Fear Garden; The Urban Legend
not admin's choice
Title: Fear Garden; The Urban Legend
Fear Garden (c) Vocaloid
Fear Garden; The Urban Legend (c) Recchan
Warning: Miss Typo, adegan gore n bloody sedikit, gajeness, don't flame, POV sering berganti-ganti, siapkan bantal karena ini akan membosankan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
=>Rin POV
Namaku Rin Kagamine, kakak kembar Len Kagamine dan adik dari Lily Kagamine. Aku suka sekali dengan bunga, namun sering kali bunga-bunga yang sudah susah payah aku tanam dirusak oleh tetanggaku, Miku Hatsune yang iri pada kami berdua dan banyak makhluk hidup lainnya. Tapi, aku tidak pernah dendam padanya. Yang aku dendami adalah makhluk hidup lainnya itu. Tikus, ulat, kutu daun...
Ya ampun, padahal itu kebun bunga yang sudah susah payah aku dan Len buat. Kalau Miku sih, tidak terlalu sering karena dia sudah punya kesibukan baru, yaitu pacaran dengan kakak kelas kami, Kaito Shion. Kak Lily juga suka dengan kebun bunga kami, sering juga pas waktu luang dia ikut merawat kebun bunga kami. Bahkan Kak Lily-lah yang paling histeris karena bunganya digerogoti makhluk lainnya itu.
Ada nggak ya, bunga yang nggak bakal rusak kena makhluk hidup lainnya itu?
Len juga berpikiran hal yang sama denganku, maklum kami kembar. Begitu juga Kak Lily.
" Rin, kamu sudah siap belum? " panggil Kak Lily di lantai bawah.
Hufff... Aku hampir lupa kalau aku harus sekolah.
" Iya iya! Aku turun sekarang! " jawabku sambil menuruni tangga lantai 2 rumahku. Di bawah, sudah ada Kak Lily yang sudah duduk di meja makan beserta Len.
" Sarapan apa, nih? " tanyaku sambil menggeser kursi di sebelah Len.
" Ekkado dan Ebi Katsu sisa makan malam kemarin. Maaf ya, nanti Kakak telpon mama sama papa buat dikirimin uang! Tenang, sudah Kakak hangatkan, kok. Kalian bawa bekal roti selai aja ya? " jawab Kak Lily sambil menunduk.
Oh? Apa aku lupa bilang kalau kedua orang tua kami bekerja di luar negeri? Oke, aku sudah mengatakannya. Tapi mereka tetap kirim uang kalau kami telepon. Cukup telepon saja, dan, taraa! Uang untuk satu bulan telah tersedia di rekening Kak Lily! Kami berusaha sehemat mungkin agar tidak memberatkan orang tua yang berada di seberang sana, tapi keinginan kami akan bunga mengalahkan segalanya! Untungnya, uang kami selalu pas untuk satu bulan.
" Hhhnn... " Kak Lily menghela napas ketika membelah sumpitnya.
" Kenapa, Kak? "
" Bunga kita rusak lagi? "
Kak Lily tidak menjawab, hanya mengangguk. Oke, kami anggap itu 'iya'.
" Bunga apa ya, yang nggak bisa rusak? Sebel. " gerutu Kak Lily.
" Iya. Tiap hari pasti ada bunga yang rusak. Lama-lama abis nih kesabaran! " tambah Len.
Aku hanya mengangguk setuju, lalu melihat jam. 06:20.
" Udah yuk, kita berangkat! Ntar telat, lho. " ajakku.
=>Len's POV
Kami bertiga berjalan bersama menuju sekolah kami, SMP Crypton. Kak Lily berpisah dengan kami menuju lantai 2, karena dia sudah kelas 3 sementara kami masih kelas 2. Aku langsung dikerubutin fansgirl-ku yang menyebalkan. Uuukh... Kenapa ini harus terjadi padaku?
Dengan cepat, aku menarik tangan Rin dan berjalan secepat kilat menuju kelas 8-2.
" Ohayou, Len-kun, Rin-chan! " sapa suara yang familiar di telinga kami. Miku Hatsune.
" Ohayou. " jawab kami bebarengan dengan malas. Kami kembar, sih.
