Sat23Apr2011
Freak Saga Adventures - Story 1
232 kali
0 kali
not admin's choice
FREAK SAGA ADVENTURE - JAM PERAK PEMBAWA BENCANA
[b]BAB 1[/b]
Udara
di Shadyside sedikit dingin dan lembab, dan seperti biasanya, aku
selalu kedinginan saat musim dingin tiba. Dengan baju seragam dan jaket
kelasku, aku terus mengayun sepeda merahku menuju ke Walterland
Highschool yang berjarak 10 menit perjalanan.
“Rob,tunggu!”, aku mendengar teriakan cewek dari arah jam sepuluh.
Deedee[i] (Dandelion Simons) [/i]tampak
tergesa-gesa menghampiriku ketika aku menghentikan sepeda. Sebenarnya
dia tidak perlu melakukan itu karena aku pasti menghentikan sepedaku di
depan rumahnhya. Dia berhenti sebentar, mengambil napas lalu naik ke
atas palang sepeda gunungku. Aku kemudian kembali mengayuh menuruni
bukit Greatrock. Di depan Walterland Highschool, dua temanku, Ronny[i] (Ronan Marshall) [/i]dan MC [i](Mac Cloud Saint)[/i] tampak asyik ngobrol.
“Minggir, minggir! Tuan putri mau lewat!”, teriak Deedee ketika sepedaku melewati mereka.
Spontan saja mereka meloncat mundur menjauhi pintu, kemudian ikut berteriak.
“Apanya yang tuan putri? Cewek kecil begitu?”, teriak Ronny.
“Ya, bener! Jelek begitu!”, MC menimpali.
“Gini-gini kan banyak yang cari, ya kan Rob?”, Deedee melihat ke arahku.
“Bener! Bagaimanapun dia ini tuan putri kecilku.”, jawabku.
Sekitar
lima menit kemudian kami beradu argumen di depan pintu gerbang tanpa
mempedulikan anak lain yang melintas sambil memperhatikan kami. Tapi
argumen itu terhenti setelah bel sekolah berbunyi. Aku dan Deedee
berlari mendahului Ronny dan MC masuk ke dalam sekolah. Deedee berbelok
pada pertigaan pertama , sedangkan aku, MC dan Ronny naik ke lantai 2,
dimana kelas kami Science[i](Exact)[/i] 7 berada.
Kelas kami tidak ada pelajaran sampai jam 11.00 ketika terdengar pengumuman dari loudspeaker yang ada di atas pintu kelas.
“Perhatian
kepada semua murid Walterland High! Berhubung musim gugur akan datang
lebih cepat , maka sekolah akan diliburkan mulai besok dan masuk setelah
cuaca kembali stabil. Kalian diperbolehkan pulang sekarang.”
Mendengar
itu seluruh kelas menjadi ribut. Aku langsung mengambil tasku dan
berlari ke tempat parkir. Deedee tampak berdiri di dekat sepedaku sambil
memutar-mutar ibu jarinya.
“Hai! Lama ya?”, tanyaku padanya sambil memutar sepedaku.
“Ah nggak.”, sahutnya sebelum naik ke atas sepedaku. Tak lama kemudian, sepeda kami pun sudah meluncur di jalanan.
“Rob, aku boleh menginap di rumahmu ya?”
“Lho? Memangnya ada apa? Kok tumben-tumbenan gini?”
“Pamanku
dan keluarganya akan menginap di rumahku selama seminggu, dan kamu tahu
sendiri kalau di rumah kami tidak ada kamar tamu, jadi...”
“Jadi
sang tuan putri bersedia mengorbankan singgahsananya dengan pertimbangan
bisa numpang tidur di rumahku. Begitu ya?”, aku bertanya tanpa
mengharap jawaban.
Dia memalingkan wajahnya dariku, tapi tetap terlihat senyum dan pipinya yang merah karena malu.
“Mau
mampir dulu?”, kataku sambil menghentikan sepeda di depan rumahnya. Ia
pun mengangguk padaku, turun dari sepeda dan segera masuk ke dalam
rumah. Beberapa saat kemudian ia keluar dengan menggendong tas besar dan
memegang boneka Furrball dengan kedua tangannya.
“Waduh,
pindahan nih!”, kata kakakku, Alex yang meledek Deedee ketika melihatnya
memasuki rumahku dengan membawa tas yang hampir sebesar tubuhnya yang
mungil.
