Blom ada Judul Chapter 1
Normal 0 false false false EN-US JA X-NONE
LIBURAN INI KEMANA?
“Assalamu’alaikum,” kulangkahkan kakiku memasuki rumah bercat putih yang berdiri anggun di daerah Lembang itu.
“Iya, Uni. Aku gak bisa hadir nikahannya si Erin. Si Uda ada perjalanan dinas ke Jogja… Iya… Iya…” terdengar olehku suara merdu ibuku yang sedang asyik berbincang dengan seseorang di seberang telepon sana. “Ah, abang udah pulang? Udah makan siang? Sop-nya dipanasin aja yah,” kata ibuku saat aku menyalami tangannya.
Aku hanya mengangguk sambil meninggalkan ibu yang melanjutkan obrolannya.
“Abang, mas Alex tadi nyariin kesini,” sosok seorang gadis dengan balutan celana pendek sepuluh centi diatas lutut dan kaos rumahan menghampiriku yang kini sedang berada di dapur dan menyalakan kompor untuk menghangatkan Sop Buntut favoritku.
“Terus?”
“Yah aku bilang aja Abang belum balik ke rumah sejak seminggu lalu. Terus, dia bilang nanti mau telepon abang langsung aja,”
“Hn,” jawabku singkat sambil memandang adik perempuanku satu-satunya itu yang sekarang sedang asyik mengunyah apel sambil membaca sebuah komik dimeja makan. “Feb, ganti celanamu.”
Kegiatan adikku terhenti. Matanya yang sedari tadi tak lepas menatap komik dipegangannya kini beralih menatapku yang kini melemparkan death glare padanya. Akhirnya yang kupandangi mengaku kalah dan melangkah kembali ke kamarnya sambil mengembungkan kedua pipinya.
Aku segera mengisi piringku dengan nasi putih, dan menuangkan Sop buntut diatasnya. Saat mengambil air di dispenser yang letaknya tak jauh dari pesawat telepon, aku tak sengaja mendengar namaku disebut-sebut.
“Iya, biar si abang saja yang mewakili kami. Iya, si Okto. Iya, kebetulan dia libur kuliah. Si Febby? Dia gak bisa katanya. Sebentar lagi kan mau Ujian Nasional. Dia merengek mintapun aku gak bakalan ngasih…” dan pembicaraan terus bergulir.
Sambil menenggak air putih yang kini kubawa kembali ke meja makan, ternyata adikku yang sudah mengganti celananya dengan celana panjang sudah duduk di hadapan jatah makan siangku dan siap-siap menyuap nasi.
“Heh! Elu mau apa? Jatah gue tuh!” hardikku, dan dia hanya nyengir kuda dan pergi mengambil piringnya sendiri.
“Feb, mama teleponan sama siapa sih? Kok nyinggung-nyinggung nama gue sama elu?” tanyaku pada adikku yang sudah duduk manis disebelahku dengan piring nasinya dan menenggak air dari gelasku.
“Paling sama tante Raia yang di Padang,” jawabnya dengan mulut penuh nasi.
“Tante Raia istrinya Om Eri?”
“Iya. Abang pasti lupa kalau seminggu lagi kak Erin, sepupu jauh kita mau nikah,” Febby melemparkan tatapan merendahkan padaku. “Apa bahasa Padangnya? Bararek… Eh?”
“Baralek,” ucapku mengoreksi.
“Ah… iya… itu maksudnya!” ujarnya sambil mengacung-acungkan sendok di depan mukaku.
PLAK!
“Aduh! Sakit,” Febby mengaduh sambil mengusap jidatnya yang kujitak.
“Kuah Sop elu kena muka gue, bego’!” amukku.
“Ehehe… maaf,”
Kamipun menghabiskan makanan dalam diam.
OOOoooOOOoooOOOoooOOO
“Abang, liburan ini ada rencana kemana?” tanya mama berkunjung ke kamarku sore harinya.
“Eh?” aku sedikit berpikir. “Paling aku mau ke Tangkuban Perahu lagi sama si Alex. Aku mau hunting sunrise disana,” jawabku sambil kembali melanjutkan gameku yang tertunda.
“Mau liburan ke Padang, gak? Alam di sana bagus lho. Banyak objek alam yang bagus buat kamu ambil gambarnya lho,” tawaran mama membuatku memutar ingatan seminggu lalu saat Alex memelototi kumpulan foto alam Sumatera Barat yang diambil oleh salah satu teman kami yang liburan ke daerah Sumatera Barat.
