai 3 Inori” kata Marla.
“Kurang kerjaan” kata Kira lagi.
“Pelecehan… sakit pula” kata Inori sambil memegang bahunya.
“Eh? Apa karna aku tadi memenggangnya terlalu kuat?” buru-buru Kira memeriksa bahu Inori.
“Tidak, kau tadi hanya memegang lenganku” koreksi Inori.”Yang sakit bahuku, tapi tidak terlalu sakit kok!,” koreksi Inori lagi, melihat ekspresi Kira yang seperti akan membunuh seseorang dan itu pasti anak bule bernama Deanish tadi.” lebih sakit waktu dipeluk nenekku..” lanjutnya tiba-tiba dan ia langsung terbayang saat ia dipeluk neneknya yang bernama Rinko waktu keluarga mereka berkunjung ke sana selama liburan dan baru pulang seminggu lalu sebelum ketemu dokter Arata. Dokter Arata! Tiba-tiba lagi ia teringat. Untung Kira tidak menanyakan tentang kasusnya lebih lanjut.
Kira sangat menyayangi Inori, trauma karena persahabatanya yang singkat dengan Inori pergi saat mereka masih kecil membuat Kira sangat protektif padanya sejak Inori kembali lagi ke GreeHill. Waktu kecil mereka sama-sama bersekolah di SD GreenHill tetapi Inori pindah kesekolah lain saat kelas 5 SD dan baru kembali lagi ke GreenHill tahun lalu masuk SMP kelas2 GreenHill dan sekelas dengan Kira.
“Nenekmu yang namanya Rinko itu ya? Setiap kau cerita aku selalu tertawa” kata Marla. “Aku jadi ingin bertemu dengannya, orang yang tidak bisa dilawan Inori”
“Orang berbahaya ya?” tanya Kira.
“Sangat bahaya!” kata Inori. Lalu mereka pun tertawa bersama sambil berjalan menuju kantin dan mulai sedikit menyinggung tentang tryout dan UAN walalupun hanya berlangsung sebentar karena tak satupun dari mereka yang peduli, bahkan Kira yang berada di kelas D. Kira sangat cuek soal nilai, Marla sangat percaya diri dengan nilai-nilainya begitu juga Inori, tetapi lebih tepatnya saat ini kepala Inori lebih penuh dengan kantin dan makan siang.
Kantin mereka indoor atau berada didalam gedung, tetapi hanya di lantai 1 dan 2, jadi mereka harus turun satu tangga dulu. Sebelum turun tangga dengan posisi Kira paling depan dan Inori paling belakang. Secara tiba-tiba saat Inori baru mau turun menyusul kedua temannya, ada tangan yang menahan Inori untuk turun. Tangan itu datang menghentikan gerakan Inori dari belakang. Seorang anak cowok, lagi, memeluk leher Inori dari belakang lalu mengemut pipi Inori!.
“Hieee~~!!!”pekak Inori. Yang membuat Kira dan Marla kaget langsung menoleh kebelakang diatas tangga. Mereka melihat pemandangan yang tidak asing apa lagi dengan hadirnya cowok bule yang sinting tadi. Pemandangan yang ini sepertinya lebih familiar bagi mereka.
“Yummy~! Makan siang sudah selesai~!!” kata cowok itu dengan wajah berseri-seri ,lalu mundur melepas cengkramannya dari Inori. Dengan terburu-buru ia lalu turun tangga dengan kecepatan yang tidak biasa melewati Kira dan Marla dengan mudahnya.
“Alan~!” Teriak Inori dengan wajah memerah.
“Alan! Kau~~!”Panggil Kira mengancam.
Cowok itu teman sekelas Inori dan Kira waktu kelas 2 SMP, ia adalah cowok super aktif yang sangat suka olah raga. Olah raga kesukaannya ialah kasti dan ia menjabat sebagai Kapten di ekstrakulikuler kasti SMP mereka. Saat inipun ia terlihat memegang bat pemukul kasti beserta sarungtangannya dan topi dikepalanya yang baru saja dipakainya. Topi berwarna merah itu terlihat sangat mencolok dengan rambutnya yang kecoklatan. Cowok satu ini juga berparas kebarat-baratan tetapi kulitnya agak coklat terbakar matahari. Ia terlihat siap menuju lapangan untuk melewati istirahatnya dengan bermain kasti bersama teman-teman anggota klubnya. Ia lalu berhenti dari pelariannya, merasa sudah cukup jauh dari jangkauan Kira kalau-kalau cewek yang terobsesi pada Inori itu mau menyerangnya.
“Wahahaha Kira serem~~!” ejeknya pada Kira sambil tertawa manis. “Inori!”panggilnya penuh makna pada Inori.“Nanti pulang sama-sama ya!” Lalu ia langsung berlari menuju lapangan sekolah tanpa mendengar jawaban Inori.
“Inori pulang denganku! Kau bakal kita tinggal!” teriak Kira pada Alan yang walaupun terdengar oleh Alan pun bakal ia hiraukan.
“Dasar, aku lupa ada yang lebih tidak sopan dari bule sinting tadi!” kata Kira.
“Haah, aku mau cuci muka” Kata Inori lemas, berjalan menuju toilet yang berada tepat 3 meter di belakangnya.
“Inori popular ya..?” kata Marla dengan makna dalam.
“Kau iri?” kata Kira.
“Nyindir ya?” kata Inori.
“Pikiran kalian negatif sekali..” kata Marla.
Inori yang campuran Jepang dari Ibunya dan Prancis dari Ayahnya membuat ia berparas imut tetapi juga anggun. Matanya seperti elang dari Ibunya, tetapi sangat cantik dengan warna hijau yang cemerlang. Rambutnya coklat kemerahan dan kulitnya sangat putih tanpa cacat dan itu membuatnya sangat mencolok. Sebenarnya dibandingkan Kira dan Marla, Inori lebih mencolok. Tetapi bagi mata orang kebanyakan terutama orang Indonesia yang biasa berpikiran orang gemuk itu jelek, bagi mereka Inori seperti anak turis nyasar yang kelebihan makan. Dan jika dilihat benar-benar ia lebih mirip boneka barat yang pipinya tembam dan luar biasa manis, dengan kulit super putih bersih dan rambut merah. Sampai-sampai membuat Alan ingin memakannya.
Hanya saja Inori tidak suka mencolok, ia lebih suka rambutnya di ikat kebelakang dan di cepol. Bukan karna rambutnya merah, tetapi ia tidak suka repot dengan rambutnya tergerai dan ia harus merapikannya setiap saat. Ia juga lebih suka memakai lengan panjang, bukan karna kulitnya putih atau takut matahari, tetapi karna saat ini musim hujan dan udaranya lembab ditambah jika di kelas akan terasa makin dingin karena setip kelas memakai AC. Penampilanya yang sederhana menguntungkannya dan itu membuatnya nyaman. Itulah Inori.
