Freak Saga Adventures - Story 1

2.333335
232 kali
0 kali

not admin's choice

FREAK SAGA ADVENTURE - JAM PERAK PEMBAWA BENCANA [b]BAB 1[/b]   Udara di Shadyside sedikit dingin dan lembab, dan seperti biasanya, aku selalu kedinginan saat musim dingin tiba. Dengan baju seragam dan jaket kelasku, aku terus mengayun sepeda merahku menuju ke Walterland Highschool yang berjarak 10 menit perjalanan.   “Rob,tunggu!”, aku mendengar teriakan cewek dari arah jam sepuluh. Deedee[i] (Dandelion Simons) [/i]tampak tergesa-gesa menghampiriku ketika aku menghentikan sepeda. Sebenarnya dia tidak perlu melakukan itu karena aku pasti menghentikan sepedaku di depan rumahnhya. Dia berhenti sebentar, mengambil napas lalu naik ke atas palang sepeda gunungku. Aku kemudian kembali mengayuh menuruni bukit Greatrock. Di depan Walterland Highschool, dua temanku, Ronny[i] (Ronan Marshall) [/i]dan MC [i](Mac Cloud Saint)[/i] tampak asyik ngobrol. “Minggir, minggir! Tuan putri mau lewat!”, teriak Deedee ketika sepedaku melewati mereka. Spontan saja mereka meloncat mundur menjauhi pintu, kemudian ikut berteriak. “Apanya yang tuan putri? Cewek kecil begitu?”, teriak Ronny. “Ya, bener! Jelek begitu!”, MC menimpali. “Gini-gini kan banyak yang cari, ya kan Rob?”, Deedee melihat ke arahku. “Bener! Bagaimanapun dia ini tuan putri kecilku.”, jawabku. Sekitar lima menit kemudian kami beradu argumen di depan pintu gerbang tanpa mempedulikan anak lain yang melintas sambil memperhatikan kami. Tapi argumen itu terhenti setelah bel sekolah berbunyi. Aku dan Deedee berlari mendahului Ronny dan MC masuk ke dalam sekolah. Deedee berbelok pada pertigaan pertama , sedangkan aku, MC dan Ronny naik ke lantai 2, dimana kelas kami Science[i](Exact)[/i] 7 berada.   Kelas kami tidak ada pelajaran sampai jam 11.00 ketika terdengar pengumuman dari loudspeaker yang ada di atas pintu kelas. “Perhatian kepada semua murid Walterland High! Berhubung musim gugur akan datang lebih cepat , maka sekolah akan diliburkan mulai besok dan masuk setelah cuaca kembali stabil. Kalian diperbolehkan pulang sekarang.” Mendengar itu seluruh kelas menjadi ribut. Aku langsung mengambil tasku dan berlari ke tempat parkir. Deedee tampak berdiri di dekat sepedaku sambil memutar-mutar ibu jarinya. “Hai! Lama ya?”, tanyaku padanya sambil memutar sepedaku. “Ah nggak.”, sahutnya sebelum naik ke atas sepedaku. Tak lama kemudian, sepeda kami pun sudah meluncur di jalanan. “Rob, aku boleh menginap di rumahmu ya?” “Lho? Memangnya ada apa? Kok tumben-tumbenan gini?” “Pamanku dan keluarganya akan menginap di rumahku selama seminggu, dan kamu tahu sendiri kalau di rumah kami tidak ada kamar tamu, jadi...” “Jadi sang tuan putri bersedia mengorbankan singgahsananya dengan pertimbangan bisa numpang tidur di rumahku. Begitu ya?”, aku bertanya tanpa mengharap jawaban. Dia memalingkan wajahnya dariku, tapi tetap terlihat senyum dan pipinya yang merah karena malu. “Mau mampir dulu?”, kataku sambil menghentikan sepeda di depan rumahnya. Ia pun mengangguk padaku, turun dari sepeda dan segera masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian ia keluar dengan menggendong tas besar dan memegang boneka Furrball dengan kedua tangannya.   “Waduh, pindahan nih!”, kata kakakku, Alex yang meledek Deedee ketika melihatnya memasuki rumahku dengan membawa tas yang hampir sebesar tubuhnya yang mungil. “Bagaimana menantu? Butuh bantuan?”, tanya Mom sambil melongok ke arah kamar tamu. “Terima kasih Mrs.Malloy, tapi saya rasa saya bisa sendiri.”, kata Deedee sambil meletakkan tasnya di samping meja belajar. “Jangan panggil Mrs.Malloy dong, menantu. Panggil saja Mom, kayak Rob.” Aku masih terpaku di depan pintu, setengah tidak percaya kalau Deedee benar-benar menginap di rumahku, di samping kamarku. “Hei,ngelamun ya?”, tanya dia sambil memiringkan kepalanya “Eh iya sorry. Ada yang bisa kubantu?” “Tidur saja deh, tapi nanti tolong aku ya belanja dan jalan –jalan.” “Beres deh.”, lalu aku melangkah keluar dan menutup pintu, kemudian masuk ke kamarku, kamar yang aku usahakan selalu rapi walaupun penuh action figure, poster dan software anime.   “Wuah! Tidur siang bikin sakit semuanya.” aku mengucek mataku sambil melangkah menuju ke kamar mandi. Setelah mandi dan ganti pakaian, aku kembali ke kamar tamu. “Dee!”, kuketuk pintu kamarnya tiga kali. “Masuk.”, sahutnya dari balik pintu. Aku kemudian masuk ke dalam kamarnya. “Wow! Kamu apakan kamar tidur kami?” “Bagus nggak?,” katanya sambil memutari kamar. “Bagus sih, tapi kok kamu belum siap-siap?” “Memangnya ada apa sih?” “Lho, katanya mau belanja dan jalan-jalan. Gimana sih?” “Oh iya, tunggu ya, aku mau mandi dulu.”, katanya sambil menuju ke kamar mandi tamu yang ada di kamarnya. “Tunggu lho ya?!”, katanya sambil melongok keluar dari dalam kamar mandi. “Aku tunggu di luar ya?”, kataku sambil keluar dari kamar tamu.   Setengah jam kemudian dia keluar dari kamarnya dengan dandanan ala tuan putrinya itu. Dari semua cewek yang aku kenal, Deedee adalah cewek yang berdandan paling cepat. Dibandingkan dengan Gladys, Sophie atau Sissy, dia bahkan dua kali lebih cepat. “Ayo!”, katanya sambil mengait tanganku dengan manja lalu menyeretku keluar. “Oke, oke. Nggak usah kayak gini. Nanti juga jalan sendiri kok.” kataku. “Biar keliatannya mesra gitu.” sahutnya.   Kami berjalan-jalan keluar masuk mall sampai jamku menunjukkan angka 18.05, kemudian setelah makan, kami pergi ke bukit di dekat rumahku. Lover Hill, yang kata teman-temanku pemandangannya paling bagus dan romantis, cocok buat pacaran. “Dee, kamu suka nggak di rumahku?” “Nggak, soalnya banyak orang sih. Enakan disini.”, dia menyandarkan kepalanya di bahuku. “Disini rasanya damai banget.” Kami duduk berdampingan menatap langit. Bulan tampak bersinar terang dikelilingi bintang-bintang yang bertaburan di angkasa. “Lihat ada bintang jatuh!”, kata Dee sambil menunjuk ke angkasa. Sebuah bintang jatuh tampak berkilauan merah. Hey! Kenapa rasanya ia bertambah besar? “Lari Dee!”, aku menarik Deedee berlari menjauh dari tempat kami duduk. Blar! Sebuah cahaya merah menghantam bumi. Tanah tempat benda itu jatuh tampak terbakar membentuk sebuah lubang yang sangat besar. Dari lubang itu mengepul asap kebiruan dan cahaya kuning keemasan.   “Apa itu? Meteorid?”, tanyaku pada diri sendiri. Perlahan aku mendekati lubang tempat jatuhnya benda tadi, dan Deedee bersembunyi di belakangku. Di antara asap biru tampak sebuah benda mirip jam saku dengan lampu yang berkerlap-kerlip. “Benda apa ini?”, aku menjulurkan tanganku untuk mengambil benda itu. Saat melihat keadaan aman, Deedee melangkah mendekatiku. Benda itu mengeluarkan suara mendesis lalu tutupnya terbuka.Kami berdua terlempar ke belakang, sedangkan benda aneh itu jatuh di antara kami berdua. Cahaya kuning keluar dari benda itu beserta bunyi menggeram. Kemudian nampak di depan kami sesosok makhluk besar bermata satu