Detective Kidz

3
384 kali
0 kali

not admin's choice

Huh, ini benar-benar menyebalkaaaan!! Kenapa harus jadi seperti ini!! Kami ini Grup Detektif!!! Kok bisa-bisanya disuruh mecahin kasus murahan begini...

Ah, sebaiknya aku potong kemarahanku dulu. Aku belum memperkenalkan diriku bukan? Namaku Nisa Desica, siswi kelas 2 di salah satu SMP Negeri di Bekasi. Aku ini anak yang manis, baik, ramah, berbakti pada orang tua dan suka menabung.... Loh?! Ahahaha!! Bercanda, bercanda... Aku ini cuma siswi SMP biasa yang mungkin bisa dibilang agak [i]freak[/i] pada hal-hal yang berbau misteri.

Aku, Risa, dan Micko adalah sahabat sejak awal SMP. Kami bertiga sama-sama menyukai hal-hal yang berbau misteri. Kami pun membuat Grup Detektif Cilik yang kami beri nama BakerStreet. Namanya kami ambil dari novel Sherlock Holmes karya Sir Athur Conan Doyle. Dalam novel itu, ada grup anak jalanan yang sering membantu Holmes untuk mencari informasi. Mereka tinggal di Jalan Baker, tempat dimana Sherlock tinggal. Mereka disebut Anak Jalanan Baker Street. Kami pun memakai nama itu untuk mengidentikkan kegiatan kami dengan anak-anak jalanan Baker Street. Nama samaranku di Grup BakerStreet adalah Holmes, Micko dengan nama samaran Arthur, dan Risa dengan nama samaran Irin, yang diambil dari nama Irin Edler*. (baca NOTE di bagian paling bawah cerita) 

Mungkin mendengar kisah kami ini adalah sesuatu yang gila bagi kalian. Buat apa sih membentuk grup iseng seperti ini? Namun, bagi kami hal ini dapat mengisi kehidupan kami yang membosankan. Kalian tahu apa saja yang dilakukan manusia dalam satu harinya? Bangun tidur, makan, belajar, bekerja, bermain, lalu tidur kembali... Semua itu hanya kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang di kehidupan manusia. Bosan! Aku tak dapat merasakan ketegangan hidup jika aku terus menjalani hidup seperti itu. Aku ingin dapat merasakan bagaimana rasanya bertualang, mencari informasi demi informasi untuk memecahkan sebuah kasus. Karena itulah kami mendirikan grup ini.

Grup kami ini sudah terkenal di seluruh angkatan kami dan sekarang, karena kejadian barusan di kantin, nama kami mungkin mulai menyebar ke kelas 1 dan 3. Teman-teman kami yang mempunyai masalah karena barangnya hilang, biasanya menghubungi kami agar kami dapat menemukan barang yang hilang itu. Sampai saat ini semuanya berjalan lancar. Walau kasusnya tidak terlalu berat, karena biasanya mereka cuma lupa menaruhnya. Tapi, beberapa kali pun dipikirkan, rasanya kami tetap seperti orang bodoh yang dipermainkan saja. Berkali-kali terpikir olehku untuk membubarkan grup kami, tapi ketika melihat wajah senang dan puas dari klien yang telah kami bantu, rasanya aku tak sanggup untuk membubarkan grup ini. Ada suatu kepuasan tersendiri bagi kami ketika melihat wajah tenang klien yang menemukan barangnya kembali. Pada akhirnya, kami justru mempertahankan grup ini sampai sekarang.

Namun, terkadang jenuh juga ya, melakukan hal-hal sederhana begini. Rasanya aku ingin melakukan sesuatu yang lebih menantang dan berarti. Apa di sekolah ini tak ada kasus pembunuhan (hei, hei) atau penculikan ya? Apa perlu aku sendiri yang buat kasus?! Nyeemm...

    “Huaaa!!!! Aku muak dengan hidup seperti ini...!!” teriakku dengan kesal saat aku, Risa dan Micko berada di lahan belakang kelasku, tempat yang biasa dijadikan sebagai basis dari Grup kami.

            “Berisik...” ujar Micko dengan nada pelan seraya bersandar di tembok.

