===================Prolog "Ruin of The City"==================="Kadang utk berlari menjauhi sesuatu, saat itu secara tidak sadar akan berlari memutar, tak peduli seberapa jauh telah berlari," Writer who still can't find idea for his story. ***Di sela-sela reruntuhan bangunan yg rusak, bahkan beberapa dari puing-puing itu tetap bisa menampilkan bentuk asli bangungan tersebut. Warna yg dpt terlihat diatas, hanya biru yg mulai tergantikan oleh merah, dan sekepulan asap yg menjulang tinggi menyentuh awan." Hah... hah... hah..." Dari salah satu jalan kecil, seorang anak laki-laki berlari, menelusuri jalan-jalan yg terhalangi oleh bagian-bagian bangunan yg hancur. Anak itu berlari, melewati beberapa "pecahan" bangunan yg disekitarnya. *Tap...* sebuah langkah yg menggema, saat anak laki-laki itu melompati dinding yg tidak terlalu tinggi karena puing-puing membuatnya lebih mudah dijangkau. Pelariannya terhenti, saat jalan mulai terpecah menjadi dua jalur. Perhartiannya teralih, menyadari bahwa dia akan segera tertangkap oleh para tentara yg sedang mengejarnya dibelakang, jauh sebelum dia berhenti berlari. Sebuah senyuman, dan dia mulai berlari, memilih jalur kanan. Dari raut wajah tersenyumnya, dia yakin, bahwa para tentara itu tdk akan berhasil menangkapnya, tidak sebelum "permintaan" terakhir terpenuhi." Target ditemukan!" teriak salah satu tentara yg berhasil melihatnya dari lantai dua bangunan yg telah hancur. Dari teropong yg tentara itu gunakan, dia memastikan arah tujuan anak laki-laki itu berlari. Tangan kirinya yg memegang alat komunikasi, seperti menekan beberapa tombol pada alat tersebut." Sersan, target sedang menuju ke arah laut" lapor tentara itu. ***" Nek, apa dia akan selamat?" tanya gadis kecil pada neneknya," Kamu harus percaya padanya," jawabnya singkat. Gadis kecil yg mendengar jawaban dari neneknya, mulai bangkit dari tempatnya duduk, memegangi sehelai kertas kecil, pesan yg gadis itu percaya, bahwa isi surat itu akan membawanya pada sesuatu yg diimpikannya sejak dia menginjakkan kakinya di tanah ini. Seekor merpati putih, datang dan hinggap pada pundak gadis itu. Lalu kertas yg dia genggam, mulai diikat pada kaki merpati, menjadikannya sebagai burung pengantar pesan." Tolong ya," ucapnya pada merpati putih yg dia pegang.Dengan sekali hempasan, merpati itu terbang, melayang menjauhi gadis kecil dan neneknya yg berada disebuah bukit kecil, semakin tinggi merpati terbang, bukit itu semakin terlihat berada disebuah hutan, atau lebih tepat sebuah kota yg tertutup oleh tanaman-tanaman liar. Merpati yg terbang, sesekali memutar, seperti melihat kembali pada orang yg menyerahkan padanya tugas penting, sebelum merpati itu kembali terbang ke arah angin bertiup.Gadis kecil yg telah melepaskan merpati itu, menengok ke arah neneknya yg duduk pada bebatuan yg digunakannya utk duduk." Kapan merpati itu pulang nek?" tanya gadis kecil itu." Setelah mengantarkan surat darimu, jadi tunggulah," jawab neneknya, sambil sesekali membaca sebuah buku yg sedari tadi dia pegang. Anggukan menurut gadis kecil itu, dan dia berlari kecil menuruni bukit, meninggalkan nenek yg membaca, menuju sebuah rumah kecil di kaki bukit.Gadis itu membuka pintu, dan menghampiri sebuah rak buku. Dia mengambil sebuah buku, setelah menggeser kursi kecil didekatnya utk mengambil buku itu karena letaknya yg tinggi, maka gadis itu menggeser kursi itu sebagai pijakan utk mengambilnya. Lalu gadis itu pergi menuju perapian, duduk pada karpet berpola melinggar yg ada didekat perapian. Dia membuka halaman pertama buku itu, memperhatikan setiap foto yg tersimpan rapi pada buku itu. Tak jarang dia tersenyum kecil saat melihat beberapa foto yg mengingatkannya pada hal lucu yg pernah dialaminya. Tangannya terhenti saat akan membalik halaman selanjutnya, saat melihat salah satu foto hitam putih. Dia mengambil foto itu dari tempatnya, perlahan agar tdk merusak foto tua itu. Setitik air mata menetes, sedikit membasahi kumpulan foto pada buku yg terbuka." Maaf kak, aku sudah melanggar janji," ucapnya, sesekali dia mengusap matanya, menghilangkan air mata yg semakin membasahi album foto." Padahal kita sudah janji jari kelingking," sambil melihat tangannya sendiri, jari kelingkingnya mengancung tegak, sama seperti saat dia pernah membuat janji. Kemudian kedua tangannya semakin dia dekap erat didadanya, merasakan kembali perasaan saat dia pernah berjanji utk sesuatu hal, dan kini dia merasa bahwa dia telah melanggar janjinya. Tak