Great Spirit Equal to Great Result
Akhirnya gw sampai ke cerita ke sembilan. Gw akuin emang agak susah membuat cerita kalo tidak dibarengi dengan imajinasi yang tinggi. Tapi gw gak akan nyerah buat trus bikin cerita! Tapi sori kalo ceritanya agak ngadet, soalny diskula lgi ada mid-smesteran nie...
__________________________
Keesokan harinya aku terbangun di kamar yang disediakan oleh nenek Qeeve padaku. Kebetulan aku sekamar dengan Miathra. Kemudian, aku dan Miathra sepakat untuk mengambil jatah sarapan pagi lebih cepat dari yang lainnya.
Sesampainya di ruang makan
"Eh, Walto! Loe serius mau ngajarin dia??" tanya Miathra tajam.
"Iya, Mia! Gw mo ngajarin dia! Meskipun nantinya gw bakal kewalahan ngajarin dia, gw bakal tetap mau ngajarin dia!"
"Tapi loe kenapa ngotot banget si pingin ngajarin dia?? Dia bukan siapa-siapamu kok!"
"Gue...". Aku terdiam sejenak. "Gue gak tahan ngeliat dia sendirian..."
"Huh??"
"Yah, loe bayangin aja! Waktu gue datang, dia langsung ngasi gw hadiah. Itu artinya kan dia baek! Masa ogre baek kea dia dikucilin si... Biar dia bego, tapi seenggaknya ada yang mau nemenin dia dong..."
Lalu Miathra melihatku dengan terkejut dan kemudian mendesah, "Terserah loe deh! Tapi gue sebagai teman cuman bisa ngedukung loe! Biarpun keinginan loe tuh aneh!" kata Miathra bercanda sembari menyikut tanganku.
"Hihihi... thanks!"
Setelah sarapan pagi, aku dan teman-temanku yang lainnya kembali melanjutkan pelajaran sihir dari pelajaran yang sebelumnya. Sekarang aku sedang mempelajari bagaimana cara mengatur intensitas kekuatan sihirku kepada sasaranku. Semakin besar energi yang kuserap dari energi sekitarku, maka semakin besar kekuatan sihirku. Tetapi semakin besar kekuatan yang kudapatkan, semakin susah kekuatan itu dikendalikan. Karena semakin besar kekuatan sihir yang didapatkan, maka konsentrasi dan fokus pikiran kita terhadap kekuatan tersebut harus menjadi lebih kuat.
Kemudian ada sesuatu yang mengganjal dihatiku. Tongkat sihir yang kubawa dari markas Levathrone, hadiah dari nenekku, lain daripada yang tongkat sihir sorcerer lainnya. Tongkat sihir yang terbuat dari cabang pohon yang besar, dan di dalam lekukan ujung cabangnya terdapat sesuatu seperti bola. Bola yang dibungkus oleh berkas pelindung yang transparan. Dan setiap kali aku memusatkan pikiranku untuk mengeluarkan jurus sihirku, bola tersebut mengeluarkan cahaya berwarna ungu.
Setelah itu aku datang untuk mengunjungi kakek Stedd untuk mengetahui informasi lebih lanjut tentang tongkat sihirku. Karena dia adalah sahabat nenekku, mungkin dia tahu beberapa hal tentang tongkat sihirku.
"Oh, ini bukan tongkat sihir untuk sorcerer! Ini adalah tongkat sihir khusus para warlock!"
"Lho, kok bisa!?"
"Tongkat ini adalah tongkat yang aku berikan kepada nenekmu. Yah... sebagai kenang-kenangan, karena nenekmu mungkin tidak akan bisa mengunjungiku lagi..." lanjut kakek Stedd dengan sedih.
Melihat muka sedih kakek Stedd, aku menjadi merasa bersalah karena aku adalah cucu kakek yang sudah menghancurkan ikatan kasih yang hampir terjalin diantara nenekku dan kakek Stedd.
"Tetapi sudahlah! Toh, itu hanya masa lalu! Sekarang, sampai dimana pembicaraan kakek tadi?" Lalu kakek berpikir sejenak, "Oh,ya! Tongkat yang kau pegang sekarang memiliki berapa berapa bola?"
