Cerita Seorang Ibu untuk Seorang Anak
not admin's choice
Cerita Seorang Ibu untuk Seorang Anak
Ditulis pada tanggal 12 September 2011, jam 24.00 WIB
Anakku,
15 tahun yang lalu kami mempunyai harapan yang sangat besar aka kehadiram seorang anak di tengah-tengah kehidupan keluarga kami, tak putusnya kamu berdoa memohon kepada Yang Maha Kuasa agar segera dikaruniakan seorang anak sebagai berkat karunia bagi kami, sampai akhirnya 9 bulan kemudian kami dinyatakan positif menerima berkat karunia dari Tuhan berupa kehamilan.
Mengandung anak pertama sebagai buah pengharapan kami berdua, sudah pasti kami jaga dengan sebaik-baiknya, dengan makanan yang sehat, rutin melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan, aktifitas yang baik serta doa penyerahan diri kepada Tuhan Sang Pemberi Berkat. Kehamilanku berjalan dengan baik, tidak ada keluhan yang berat, justru selama hamil aku jadi tambah senang berpergian. Aku berpikir, kalau sudah lahir, pasti anakku suka jalan-jalan sebab ketika masih dalam kandungan tidak pernah capek untuk berpergian. Bahkan saat hamil itulah aku menjalani tes penerimaan pegawai negeri sipil di Stadion Gajayana, walaupun dengan perut besar aku tetap semangat duduk di tribun yang paling aas di stadion Gajayana untuk mengerjakan soal-soal tes pegawai negeri sipil, sampai akhirnya aku lulus tes pegawai, aku bersyukur ini adalah berkat anak yang dalam kandunganku.
Sampai akhirnya di awal bulan April 1997, dengan perjuangan yang berat karena sejak mulai terasa mau melahirkan, jalannya kelahiran sempat mengalami kesulitan, pembukaan jalan lahir tidak berjalan dengan lancar, setelah rumah bersalin Siti Miriam tidak mampu memberi pertolongan kemudian dibawa ke RS Marsudi Waluyo, akhirnya diberi tindakan pemberian drip infuse dengan tujuan membantu mempercepat pembukaan jalan lahir, saat-saat itulah perjuangan seorang ibu dimulai semi melahirkan seorang anak yang sangat didambakan kehadirannya, dengan menahan rasa sakit yang luar biasa hebatnya, aku berjuang supaya jangan sampai anakku lahir melalui operasi Caesar seperti yang diultimatumkan dokter kandungan wkatu itu, dan ternyata Puji Tuhan, tepat jam 21.00 tanggal 3 bulan April lahirlah dengan normal seorang anak perempuan yang cantik dan sehat bagi kami, kami beri nama Kurnia atau lengkapnya Juan Kurnia Viermanda yang artinya Berkat Karunia Pemberian Tuhan yang Luar Biasa.
Dalam merawat bayi sebetulnya tidak ada kesulitan tetapi karena aku harus menjalani pra jabatan sebagai calon pegawai negeri sipil selama 2 minggu di Balai Pelatihan Kesehatan Murnajati Lawang, maka anakku diasuh oleh ibuku, aku bersyukur ada ibu yang selalu siap membantu meringankan bebanku dalam merawat anakku, tetapi setelah aku pulang dari pelatihan, aku sangat sedih sebab air susuku tidak keluar lagi sehingga sejak saat itu anakku tidak mendapatkan air susu ibu. Maafkan ibu ya nak tidak bisa memberimu ASI sampai umur 2 tahun. Sejak saat itu anakku mendapatkan susu sapi tetapi tidak lama kemudian mulai timbul masalah dimana anakku sering batuk-batuk, kemudian aku bawa ke dokter anak ternyata anakku alergi susu sapi sehingga aku ganti dengan susu kedelai atau soya sampai umur 5 tahun.
Mengikuti tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan anakku, aku bersyukur kepada Tuhan karena anakku bertumbuh dan berkembang dengan sehat dan benar-benar sesuai dengan teori tumbuh kembang seorang anak, ada lucunya, ada nakalnya, ada rewelnya dan ada pintarnya. Aku ingat selama balita, anakku tidak pernah mengalami sakit yang berat, hanya ketika umur 6 bulan setelah aku beri buah semangka anakku mengalami diare yang sampai harus opname di RS Marsudi Waluyo selama 1 minggu, sejak itu aku rawat dengan hati-hati dan aku jaga supaya tidak sakit. Kami betul-betul berusaha memberikan yang terbaik bagi anak kami dengan tujuan anak kami bertumbuh berkembang menjadi anak yang sehat dan pandai dikemudian hari.