LINIE IV
Sesampainya di kantin, anak-anak di situ sedang pada heboh membicarakan soal murid baru dari Inggris yang masuk kelas 3. Sepanjang jalan menuju stand makanan yang mereka tuju, suara-suara yang membicarakan Deanish tak terlewatkan untuk didengar Inori dkk.
“Wah, benar kelas 3…” kata Marla.
Saat ini mereka sudah duduk di meja dengan makanan yang sudah mereka beli.
“Tebakan Kira benar..” Kata Inori. Tetapi sebenarnya ia agak sedikit kepikiran pada anak bule kelas satu yang dibicarakan Marla tadi pagi. Apakah itu anak yang sama dengan yang sedang dibicarakan ini.
“Marla, kalau anak bule yang katamu kelas satu itu, apakah anak yang sama dengan yang tadi?” tanya Inori pada Marla.
“Aku hanya mendengar tadi pagi di loker ada yang membicarakannya” kata Marla. “Mungkin mereka keliru”
“Gosip bisa keliru” kata Kira.
Lalu mereka makan dengan tenang sambil mengobrol tentang liburan yang mereka lewati. Marla berlibur ke Paris dengan seluruh anggota keluarganya yang terdiri ayah, ibu, satu orang kakak yang sudah menikah bersama istrinya dan 2 orang adik. Disana ia pergi ke berbagai tempat yang indah dan ke konser musical yang merupakan hobinya. Sedangkan Kira liburan ke Hawai mengunjungi pamannya yang tinggal di sana. Ia pergi sendiri, karena keluarganya yang hanya terdiri dari ayah dan ibunya tetap bekerja saat liburan.
Walaupun Kira pergi ke Negara tropis, Kira tidak terlihat terbakar kulitnya. Ia tetap terlihat putih bercahaya, membuat anak-anak cowok maupun cewek kelas tiga dan dua melirik kearahnya. Seakan tak mau kalah, sebagian dari mereka juga lalu melirik ke arah Marla, karena Marla tak kalah imut dari Kira yang lebih dominan anggun. Mereka hanya menoleh kearah Inori sesaat dan langsung tak tertarik karena image ‘gemuk’.
Saat bel tanda masuk, mereka yang keasikan ngobrol buru-buru kembali kekelas lalu belajar seperti biasa. Akhirnya mereka melewati hari itu dengan lancar-lancar saja sampai pulang pukul 13.00. Kehidupan sekolah Inori hari ini agak aneh dimulai dengan melewati pagi hari yang lebih heboh dan dengan kehadiran si cowok bule Deanish anak baru kelas tiga. Inori pikir itu mungkin sebagai tanda bahwa ia telah memulai hari yang baru menuju masa depan yang berbeda menjadi lebih baik.
Sambil berpikir begitu Inori juga sangat menanti untuk bertemu dokter Arata nanti sore, tapi sebelumnya ada beberapa hal yang harus ia lakukan. Ia harus pergi ke klub kuliner kakaknya untuk mengajukan surat berhenti dari klub. Rencana ini sudah ia pikir masak-masak tadi malam dan untung saja ia teringat kembali.
Rencananya ialah sebelum klub kakaknya mulai, ia harus bertindak lebih dulu dengan sampai di klub kakaknya dan memberi surat berhenti pada ketua klub kuliner itu. Hal itu harus ia lakukan karena ia takut kakaknya tidak mau berhenti dari klub. Memang agak memaksa, tapi itu demi kakaknya juga. SMU kakaknya pulang sekolah pukul 14.30, jadi Inori hanya punya waktu setengah jam untuk menuju klub kakaknya yang ia juga tidak tahu ada dimana, maka ia akan memakan sedikit waktu untuk bertanya kepada orang saat diperjalanan nanti.
Inori lupa untuk memberitahu Kira tentang rencananya ke-klub kakaknya, karena itu sebelumnya ia minta tolong pada Marla untuk memberitahukan pada Kira dan Alan bahwa Ia bakal telat, dan ia juga meminta Marla untuk memberitahu mereka kalau mereka lama menunggunya kembali, pulang saja duluan tanpanya. Membayangkan Kira dan Alan pulang bareng adalah suatu fenomena yang langka, dan itu membuat Inori terkekeh sendiri.
“Baiklah” kata Marla bersedia membantu Inori menyampaikan pesannya. “ semoga Kira atau Alan cepat keluar dari kelas mereka” sebenarnya Marla tidak ikut pulang bareng Inori dan Kira karena arah pulangnya berbeda. Rumahnya berada di blok 1 bagian utara, dan lagipula Marla selalu pulang dan pergi sekolah dengan diantar jemput yang selalu cepat mengantarnya pulang, dan langsung pergi lagi dengan cepat untuk les biola pada pukul 15.00 sampai 17.00.
Dengan berjalan cepat tapi hati-hati, Inori buru-buru ke-SMU kakaknya. Ia mengambil jalan samping dari sekolahnya, karena pintu keluar dari situ lebih dekat dengan kelasnya. Sambil terus berjalan ia melewati gedung olahraga yang didalamnya masih banyak anak-anak bermain sekedar membuang waktu atau kegiatan klub. Lalu ia melewati klub renang dengan anggota yang dominan cewek sedang berenang dengan asiknya, juga melewati klub basket yang berada tepat disebelah klub renang dengan dominan anggotanya cowok, walaupun ada juga yang cewek dengan pemisah pada bagian tengah lapangannya. Setelah melewati klub basket, Lalu terlihat didepannya gedung SMU kakaknya yang dibatasi lapangan besar Klub sepak bola, yang dikelilingi lintasan berlari anak-anak klub marathon dan sprinter. Baru kali ini Inori kesekolah kakaknya, dan itu membuatnya agak gugup.
Pagar terali besi yang membatasi wilayah SMP dan SMU terlihat jelas dari kejauhan. Disipitkan mata Inori untuk mencari pintu masuk wilayah SMU. Sambil terus berjalan matanya teralihkan oleh suara seperti berdesit dengan kencang dari kejauhan. Di sebelah kirinya tanpa ia tahu selama ini walaupun dari jauh dan hampir tidak kelihatan, terdapat klub memanah atau panahan.