“Bagaimana menantu? Butuh bantuan?”, tanya Mom sambil melongok ke arah kamar tamu.
“Terima kasih Mrs.Malloy, tapi saya rasa saya bisa sendiri.”, kata Deedee sambil meletakkan tasnya di samping meja belajar.
“Jangan panggil Mrs.Malloy dong, menantu. Panggil saja Mom, kayak Rob.”
Aku masih terpaku di depan pintu, setengah tidak percaya kalau Deedee benar-benar menginap di rumahku, di samping kamarku.
“Hei,ngelamun ya?”, tanya dia sambil memiringkan kepalanya
“Eh iya sorry. Ada yang bisa kubantu?”
“Tidur saja deh, tapi nanti tolong aku ya belanja dan jalan –jalan.”
“Beres
deh.”, lalu aku melangkah keluar dan menutup pintu, kemudian masuk ke
kamarku, kamar yang aku usahakan selalu rapi walaupun penuh action
figure, poster dan software anime.
“Wuah! Tidur siang
bikin sakit semuanya.” aku mengucek mataku sambil melangkah menuju ke
kamar mandi. Setelah mandi dan ganti pakaian, aku kembali ke kamar tamu.
“Dee!”, kuketuk pintu kamarnya tiga kali.
“Masuk.”, sahutnya dari balik pintu.
Aku kemudian masuk ke dalam kamarnya.
“Wow! Kamu apakan kamar tidur kami?”
“Bagus nggak?,” katanya sambil memutari kamar.
“Bagus sih, tapi kok kamu belum siap-siap?”
“Memangnya ada apa sih?”
“Lho, katanya mau belanja dan jalan-jalan. Gimana sih?”
“Oh
iya, tunggu ya, aku mau mandi dulu.”, katanya sambil menuju ke kamar
mandi tamu yang ada di kamarnya. “Tunggu lho ya?!”, katanya sambil
melongok keluar dari dalam kamar mandi.
“Aku tunggu di luar ya?”, kataku sambil keluar dari kamar tamu.
Setengah
jam kemudian dia keluar dari kamarnya dengan dandanan ala tuan putrinya
itu. Dari semua cewek yang aku kenal, Deedee adalah cewek yang
berdandan paling cepat. Dibandingkan dengan Gladys, Sophie atau Sissy,
dia bahkan dua kali lebih cepat.
“Ayo!”, katanya sambil mengait tanganku dengan manja lalu menyeretku keluar.
“Oke, oke. Nggak usah kayak gini. Nanti juga jalan sendiri kok.” kataku.
“Biar keliatannya mesra gitu.” sahutnya.
Kami
berjalan-jalan keluar masuk mall sampai jamku menunjukkan angka 18.05,
kemudian setelah makan, kami pergi ke bukit di dekat rumahku. Lover
Hill, yang kata teman-temanku pemandangannya paling bagus dan romantis,
cocok buat pacaran.
“Dee, kamu suka nggak di rumahku?”
“Nggak, soalnya banyak orang sih. Enakan disini.”, dia menyandarkan kepalanya di bahuku. “Disini rasanya damai banget.”
Kami duduk berdampingan menatap langit. Bulan tampak bersinar terang dikelilingi bintang-bintang yang bertaburan di angkasa.
“Lihat
ada bintang jatuh!”, kata Dee sambil menunjuk ke angkasa. Sebuah
bintang jatuh tampak berkilauan merah. Hey! Kenapa rasanya ia bertambah
besar?
“Lari Dee!”, aku menarik Deedee berlari menjauh dari tempat kami duduk.
Blar!
Sebuah cahaya merah menghantam bumi. Tanah tempat benda itu jatuh
tampak terbakar membentuk sebuah lubang yang sangat besar. Dari lubang
itu mengepul asap kebiruan dan cahaya kuning keemasan.
“Apa itu? Meteorid?”, tanyaku pada diri sendiri.
Perlahan
aku mendekati lubang tempat jatuhnya benda tadi, dan Deedee bersembunyi
di belakangku. Di antara asap biru tampak sebuah benda mirip jam saku
dengan lampu yang berkerlap-kerlip.
“Benda apa ini?”, aku menjulurkan tanganku untuk mengambil benda itu.
Saat
melihat keadaan aman, Deedee melangkah mendekatiku. Benda itu
mengeluarkan suara mendesis lalu tutupnya terbuka.Kami berdua terlempar
ke belakang, sedangkan benda aneh itu jatuh di antara kami berdua.