“Huaaa, Okto. Lihat nih, foto yang diambil sama si Juki pakai kamera digital,” ucapnya sambil menyodorkan laptopnya yang menampilkan beberapa foto perjalanan rekan seangkatan kami, Rizkis.
Aku sejenak menghentikan kegiatan pembersihan lensa kameraku dan menatap tampilan di layar laptop.
“Itu Ngarai Sianok, kan?” terkaku.
“Kok elu tahu, To?” Juki yang baru kembali dari kantin menghampiri kami.
Aku dengan cepat melihat beberapa foto lagi. “Enak lu ya, keliling Bukittinggi. Walah, ini kan Harau. Nyampe juga lu di Payakumbuh,” ucapku sambil melihat-lihat foto berikutnya.
Alex dan Juki hanya menatapku heran.
“Kenapa lu? Kok pasang tampang heran gitu? Biasa aja kali! Lagian yang ditampilin disini kan memang objek wisata terkenal disana,” ucapku sambil kembali sibuk melihat-lihat gambar.
“Tapi, dengan melihat satu dua foto lu langsung tahu lokasinya. Itu yang bikin kami heran,” jelas Alex.
“Lho, gue belum bilang ya kalau ibu gue orang Padang?”
“Eh! Cerita kapan tuh! Gue baru denger!” teriak Alex tepat di telingaku. Diikuti Juki yang mengangguk cepat dengan mata yang membelalak.
“Wah, asyik dong, To. Panorama disana keren-keren dan beragam! Gue aja ngerasa kurang puas walau udah seminggu liburan ke sana. Gue nyesel banget gak ikutan ke Solok, disana ada bukit di mana kita bisa ngeliat seluruh kota Painan dan Samudera Hindia sepuas mungkin! Terus katanya pemandangannya bikin gak mau beranjak dari sana deh!” cerocos Juki.
“Gue juga belum sempat main ke Pasaman. Kalau Padang Panjang cuma lewat doank, ke Danau Singkarak aja gak jadi. Ugh! Pokoknya tahun depan gue wajib balik ke sana!” Juki menggeram gemas.
Alex tertawa melihat tingkah laku teman kami yang gempal itu.
“Kalau gitu, lu nikah sama cewek Padang aja, Juk,”
Mata Juki membulat mendengar usulan Alex. “Ide bagus!” katanya mantap dengan senyum terkembang.
GUBRAK!
Kami berdua hanya bisa meringis melihat ekspresi Juki yang kini kembali sibuk membayangkan memiliki istri warga Padang.
“Gimana bang?” tanya mama lagi.
Aku tersenyum, “Ide bagus! Aku terima,”
“Kalau gitu kamu juga harus nyiapin diri jadi seksi dokumentasi si acara pernikahan Erin,” lanjut mama enteng.
“Eeee!” protesku keras.
“Kamu gak boleh protes! Gak ada artinya donk kamu jauh-jauh mama kirim ke Padang kalau akhirnya cuma duduk-duduk gak bantu apapun disana,”
“Tapi Ma,”
“Gak ada tapi-tapian. Kamu mau ke Padang dan jadi kameraman sehari, atau Liburan di Lembang dan gak kemana-mana,” mama memberi penawaran mutlak.
Otakku berputar keras. Kalau tetap di Lembang, palingan aku Cuma ke Tangkuban Perahu sama si Alex. Setelah itu? Bisa dipastikan aku Cuma main PS atau main game Online di kamar. Kalau ke Padang, aku jadi kameraman sehari pas acara pesta, setelah itu? Aku masih bisa minta diajak keliling Sumatera Barat sama Om Eri.
“Oke, aku setuju!” jawabku mantap.
“Ah, mama lupa bilang. Kamu kayanya gak bisa minta antarin sama Om Eri keliling Sumbar deh. Soalnya om Eri lagi sibuk melatih tim sepakbola Sijunjung. Setelah pesta om Eri malah langsung berangkat balik ke Sijunjung.”
Mama memang luar biasa tega! Baru bilang hal ini setelah aku menyetujui perjanjian yang dibuatnya.
“Yah, mama,” rengekku.
“Tapi, tenang saja. Kamu bisa minta diantarin Ren kok,” lanjut mama.
