Detektif Ivan Ibrahim - Petunjuk Di Balik Novel

katondio
Detective
0
143 kali
0 kali

not admin's choice

 

 

 

"Apabila ada kesamaan nama tokoh ,tempat, waktu, dan peristiwa, hanyalah kebetulan belaka.

Ivan Ibrahim, itulah namaku. Sejak lahir hingga sekarang aku berusia 34 tahun aku tinggal di London. Aku bekerja sebagai seorang detektif di London. Ya, aku cukup terkenal walau baru memecahkan 5 kasus.

Kini, aku akan menuju ke kediaman Marco Valentino. Seorang berkebangsaan Italia yang tinggal di sebuah rumah megah dan besar di Utara Kota London. Dia mengundangku untuk menghadiri pesta kesuksesan perusahaan perhotelannya yang telah mempunyai cabang hampir di seluruh kota di Inggris dan dunia, termasuk Indonesia. Dan pendapatan yang menembus rekor dunia, sehingga menjadikannya orang terkaya di dunia mengalahkan Roman Abramovich yang merupakan pemilik Chelsea, ataupun Syekh Mansyur yang mempunyai Manchester City. Kabarnya di dalam pesta yang diadakannya, dia mengundang seluruh orang – orang terkaya yang ada di seluruh Inggris, bahkan dunia.

Akhirnya aku sampai dikediaman Marco Valentino. Betapa terbelalak diriku melihat rumahnya yang begitu besar. Lebih besar dari kediaman Michael Jackson di Neverland. Pagar rumahnya pun sangat besar dan dijaga oleh 2 orang berbada kekar dan memakai jas hitam layaknya FBI. Setelah aku turun dari mobil, aku langsung disambut oleh para pelayan keluarga Marco Valentino. “Selamat datang tuan,” sahut mereka. Aku pun memberi senyuman pada mereka. Kemudian aku langsung diantar menuju pintu depan rumah Marco. Pintu masuknya juga besar dan dijaga juga oleh 2 penjaga.

Begitu masuk ke dalam rumah, aku makin terpesona melihat isi rumah Marco Valentino yang terlihat tak ada barang murah di dalamnya. Para tamu juga terlihat senang, ada yang ngobrol – ngobrol soal bisnis, ada yang ketawa – ketiwi, macam – macam. Hingga akhirnya, sang tuan rumah menghampiriku dan berkata, “Selamat datang tuan Ivan, sudah dari tadi saya menunggu anda. Alasan saya mengundang anda kemari karena ada hal yang hendak saya bicarakan dengan anda,” tandasnya. Kemudian dia berbisik, “Tuan detektif.”

Lalu ia mengajakku ke halaman belakang rumahnya untuk bicara empat mata. “Jadi begini tuan Ivan, minggu lalu putri saya Valentine menjadi korban pembunuhan. Penyebab kematiannya adalah dia ditembak di bagian dada,” kata Marco. “Apa ada petunjuk atau pesan yang ditinggalkan?” tanyaku. “Kurasa hanya… sebuah sobekan dari salah satu halaman novel favoritnya. Putriku mati dalam keadaan menggenggam sobekan novel itu.” jawabnya. “Bisa kulihat,” kataku. Kemudian ia memberikanku sobekan novel itu dan aku pun membacanya. Disitu tertulis:

Ketika ku berjalan pada suatu malam, entah kenapa aku melihat bulan purnama di atas langit malam berwarna biru. Aneh, hingga aku terus memperhatikannya, apakah benar yang kulihat ini? Sambil menyelam, minum air. Di saat sedang memperhatikan bulan itu, aku berbaring di atas rumput yang hijau dan juga sambil menatap bintang – bintang yang indah. Hingga datang padaku seorang bernama Richard Starkey.

”Nampaknya, ini sulit untuk dimengerti. Apa anda yakin hanya sobekan kertas ini petunjuknya?” kataku. “Ya, karena memang tak ada petunjuk lain,” jawab Marco. “Tuan Ivan, sebenarnya aku pun mencurigai 3 orang dari orang – orang yang datang ke pesta ini,” ungkapnya. “Begitu pesta bubar, aku akan mencegat 3 orang yang paling kucurigai itu,” lanjutnya.