Suara panah yang kencang menyita perhatian Inori sebentar, yang lalu rasa penasaran mengalahkan tujuan utamanya, revolusinya. Dari jauh ia dapat melihat palang-palang sasaran yang berderet, dengan anak panah yang tertancap dan berserakan disekeliling papan-papan tersebut menandakan baru saja digunakan. Terkesima oleh papan-papan itu, membuat Inori penasaran dengan siapa yang memanah. Matanya mencari sosok yang membuatnya penasaran, dan sekilas ia melihat seorang anak lelaki berkulit agak gelap dan berambut hitam pekat sedang memanah dengan sikap yang tegap padahal tubuhnya tidak besar, tetapi sasarannya selalu tepat. Satu dari papan-papan sasaran tersebut terdapat satu papan yang merupakan sasaran anak cowok itu. Satu-satunya papan sasaran dengan anak panah yang tidak berserakan.
Sesaat Inori terpesona pada sosok siswa yang entah kelas berapa itu, lalu ia tersadar akan tujuan utamanya. Dengan buru-buru Inori mengambil langkah seribu melewati lapangan besar sepak bola dan menuju pintu berterali yang merupakan pintu masuk menuju SMU GreenHill. Pintu ini ada 2 dengan yang satunya lagi ada sejajar terali ini jauh di sebelah kanan Inori, berada di ujung satunya lapangan besar klub sepak bola. Terali yang membatasi SMU dan SMP GreenHill ini hanya di buka saat jam pulang sekolah. Untunglah Inori tidak kecepatan, karena pintu terali ini sudah terbuka.
Anak pertama yang ditemui Inori di SMU kakaknya dimintai tolong oleh Inori untuk memberi tahu jalan ke klub kuliner. Pertama anak itu agak bingung karena sepertinya klub kuliner tidak terlalu terkenal. Lalu ia memanggil temannya yang lain untuk memberi tahu dimana klub itu berada, temannya tahu. Ia memberi tahu jalan-jalannya dengan detail kepada Inori.
“Lalu kamu belok kekanan dan sampai. Klub itu mencolok kok karna namanya di tulis besar-besar di pintu masuknya. Kamu pasti langsung tahu kalau melihatnya. Oh iya, hari ini SMU pulang cepat jam setengah satu, jadi kau beruntung karna sekarang klub itu pasti sudah buka” kata anak itu ramah. Ia anak cewek cantik berkacamata yang murah senyum.
Inori lalu tersadar akan kebodohonnya. Bagaimana mungkin klub di buka kalau anggotanya belum pulang! Kalau saja hari ini SMU tidak pulang cepat, pasti sia-sia Inori datang cepat-cepat ke klub kakaknya. Tapi sekarang lebih gawat lagi! Berarti kakaknya sudah dari tadi datang ke klub dan pasti akan makan-makan yang enak di klubnya tanpa peduli janjinya!
“Terimakasih!” kata Inori buru-buru pada anak cewek itu dan temannya yang sebelumnya ditanyai Inori. Lalu ia-pun secepat kilat pergi menuju jalan yang ditunjukkan anak tadi. Kata-kata makan enak membutakan matanya dan membuatnya begitu tidak percaya pada kakaknya.
DUAK
“Aduh” kata Inori. Jatuh terduduk menabrak seseorang. Ini kedua kalinya ia menabrak seseorang hari ini! Dan itu membuatnya malu kali ini, apalagi ia sampai jatuh terduduk. Ia yakin saat ini pasti tampangnya sangat memalukan.
“Maaf!” katanya buru-buru pada orang yang ditabraknya.
“Lain kali hati-hati” kata orang itu datar.
Lagi-lagi yang ditabrak Inori adalah cowok, tapi sepertinya yang satu ini lebih mengancam. Sosoknya luar biasa besar karena tubuhnya yang luar biasa tinggi. Walaupun Inori melihatnya dalam keadaan terduduk, tapi ia yakin cowok ini sangat tinggi, lebih tinggi dari kakaknya. Rambutnya berwarna merah dan diikat, Lalu mata dan tampangnya sangat mengancam. Inori jadi teringat dengan film-film barat yang ada mafianya atau film-film jepang yang ada yakuzanya. Cowok ini tidak terlihat akan bermaksud untuk membantu Inori berdiri. Setelah melihat kearah Inori sesaat tanpa menundukkan wajahnya, ia langsung jalan seperti biasa seakaan-akan Inori cuma serangga yang numpang lewat dan menabraknya.
“Cuek banget!” pikir Inori, ”Rambutnya diwarnai tuh? Apa tak ketahuan oleh guru?” tetapi ia tidak mau memperpanjang masalah apalagi dengan orang yang menakutkan itu, anak SMU pula!. Lalu dengan buru-buru Inori berdiri dan langsung berlari lagi tetapi dengan lebih hati-hati menuju ruang klub kakaknya.
Setelah sekitar 5 menit menyusuri jalan yang diarahkan cewek yang ditemuinya tadi akhirnya Inori sampai pada tujuannya. sesampainya Inori ke pintu mencolok yang disebut cewek itu, Inori mendapati ruang tersebut terkunci. Ia yakin ini ruang yang benar, karena dengan sangat jelas dan mencolok dipintu tersebut bertuliskan KLUB KULINER dengan besar yang dibentuk dari menempel gambar-gambar foto makanan yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk tulisan.
Lalu Inori melihat kertas yang digantung diganggang pintu. Kertas itu bertuliskan pesan “ SEDANG INSPEKSI KULINER. LOKASI: BLOK M3 RUKO UTARA”. Rupanya kakaknya dan teman-teman klub kulinernya sudah pergi duluan untuk melaksanakan kegiatan klub mereka. Fakta itu membuat Inori panas.
“Kakak~~~~~!! awas ya kalau ketemu~~~!!!” teriak Inori dalam hati. “Padahal aku sudah capek-capek ke sini! Seperti orang bodoh saja! Menabrak orang, lagi!”
Dengan cepat Inori sudah sampai lagi ke sekolahnya. Ia langsung menuju pintu gerbang keluar sekolahnya yang sudah di tunggu Kira dan Alan yang tentu saja Marla sudah pulang duluan. Biasanya memang mereka bertiga sering janjian ketemu di gerbang ini.
“Itu Inori” kata Kira.
“Iya” sambung Alan, “ Inori~!,” panggilnya riang.
Tetapi lalu mereka terdiam kaku.
“Kok wajah Inori agak seram ya..” kata Alan.
“Inori? Ada apa?” kata Kira bertanya pada Inori yang sudah dekat dengan mereka.
“Bantu aku mencari kakakku!” kata Inori pada kedua temannya yang lebih tepat disebut perintah dari pada meminta tolong.