" Iiiikh... Nggak semangat deh... " gerutu Miku manja. " Eh, eh! Liat deh, kukuku abis dicat warna hijau tosca! Keren, kan?! Sama kayak warna rambutku! "
Aku tertegun melihat kuku Miku. Cantik... Tangan dan kukunya terlihat indah... Seperti bunga...?
Dari siku ke ujung jemari, itu memang terlihat seperti bunga -- untukku. Aku membayangkan memiliki kebun bunga dengan bunga-bunga seperti itu. Pasti tidak akan rusak! Mungkin harus dikasih pupuk formalin biar tahan lama...
Aku harus punya bunga itu!
" Nee? Len-kun? " Rin menarik-narik ujung gakuranku.
" Eh? Oh, ah, ya, Rin? " jawabku gelagapan. Hei, tapi apa Rin mau juga punya bunga milik Miku?
Kami berdua berjalan menuju bangku kami. Tentu saja, kami duduk bersebelahan karena kembar. Rin yang memaksa sih, jadi aku menurut saja.
Aku memandang keluar jendela. Masih terbayang di benakku tangan Miku yang dihiasi cat kuku hijau tosca, kebun bunga tangan, formalin, sekop, dan pot. Menggabungkan semuanya menjadi satu, dan jadilah imajinasi liarku tentang kebun bunga tangan. Tapi, aku butuh persetujuan Rin...
=>Lily's POV
Whew, akhir-akhir ini cat kuku warna-warni begitu populer. Tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan cat kuku. Aku sebenarnya sudah lama tertarik mempunyai 'sebuah kebun bunga dimana bunganya adalah tangan dengan cat kuku'. Hahaha... Gila, kan? Tapi aku selalu membayangkannya, dan selalu datang ke belakang bangunan mangkrak yang angker di bukit belakang sekolah. Cukup aneh membangun bangunan seperti istana begitu di bukit belakang sekolah. Aku tidak pernah takut ada 'sesuatu' yang muncul dari bangunan mangkrak angker itu. Aku hanya memuaskan imajinasiku, cukup dengan melihat tanah kosong itu.
Aku takut adik-adikku menganggapku aneh karena hal ini.
" Lily-chan!! " sapa gadis berbau alkohol di sampingku. Ukh, kenapa aku harus sebangku sama dia?
" Apa? "
" Liat deh! Kukuku warnanya merah!! " kata Meiko sambil tertawa. Hei, mulutmu bau alkohol, tau? Apa Meiko habis mabuk? Well, itu bukan kebiasaan baru. Cewek berambut cokelat setengkuk ini emang suka mabuk-mabukan. Dan entah kenapa, prestasinya selalu bagus. Apa minuman semacam Bourbon dan sake itu meningkatkan daya pikir? Entahlah. Aku nggak berani coba. Dan kau tahu apa lagi yang membuatku yakin kalau dia habis ke klub malam kemarin?
" Meiko, kukumu warnanya hijau tua campur pink, bukan merah. "
" Aaaah~ Aku depresi... Jangan makan gue, bakpao... "
Tuh kan. Nggak nyambung sama sekali! Nih anak WiFi-nya belom connect, ya? Karena kesal, akhirnya aku memalingkan wajahku dan melihat keluar jendela. Kukunya Meiko warnanya norak, tapi unik... Aku pengen punya bunga seperti itu...
AH?!
Tuh kan! Aku memikirkannya lagi!
Sudahlah. Aku tidak tahan. Pulang sekolah nanti, aku harus ngomongin ini ke Rin dan Len. Hatiku gak bakalan tenang kalo gini caranya.
=>Rin's POV
" Jadi, begitu, Rin. " kata Kak Lily mengakhiri ceritanya. Di sebelahku, ada Len yang shock karena ternyata keinginannya sama dengan Kak Lily. Well, sebenarnya aku juga memikirkan hal yang sama dengan Len saat melihat kuku Miku. Kami kan kembar.