          “Bisa-bisanya bicara seperti itu! Kau tak merasa kesal apa? Kita ini sudah mendirikan Grup Detective sejak 6 bulan yang lalu! Tapi, apa hasilnya? Bukan terkenal karena kerennya, malah terkenal sebagai Grup bodoh yang mau aja mengejar-ngejar seekor kucing demi mendapatkan sepuluh ribu rupiah!” ujarku dengan kesal. 

          “Tapi, bukankah kau sendiri yang bilang kita harus bersabar? ‘Tak ada yang instan di dunia ini. Semuanya butuh proses, dan kasus kecil ini adalah awal dari kesuksesan kita sebagai Detektif terkenal’, begitu kan yang kau katakan? Ingkar dari kata-kata sendiri, apa itu yang disebut Detektif?” ujar Micko dengan tenangnya.

          “Benar kata Micko, Nisa. 'Kan Nisa sendiri yang bilang ingin mempertahankan grup ini. Tidak penting apa yang dikatakan orang lain, selama kita masih bertiga tetap menyukai pekerjaan kita, itu sudah cukup kan?” ujar Risa dengan senyuman manisnya.

          Aku pun terdiam sesaat mendengar kata-kata dari 2 sahabatku ini. Dasar bodoh, aku lupa... Bukankah aku sendiri yang mencetuskan ide pertama kali untuk mendirikan Grup Detective ini? Aku dan Risa adalah saudara sepupu. Rumah kami berdekatan dan kami selalu bersekolah di tempat yang sama. Risa anak perempuan yang sangat manis dan feminim. Dari luar, dia memang terkesan lembek dan tipe orang yang mudah diculik dan dibawa kabur orang (??), tapi sebenarnya dia sangat cerdik dan gesit. Kami berdua pertama kali bertemu dengan Micko saat hari pertama masuk SMP. Sejak awal bertemu, aku dan Micko sudah bertengkar. Dia paling anti dengan perempuan tomboy, yang menegaskan bahwa aku adalah musuh alaminya. Haha... Tapi, kesamaan hobi, membuatnya harus bertahan berteman denganku. 

          “Lalu, sekarang mau bagaimana?” tanya Micko tiba-tiba, setelah kami bertiga terdiam selama beberapa saat.

          “Mau bagaimana? Tentu saja 'kan, kita tunggu kasus berikutnya sambil mendiskusikan kasus Sherlock Holmes,” ujarku dengan santai.

          “Kasus yang mana? Bukannya kita sudah membahas semua kasus?” tanya Risa.

          “Bahkan sudah diulang berkali-kali,” timpal Micko.

          “Ya diulang lagi! Apa susahnya??” jawabku dengan nada kesal pada Micko.

          “Kenapa teriaknya hanya padaku, sih!?” protes Micko.

         “Karena wajahmu yang paling mengesalkan!!” jawabku dengan kesal seraya memasang gaya seolah-olah ingin meremas-remas wajah Micko karena terlalu kesalnya. 

          “Wajahmu itu yang mengesalkan!! Cewek Sangar!” balas Micko.

          “Oi, oi, bisa hentikan pertengkaran sia-sia ini tidak?” ujar Risa, berusaha melerai aku dan Micko.

          “Jangan bicara lagi!! Kau membuatku tambah kesal tauk!! Dasar kutu!!” ujarku lagi dengan nada kesal, seolah tak mendengar Risa berbicara.

          “Monyet Afrika!! Pulang sana ke hutan!!”, balas Micko dengan nada setengah teriak.

          “Suatu hari benar-benar akan kutuntut kau dengan tuduhan pencemaran nama baik!!” teriakku dengan kesalnya seraya menarik kerah seragam Micko.

          Tiba-tiba jendela kelas yang berada disamping kami terbuka. Salah seorang temas sekelas kami yang bertubuh gempal dan berkacamata bernama Dodi pun menjulurkan kepalanya ke jendela.

          “Woi, Grup Detektif. Ada yang nyariin tuh... Tapi, kayaknya lagi sibuk ya...” ujar Dodi seraya melontarkan senyum jail penuh arti ke arahku dan Micko. 