Cahaya kuning keluar dari benda itu beserta bunyi menggeram. Kemudian
nampak di depan kami sesosok makhluk besar bermata satu dan bertaring.
Bentangan sayapnya sekitar 10 meter, dengan cakar pada kedua tangan dan
kakinya.
“Ah!”, Deedee berteriak karena ngeri.
Makhluk itu
mendengar teriakan Deedee dan melihat ke arah kami. Dengan marah dia
menyerang kami. Secara tak sadar aku mengambil benda yang terjatuh dari
tanganku tadi dan menyodorkan ke arahnya. Benda dalam tanganku mulai
mengeluarkan cahaya aneh yang menyilaukan mata. Merah,
hijau,kuning,biru, silih berganti. Makhluk itupun bereaksi, dia
berteriak dengan nyaring dan kemudian terbang meninggalkan kami.
Aku
memandangi langit dan tanah yang berlubang serta terbakar, ini bukan
mimpi. Kumasukkan benda dalam genggamanku ke dalam saku celanaku
kemudian membantu Deedee untuk berdiri.
Dengan rasa bimbang kami
melangkah pulang ke rumahku. Begitu sampai, Deedee langsung masuk ke
dalam kamarnya. Aku terus berjaga di teras rumahku sambil memandang
langit yang dipenuhi bintang.
Hancur deh kencanku....
[b] [/b]
[b]BAB 2[/b]
“Wow! Baru kali ini beefsteak sebagai sarapan pagi.”, seruku saat melihat piring di atas meja makan.
“Iya dong, spesial untuk menantu.”, Mom berkomentar.
“Jangan pilih kasih dong Mom.”, protesku.
“Maaf ya merepotkan.”, Deedee tersenyum sambil menundukkan kepala.
“Ah nggak apa-apa.”, balas Mom,”Makan yang banyak ya.”
Deedee hanya tersenyum malu. Aku menggeser letak kursiku dan mendekatkan padanya.
“Nanti gendut lho!”, bisikku ditelinganya. Ia cemberut dan mencubitku.
Terus
terang aku paling suka menggoda Deedee, kalau tidak menggoda dia
rasanya hidup ini tidak ada variasi sama sekali dan pastinya akan sangat
membosankan.
Setelah selesai makan, aku ditarik oleh
Deedee masuk ke kamarnya. Dia mengunci pintu lalu duduk di atas tempat
tidur sambil memeluk boneka Furrballnya. Aku mengambil kursi dan duduk
di samping tempat tidur. Dia memandang nanar ke arahku.
“Rob, menurutmu yang kemarin itu .... hantu?”
“Kurasa begitu.”
Sepintas
dalam benakku muncul gambar makhluk itu disegel dalam jam saku perak
yang aku temukan saat itu, dan kemudian dilemparkan ke angkasa dengan
alat semacam roket. Aku memang mempunyai kemampuan untuk melihat masa
lalu suatu barang atau bahkan masa lalu seseorang. Dan kemampuan itu
juga yang suka membuat temanku, selain anggota Sciven dan Freak Squad,
semua pergi menjauhi diriku.
“Aku takut sekali Rob.”
“Bukannya kita sudah sering berhadapan dengan hal-hal seperti itu?”
“Memang, tapi aku rasa ada yang lain.”
“Kamu
hanya terlalu khawatir saja. Mungkin kamu harus lebih banyak
beristirahat Dee.”, kataku sambil mencium pipinya lalu keluar dari kamar
tamu.
[b]BAB 3[/b]
Aku sebenarnya
juga merasa kalau musuh kali ini lebih kuat dari yang lain. Hawa
jahatnya dapat terasa olehku bahkan bermil-mil jauhnya. Kurasa Deedee
tahu kalau aku berbohong, karena dia dapat membaca pikiranku. Aku hanya
berusaha menenangkan dia, itu saja. Tidak mungkin makhluk itu akan pergi
menghilang begitu saja. Ia pasti lapar dan sangat ingin membalaskan
dendam, karena ia telah terkurung dalam jam saku perak itu entah untuk
berapa lama.
“Rob, ada telephone!”, kata Mom sambil memberikan gagang telephonenya.
“Hallo!”
“Rob, ada kejadian aneh di Taughly Street!”, terdengar suara sahabat karibku.
“Ada apa Ron? Kok kayaknya gawat banget?”