dan bertaring. Bentangan sayapnya sekitar 10 meter, dengan cakar pada kedua tangan dan kakinya. “Ah!”, Deedee berteriak karena ngeri. Makhluk itu mendengar teriakan Deedee dan melihat ke arah kami. Dengan marah dia menyerang kami. Secara tak sadar aku mengambil benda yang terjatuh dari tanganku tadi dan menyodorkan ke arahnya. Benda dalam tanganku mulai mengeluarkan cahaya aneh yang menyilaukan mata. Merah, hijau,kuning,biru, silih berganti. Makhluk itupun bereaksi, dia berteriak dengan nyaring dan kemudian terbang meninggalkan kami. Aku memandangi langit dan tanah yang berlubang serta terbakar, ini bukan mimpi. Kumasukkan benda dalam genggamanku ke dalam saku celanaku kemudian membantu Deedee untuk berdiri. Dengan rasa bimbang kami melangkah pulang ke rumahku. Begitu sampai, Deedee langsung masuk ke dalam kamarnya. Aku terus berjaga di teras rumahku sambil memandang langit yang dipenuhi bintang. Hancur deh kencanku....   [b] [/b] [b]BAB 2[/b]   “Wow! Baru kali ini beefsteak sebagai sarapan pagi.”, seruku saat melihat piring di atas meja makan. “Iya dong, spesial untuk menantu.”, Mom berkomentar. “Jangan pilih kasih dong Mom.”, protesku. “Maaf ya merepotkan.”, Deedee tersenyum sambil menundukkan kepala. “Ah nggak apa-apa.”, balas Mom,”Makan yang banyak ya.” Deedee hanya tersenyum malu. Aku menggeser letak kursiku dan mendekatkan padanya. “Nanti gendut lho!”, bisikku ditelinganya. Ia cemberut dan mencubitku. Terus terang aku paling suka menggoda Deedee, kalau tidak menggoda dia rasanya hidup ini tidak ada variasi sama sekali dan pastinya akan sangat membosankan.   Setelah selesai makan, aku ditarik oleh Deedee masuk ke kamarnya. Dia mengunci pintu lalu duduk di atas tempat tidur sambil memeluk boneka Furrballnya. Aku mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidur. Dia memandang nanar ke arahku. “Rob, menurutmu yang kemarin itu .... hantu?” “Kurasa begitu.” Sepintas dalam benakku muncul gambar makhluk itu disegel dalam jam saku perak yang aku temukan saat itu, dan kemudian dilemparkan ke angkasa dengan alat semacam roket. Aku memang mempunyai kemampuan untuk melihat masa lalu suatu barang atau bahkan masa lalu seseorang. Dan kemampuan itu juga yang suka membuat temanku, selain anggota Sciven dan Freak Squad, semua pergi menjauhi diriku. “Aku takut sekali Rob.” “Bukannya kita sudah sering berhadapan dengan hal-hal seperti itu?” “Memang, tapi aku rasa ada yang lain.” “Kamu hanya terlalu khawatir saja. Mungkin kamu harus lebih banyak beristirahat Dee.”, kataku sambil mencium pipinya lalu keluar dari kamar tamu.   [b]BAB 3[/b]   Aku sebenarnya juga merasa kalau musuh kali ini lebih kuat dari yang lain. Hawa jahatnya dapat terasa olehku bahkan bermil-mil jauhnya.  Kurasa Deedee tahu kalau aku berbohong, karena dia dapat membaca pikiranku. Aku hanya berusaha menenangkan dia, itu saja. Tidak mungkin makhluk itu akan pergi menghilang begitu saja. Ia pasti lapar dan sangat ingin membalaskan dendam, karena ia telah terkurung dalam jam saku perak itu entah untuk berapa lama. “Rob, ada telephone!”, kata Mom sambil memberikan gagang telephonenya. “Hallo!” “Rob, ada kejadian aneh di Taughly Street!”, terdengar suara sahabat karibku. “Ada apa Ron? Kok kayaknya gawat banget?” “Banyak orang ditemukan tergeletak seperti kehabisan darah. Anehnya yang diserang hanya pasangan ABG yang lagi fall in love.” “Seperti apa makhluk yang menyerangnya?” “Aku tak tahun pasti, tapi aku sarankan