Daughter of the Killer and the Hero
Cerita kedelapan! Sumpah gak berasa dah cerita kedelapan gue! Sori ya... gue akui di cerita sebelumnya gue sering melakukan kesalahan yang fatal. Lupa nulis hurufnyalah dan lupa nulis kata-katanyalah! Dan yang parahnya lagi! Gue lupa nulis nama2 tokohnya! Jadi tolonglah gue memang penuh kekurangan! Mohon bantuannya!
_________________________________________________
Akhirnya sampailah aku di perkampungan Warlock! Tempatnya tidak berbeda jauh dengan tempat kakekku. Hanya saja pertahanan tempat ini sangat kokoh. Terlihat dari bagaimana besarnya gerbang masuk perkampungan Warlock dan juga penjaga-penjaganya yang bertubuh kekar. Dulu waktu aku masih berteman dengan Ginka dan Centaure, mereka sering cerita bagaimana Levathrone menyerang penduduk Warlock dan hampir meluluh lantahkan mereka. Untungnya penduduk Warlock berhasil bertahan dan menyerang balik pasukan Levathrone. Semenjak itu penjagaan Warlock menjadi semakin ketat dan pertahanannya semakin susah di tembus. Dan waktu mereka cerita tentang Warlock, aku tidak mengerti sma sekali. Tapi karena nenek sudah menceritakannya padaku, aku jadi mengerti.
Ketika sampai di pintu gerbangnya, dua penjaga datang dan mau menyergapku.
"Mau apa ke sini? Apa keperluan di sini?", tanya salah satu dari penjaga gerbang di situ.
"Aku tahu siapa dia, Raph! Kau salah satu anggota kelompok Levathron! Sorcerer kejam sialan itu!", teriak penjaga yang satunya lagi.
Mendengar hal itu aku pun jadi panik. "Memang benar, dulu aku adalah salah satu dari anggota Levathrone! Sekarang tidak lagi!"
"Halah! Bilang aja kamu ingin memata-matai perkampungan kami! Supaya Levathrone dapat menghancurkan tempat kami lagi!"
"Tidak! Tidak ada tujuan buruk dalam kedatanganku ke sini. Aku hanya ingin belajar ilmu sihir dari perkampungan Warlock!"
Tetapi mereka tidak mau mendengarku, dan ingin menangkapku untuk membawaku ke penjara.
"Tunggu dulu! Raph! Matt!" teriak nenek tua berjubah hitam secara tiba-tiba yang jubahnya menutupi kepalanya sehingga mukanya tidak terlihat dengan jelas.
"Kenapa nenek Qeeve?" tanya penjaga-penjaga tersebut.
"Lihat dia..." perintah si nenek. "Dia adalah anak dari putra yang berhati kuat dan bijaksana. Anak dari putra yang menyelamatkan kita dari kehancuran yang hampir dibuat oleh Levathrone." kata si nenek sambil memperhatikan bola arwahnya yang ada gambar ayahku. "Kau adalah putri dari Averster Severnaya, Waltocoria Severnaya!"
"Averster Severnaya!?", beberapa saat kemudian kedua penjaga tersebut terdiam dan berkata. "Maafkan kami! Kami semua di sini sangat benci kepada Levathrone! Tetapi kami sangat berhutang budi kepada ayahmu yang sudah menolong kami di sini! Oleh karena itu, kami akan terus membantumu untuk tinggal di sini, walaupun pemimpin kami tidak mengizinkan!"
"Tidak apa! Pemimpin kalian pasti akan setuju! sahutku kepada kedua penjaga tersebut sambil tersenyum. "Aku punya surat pernyataan dari nenek. Nenekku pernah bilang, kalau pemimpin kalian itu adalah sahabat nenekku dulu. Jadinya, mungkin dengan adanya surat ini aku bisa berada di sini."
"Bagaimana biar kalian saja yang menyerahkan surat ini kepada pemimipin sambil mengawal kami sampai ke sana? Sementara itu, aku dan Walto akan menemui pemimpin dan kalian memanggil penjaga lain untuk menjaga gerbang ini. Gimana?" saran si nenek ini.
"Ide bagus! Baiklah! Akan kami laksanakan!" sahut kedua penjaga tersebut kepada nenek Qeeve.
