Detective Kidz

artoriya
Case 0
3
319 kali
0 kali

not admin's choice

           Sinar matahari sangat menyengat pada siang itu. Aku berdiri di ini sejak sepuluh menit yang lalu, tanpa bergerak sedikitpun dan dengan mata yang tertuju pada satu hal. Hal itu adalah ‘target’ku, si Pelaku kejahatan yang baru saja terjadi di sekolahku. Ini benar-benar misi yang sangat berat..... di tengah kerumunan siswa-siswi yang berada di kantin ini, aku tak boleh lengah sedikit pun, karena Si Pelaku benar-benar gesit. Aku bisa sampai di sini dengan susah payah berhasil menemukan dan menguntit Si Pelaku.    Aku pun menelan ludah dengan kerasnya. Keringatku mengalir sampai ke dagu. Kalau Si Pelaku tak berhasil ditangkap, nyawa salah satu teman kami akan terancam. Membayangkan bahwa ada nasib seseorang yang berada di tanganku membuat rasa cemas dan gelisah di dadaku makin besar... Aku tak boleh gagal....!!            Tiba-tiba telepon genggam yang kusimpan di dalam kantong sebelah kanan rokku, bergetar. Aku pun mengambilnya tanpa mengalihkan perhatianku dari Si Pelaku sedikit pun.           “Arthur memanggil Holmes. Aku meminta koordinatmu. Ganti,” terdengar suara seorang laki-laki dari arah telepon genggamku.           “Ini Holmes. Aku siap di posisiku. Bagaimana dengan Irin? Ganti,” jawabku dengan wajah serius, tanpa mengalihkan pandanganku dari Si Pelaku sedikit pun.           “Ini Irin. Aku juga sudah siap di posisiku. Ganti,” terdengar suara dari telpon genggamku lagi, namun kali ini suara perempuan.           “Bagaimana dengan posisi Tersangka?” tanyaku.           “Dia masih di posisi awalnya, nampak mencari korban baru,” jawab seorang laki-laki dari telpon genggamku.           “Bersiaplah, semuanya. Dengan aba-abaku, kita akan bergerak secara bersama-sama untuk membekuk tersangka!” ujarku lagi dengan nada yang sangat serius.           “Ya!” terdengar suara laki-laki dan perempuan tadi secara bersamaan.           Lagi-lagi aku menelan ludah dengan keras. Ini lah saat penentuan. Saat ini Si Pelaku sedang duduk asyik di bawah meja kantin seraya menatap korban barunya.... Sial....!! Tak akan kubiarkan kau mencari korban lain....!! Akh!! Dia mulai bergerak..!!!!           “Sekarang....!!” teriakku pada telpon genggamku seraya keluar dari semak-semak pohon dengan cepat lalu menuju ke arah meja kantin yang berada tak jauh dariku.           Si Pelaku nampaknya belum menyadari keberadaanku. Bagus!! Ini kesempatan!! Dari arah yang berlawanan denganku, juga muncul seorang laki-laki dan perempuan berambut panjang yang juga berlari ke arah si Pelaku. Aku pun mulai meloncat untuk menangkap si Pelaku. Namun, di saat terakhir, dia menyadari keberadaanku!! Gawat!! Dia kabur!!           “Risa!! Tangkap dia!! Dia membawa barang buktinya!!” teriakku pada perempuan berambut panjang yang tadi juga berlari ke arah si Pelaku.           “Serahkan padaku!” jawab perempuan itu seraya mengulurkan tangannya untuk menangkap si Pelaku.           Namun gagal!! Si Pelaku berhasil berkelit!! Risa yang kehilangan keseimbangan, tersungkur di tanah yang kering. Si Pelaku pun terus berlari melewati Risa.           “Micko..!!” teriak Risa dengan cemas seraya menoleh ke belakangnya, menatap seorang laki-laki yang sudah bersiap menghadang si Pelaku.           “Serahkan saja padaku!!” jawab laki-laki itu dengan senyum penuh percaya dirinya seraya meninju telapak tangan kirinya.           “Kau tak akan lolos dariku!!” ujar Micko dengan penuh percaya diri seraya melompat untuk menangkap si Pelaku.           Aku pun berlari kearah Micko seraya agak mendorong-dorong siswi lain yang ada di kantin yang nampak kebingungan pada apa yang sedang kami lakukan.           “Minggir...!!” ujarku seraya agak mendorong salah satu siswi kelas 1 yang menghalangi jalanku.           