The Gauntlet (Chapter I)
not admin's choice
Saito seorang anak lemah di sekolahnya. Kehidupannya sehari-hari hanya dipukuli dan disiksa oleh teman-temannya yang lebih besar. Dia bahkan tidak mempunyai seorang temanpun karena selalu diremehkan oleh teman-temannya. Meski begitu dia cukup pintar dalam pelajaran, meski tidak menjadi yang terpintar. Tetapi karena itu dia malah diperalat oleh teman-teman berandalannya untuk membuat tugas rumah mereka. Walaupun disiksa dan ditindas, dia tidak bisa membalas mereka dan hanya bisa tersenyum karena tidak mau dipukul. Suatu ketika, kelasnya sedang mengadakan rekreasi ke gunung. Saitopun pergi meski dengan rasa terpaksa karena dia tahu kalau dia akan dipermainkan lagi oleh teman-temannya. Sesampainya di gunung itu, mereka menginap di sebuah pemandian air panas. Dan pada saat malam tiba dia dan teman-temannya melakukan sebuah tes uji nyali. Saito yang tidak mau ikut dipaksa ikut. Dia harus berjalan di tempat gelap menyusuri kuburan yang ada dibelakang pemandian air panas hanya dengan menggunakan senter dan harus menaruh sesajen untuk dewa gunung tersebut di sebuah altar di depan sebuah gua. Dia melakukannya walau dengan perasaan enggan. Sesampainya di dalam gua dan menaruh sesajen. Tiba-tiba dia dikagetkan dengan seekor kelelawar yang terbang keluar dari gua sehingga senternya terlempar cukup jauh ke dalam gua tersebut. Meski enggan dia terpaksa masuk ke dalam gua tersebut untuk mengambil senter walaupun gua tersebut diberi papan peringatan “Dilarang Masuk”. Ternyata senter itu terlempar dan jatuh cukup jauh menyusuri tangga di dalam gua. Tadinya dia tidak mau mengambilnya tapi karena takut dengan teman-temannya, dia terpaksa menyusuri gua tersebut hanya dengan memodalkan sinar dari handphone. Lalu ketika berjalan cukup dalam menyusuri gua, dia menemukan senter tersebut di bawah kaki sebuah patung dewa. Patung dewa itu berukuran sebesar manusia dan mempunyai bentuk yang menyeramkan seperti iblis dengan tanduk dan sayap.
Karena takut dia langsung menundukkan kepalanya ke patung dewa tersebut lalu bergegas pergi. Tiba-tiba ada sebuah sinar terang yang memancar dari patung tersebut. Saitopun membalikkan badannya dan melihat bahwa ternyata sinar tersebut datang dari sebuah kotak dibawah patung tersebut. Karena penasaran dia membuka kotak tersebut dan menemukan sebuah sarung tangan besi yang bersinar. Rasa kagum dan penasarannnya membuat dia memakai sarung tangan besi tersebut. Lalu sarung tangan besi itu benar-benar bersinar sangat terang lalu menghilang dari tangannya dan hanya menyisakan sebuah tato di lengannya, dan tiba-tiba gua tersebut runtuh. Dia bergegas berlari ke luar gua tersebut. Selama dia lari dia merasakan ada yang aneh dengan tangan kanannya, karena tangan kanan itu bergerak sendiri dan memukul batu-batu reruntuhan yang jatuh hampir menimpanya. Dia hanya berpikir polos “Ternyata aku kuat juga.” Untungnya dia berhasil keluar dari reruntuhan gua tersebut dan langsung berlari kembali sampai ke tempat penginapan. Ternyata di tempat penginapan tersebut teman-temannya tidak ada yang menunggunya dan mereka semua sedang mandi di pemandian air panas. Dia sangat kesal dan merasa ingin menangis. Tetapi dia tidak mempedulikannya dan langsung bergegas untuk tidur di penginapan. Hari berikutnyapun berjalan seperti biasa. Acara rekreasi sekolahnya berjalan biasa saja, sampai sore hari dimana para guru memberikan waktu bebas bagi para muridnya Saito dipanggil oleh teman-temannya. “Oi lemah, kenapa kemarin kau sangat lama kembalinya? Gara-gara kamu kita semua sampai hampir dimahari para guru karena keluar malam-malam! Sebagai gantinya hari ini kamu harus mau menjadi pesuruh kami!” “Aaa… maafkan aku... Kemarin senternya terjatuh ke dalam gua dan aku susah payah mencarinya...” “Jangan banyak beralasan! Pokoknya mulai besok kau harus membuat semua pekerjaan rumah kami! Kalau tidak kamu akan kami habisi! Dan sebagai hukuman karena kemarin kau datang terlambat, sekarang kau akan menjadi samsak tinju kami! Pegang dia erat-erat Miyashi! Biar aku pukul perutnya!”
“Tolong jangan sakiti aku… Aku akan melakukan apapun tapi jangan sakiti aku…”
“Diam kau!”