          Aku dan Micko yang sadar akan tatapan dan senyumannya itu pun langsung bergerak serempak saling menjauh dan membuang wajah kearah yang berlawanan.

          “Ah! Jangan-jangan klien baru! Siapa yang mencari kami?” tanya Risa dengan senangnya seraya menghampiri jendela dimana Dodi berada.

          “Cewek, anak kelas 1 kayaknya. Tuh, ada diluar,” jawab Dodi seraya melirik kearah pintu kelas kami.

          “Suruh ke sini saja,” ujarku.

          “Rebezz!” jawab Dodi seraya menutup jendelanya kembali lalu menghampiri siswi kelas 1 yang mencari kami.

          “Wah, jarang sekali, ada dua kasus berturut-turut dalam satu hari. Ini hari keberuntungan kita!” ujar Risa dengan senangnya. 

          “Asal tidak disuruh menguntit kucing lagi, aku sudah senang sekali,” ujarku seraya mengelus bekas luka yang masih memerah dipipiku.

          Tak lama kemudian, dari ujung gang, terlihat sosok seorang anak perempuan manis berambut pendek.

          “Hai! Salam kenal, kami Grup BakerStreet! Kau mau meminta bantuan kami?” tanya Risa dengan ramahnya.

          “Ah... i, iya. Na... namaku Nina, salam kenal!” jawab perempuan manis itu, nampak gugup berbicara dengan kakak kelasnya.

          “Tak usah gugup begitu. Ayo duduk," ujarku seraya tersenyum manis, mencoba membuatnya tenang dengan keramahan. 

          "Padahal cuma duduk di tanah, tapi gaya bicaranya...” gumam Micko dengan nada sinis.

          Aku pun langsung melontarkan tatapan sinis padanya, seolah mengatakan, ‘Bicara lagi, kubunuh kau!!’. Ia pun langsung terdiam lalu membuang wajah kearah lai n, berpura-pura tidak mengatakan apa-apa. Kami berempat pun duduk di bawah jendela kelas kami.

“Perkenalkan, namaku Nina dari kelas 1," sapa perempuan anak kelas 1 itu dengan ramahnya. 

“Yupz! Salam kenal juga. Namaku Risa dari kelas 2.1. Ini namanya Nisa dan yang disebelahnya, Micko, dari kelas yang sama," ujar Risa dengan ramahnya, memperkenalkan dirinya, aku, dan juga Micko.

“Jadi, apa yang ingin kau ceritakan pada kami?” tanyaku, langsung ke inti. 

“Begini... Apa benar kakak-kakak dapat menyelesaikan kasus yang rumit?” tanya Nina dengan wajah cemas, nampaknya dia memiliki masalah yang serius.

Wah, kesempatan!! Kalau ada kasus yang rumit justru bagus!! 

“Kalo ga yakin dengan kemampuan kami, pergi ke orang lain saja sana,” timpal Micko dengan dingin.

Aku pun langsung mencubit kakinya dengan sangat keras, sampai dia meringis, menahan sakit.

“Jangan dengarkan orang ini. Ya, kami akan berusaha membantumu. Jadi, kasus sulit apa yang kau punya?” tanyaku dengan senyuman malaikatku yang kulontarkan kearah Nina, tanganku masih mencubit Micko.

“Begini, 2 bulan yang lalu, aku baru pindah ke tempat tinggalku yang sekarang. Sebenarnya, tempat tinggalku yang sekarang jauh lebih menyenangkan daripada yang dulu. Tempatnya lebih bersih dan nyaman," ujar Nina.

“Lalu, apa masalahnya?” tanya Risa heran. 

   “Ma... masalahnya adalah rumah yang berada di sebelah rumahku. Rumah di sebelahku adalah rumah tua yang nampaknya sudah ditinggal penghuninya selama bertahun-tahun. Sebenarnya aku tidak merasa risih hanya karena rumput ilalang yang sudah sangat panjang di gang yang berada tepat di sebelah rumahku atau pun pohon tua yang selalu nampak menyeramkan saat malam, ah, siang hari juga! Tapi, belakangan ini, kira-kira mulai sebulan yang lalu, terjadi hal-hal yang aneh di rumah itu," ujar Nina lagi dengan wajah cemas dan agak takut.

