frie

frie
frie
Action
0
363 kali
0 kali

not admin's choice

              INDONESIA OKTOBER 9000. Rakyat indonesia dikota-kota telah berkumpul dari mulut ke mulut telah datang penjajah luar angkasa. Ramalan Navi mengatakan kepada kru KPK ''kalian harus bertemu dengan kesatri di hutan tersembuyi''. '' Kalian harus menamukan batu api''. Dengan pemberitahuan itu, kru KPK langsung pergi ke hutan Giri. Namun, musuh-musuh sebelumya kesatria itu adalah '' sepace pirates korups''. KPK juga merupakan sekelompok perampok dan Korups juga kelompok perampok sehingga mereka sepadan. Gayus meminta gojin suroso memiliki G. Dia ingin bertarung menggunakan itu. Busro ingin mengabil ''gear power'' dari batu api dan ia mengunakan 5 kartu tersembuyi yakni bintang, pohon beringin, banteng, padi kapas dan rantai!. Akhirnya pun sang kesatri yang sungguh kuwat yang dipanggil BUSRO yang manjadi musuh dan Korups dalam masalah yang besar. Busro juga akan memanggil monsternya yakni '' the moon MK''

            Ramalan Navi berkata pada kru KPK "Kebaikan akan menyebabkan pertemuan." BUSRO & HASIM  yang sedang pergi ke kota bertemu dengan seorang paramedis, yakni TAMARA NASRUDIN (mantang POLISI). Di depan wanita itu, BUSRO & HASIM berniat membangkitkan "the moon MK" yang konon merupakan pembuat dari semua BATU API yang ada. GAYUS memiliki niatan untuk mengkuasai dunia dengan cara melumpuhkan semua manusia di bumi, oleh karena itu BUSRO dan HASIM harus menghadapi GAYUS dan GOJIN yang akan memiliki the "lost medal" yang dapat mengubahnya menjadi BURUKWARTACombo

          Capt. MASTURI bersama groupnya yang akan mencari harta karun misterius di kapal yang konon berhantu, ternyata itu bukan cerita belaka...!!!! petualangan MASTURI, dkk dimulai disini...!!!! mereka harus berhadapan dengan makhluk yang kembali hidup yang dikontrol dari kapten kapal hantu tersebut...!!!!.
Sementara itu BUSRO & HASIM b
erusaha untuk mengesankan kemampuannya pada TAMARA. .......Monster ''BANDIT ANDROIT MERAH" akan keluar...!!!!   

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

         Sementara itu NEGARA INDONESIA sedang dilanda duka. PRESIDEN Putri Srengganawati mendadak jatuh sakit yang tidak jelas penyebabnya. Dari hari ke hari penyakitnya semakin parah dan belum ada yang bisa menyembuhkannya. Mentri Kesehatan Darmawisesa dan para setaf telah berupaya mendatangkan dokter untuk mengobati penyakit sang presiden. Namun tidak ada satupun dari mereka yang sanggup menyembuhkan penyakitnya, mereka menyerah dan mohon ampun karena tidak sanggup.

         Hingga suatu hari, diantara mentri Darmawisesa dan setaf menyampaikan kegelisahan dan putus asa kepada peramal NAVI. Akhirnya sang peramal mengungkapkan perasaannya. Presiden Srengganawati jatuh sakit bukan karena penyakit, namun karena di racun oleh seseorang anak buah Gayus. Tentu saja keadaan ini membuat mentri Darmawisesa dan setaf kepresidenan menjadi agak terkejut.

“Kau menanggung racun bu presiden? Siapakah gerangan yang membuat engkau sakit karena menanggung racun, bu?” Kata setaf kepresidenan dengan harap-harap cemas. “Cobalah katakanlah, kami dan paramentri akan mengupayakan mendatangkan orang membuat engkau menanggung sakit , presidenku.” Sambungnya lagi.

         Setahu setaf kepresidenan maupun mentrinya, PRESIDEN Srengganawati belum pernah terlihat mampunyai hubungan dengan SEPECE PIRATES KORUPS maupun orang selain setaf -setafnya manapun. Setahu mereka hubungan mereka hanya sebatas hubungan pekerjaan. Sehingga hal ini membuat mentri Darmawisesa dan setaf kepresidenan semakin tidak mengerti dan penasaran.