" Kau setuju, Rin? " tanya Kak Lily. " Kita bisa tanam bunga-bunga kita yang baru di gedung mangkrak angker di bukit belakang sekolah. "
" Aku yang akan menyiapkan pupuknya, kalo Rin nggak setu -- "
" Siapa bilang? " potongku cepat -- dengan bersemangat. " Kita mulai besok, ya! Pasti menyenangkan... "
" Oh iya, nanti katanya Miku mau dateng ke sini! Maen PS... "
" Itu bagus, Len! Kita minta bunganya Miku, ya! "
" Ngomong-ngomong, warna kukunya Miku apaan, sih? Bagus, ya? " tanya Kak Lily.
" Hijau tosca. Jarang kan? " jawabku sambil tersenyum. Len dan Kak Lily ikut tersenyum. Kami semua. Tersenyum. Sarkastik.
Aku nggak sabar nunggu nanti jam 5 sore... Enaknya aku sembunyikan pisaunya dimana, ya? Ah, gimana kalo niru Bakemonogatari? Disembunyiin di rok kayaknya oke... Pakai apa ya? Oh, pisau lipat pemberian papa! Itu jauh lebih mudah dibawa dibandingkan pisau dapur yang berat. Mungkin ada baiknya aku mengasahnya terlebih dahulu sebelum meminta bunga tangan Miku...
=>Len's POV
Akhirnya jam 5 sore yang dinanti-nantikan pun tiba. Aku menyiapkan game sebanyak mungkin supaya kami tidak kehilangan timing buat minta bunganya Miku.
TING TONG
CKLEK
" Halo Rin-chan! Gak apa kan aku ke sini? Aku lagi suntuk di rumah, nih, soalnya! Kaito mau ngajak aku keluar, tapi motornya masuk bengkel. Jadinya aku ke sini, deh! Ngerepotin dikit gak apa, kan? " cerocos Miku panjang kali lebar kali tinggi sama dengan luas persegi panjang *?*
" N-nggak apa-apa, kok... " jawab Rin. Hah, malahan kami berterima kasih karena kamu datang sendiri memberikan bungamu.
" Oh iya, Rin. Kamu punya aseton gak? Punyaku abis, aku mau ganti pake warna bening. Bosen soalnya. Hehehe... " Miku nyengir kuda.
" Aduh, gomen! Aku gak punya... Gomen, ya! "
" Aaah... Kalo Kak Lily? "
" Aku juga nggak punya. " Kak Lily tiba-tiba muncul dari ruang makan. " Ayo sini! Katanya main? "
Mendadak, wajah Miku cerah kembali. Kami pun bemain Persona 4 sampai jam 9 malam, mumpung besok libur. Sekaligus menunggu saat yang tepat. Lihat saja, Miku sudah mengantuk dan Rin di belakangnya mengeluarkan pisau lipat dari dalam jaket oranyenya.
=>Lily's POV
" Nee, Miku. Kami boleh minta bungamu, nggak? " tanyaku to the point setelah Miku mulai menguap beberapa kali.
" Ng? Boleh aja sih... Tapi punya kalian kan masih banyak? " Miku balik tanya.
" Bukan, bukan bunga yang di depan rumahmu. Tapi... " aku memutus perkataanku ketika melihat mata Miku membolak. Pisau lipat Rin menancap di paha Miku. Dicabutnya pisau itu, lalu dihujamkannya secara keras. Len segera memutar musik game Pocket Monster keras-keras, sementara tangan kananku menutup mulut Miku. Rin mencabut pisaunya lagi, lalu mengarahkan bagian yang terasah pada lipatan siku Miku.
JLEB!
" ... Tapi kami minta bunga tanganmu, Miku. " aku melanjutkan perkataanku.
Miku menitikkan air matanya. Matanya masih membolak dan lengannya yang hampir lepas. Antara takut dan sakit, sepertinya. Rin melanjutkan pekerjaannya. Terlihat seperti memotong daging sapi memakai pisau daging, tapi kali ini Rin memakai pisau lipat. Setelah beberapa kali menancapkan bilah tajam di lipatan siku Miku, akhirnya tangan dengan kuku hijau tosca itu lepas juga. Wajah Miku lemas, sepertinya kehabisan darah.
" Rin, darahnya mengucur terlalu banyak. " protes Len sambil mengangsurkan baskom yang entah dari mana didapatnya.
