Condemned Part 1 -Condemned-
Di pinggiran Cornwall, tempat dimana tanah dengan ladang-ladang gandumnya yang terhampar sejauh mata memandang, dimana perumahan berada jauh satu sama lain, saat langit kelihatan lebih cerah daripada di kota. Yang akan kau lihat setelah berada satu kilometer dari kota besar itu adalah sebuah pemandangan damai.
Awalnya.
Insiden besar akan terjadi kapanpun, di manapun. Walau di tempat terdamai sekalipun, sesuatu seperti bencana pasti ada masanya. Begitu pula di tempat ini. Suatu hari seseorang akan membuat kekacauan atau kejadian besar yang mungkin akan mengubah segalanya, tapi itu hanya permulaan dari cerita.
Musim semi hampir berakhir bulan ini dan udara mulai menghangat. Seperti yang orang-orang katakan, malam-malam di musim panas akan lebih panjang, dan siang hari akan semakin pendek. Dan karena itulah orang-orang menggunakan waktu di siang hari dengan sangat sederhana. Tidur siang. Maka pada malam hari, aktivitas akan lebih santai dilakukan. Walau sebenarnya bukan aktivitas makan, nonton TV, atau membersihkan rumah seperti biasanya saja. Lain lagi.
Saat perbatasan kota menjauh, saat lalu lintas mulai sepi, saat yang terdengar hanyalah suara angin, saat itu keajaiban muncul.
Ini bukan keajaiban, sebenarnya. Lebih merujuk pada kutukan besar. Itulah insiden sebenarnya.
Jadi, di daerah yang damai ini, ada dua rumah yang berdampingan, dengan satu rumah lagi yang berada di seberangnya. Rumah dengan atap tinggi dan cerobong asap, dan halaman yang dikelilingi bunga-bunga mawar putih yang beracun bila kau pegang tangkainya. Semak-semak rendah yang mengelilingi pagar dan pintu gerbang dengan pegangan besar. Jendela-jendela berkaca tebal dan pohon-pohon yang rimbun mengelilinginya.
Walau begitu, mereka tetap memiliki kesibukan sehari-hari. Dan biasanya, setiap bangun pagi dari tidur mereka, mereka akan berlari ke toilet—atau tempat dimana ada cermin—dan menatap wajah mereka. Kelihatannya cukup mencurigakan tapi mereka harus memeriksanya setelah ketidaksadaran pada waktu gelapnya. Setidaknya, mereka tetap manusia.
Di usia tiga belasnya, Vivian Silverage sudah biasa untuk tidak segera bangun dan menuju cermin. Dia hanya menyentuh wajahnya, merasakan utuhnya kulit-kulit itu. Kemudian menyentuh pangkal lehernya. Rasa sakit itu berasal dari sana tapi ia bisa merasakannya di dalam kepalanya. Mengerjap matanya dan bangkit dari ranjang.
Suara pipit terdengar dari jendelanya. Beberapa burung mungil itu bertengger di batang pohon melongok ke arahnya. Ia berpikir, betapa beruntungnya mahkluk-mahkluk itu masih bisa berdiri disana sampai hari ini.
Ia menyisir rambutnya dengan jari-jari pucatnya ke belakang lalu menguap dan membuka pintu kamar. Vivian menatap koridor dan terkejut tempat itu masih sepi. Di hari-hari yang lain, biasanya orang-orang disana sudah berlalu-lalang, tapi kini bahkan tak ada yang ke kamar mandi. Bulan April, mungkin. Semua pasti masih tidur setelah malam yang melelahkan.
Vivian melangkah masuk dan berganti baju lalu menuju ke bawah. Seorang gadis yang masih memakai piyama dengan rambut di kepang berantakan berjalan ke arahnya. “Vi, kau lihat sikat gigiku tidak?”
“Tidak,” Vivian menggeleng. “Tapi kemarin sore si kembar—“
Tepat sebelum ia menyelesaikan kalimatnya Mya, gadis itu, sudah melewatinya menuju tangga sambil menyumpah-nyumpah bahwa dia akan menghajar dua bocah itu kalau sikat giginya berubah menjadi sapu ijuk berlumpur lalu melemparkan mereka berdua ke dalam sumur.