Masa balita akhirnya terlewati dengan selamat, tidak pernah lupa kami selalu merayakan ulang tahunnya dari tahun ke tahun dengan perayaan sederhana di rumah. Aku ingat, umur 3 tahun anakku sudah minta sekolah di TK dekat rumah sampai akhirnya kami pindahkan ke TK Arauna Lawang dengan tujuan anakku mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Secara fisik, anakku tumbuh dengan tubuh yang cenderung kurus tetapi masih dalam batas normal tetapi secara mental, anakku berkembang menjadi anak yang pendiam dan tertutup, kami sudah berusaha memperbaikinya dengan selalu mengajak kemanapun kami pergi misalnya ibadah patuwen, ke gereja atau tempat-tempat yang banyak orang supaya anakku terbiasa bertemu dengan orang lain sehingga harapannya anakku mempunyai jiwa yang terbuka dan berani. Tetapi ternyata anakku tetap bertumbuh dan berkembang dengan kepribadian yang tertutup dan pemalu, untuk itu tiap malam aku selalu berdoa supaya Tuhan mengubahkan menjadi anak yang pemberani dan terbuka.
Masa balita berjalan dengan baik, hanya saat itulah Tuhan memberikan cobaan bagi keluarga kami dimana suamiku atau ayah anakku harus berhenti dari pekerjaannya di RS Mardi Santosa Surabaya. Kami sedih tapi tidak putus harapan sebab kami mempunyai Tuhan Allah yang luar biasa sehingga tidak lama menganggur Tuhan sudha berkenan memberikan tempat pekerjaan bagi suamiku di pabrik plastik Pasuruan. Walaupun harus bertemu seminggu sekali, kami ikhlas. Tetapi itu tidak berlangsung lama karena selanjutnya Tuhan memberikan tempat yang lebih baik lagi walaupun harus jauh ke Surabaya yaitu di Akper Adi Husada dan itu dijalani sampai saat ini, terima kasih Tuhan untuk berkat-berkat-Mu.
Memasuki sekolah dasar, anakku tetap bertumbuh menjadi anak yang sehat, hanya sekali saja pernah opname di Puskesmas Lawang karena sakit Typus, tetapi tetap pemalu dan pendiam, kadang kami merasa kalau kami gagal menjadi orang tua, karena pertumbuhan dan perkembangan seorang anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya terutama orang tuanya, tetapi kami selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi anak kami, baik itu kebutuhan akan pangan, sandang, papan, rekreasi, pemeliharaan kesehatan, kerohanian, aktualisasi, kecerdasan, dan kasih sayang, hanya sebagai manusia biasa kami mengakui, kami kadang marah pada anak kami karena sesuatu hal yang tidak seiring sejalan dengan keinginan kami orang tua. Tetapi setiap kali kami marah, kami menyesal dan memohon untuk dimampukan menjadi orang tua yang baik, sabar dan penuh kasih. Setiap apa yang terjadi sepanjang hari, selalu kami bawa dalam doa-doa pribadi kami terutama kami selalu berdoa untuk anak kami, dimana Tuhan sudah mempercayakan kami untuk meawat dan mendidiknya, kami selalu doakan supaya Tuhan memberikan keselamatan, kesahatan yang baik, kepandaian, kepribadian yang baik dan selalu hidup takut pada Tuhan, itulah pokok-pokok doa kami untuk anak kami.
Masa sekolah dasar, ketika kelas 1-5, tidak banyak masalah yang terjadi tetapi ketika memasuki kelas 6, mulai timbul masalah karena anak kami sudah mulai memasuki masa remajanya. Betul-betul kami merasakan masa yang sulit dan berat karena anak kami memasuki usia pubertas, semua yang kami lakukan serba salah dimata anak kami, sehingga tidak jarang berakhir dengan pertengkaran. Sebetulnya secara teori dan konsep, kami khususnya aku sangat tahu bagaimana masa remaja atau pubertas itu karena kebetulan aku menekuni bidang itu tetapi memang betul bahwa teori atau konsep tidak selalu sama dengan prakteknya atau kenyataannya, sebab ketika aku berhadapan atau menghadapi seorang remaja, aku merasa mempunyai beban yang sangat berat dan itu memang aku alami. Sering bertengkar, berselisih pendapat dengan anakku membuat aku, khusunya, sering menangis, aku merasa tidak mampu menerapkan teori yang aku pahami ketika menghadapi anakku. Aku banyak berdoa, memohon Tuhan memberikan kasih dan kedewasaan kepada kami sebagai orang tua, kedewasaan kepada anak kami, keselamatan dalam melewati masa remajanya serta senantiasa hidup takut kepada Tuhan. “ Ya Tuhan, sertai dan tolonglah anak kami dalam melewati masa remajanya supaya tetap dalam keselamatan bersama Engkau. Ampunilah kami, karena ketidak sabaran kami, sering memicu amarah kami kepada anak kami, dan mampukan kamu untuk senantiasa mengenalkan kasih Tuhan kepada anak kami melalui perbuatan kami sehari-hari, karuniakan kepada kami kasih, kesabaran, kelemah lembutan yang dari Tuhan, Amin “.
Walaupun demikian, kami melihat anak kami mulai menunjukkan bakat atau talenta yang dimilikinya terutama di bidang seni; musik, menulis, menggambar, kami berusaha memfasilitasinya; membelikan keyboard, mengikutkan les keyboard, dll, dengan tujuan nantinya bakat atau talenta yang dimilikinya akan dipersembahkan untuk kemuliaan Tuhan melalui pelayanan di gereja.