"Baru satu si? Memangnya kenapa?"
"Seiring dengan berjalannya dengan waktu, suatu saat bola yang ada tongkatmu itu akan terus bertambah sampai mencapai puncaknya. Tetapi itu semua tergantung pada kekuatanmu. Semakin besar kekuatan yang kau serap, semakin banyak bola di tongkat sihir yang kau miliki..."
"Terus kakek ada bilang tentang 'sampai puncaknya', itu maksudnya apa si, kakek Sted?"
"Para warlock tingkat tinggi biasanya hanya bisa mencapai bola ke-12. Tetapi sebenarnya tidak sampai di situ saja! Ada bola ke tiga-belas yang jarang dimiliki oleh warlock-warlock manapun. Hanya warlock dengan kemampuan sangat luar biasa tinggi lah yang bisa memiliki bola ke-tiga belas ini, karena bola ke-tiga belas ini bisa menyerap energi luar yang tidak terbatas besarnya atau biasa kita sebut 'the infinity power'."
"Wow, keren! Kakek punya bola ketiga belas itu?"
"Hahaha! Sayangnya tidak! Bukannya tidak bisa, tetapi kakek takut menggunakannya. Kalau sampai kakek lepas kendali dalam menggunakan the 'infinity power' ini, bisa-bisa hancur perkampungan ini."
"Wah, kok begitu?"
"Dahulu, pernah ada warlock yang mempunyai bola ke-tiga belas. Kemudian karena warlock tersebut kewalahan dalam mengendalikan kekuatannya, akhirnya energi yang sudah berusaha ditahannya menjadi meledak-ledak kemana-mana. Walhasil, kehancuran pun terjadi dan menghabiskan tempat yang didiaminya. Dan oleh karena itu, kuasai dahulu benar-benar kekuatanmu, baru bisa mendapatkan bola ketiga belas."
"Baik, kek!"
Akhirnya berakhirlah pelajaran sihir yang diadakan sekolah Warlock. Aku akui, yang namanya belajar sangatlah melelahkan. Kepalaku menjadi pusing, karena otakku terus menerus dipakai untuk berpikir. Kemudian aku teringat janjiku kepada Museo. Lalu, aku segera berlari mengunjungi Museo sambil membawa buku yang akan kugunakan untuk mengajari Museo. Aku berencana mengajar huruf-huruf alfabet terlebih dahulu.
"Hai, Museo!" sapaku ceria.
Lalu Museo tersenyum dan kegirangan melihat ada orang yang mau menemaninya.
"Hari ini aku mau mengajarimu macam-macam huruf alfabet, maka dari itu bersiap-siaplah dengan pelajaran barumu!"
Museo tampak sangat semangat mendengar kata-kataku, walau aku yakin dia tidak mengerti kata-kataku.
"Nah, sekarang ayo kita mulai dengan huruf 'a','b','c','d',...!"
Museo dengan semangat turut mengikuti kata-kataku. Tapi ada beberapa hal yang aku perhatikan dari Museo. Pertama, Museo sangat penurut. Diajari apapun, dia tetap mengikutinya dengan serius. Hanya saja ada satu kendala, Museo hanya bisa menghafal lima huruf dalam sehari. Itu pun kalau dia tidak lupa lagi. Tetapi aku sudah memutuskan untuk tidak menyerah, dan tetap mengajarnya. Apalagi kalau Museo sangat semangat dalam mengikuti pelajarannya, aku menjadi semangat mengajarinya.
Dari hari ke hari, setiap kali waktu istirahat dimulai aku selalu datang mengunjungi Museo untuk mengajari huruf-huruf alfabet. Setiap hari aku mengajarinya dengan intensif. Walaupun agak berat, Museo tidak pernah menyerah untuk belajar dan aku pun tetap berusaha untuk mengajarnya.
Dan akhirnya Museo pun berhasil menguasai huruf-huruf alfabet, setelah banyak keringat yang aku cucurkan untuknya. Nah! Setelah itu, aku berlanjut ke tahap berikutnya menghafal suku kata. Dan untuk mengajarkan pelajaran suku kata kepada Museo, sulitnya minta ampun. Museo selalu bingung jika huruf-huruf tersebut dibaca secara bersama-sama. Karena sangkin sulitnya mempelajari suku kata bagi Museo, Museo terus menerus menangis dan merasa bodoh.