        Setelah terus didesak oleh setaf kepresidenan, akhirnya Presiden Srengganawati mengutarakan bahwa yang berhudungan bukanlah mentri atau setaf manapun. Tepati ternyata yang meracuniya adalah seekor burung belibis yang bisa berbicara dan bisa diajak berbincang-bincang.

        Tentu saja apa yang diutarakan Presiden Srengganawati itu dianggapnya bergurau dan membuat setaf kepresidenan menjadi tambah penasaran dan tidak mengerti. Sikap setaf kepresidenan itu membuat  PRESIDEN Srengganawati semakin putus asa dan berkecil hati. Maka para setaf kepresidenan lebih serius mendengarkan keluhan presidennya.

“Baiklah presidenku, aku bersama mentrimu akan berusaha mendatangkannya dan mencarinya demi kesembuhan dirimu, presidenku.” Demikian kata setaf kepresidenan serius. “Bahkan seluruh  tentara beserta para polisi pun akan kami perintahkan untuk mencarinya demi kamu, presidenku.” Sambung setaf kepresidenan.

        Hari itu setaf kepresidenan pun berembug dangan mentri Darmawisesa dan mengutarakan permasalahan sebenarnya dan mencarikan solusinya. Di panggilah semua petinggi POLRI dipanggilnya menghadap sang PRESIDEN dan para Mentri , ketika disinggung masalah penyakit Presiden Dewi Srengganawati, para polisi ini nampak ketakutan dan pasrah. Mereka mengira akan mendapat murka dari MENTRI PERTAHANAN Prabu Darmawci karena dituduh telah menyebabkan Presiden Srengganawati menderita sakit.

        Namun setelah mendapatkan penjelasan dari setaf kepresidenan bahwa mentri kesehatan Darmawisesa dan mentri pertahanan hanya mempertanyakan apakah ada yang pernah melihat burung belibis yang bisa bicara sebagaimana yang diceritakan oleh Presiden Dewi Srengganawati. Karena mendengar penjelasan setaf kepresidenan, para petinggi POLRI pun menjadi lega dan bisa memberika jawaban atas pertanyaan dengan baik dan terkesan antusias.

        Dijelaskan oleh para petinggi POLRI itu bahwa mereka pernah melihat burung yang dimaksud tersebut bersama Presiden Dewi Srengganawati di kolam taman dan bisa berbicara seperti manusia.PRESIDEN Srengganawati saat itu sangat terhibur dengan tingkah lucu burung belibis itu, sehingga dia sangat menginginkannya dan berusaha menangkap burung itu. Namun burung itu sangat cepat gerakannya dan ketika akan ditangkap, burung itu berenang ke tengah kolam, dan ketika dikejar lagi burung itu terbang sangat tinggi dan menghilang dari pandangan.

       Mentri Prabu Darmawci dan para setaf kepresidenan heran dan meragukan cerita itu, namun setelah mengingat kesungguhan Presiden Dewi Srengganawati yang hingga jatuh sakit gara-gara burung belibis itu menjadi menanggapinya dengan serius. Maka Mentri Pertahanan Prabu Darmawci harus berpikir keras untuk bisa menemukan jalan keluar dan mendapatkan burung belibis itu karena berhubungan dengan Presiden Srengganawati.

       Dipanggilah Capt. Masturi Jaksanegara dan karena panggilan itu bersifat mendadak dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya, maka captenpun menjadi bingung, penasaran bercapur ketakutan. Namun setelah Mentri pertahanan Prabu Darmawci menyampaikan akar permasalahan yang sedang menimpa Presiden Dewi Srengganawati, Sang capten seolah tidak percaya dan sepertinya bergurau. Namun setelah mentri Prabu Darmawci menjelaskan dengan serius, barulah Sang capten menanggapinya dengan serius pula.

