Friend of Evil
not admin's choice
Laki-laki itu. Laki-laki yang merebut Farah dari hidupku!!
" Rena, maaf ya! Aku gak bisa pulang bareng kamu hari ini, soalnya hari ini aku sama Rheon mau kencan! Maaf ya! ", kata Farah sambil berlalu pergi.
Lagi? Sudah kemarin, kemarin, kemarin, dan kemarin Farah tidak pulang bersamaku lagi. Gara-gara laki-laki bernama Rheon yang berstatus sebagai pacar Farah, persahabatanku dengan Farah hancur!! Tidak seperti dulu lagi!! Padahal Farah itu sahabat sekaligus temanku satu-satunya!! Dan laki-laki sialan itu merebutnya!! Tidak bisa kumaafkan!!
Apa laki-laki itu kulenyapkan saja, supaya Farah kembali bersahabat denganku?
Ide bagus.
Akan kulenyapkan dia sekarang.
" Farah, aku beli es krim dulu ya! ", pamit Rheon pada Farah yang sedang duduk manis di bangku taman.
Inilah kesempatanku. Tidak kusangka ini akan jauh lebih mudah dari yang kukira.
Laki-laki itu berjalan menuju kios es krim yang agak jauh dari tempatnya tadi. Aku berjalan mendekatinya, memakai kacamata tebal lamaku yang dulu kupakai untuk menghindari tatapan anak-anak yang membenciku. Tapi kacamata itu sudah tidak pernah kupakai lagi sejak bersahabat dengan Farah. Mungkin ini terakhir kalinya aku memakai kacamata ini. Aku berjalan seolah terburu-buru menuju arah yang berlawanan dari bangku tempat Farah menunggu. Sengaja menabrak laki-laki sialan itu, dan sengaja menjatuhkan ponselku. Tidak mungkin dia tidak sadar, karena aku menjatuhkannya tepat di kakinya. Itu balasanku yang pertama, dasar laki-laki sialan. Sementara aku hanya mengucapkan maaf dengan lirih dan tidak ikhlas, lalu pergi terburu-buru.
Yak. Target terkena jebakan.
Laki-laki itu mengejarku dengan ponsel clamshell milikku di tangannya yang menjijikkan. Heh, akan kubawa kau ke gerbang neraka, dasar laki-laki sialan. Laki-laki itu masih mengejarku, dan akhirnya aku sampai di tempat yang kutuju; sebuah gudang tak berpenghuni. Hei, kau tidak tau apa-apa tentang aku, kan? Dasar laki-laki sialan.
" Rena, ponselmu-- ", kata-katanya terhenti ketika tiba-tiba aku menubruknya dari belakang, mengunci tangannya dengan jurus karate sederhana, lalu benar-benar mengunci tangannya dengan borgol.
" Hei, apa yang kau-- ".
" Kau sudah merebut Farah dariku. Tidak bisa dimaafkan, tidak bisa dimaafkan... ", desisku.
Laki-laki itu menampakkan ekspresi terkejut. Dan matanya makin membola saat aku mengeluarkan sebuah cutter dari tas sekolahku.
" K-kau tidak bermaksud untuk-- ".
" Membunuhmu? Tidak. ", aku memotong perkataannya, " Aku hanya akan melenyapkanmu. "
Bersamaan dengan itu, aku menghujamkan cutter itu ke punggung orang itu. Satu teriakan telah keluar. Disusul teriakan-teriakan lainnya saat aku menghujamkan cutter itu lebih sering. Setelah cukup banyak tusukan yang kuhasilkan, aku bangkit dari punggungnya, lalu berdiri dan mengambil kuda-kuda. Aku meremas kerah bajunya, dan dengan sedikit tenaga, aku melemparnya sampai menabrak dinding. Benar kan, kau tidak tau apa-apa soal aku? Soal aku yang meraih sabuk hitam dalam waktu singkat? Hahaha. Sudah kuduga.
