Dimana Ibu?

Princess Purple
Drama
5
207 kali
0 kali

not admin's choice

Jam 6.30 petang.

 

 ibu berdiri di depan pintu. Wajah ibu kelihatan resah. ibu tunggu adik bungsu pulang dari mengaji.

 

 Ayah baru pulang dari sawah.

 

 Ayah tanya ibu, “Ani mana?’

 

 ibu  jawab, “Ada di dapur sedang siapkan makan.”

 

 Ayah tanya ibu lagi,” Angga mana?”

 

 ibu jawab, “Angga mandi, baru pulang main bola.”

 

 Ayah tanya ibu, “Ati mana?”

 

 ibu jawab, “Ati, Kak Cik sedang nonton tv dengan Ali di dalam?”

 

 Ayah tanya lagi, “Adik sudah pulang?”

 

 ibu  jawab, “Belum. Harusnya sudah pulang. Sepeda adik rusak tadi. Sebentar lagi kalau tak pulang juga ayo kita pergi cari Adik.”

 

ibu  jawab pertanyaan ayah dengan yakin. Setiap hari ayah tanya pertanyaan yang sama. ibu  jawab penuh perhatian. ibu selalu mengkhawatirkan dimana anak-anak ibu dan bagaimana keadaan anak-anak ibu setiap saat dan setiap waktu.

 

Dua puluh tahun kemudian

 

Jam 6.30 petang

 

 Ayah pulang ke rumah. Baju ayah basah. Hujan turun sejak tengah hari.

 

 Ayah tanya Ali, “Mana ibu?”

 

 Ali sedang membolak-balik baju barunya. Ali jawab, “Tak tahu.”

 

 Ayah tanya Angga, “Mana ibu?”

 

 Angga menonton tv. Angga jawab, “Mana Angga tahu.”

 

 Ayah tanya Ati, “Mana ibu?”

 

 Ayah menunggu lama jawapan dari Ati yang asyik membaca majalah.

 

 Ayah tanya Ati lagi, "Mana ibu?"

 

 Ati menjawab, “Entah.”

 

 Ati terus membaca majalah tanpa menoleh kepada Ayah.

 

 Ayah tanya Ani, “Mana ibu?”

 

 Ani tidak jawab. Ani hanya mengoncang bahu tanda tidak tahu.

 

 Ayah tidak mahu tanya Kak Cik dan Adik yang sedang bermain facebook. Ayah tahu yang Ayah tidak akan dapat jawaban yang ayah mau.

 

 Tidak ada yang tahu di mana ibu. Tidak ada yang  merasa ingin tahu di mana ibu. Mata dan hati anak-anak ibu tidak pada ibu. Hanya mata dan hati Ayah yang mencari-cari di mana ibu.

 

 Tidak ada anak-anak ibu yang tahu setiap kali ayah bertanya, "Mana ibu?"

 

 Tiba-tiba adik bungsu bersuara, “ibu ni udah mau malam masi keluyuran. Tak ingat pulang ke rumah!!”

 

 Tersentak hati Ayah mendengar kata-kata Adik.

 

 Dulu anak-anak ibu akan berlari mendakap ibu apabila pulang dari sekolah. Mereka akan tanya "Mana ibu?" apabila ibu tidak menunggu mereka di depan pintu.

 

 Mereka akan tanya, "Mana ibu." Apabila dapat juara 1 atau kaki terluka saat main bola di lapangan sekolah. ibu resah apabila anak-anak ibu lambat pulang ke rumah. ibu mau tahu di mana semua anak-anaknya berada setiap waktu dan setiap saat.

 

 Sekarang anak-anak sudah besar. Sudah lama anak-anak ibu tidak bertanya 'Mana ibu?"

 

 Semakin anak-anak ibu besar, pertanyaan "Mana ibu?" semakin hilang dari bibir anak-anak ibu .

 

 Ayah berdiri di depan pintu menunggu ibu. Ayah resah menunggu ibu kerana sudah senja sebegini ibu masih belum pulang. Ayah risau karna sejak akhir-akhir ini ibu selalu mengeluh sakit lutut.

 

 Dari jauh kelihatan sosok ibu berjalan memakai payung yang sudah tua. Besi-besi payung terlihat keluar dari kainnya. Hujan masih belum berhenti. ibu membawa dua bungkusan plastik. Sudah kebiasaan bagi ibu, ibu akan bawa sesuatu untuk anak-anak ibu apabila pulang dari manasaja.