SMP kelas 1, sifat menonjol pada remaja puber mulai berkurang, kondisi yang sangat cocok dengan teorinya dimana anak mulai memasuki fase laten atau tenang. Kami bersyukur, kami bahagia karena kami bisa menjalin hubungan yang harmonis kembali.
SMP kelas 2, masih pada fase yang tenang, anakku mulai menunjukkan prestasinya yang semakin baik terutama di bidang akademik, kami bersyukur dan bangga padanya.
SMP kelas 3, kami memasuki masa yang sulit kembali, terus terang kami sering merasa kehilagan anak kami, karena sejak kami memberikan fasilitas speedy di rumah, kami jarang bertemu dengannya karena dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar, sehingga sering menimbulkan kekuatiran pada kami tentang perkembangan psikologisnya, kepribadiannya yang nantinya akan berkembang menjadi anak yang semakin tertutup atau introvert dan itu sangat tidak baik untuk masa depannya, tetapi ketika kami harus menegurnya, sering berakhir dengan pertengkaran, kami jadi bingung dan sedih. Kami memberikan speedy dengan tujuan baik yaitu supaya anak kami tidak kuper, tidak gaptek, dan dapat menstimulasi kecerdasannya, tetapi ketika tujuan kami tidak sama dengan yang terjadi, karena ternyata dia masih belum bisa mengatur waktu kapan harus berhenti, berapa lama berkutat dengan internet, kapan harus mengerjakan tugas-tugas yang lain, dll, kami merasa bahwa tindakan kami adalah salah, tetapi akhirnya kami sadar bahwa inilah tugas kami untuk membimbingnya ke arah pribadi yang dewasa, mandiri dan bertanggung jawab. Tugas yang sangat berat.
Kami tidak mampu melakukannya sendiri, sehingga kami kembali memohon pertolongan kepada Tuhan, untuk memampukan kami sebagai orang tua yang dapat membimbing, mengarahkan anak kami menjadi anak yang daoat dibanggakan oleh Tuhan, orang tua, dan masyarakat.
Jika Tuhan menijinkan, jalan kami masih panjang, begitu juga dengan perjalanan kehidupan anak kami, untuk itu kami berserah kepada Tuhan, menyerahkan kehidupan kami kepada-Nya. Kami sangat menyadari bahwa hidup kami adalah anugerah pemberian Tuhan, sehingga kami ingin, anak kami juga menyadarinya bahwa hidupnya adalah pemberian Tuhan yang harus dijaga, dijalaninya dengan baik dengan selalu bergandengan tangan dengan Tuhan, dekat dengan Tuhan, tidak mudah putus asa, tidak ada keinginan untuk mengakhiri hidup pemberian Tuhan sebab tanpa kita akhiri, kalau Tuhan berkenan mengakhiri hidup kita maka kapanpun itu dapat terjadi.
Akhirnya,
Dengan perjuangan kami sejak Juan dalam kandungan sampai saat itu, kami orang tua mempunyai harapan bahwa Juan bertumbuh berkembang menjadi anak yang dapat membanggakan hati Tuhan, orang tua dan masyarakat.
Doa kami selalu menyertaimu anakku, kami semua sangat sayang dan perhatian padamu, kami bangga memilikimu, jadi hiduplah juga dengan kebanggaan yang besar bahwa Juan adalah anak yang luar biasa hebatnya.
Demikian cerita seorang ibu untuk seorang anak yang sangat dikasihinya. Mudah-mudahan Juan bangga dengan cerita ini, Tuhan memberkati kita semua, Amin.
Kami orang tua yang menyayangimu,
Papa mama
Comments
-
waah benar2 mengharukan >.<
Submitted by W3ES on 23 January, 2012 - 15:51.waah benar2 mengharukan >.<
just an ordinary crazy person who want to be a mangaka -
hooo... pengalaman pribadi
Submitted by Damantine on 23 January, 2012 - 10:02.hooo... pengalaman pribadi yak... sungguh menyentuh~~ orang tua memang menginginkan yang terbaik uat anaknya~ GANBATTE terus kk
Let's Try Our Best and don't forget to Praying ~~ -
hueeee tak pernah kucoba
Submitted by RPGNoZero on 22 January, 2012 - 21:43.hueeee
tak pernah kucoba bayangkan bagaimana mereka benar2 melihat diriku"Kenapa... Semakin ahli diri kita, Rasany begitu 1 artworl selese, nilainya tak seberharga waktu dulu lgi..." -
ini adalah cerita yang
Submitted by Rena Akine on 22 January, 2012 - 21:34.ini adalah cerita yang disalin secara lengkap dan sesuai dengan sumbernya; surat dari mama khusus buatku.
surat yang terdiri dari 4 lembar HVS, diketik dengan font 14.
nangis tanpa suara (lagi) pas baca surat itu plus flashback T________T
aku bangga sama surat itu, sampe gak sadar kalo cuma menghabiskan waktu 35 menit buat nyalin surat itu.
hope you like it
aku akan terus menunggu sampai kapan pun!











































Post new comment