Aku merobek bajunya, menampakkan bagian yang sering menenggelamkan Farah karena pelukannya. Seperti tadi, aku menusuk-nusuk dada bidang itu dengan tatapan sadis. Setelah 378 tusukan, aku mulai bosan. Teriakan-teriakan itu masih sering terdengar, tapi nadanya tidak seperti tadi. Lebih aneh. Tiba-tiba saja, aku teringat pelajaran biologi yang baru saja diajarkan tentang tubuh manusia. Hmmm... Aku ingin tau, apa pengetahuanku sudah cukup? Aku mencari-cari letak hati di tubuh laki-laki sialan itu, dan dengan cepat menemukannya. Aku menusuk tempat itu, memutar-mutar cutterku di dalamnya. Tak lama, bau anyir bercampur asam memenuhi indra penciumanku. Selanjutnya, ginjal. Oh, well. Aku menemukannya. Seperti tadi, aku menusuknya dan memutar-mutar cutter itu, dan efek yang kutau dari perbuatanku adalah hancurnya organ tersebut. Oke, aku sudah menghancurkan 3 organ dalamnya. Sekarang apa?
Oh iya.
" Kau selalu menulis nama 'Farah' di setiap akhir halaman bukumu. Tapi sekarang... ", aku menempelkan ujung cutter-ku di telapak tangannya, " ... Boleh aku tulis di sini? ".
Rheon tidak menjawab. Mungkin dia sekarat.
" Diam berarti 'iya' untukku. ", kataku pelan.
Aku menorehkan inisial namaku, R.A., di telapak tangan kirinya. Tapi, karena laki-laki sialan itu sedikit berontak, jadi titik di inisial namaku berubah menjadi koma. Sialan.
" Yah, hancur deh. Ganti tempat ah! ", ujung cutter-ku berpindah ke telapak tangan kanannya. Kembali menorehkan R.A., namun lagi-lagi rusak karena laki-laki sialan itu berontak. Karena kesal, aku menginjak telapak tangannya, membuat darah mengotori sepatuku.
" Bisa diem gak sih? Aku cuma mau bikin kenang-kenangan. ", kataku sepelan mungkin.
Akhirnya, aku berhasil menorehkan inisial R.A. di pipinya. Lihat, dia jadi menarik kan?
Tapi, aku jadi bosan lagi. Aku memutuskan untuk membedah laki-laki itu. Setelah membuat garis melintang di dadanya sampai ke perut, aku akhirnya bisa melihat bagian tubuh manusia secara langsung. Tapi, hati dan kedua ginjalnya sudah hancur dan berubah menjadi gumpalan dengan cairan menjijikkan. Ukh.
Aku menusuk-nusuk organ tubuhnya secara asal, tanpa mengenai jantungnya. Lambung, usus besar, usus kecil, paru-paru, tulang rusuk, pankreas, dan bagian lainnya. Hei, dia sudah tidak bernafas. Tapi aku masih belum puas.
" Kau selalu memandang Farah dengan tatapan menjijikkan. ", kataku pelan, " Dasar sialan. ".
Aku menusuk-nusuk kedua matanya sampai berubah menjadi gumpalan aneh dengan cairan menjijikkan yang bercampur dengan darah. Lihat, laki-laki itu seperti sedang mengeluarkan air mata darah.
" Kau selalu memanggil Farah dengan bibir ini. ", kataku lagi, " Menjijikkan. ".
Aku mensayat-sayat bibirnya secara asal sampai tidak berbentuk lagi. Bau karat semakin mendominasi, tapi hidungku sudah kebal.
" Kau selalu menggenggam tangan Farah dengan jari-jari ini. ", kataku, " Akan kubuat kau tidak bisa menyentuhnya lagi. ".
Aku mencabut kuku-kuku jari tangannya, lalu menusuk-nusuk tempat kuku-kuku itu sebelumnya berada. Kemudian, aku memotongi setiap ruas jarinya menjadi potongan kecil. Setelah itu, aku menusuk-nusuk telapak tangannya, menghancurkan 'karya seni' yang baru saja kubuat beberapa detik yang lalu. Saat sedang menusuk-nusuk itulah, cutterku patah. Sialan.