Mereka lalu berjalan cepat menuju ruko utara yang berada tepat di samping SMP Inori. Sambil berjalan dan memeriksa isi ruko satu persatu Inori menjelaskan masalahnya pada temannya.
“Tadi aku ke klub kakakku bermaksud menyerahkan surat berhenti dari klub untuk kakakku, tapi ternyata sekolahnya sudah bubar dan klubnya sudah kosong dengan pesan mereka ada di salah satu ruko di sini.” Jelas Inori.
“Heh..”Kata Kira tak tertarik. Ia hanya senang bisa berjalan dengan Inori setelah 1 bulan liburan.
“Kenapa kau mengajukan surat berhenti? Apa kakakmu yang memintamu?” tanya Alan.
“Tidak, aku yang ingin dia berhenti.” kata Inori.
“Kenapa?” tanya Alan lagi, ia sebenarnya kurang setuju dengan Inori memberhentikan kakaknya dari klubnya secara sepihak.
“Karna itu demi dia!” kata Inori tegas.
“Tapi tetap saja itu tidak baik Inori, kau tidak boleh seenaknya..” Kata-kata Alan terputus oleh suara ribut di ruko depan mereka. Ruko yang menjual bakpao.
“Lagi! Lagi! Lagi! Lagi! Lagi!” kata suara itu.
“Makan lagi~~~~!!!” teriak suara itu lagi dengan heboh.
“Kalian, hentikan!” kata seorang cewek yang juga berada dalam kerumunan itu. Tapi ia sepertinya tak cukup kuasa menghentikan teman-temannya. Lagi pula suara cewek ini sangat kecil.
Saat Inori dan dua temannya mengintip ke dalam, ia melihat pemandangan paling menakutkan yang pernah dilihatnya.
“Kakak!” kata Inori buru-buru berjalan ke arah kakaknya. Suara teriak yang ribut itupun langsung berhenti. Dengan wajah ngeri Inori melihat kakaknya terduduk lemas di kursi restoran dengan mulut penuh bakpao yang disodok bolat-bulat kemulut kakaknya oleh teman-temannya.
“Siapa?” kata salah satu dari mereka.
“Adiknya Haru?” kata yang lainnya.
Mereka semua terdiri dari 5 orang berikut kakaknya.
“Kakak bertahanlah!” kata Inori sambil berusaha mengeluarkan semua bakpao-bakpao gemuk itu dari mulut kakaknya. “Apa yang kalian lakukan pada kakakku! Jahat sekali!” kata Inori marah pada teman-teman kakaknya.
“Maaf, ini sebenarnya salah saya” kata seorang cewek.
“Ini bukan salahmu Ayu!” kata salah seorang cowok yang paling tinggi dari kedua kawannya yang menahan Haru. Mereka bertiga pendek-pendek bahkan tak bisa mengalahkan tinggi Inori.
“Sialan kalian, jangan bilang-bilang,” kata Haru sudah lega setelah di beri minum Inori.
“Dia ini mau berhenti dari klub tapi tetap mau main kerumah Ayu!” kata cowok yang paling kecil di situ.
“Alasannya diet! Menyebalkan! Tidak bisa dibiarkan!!”kata cowok yang paling gemuk.
“Hah?” kata Inori, Alan dan Kira bersamaan.
“Brengsek! Jangan bilang-bilang di depan adikku!” kata Haru dengan wajah merah tetapi bukan karena marah, lebih tepatnya malu.
“Eh? Kenapa?” kata Inori penasaran, lalu berbisik pada kakaknya,” jadi dia yang kakak taksir?” goda Inori.
“Bukan!” kata Haru panik.
Cewek bernama Ayu itupun akhirnya maju ketengah-tengah. “Saya ketua klub kuliner,”katanya. “Ayu, salam kenal ya” sapanya sopan sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Inori.
“Inori, saya adiknya kak Haru” kata Inori juga sopan sambil bersalaman dengan cewek kalem itu. Lalu cewek bernama Ayu itu juga berkenalan dengan Kira dan Alan.
“Jadi apa masalahnya?” Tanya Inori. Haru sudah ditahan badan dan mulutnya oleh 3 orang teman cowoknya. Sebesar apapun badan Haru, kekuatan 3 cowok gemuk yang lebih kecil darinya tetap tidak bisa ia kalahkan. Yang aneh adalah cewek ini. Dia bertubuh biasa, tidak gemuk tapi juga tidak kurus padahal ketua klub kuliner dan anak buahnya pada gemuk-gemuk.
“Kakakmu bermaksud untuk berhenti dari klub” jelas Ayu. “Tetapi ia tetap ingin dapat berkunjung ke rumahku seminggu sekali yang merupakan salah satu kegiatan klub kuliner”
“Kenapa di rumah kak Ayu?”
“Hmp!Hmp!” ronta Haru tak berdaya.
“..Hanya untuk sekedar rapat, dan juga karena mereka tidak enak jika aku sendiri yang seorang perempuan mengujungi tempat tinggal laki-laki, karena itu diputuskan dirumahku” jelas Ayu.
“Benar! Dan juga karena di rumahnya ada kamus berjalan!” kata yang paling tinggi.”aku Rio!”.
“Iya benar! Adik Ayu sangat membantu kita dalam mencari data makanan yang enak!” kata yang kecil.”Edi”.
“Dia kan anggota hantu klub kuliner yang penting!”kata yang paling gemuk.”dan aku Oki”.
“Hiraukan masalah itu, si brengsek ini ingin berhenti tapi tetap ingin punya wewenang ke rumah Ayu! Tidak bisa dimaafkan!” kata Rio.
“Terjun saja kelaut!”kata Edi.
“Seenaknya saja! Pacarnya Ayu juga bukan!” kata Oki.
“Berkunjung sebagai teman kan boleh!” kata Haru yang pegangan ketiga temannya telah lepas.
Selanjutnya mereka bertengkar sendiri.
“Kakak inisiatif sendiri untuk berhenti…” kata Inori terharu.”Hebat..”
“iya” kata Ayu ikut terharu.
“Jadi yang di taksir kakakku itu kak Ayu ya? Mohon jaga kakakku ya..” kata Inori.
“Tidak, bukan aku yang di taksirnya..” kata Ayu sambil tersenyum nakal.
“Bukan?” Inori mulai bingung.” Tapi jelas-jelas ada yang ditaksirnya, kak Haru selalu jujur pada ekspresinya. Lalu kenapa dia tetap ingin berkunjung setiap minggu ka rumah kak Ayu?”
“Aku mempunyai adik kan? Dialah yang di taksir kakakmu. Si kamus berjalan” kata kak Ayu bangga dengan julukan adiknya.