“Banyak orang ditemukan tergeletak seperti kehabisan darah. Anehnya yang diserang hanya pasangan ABG yang lagi fall in love.”
“Seperti apa makhluk yang menyerangnya?”
“Aku
tak tahun pasti, tapi aku sarankan sebaiknya kalian jangan kencan
dengan Dandelion dan Sissy dahulu deh. Aku akan suruh teman-teman kumpul
di markas.”
“Jangan lupa, berangkatnya jangan berpasangan ya?”
“Iya, akan kuberitahu tentang itu juga.”
“Fine then, good luck Pal! See Ya!”
Aku
menutup telephone dan memanggil Deedee, kemudian kami masuk ke markas
melalui terowongan dari belakang lemari pakaian di kamarku.
Beep! Aku mendengar suara interkom dinyalakan.
“Everything is Possible.”
“Oke, masuk.”, kataku sambil memencet tombol untuk membuka pintu rahasia depan.
Ronny
melangkah masuk. Selang beberapa menit kemudian yang lainnya mulai ikut
berdatangan. Setelah semua berkumpul, aku membuka suara.
“Ada kejadian aneh. Banyak yang ditemukan kehabisan darah di Toughly Street.”
“Dan aku rasa ini adalah kerjaan hantu.”, sahut Ronny.
“Menurutku
ini karena makhluk yang keluar dari benda itu.”, kata Deedee dengan
suara yang agak bergetar. Aku rasa dia membaca pikiranku lagi.
“Hah? Makhluk apa? Benda apa?”, tanya Manny.
“Begini,”
aku mencoba menjelaskan,”saat itu, aku dan Deedee sedang melihat
bintang dari Lovers Hill, tiba-tiba ada benda jatuh dari angkasa.”
Aku
mengluarkan benda aneh itu dari laci meja. Semua mengamatinya kecuali
Deedee. Benda aneh, mirip jam saku dari bahan perak, dengan lampu
berwarna-warni, tapi didalamnya tidak ada apa-apa kecuali semacam
guratan yang membetuk pola tertentu
“Setelah kuambil, benda ini
mengeluarkan asap dan cahaya yang kemudian membentuk makhluk aneh. Kalau
tidak ada markas ini, mungkin nasib kita sudah seperi orang-orang
ditaman tadi siang.”
“Makhluk itu... seperti apa bentuknya?”, tanya Dria penasaran.
“Badannya besar, matanya satu, taringnya pajang, sayapnya lebar, kuku kaki dan tangannya tajam-tajam.”, kata Deedee.
“Dee, sebaiknya kamu istirahat dulu. Jangan berpikir macam-macam.
Aku mendekati dan mengusap rambut pajangnya. Dia menangis dan memelukku erat.
“Aku juga pasti ngeri, kalau melihat makhluk seperti yang itu.”, kata Dieny.
“Robbert, sebaiknya kamu dan Dandelion tidak usah pergi. Biar kami saja yang menyelesaikan hal ini.”, kata MC sok pahlawan.
“Thanks Mac, tapi kami tetap akan on the act. Ok?”, sahutku.
“Sebaiknya ku nggak ikut dulu ya.”, kata Deedee dengan lesu.
“Tentu sayang, sebaiknya kamu memang istirahat dulu.”, kataku.
Aku mengantarnya kembali ke kamar, kemudian kembali ke markas.
“Rob,
aku dapat ide. Gimana kalau kita pancing dia keluar, kemudian kita
kurung kembali monster itu ke dalam jam perak ini?”, kata Dria memberi
usul.
“Bukannya aku mau menentang,... tapi... kamu cara memakai barang ini?”, kataku.
Mereka berpandangan satu sama lain, kemudian Stephen angkat bicara.
“Di atasnya ada dua tombol, hijau dan merah. Pasti salah satunya untuk mengunci agar makhluk itu tetap di dalam jam.”
“Kalau yang satunya lagi?”, tanya Holly, adik MC.
“Tidak tahu.”, katanya kemudian.
“Tapi
memang tidak ada salahnya dicoba. Remember guys, everything is
possible. Walaupun ini sangat berbahaya, tapi ini demi banyak orang,
kita harus menangkapnya.”
Aku memang bukan ketua, tapi mereka menginginkan aku menjadi lead. Ya sudah, apa boleh buat. “Kita mulai bergerak besok!”