Aku mengambil baskom itu dan menadah darah dari lengan Miku yang telah kehilangan tangannya. Mungkin hanya aku, atau memang mata Miku semakin meredup? Aku menyentuh lehernya, dan tidak menemukan tanda kehidupan di sana.
" Rin, dia sudah mati. Cepet minta bunga satunya, terus cepet kita tanem di kebun bunga kita yang baru. " perintahku.
" Iya iya! Aku udah denger berapa kali, kok! " protes Rin sambil meneruskan pekerjaannya.
=>Rin's POV
Aaaah... Senangnya! Akhirnya kebun bunga kami yang baru terisi oleh 2 bunga hijau tosca! Ngomong-ngomong, maya Miku sudah Len buang ke dalam rumah Miku yang kosong. Pantesan dia maksa banget pengen main PS di rumah kami. Dia kan paling nggak bisa hidup dalam kesepian. Sudahlah, pasti Miku akan senang karena bunganya kami tanam dengan baik di kebun bunga kami.
" Len, pupuknya sudah? " tanyaku.
" Sudah, sebentar lagi. " jawabnya.
Aku membersihkan tanah di celana 3/4 yang kupakai. Selanjutnya, bunga siapa yang akan kami ambil, ya? Aku ingat semua warna kuku teman-teman di sekolah. Neru Akita warna kuning, Haku Yowane warna putih, Teto Kasane warna magenta, Luka Megurine warna pink, Zatsune Miku warna hitam, Meiko warna merah, Miriam warna abu-abu... Siapa lagi, ya? Ah, lebih baik aku tanya hal ini pada Kak Lily yang lebih sosialita dibandingkan aku.
" Nee, Rin! Libur musim panas ini kita berburu bunga, ya! " ajak Kak Lily.
" Jenis apa yang akan kita buru, Kak? " tanyaku.
" Neru, Haku, Teto, Luka, Zatsune, Meiko, Miriam... Oh iya, Ruko kemarin telepon kalau dia mengecat kukunya selang-seling pake warna biru sama merah! Bagus, kan? " jawab Kak Lily ceria.
" Fans-fans-ku juga ada banyak yang bisa diminta bunganya! Selama musim panas ini kita pasti dapat banyak bunga! " sambung Len semangat.
Aku tersenyum ceria, lalu berjongkok dan mengelap pisau lipatku dengan saputanganku. Masih ada darah yang menempel, ternyata. Oh? Dan daging yang sedikit mengeras... Tidak besar, hanya setengah senti.
" Kita mulai dengan Neru! " gumamku dengan sadistik, sementara Len dan Kak Lily tersenyum sarkastik.
=>Len's POV
Libur musim panas sudah hampir berakhir, dan kebun bunga kami sudah terisi banyak bunga. 5 jari dengan cat kuku yang indah, walaupun kadangkala ada orang yang memberontak ketika kami minta bunganya dan mengakibatkan satu kelopak putus. Tapi, 4 jari tidak buruk juga. Jari yang tidak ada cat kukunya, kami cat sendiri. Rin dan Lily membeli banyak cat kuku warna-warni, sih.
Kami berburu secara acak. Teman sekelas, tetangga yang main ke rumah, bahkan orang yang menemukan taman bunga kami. Nah, itu dia tangan tanpa cat kuku. Kami seperti menciptakan legenda urban tersendiri bagi kota ini.
" Len, lihat ke luar! Ada anak kecil masuk ke kebun bunga kita! " kata Rin sambil menunjuk pintu belakang gedung mangkrak angker yang kami buka. Aku melihat ke arah yang ditunjuk Rin. Oh, benar juga! Ada sekitar 2 anak... Mungkin mereka main petak umpet tanpa tahu legenda urban yang kami ciptakan?
" Aku lihat! Hei, kita belum punya yang kecil, kan? " tanyaku.
" Kita minta saja! Sebentar, aku ambil peralatanku dulu! " sahut Kak Lily sambil ngacir ke tempat 'peralatan'nya berada. Habis dibersihkan, sih. Untung air di sini masih berfungsi.
Maksudnya, peralatan berburu. Rin masih setia dengan pisau lipat di balik rok seragamnya, sementara aku pakai cutter di saku gakuranku. Kak Lily sendiri, yang tadi habis membawa 2 bunga oranye, memakai gunting kuning kesayangannya.