Sesaat kemudian aku dan nenek Qeeve dibawa oleh kedua penjaga itu menghadap sang pemimpi. Ketika sampai di singgahsananya, pemimpin tersebut langsung datang untuk menyambut kami.
"Selamat datang, bunda Qeeve!" sambut sang pemimpin kepada nenek Qeeve dengan sebutan hangatnya. Lalu sekilas memandangku, "Siapa dia, bunda? Kenapa ibunda membawanya ke sini?"
"Lihatlah matanya! Bukankah dia mirip seseorang yang kau kenal?"
Sambil melihat mataku dia berbicara, "Sepertinya penampilannya sangat familiar, dia mirip....", berpikir sejenak, "..... Averster Severnaya! Ya! Aku ingat! Jadi apa hubungannya Averster dengannya, bnuda? Jangan bilang kalau dia..."
"Ya, dia adalah putri dari Averster Severnaya! Namanya adalah Waltocoria Severnaya!"
"Berarti dia adalah cucunya Kierie? urrghh..", lalu pemimpin tersebut datang memelukku. "Walto, senang sekali bertemu denganmu!"
"Dan sepertinya Kierei menulis surat untukmu! Raph, berikan suratnya pada sang pemimpin!"
"Baik, nenek Qeeve!" sahut kedua penjaga tersebut dan segera memberikan surat tersebut kepada pemimpin mereka.
Sesaat sang pemimpin membaca surat tersebut dan memeluk surat dari nenek Kierei. "Kau pasti belum tau siapa aku, kan?"
"Betul, terus?"
"Namaku Steddifal Pitalow! Panggilanku adalah Sted! Aku adalah pemimpin dari perkampungan Warlock ini. Dan dulu Kierei adalah cinta pertamaku!"
"Hah? Apa nenek Kierie pernah berpacaran dengan pemimpin Sted?" tanyaku terheran.
"Tidak... saat aku menyatakan cintaku, nenekmu menolakku..." jawab pemimpin Sted.
"Uhmm... Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Saat itu adalah jaman peperangan kerajaan nenekmu dengan kelompok Sorcerer. Nenekmu pada waktu itu adalah seorang Putri werewolf yang suka mengunjungi kampung kami. Karena kerajaannya sudah kewalahan melawan pasukan Levathrone, Ayahnya pun menyerah dan memohon kepada Levathrone untuk tidak menghancurkan kerajaannya. Kemudian Levathrone memenuhi permintaanya dengan satu syarat, Putri Kierei harus diserahkan kepada Levathrone untuk dijadikan istrinya. "
"Hah?"
"Kemudian Levathrone memberikan waktu seminggu kepada ayahnya Kierie untuk memenuhi kehendaknya. Mendengar hal ini, saat Kierie berkunjung ke tempat kami wajahnya terlihat sangat terpukul. Lalu saat menolak cintaku dia berkata bahwa dia juga sangat mencintaiku tapi dia ingin menolong kerajaannya yang ada dalam bahaya. Dan dia menjawab bahwa mulai besok dia akan berangkat ke tempat Levathrone untuk menjadi istrinya, tetapi dia menitipkan satu pesan...."
"Apa itu?"
"Dia ingin saat anak-anaknya butuh bantuanku, dia ingin aku selalu membantu anaknya. Dia ingin aku menganggap anaknya seperti anakku sendiri. Makanya dari itu, aku akan terus membantumu dengan memberikanmu ijin untuk tinggal di sini."
"Ahh... Terimakasih, pemimpin Sted!" sahutku dengan riang.
Lalu nenek Qeeve berkata, "Nah, sekarang biar nenek yang bawa kamu ke tempat pelatihan kita! Katanya kamu ingin belajar ilmu Warlock, kan?"
"Iya, nek!"
"Ya sudahlah kalau begitu! Kami permisi dulu ya, Sted!" sanggah nenek Qeeve.
"Iya, Bunda!"
Lalu aku di bawa ke tempat pelatihan ilmu sihir Warlock. Hanya saja, tempat ini mirip sekali dengan sekolah. Bangku dan kursi berjejer sesuai urutan, ada meja guru dan murid. Ada kelas-kelasnya pula, semakin mirip dengan sekolah. Beberapa saa kemudian pelajaran sudah di mulai. Di sini aku banyak dilatih untuk memusatkan konsentrasi.