Di dapur—yang biasanya ramai—hanya ada ibunya, Rebecca, membuat pancake untuk porsi banyak. Rambutnya di ikat dan ia memakai celemek untuk memasak. Ia berbalik tepat saat Vivian masuk. “Hey, Sayang, kau baik-baik saja hari ini?”
“Ya, tentu saja,” jawab Vivian. “Tapi aku sedikit pusing.”
Rebecca mengusap-usap ujung kepala Vivian. “Kau akan baik-baik saja, beberapa hari lagi dan sakit kepalamu pasti akan reda.”
“Aku merasa kepalaku akan pecah,” gadis itu merengut.
“Kau akan baik-baik saja,” Rebecca tersenyum. "Bangunkan Drake dan Reed, oke?"
Tanpa mengomel Vivian segera pergi dari dapur dan memijat-mijat dahinya yang memang terasa berdenyut-denyut sejak seminggu yang lalu. Sakitnya tambah parah tapi orang-orang berkata itu berarti bagus maka dia akan cukup bersabar.
Drake dan Reed, sepupu nokturnalnya. Kalau tidak ada yang memaksa mereka pasti akan tidur sampai jam makan siang, bahkan lewat dari itu. Maka ibunya selalu menyuruhnya jadi jam weker dua bocah itu. Ruangan mereka berada dekat ruang kerja—rumah itu begitu besaaarrr—di lantai tiga. Vivian membuka pintu dengan pelan dan mendengar suara berderit dari bawah. Tirai bahkan belum di buka dan mereka tertidur pulas sampai ngorok.
Gadis itu mengetuk pintu sangat keras dengan sengaja. “Tok, tok, tok!” serunya. Bergeming. “Drake, Reed, ayo bangun!” ia berdiri di ambang pintu, menangkupkan tangannya supaya suaranya lebih besar. “Haloo, ini Mama Erin!” Drake menendang selimutnya.
Dengan helaan besar ia berjalan juntai ke ranjang Reed. “Reed...” Anak itu memunggunginya. “Reed, bangunlah,” Vivian mengguncang-guncangkan tubuhnya. “Reed! Idiot super bodoh otak udang!” Reed hanya menarik selimutnya dan menggeliat nyaman.
Vivian menuju ranjang satunya lagi. Cowok ini punya adat yang tidak patut dituruti, ia berpikir. Drake tertidur telentang dengan setengah kancing piyama terbuka lalu kakinya kemana-mana. “Tuhan memberkati dia,” Vivian menatap langit-langit. Tapi Drake lebih mudah dibangunkan. Ia berbisik ke telinganya dan mengatakannya, “Ssss-ssss-ssnaakeeee,” ujarnya lirih.
Drake membuka matanya lebar-lebar dan terduduk kaget, hampir berteriak. “Vivian!”
“Kau ini, benar-benar bukan cowok ya! Jaga cara tidurmu, lihat Reed.” Vivian menunjuk.
“Benar, aku akan tidur lagi,” ia hampir akan berbaring saat Vivian menghajarnya. “Pagi datang, malam sudah lewat,” ia berkacak pinggang. “Cuci muka sana!”
“Aku berani bertaruh kau bahkan belum cuci muka juga,” Drake mengerutkan dahi.
Vivian merasakan pipinya menjadi panas. “Memang benar, lalu kenapa? Apa kau bisa bangun tanpa disuruh? Sudah jangan banyak omong.” Ia kembali ke tempat Reed tertidur pulas dan dengan tidak sabar mendorongnya ke pinggir ranjang dan membuatnya terjatuh. Suara gedebuk keras dan Reed tersadar.
Ia menyentuh kepala bagian belakangnya. “Aduuhh.”
“Sakit, kan?” Vivian menyeringai. “Makanya, cepat bangun!” ia berjalan keluar. “Sarapan dalam lima menit, kalau tidak kalian tidak boleh pergi ke kota. Kalau sampai tidur lagi, aku akan panggilkan McKenna atau Mama Erin ke sini dan kalian tidak akan dapat makan malam juga, awas kalian.”
Drake dan Reed—yang masih setengan sadar—mengawasinya pergi keluar. “Dia ini tambah galak, ya?”







































Post new comment