Fakta itu membuat Inori, Kira dan Alan kaget. Jelas-jelas dengan melihat ketiga teman kak Haru tadi bahwa wajah tersembunyi klub ini ialah klub fansnya kak Ayu. Tetapi tanpa disangka yang disukai kakaknya Inori malah adiknya kak Ayu. Berarti sebelum masuk klub ini, Haru sudah naksir pada si kamus berjalan itu.
“ Suka daun muda!” itulah kata-kata yang ada di kepala Inori, Kira dan Alan.
“Hei kalau mau berkelahi di luar!” teriak pemilik toko pada mereka.
Setelah itu pertengkaran mereka reda, dan sekarang mereka sudah berada di luar toko tadi. Lalu sekali lagi Inori meminta dengan sopan pada sisa anggota klub kuliner kakaknya agar kakaknya diperbolehkan berhenti.
“Menurut saya berkunjung ke rumah teman itu wajar,” kata Inori membela kakaknya. “Dan itu hak kak Haru, kalau kalian masih melarangnya kalian akan berurusan denganku!”
“Inori bicara apa kau?” kata Haru.
“Bicara apa kau, Cuma adiknya Haru!”
“Iya! Bisa apa kau?”
“Cebol!” itu jelas-jelas pernyataan yang tidak benar mengingat tubuh mereka sebenarnya tidak lebih tinggi dari Inori.
“Aku memang cewek dan bisa dibilang tidak bisa apa-apa, tapi kalau untuk melawan orang yang menghalangi kebahagiaan kakakku, kalian akan kulawan!” tantang Inori berani.
“Inori, kau jangan membuatku malu” kata Haru menegur Inori padahal dia senang adiknya membelanya sekuat tenaga.
“Apa! Jangan…macam….” Kata Rio ingin mulai beragumen lagi tetapi seperti ditahan sesuatu.
Rupanya Kira dan Alan dari belakang Inori dan kakaknya sudah memasang ancang-ancang untuk berkelahi, dan tatapan mereka lebih ganas dari harimau yang kelaparan plus mengeluarkan aura yang menakutkan.
“Su, sudahlah kalau begitu! Aku gak mau tau! Pokoknya kalau kita bertemu denganmu di rumah Ayu, kau bakal kami usir!” kata Rio lagi.
“Dengar itu Haru!” kata Edi.
“Awas ya! Ayo Ayu!” kata Oki sambil mengajak Ayu untuk pergi.
“Iya, maaf ya Haru, Inori, dan temannya Inori” kata Ayu. “Haru, kau boleh datang kapan saja kok, lagian kalau tiba-tiba kau tidak datang nanti adikku bingung” mata Ayu berkedip pada Inori.
“Ayu..! kau sudah cerita ke adikku ya…??!” kata Haru dengan ekspresi sebal.
“Sampai besok Haru~ dadah Inori~temannya Inori~ nanti kapan-kapan aku kasih tau restoran yang enak dimana deh~ ah tapi lebih enak langsung tanya ke masternya ya~??” goda Ayu.
“Ayu!” kata Haru mulai sedikit kesal.
“hahaha” suara Ayu pun semakin tak terdengar.
“Kak Ayu orang yang lembut dan cantik,” kata Inori. “Aku jadi penasaran pada adiknya si kamus berjalan itu”
“Jangan panggil dia kamus berjalan!” kata Haru tanpa sadar.
“He…cie…kasmaran ni~~” goda Inori.
“Selamat berjuang Kak! Semoga sukses!” kata Alan.
“Selamat” kata Kira.
“Kalian~~! Anak kecil pulang sana! Sudah sore tau!” teriak Haru dengan wajah super merah apa lagi karena terkena cahaya matahari senja.
Sudah sore! Pikir Inori. “Aku lupa pergi ke klinik dokter Arata!” teriaknya dalam hati. Sambil melihat jam harapan Inori untuk berkunjung ke klinik dokter Arata-pun pupus sudah. “Sudah jam setengah lima lewat...” kata Inori kecewa. Waktu berjalan dengan cepat tanpa disadarinya.
“Kenapa Inori?” kata Kira, dan ditatap bingung oleh Haru dan Alan.
“Tidak..ahaha” senyum Inori yang canggung membuat teman dan kakaknya semakin bingung.
Setelah berjalan pulang bersama-sama dengan Alan berpisah di tengah jalan lalu disusul oleh Kira. Akhirnya Inori sampai kerumahnya. Revolusi hari ini lumayan berhasil satu langkah dengan kakaknya berhenti dari klub yang membuatnya makan setiap hari dengan porsi yang besar, klub kuliner. Tapi hal baik tersebut harus dibayar Inori dengan ia tidak bisa menemui dokter Arata hari ini.
“Hikz”
“Kau kenapa sih?” Tanya Haru lagi. “Tenang, beratku Cuma nambah 2 kilo kok hari ini”tadi sebelum pulang mereka mengecek berat di toko yang menjual timbangan badan. Hal itu membuat Inori sedikit kesal karena beratnya bertambah juga 1 kilo padahal hari ini ia makan sedikit! “Ini berat stress!” katanya dalam hati.
“Aku pulang~!” kata Inori dan Haru bersamaan.
Saat membuka pintu rumah mereka dan melihat kearah dapur, yang pertama mereka lihat adalah Natsu, Natsu yang sedang makan dengan lahap!. Tidak dipercaya! Sekarang hampir jam lima sore dan Natsu masih makan! Sejak kapan dia makan???.
“Natsu..” kata Inori geram dengan suara mengerikan dan wajah yang horror sampai-sampai Haru-pun seram melihatnya.
LINIE V
HAUP HAUP
HAUP HAUP HAUP
Tanpa kenal lelah seperti kuli bangunan yang habis bekerja seharian, Natsu makan dengan lahap tak kenal waktu. Sulit dibedakan dia lebih tak kenal waktu saat main game atau saat makan. Mungkin lebih tak kenal waktu saat main game, karena ia sanggup melakukannya sampai pagi.