Karena Warlock pada dasarnya tidak menggunakan kekuatannya untuk mengeluarkan sihirnya, kami jadinya dilatih untuk menyerap energi dari luar dan menggunakan energi tersebut untuk mengeluarkan sihir kami. Mungkin kelihatannya simpel, tetapi sebenarnya susah sekali memusatkan pikiran itu. Oleh karena itu, aku selalu gagal dalam melakukan sihirku. Misalnya mengangkat bolpoin. Karena ada nyamuk, aku tidak fokus kepada bolpoinku dan bolpoinku jatuh. Dan itu masih belum seberapa.Saat aku mulai belajar terbang dengan menggunakan sihir kami, aku terjatuh dari ketinggian karena ada angin yang menerpa dan aku jadi tidak fokus.
Bersamaan dengan itu, aku bertemu dengan Miathra. Warlock terbaik saat itu. Jujur aku merasa tidak enak padanya, karena posisi pertama yang awalnya dipegang oleh Miathra mulai tersaingi dengan adanya keberadaanku. Tapi dia malah tidak menghiraukan hal tersebut, tidak seperti Ginka yang marah saat tersaingi.
"Sudahlah... Gak papa! Yang penting adalah persahabatan bukan kemenangan! Iya kan?"
"Iya!" sahutku dengan riang.
"Eh, sini deh! Aku mau bawa kamu ke suatu tempat!"
"Kemana?"
"Udah ikut aja!"
Lalu Miathra membawaku ke suatu hutan yang ada satu Ogre yang dikucilkan di tempat itu.
"Ini namanya Candanord Museo! Ogre yang paling bego di sini, berbicara saja tidak bisa!"
"Kenapa kau bilang begitu?"
"Soalnya guru-guru di sini sudah nyerah ngajarin dia! Di suruh ngafalin huruf alphabet aja gak bi....", pembicaraan Miathra terpotong tiba-tiba karena aku tiba-tiba mendekati Museo, "Kau mau ngapain, Walto? Eh, Walto?"
"Di dunia ini tidak ada mahluk yang bego, Miathra! Hanya saja, level kepintaran mereka belum terasah! Aku yakin jika dia dilatih benar-benar Museo bisa jadi mahluk yang pintar! Dan lagipula, kalian tidak boleh mengucilkannya hanya karena dia bego!", sahutku untuk menasihati Miathra.
Lalu aku mendekati Museo. Saat Museo melihatku, dia terlihat sangat senang dan berlari membawakanku bunga. Lalu aku menerima bunga tersebut dengan senyum dan dia sangat senang.
"Wa, Walto... Uhm-"
"Aku sudah memutuskan untuk menjadi guru belajar Museo. Aku ingin bisa membuktikan bahwa di dunia ini, tidak ada mahluk bego! Aku ingin mengajarinya sampai dia pintar!
Setelah itu pun aku dan Miathra pulang dan aku kembali ke kamarku yang sudah dipersiapkan oleh pelayan dari pemimpin kami. Di sana aku mulai menunggu hari esok sambil mulai memikirkan hal apa dulu yang harus aku ajarkan.
Comments
-
ga dilanjutin?
Submitted by kiky2hikaru on 19 April, 2011 - 19:44.gak dilanjutin lagi nih kumpulan story mu kom???
jarang melihat kryamu lagi belakangan ini..-_-KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
awalnya......
Submitted by WisangGeni on 7 January, 2011 - 07:14.trus terang awalnya diriku bingung, dari mana si nenek tau kalo walto anaknya avester, emangnya d jidatnya ada tato bertuliskan "walto binti avester"? tp ternyata d paragrap slanjutnya dijelasin kalo itu dari kemiripin fisik trutama matanya.
Lanjut trus Sist, ane juga mo lanjut bacanya....
if the devil is real, so God must be real too -devil's- -
bagus!!
Submitted by kiky2hikaru on 3 January, 2011 - 13:01.baugs!!
kembangkan lg
di tunggu y seri berikutnya
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI.....










































Post new comment