ayal tangisan yg sedikit reda, kembali mengalir meneteskan air mata." Maafkan aku kakak..." ***Tak jauh dari sisa reruntuhan kota, Anak laki-laki yg berlari sejak berada di sisa-sisa kota, menghindari kejaran tentara yg mengejarnya. Anak itu berlari menuju tebing yg menjorok ke laut, seperti satu-satunya tempat utk lebih melihat laut. Tanpa menurunkan kewaspadaannya, dia berjalan menghindari tempat-tempat yg menarik perhatian tentara saat menuju tebing. Pisau yg tersarung disamping celananya, tersimpan rapi utk keadaan terdesak, saat menggunakan pisau adalah satu-satunya jalan utk menyelamatkan diri.Di saat yg sama, di atas tebing, seseorang yg tertidur di antara batu yg landai, cukup utk menidurkan seseorang dlm menunggu. Wajahnya tertutup oleh topi, melindunginya dari sorotan matahari. Di samping tempat tertidur orang itu, seekor kucing juga terlihat mengikutinya tidur, melingkarkan ekor dekat dg kepalanya, melindungi diri dari sapuan angin laut yg cukup utk menerbangkan topi milik orang yg tertidur disebelahnya. " Bangun...!!!" Anak laki-laki yg berteriak dg keras didekat telinga orang yg sedang tertidur. Langsung saja orang yg tertidur itu terbangun, terduduk tanpa merubah posisinya semula," Sudah datang ya...?" sambil memegangi telinganya yg diteriaki, memastikan pendengarannya masih berfungsi baik." Ini," anak laki-laki itu melempar sesuatu," Thanks, tapi kenapa lama sekali?" tanyanya pada anak laki-laki tersebut." Untuk mengambilnya dari Heaven tidak cukup dua tiga hari, penjagaan mereka diperketat karena ini," jawab anak laki-laki itu, tangannya menggenggam sesuatu," Key Of Sounds... berarti kamu sudah...?" anak laki-laki mengangguk terhadap pertanyaan yg diberikan padanya. Kucing yg tadi tertidur, mulai mendekati anak laki-laki yg duduk di batu besar, tidak jauh dari tempatnya." Ternyata yg memperdulikanku hanya kau Friz," kucing hitam itu mengosokkan kepalanya pada kaki anak laki-laki itu. Tawa yg terdengar riang, karena melihat tingkah kucing itu. Anak laki-laki yg sedang memperhatikan Friz, tanpa sengaja melihat ke arah puncak tebing." Hari ini cukup panas ya?" ujar perempuan yg tengah membuka jaket yg dikenakannya. Potongan rambut panjangnya yg tertiup angin, mulai dia rapikan, menyingkirkan sebagian rambutnya yg menghalangi pandangan melewati belakang telinganya." Kamu lebih cocok dg ekor kuda," anak laki-laki itu berjalan menghampirinya. Wajah perempuan itu sedikit memerah karena mendengar hal itu," Lain kali aku akan membawa ikat rambut, tapi kamu harus melihatnya saat kita sudah tiba disana."" Baiklah, tapi saat itu tiba, berjanjilah satu hal padaku," Perempuan mendengarkan perkataan anak laki-laki itu." Jangan tidur saat kita sampai"Perempuan itu hanya terdiam mendengar hal tersebut." Apa salah?" tanyanya dg nada datar." Lagi pula aku cuma tidur siang," lanjutnya." Alana," panggil anak laki-laki itu pada perempuan bernama Alana," ya?" sahut Alana." Kadang aku berpikir, apa tindakan kita tepat?" Alana yg mendengarkan hanya diam, tanpa mengindahkan pertanyaanutknya, Alana menggendong Friz yg sedang menjilati bulunya." Ayo kita pulang, WProlog "Ruin of The City"================
_____________________________________________________________________________________
[i]"Kadang utk berlari menjauhi sesuatu, saat itu secara tidak sadar akan berlari memutar, tak peduli
seberapa jauh telah berlari," Writer who still can't find idea for his story.[/i]
[i] [/i]_____________________________________________________________________________________
[b]Crossed Line Of Dream #1[/b]
[b] Prolog "Ruin of The City"[/b]
***
Di sela-sela reruntuhan bangunan yg rusak, bahkan beberapa dari puing-puing itu tetap bisa menampilkan
bentuk asli bangungan tersebut. Warna yg dpt terlihat diatas, hanya biru yg mulai tergantikan oleh
merah, dan sekepulan asap yg menjulang tinggi menyentuh awan." Hah... hah... hah..." Dari salah satu
jalan kecil, seorang anak laki-laki berlari, menelusuri jalan-jalan yg terhalangi oleh bagian-bagian
bangunan yg hancur. Anak itu berlari, melewati beberapa "pecahan" bangunan yg disekitarnya. *Tap...*
sebuah langkah yg menggema, saat anak laki-laki itu melompati dinding yg tidak terlalu tinggi karena
puing-puing membuatnya lebih mudah dijangkau. Pelariannya terhenti, saat jalan mulai terpecah menjadi
dua jalur. Perhartiannya teralih, menyadari bahwa dia akan segera tertangkap oleh para tentara yg sedang
mengejarnya dibelakang, jauh sebelum dia berhenti berlari.