“Capten Masturi Jaksanegara, kewajibanmu adalah menemukan dan membawa burung belibis seperti yang aku maksudkan tadi hingga engkau mendapatkannya, jika tidak maka kamu akan di ganti.” Demikian titah yang dikeluarkan oleh Mentri Prabu Darmawci. Sang capten jadi ketakutan dan pucat, maka dia pun meyanggupi lalu segera malaksanakan perintah Sang mentri.

       Berhari-hari, capten Masturi Jaksanegara mencari-cari burung Belibis yang dimaksud menyusuri desa, hutan, ladang dan pemukiman penduduk. Hingga suatu hari dia melihat ada seorang petani kaya yang mempunyai burung belibis putih, Sang Patih pun menjadi pensaran dan hendak membeli burung itu.

      Mendengar penjelasan capten Masturi Jaksa bahwa burung itu adalah burung ajaib yang akan digunakan sebagai sarana untuk menyembuhkan sakitnya presiden Srengganawati, maka petani itu dengan senang hati mempersembahkan burung belibis itu demi kesembuhan Presiden Srengganawati.

      Ketika capten Masturi Jaksanegara menenteng sangkar belibis itu, tiba-tiba dibuat takjub oleh burung yang tadinya hanya terdiam saja. Belibis itu berbicara layaknya manusia dan suaranya mantap tegas. Burung itu mengatakan dengan senang hati kalau dirinya berguna untuk kepentingan istana, dan dengan senang hati dibawa ke istana.

       Sesampainya di istana, Para mentri dibuat takjub juga oleh penampilan burung brlibis yang lucu dan bisa berbicara selayaknya manusia dengan suara dan nada bicara yang sangat tegas seolah menggambarkan sosok yang gagah perkasa. Suaranya bagaikan suara seorang ksatria yang gagah perkasa, berat dan berwibawa.

      Presiden Srengganawati merasa bahagia luar biasa dan yang lebih menakjubkan lagi, penyakitnya mendadak sembuh dan sehat seperti sedia kala. Srengganawati langsung memungut burung belibis itu, bipeluk, dibelai dan dicium. Belibis itupun dibawanya ke peraduannya, seolah dia tak mau terpisahkan dengan belibis. Hari-harinya dihabiskan di dalam peraduannya dengan belibis.

       Suatu hari, Presiden Srengganawati menanyakan asal usul belibis itu. Presiden sangat penasaran mengapa belibis itu bisa bicara selayaknya manusia, pasti ada sejarahnya. Dan sedikit demi sedikit burung belibis itu mengungkapkan riwayat dirinya. Namun ketika sudah mengarah pada jati diri belibis yang sesungguhnya, belibis mengalihkan ceritanya.

      Presiden Srengganawati tidak pernah bosan dengan usahanya mengungkap jati diri sebenarnya burung belibis itu. Hingga suatu hari, burung belibis itu menceritakan riwayat dirinya karena terus-menerus didesak oleh Presiden Srengganawati.

“SEPACE PIRATES CORUPS adalah perampok besar yang dipimpin oleh raja yang sakti dan kejam yaitu GAYUS.” Belibis mulai bercerita. “Beliau mempunyai seorang ANAK BUAH yang kuwat Gojin yang tidak ada tandingannya di seluruh negara mana pun. Kesetiaan Gojin terhadap rajanya teramat dalam dan bersumpah untuk setia sampai ajal memisahkan mereka.” Lanjut belibis itu.

“Apakah Gayus itu masih sakti, dan kuwatkah dia?” Srengganawati makin tertarik cerita belibis itu.

“Raja Gayus sebenarnya belum bisa dikatakan sakti, namun karena kekuwatannya, beliau masih nampak sakti dan kejam, sangat kuwat sehingga sampai kapanpun akan tetap berkuwasa.” Kata belibis.

“Berarti anak buahya banyak ya beliau?” presiden makin penasaran.

“Tidak demikian, tuan. Beliau tidak tamak dan sangat setia dengan anak buahnya dan tetap berpegang teguh akan sumpahnya, tidak akan mengangkat anak buah dengan orang manapun.” Jawab belibis.