 

 Sampai di halaman rumah ibu berhenti di depan deretan motor anak-anak ibu. ibu buangkan daun-daun yang mengotori motor anak-anak ibu. ibu usap bahagian depan motor Ati perlahan-lahan. ibu rasakan seperti mengusap kepala Ati waktu Ati kecil. ibu tersenyum. Kedua bibir ibu ditutup rapat. Senyumnya tertahan, hanya Ayah yang mengerti. Sekarang ibu tidak dapat lagi merasa mengusap kepala anak-anak seperti masa anak-anak ibu kecil dulu. Mereka sudah besar. ibu takut anak ibu akan menepis tangan ibu kalau ibu melakukannya.

 

 Lima buah motor milik anak-anak ibu berdiri megah. Kereta Ati paling bagus. ibu tidak tahu apa kehebatan kereta motor itu. ibu cuma suka warnanya. motor warna merah muda, warna kesukaan ibu. ibu belum pernah merasakan naik motor anak ibu yang ini.

 

 Baju ibu basah kena hujan. Ayah tutupkan payung ibu. ibu memberi salam. Tapi tidak ada yang menjawab. Bergetar-getar lutut ibu menaiki anak tangga. Ayah memapah ibu masuk ke rumah. Lutut ibu sakit lagi.

 

 ibu letakkan bungkusan di atas meja. Sebungkus rebung dan sebungkus kue koci pemberian paman untuk anak-anak ibu. paman tahu anak-anak ibu suka makan kue koci dan ibu malu untuk meminta untuk bawa pulang. Namun raut wajah ibu sudah cukup membuat paman mengerti

 

Saat menerima bungkusan kue koci dari paman tadi, ibu sempat berkata kepada paman, "Wah berebutlah anak-anak ku nanti liat kue koci kamu ni."

 

 Sekurang-kurangnya itulah bayangan ibu. ibu bayangkan anak-anak ibu sedang gembira menikmati kue koci sebagimana masa anak-anak ibu kecil dulu. Mereka berebut dan ibu jadi hakim yang membagi rata kue koci itu. Sering kali ibu akan beri bagian ibu supaya anak-anak ibu puas memakannya. Bayangan itu sering singgah di kepala ibu.

 

 Ayah menyuruh ibu ganti baju yang basah itu. ibu pun menggantinya.

 

 Selepas ibu ganti baju, Ayah bawa ibu ke dapur. ibu ajak anak-anak makan kue koci. Tidak seorang pun yang menoleh kepada ibu. Mata dan hati anak-anak ibu sudah bukan pada ibu lagi.

 

 ibu hanya tunduk, pasrah dengan keadaan.

 

 Ayah tahu ibu sudah tidak bisa mengharapkan anak-anak melompat-lompat gembira dan berlari mendakapnya seperti dulu.

 

 Ayah temani ibu makan. ibu menyuap nasi perlahan-lahan, masih mengharapkan anak-anak ibu akan makan bersama. Setiap hari ibu berharap begitu. Hanya Ayah yang duduk bersama ibu di meja makan setiap malam.

 

 Ayah tahu ibu letih karna berjalan jauh. Siang tadi ibu pergi ke rumah paman di kampung sebelah untuk mencari rebung. ibu akan masak rebung dan ikan asin kesukaan anak-anaknya.

 

 Ayah tanya ibu kenapa tidak menelpon suruh anak-anak jemput. ibu jawab, "Saya sudah suruh abang telepon anak-anaki tadi. Tapi  kata abang, mereka semua lagi sibuk."

 

 ibu minta paman telepon anak-anaknya untuk menjemputnya karena hujan deras. Lutut ibu akan sakit jika udara dingin. Ada sedikit harapan di hati ibu agar salah seorang anak ibu akan menjemput ibu dengan motor. ibu sangat ingin kalau ati yang datang menjemputnya dengan motor barunya. Tapi Tidak ada satu pun yang datang menjemput ibu.

 

 ibu tahu anak-anak ibu tidak sadar telepon berbunyi. ibu ingat kata-kata ayah, “Kita jangan menyusahkan anak-anak. Selagi kita mampu kita lakukan saja sendiri apa-apa pun. Mereka punya kehidupan masing-masing. Tak usah bersedih. Maafkan sajalah anak-anak kita. Tak apalah kalau tak merasa menaiki motor mereka sekarang. Nanti kalau kita mati kita masih ada peluang merasakan anak-anak mengangkat kita di bahu mereka.”