Malamnya, tepat pukul 20.00 pesta selesai. Marco pun berkata pada 3 orang itu agar tidak pulang dulu, karena ada hal yang ingin dibicarakan. Aku yang melihat dari kejauhan, seperti mengenal ketiganya. Yang pertama adalah Mohammed Yus, dia adalah salah satu Raja Minyak dari Uni Emirate Arab. Dia pernah mengecam gaya hidup Marco, yang dinilainya terlalu berfoya – foya dan sering menghabiskan uangnya untuk hal – hal yang tidak jelas. Kemudian, Marco membalas kecamannya dengan mengatakan pada media bahwa Yus adalah koruptor kelas kakap di Negaranya. Mungkin Marco berfikir Yus ingin membalas dendam pada Marco karena, Yus sudah difitnah oleh Marco. Pasalnya, setelah ucapan Marco tersebut, keluarga Yus langsung ditangkap polisi.

Yang kedua adalah Joseph Qitin, dia adalah seorang pengusaha hotel asal Irlandia yang juga merupakan saingan berat Marco. Joseph pernah mengatakan pada media bahwa Marco adalah orang licik yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesuksesan. Marco kemudian membalas kata – kata Joseph dengan mengatakan pada media bahwa Joseph sering memperkosa gadis remaja. Marco pun berfikir bahwa Joseph ingin membalas dendam pada Marco karena, Joseph sudah difitnah oleh Marco. Kata – kata Marco tersebut membuat Joseph menjadi bahan pembicaraan di Irlandia dan sangat jelas merusak citranya.

Yang ketiga adalah Mario Ferguson. Mario adalah aktor terkenal Inggris yang pendapatannya sangat besar. Sehingga dia dinobatkan sebagai artis muda terkaya Inggris. Mario memiliki bakat bermain drum. Cinta Mario disebut – sebut pernah ditolak oleh Valentine. Ada yang bilang setelah cintanya ditolak oleh Valentine, ia dendam pada Valentine.

Begitu semua tamu pulang ke rumah mereka masing – masing, kecuali 3 tamu itu dan saya. Keluarlah para Bodyguard Marco Valentino dari segala penjuru dan menyergap 3 tamu itu, serta diri saya dan segera membawa kami ke suatu ruangan kosong di rumah Marco Valentino. Mereka dipukuli dan setelah itu tangan mereka diikat, tapi saya tidak.

“Tuan Ivan Ibrahim, inilah ketiga orang yang kumaksud,” kata Marco. “Hei Marco, apa ini tidak terlalu berlebihan?” tanyaku. “Bagaimanapun juga mereka tetap manusia,” lanjutku. “Diam saja kau Ivan, aku menyuruhmu untuk mengungkap pelaku pembunuhan putriku. Bukan untuk menceramahiku. Pokoknya, aku memberimu waktu 24 jam dari sekarang untuk mengungkap siapa pelakunya. Mulai dari sekarang pukul 20.15 hari ini hingga pukul 20.15 esok hari. Jika kau gagal, maka ketiga orang ini dan kau akan kubunuh!” tuturnya. “Dan jangan harap keluargamu akan baik – baik saja! Aku sudah mengantongi nama anggota keluargamu. Aku bisa menyuruh orang – orangku untuk menghabisi mereka!” ancamnya.

Dengan terpaksa aku menerima tawaran tersebut.

Keesokan harinya. Aku bangun tidur pagi – pagi sekali untuk Sholat Subuh dan kemudian pergi ke pusat kota untuk memecahkan petunjuk ini, siapa tahu di pusat kota aku bisa mendapat pencerahan. Aku berkeliling ke sana sini, terus bertanya pada orang – orang. Bahkan, aku sampai mengunjungi pakar Astronomi terkemuka di Inggris, hanya untuk tahu, apakah ada bulan berwarna biru?

Pukul 19.34 rasa putus asa menghampiriku, karena tak mendapat pencerahan apapun. Tapi aku tidak ingin mati sekarang dan.. sanak saudaraku juga terancam. Aku harus lakukan sesuatu! Aku ingat! kakakku Iwan adalah Master teka – teki. Maka, aku langsung menuju rumah adikku yang tak jauh jaraknya dari rumahku. Begitu sampai aku disambut istrinya. “Iwan sedang pergi. Gak lama kok, paling hanya 15 menit,” kata istrinya. Maka, aku menunggu Iwan di ruang tamu rumahnya dengan gugup. Karena gugupnya, keringatku mengucur deras. 10 menit berlalu, Iwan tak juga datang. Kemudian, aku membaca majalah yang terletak di meja untuk menghilangkan ketegangan. Majalah itu membahas The Beatles, di dalam majalah itu tertulis:

The Beatles. Siapa yang tidak mengenal grup musik yang beranggotakan John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr ini. Band yang memiliki popularitas luar biasa di Britania Raya ini, memiliki fans yang disebut dengan julukan "Beatlemania". Mereka juga kemudian meraih sukses di Amerika Serikat dan seluruh dunia.