Seketika itu juga temannya langsung memukul perutnya. Tetapi pukulan itu ditahan oleh tangan kanan Saito yang entah kenapa bisa bergerak sendiri.
“Wah sekarang kau mulai berani melawan ya? Habisi dia anak-anak!!!” Saat itu ada lima orang anak yang mengeroyok Saito. Tetapi mereka semua dikalahkan oleh Saito hanya dengan menggunakan tangan kanannya. Padahal badannya tidak bergerak sama sekali, tetapi tangan kanannya bergerak tidak selaras dengan badannya dan mengalahkan mereka semua. Mereka berlima babak belur olehnya. Saito yang kebingungan dan ketakutan langsung lari meninggalkan mereka. “Apa yang terjadi dengan tanganku? Kenapa tanganku bisa bergerak sendiri?? Apakah karena di sarung tangan yang kutemukan kemarin dan ada setan yang merasuki tanganku??? Aku harus kembali ke kuil itu lagi dan berdoa supaya tanganku tidak dirasuki lagi!” Saat itu juga dia berlari dan kembali ke gua itu lagi. Disitu dia bertemu dengan seorang kakek tua yang sedang berdoa di depan gua tersebut. “Kakek, maaf mengganggu. Sebenarnya ini gua apa?” “Gua ini? Gua ini adalah tempat dimana seorang dewa yang melindungi gunung ini dari iblis dikuburkan. Tapi entah kenapa sekarang gua ini jadi terkubur oleh batu. Mungkin kemarin malam ada gempa yang mengakibatkannya.” “Memangnya di dalam gua ini ada apa?” Sebenarnya Saito tahu kalau di dalam gua itu terdapat sebuah patung dewa dan sebuah sarung tangan. Tetapi dia pura-pura bertanya lagi karena takut ketahuan kalau kemarin dia masuk ke dalam gua itu. “Di dalam gua ini terdapat sebuah patung dewa yang tadi kuceritakan. Tetapi kami dilarang memasuki dan berdoa di dalam gua itu karena di dalamnya terdapat sebuah sarung tangan yang biasa digunakan iblis dikalahkan dewa itu disegel. Sarung tangan itu dikatakan mempunyai kekuatan iblis yang sangat kuat dan sedang mencari seorang penerus untuk menggunakannya lagi. Karena itu kami membuat altar lagi diluar gua untuk berdoa kepada dewa sehingga sarung tangan itu tidak jatuh ke tangan yang salah karena dapat menimbulkan malapetaka. Tapi syukurlah gua batu ini telah tertutup oleh reruntuhan, jadi kami tidak perlu khawatir lagi ada orang yang akan mengambil sarung tangan itu” Setelah berkata demikian kakek itupun pergi. Saito kembali ke penginapan dengan rasa khawatir karena dia tahu bahwa dia adalah penerus iblis tersebut. Tetapi dia tidak begitu memusingkannya karena setidaknya dengan keberadaan sarung tangan tersebut, dia jadi tidak diganggu lagi oleh kakak kelasnya. Dan rekreasi sekolah merekapun selesai dan mereka kembali ke Tokyo. Semenjak kepulangannya dari rekreasi tersebut, hidup Saito mulai berubah 180 derajat...
Comments
-
sory kalo di post gw
Submitted by ZecuroX on 23 July, 2011 - 22:34.sory kalo di post gw sebelumnya gw bilang kalo gw pengen menstop cerita ini... sebenernya gw mengalami pergumulan karena gw dibilang tidak berbakat sama temen bae gw sendiri sampe2 berantem... maap kalo post ini terkesan curhat... tapi gw mutusin gw pengen lanjutin cerita ini, bukan karena bagus atau jelek, tapi karena memang hobby gw ngarang cerita seperti ini... setidaknya akan menjadi kepuasan gw sendiri... thx ^^
-
@simplelinethx ^^btw
Submitted by ZecuroX on 10 July, 2011 - 22:49.@simpleline
thx ^^
btw chapter 2nya dah beres jg sih ^^V
chapter 3nya bsk
-
wah menarik.... ditunggu
Submitted by simpleline on 10 July, 2011 - 22:46.wah menarik.... ditunggu lanjutannya
~there is no such thing as friend~ -
@gianeka i hope i can find
Submitted by ZecuroX on 10 July, 2011 - 22:06.@gianeka
i hope i can find someone T_T -
ah nice, try collaborating
Submitted by Crow on 10 July, 2011 - 21:28.ah nice, try collaborating with someone, might be good for you
I am not person worthy of your concern -
msh pemula
Submitted by ZecuroX on 10 July, 2011 - 19:59.maap saya sendiri msh pemula disini dan pengen mencoba untuk memposting cerita komik dari ide saya...
saya sendiri gak bs gambar komik, jdnya cuman bs ngarang cerita T_T










































Post new comment