“Belibisku, apakah aku bisa menemui  raja Gayus itu dan sejauh apakah  Sepace Pirates Corups itu dari INDONESIA?” Presiden Srengganawati mulai tertarik pada kisah Gayus.

“Tapi saat ini Sepace Pirates Korups sedang terjadi kekisruhan, tuan .” Jawab belibis untuk mengalihkan perhatian. “ Kapal SEPACE PIRATES CORUPS sedang kehilangan rajanya. Gayus sudah bertahun-tahun raib dari kapal dan tidak seorangpun tahu keberadaannya.” Lanjut belibis.

“Kenapa? Apa yang telah menimpa raja Gayus?” Tanya Srengganawati dengan tidak sabar untuk segera mengetahui apa yang terjadi.

“Ceritanya panjang, bermula dari kesalahpahaman yang terjadi antara Gojin dan Gayus, sehingga Gayus mengambila jalan pintas kabur dengan melemparakn diri ke kobaran api. Raja GAYUS sangat terpukul dan merasa sangat kehilangan. Raja Gayus telah bersumpah tidak akan mencari pengganti Gojin, karena beliau percaya tidak akan ada yang bisa menyamai kekuwatan dan keagungan Gojin anak buahnya.” Begitu belibis mengawali ceritanya.

“Capten Masturi mendengar sumpah Gayus dari INTEL, maka diapun penasaran ingin menguji keteguhan Gayus. Masturi kemudian meyerang Gojin. Kemuadian meyerang GAYUS . Karena Gojin kalah dan kabur, akhirnya Gayus kalah dan menuruti apa yang diminta capten Masturi seolah itu adalah rajaya.” Dengan nada sendu belibis menceritakan.

“Trus apa yang terjadi pada Gayus?” Srengganawati sudah tidak sabar mendengar lanjutannya.

“Karena Gayus telah kalah sendiri, maka dia langsung dibuang dengan kapalnya oleh para kru KPK yang di pimpin capten Masturi. Seketika itu dia merasa gelap dan tubuhnya sangat lemah serasa kehinagan semua tenaganya. Kapal dan segala isinya seolah hilang begitu saja. Tiba-tiba dirasakan oleh Gayus seolah ada tenaga dahsayat yang melemparkan dirinya dan terjatuh di tengah hutan belantara. Gayus saangat menyesal dan merasa ketakutan, karena hutan itu terasa sangat angker dan hanya suara binatangbuas yang terdengar.” Kata belibis.

“Gayus hanya sendirian di dalam hutan itu, hari-harinya hanya dihabiskan untuk terus berjalan tanpa tujuan dan hanya mengikuti keinginan kakinya melangkah. Hingga sampailah di depan sebuah rumah pohon yang besar namun kelihatannya tidak berpenghuni, kesan tidak terawat yang dilihat dari luar. Ternyata dugaan Gojin keliru, rumah itu dihuni oleh tiga monster.” Cerita belibis.

“Lalu raja Gayus berteman pada salah satu dari ke-tiga monster itu?” Tanya Srengganawati penasaran.

“Tidak begitu, tidak seperti yang kau duga. Merekapun saling mengenalkan diri, dan ketika tahu bahwa itu adalah Gayus, makan ketiga monster itu langsung menyerangnya tanpa ampun. Karena mereka, ketiga monster itu yaitu THE MOON MK, BURUKWARTA COMBO dan BANDIT ANDROIT MERAM mengetahui bahwa yang membunuh KALAJENGKING, ayah mereka adalah KAPAL SEPACE PIRATES KORUPS Ketiga monster itu semakin gencar menyerang Gayus.”

“Lalu raja Gayus terbunuh?” Tanya Srengganawati.

“Meskipun sudah dijelaskan bahwa yang membunuh Kalajengking adalah Masturi musuhnya, para monster itu tidak peduli, dan akhirnya berhasil meringkus Gayus. Mereka sebenarnya hendak mengukum dengan hukuman mati, namun setelah dipikir-pikir, mereka sepakat mengampuninya dengan syarat menuruti perintah ke-tiga monster itu. Karena demi keselamatan dirinya, akhirnya Gayus pun menyanggupi persyaratan itu.”