Kemudian
semuanya pulang ke rumah masing-masing. Setelah sepi, aku segera menuju
ke ruang tamu dan menelphone Sissy agar besok dia ikut datang ke
markas.
[b]BAB 4[/b]
Pukul 08.43
aku mendengar ribut-ribut yang berasal dari kamar Deedee, jadi aku
segera masuk ke kamarnya. Di atas tempat tidur tampak Deedee dan Sissy
sedang asyik berebut sesuatu. Aku mendekatinya dan mereka pun kaget,
lalu cepat-cepat menyembunyikan barang yang tengah mereka perebutkan.
“Apaan sih?”, aku melongok ke belakang mereka.
“Eh? Enggak ada apa-apa.”, kata Sissy,”ya kan Dandy?”
Deedee menganggukkan kepala, mengiyakan Sissy.”Betul kok kata Sisil.”
Aku terus mencoba melongok ke belakang mereka.
“Eh?”, sepucuk kertas jatuh dari genggaman Deedee.
“Apa
ini?”, aku memungut kertas itu. “Lho, ini kan photoku? Kapan ini
diambil? Kalau mau photoku minta dong, gak perlu pakai agen rahasia
kayak gini.”
“Sisil ini lho!”
“Bukan aku, Dandy yang duluan kok.”
Begitulah
mereka, Dandelion Simons dan Siluetta Callahan, dua cewek yang selalu
ribut bila bertemu. Tapi baguslah, setidaknya beban Deedee sudah
teringankan oleh bantuan Sissy, walaupun dengan cara yang salah.
“Sissy, kalau sudah selesai ke kamarku ya?”, kataku sambil keluar.
Pertemuan kali ini pakai kamarku saja deh, walau berantakan tapi terlihat lebih segar daripada markas kami.
Pukul
09.00 semua anggota sudah hadir. Deedee masuk sambil membawa makanan
kecil dan minuman, sambil keluar kamar dia berkata,”Nanti aku rapikan
kamarmu yang berantakan ini ya Rob?”
Kami sepakat untuk
memancing makhluk itu keluar. Caranya... aku dan Sissy akan
berjalan-jalan di taman sekitar Taughly Street. Begitu monster itu
muncul, yang lain akan menghisapnya dengan jam saku perak yang kami
miliki.
Berdasarkan kesepakatan itu, aku dan Sissy berjalan
berdua. Sebenarnya semuanya lebih yakin kalau umpannya aku dan Deedee,
tapi berhubung Deedee sekarang dalam kondisi yang masih shock, maka aku
berpasangan dengan Sissy. Tapi melihat dari dandanan Sissy yang tidak
seperti biasanya, aku yakin kalau dia sangat tegang dengan misi ini. Tak
biasanya dia memakai baju hem dan celana jeans overall, dia kan bukan
Deedee.
Kami berjalan terus dengan tegang, mengharap kalau makhluk itu akan muncul di hadapan kami.
“Ah!”,
terdengar teriakan cewek yang disusul dengan teriakan cowok tak jauh
dari tempat aku dan Sissy berdiri. Kami segera berlari ke arah asal
teriakan. Di depan kami berdiri Ronny,MC,Holly,Dria serta Stephen
mengelilingi dua tubuh yang tergeletak di tanah. Aku bergerak mendekat.
“Ya Tuhan! Manny! Dieny!”, aku melihat mereka tergeletak tak sadarkan diri.
“Seseorang, cepat hubungi rumah sakit.”, aku berteriak.
Steph
menepuk punggungku, aku berbalik melihat ke arahnya. Dia mengacungkan
jempol kanannya ke arahku. Di tangan kirinya terlihat sebuah mobile
phone. Ia bermaksud memberikan tanda padaku bahwa ia sudah menelphone
rumah sakit sebelum aku memintanya. Tak lama kemudian datang ambulance
dan membawa Manny dan Dieny ke rumah sakit.
Setelah
kejadian itu, kami terus menerus berpikir, kenapa monster itu menyerang
Manny dan Dieny? Kenapa bukan aku dan Sissy? Mungkin ini cuma kebetulan,
tapi aku tak bisa untuk berhenti memikirkannya.
Tak lama
kemudian, kabar tentang monster itu pun tersebar di seluruh wilayah
Shadyside sehingga pasangan muda-mudi tidak berani keluar dari rumahnya.
Hal ini memang bagus, tapi juga membuat aku tambah gelisah.