Sebenarnya hari ini nasip Natsu sangat tidak baik, bertolak belakang dengan Inori. Sangat ironis, Natsu yang dari pagi hanya makan roti selembar lupa membawa uang saku kesekolah. Ia baru sadar saat istirahat siang, jadinya ia kelaparan sepanjang hari. Dan parahnya tadi pagi ia kesekolah tidak dengan ojek. Ia berniat berolah raga sedikit dengan berjalan kaki ke sekolahnya. Alih-alih melaksanakan revolusi dietnya Inori (ceritanya mau tobat ni…). Tetapi setelah itu ia mengutuk-ngutuk Inori akan diet massalnya. Natsu tak mau meminjam uang pada temannya dan tak mau juga mengakui bahwa ia lupa bawa uang saku pada teman sekelasnya. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari pertama Natsu di SMU. Alasan pertama, ini adalah hari pertamanya di SMU dan banyak temannya ialah teman-teman baru, Banyak anak-anak yang tidak ia kenal. Sebelumnya Natsu SMP di GreenHill School, tapi karna tak tahan dengan standar sekolah tersebut, maka ia memutuskan masuk SMU negeri yang normal. Lagi pula sebenarnya ia tidak terlalu bisa akrab akrab dengan orang. Natsu termasuk anak yang cuek dalam bergaul, dan juga karena rata-rata teman yang mengobrol dengannya tidak nyambung. Dan Natsu yang super cuek sama sekali tak berpikir untuk menyambung-nyambungkan obrolan dengan temannya. Menurutnya itu buang-buang waktu dan sama sekali tak berguna. Padahal itu sungguh berguna untuk sosialisasinya!.
Kembali kemasalah awal. Natsu tak makan apapun seharian ini!. Ironisnya lagi hari ini ia ada pelajaran olah raga. Maraton pula!. Sungguh hal itu membuat perutnya sangat tak berdaya. Saat pulang sekolah jam setengah dua ia masih disuruh ketua kelas untuk membersihkan kelas dan menyusun bangku. Hari ini pula Natsu dan 4 orang teman sekelasnya terpilih untuk tugas piket. Inilah tidak enaknya sekolah negeri,ada piket!. Pulang-pulang sudah jam 3 sore. Karena tidak bawa uang saku maka ia terpaksa pulang jalan kaki lagi. Sebenarnya ia bisa saja membayar ojeknya di rumah, tapi ia tak menemui satupun tukang ojek yang lewat!, bahkan angkot! Tentu saja ia sebenarnya tidak bisa juga naik angkot karena angkot tidak bisa masuk kedalam komlpek perumahan, lagi pula ia tidak punyak uang satu rupiahpun dan benci angkot!. Natsu mengutuk dirinya sendiri karena lupa membawa uang jajan.
Sesampainya ia di rumah sudah jam 4 lewat. Natsu tak mau berlari pulang kerumah ataupun berjalan cepat, karena itu sangat menguras tenaga dan ia tidak punya tenaga lagi. Maka ia pulang dengan berjalan santai yang pelan dan memakan waktu 1 jam lebih untuk sampai rumahnya. Seperti di neraka!. Ia jadi benci jalan-jalan yang ia biasa lewati, kenapa begitu jauh dan menyiksa!.
“Selamat da..tang…” kata Natsu lesu meniru kata-kata shinchan di salah satu stasiun televisi Indonesia.
Snif Snif
Bau makanan yang enak langsung memenuhi hidungnya. Tanpa ia sadari ia sudah berada di meja makan meratap pada lauk yang berlimpah seperti ada pesta saja. Membuatnya bersyukur akan hobi memasak ibunya.
“Ha….~ itadakimasue~~~” katanya langsung duduk dimeja makan, membuka piring mengambil nasi sebanyak yang piringnya muat, lalu mengambil lauk. Sebelum makan ia minum dengan rakus 3 teguk air putih yang sudah tersedia di samping piringnya.
Ayam goreng yang masih hangat, beragam sayur, lalapan, ikan, sosis, nugget, dan sebagainya tersedia dimeja makan ukuran 2,5x1,3 meter ini dan memenuhi piringnya. Dengan lahap Natsu memakan semua lauk pauk itu tanpa pandang bulu, sepertinya langsung ia telan. Ia ingat perasaan ini. Perasaan yang memenuhi mulut, kerongkongan, dada dan perutnya. Seperti sudah 3hari tidak makan, ia melahap satu persatu makanan yang di ambil dengan sendoknya. Merobek daging dengan giginya yang masih sangat kuat, menyodok sayur, mengambil sambal, memakan lalapan, dan minum, semua itu ia lakukan berulang-ulang tanpa kenal waktu sampai sesuatu- suatu makhluk mengerikan yang muncul di belakangnya tanpa ia sadari bermaksud menenggelamkannya kedasar laut.
“Natsu…..!” suara horror Inori membuat kaget natsu sampai-sampai ia menyemburkan sisa makanan dimulutnya yang tak sempat ia telan, dan ia menyayangi hal tersebut. Sekarang ia tak yakin ia bakal bisa makan lagi setelah adik super cerewetnya yang mengalahkan ibunya pulang. Melihat wujud Inori membuat wajah Natsu langsung memucat dan badannya tiba-tiba menjadi tegang sekaligus berkeringat dingin.
“I..Inori..” kata Natsu menyapa adiknya masih sambil memegang sendok dan garpu. Wujud Inori saat ini sangat menyeramkan. Aura gelapnya memenuhi ruang makan. Betapa bodohnya Natsu tak menyadari hal itu. Nafsunya pada makanan telah mematikan semua indranya.
“I, ini salah paham! Aku baru saja pulang sekolah dan baru makan!” Jelas Natsu buru-buru pada Inori. Sekarang ia sudah berdiri dari tempat duduknya, seperti menghindari TKP tapi masih memegang senjata tanda bukti, yaitu sendok dan garpu.
“Salah paham~~~?” Tanya Inori dengan emosi memenuhi kepalanya melihat pemandangan dibalik kakaknya berdiri.
Natsu melihat kakak tertuanya di belakang Inori, Haru menggeleng-geleng tanda menyerah padanya, dan kasihan pada adik pertamanya itu atas kebodohannya menyembunyikan bukti. Seakan-akan berkata “ tidak bisa, menyerah sajalah, tamatlah kau”. Wajah Natsu langsung makin pucat, sebenarnya ia tidak pucat, bahkan sangat cerah dan pipinya merah menandakan ia sudah cukup nutrisi bahkan berlebih. Tenaganya sudah sangat penuh dan ia tidak merasa capek lagi atau lesu ataupun kesal sekarang. Yang ia rasakan sekarang hanyalah keteganggan karena melanggar tatatertib baru di rumahnya yang melarang makan berlebih dan yang setau Inori ia sudah makan selama 3 jam lebih.
“Ini salah paham!” jelasnya lagi, walaupun ia tau bahwa percuma menjelaskan kalau ia baru pulang dan baru makan. Ia sadar walaupun ia baru pulang setengah jam yang lalu, tapi setengah jam itu baginya cukup untuk menghabiskan 4 piring penuh nasi dan lauk. Itu semua akan sama saja di mata Inori adiknya dan dimata orang normal manapun. Dan benar saja dugaannya.