Akhirnya aku menendangi tubuh tak bernyawa itu, membuat organ dalamnya berloncatan keluar. Kemudian, aku beralih ke kepalanya. Menendanginya terus, sampai tulang lehernya patah dan kepala itu menggelinding. Aku meraih kepala itu, dan tak sengaja menjatuhkannya. Entah kenapa aku measa senang dengan hal itu. Aku mengambil kepala itu, lalu menjatuhkannya lagi. Ambil, jatuhkan. Ambil, jatuhkan. Begitu seterusnya. Ketika sudah 23 kali melakukan hal itu, sesuatu keluar dari lehernya yang sudah terpisah.
Sebuah gumpalan dengan kerutan-kerutan aneh yang diliputi oleh cairan yang aneh pula. Apa ini otak laki-laki sialan itu? Menjijikkan. Dan laki-laki sialan itu terus memikirkan Farah dengan otak menjijikkan ini? Oh, yang benar saja.
Aku menendang gumpalan menjijikkan itu, lalu menatap 'hasil karyaku'. Penuh darah, bagian tubuh terpisah, dan aku menyukainya. Oke, saatnya pulang. Aku meninggalkan tempat itu setelah menghapus semua barang bukti.
Keesokan harinya, aku sudah mendengar berita tentang Rheon Baskara yang tewas secara mengenaskan di TV. Farah terus menangis, dan aku berusaha menghiburnya.
" Kenapa? Kenapa Rheon harus pergi juga? ", isaknya, " Padahal sebentar lagi aku akan berpisah dengan ibu! ".
" Tunggu sebentar. Jadi ayah dan ibumu cerai? ", kataku tidak percaya.
" Ya. Dan ayahku memenangkan hak asuh anak atasku, dan mau membawaku ke sebuah kota yang jauh. Padahal... Aku... Rheon... ", Farah mulai berbicara tidak jelas.
Apa? Jadi, ayah Farah akan membawanya pergi? Itu berarti, persahabatan kami akan berakhir sampai di sini. Tidak akan kumaafkan siapa pun yang mencoba merusak persahabatan kami berdua.
Haruskah aku membunuh ayah Farah juga?
...
...
...
...
...
Ya.
=>THE END<=
==========================================================================================================================
Author's Bacot Area
Inilah cara Recchan 'membunuh'. Maksud 'membunuh' di sini adalah melampiaskan kekesalan lewat tulisan, dan biasanya, tulisan Recchan tentang tumpahan kekesalan ini berupa scene pembunuhan yang lumayan sadis (menurut Recchan). Aneh juga sih, Recchan yang bikin-bikin sendiri, malah ngeri-ngeri sendiri pas baca. Soalnya pada dasarnya Recchan itu orang yang penakut X3
Biasanya dengan cara begini kekesalan Recchan bisa berhenti dengan cepat. Maafin Recchan kalo ini terlalu sadis dan judulnya terlalu aneh m(_ _)m
Sekian dulu ABA kali ini. See ya in the next story! (>u<)v
Comments
-
Ceritanya Menarik baget! seru
Submitted by HillaryChanx on 26 December, 2011 - 15:04.Ceritanya Menarik baget! seru lagi
-
wkwkwkkwkwkwkwkkwkkwkwkwkwkkw
Submitted by RPGNoZero on 26 December, 2011 - 07:34.wkwkwkkwkwkwkwkkwkkwkwkwkwkkwkwkwkwk
jumlah tusukanny diitungwkwkwkwkkwkwkwwkwkkwkwkw WTF abis ceritanya, udh diluar logika begitu
Tetapi menarik
Ganbatte!!!KILL HER FATHER NEXT!!
"Kenapa... Semakin ahli diri kita, Rasany begitu 1 artworl selese, nilainya tak seberharga waktu dulu lgi..."









































Post new comment