Anak-anak itu terlihat terkejut dengan keberadaan kami, berdiri memandangi bunga-bunga kami dengan senyum. Senyum yang biasa kami pakai. Senyum sarkastik.
" K-k-ka-kakak siapa? " tanya salah satu anak berambut hijau.
" Yang punya kebun ini. Nama kalian? " Rin balik bertanya dengan ramah -- pura-pura ramah maksudnya.
" Ryuto. D-dia Yuuki. G-g-gomen sudah mengganggu kalian, K-kak. " kata anak berambut hijau.
" Eits, tunggu dulu. Kami boleh minta bunga kalian, nggak? " tanya Kak Lily sambil menghalangi pintu.
Wajah 2 anak itu langsung pucat.
=>Lily's POV
Aku menangkap anak berambut hijau dan langsung menusuk jantungnya. Kasihan, supaya dia tidak menjerit kesakitan. Gunting kuningku langsung kuposisikan di siku anak berambut hijau.
CTAS!
Whew, lebih mudah dibandingkan memotong bunga Hiyama Kiyoteru-sensei. Iya lah, orang Hiyama-sensei udah tua kayak gitu. Sementara nih anak masih bau kencur. Tangan yang terpisah itu jatuh dengan suara keras, sementara di bekas potongan yang kubuat, urat dan otot-otot anak itu menyeruak keluar. Seperti yang kami lakukan pada orang-orang sebelumnya.
" Ryutoooooo!! " teriak anak perempuan berambut cokelat kuncir 2 yang ditangkap Len.
Hm? Oh, Len sudah menusuk jantung anak perempuan itu. Sementara aku menggunting tangan satunya, Rin memotong tangan anak perempuan itu dengan cepat.
Tiba-tiba, aku mendengar sirene polisi di depan gedung taman bunga kami. Sekelompok polisi memasuki kebun kami dengan kasar, lalu menodongkan pistol pada kami. Hell, tertangkap basah, huh?
" Ryuto?! " panggil seorang bapak-bapak. Mungkin ayah anak yang kupegang.
Di sampingnya, ada seorang ibu yang menitikkan air mata sambil menggumankan nama 'Yuuki' berulang kali.
" Ah. Selamat datang di kebun bunga kami. " sapaku. Aku melihat tubuh bapak-bapak itu bergetar hebat. Kesal, eh?
" KALIAN SEMUA BRENGSEK!! " makinya, lalu merebut pistol polisi itu. Oh, mau menembak kami, ya?
DOR! DOR DOR!
Hell, kami semua tertembak. Mata Rin dan Len membolak, lalu jatuh terbaring. Aku juga begitu. Merasakan nyawa makin menjauh, mekin mengantuk...
Dan gelap.
=>Author's POV
5 tahun sudah berlalu sejak Lily, Rin, dan Len Kagamine tertembak mati. Namun, bukan berarti legenda urban tentang Fear Garden selesai. Arwah mereka masih melayang-layang di kebun bunga mereka, dan mereka menjadikan legenda urban itu kenyataan.
Jika kamu menemukan gedung mangkrak tua di bukit belakang sekolah, jangan sekali-sekali masuk ke sana. Karena kamu akan bertemu dengan Lily, Rin, dan Len yang akan mengambil tanganmu untuk kebun bunga mereka. Kamu akan mati di tangan arwah mereka dan ditemukan di luar gedung, tanpa kedua tanganmu...
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Author's Bacot Area
Ini cerita Recchan pas lagi nganggur plus pas habis baca fanfic Fear Garden di kaskus. Pertamanya Recchan bikin on the spot di Facebook Note, terus ternyata banyak yang suka, akhirnya Recchan publish di sini juga. Sebenernya di cerita aslinya di Facebook sana, Recchan berencana bikin dalam beberapa chapter. Tapi berhubung kena WB, akhirnya yang disini Recchan sudahi satu chapter tamat. Disclaimernya ada di atas, oke?
Gomenasai kalo ceritanya aneh! m(_ _)m







































Post new comment