sebaiknya kalian jangan kencan dengan Dandelion dan Sissy dahulu deh. Aku akan suruh teman-teman kumpul di markas.” “Jangan lupa, berangkatnya jangan berpasangan ya?” “Iya, akan kuberitahu tentang itu juga.” “Fine then, good luck Pal! See Ya!” Aku menutup telephone dan memanggil Deedee, kemudian kami masuk ke markas melalui terowongan dari belakang lemari pakaian di kamarku. Beep! Aku mendengar suara interkom dinyalakan. “Everything is Possible.” “Oke, masuk.”, kataku sambil memencet tombol untuk membuka pintu rahasia depan. Ronny melangkah masuk. Selang beberapa menit kemudian yang lainnya mulai ikut berdatangan. Setelah semua berkumpul, aku membuka suara. “Ada kejadian aneh. Banyak yang ditemukan kehabisan darah di Toughly Street.” “Dan aku rasa ini adalah kerjaan hantu.”, sahut Ronny. “Menurutku ini karena makhluk yang keluar dari benda itu.”, kata Deedee dengan suara yang agak bergetar. Aku rasa dia membaca pikiranku lagi. “Hah? Makhluk apa? Benda apa?”, tanya Manny. “Begini,” aku mencoba menjelaskan,”saat itu, aku dan Deedee sedang melihat bintang dari Lovers Hill, tiba-tiba ada benda jatuh dari angkasa.” Aku mengluarkan benda aneh itu dari laci meja. Semua mengamatinya kecuali Deedee. Benda aneh, mirip jam saku dari bahan perak, dengan lampu berwarna-warni, tapi didalamnya tidak ada apa-apa kecuali semacam guratan yang membetuk pola tertentu “Setelah kuambil, benda ini mengeluarkan asap dan cahaya yang kemudian membentuk makhluk aneh. Kalau tidak ada markas ini, mungkin nasib kita sudah seperi orang-orang ditaman tadi siang.” “Makhluk itu... seperti apa bentuknya?”, tanya Dria penasaran. “Badannya besar, matanya satu, taringnya pajang, sayapnya lebar, kuku kaki dan tangannya tajam-tajam.”, kata Deedee. “Dee, sebaiknya kamu istirahat dulu. Jangan berpikir macam-macam. Aku mendekati dan mengusap rambut pajangnya. Dia menangis dan memelukku erat. “Aku juga pasti ngeri, kalau melihat makhluk seperti yang itu.”, kata Dieny. “Robbert, sebaiknya kamu dan Dandelion tidak usah pergi. Biar kami saja yang menyelesaikan hal ini.”, kata MC sok pahlawan. “Thanks Mac, tapi kami tetap akan on the act. Ok?”, sahutku. “Sebaiknya ku nggak ikut dulu ya.”, kata Deedee dengan lesu. “Tentu sayang, sebaiknya kamu memang istirahat dulu.”, kataku. Aku mengantarnya kembali ke kamar, kemudian kembali ke markas. “Rob, aku dapat ide. Gimana kalau kita pancing dia keluar, kemudian kita kurung kembali monster itu ke dalam jam perak ini?”, kata Dria memberi usul. “Bukannya aku mau menentang,... tapi... kamu cara memakai barang ini?”, kataku. Mereka berpandangan satu sama lain, kemudian Stephen angkat bicara. “Di atasnya ada dua tombol, hijau dan merah. Pasti salah satunya untuk mengunci agar makhluk itu tetap di dalam jam.” “Kalau yang satunya lagi?”, tanya Holly, adik MC. “Tidak tahu.”, katanya kemudian. “Tapi memang tidak ada salahnya dicoba. Remember guys, everything is possible. Walaupun ini sangat berbahaya, tapi ini demi banyak orang, kita harus menangkapnya.” Aku memang bukan ketua, tapi mereka menginginkan aku menjadi lead. Ya sudah, apa boleh buat. “Kita mulai bergerak besok!” Kemudian semuanya pulang ke rumah masing-masing. Setelah sepi, aku segera menuju ke ruang tamu dan menelphone Sissy agar besok dia ikut datang ke markas.   [b]BAB 4[/b]   Pukul 08.43 aku mendengar ribut-ribut yang berasal dari kamar Deedee, jadi aku segera masuk ke kamarnya. Di atas tempat tidur tampak Deedee dan Sissy sedang asyik berebut sesuatu. Aku mendekatinya dan mereka pun kaget, lalu cepat-cepat menyembunyikan barang yang tengah mereka perebutkan. “Apaan sih?”, aku melongok ke belakang mereka. “Eh? Enggak ada apa-apa.”, kata Sissy,”ya kan Dandy?” Deedee menganggukkan kepala, mengiyakan Sissy.”Betul kok kata Sisil.” Aku terus mencoba melongok ke belakang mereka. “Eh?”, sepucuk kertas jatuh dari genggaman Deedee. “Apa ini?”, aku memungut kertas itu. “Lho, ini kan photoku? Kapan ini diambil? Kalau mau photoku minta dong, gak perlu pakai agen rahasia kayak gini.” “Sisil ini lho!” “Bukan aku, Dandy yang duluan kok.” Begitulah mereka, Dandelion Simons dan Siluetta Callahan, dua cewek yang selalu ribut bila bertemu. Tapi baguslah, setidaknya beban Deedee sudah teringankan oleh bantuan Sissy, walaupun dengan cara yang salah. “Sissy, kalau sudah selesai ke kamarku ya?”, kataku sambil keluar. Pertemuan kali ini pakai kamarku saja deh, walau berantakan tapi terlihat lebih segar daripada markas kami. Pukul 09.00 semua anggota sudah hadir. Deedee masuk sambil membawa makanan kecil dan minuman, sambil keluar kamar dia berkata,”Nanti aku rapikan kamarmu yang berantakan ini ya Rob?”   Kami sepakat untuk memancing makhluk itu keluar. Caranya... aku dan Sissy akan berjalan-jalan di taman sekitar Taughly Street. Begitu monster itu muncul, yang lain akan menghisapnya dengan jam saku perak yang kami miliki. Berdasarkan kesepakatan itu, aku dan Sissy berjalan berdua. Sebenarnya semuanya lebih yakin kalau umpannya aku dan Deedee, tapi berhubung Deedee sekarang dalam kondisi yang masih shock, maka aku berpasangan dengan Sissy. Tapi melihat dari dandanan Sissy yang tidak seperti biasanya, aku yakin kalau dia sangat tegang dengan misi ini. Tak biasanya dia memakai baju hem dan celana jeans overall, dia kan bukan Deedee. Kami berjalan terus dengan tegang, mengharap kalau makhluk itu akan muncul di hadapan kami. “Ah!”, terdengar teriakan cewek yang disusul dengan teriakan cowok tak jauh dari tempat aku dan Sissy berdiri. Kami segera berlari ke arah asal teriakan. Di depan kami berdiri Ronny,MC,Holly,Dria serta Stephen mengelilingi dua tubuh yang tergeletak di tanah. Aku bergerak mendekat. “Ya Tuhan! Manny! Dieny!”, aku melihat mereka tergeletak tak sadarkan diri. “Seseorang, cepat hubungi rumah sakit.”, aku berteriak. Steph menepuk punggungku, aku berbalik melihat ke arahnya. Dia mengacungkan jempol kanannya ke arahku. Di tangan kirinya terlihat sebuah mobile phone. Ia bermaksud memberikan tanda padaku bahwa ia sudah menelphone rumah sakit sebelum aku memintanya. Tak lama kemudian datang ambulance dan membawa Manny dan Dieny ke rumah sakit.   Setelah kejadian itu, kami terus menerus berpikir, kenapa monster itu menyerang Manny dan Dieny? Kenapa bukan aku dan Sissy? Mungkin ini cuma kebetulan, tapi aku tak bisa untuk berhenti memikirkannya. Tak lama kemudian, kabar tentang monster itu pun tersebar di seluruh wilayah Shadyside sehingga pasangan muda-mudi tidak berani keluar dari rumahnya. Hal ini memang bagus, tapi juga membuat aku tambah gelisah. Bagaimanapun juga monster yang kelaparan akan bertambah ganas dan kemungkinan besar akan menyerang siapapun, walaupun berada di dalam rumah. Tak lama lagi Shadyside tidak akan aman lagi.   [b]BAB 5[/b]   Tiga hari kemudian, saat aku sarapan bersama Deedee dan keluargaku, telephone berbunyi. Deedee berlari untuk mengangkatnya, kemudian dia memanggilku. “Rob, dari Ronny.”, katanya sambil menyodorkan gagang telephone padaku, kemudian ia kembali ke ruang makan. “Yo guys, what’s up?”, tanyaku. “Gawat Rob, monster itu mengamuk dan mulai menyerang kawasan Shadyside. Seperti dugaanmu. Apa yang harus kita lakukan?” ‘Kabari teman-teman dan suruh agar tidak bertemu dengan pacarnya sementara waktu, sampai kondisi mereda. Aku akan mencari cara untuk menghentikannya.” “Tapi Rob, menurut kabar yang aku dengar, monster itu dekat dengan rumahmu. Sebaiknya kalian berhati-hati. Bukannya sekarang Deedee sedang menginap di rumahmu? Bagaimana bisa kalian menghindarinya?” “Benar, aku harus bersiap kalau terjadi yang terburuk.” Aku segera nmenutup telephone, kemudian berlari ke kamarku untuk menuju ke markas. Ku buka laci meja dan segera memasukkan jam perak itu ke dalam saku celanaku. “Monster!”, aku mendengar suara teriakan Mom dan segera berlari menuju ke ruang makan. Saat aku sampai di dapur, aku melihat Mom, Dad dan Alex berlari menuju keluar rumah, sementara Deedee masih berdiri terpana memandang monster yang menyeramkan itu. Aku segera menarik Deedee keluar dari ruangan itu, tapi monster itu melihatku dan ia malah bertambah marah. Ia mengepakkan sayapnya dan kemudian menerjang ke arah kami dengan cakar-cakarnya yang tajam. Angin dingin berhembus masuk ke dalam rumah ketika cakarnya menembus dan menghancurkan kaca dapur menjadi berkeping-keping. Seluruh dapur dan ruang makan kini porak poranda karena cakar dan hentakan angin dari sayap monster itu. Semua peralatan beterbangan memenuhi ruangan, bahkan sebagian besar membentur tubuh monster bertubuh besar itu. Yang mengherankan, tubuhnya tidak bergerak sedikitpun bahkan yang membenturnya hancur meleleh. Aku mengambil jam perak dari saku celanaku dan mengarahkan padanya. Tapi sebuah nampan yang diterbangkan angin menghantam tanganku dan jam perak itu pun terlempar jauh ke belakang. Aku berusaha mundur dan menggapai jam perak itu. “Tinggal sedikit lagi!”, aku terus mencoba menggapainya. “Dapat!”, aku berseru. “Ah! Rob, tolong!”, aku mendengar Deedee berteriak. Monster itu berhasil menggapai Deedee. Dia mencengkeramnya dan aku bisa melihat seperti aura Deedee dihisap oleh monster itu secara perlahan. “Dee, bertahan! Aku akan menolongmu!”, aku segera berlari mendekat sambil menghindari benda-benda yang beterbangan di dalam ruangan. “Rasakan ini monster!”, aku mengacungkan jam perak dalam genggamanku dan menekan tombol merah di atasnya. Sebuah cahaya keemaq berteriak. Monster itu berhasil menggapai Deedee. Dia mencengkeramnya dan aku bisa melihat seperti aura Deedee dihisap oleh monster itu secara perlahan. “Dee, bertahan! Aku akan menolongmu!”, aku segera berlari mendekat sambil menghindari benda-benda yang beterbangan di dalam ruangan. “Rasakan ini monster!”, aku mengacungkan jam perak dalam genggamanku dan menekan tombol merah di atasnya. Sebuah cahaya keemasan keluar dari jam perak yang kugenggam, tapi hanya mengenai sayapnya. Dia berteriak kesakitan dan melepaskan Deedee dari genggamannya. Ia tampak semakin marah karena kesakitan. Dia terbang kesana kemari, mencakar dinding dan atap. Aku mencoba mendekati Deedee dan menariknya menjauhi monster itu. Sementara itu aku masih terus berusaha membidiknya. Kecepatan bergeraknya yang tinggi membuatnya susah untuk dijadikan target. Kutekan kembali tombol merah itu dan cahaya keemasan keluar dan melesat ke tubuh monster itu. Kena! Aku berhasil mengenai monster itu. Cahaya emas yang keluar dari jam perak itu tak bisa berhenti. Aku memegangi jam itu sekuat tenagaku, tapi guncangannya sangat menguras tenagaku. Aku harus mengarahkannya terus pada monster itu padahal jam itu bergerak menggila ke segala arah. Lama-kelamaan cahaya keemasan itu menyelimuti seluruh tubuh monster yang berada di depanku. Kemudian bagaikan debu, monster itu tersedot masuk ke dalam jam yang ada dalam genggamanku.  “Ah!”, aku melepaskan peganganku pada jam perak itu dan jam itupun jatuh ke tanah. Panas sekali, sampai tanganku pun menderita luka bakar karena jam itu. Aku segera mendekati Deedee dan memeriksa keadaannya. “Dee, bertahanlah!”, kataku sambil memegang tangannya. Tapi dia sama sekali tidak menjawab. “Bagaimana ini? Jam perak itu....pasti!” “Rob, kamu tidak apa-apa?”, teriak Ronny ketika menerjang pintu samping. Jam perak itu sudah ada dalam genggamanku. “Pasti tombol yang satu lagi bisa membantu Deedee.”, ucapku setengah kehilangan kesadaranku. “Stop! Rob, apa yang kamu lakukan?”, cegah Ronny. Dia memegangi tanganku. “Ini berbahaya Rob, jangan lakukan!”, ia masih berusaha mencegah niatku. “Demi orang yang aku cintai Ron!” “Tapi monster itu sudah mencelakai banyak orang, bagaimana kalau dia lepas lagi?” “Kita bisa menangkapnya lagi kan? Lagipula bagiku lebih baik bersama Deedee di dunia lain daripada hidup sendiri tanpa dia disini...” Ronny menarik tangannya dan membiarkan aku memencet tombol hijau pada jam perak itu. Jam yang aku pegang menjadi dingin dan mengeluarkan asap hijau. Asap itu berputar putar dalam ruangan lalu menyebar ke seluruh kota. Sisa yang tertinggal dalam ruangan perlahan turun dan masuk ke dalam tubuh Deedee. Perlahan tubuhnya memerah dan ia mulai membuka matanya. “Dee...”, aku memanggilnya. “Robby!”, ia mengucapkan namaku kemudian memelukku dan terisak-isak dalam pelukanku. “Sudah berakhir Dee, aku akan merawat dan melindungimu.”, aku memandangi jam perak yang ada di tanganku, “Aku berjanji.” Sesudah merapikan ruang makan dan dapur, walau cuma 45 persen, aku menguburkan jam saku perak itu di tempat penyimpanan barang terkutuk yang telah kami tangani.   [b]< Love you always, Robbert Malloy >[/b] [b]ditulis oleh Nekosora Yo (Hariyo Projo Kusumo) tahun 1997[/b]

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments

  • zam's picture

    ceritanya lumayan bagus tapi

    ceritanya lumayan bagus tapi kok paragraf ga bs rapi ya??? ayo kamu bisa lebih baik kok,dilanjutin ya ceritanya

  • kiky2hikaru's picture

    ayo dong

    2

    ayo dong dilanjutkan...

    KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI.....
  • Crow's picture

    just the way you put it in,

    2

    just the way you put it in, maybe it was the real problem, since the paragraph looks messy, and it might be less interesting for commoner. good luck for the next then

    I am not person worthy of your concern
  • kiky2hikaru's picture

    well

    2

    you made it so well..
    not too bad for beginners

    KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI.....
  • Crow's picture

    long story ..split it into

    2

    long story ..split it into few pages Nekosora san..that way you will attract more customer and draw attentions..sorry but i havent read the story yet..the paragraph is messy and well..it is a bad point.. from a single glance it is 2 stars..

    I am not person worthy of your concern

return to top