“Salah paham kepalamu! Itu sudah lebih dari 3 piring! Nasinya saja bahkan tinggal seper4 begitu!” kata Inori murka.
“Aku baru pulang setengah jam yang lalu kok!” ujar Natsu masih berusaha membela diri.
“Setengah jam! Waktu setengah jam itu cukup buatmu untuk menghabiskan 1 baskom nasikan?!” tuduh Inori mengada-ada.
“Mana pernah Ibu memasak satu baskom! Kau mengada-ada!”
“Makanan ini…” tunjuk Inori geram pada TKP.”pasti kau sudah makan setengahnya kan? Tapi masih banyak begini…hanya sayur yang habis…” kata Inori ngeri melihat kearah lauk pauk super banyak itu dan sayur yang sudah tak bersisa. Natsu suka makan sayur. “semua ini..perbuatan Ibu..” geramnya.
“Ibu~~!!!” panggil Inori pada Ibunya. Mulai mencarinya keruangan lain.
“Waks, lauknya masih begini banyak..sayang..,” kata Haru melihat lauk pauk dimeja makan mereka. Ia mulai berani bicara dan maju setelah adik perempuannya tidak ada.
“…” Natsu tidak bisa berkomentar lagi, setidaknya ia tau Inori percaya padanya bahwa ia baru pulang.
“Natsu! Kau jangan makan lagi!” kata Inori pada Natsu, sembari ia mencari Ibunya.” Kak Haru! Jangan ikut-ikutan Natsu! Kakak baru saja nambah 2 kilo! Jangan lebih gemuk lagi!”
“Dua kilo?” Tanya Natsu pada Haru.
“uuh, ini ada alasannya..” kata Haru dengan pipi memerah. Mereka berdua akhirnya duduk di sofa ruang tamu TV, menghindari godaan makanan buatan Ibu mereka. Selain karena nafsu makan, juga karena masakan Ibunya memang enak. Sangat mengundang!
“Ibu~!” Setelah mencari di semua ruang lantai 1 Inori dengan cepat langsung naik ke lantai 2.
“Hiro mana?” Tanya Haru pada Natsu.
“A! aku baru sadar..aku tak melihatnya sejak aku pulang..” kata Natsu.
“Semuanya tertutup oleh nafsu makanmu ya?” kata Haru.
“Hiro!” begitu sampai di lantai 2 yang pertama kali dilihat Inori adalah Hiro yang sedang bermain sendirian di tempat bermainnya.
“Kakak~” sapa Hiro. Gembira melihat kakaknya.
“Kau sudah makan Hiro?” Tanya Inori sambil membelai kepala Hiro.
“Dah~!” jawab Hiro sambil tersenyum lebar.
“Tapi.. Ibu pasti lupa mengajakmu jalan-jalan y…?” Tanya Inori.
“Alang Alang..?” Kata Hiro bingung. Benar saja! Ibunya lupa mengajak Hiro untuk jalan-jalan seperti yang dijanjikan dalam rencana program diet Inori untuk Hiro!.
Inori lalu mulai lagi mencari Ibunya yang diikuti oleh Hiro sambil merangkak.
“Ibu!” akhirnya Inori menemukan Ibunya sedang duduk di teras luar rumahnya.
Ibu Inori tertidur menyandar di kursinya. Ia terlihat masih memakai celemek dan memegang sendok penggorengan. Ia terlihat sangat lelah dan merana. Inori tertegun sesaat melihat pemandangan ini. Ada sesuatu di Hati-nya yang membuatnya sedih.
“Maaf Inori…” gumam Ibunya tak sadar.
Inori tau dan sadar bahwa Ibunya yang bekerja sebagai Ibu rumah tangga pasti sangat capai. Tanpa pembantu, sepanjang hari kegiatan Ibunya adalah menyapu, mengepel, mencuci, membersihkan seluruh ruang, merapikannya, menyetrika, dan sebagainya. Semua itu pasti sangat membuatnya capai dan menyita waktunya untuk memanjakan diri. Hal yang paling ibunya sukai ialah hanya memasak. Dan yang paling buruk ialah, Inori telah merebut satu-satunya hal yang paling Ibunya sukai itu. Hobinya, kebebasannya.
“Maaf Ibu..” kata Inori sedih sambil menatap iba Ibunya yang kecapaian.
“Kak?” Hiro yang bingung melihat kakaknya murung mendekati Inori. Ia menggapai tangan Inori, menenangkan kakak perempuannya satu-satunya.
“Hiro..” Inori terharu dengan tindakan adiknya. “Ayo kita jalan-jalan?” katanya.
“Alang alang?” kedua kalinya Hiro mendengar kata ini. Dan itu jadi membuatnya penasaran apakah gerangan alang-alang itu yang tentu saja artinya bukan ‘alang-alang’ sejenis tumbuhan.
Inori lalu membawa Hiro berjalan-jalan mengelilingi rumah mereka. Lumayan lama waktu mereka habiskan untuk berjalan mengelilingi lantai 2.
“Ini namanya jalan-jalan” jelas Inori pada Hiro. “Ayo sekarang kita ke bawah!”
“bawah!” ulang Hiro.
Inori pelan-pelan mengajari Hiro untuk turun dari tangga. Hiro tidak pernah turun lantai 1 sendiri. Biasanya ia memakai tangan dan kakinya untuk turun dengan bantuan ayah dan ibunya atau salah satu saudaranya. Sekarang Inori mengajari Hiro untuk turun sendiri.
“Dah! Bawah!” sahut Hiro gembira atas hasil kerja kerasnya untuk turun tangga sendiri.
“Hebat! Hiro hebat!” kata Inori, ia merasa sangat bangga pada adiknya.
“Hebat Hiro!” kata Haru yang mendatanginya lalu mengelus lembut kepala adiknya itu.
“Hebat” kata Natsu tersenyum lembut pada adiknya sambil memegang kedua pipi tembam Hiro. “Hebat Inori” katanya lagi pada Inori.
“Ya.. lumayan lah~” kata Haru.
“Hehe” Pipi Inori memerah malu dipuji oleh kakaknya yang jarang memujinya.
Inori juga lalu memegang lembut pipi adiknya dan berjanji. “ suatu hari nanti kalau Hiro sudah bisa berjalan dengan lancar. Kak Inori akan bawa Hiro untuk jalan-jalan di luar” katanya.
“Alang alang! i lual!” kata Hiro gembira.
“Alang alang? Memang diluar ada?” tanya Haru bingung pada pengucapan adiknya.
“Alang alang ada banyak tuh di belakang sekolahku” jawab Natsu.