“Hari-hari Gayus dihabiskan dengan ke-tiga monsternya. Hingga ketika suatu hari, Gayus melihat kejanggalan ke-tiga monsternya itu. Kebiasaan ke-tiga monsternya itu setiap pagi pergi dalam keadaan lemah dan pucat, namun setelah tengah hari sudah pulang dalam keadaan segar-bugar.” Kata belibis.

“Akhirnya raja Gayus berniat menyelidiki kejanggalan yang dialami ke-tiga monsternya itu. Beberapa saat seperti biasa ke-tiga puteri itu berangkat meninggalkan rumah, Raja Gayus membuntutinya dengan merubah dirinya menjadi seekor burung gagak, sehingga tidak mengundang kecurigaan bagi mereka. Dan ketika telah sampai di suatu tempat, terbelalaklah mata Gayus melihat apa yang dilakukan mereka. Mereka mengerumuni sesosok mayat manusia dan mencabik-cabik dagingnya untuk dimakannya dengan lahap.”

“Ketika mereka melihat burung gagak itu, mereka melemparkan sebagian kecil daging untuk gagak itu. Namun burung gagak itu tidak mau menyentuhnya, maka mereka melemparkan jantung mayat itu, burung gagak baru mau mematuknya dan pergi membawa jantung itu. Burung gagak pergi dan diiringi tertawaan ke-tiga puteri itu karena dianggap lucu.” Lanjut belibis.

“Burung gagak yang tidak lain adalah Angling Darma itu kemudian langsung menuju istana dengan membawa jantung di paruhnya. Sesampainya di istana, jantung itu disimpan di tempat riasan sang puteri yang biasa digunakan setelah tiba dari pergi. Angling Darma kemudian pura-pura tidur pulas. Dan ketika tengah hari tiba, pulanglah ke-tiga puteri tadi. Sesampainya di istana seperti biasa, mereka hendak berdandan. Namun betapa kagetnya mereka setelah didapati jantung manusia yang sepertinya milik orang yang baru dimangsanya tadi berada di dalam wadah riasannya.”