Saat pandanganku tak terhalangi lagi, aku pun ikut meloncat, membantu Micko menangkap si Pelaku yang masih berusaha melepaskan diri dari tangannya.           “Tertangkap!!!” teriakku senang seraya memegangi tubuh Si Pelaku.           “MEOOOONG!!!” teriak [i]Si Pelaku[/i] marah seraya mencakar wajahku.           Micko pun langsung menggendong [i]Si Pelaku[/i] itu seraya memegangi tangannya.           “Aduuh!!! Sakiit!!!” teriakku kesakitan seraya memegangi pipiku yang tadi dicakar oleh [i]Si Pelaku[/i].           “Nisa!! Apa kau tak apa-apa? Wah! Pelakunya sudah tertangkap!!” ujar Risa yang tiba-tiba datang dengan senangnya dari arah kerumunan siswa-siswi di sana.           “Ambil barang buktinya, Ca,” ujar Micko pada Risa seraya menatap ke arah mulut Si Pelaku.           Risa pun mengambil sebuah gulungan kertas berwarna merah dari mulut Si Pelaku.           Tiba-tiba muncul seorang anak perempuan berambut panjang dikuncir kuda yang menghampiri kami. Dengan wajah senang ia menghampiri Micko.           “Wah, kalian berhasil ya?? Terima Kasiiiih!!” ujarnya seraya tersenyum lebar.           “Ini uangnya. Pelakunya juga berhasil kami tangkap,” ujar Risa dengan senyum puas yang terlukis di wajahnya.           “Dengan begini, kau sudah bisa pulang kan?” tanyaku dengan nada agak bete, seraya mengelus-elus pipiku yang ada bekas 4 cakaran kuku.           “Ya, terima kasih ya..... Kalau tak ada uang Rp 10.000 ini, aku tak bisa pulang... Uangku pas-pasan soalnya. Aku panik sekali saat kucing liar jelek ini tiba-tiba membawanya kabur....” jawab perempuan berkuncir kuda itu dengan wajah tenang dan puas.           “Salah sendiri, kenapa dijatuhkan di jalan....” gumam Micko dengan nada bosan seraya melepaskan kucing, [i]Si Pelaku[/i], yang sejak tadi ia dekap dalam pelukannya.           Aku pun langsung menyikut perut Micko dengan kerasnya, yang membuatnya terdiam seraya terbatuk-batuk.           “Ah, tak apa-apa. Lain kali kalau butuh bantuan bilang kami saja,” ujarku dengan senyum penuh keramahan.           “Iya, terima kasih,” jawab perempuan berkuncir kuda itu.           Ia pun pergi dengan senangnya, sedangkan kami bertiga tetap berdiri seperti orang bodoh, dan menjadi pusat perhatian anak-anak yang ada di kantin selama beberapa menit......................

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments

  • Crow's picture

    you are great, so don't thank

    3

    you are great, so don't thank me, thank yourself or God

    I am not person worthy of your concern
  • artoriya's picture

    ya, i think too much word in

    ya, i think too much word in one session will make someone bored too... and it's very hard to make conflict in detective story... =3=;

    thankyou very much for your critics and advices. ^^

    Draw with all of your heart, and make it LIVE. #Soul in your Art
  • Crow's picture

    ah yeah, my only advice is

    3

    ah yeah, my only advice is make sure to divide the page nicely, so people won't get bored, i mean, one post for a page..something like that

    I am not person worthy of your concern
  • artoriya's picture

    thanks for spend your time to

    thanks for spend your time to read thi story Smile

    well, it's just the beginning after all... a case after this is more complicated and i'll make you sure that the villain is not a cat.
    i think i didn't wrote that the kids paid for what they did. they just doin it because they love doin somethin such like detective games.

    Draw with all of your heart, and make it LIVE. #Soul in your Art
  • Crow's picture

    EH?so the villain was a cat

    3

    EH?so the villain was a cat after all? but i find it kinda strange that the ponytail girl has some money to pay the heroine but she need that ten thousand to go home..

    I am not person worthy of your concern

return to top