 

 ibu mengerti buah hatinya semua sudah besar. Ali dan Angga sudah beristeri. Ati, Ani, Kak Cik dan Adik masing-masing sudah punya pasangan sendiri yang sudah mengambil tempat ibu di hati anak-anaknya.

 

 Pada suapan terakhir, setitik air mata ibu jatuh ke piring.

 

 Kue koci masih belum diusik oleh anak-anak ibu.

 

 Beberapa tahun kemudian

 

Paman tanya Ali, Angga, Ati, Ani, Kak Cik dan Adik, “Mana ibu?”.

 

 Hanya Adik yang jawab, “ibu sudah tidak ada.”

 

 Ali, Angga, Ati, Ani, Kak Cik dan Adik tidak sempat melihat ibu waktu ibu sakit.

 

 Kini ibu sudah berada di sisi Tuhannya bukan di sisi anak-anaknya lagi.

 

 Dalam isakan tangis, Ali, Angga, Ati, Ani, Kak Cik dan Adik mendatangii kuburan ibu. Hanya batu nisan yang berdiri terpacak. Batu nisan ibu tidak bisa bersuara. Batu nisan tidak punya tangan layaknya tangan ibu yang selalu memeluk erat anak-anaknya apabila anak-anak datang memeluk ibu saat anak-anak ibu kecil dulu.

 

 ibu pergi disaat Ali, Angga, Ati, Ani, Kak Cik dan Adik berada jauh di rantau. Kata Ali, Angga, Ati, Ani, Kak Cik dan Adik mereka tidak dengar handphone berbunyi saat ayah menelepon untuk beritahu ibu sakit parah.

 

 Ibu mengerti, mata dan telinga anak-anak ibu adalah untuk orang lain bukan untuk ibu.

 

 Hati anak-anak ibu bukan milik ibu lagi. Hanya hati ibu yang tidak pernah diberikan kepada siapapun, hanya untuk anak-anak Ibu..

 

 ibu tidak sempat merasakan diangkat di atas bahu anak-anak ibu. Hanya bahu ayah yang sempat mengangkat jenazah ibu dalam hujan rintik.

 

 Ayah sedih karna tiada lagi suara ibu yang akan menjawab pertanyaan Ayah,

 

 "Mana Ali?" , "Mana Angga?", "Mana Ati?", "Mana Ani?", "Mana Kak Cik?" atau "Mana Adik?". Hanya ibu saja yang rajin menjawab pertanyaan ayah itu dan jawaban ibu memang tidak pernah salah. ibu sentiasa yakin dengan jawabannya sebab ibu paling tahu di mana anak-anaknya berada setiap saat dan setiap waktu. Anak-anak ibu sentiasa di hati ibu tetapi hati anak-anak ibu ada orang lain yang mengisinya.

 

 Ayah sedih. Di tepi kubur ibu, Ayah berbicara sendiri, "Mulai hari ini tidak perlu bertanya lagi kepada Ali, Angga, Ati, Ani, Kak Cik dan Adik, "Mana ibu?" "

 

Motor merah Ati bergerak perlahan membawa Ayah pulang. Ali, Angga, Ani dan Adik mengikuti dari belakang. Hati ayah hancur teringat keinginan Ibu untuk naik motor merah Ati yang tidak kesampaian. Ayah terbayang kata-kata Ibu malam itu, "Cantiknya motor merah muda Ati, kan Bang? Besok-besok Ati bawalah kita jalan-jalan ke kota. Saya akan masak kue koci buat bekal."

 

 "Ayah, ayah....bangun." Suara Ati memanggil ayah. Ayah pingsan sewaktu turun dari motor Ati..

 

 Bergetar-getar ayah bersuara, "Mana ibu?"

 

 Ayah tidak mampu berhenti menanyakan  itu. Sudah 10 tahun Ibu pergi namun pertanyaan "Mana Ibu?" masih sering keluar dari mulut Ayah sampai akhir hayatnya.

 

 Sebuah cerita pendek buat kita renungkan. Kata orang hidup seorang ibu waktu muda dilambung resah, apabila tua dilambung rasa. Kata Rasulullah saw. ibu 3 kali lebih utama dari ayah. Bayangkanlah berapa kali ibu lebih utama dari isteri, suami, pacar, teman,  pekerjaan dan anak-anak. Solat sunat pun Allah suruh berhenti apabila ibu memanggil. Berapa seringkah kita tidak menjawab telfon dari ibu kita?

 

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments


return to top