The Beatles didirikan di Liverpool dengan formasi awal John Lennon (Vokal, Gitar), Paul Mc Cartney (Vokal, Gitar), George Harrison (Vokal, Gitar), Stuart Sutcliffe (Bass) dan Pete Best (Drum). Namun tak lama kemudian, Stuart Sutcliffe mengundurkan diri dari The Beatles dan hijrah ke Jerman. Kemudian, ia menikahi Astrid Kircherr dan meninggal dunia karena pendarahan di otak pada tahun 1962. Lalu, Pete Best juga memutuskan untuk hengkang dari The Beatles, dan posisinya digantikan oleh Richard Starkey alias Ringo Starr.

“Hmm…? Ringo Starr alias Richard Starkey? Richard Starkey alias Ringo Starr? Namanya sama dengan karakter dalam sobekan novel itu. Dan dia adalah Drummer,” pikirku. Berpikir… berpikir… berpikir. Disaat sedang serius berpikir, aku melihat cover belakang majalah dan kulihat model majalah itu mempunyai mata biru. Dan aku pun akhirnya mengerti arti petunjuk dalam sobekan novel itu dan aku semakin yakin siapa pelakunya, “Yaaa... aku mengerti sekarang. Terima kasih ya Allah,” teriakku. Kemudian aku segera berlari ke mobilku dan segera memacunya kekediaman Marco Valentino. Hingga aku lupa pamit dengan keluarga Iwan.

Aku mengemudi seperti orang gila! Kendaraan kupacu sampai melebihi titik 70 Km/jam. Lampu merah pun kuterobos. Serasa jalanan milikku malam itu.

Aku pun sampai di kediaman Marco pada pukul 20.15 dan bergegas menuju ruangan tempat Yus,  Joseph, dan Mario disekap. Begitu masuk aku melihat Marco sedang menodongkan pistolnya ke arah Muhammad Yus. “Hentikan Marco! Aku sudah tahu siapa pelakunya,” kataku sambil terengah – engah. “Bagus, sekarang katakan siapa dia?” kata Marco sambil menodongkan pistolnya kearahku. “Dalam sobekan halaman Novel itu, tertulis nama Richard Starkey. Richard Starkey adalah nama asli Ringgo Starr yang merupakan Drummer The Beatles. Dan aku yakin Valentine ingin memberi tahu bahwa pembunuhnya adalah seorang Drummer. Disini, yang pernah menjadi Drummer adalah Mario. Ya, dialah pembunuhnya,” ungkapku. “Kau tidak bisa memfitnahku seperti itu. Mana buktinya?” kata Mario.

“Di kutipan novel itu ada kata – kata bulan purnama di atas langit malam berwarna biru. Bulan Purnama biru berarti bola mata biru, disini yang memiliki bola mata biru hanya kau. Maka jelaslah, kau pembunuhnya,” tegasku. Seketika itu juga, wajah Mario langsung pucat dan ia tak mampu berkata – kata lagi.

“Oh... begitu ternyata. Kau patah hati dan kau tidak terima,” kata Marco pada Mario. Lalu, Marco langsung mengarahkan pistolnya kepada Mario dan hendak menembaknya. Aku pun langsung berusaha menggagalkan niatnya tersebut dengan berusaha merebut pistol itu dari tangan Marco. “Hentikan Marco! Ini namanya main hakim sendiri. Bisa – bisa malah kau yang dipenjara,” kataku. “Masa bodoh! Aku sudah sakit hati. Karena anakku mati, istriku bunuh diri,” tandasnya. Sementara aku bergulat dengan Marco, Mario berhasil melepas ikatannya dan kabur. Tapi, dia segera dihadang oleh Bodyguard Marco di depan pintu dan diringkuslah dia. Dan akhirnya aku memenangkan duel melawan Marco. Aku buat dia pingsan dan kurampas pistolnya, serta kubebaskan Yus dan Joseph.

3 hari kemudian, aku menerima amplop dari Marco. Dia memberiku sejumlah uang dan ucapan terima kasih didalamnya.

 

 

 

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

return to top