"Museo, tidak ada mahluk yang bego! Semut aja pintar, masa kamu bego!! Ayo, dong! Tunjukkan kalau kamu itu tidak bego!!" sahutku berkoar-koar kepada Museo.
Lalu entah kenapa Museo seperti mengerti perkataanku dan bangkit kembali untuk belajar suku kata. Di saat yang sama, aku selalu tidak lupa untuk mempelajari ilmu sihir yang diberikan kepadaku. Karena sebagian waktuku kuluangkan untuk Museo, tak jarang kami berbagi cerita antar satu dengan yang lainnya. Walaupun kosakata yang dikuasai Museo masih sangat rendah, Museo masih dapat mengikuti percakapanku dengan baik. Oleh karena itu,aku dan Museo menjadi teman baik.
Akhirnya setelah semua perjuangan yang kami lalui bersama-sama, Museo bisa membaca semua kata-kata yang sulit, dan dia bisa membaca dan berbicara dengan baik. Dan tibalah saatnya dia harus mempertunjukan kemampuan membacanya itu di depan kakek Stedd dan yang lainnya. Jujur, aku agak sedikit gugup melihat Museo yang biasanya selalu sendiri tiba-tiba diperhadapkan di depan orang-orang.
"Sekarang, ayo bacalah baris pertama di dalam halaman buku ini!" perintah jubir kakek Stedd.
"Baik!". Lalu Museo mulai membaca kata demi kata kalimat tersebut dengan baik.
"Bagus! Sekarang baca semua baris yang ada di paragraf pertama!"
Akhirnya Museo pun membaca kata-kata itu dengan baik, sampai dua kata terakhir. Tulisan tersebut begitu kabur hingga hampir tidak bisa dibaca. Kemudian Museo menyimpulkan kata-kata itu sendiri, dan walhasil kesimpulannya benar. Dan semua penonton yang ada di sana tercengang melihat Museo yang tadinya berbicara saja tidak bisa sekarang menjadi pembaca yang lancar.
Mereka pun akhirnya sadar, tidak ada yang tidak mungkin bisa dilakukan jika dilakukan dengan tekat yang kuat. Jika kita mempunyai tekat yang kuat, apa pun bisa kita kerjakan!
"Hei, Walto! Bukankah kau yang selama ini membimbing Museo sehingga menjadi seperti ini?" tanya kakek Stedd kepadaku.
"Hehehe... Iya!"
"Bukankah hal itu bisa mengurangi waktu belajarmu?"
"Ah, tidak juga! Aku selalu menemukan waktuku untuk mempelajari ilmu sihir. Jadi aku gak akan keberatan, jika waktuku terbagi untuk mengajar Museo. Dan sekarang aku ingin mengajari Museo pelajaran hitung-hitungan! Ya gak, Museo?"
"Yo'a!"
Dan Museo pun mau mengikuti pelajaran yang diberikan olehku dengan semangat yang kuat. Bersamaan dengan itu, aku mulai memikirkan bagaimana keadaan Mike dan Ornlu sekarang. Apakah sekarang mereka masih mencariku? Yang jelas aku tidak tahu. Sekarang yang ingin aku lakukan adalah berbaring di tempat tidur dan melanjutkan hari-hariku di sini.
Comments
-
agak
Submitted by kiky2hikaru on 19 April, 2011 - 20:20.ceritanya agak menyebalkan...
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
agak
Submitted by kiky2hikaru on 19 April, 2011 - 20:18.ceritanya agak menyebalkan...
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
Datar....
Submitted by WisangGeni on 7 January, 2011 - 07:22.sory Sist..... datar2 aja ni critanya, mungkin buat coolling down dolo ya sbelum crita slanjutnya yg penuh dengan loncatan2 emosi
if the devil is real, so God must be real too -devil's-









































Post new comment