The Gauntlet (Chapter II)
not admin's choice
Seminggu setelah dia pulang dari perjalanan rekreasinya. Entah kenapa setiap pagi hari Saito selalu merasakan tangan kanannnya sangat pegal sewaktu bangun tidur. Padahal sebelumnya dia tidak melakukan apa-apa. Dia hanya berpikir “Apakah iblis di tangan kananku ini nantinya akan memakan tangan kananku?” Tapi selagi dia bergumam dan ketakutan sendiri, dia baru menyadari kalau dia terlambat ke sekolah. Lalu dia langsung bergegas ganti baju tanpa mandi dan bercermin dan langsung saja pergi ke sekolahnya. Untungnya dia sampai di sekolah tepat waktu. Di sekolah masih seperti dulu, dia tidak mempunyai teman satupun. Teman-temannya hanya makin menjauhinya karena gosip dimana dia menghajar lima kakak kelas berandalannya sendirian mulai beredar. Perasaan sedih dan marah bercampur aduk di dalam dirinya, tanpa dia menyadari kalau tato di tangan kanannya semakin bersinar.
Pelajaran sekolahnya dilakukan dengan kesunyian baginya, bahkan waktu istirahatpun dia hanya memakan bekal sendirian di atap sekolah. “Ya setidaknya aku bisa makan siang dengan tenang, karena biasanya saat ini para kakak kelas akan menyuruhku untuk membeli makanan di kantin.” gumamnya. Akhirnya waktu sekolahpun akhirnya berlalu dan dia bergegas pulang ke rumah.
Tetapi di tengah perjalanan pulang, lagi-lagi ia dicegat oleh kakak kelasnya. Kali ini dia dicegat sepuluh orang, termasuk siswa dari sekolah lain teman kakak kelasnya.
“Hei lemah! Jangan sombong mentang-mentang kau bisa mengalahkan kami berlima waktu itu. Aku membawa teman-temanku. Dan kali ini aku membawa Shido si ahli karate! Kau dan badan kurusmu akan segera kalah!” Kata kakak kelasnya.
“Jadi ini anak yang mengalahkan kalian berlima? Memalukan saja kalian bisa dihajar anak sekurus ini!” Kata Shido.
“Sebaiknya kau jangan meremehkan anak ini, dia mempunyai kekuatan yang aneh.”
“Ya kita lihat saja nanti” Kata Shido sambil mengepalkan tangan kanannya.
Saito yang ketakutan, berkata sambil bergetar “Kakak... Tolong ampuni aku... Sebaiknya kalian jangan sakiti aku...”
“Sudah terlambat bocah!!!” sambil berkata itu Shido yang ahli karate itu langsung maju dan mencoba memukul Saito. Tetapi sekali lagi tangan kanan Saito menahan pukulannya secara otomatis. Padahal muka Saito sendiri sedang ditutupi tangan kirinya karena takut dipukul. Tapi Shido tetap bisa menendang perutnya meski tinjunya dihentikan tangan kanannya Saito.
Saitopun mental cukup jauh, mungkin ada beberapa tulangnya yang retak karena tendangannya. Tentu saja, Shido cukup terkenal dan ditakuti akan kekuatannya, karena dia adalah seorang ahli karate Ban Hitam. Bahkan batang kayu yang tebal pun bisa dipatahkan tendangannnya.
“Hanya segitu sajakah kekuatanmu bocah? Kau boleh mampu menahan pukulanku, tetapi tidak mungkin dapat menahan tendanganku! Ibumu pasti menyesal melahirkan anak selemah dirimu!!” Sambil berkata itu dia kembali maju dan menyerang Saito dengan tendangannya.
Saito yang saat itu sangat ketakutan, mulai merasa marah karena ibunya dihina, tetapi juga merasa sedih karena tidak mampu membalas ejekan terhadap ibunya dan hanya mampu bergumam “Maafkan aku ibu...”
Di saat itu, tiba-tiba tato di tangan kanannya bersinar dan muncul seperti tanduk kecil keluar dari tato di tangan kanannya. Lalu secara otomatis dan tidak bisa dikendalikan oleh Saito sendiri, tangan kanannya langsung meninju tendangan dari Shido yang datang ke arahnya. Seketika itu pula kaki Shido yang dipukul oleh Saito langsung bengkok. Shido langsung berteriak dan menangis kesakitan. Melihat hal itu, sembilan orang lainnya pun langsung kabur sambil membopong Shido. Saito pun merasa lega karena dirinya selamat. Dan ketika dia melihat tangan kanannya, tanduk yang muncul itu langsung tenggelam kembali ke dalam tato tersebut. Entah harus lega atau khawatir. Dia langsung pulang ke rumahnya dan mencoba untuk melupakan apa yang terjadi hari ini. Hebatnya perutnya yang tadinya sangat kesakitan tiba-tiba semakin lama semakin tidak sakit, bahkan tidak meninggalkan memar.
Sesampainya di rumah dia mulai bercermin melihat tangan kanannya. Dan dia baru menyadari kalau tangan kanannya menjadi jauh lebih berotot dibanding tangan kiri dan badannya, dia merasa hal ini ada hubungannya dengan pegal-pegal yang dialaminya setiap pagi. Karena merasa aneh, dia memasang video untuk merekam apa yang dilakukannya ketika tidur. Keesokan harinya pun dia lagi-lagi merasa pegal-pegal, dan ketika dia memeriksa video yang dipasangnya, dia melihat bahwa dia sedang melakukan hand stand sambil push up dengan sebelah tangan kanannya, padahal mukanya sendiri masih tertidur pulas. Semenjak itupun dia langsung memulai rutin push up setiap pagi untuk mengimbangi tangan kanannya.







































Post new comment