Condemned Part 2 -Beginning

Hinatsan
Mystery
0
139 kali
0 kali

not admin's choice

Neil tidak bisa tidur semalaman suntuk membuat matanya terasa berat. Ia tidak bisa. Ia hanya terduduk di tempat tidurnya, mencoba untuk tetap membuka mata. Dan menjelang pagi, ia merasa kakinya kesemutan lalu menyelonjorkannya, tapi tetap tak tidur.

Apa yang dilihatnya tadi malam itu nyata. Tapi tak ada yang bisa membuktikan kalau dia memang melihatnya. Tak ada yang melihatnya selain dia. Jadi dia tak berani untuk memberitahu yang lain. Untuk apa memberitahu mereka kalau hanya mengundang kecemasan, dan bukti yang kurang?

Pintunya ia biarkan terbuka sedikit. Dan cahaya dari lampu koridor menyinari celah itu. Kemudian ia melihat bayangan seseorang melintas. Vivian berhenti di celah pintu dan melongok ke dalam. “Neil?”

Gadis itu menyentuh pelipisnya dengan mata menyipit. Ia berharap Vivian tidak melihat kantung hitam di bawah matanya. Ia tahu gadis itu pasti akan mencemaskannya lagi seperti hari-hari yang lalu. Yah, dia pasti cuma melihat dirinya yang baru bangun di kegelapan ruangan. Namun mata Vivian selalu menangkap keganjilan sekecil apapun.

“Kau tidak tidur lagi?”

Seperti yang diperkirakannya, dan ia segera menunduk lemas.

“Mungkin kau harus berbicara pada Charles,” Vivian membuka pintu lebar-lebar.

“Tidak, tidak perlu.” Neil mendengar suaranya sangat parau. “Dia hanya akan mengkhawatirkanku.”

“Kalau begitu katakan padaku,” saklar lampu dinyalakan. “Ada apa?”

Ia ragu untuk menceritakannya, bahkan pada Vivian sekalipun. “Aku baik-baik saja, sungguh.”

Neil tahu Vivian tak bisa dibodohi. “Lihat wajahmu, lebih parah dari apa yang sering kita temui. Semua orang pasti akan tahu ada sesuatu kalau kau keluar dari ruangan ini sekarang. Kau bisa beritahu aku.” Vivian bersedekap. “Aku janji tidak akan menyebarkannya.”

“Kau terlalu melebih-lebihkan,” Neil berusaha tersenyum. Ia turun dari ranjang. “Aku hanya mimpi buruk dan tak bisa tidur, itu saja. Lebih baik kita segera turun.” Menuju pintu.

Ia masih bisa melihat rasa penasaran di wajah gadis itu tapi mencoba menghiraukannya. Vivian mengikutinya ke toilet. “Baiklah kalau kau tidak mau membicarakannya,” katanya. “Aku hanya ingin tahu, apa sakit kepala yang kau alami juga seperti ini?”

Neil memutar keran, air mengalir ke wastafel dan ia membasuh wajah. Mengamati wajahnya yang memang tampak ganjil. Ia menarik kerah bajunya, melihat tanda di lehernya. Lalu menoleh pada Vivian yang mengerutkan dahi. “Maksudmu?”

“Beberapa hari ini aku sakit kepala, tapi rasanya sakit sekali,” ujar Vivian. “Seperti bom nuklir berkali-kali meledakkannya. Aku memberitahu ibuku dan beberapa yang lainnya tapi orang-orang dewasa hanya berkata ini proses dari pembentukan gen. Tapi kurasa lebih dari itu... ah!”

Gadis itu menutupi wajahnya dengan telapak tangan. “Aduh, sepertinya aku harus cari obat sakit kepala.”

Neil mematikan keran dan berjalan ke arahnya. “Kau yang harus bicara dengan Charles."

 

Semua orang berkumpul di ruang makan dan sarapan. Ada total delapan belas orang yang tinggal di rumah itu, satu keluarga. Atau bisa disebut, satu leluhur.

Charles Silverage, anak pertama, menjadi kepala keluarga. Yang memegang tanggung jawab bagi semuanya. Mereka memang sangat mengandalkannya.

Awal musim panas semua anak-anak dan para ayah tetap berada di rumah, begitu juga Charles yang biasanya pergi ke kota. Dan ia parti berada di ruang kerjanya. Mengecek beberapa surat yang datang dari kerabat-kerabatnya di kota. Ia merasa sangat kelelahan setelah malam yang panjang, bahkan bagi dirinya. Dia merasakan ada sesuatu yang tak beres terjadi. Malam itu mereka semua pergi ke bukit dan berpencar, tapi tadi malam ia melihat sesuatu yang aneh. Dan itu pun memakai penglihatan tajamnya.

Ia berpikir itu mungkin hanya hewan nokturnal atau semacamnya yang berada di malam hari, tapi apa iya mereka bisa lewat?

Mr. Gavinny—salah satu paman yang dekat dengan keluarganya—berkata sesuatu tentang masalah yang akan datang beberapa waktu yang lalu. Charles mempercayai pamannya itu, seperti mempercayai leluhurnya, tapi ia tidak yakin masalah besar akan datang sekarang.

Salah satu surat dari kota berisikan undangan, ia diundang di sebuah rapat yang diadakan oleh Mr. Gavinny sendiri. Dari kata-katanya yang tersirat ia tahu ini benar-benar penting. Ia harus segera pergi besok.

Sebuah penghancuran.

Ia segera ingat kejadian tadi malam. Sesuatu memang menembus pelindung dan meninggalkan jejak. Tapi ia tak sempat memeriksanya. Ia berpikir untuk merundingkannya dengan yang lainnya.

 

 

To Be Continued.... 

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

return to top