“Keanehan?” tanyaku, Risa, dan Micko bersamaan.  

“Ya, sejak kira-kira sebulan yang lalu setiap malam selasa, jumat, dan minggu, akan terdengar suara rumput yang bergoyang seperti ada seseorang yang sedang berjalan dan juga suara kayu yang bergesekan dengan dinding. Setiap kali kulihat ke arah rumah itu, tak ada siapapun yang terlihat disana. Kupikir, itu suara seseorang yang sedang melewati gang di sebelah rumahku. Tapi, ternyata gang itu buntu. Dan karena terus berulang secara berkala di 3 malam yang sama 2 minggu berturut-turut, aku mulai merasa curiga. Akhirnya pada minggu ketiga malam selasa, aku memperhatikan ke arah rumah tua itu dari pukul 7. Tapi, ketika aku pergi ke toilet sebentar saja selama kurang lebih 10 menit pada pukul 8 lewat, tiba-tiba lemari yang terlihat di jendela salah satu kamar di rumah tua itu bergeser!! Aku yang ketakutan langsung menutup tirai jendelaku lalu berusaha untuk tidur," jelas Nina panjang lebar. Mimiknya benar-benar menunjukkan bahwa ia ketakutan.

“Apa kau yakin itu bukan halusinasimu karena tanpa sadar kau sudah tersugesti ada sesuatu di dalam rumah itu?" ujar Micko. 

“Tidak, aku yakin bahwa lemari itu bergeser!! Posisinya berubah! Bukan hanya itu, pada malam jumat berikutnya, aku melihat ada sinar berwarna biru kemerah-merahan yang bergerak melayang melewati jendela rumah tua itu!!” jawab Nina dengan wajah yang menunjukkan bahwa ia benar-benar merasa ketakutan.

“Mungkin ada seseorang yang diam-diam masuk kedalam rumah itu...” gumamku.  

“Wah, kalau begitu, aku hanya bisa bilang bahwa [i]dia[/i] atau [i]mereka[/i] adalah orang yang benar-benar tak punya kerjaan sampai-sampai mau mengunjungi rumah tua kosong secara berkala seperti itu," komentar Micko dengan santainya seraya menyandarkan dirinya ke dinding.

“Benar juga. Kalau aku sih pasti akan menghindari tempat-tempat seperti itu.”, timpal Risa.

“Ka, kalau begitu, jadi benar... ini adalah per, per, perbuatan.... hantu?”, tanya Nina dengan wajah ketakutan. Suaranya makin mengecil saat mengucapkan kata ‘hantu’.

“Kalau kau percaya itu hantu, cari orang lain saja sana,  kami ini Grup Detective bukannya Grup Pengusir Han...” ujar Micko dengan dinginnya. Namun, kata-katanya langsung kupotong.

“Tenang saja, Nina. Kami pasti akan membantumu.Percayakan saja kasus ini pada kami!” ujarku dengan senyuman penuh percaya diri seraya menggenggam kedua tangan Nina.

“Mm... Terima kasih," jawab Nina dengan senyuman manisnya. Wajahnya nampak sangat tenang setelah mendengar kata-kataku tadi. 

“Kami pasti akan berusaha dengan keras untuk memecahkan kasus ini!” timpal Risa dengan senyum penuh percaya diri juga. 

“Oi, oi.... kalian serius nih?” ujar Micko dengan tatapan bosan, nampak tidak setuju dengan keputusanku dan keputusan Risa.

*NOTE : Nama Grup Detektif dan tokoh-tokoh dari cerita Sherlock Holmes yang disebutkan di cerita ini semuanya dimiliki oleh Sir Arthur Conan Doyle sebagai pengarang asli. Saya hanya memakai nama ini untuk kasus pertama, dan tidak akan memperjualbelikan cerita yang masih memakai nama dari karya Sir Arthur Conan Doyle tersebut. 

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments

  • kiky2hikaru's picture

    hmmm

    3

    hoooo
    detective story

    sayangnya kurang mampu membawa pembaca ke suasana yg kau coba berikan

    KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI.....

return to top