Sebuah senyuman, dan dia mulai berlari, memilih jalur kanan. Dari raut wajah tersenyumnya, dia yakin,
bahwa para tentara itu tdk akan berhasil menangkapnya, tidak sebelum "permintaan" terakhir terpenuhi.
" Target ditemukan!" teriak salah satu tentara yg berhasil melihatnya dari lantai dua bangunan yg telah
hancur. Dari teropong yg tentara itu gunakan, dia memastikan arah tujuan anak laki-laki itu berlari.
Tangan kirinya yg memegang alat komunikasi, seperti menekan beberapa tombol pada alat tersebut." Sersan,
target sedang menuju ke arah laut" lapor tentara itu.
***
" Nek, apa dia akan selamat?" tanya gadis kecil pada neneknya," Kamu harus percaya padanya," jawabnya
singkat. Gadis kecil yg mendengar jawaban dari neneknya, mulai bangkit dari tempatnya duduk, memegangi
sehelai kertas kecil, pesan yg gadis itu percaya, bahwa isi surat itu akan membawanya pada sesuatu yg
diimpikannya sejak dia menginjakkan kakinya di tanah ini. Seekor merpati putih, datang dan hinggap pada
pundak gadis itu. Lalu kertas yg dia genggam, mulai diikat pada kaki merpati, menjadikannya sebagai
burung pengantar pesan." Tolong ya," ucapnya pada merpati putih yg dia pegang.
Dengan sekali hempasan, merpati itu terbang, melayang menjauhi gadis kecil dan neneknya yg berada
disebuah bukit kecil, semakin tinggi merpati terbang, bukit itu semakin terlihat berada disebuah hutan,
atau lebih tepat sebuah kota yg tertutup oleh tanaman-tanaman liar. Merpati yg terbang, sesekali
memutar, seperti melihat kembali pada orang yg menyerahkan padanya tugas penting, sebelum merpati itu
kembali terbang ke arah angin bertiup.
Gadis kecil yg telah melepaskan merpati itu, menengok ke arah neneknya yg duduk pada bebatuan yg
digunakannya utk duduk." Kapan merpati itu pulang nek?" tanya gadis kecil itu." Setelah mengantarkan
surat darimu, jadi tunggulah," jawab neneknya, sambil sesekali membaca sebuah buku yg sedari tadi dia
pegang. Anggukan menurut gadis kecil itu, dan dia berlari kecil menuruni bukit, meninggalkan nenek yg
membaca, menuju sebuah rumah kecil di kaki bukit.
Gadis itu membuka pintu, dan menghampiri sebuah rak buku. Dia mengambil sebuah buku, setelah menggeser
kursi kecil didekatnya utk mengambil buku itu karena letaknya yg tinggi, maka gadis itu menggeser kursi
itu sebagai pijakan utk mengambilnya. Lalu gadis itu pergi menuju perapian, duduk pada karpet berpola
melinggar yg ada didekat perapian. Dia membuka halaman pertama buku itu, memperhatikan setiap foto yg
tersimpan rapi pada buku itu. Tak jarang dia tersenyum kecil saat melihat beberapa foto yg
mengingatkannya pada hal lucu yg pernah dialaminya.