Bagaimanapun juga monster yang kelaparan akan bertambah ganas dan
kemungkinan besar akan menyerang siapapun, walaupun berada di dalam
rumah. Tak lama lagi Shadyside tidak akan aman lagi.
[b]BAB 5[/b]
Tiga
hari kemudian, saat aku sarapan bersama Deedee dan keluargaku,
telephone berbunyi. Deedee berlari untuk mengangkatnya, kemudian dia
memanggilku.
“Rob, dari Ronny.”, katanya sambil menyodorkan gagang telephone padaku, kemudian ia kembali ke ruang makan.
“Yo guys, what’s up?”, tanyaku.
“Gawat Rob, monster itu mengamuk dan mulai menyerang kawasan Shadyside. Seperti dugaanmu. Apa yang harus kita lakukan?”
‘Kabari
teman-teman dan suruh agar tidak bertemu dengan pacarnya sementara
waktu, sampai kondisi mereda. Aku akan mencari cara untuk
menghentikannya.”
“Tapi Rob, menurut kabar yang aku dengar,
monster itu dekat dengan rumahmu. Sebaiknya kalian berhati-hati.
Bukannya sekarang Deedee sedang menginap di rumahmu? Bagaimana bisa
kalian menghindarinya?”
“Benar, aku harus bersiap kalau terjadi yang terburuk.”
Aku
segera nmenutup telephone, kemudian berlari ke kamarku untuk menuju ke
markas. Ku buka laci meja dan segera memasukkan jam perak itu ke dalam
saku celanaku.
“Monster!”, aku mendengar suara teriakan Mom dan
segera berlari menuju ke ruang makan. Saat aku sampai di dapur, aku
melihat Mom, Dad dan Alex berlari menuju keluar rumah, sementara Deedee
masih berdiri terpana memandang monster yang menyeramkan itu. Aku segera
menarik Deedee keluar dari ruangan itu, tapi monster itu melihatku dan
ia malah bertambah marah. Ia mengepakkan sayapnya dan kemudian menerjang
ke arah kami dengan cakar-cakarnya yang tajam. Angin dingin berhembus
masuk ke dalam rumah ketika cakarnya menembus dan menghancurkan kaca
dapur menjadi berkeping-keping. Seluruh dapur dan ruang makan kini porak
poranda karena cakar dan hentakan angin dari sayap monster itu. Semua
peralatan beterbangan memenuhi ruangan, bahkan sebagian besar membentur
tubuh monster bertubuh besar itu. Yang mengherankan, tubuhnya tidak
bergerak sedikitpun bahkan yang membenturnya hancur meleleh.
Aku
mengambil jam perak dari saku celanaku dan mengarahkan padanya. Tapi
sebuah nampan yang diterbangkan angin menghantam tanganku dan jam perak
itu pun terlempar jauh ke belakang. Aku berusaha mundur dan menggapai
jam perak itu. “Tinggal sedikit lagi!”, aku terus mencoba menggapainya.
“Dapat!”, aku berseru.
“Ah! Rob, tolong!”, aku mendengar Deedee berteriak.
Monster
itu berhasil menggapai Deedee. Dia mencengkeramnya dan aku bisa melihat
seperti aura Deedee dihisap oleh monster itu secara perlahan.
“Dee,
bertahan! Aku akan menolongmu!”, aku segera berlari mendekat sambil
menghindari benda-benda yang beterbangan di dalam ruangan.
“Rasakan
ini monster!”, aku mengacungkan jam perak dalam genggamanku dan menekan
tombol merah di atasnya. Sebuah cahaya keemaq berteriak.
Monster
itu berhasil menggapai Deedee. Dia mencengkeramnya dan aku bisa melihat
seperti aura Deedee dihisap oleh monster itu secara perlahan.
“Dee,
bertahan! Aku akan menolongmu!”, aku segera berlari mendekat sambil
menghindari benda-benda yang beterbangan di dalam ruangan.
“Rasakan
ini monster!”, aku mengacungkan jam perak dalam genggamanku dan menekan
tombol merah di atasnya. Sebuah cahaya keemasan keluar dari jam perak
yang kugenggam, tapi hanya mengenai sayapnya. Dia berteriak kesakitan
dan melepaskan Deedee dari genggamannya. Ia tampak semakin marah karena
kesakitan. Dia terbang kesana kemari, mencakar dinding dan atap. Aku
mencoba mendekati Deedee dan menariknya menjauhi monster itu. Sementara
itu aku masih terus berusaha membidiknya. Kecepatan bergeraknya yang
tinggi membuatnya susah untuk dijadikan target. Kutekan kembali tombol
merah itu dan cahaya keemasan keluar dan melesat ke tubuh monster itu.