Sebenarnya, Prameswari sudah dua kali mengandung, tetapi dua kali juga keguguran. Penyebab Prameswari keguguran karena ulah Dewi Dursilawati yang iri hati kepadanya. Ia mencampuri racun ke dalam makanan dan minuman Prameswari secara diam-diam. Dewi Dursilawati melakukan hal itu karena ia menginginkan putra yang lahir dari rahimnyalah yang akan menggantikan kedudukan Raja Asmawikana kelak. Pada suatu sore, ketika Raja Asmawikana sedang duduk termenung di singgasananya, tiba-tiba muncul perasaan curiga terhadap selirnya Dewi Dursilawati. ?Wah, jangan-jangan Dewi Dursilawati telah mencampurkan racun ke dalam makanan Prameswari,? pikirnya. Sejak itu, Raja Asmawikana selalu memperhatikan kesehatan Prameswari, khususnya dalam hal makanan. Ketika Prameswari mengandung putranya yang ketiga, ia pun memerintahkan kepada para dayang-dayang istana agar memeriksa makanan dan minuman yang akan dihidangkan kepada Prameswari dan mengawasi sang permaisuri pada saat makan. ?Wahai, Dayang-dayang! Ingat, jangan biarkan permaisuri Prameswari makan dan minum tanpa sepengetahuan kalian! Kalian harus mengawasi semua hidangan yang akan disantapnya!? titah Raja Asmawikana. ?Baik, Baginda!? jawab dayang-dayang tersebut serentak. Sejak itu, segala kebutuhan makanan dan minuman Prameswari senantiasa dalam pengawasan para dayang-dayang istana. Dengan demikian, Dewi Dursilawati tidak dapat lagi meracuni Prameswari. Namun, selir raja yang licik itu tidak kehabisan akal. Ia pergi ke seorang nenek dukun untuk meminta bantuan agar menyihir bayi yang ada di dalam kandungan Prameswari. ?Hai, Nenek Dukun! Aku ingin meminta bantuanmu! Sihirlah bayi yang ada di dalam kandungan Prameswari supaya menjadi cacat!? pinta Dewi Dursilawati. Nenek sihir itu pun bersedia mengabulkan permintaan Dewi Dursilawati. Begitu kandungan Prameswari berusia sembilan bulan, dukun itu menyihir bayi yang tak berdosa itu. Tak berapa lama kemudian, Prameswari pun melahirkan seorang anak laki-laki. Alangkah terkejutnya keluarga istana, terutama Raja Asmawikana, ketika melihat putranya lahir dalam keadaan cacat, yaitu kepalanya berbentuk /kendhil/ (panci). Ia dan permaisurinya sangat sedih melihat keadaan putra mereka. Sang Permaisuri menangis siang dan malam. Meski demikian, mereka tetap menerima keadaan itu dengan lapang dada. Bayi yang diberi nama Jaka Kendhil itu mereka rawat dengan penuh kasih sayang. Namun, Raja Amawikana tidak ingin putranya cacat seumur hidup. Untuk itu, ia pun memerintahkan pengawalnya untuk memanggil seorang pertapa yang terkenal sakti mandraguna untuk melihat keadaan putranya. Pada suatu hari, pertapa itu pun datang ke istana menghadap kepada Raja Asmawikana. ?Ampun, Gusti! Apa yang bisa hamba bantu?? tanya pertapa itu sambil memberi hormat. Raja Asmawikana pun menceritakan perihal keadaan putranya yang lahir dalam keadaan cacat itu. ?Wahai, Pertapa! Apakah kamu mengetahui penyebab penyakit yang diderita putraku? Apakah penyakitnya masih bisa disembuhkan?? tanya Raja Asmawikana dengan perasaan haru. ?Ampun, Gusti! Menurut pengetahuan hamba, putra paduka terkena sihir. Sebaiknya paduka menitipkan putra paduka kepada seorang nenek yang bernama Mbok Rondho. Ia tinggal di pinggir sungai di wilayah perbatasan kerajaan paduka. Suatu hari kelak, putra paduka akan menjadi kesatria setelah menikah dengan seorang putri raja,? ramal pertapa itu. ?Terima kasih atas bantuanmu, Pertapa!? ucap Raja Asmawikana. Setelah mendapat saran dari sang pertapa, Raja Asmawikana segera mengirim utusan untuk menitipkan putranya kepada Mbok Rondho. Ia juga memerintahkan beberapa pengawalnya yang lain untuk menangkap dukun yang telah menyihir putranya untuk dihukum pancung. Namun sayang, dukun itu telah kabur dari rumahnya untuk menyelamatkan diri. Rupanya, Dewi Dursilawati telah memberitahu perihal penangkapan itu kepada si dukun. Sementara itu di tempat lain, para utusan raja telah tiba di rumah Mbok Rondho untuk menyerahkan Jaka Kendhil. ?Mbok