Tangannya terhenti saat akan membalik halaman selanjutnya, saat melihat salah satu foto hitam putih. Dia
mengambil foto itu dari tempatnya, perlahan agar tdk merusak foto tua itu. Setitik air mata menetes,
sedikit membasahi kumpulan foto pada buku yg terbuka." Maaf kak, aku sudah melanggar janji," ucapnya,
sesekali dia mengusap matanya, menghilangkan air mata yg semakin membasahi album foto." Padahal kita
sudah janji jari kelingking," sambil melihat tangannya sendiri, jari kelingkingnya mengancung tegak,
sama seperti saat dia pernah membuat janji. Kemudian kedua tangannya semakin dia dekap erat didadanya,
merasakan kembali perasaan saat dia pernah berjanji utk sesuatu hal, dan kini dia merasa bahwa dia telah
melanggar janjinya. Tak ayal tangisan yg sedikit reda, kembali mengalir meneteskan air mata." Maafkan
aku kakak..."
***
Tak jauh dari sisa reruntuhan kota, Anak laki-laki yg berlari sejak berada di sisa-sisa kota,
menghindari kejaran tentara yg mengejarnya. Anak itu berlari menuju tebing yg menjorok ke laut, seperti
satu-satunya tempat utk lebih melihat laut. Tanpa menurunkan kewaspadaannya, dia berjalan menghindari
tempat-tempat yg menarik perhatian tentara saat menuju tebing. Pisau yg tersarung disamping celananya,
tersimpan rapi utk keadaan terdesak, saat menggunakan pisau adalah satu-satunya jalan utk menyelamatkan
diri.
Di saat yg sama, di atas tebing, seseorang yg tertidur di antara batu yg landai, cukup utk menidurkan
seseorang dlm menunggu. Wajahnya tertutup oleh topi, melindunginya dari sorotan matahari. Di samping
tempat tertidur orang itu, seekor kucing juga terlihat mengikutinya tidur, melingkarkan ekor dekat dg
kepalanya, melindungi diri dari sapuan angin laut yg cukup utk menerbangkan topi milik orang yg tertidur
disebelahnya.
" Bangun...!!!" Anak laki-laki yg berteriak dg keras didekat telinga orang yg sedang tertidur. Langsung
saja orang yg tertidur itu terbangun, terduduk tanpa merubah posisinya semula," Sudah datang ya...?"
sambil memegangi telinganya yg diteriaki, memastikan pendengarannya masih berfungsi baik." Ini," anak
laki-laki itu melempar sesuatu," Thanks, tapi kenapa lama sekali?" tanyanya pada anak laki-laki
tersebut." Untuk mengambilnya dari Heaven tidak cukup dua tiga hari, penjagaan mereka diperketat karena
ini," jawab anak laki-laki itu, tangannya menggenggam sesuatu," Key Of Sounds... berarti kamu sudah...?"
anak laki-laki mengangguk terhadap pertanyaan yg diberikan padanya.
Kucing yg tadi tertidur, mulai mendekati anak laki-laki yg duduk di batu besar, tidak jauh dari
tempatnya." Ternyata yg memperdulikanku hanya kau Friz," kucing hitam itu mengosokkan kepalanya pada
kaki anak laki-laki itu. Tawa yg terdengar riang, karena melihat tingkah kucing itu.
Anak laki-laki yg sedang memperhatikan Friz, tanpa sengaja melihat ke arah puncak tebing." Hari ini
cukup panas ya?" ujar perempuan yg tengah membuka jaket yg dikenakannya. Potongan rambut panjangnya yg
tertiup angin, mulai dia rapikan, menyingkirkan sebagian rambutnya yg menghalangi pandangan melewati
belakang telinganya." Kamu lebih cocok dg ekor kuda," anak laki-laki itu berjalan menghampirinya. Wajah
perempuan itu sedikit memerah karena mendengar hal itu," Lain kali aku akan membawa ikat rambut, tapi
kamu harus melihatnya saat kita sudah tiba disana."
" Baiklah, tapi saat itu tiba, berjanjilah satu hal padaku," Perempuan mendengarkan perkataan anak
laki-laki itu." Jangan tidur saat kita sampai"
Perempuan itu hanya terdiam mendengar hal tersebut." Apa salah?" tanyanya dg nada datar." Lagi pula aku
cuma tidur siang," lanjutnya.
" Alana," panggil anak laki-laki itu pada perempuan bernama Alana," ya?" sahut Alana." Kadang aku
berpikir, apa tindakan kita tepat?" Alana yg mendengarkan hanya diam, tanpa mengindahkan pertanyaan
utknya, Alana menggendong Friz yg sedang menjilati bulunya." Ayo kita pulang, Will."
_____________________________________
Dari notes di FB-ku, mohon kritik dan saran + komentar \^^/
Post new comment