“Ren?” otakku kembali berputar. Rasanya nama itu begitu familiar, tapi aku sedikit lupa.
“Kamu pasti lupa. Itu lho, anak pertama Om Eri yang sumuran kamu.”
“Oh, iya-iya. Aku ingat!”
“Itu anak katanya lumayan Bengal lho. Om Eri saja sampai pusing tiap lihat teman-teman cowok yang diajaknya main ke rumah. Anak itu benar-benar deh,”
“Teman cowo? Anak cowo normalnya ya gaul sama cowo donk mah, gimana sih?” protesku.
Aku heran dengan kalimat mamaku tadi. Gak mungkin kan si Ren ngajakin teman-teman ceweknya ke rumah, mau ngapain? Arisan? Ngegosip sambil makeup-an? Euh, gue merinding mikirnya. Jangan-jangan selama 10 tahun gue gak ketemu dia, tuh anak mendadak jadi banci kaleng? Padahal dulu gue aja sanggup dia banting pakai satu tangan dengan tubuh kurusnya itu.
“Rena itu kan anak cewek. Umurnya udah 21 tahun. Bawa teman cowok ke rumah ramai-ramai itu apa kata tetangga? Padang itu beda sama Jakarta atau Bandung,”
Kali ini aku benar-benar heran, “Cewe? Lho bukannya anaknya Om Eri yang sulung itu anak cowok? Terus siapa lagi tuh Rena?”
Mama tiba-tiba menjitak kepalaku keras sampai aku mengaduh kesakitan.
“Kamu gimana sih, Bang? Nama anak sulung Om Eri itu kan Rena Ditya! Waktu kecil dia memang tomboy banget sampai-sampai gak mau dipanggil Rena. Maunya dipanggil Ren,” mama menghela nafas.
Sedangkan aku hanya bisa terbelalak kaget dengan wajah goblok.
“Jadi, Ren itu cewek? Ren yang suka ngebanting aku itu cewek? Ren yang suka manjat pohon rambutan tetangga itu cewek? Ren yang pernah nembak aku pakai ketapel itu cewek? Ren yang—” kalimatku terputus karena mama kembali menjitakku.
“Berisik, Okto! Iya, dia anak perempuan!”
***
Sekarang aku disini, di pintu keluar Bandara Internasional Minangkabau, Padang, Sumatera Barat. Dengan wajah sibuk mencari-cari sosok yang menjemputku sambil sesekali memandang foto yang tersimpan di Ponselku. Kalau teman kampusku melihat, pasti mereka berpikiran kalau orientasi seksualku sudah beralih karena berkali-kali memandang foto lelaki.
Tatapi, sayang sekali foto pemuda manis yang kupandangi itu bukan foto seorang lelaki tulen.
“Bang, idupin Bluetooth deh. Aku mau ngirimin foto kak Ren ke HP abang,” kata adikku tiba-tiba sesaat sebelum aku berangkat menaiki pesawat.
“Kenapa baru sekarang!” kagetku dan terburu-buru menyalakan bloetooth HP,”
Yang diprotes hanya nyengir sambil dengan ringannya mengucapkan kata “Lupa.”
“Dimana sih dia?” aku mulai menggerutu karena tak menemukan jeputanku dimanapun.
Tanpa kusadari, sesosok berjaket hitam dan bertudung mendekatiku dari belakang dan menepelkan sesuatu di punggung bagian bawahku sambil berbisik dalam.
“Jangan bergerak atau melakukan hal mencurigakan apapun. Jangan berteriak. Jangan memberi kode mata pada siapapun. Jangan banyak bicara. Atau peluruku akan melubangi perutmu!” oh Tuhan, ini benar-benar perampokan.
Aku, sepuluh tahun sudah tidak menginjakkan kaki di kota ini, berangkat sendirian, jemputanku tak terlihat, dan sekarang menjadi korban penodongan. Hanya helaan nafas panjang yang bisa kulakukan. Ternyata kota ini lebih berbahaya dari yang kukira.
“Lalu maumu apa?” sebenarnya aku merasa ini pertanyaan bodoh. Siapa saja pasti tahu kalau perampok pastinya menginginkan harta benda kita.
“Serahkan ponselmu!”
“Itu saja?” tanyaku heran. Biasanya perampok akan berkata ‘Serahkan harta bendamu!’, kan?
“Sudah, jangan banyak tanya!”