Rondho! Kami adalah utusan Raja Asmawikana. Kanjeng Gusti memerintahkan kami untuk menitipkan putranya kepada Mbok. Sebagai ucapan terima kasih, Kanjeng Gusti juga menitipkan emas, intan, dan permata untuk bekal hidup Mbok bersama Jaka Kendhil,? pesan salah seorang utusan. Mbok Rondho pun menerima Jaka Kendhil dengan senang hati. Ia berjanji akan merawat dan membesarkan Jaka Kendhil dengang penuh kasih sayang. Sejak itu, Jaka Kendhil berada di bawah asuhan Mbok Rondho. Ketika Jaka Kendhil berumur belasan tahun, Mbok Rondho sering mengajaknya ke pasar dan ke ladang. Jaka Kendhil adalah anak yang rajin, baik hati, dan suka membantu orang-orang yang sedang kesusahan. Tak heran, jika semua orang sayang kepadanya. Waktu berjalan begitu cepat. Jaka Kendhil pun tumbuh menjadi pemuda dewasa. Ia pun semakin rajin membantu ibu angkatnya bekerja di ladang. Ia juga suka membantu masyarakat di sekitarnya yang membutuhkan tenaganya. Pada suatu hari, raja dari negeri seberang dengan rombongannya sedang mengadakan rekreasi di sungai di dekat Dusun Kasihan tempat tinggal Mbok Rondho dan Jaka Kendhil. Dalam rombongan tersebut hadir pula permaisuri dan putrinya yang jelita bernama Putri Ngapunten. Masyarakat Dusun Kasihan pun berbondong-bondong untuk melihat rombongan raja yang sedang berekreasi tersebut. Tak terkecuali Jaka Kendhil dan Mbok Rondho. Saat pertama kali melihat Putri Ngapunten, Jaka Kendhil pun langsung jatuh hati. Ia terus menatap wajah putri raja yang cantik nan rupawan itu hingga rombongan raja tersebut kembali ke negerinya. Bahkan, di sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya, wajah cantik Putri Ngapunten selalu terbayang-bayang di hadapannya. Jaka Kendhil benar-benar jatuh hati kepada Putri Ngapunten dan berniat untuk meminangnya. Setibanya di rumah, ia pun menyampaikan niat tersebut kepada ibu angkatnya. ?Bu! Jaka jatuh hati kepada putri raja dari negeri seberang itu. Bersediakah Ibu melamarnya untukku?? pinta Jaka Kendhil. Alangkah terkejutnya Mbok Rondho mendengar permintaan putra angkatnya itu. ?Ah, kamu jangan meminta yang aneh-aneh, Putraku! Mana mungkin Raja Negeri Seberang itu akan menerima pinanganmu dengan keadaanmu seperti ini. Apalagi dia itu putri raja satu-satunya. Sebaiknya, kamu urungkan saja niatmu itu, Putraku!? kata Mbok Rondho menasehati Jaka Kendhil. ?Tidak, Bu! Apa salahnya jika Ibu mencobanya dulu,? desak Jaka Kendhil. Mulanya, Mbok Rondho menolak untuk memenuhi permintaan Jaka Kendhil. Namun, karena terus didesak, akhirnya ia pun bersedia untuk memenuhi permintaan putra kesayangannya itu. Ia pun segera ke istana untuk menyampaikan niat Jaka Kendhil kepada Raja Asmawikana. Penguasa Kerajaan Ngambar Arum yang bijak itu pun menyetujuinya. ?Baiklah, Mbok Rondho! Aku merestui putraku menikah dengan Raja Ngapunten. Tapi, aku mohon Mbok Rondho yang datang ke Kerajaan Seberang untuk meminang putri raja itu. Aku akan menyiapkan segala keperluan pinangan ini dan mengutus beberapa pengawalku untuk mendampingimu ke sana,? pinta Raja Asmawikana. Mbok Rondho pun tidak kuasa untuk menolak permintaan Raja Asmawikana. Pada hari yang telah ditentukan, Mbok Rondo bersama utusan raja pun berangkat ke Kerajaan Seberang dengan membawa perhiasan emas dan intan permata untuk dipersembahkan kepada putri raja. Pada malam sebelum Mbok Rondho berangkat ke Kerajaan Seberang, Jaka Kendhil berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar pinangannya diterima. Berkat doanya tersebut, Tuhan pun membuka hati Raja Negeri Seberang melalui mimpi. Suatu malam, sang Raja bermimpi kejatuhan sebuah /kendhil. /Ajaibnya, ketika /kendhil /itu//diberikan kepada putrinya, /kendhil /itu tiba-tiba berubah menjadi seorang kesatria yang gagah dan tampan. Raja Negeri Seberang pun berharap mimpi tersebut menjadi kenyataan. Maka, ketika Mbok Rondho bersama utusan Raja Asmawikana datang meminang putrinya, ia pun langsung menerimanya. ?Pinangan Jaka Kendhil saya terima. Kembalilah