Kena! Aku berhasil mengenai monster itu. Cahaya emas yang keluar dari
jam perak itu tak bisa berhenti. Aku memegangi jam itu sekuat tenagaku,
tapi guncangannya sangat menguras tenagaku. Aku harus mengarahkannya
terus pada monster itu padahal jam itu bergerak menggila ke segala arah.
Lama-kelamaan cahaya keemasan itu menyelimuti seluruh tubuh monster
yang berada di depanku. Kemudian bagaikan debu, monster itu tersedot
masuk ke dalam jam yang ada dalam genggamanku.
“Ah!”, aku melepaskan peganganku pada jam perak itu dan jam itupun jatuh ke tanah.
Panas sekali, sampai tanganku pun menderita luka bakar karena jam itu.
Aku segera mendekati Deedee dan memeriksa keadaannya.
“Dee,
bertahanlah!”, kataku sambil memegang tangannya. Tapi dia sama sekali
tidak menjawab. “Bagaimana ini? Jam perak itu....pasti!”
“Rob, kamu tidak apa-apa?”, teriak Ronny ketika menerjang pintu samping.
Jam perak itu sudah ada dalam genggamanku.
“Pasti tombol yang satu lagi bisa membantu Deedee.”, ucapku setengah kehilangan kesadaranku.
“Stop! Rob, apa yang kamu lakukan?”, cegah Ronny. Dia memegangi tanganku.
“Ini berbahaya Rob, jangan lakukan!”, ia masih berusaha mencegah niatku.
“Demi orang yang aku cintai Ron!”
“Tapi monster itu sudah mencelakai banyak orang, bagaimana kalau dia lepas lagi?”
“Kita
bisa menangkapnya lagi kan? Lagipula bagiku lebih baik bersama Deedee
di dunia lain daripada hidup sendiri tanpa dia disini...”
Ronny
menarik tangannya dan membiarkan aku memencet tombol hijau pada jam
perak itu. Jam yang aku pegang menjadi dingin dan mengeluarkan asap
hijau. Asap itu berputar putar dalam ruangan lalu menyebar ke seluruh
kota. Sisa yang tertinggal dalam ruangan perlahan turun dan masuk ke
dalam tubuh Deedee. Perlahan tubuhnya memerah dan ia mulai membuka
matanya.
“Dee...”, aku memanggilnya.
“Robby!”, ia mengucapkan namaku kemudian memelukku dan terisak-isak dalam pelukanku.
“Sudah berakhir Dee, aku akan merawat dan melindungimu.”, aku memandangi jam perak yang ada di tanganku, “Aku berjanji.”
Sesudah
merapikan ruang makan dan dapur, walau cuma 45 persen, aku menguburkan
jam saku perak itu di tempat penyimpanan barang terkutuk yang telah kami
tangani.
[b]< Love you always, Robbert Malloy >[/b]
[b]ditulis oleh Nekosora Yo (Hariyo Projo Kusumo) tahun 1997[/b]
Comments
-

ceritanya lumayan bagus tapi
Submitted by zam (not verified) on 4 August, 2011 - 12:02.ceritanya lumayan bagus tapi kok paragraf ga bs rapi ya??? ayo kamu bisa lebih baik kok,dilanjutin ya ceritanya
-
ayo dong
Submitted by kiky2hikaru on 30 April, 2011 - 08:20.ayo dong dilanjutkan...
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
just the way you put it in,
Submitted by Crow on 25 April, 2011 - 09:56.just the way you put it in, maybe it was the real problem, since the paragraph looks messy, and it might be less interesting for commoner. good luck for the next then
I am not person worthy of your concern -
well
Submitted by kiky2hikaru on 23 April, 2011 - 19:37.you made it so well..
not too bad for beginnersKIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
long story ..split it into
Submitted by Crow on 23 April, 2011 - 00:02.long story ..split it into few pages Nekosora san..that way you will attract more customer and draw attentions..sorry but i havent read the story yet..the paragraph is messy and well..it is a bad point.. from a single glance it is 2 stars..
I am not person worthy of your concern








































Post new comment