Ketika ponselku perpindah ke tangannya, dia ternyata tak langsung mengantongi ponselku, melainkan memandang foto Ren yang masih tampil di layar.
“Pacarmu ya? Ganteng juga. Sayang, ganteng-ganteng Maho,” ledeknya dengan sinis.
Oke, kali ini aku marah!
“Maaf ya, tuan rampok! Dia bukan pacar saya! Dan saya bukan MAHO!” ucapku penuh penekanan. “Lagipula di itu perempuan!”
Suara tawa tertahan terdengar dari balik punggungku.
“Kau pemarah seperti biasanya, Oktoberia M. Satrio,”
Aku menoleh cepat kearah pemuda yang baru saja menyebutkan nama lengkapku itu, “Siapa kau?” tanganku dengan cepat meraih tudung jaket yang menyembunyian kepalanya.
Saat tudung itu meluncur turun, terlihatlah wujud seorang gadis tomboy (yah itupun kalau dia tidak mau disebut lelaki berambut gondrong) dengan rambut hitam lurus sedikit berantakan sepanjang bahu yang bagian poni-nya di cepol asal dengan karet gelang. Kulitnya yang kecoklatan dan tubuhnya yang kurus mengingatkanku pada bocah kecil yang selalu berlari kesana kemari dan membuat semua anggota keluarga berteriak-teriak memanggil namanya.
“REN!” teriakku kaget.
Gadis itu langsung menggosok-gosok daun telinganya dengan telapak tangan.
“Gak usah teriak-teriak gitu donk. Kamu kaya baru liat hantu disiang bolong aja.”
Aku langsung menjewer telinganya, “Kalau lu gak bikin panik kaya gini, gue gak bakal teriak-teriak juga, gemblung!”
“Maafkan saya saudara, Oktoberia,” ucapnya dengan nada sok serius sambil membungkuk dalam.
Aku hanya mendengus kesal sambil melipat tangan di depan dada.
Ren terlihat memandangiku beberapa saat dari ujung kaki hingga ujung kepala kemudian tersenyum mencurigakan. Jujur saja tatapan matanya membuatku sedikit risih. Walaupun dia sepupuku, tapi kami udah sepuluh tahun tak bertemu muka.
“A-apa?”
Senyumnya semakin melebar. “Nggak. Aku nggak nyangka aja kamu jadi cakep dan tinggi kaya sekarang. Padahal dulu kamu hitam, butek, pendek lagi,” ledeknya.
Kepalan tanganku pun kembali mampir ke puncak kepalanya.
“Aduh! Sakit tahu!” teriaknya.
“Lu juga terakhir gue ketemu masih kucel, tinggi kurus, hobi manjat pohon, sama nembakin anak orang pakai ketapel buah. Sekarang kok elu menciut ya?” ledekku balik sambil menepuk puncak kepala Ren yang kini tak lebih setinggi puncak hidungku.
“Ye! Gini-gini tinggiku 170 centi lho! Kamu aja yang kaya tiang listrik! Tinggimu berapaan sih? Aku jadi sebel kalau ngeliat kamu jadi tinggi begini!” kini dia terlihat misuh-misuh sendiri.
“Sekitar 185 centi,” Ucapku cepat.
“TUHAN GA ADIL!!!” teriakannya yang norak itu membahan ke sekitar area tunggu Bandara.
Tanganku kembali melayang menuju puncak kepalanya. Tapi kali ini, gadis itu berhasil mengelak dengan memundurkan badannya. Jadilah aku hanya menjitak angin.
“Hehe, gak kena,” ucapnya sambil memeletkan lidah dan berlari meninggalkanku.
“Hoi! Tunggu!” aku segera mengejarnya sambil menyambar koperku yang tak terlalu berat.
Yah, pada akhirnya kami masih tetap seperti anak-anak. Kembali ke masa sepuluh tahun lalu disaat aku yang bertubuh lebih kecil dari Ren selalu mengekor kemanapun dia pergi. Karena dimataku dulu, Ren itu seperti sosok seorang kakak yang rela melindungi adiknya. Yah, walau sebenarnya kami seumuran. Tapi sikap heroic Ren semasa kecil-lah yang memacuku untuk tumbuh menjadi lelaki yang mempuanyai tujuan hidup.







































Post new comment