“...please deh jangan dianggap serius begitu..” kata Inori malu dan bertekat akan mengajarkan tata pengucapan yang baik juga pada Hiro.
“Da! Da! Nasu!” Hiro sekarang sedang bermain ditemani Natsu.
Sekarang sudah pukul 19.00 tepat dan Ibu Inori-pun sudah bangun dari tidur nyenyaknya. Mereka semua sudah membersihkan meja makan sisa makan Natsu tadi dan Inori yang sempat makan sedikit (dengan susah payah menahan nafsu untuk nambah). Walaupun begitu lauk yang ada masih lumayan banyak tersisa. Mereka semua juga sudah mandi dan sangat wangi sekarang.
Saat ini mereka sedang duduk di ruang TV dengan TV dalam keadaan mati. Mereka berdiskusi tentang masalah Hobi Ibu mereka, bagaimana cara untuk mengatasinya.
“Bagaimana dengan game?” anjur Natsu ditengah kegiatannya bermain dengan Hiro menyusun balok-balok berwarna. “Ada kok game memasak, yang paling popular sekarang sih DS..cooking momy”
“Tapi untuk itu butuh uang..” ujar Inori.
“Lagi pula sepertinya Ibu tak akan puas bila memasak yang tak nyata” kata Haru.
“Rasanya iya…” kata Ibu mereka.
“Bagaimana dengan kursus memasak?” anjur Haru.
“Kak Haru.. itu juga butuh uang kan..?” koreksi Natsu.
Inori bingung, ia tak tau harus bagaimana mengatasi masalah Ibunya. Jujur saja ia tak tau sama sekali hal yang berhubungan dengan masak-memasak. Sejauh ini ia cuma bisa memasak nasi, masak supermi dan menggoreng telor. Dan itu sudah sangat menyiksanya dengan panas yang ia terima dari rebusan dan minyak yang muncrat dari penggorengan. Tapi bukan berarti tidak bisa. Bahkan menurutnya ia lumayan baik dalam memasak. Telur dadar atau telur matasapi buatannya tak pernah gosong dan selalu sempurna. Begitu juga dengan nasi dan supermi yang tak pernah kelebihan waktu atau kekurangan.
“Ayah pulang~” sahut Ayah mereka dari pintu masuk.
“Selamat datang~” jawab semua anggota keluarga Satoya termasuk Hiro yang sudah terbiasa.
“Atcyang~” katanya polos. “Papa!” sahutnya gembira pada ayahnya.
“Hiro~” Ayah Hiro mendatanginya dan lalu mengecup pipinya yang tembam dengan lembut. Sebenarnya sang ayah ingin sekali menggendong Hiro, tapi apa daya dia tentu saja tak kuat menggendong Hiro.
“Wah lauknya banyak sekali!” katanya melihat lauk makan malam untuknya yang sudah dipanaskan. Padahal lauk itu sebenarnya sudah ludes setengah bahkan lebih sebelumnya.
“.....” ketiga bersaudara Satoya tak bisa berkata-kata.
“maaf..” kata Ibu mereka sembari menatap haru pada suaminya, membuat kepala keluarga Satoya bingung.
“Oh sedang berdiskusi masalah hobi memasak ibu ya?” katanya sehabis menyelesaikan makan malamnya. “enak sekali makan malamnya istriku~” katanya memuji Istri tercintanya tetapi setengah pucat karena sehabis memakan hampir semua lauk itu.
“Iya..makasih ayah..hanya ayah yang memuji ibu atas makan siang—eh malam ini huhu..” kata Aya, nama Ibu Inori.
“ukh” serempak Haru, Natsu dan Inori merasa bersalah.
“Ngomong-ngomong gimana kalau membuat bekal saja?” anjur sang Ayah
“OH!” serempak mereka semua setuju rencana sementara ini.
Keesokan harinya. Universitas Indonesia. Kantor Dosen. Dr. Marc Satoya.
“Ukh, menyesal aku mengusulkan membuat bekal,” ujar Dr. Marc lemas melihat bekal dari istri tercintanya. “Bagaimana bisa aku menghabiskan bekal sebanyak ini..? tingginya bahkan hampir 30 senti. Aku bisa gemuk juga nih apalagi makan malam semalam masih berasa..” dan bekal hari ini beberapa dimasukkan sisa lauk tadi malam yang tak habis!
Hari itu kepala keluarga Satoya menyesali perkataannya. Cinta itu tak boleh buta..
“Wah pak, bekal banyak sekali??” kata teman yang juga dosen seuniv-nya tak bermaksud jelek.
“Uh..”
Comments
-
mmmm....brapa lama nih buat
Submitted by ridho.jenaka on 16 November, 2011 - 16:34.mmmm....brapa lama nih buat ceritanya...jujur klw aku ntah sanggup ntah engak hehehhe....

-

i'm qusosekai
Submitted by kusosekai (not verified) on 20 April, 2011 - 08:21.wow... thx bnget y~~ ^^
-
sangat seru
Submitted by kiky2hikaru on 19 April, 2011 - 17:36.yang saya suka di story ini yaitu alurnya yang lengkap dan tidak setengah setengah dalam bercerita
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
sangat seru
Submitted by kiky2hikaru on 19 April, 2011 - 17:35.yang saya suka di story ini yaitu alurnya yang lengkap dan tidak setengah setengah dalam bercerita
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -

ini Qusosekai.. thx bnyak~~
Submitted by kusosekai (not verified) on 5 April, 2011 - 02:13.i'm Qusosekai
i forgot mw password...
i'm sorry cuz put it all in one.. ^^
i'm to lazy to break them all..actually this is a looooong story...
n i don't have time to finish it.. d draft is 80% though...
maybe someday i will continue it...
then again, thx for read it n comments
I really appreciate it..!!! ^^ it makes me happykarya- karya u menarik jg...
-

thank u~~ ini Qusosekai.. lupa password
Submitted by kusosekai (not verified) on 5 April, 2011 - 02:10.thx ud bc k komen ya~
blm lanjut lg ni... soalny gk ad wktu..
skali lg thx ud bc y~ ^^ -
whew.........................
Submitted by Crow on 18 January, 2011 - 23:30.whew..............................................
it is incredebly tiring to read them all at once..
but you know...you do made something nice...
well if it were me...i would be glad to eat a lot..
beacuse i knew how not to get fat..
anyway, i think you should break them into some page...reading it in one breath,,
it is crazy..
well. nice story, hey what about alan and the other else?
I am not person worthy of your concern









































Post new comment