ke negeri kalian untuk menyampaikan berita gembira ini kepada Raja Asmawikana! Sampaikan kepadanya bahwa pesta pernikahan Jaka Kendhil dengan putriku akan dilaksanakan pekan depan!? seru Raja Negeri Seberang. ?Baik, Gusti!? ucap Mbok Rondho dengan senang hati. Mbok Rondho bersama utusan raja pun mohon diri kembali ke istana untuk menemui Raja Asmawikana. Mendengar berita gembira tersebut, Raja Asmawikana segera memerintahkan seluruh pengawalnya untuk menyiapkan segala keperluan pesta pernikahan putranya. Pada hari yang telah ditentukan, pesta pernikahan <http://ceritarakyatnusantara.com/culture.melayuonline.com/?a=b3N1ei9zVEkvUXZ5bEpwRnNx=> Jaka Kendhil dengan Raja Ngapunten pun dilangsungkan dengan meriah di istana Negeri Seberang. Pesta tersebut dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni dan tari. Undangan yang hadir pun datang dari berbagai penjuru negeri. Ketika Jaka Kendhil dan Raja Ngapunten sedang duduk bersanding di atas pelaminan, para undangan tiba-tiba menjadi gaduh. Banyak di antara mereka yang menyesali atas pernikahan tersebut, karena kedua mempelai bukanlah pasangan yang serasi. Raja Ngapunten adalah seorang putri raja yang cantik nan rupawan, sedangkan Jaka Kendhil putra raja yang memiliki bentuk kepala yang sangat buruk, yakni menyerupai /kendhil/. Di tengah kegaduhan tersebut, tiba-tiba terjadi peristiwa ajaib. Jaka Kendhil tiba-tiba menghilang entah ke mana, sehingga Raja Ngapunten tampak duduk seorang diri di atas pelaminan. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba seorang pemuda tampan dan gagah muncul di antara kerumunan undangan, lalu berjalan menuju ke pelaminan dan duduk di samping Raja Ngapunten. Para undangan tersentak kaget bercampur rasa senang ketika menyaksikan peristiwa ajaib itu. Mereka baru menyadari bahwa ternyata Jaka Kendhil adalah seorang putra raja yang tampan dan gagah. Akhirnya, pesta pernikahan berlanjut dengan suasana meriah. Para undangan pun merasa senang dan gembira menyaksikan kedua mempelai pengantin yang duduk di pelaminan. Kini, kedua mempelai tersebut telah menjadi pasangan yang sangat serasi. Mereka hidup bahagia dan harmonis dalam menjalani bahtera rumah tangga. Tidak lama setelah menikah, Jaka Kendhil dinobatkan menjadi raja untuk menggantikan ayahandanya yang usianya sudah mulai udzur. Seluruh keluarga istana merasa sangat bahagia atas penobatan Jaka Kendhil sebagai raja, kecuali Dewi Dursilawati. Ia merasa dengki dan iri hati, karena belum mendapat seorang putra yang diharapkannya untuk menjadi raja. Karena perasaan dengki itu, ia berniat untuk mencelekai istri Jaka Kendhil. Namun, niat busuk itu terlebih diketahui oleh Raja Asmawikana melalui petunjuk dari sang pertapa, sehingga ia gagal melaksanakannya. Ia melarikan diri masuk ke dalam hutan, karena takut mendapat hukuman dari Raja Asmawikana. Pada saat itulah, ia terperosok masuk ke dalam jurang dan tewas seketika. * * * Demikian cerita /Jaka Kendhil/ dari daerah Jawa Tengah, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang di dalam terkandung nilai-nilai moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Nilai moral yang terkandung di dalam cerita di atas adalah sifat dengki, yaitu suatu sifat yang tidak senang atas keberhasilan atau kenikmatan yang diperoleh orang lain dan berusaha untuk mecelakainya. Sifat dengki ini harus kita jauhi, karena ia bagaikan racun yang dapat mengubah rasa kasih sayang menjadi kebencian, bahkan hingga ke pembunuhan sekalipun. Hal ini ditunjukkan oleh sifat Dewi Dursilawati yang merasa iri dan dengki terhadap Prameswari, sehingga ia selalu berusaha untuk mencelakai Prameswari dan bayinya. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat iri dan dengki termasuk sifat tercela yang sangat dipantangkan. Orang yang memiliki sifat ini akan dijauhi dan dibenci oleh orang lain. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu: //

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

return to top